• Tidak ada hasil yang ditemukan

Flu Burung ( Avian Influenza )

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

765.071 321.15Jawa Barat

4) Flu Burung ( Avian Influenza )

Selama periode 2005-2012 kasus Flu Burung di Jawa Barat ditemukan sebanyak 49 kasus. Empat puluh dua diantaranya meninggal (CFR 85.71%).

Sedangkan kejadian Flu Burung tahun 2012 hanya ditemukan dan dilaporkan di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bogor masing masing 1 kasus, dengan tingkat fatalitas 100%.

Tingginya angka fatalitas Flu Burung menunjukan bahwa tingkat keganasan Flu Burung sangat tinggi bila dibanding dengan penyakit menular lainnya.

Gambar IV. B. 13

Sebaran Kasus Flu Burung Menurut Kabupaten Kota di Provinsi Jawa Barat, 2009-2012

2009

2010

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 5) Filariasis Kumulatif Barat berjumlah 8 Berdasar 2012 diketahui k kabupaten kota. M Kabupaten Cianju kasus. Rekomen melakukan Mass masal terhadap to tururt. Di beber dilaksanakan, sep b. Penyakit Menular L 1) Diare. Cakupan hingga 2012 ber Kasus Diare tahu menjadi 62.2 tahu

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 atif penemuan kasus Filariasis Kronis periode tahun

h 806 orang.

arkan hasil survey darah tepi di Provinsi Jawa B i kabupaten kota dengan Mikrofilaria rate >=1%

. Mikrofilaria rate tertinggi terjadi di Kota Bekasi 2.8 njur 0.1% Kumulatif kasus Mikrofilaria di Jawa B endasi untuk kabupaten kota dengan Mikrofilaria ss Drug Administration (MDA), yaitu pemberian o p total populasi suatu wilayah kabupaten kota selam

erapa kabupaten kota rekomendasi tersebut s , seperti di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Tasi

Gambar IV. B. 14

Mikrofilaria Rate (%) Menurut Kabupaten Ko di Provinsi Jawa Barat, 2001-2012

r Langsung.

an penemuan kasus Diare di Provinsi Jawa Bara erkisar 61%-81%. Dibanding tahun 2011 maka Ca hun 2012 mengalami penurunan. Yaitu dari 80.2 hun 2012.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 48 un 2002-2012 di Jawa

a Barat periode 2002- % yaitu mencapai 11 2.88% dan terendah di Barat mencapai 515 ria rate >=1% adalah obat filariasis secara lama 5 tahun berturut- t sudah dan sedang

sikmalaya.

Kota

arat sejak tahun 2007 a Cakupan Penemuan .2 % tahun 2011 turun

Gambar IV. B. 15

Cakupan Penemuan dan CFR (%) Kasus Diare Di Provinsi Jawa Barat, tahun 2007 – 2012

Tingkat kematian akibat kasus diare ( CFR) dari waktu ke waktu menunjukkan kecenderungan adanya penurunan yaitu dari 0,003% pada tahun 2007 menurun hingga 0,004% pada tahun 2012. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penemuan dini kasus diare dan tatalaksana kasus diare yang lebih baik, terutama dalam 3 tahun terakhir. Meskipun Cakupan Penemuan Diare tahun 2012 belum mencapai target.

Gambar IV. B. 16

Cakupan Penemuan Kasus Diare Menurut Kabupaten Kota Provinsi Jawa Barat 2012

Pada tahun 2012 dari 26 kabupaten kota di Jawa Barat yang Cakupan Penemuan Diare mencapai target minimal 70% hanya sebanyak sepuluh kabupaten kota. Cakupan tertinggi dicapai Kota Cirebon untuk wilayah kota. Sedangkan untuk wilayah kabupaten dicapai oleh Kab. Garut. Sementara Capaian terendah untuk wilayah kota ada di Kota Depok dan Kab. Bekasi untuk wilayah kabupaten.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 50 2). Kusta.

Untuk mengetahui permasalahan Pengendalian Penyakit Kusta di Jawa Barat 2012 berikut digambarkan dengan cakupan indikator Penemuan Kasus Kusta / Case Detection Rate (CDR), Penemuan Penderita Kusta Cacat Tingkat 2 serta Prevalesi Kusta.

Indikator minimal Penemuan Kasus Kusta (CDR) adalah 1/100.000. Capaian CDR di Jawa Barat selama periode 2008 sd 2012 cenderung meningkat, terutama periode 2009 sd 2012. Dimana padai tahun 2011 dan 2012 mencapai angka >=5.0/100.000. Hal tersebut bisa menunjukan adanya peningkatan dalam penemuan dan pelaporan kasus baik ditingkat puskesmas maupun dinas kesehatan kabupaten kota.

Gambar IV. B. 17

Penemuan Penderita Kusta (CDR) di Provinsi Jawa Barat 2008-2012

Jumlah kabupaten kota dengan CDR diatas 1/100.000 di Jawa Barat baru mencapai 77% (20 kab kota). Enam kabupaten lainnya belum mencapai, yaitu Kab. Garut, Kab. Cianjur, Kab Bandung, Kota Cimahi, Kota Sukabumi dan Kota Bandung.

Proporsi kabupaten kota dengan CDR tertinggi di Jawa Barat dicapai Kabupaten Indramayu yaitu sebesar 18.5 %. Sedangkan terendah di Kabupaten dan Kota Bandung dengan cakupan 0.3/100.000.

Gambar IV. B. 18

CDR Kusta Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Untuk mengetahui kualitas program pengendalian Kusta dapat digambarkan dengan indikator Penemuan kasus Kusta dengan tingkat kecacatan tingkart 2 dibawah 5%. Bila melebihi 5 % artinya penemuan kasus Kustanya terlambat.

Gambar IV. B. 19

Cakupan Penemuan Kecacatan Kusta Tingkat 2 di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Kabupaten kota di Jawa Barat dengan penemuan kasus kusta tingkat kecacatan 2 berjumlah 20 kabupaten kota. Capaian yang tertinggi ada di Kab. Tasikmalaya dengan 40%. Hanya 6 kabupaten kota yang capaiannya dibawah 5 %. Yaitu Kota Tasikmalaya, Kota Cimahi, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kab. Cianjur dan Kab Bandung dengan angka 0%. Sedangkan Capaian untuk tingkat Provinsi Jawa Barat mencapai 14 %.

Untuk mengetahui gambaran besaran permasalahan kusta di masyarakat bisa dilihat dari gabaran Prevalensi Kasus Kusta. Batas maksimal Prevalensi Kusta di Indonesia adalah 1/100.000. Artinya kabupaten kota dianggap bermasalah/ berisiko besar apabila mempunyai Prevalensi Kusta diatas 1/100.000.

Gambar IV. B. 20

Trend Prevalensi Rate/10.000 Penderita Kusta Provinsi Jawa Barat 2008-2012

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 52 Prevalensi Kasus Kusta Provinsi Jawa Barat selama periode 2008 sd 2012 selalu berada dibawah 1/100.000. Bahkan cenderung menurun dari 0.62/100.000 tahun 2008 menjadi 0.5/100.000 pada tahun 2012. Bahkan tahun 2010 mempunyai prevalensi yang terendah dengan angka 0.47/100.000.

Hal itu berarti besaran masalah risiko Kusta di Jawa Barat relative kecil, mengingat prevalensinya dibawah 1/10.000. Namun meskipun demikian perlu diwaspadai tentang masa laten penularan kasus Kusta dan sulitnya mendeteksi kasus Kusta dimasyarakat, mengingat masih adanya stigma tentang penderita Kusta dimasyarakat yang menyebabkan penderita Kusta atau keluarganya menyembunyikan keberadaannya.

Gambar IV. B. 21

Prevalensi Rate/10.000 Penderita Kusta Provinsi Jawa Barat 2008-2012

Kabupaten dengan prevalensi Kusta <1/10.000 di Jawa Barat yang mempunyai angka prevalensi diatas 1/100.000, yaitu, Kab. Indramayu, Kab.Karawang Kab.Cirebon dan Kab.Subang. Semua wilayah kota mempunyai prevalensi Kusta <1/10.000.

3). Tuberkulosa

Keberhasilan Pengendalian Penyakit TB Paru dapat dilihat dari Cakupan Indikator Penemuan Kasus BTA + dan Angka Kesembuhan. Penemuan TB Paru di Provinsi Jawa Barat selama periode 2008-2012 cenderung meningkat, namun untuk tahun 2012 bila dibandingkan tahun 2011 mengalami penurunan yaitu dari capaian 75.2% tahun 2011 menjadi 71.5% pada tahun 2012.

Meskipun mengalami penurunan pada tahun 2012, namun bila dilihat dari target program Cakupan Penemuan Kasus TB Paru Provinsi Jawa Barat masih diatas target 70%.

Gambar IV. B. 22 Penemuan Kasus TB Paru (CDR %)

Provinsi Jawa Barat 2008 sd 2012

Pada tahun 2012 Jumlah kabupaten kota dengan Cakupan Peneumuan TB Paru diatas 70 % sebanyak 17 kabupaten kota. Dimana Cakupan tertinggi untuk wilayah kota terdapat di Kota Cirebon. Sedangkan untuk wilayah kabupaten ada di Kabupaten Sukabumi.

Kabupaten kota dengan Cakupan Penemuan dibawah 70% adalah Kota Depok, Kota Bekasi, Kab Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Indramayu, Kab. Sumedang, Kab. Purwakarta, Kab. Bekasi dan Kab. Bandung Barat.

Gambar IV. B. 23

CDR Penemuan Kasus TB Per Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat 2012

Indikator tentang keberhasilan pengobatan adalah indikator Kesembuhan (Cure Rate). Standar minimal Cakupan Indikator Kesembuhan adalah 85 %. Selama periode 2008 sd 2012 Cakupan Indikator Kesembuhan relatif tetap berkisar 85 %. Untuk Indikator yang dilaporkan pada tahun 2012 ini merupakan angka kesembuhan kasus TB Paru tahun sebelumnya (2011).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 54 Gambar IV. B. 24

Angka Kesembuhan Kasus TB Tahun 2011 Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Tidak adanya perubahan keberhasilan cakupan kesembuhan secara signifikan selama periode lima tahun tersebut menunjukan adanya kemungkinan permasalahan dalam tatalaksana kasus TB Paru dan pencatatan pelaporan program.

Angka kesembuhan TB Paru BTA+ hasil pengobatan 2011 di Jawa Barat berdasarkan laporan yang diterima tahun 2012 diketahui masih terdapat 6 Kabupaten/Kota yang cakupan kesembuhannya masih di bawah 85% yaitu Kota Bekasi, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kab. Bogor, Kab. Cirebon dan Kab. Sumedang.

Gambar IV. B. 25

Angka Kesembuhan Kasus TB Tahun 2011 Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Capaian tertinggi untuk kelompok Kabupaten di capai oleh Kab. Subang (93.3%). Sedangkan untuk kelompok Kota dicapai oleh Kota Depok (94.%) seperti dapat dilihat pada gambar diatas.

4) Pneumonia

Cakupan penemuan kasus Pneumoni di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2000 hingga 2012 berkisar antara 34%-52.7%, hal itu berarti selama 10 tahun tidak sekalipun cakupan penemuan kasus Pneumoni mencapai target penemuan sebesar 85.6%. Bila dibandingkan dengan cakupan 2011 maka cakupan 2012 tidak berubah yaitu berkisar di angka 44%.

Kemungkinan penyebab permasalahan tersebut kemungkinan antara lain disebabkan adanya kelemahan manajemen program dan kurangnya dukungan sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan program.

Gambar IV. B. 26

Cakupan Penemuan Penderita Pnemonia Provinsi Jawa Barat 2000 sd 2012

Sama halnya dengan Cakupan Penemuan Pneumoni tingkat provinsi, maka bila dilihat Cakupan Penemuan Pneumoni kabupaten kota pun relative tidak jauh berbeda. Dari 26 kabupaten kota di Jawa Barat hanya empat kabupaten kota yang dapat mencapai target 85.6%, yaitu Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kota Banjar dan Kota Cirebon.

Gambar IV. B. 27

Cakupan Penemuan Pneumonia Per Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat 2012

Cakupan Penemuan Pneumoni tertinggi dicapai oleh Kabupaten Subang. Sedangkan yang terendah dicapai oleh Kabupaten Bekasi untuk wilayah kabupaten dan Kota Depok untuk wilayah kota.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 56 5. Penyakit AIDS

Kumulatif penderita AIDS di Jawa Barat sampai tahun 2012 yaitu sebanyak 4.865 kasus. Berarti rerata setiap tahunnya di Jawa Barat ditemukan kasus AIDS sebanyak 540 kasus. Penemuan kasus AIDS tertinggi terjadi pada tahun 2008 dengan kasus sebanyak 992 kasus. Sedangkan penemuan kasus terendah terjadi pada tahun sebelum 2005 yaitu sebanyak 100 kasus.

Peningkatan penemuan kasus tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu dari 337 kasus naik menjadi 892 kasus pada tahun 2011. Sedangkan penurunan penemuan kasus terendah terjadi pada tahun 2011 yaitu dari penemuan sebanyak 892 kasus turun pada tahun 2012 menjadi 461 kasus.

Gambar IV. B. 28

Kumulatif Penemuan Kasus AIDS di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004 sd 2012

Pada tahun 2012 terdapat sebelas kabupaten kota yang dalam laporannya tidak menemukan kasus AIDS, yaitu Kab. Kuningan, Kab. Karawang, Kab. Garut, Kab. Majalengka, Kab. Ciamis, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Banjar, Kota Tasik, Kota Depok dan Kota Sukabumi.

Gambar IV. B. 29

Penemuan Kasus AIDS Per Kabupaten Kota Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Penemuan kasus AIDS tertinggi tahun 2012 untuk wilayah kabupaten adalah Kabupaten Subang dengan penemuan 175 kasus. Sedangkan untuk wilayah kota adalah Kota dengan penemuan kasus sebanyak 31 kasus.

Berdasar tahun 2012 tidak AIDS. Gambar be Jawa Barat. Bila berada diwilayah p Se 6) Penyakit Difteri. Penyakit imunisasi (PD3I). peningkatan, pen pada tahun sebel

Gambar Diptheri menurun menurun menjad dimungkinkan de

Penemu

arkan sebaran kasus AIDS kabupaten kota, ma ak ada satu kapupaten kota di Jawa Barat yang berikut dapat memperlihatkan sebaran kasus AIDS ila dilihat berdasarkan luas wilayah maka kepadata ah perkotaan.

Gambar IV. B. 30

Sebaran Penemuan Kasus AIDS Per Kabupaten Di Provinsi Jawa Barat 2004 sd 2012

ri.

kit Diptheri merupakan salah satu penyakit yang da D3I). Kasus Diptheri di Jawa Barat selain jumlahn

penyebarannya juga mengalami perluasan ke ka belumnya tidak melaporkan penemuan kasus Dipth

r dibawah ini menunjukan bahwa pada tahun run dibanding tahun sebelumnya. Dari 45 kasus Di

adi 31 kasus pada tahun 2012. Menurunnya penem dengan adanya peningkatan cakupan imunisasi Dip

Gambar IV. B. 31

uan Kasus Difteri di Provinsi Jawa Barat Tahun

maka sampai dengan g bebas dari penyakit IDS yang ditemukan di atan kasus lebih padat

en Kota

dapat dicegah dengan hnya yang mengalami kabupaten kota yang theri.

n 2012 jumlah kasus s Diptheri tahun 2011, emuan kasus Diptheri Diptheri.

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 Kasus Di

kabupaten/kota, te Tasikmalaya serta dan Kota Bogor.

Kabupate kasus Diptheri an Sedangkan kabu Kabupaten Suban Berdasar kabupaten yang p kasus. Sedangka Diptheri di wilaya Kab. Majalengka. S Sebaran P 7) Penyakit Campa Permasa adanya kasus Ca Biasa (KLB). Keja relatif meningkat,n Campak rendah. bahkan RT. Peningka petugas surveilan fase Case Base yang dilengkapi d (saat ini masih de

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 Diptheri di Jawa Barat tahun 2012 dilapork

, tersebar di 5 kabupaten yaitu Bogor, Bekasi, Cia erta di 4 kota meliputi Kota Bekasi, Kota Bandung

r.

aten kota yang setiap tahun selalu melaporkan i antara lain Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bekas

bupaten yang secara intermitenmelaporkan kasus bang dan Kabupaten Indramayu.

arkan laporan kasus Diptheri 2012, Kabupaten g paling banyak melaporkan adanya penemuan ka gkan 19 kabupaten kota tidak melaporkan adany ayahnya, antara lain Kabupaten Sukabumi, Kabu ka. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar beriku

Gambar IV. B. 32

n Penemuan Kasus Difteri di Provinsi Jawa Bara

pak

salahan Penyakit Campak di Jawa Barat dapa Campak yang mengelompok dan dikategorikan se ejadian Luar Biasa Campak dalam periode tiga tah kat,namun terjadi pada daerah kantong dengan h. Daerah kantong tersebut misalnya wilayah ka

katan frekwensi ini juga berkaitan dengan penin ilans dalam KLB Campak. Surveilans Campak sa sed Measles Surveillance (CBMS), yaitu sistem

i dengan metode konfirmasi laboratorium untuk s dengan sampel terbatas).

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 58 orkan terdapat di 9 Cianjur, Bandung, dan ng, Kota Tasikmalaya

an adanya penemuan kasi dan Kota Bekasi. us Diptheri antara lain

ten Bekasi merupakan kasus Diptheri, yaitu 7 nya penemuan kasus bupaten Cirebon dan ikut.

Barat Tahun 2012

pat dilihat dari masih sebagai Kejadian Luar tahun ini frekwensinya gancakupan imunisasi kampung, dusun, RW

ingkatan pemahaman saat ini masuk dalam m surveilans Campak setiap kasus campak

Frekw

Frekwens yaitu dari 47 freqw

Se

Frekwens berasal dari Kab kelompok kota diperlihatkan pad Dari 26 k 21 kabupaten kota tahun 2012. Gambar IV. B. 33

kwensi Kasus Campak di Jawa Barat Tahun 20

ensi KLB Campak tahun 2012 menurun dibanding eqwensi tahun 2011 menjadi 30 pada tahun 2012.

Gambar IV. B. 34

Sebaran Penemuan KLB Campak Menurut Kabu Di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

nsi KLB Campak tahun 2012 tertinggi pada k Kabupaten Garut dengan sepuluh kali kejadian ta tidak ada laporan kejadian. Sebaran frekw

ada gambar diatas.

6 kabupaten kota, 5 kabupaten melaporkan adany kota yang tidak melaporkan adanya Kejadian Luar

2009-2012

ng dengan tahun 2011 .

bupaten/Kota

kelompok kabupaten ian. Sementara untuk kwensi KLB Campak

nya KLB Campak dan ar Biasa Campak pada

PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 60 Gambar IV. B. 35

Peta Insiden Rate (IR) /10000 Campak di Provinsi Jawa Barat ahun 2012

Berdasarkan dari laporan rutin STP 2012, diketahui besaran masalah Campak yang digambarkan dengan besarnya angka kejadian Campak (IR/100.000 penduduk) menurut kabupaten kota.

Angka kejadian Campak Provinsi Jawa Barat tahun 2012 sebesar 15.11/100 .000 penduduk. Kisaran angka kejadian Campak kabupaten kota 2012 yaitu antara 0.13 sampai dengan 65.60. Angka kejadian tertinggi terjadi di Kota Depok dan terendah di Kabupaten Bandung Barat.

Proporsi Campak 40.11% terjadi pada usia dibawah lima tahun, dan 59.89 % terjadi pada usia diatas lima tahun. Sedangka untuk usia dibawah 1 tahun sebesar 10.08%.

Dokumen terkait