Cara Penanganan Sampah
5. Keadaan Perilaku Masyarakat
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan salah satunya adalah persentase penduduk yang berobat jalan selama sebulan yang lalu menurut tempat/cara berobat, dan indikator yang berkaitan dengan perilaku antara lain Perilaku Bersih Hidup Sehat (PHBS).
PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Untuk mencapai rumah tangga berPHBS, terdapat 10 perilaku hidup bersih dan sehat yang dipantau, yaitu: (1)
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, (2) memberi ASI ekslusif, (3) menimbang balita setiap bulan, (4) menggunakan air bersih, (5) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, (6) menggunakan jamban sehat, (7) memberantas jentik di rumah sekali seminggu, (8) makan buah dan sayur setiap hari, (9) melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan (10) tidak merokok di dalam rumah . Pada tahun 2012 ditargetkan sebanyak 60% rumah tangga telah melaksanakan PHBS. Hasil kegiatan pada tahun 2012 menunjukkan sebanyak 56,70% rumah tangga telah melaksanakan PHBS atau 94,5% dibandingkan target. Secara nasional persentase pencapaian rumah tangga yang ber- PHBS mencapai 56,70%
Berdasarkan hasil SUSENAS tahun 2012, penduudk yang mempunyai keluhan kesehatan selama sebulan terakhir sebesar 28,57%. Jika dibandingkan antara daerah tempat tinggal perkotaan sebesar 28,59% dan di pedesaan 28,55%. Ada 3 jenis keluhan yang paling banyak, yaitu batuk (44,96%), Pilek (43,29%), Panas (33,41%) dan keluhan lainnya (43,29%), sedangkan menurut jenis kelamin persentase laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan lebih besar dibandingkan perempuan untuk ketiga jenis penyakit tersebut.
Hasil Susenas 2012, persentase penduduk Indonesia yang memiliki keluhan kesehatan dan memutuskan untuk berobat jalan ke tempat berobat sebesar 45,21%, yang paling banyak dikunjungi adalah Puskesmas/Pustu sebesar 29,97%, diikuti oleh praktek Dokter sebesar 26,09% dan Petugas Kesehatan sebesar 26,91%, sementara jika dilihat daerah tempat tinggal, penduduk pedesaan lebih banyak memanfaatkan praktek petugas kesehatan sebesar 36,89% dan Puskesmas/Pustu sebasar 31,88%, sedangkan penduduk perkotaan lebih banyak memanfaatkan fasilitas praktek dokter/poliklinik sebesar 33,71 dan puskesmas/pustu sebesar 28,08%.
Penduduk yang mengalami keluhan kesehatan banyak yang mengobati sendiri dalam upaya pemulihan kesehatannya yaitu sebesar 67,71%, diantaranya pernah menggunakan obat modern sebesar 71,33%, dan 24,33% obat tradisional serta 4,34% dengan cara pengobatan lainnya.
Secara nasional persentase pencapaian rumah tangga yang ber-PHBS mencapai 53,89%. Provinsi Jawa Barat berada dibawah angka Nasional yaitu sebesar 45,90%. Apabila Provinsi Jawa Barat dibandingkan dengan Provinsi yang ada di Pulau Jawa Bali, menduduki rangking 3 teratas setelah Provinsi Jawa Tengah (77,83) dan DKI Jakarta (70,90%).
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 116 B. DERAJAT KESEHATAN
1. Mortalitas
a. Angka Kematian Bayi (AKB)
Berdasarkan perhitungan BPS , Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 sebesar 39 per seribu kelahiran hidup dan jika dibandingkan dengan Provinsi lain Jawa Barat menduduki urutan ke 12. Sedangkan Angka Kematian yang paling kecil adalah Provinsi DKI Jakarta (28 per seribu kelahiran hidup) .
Gambar VII. B. 1
Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Pada Tahun 2002-2003, 2007, 2005-2010, 2012
Sumber : BPS
Angka kematian neonatal periode 5 tahun terakhir mengalami stagnasi. Berdasarkan laporan SDKI 2007 dan 2012 diestimasikan sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian neonatal menyumbang lebih dari setengahnya kematian bayi (59,4%), sedangkan jika dibandingkan dengan angka kematian balita, kematian neonatal menyumbangkan 47,5%. Hasil estimasi angka kematian neonatal di atas merupakan AKN dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei, misalnya pada SDKI tahun 2012 menggambarkan AKN untuk periode 5 tahun sebelumya yaitu tahun 2008-2012 yang sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Keadaan kematian neonatal sejak tahun 1991 diperlihatkan pada gambar dibawah ini.
Gambar VII. B. 2
Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia Pada Tahun 2002-2003, 2007, 2005-2010, 2012
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran, dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Penyebab kematian perinatal (0-7hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35,9%) dan premature (32,3%), sedangkan untuk usia (7- 28hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20,5%) dan congenital malformations (18,1%). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31,4%) dan pnemonia (23,8%). Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi, yaitu terbanyak adalah diare (25,2%) dan pnemonia (15,5%). Sedangkan untuk usia > 5 tahun, penyebab kematian yang terbanyak adalah stroke, baik di perkotaan maupun diperdesaan. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir atau menunjukan penanganan bayi prematur belum memuaskan, atau karena alasan lain seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.
Untuk kematian perinatal, faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil, maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari), pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.
Tabel VII. B. 1
Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 Hari dan 7-28 Hari Di Indonesia Tahun 2007
Sumber : Riskesdas tahun 2007.
Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal, 96,8% ibu dari perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir mati adalah hipertensi maternal(24%), komplikasi ketika bersalin (partus macet) sebesar 17,5%, sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1.
Gangguan/Kelainan Pernafasan 35,90 Sepsis 20,50 2. Prematuritas 32,40 Malformasikongenital 18,10 3. Sepsis 12,00 Pneumonia 15,40 4. Hipotermi 6,30 Sindromgawatpernafasan(RDS) 12,80 5.
Kelainan Perdarahan dan Kuning 5,60 Prematuritas 12,80 6.
Postmatur 2,80 Kuning 2,60
7.
Malformasi Kongenitas 1,40 Cederalahir 2,60 8.
Tetanus 2,60
9.
Defisiensinitrisi 2,60
10. Sindrom kematian bayi mendadak 2,50
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 118 dari bayi meninggal adalah ketuban pecah dini (23%) dan hipertensi maternal (22%).
Tabel VII. B. 2
Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0 – 6 Hari di Indonesia Tahun 2007
Sumber : Riskesdas tahun 2007.
b. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita di Jawa Barat pada Tahun 2007 adalah sebesar 49 per seribu kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan Provinsi yang berada di Jawa dan Bali, ternyata Angka Kematian Balita di Provinsi Jawa Barat merupakan angka ke-dua tertinggi, dan yang terendah adalah di Provinsi DI. Yogyakarta sebesar 22 perseribu kelahiran hidup, hal ini dapat dilihat pada table dibawah ini.
Gambar VII. B. 3
Angka Kematian (AKABA) Provinsi di Pulau Jawa dan Bali Tahun 2000, 2002, 2007 dan 2012
Sumber : Riskesdas
Proporsi penyakit penyebab kematian pada balita yang terbesar dikarenakan penyakit Diare dan Pneumonia. Untuk bayi post neonatal penyebab kematian yang juga perludi perhatikan adalah kelainan kongenital jantung dan
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1 Hipertensi maternal 23,60 Ketuban pecah dini 23,00 2 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 17,50 Hipertensi maternal 21,80 3 Ketuban pecah dini 12,70 Komplikasi kehamilan dan kelahiran 16,00 4 Perdarahan ante partum 12,70 Kelainan nutrisi maternal 10,30 5 Cedera maternal 10,90 Multi ple pregnancy 6,90 6 Persalinan sungsang 5,50 Perdarahan ante partum 6,90 7 Kehamilan ganda 3,60 Persalinan sungsang 5,70 8 Kelainan letak lain selama kehamilan
dan kelahiran
3,60 Infeksi intra partum 3,40 9 Infeksi intra partum 3,60 Lilitan tali pusat 2,30 10 Lilitan tali pusat 1,80 Kelainan letak lain selama kehamilan
dan kelahiran
1,10 Lahir Mati Kematian Bayi 0 – 6 Hari No.
hidrocefallus (6%), sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%, tenggelam 5%, TB 4%.
Tabel VII. B. 3
Proporsi Penyebab Kematian pada Anak Berumur 29 Hari - 4 Tahun Di Indonesia Tahun 2007
Sumber : Riskesdas tahun 2007.
c. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu Maternal berguna untuk mengetahui tingkat kesadaran perilaku hidup sehat,status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk Ibu hamil, Ibu waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 menunjukan adanya kenaikan dari 228 per 100.000 kelahiran hid 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012. Secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar VII. B. 4
Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) per 100.000 kelahiran hidup Tahun 1994 - 2012
d. Umur Harapan Hidup (Eo)
Umur Harapan Hidup tahun 2012 di Jawa Barat adalah 68,6 tahun, jika dibandingkan dengan umur harapan hidup di Provinsi yang berada di Pulau Jawa dan Bali ternyata ranking ke dua dari bawah dapat dilihat pada Gambar VII. B. 4. Berdasarkan BPS Estimasi Umur Harapan Hidup pada periode tahun 2000 di
No. 29 Hari – 11 Bulan 1 – 4 Tahun
Jenis Penyakit % Jenis Penyakit %
1. Diare 31,4 Diare 25,2
2. Pneumonia 23,8 Pneumonia 15,5
3. Meningitis/ensefalitis 9,3 NecroticansEnteroCollitis(NEC) 10,7 4. Kelainansaluranpencernaan 6,4 Meningitis/ensefalitis 8,8 5. Kelainan Jantungcongenital
dan hidrosefalus 5,8 Demamberdarahdengue 6,8
6. Sepsis 4,1 Campak 5,8
7. Tetanus 2,9 Tenggelam 4,9
8. Malnutrisi 2,3 TB 3,9
9. TB 1,2 Malaria 2,9
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 120 Indonesia mencapai 68,23 tahun, sedangkan Jawa Barat diperkirakan mencapai 68,16 Tahun.
Gambar VII. B. 5
Angka Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo) Menurut Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2010-2012
Sumber : BPS 2010-2012
Dari diatas terlihat bahwa umur harapan hidup dari tahun 2012 mengalami peningkatan, dan umur harapan hidup yang tertinggi di Provinsi Jawa - Bali adalah Provinsi DKI Jakarta (73,5 tahun), sedangkan terendah di Provinsi Banten (65,2 tahun).
2. Morbiditas
Angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan(facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.Hasil Susenas 2012, persentase penduduk yang menderita sakit selama bulan terakhir sebanyak 14,49%, lebih rendah dari tahun 2011 sebanyak 15,02%, dengan rata-rata lama sakit yang terbanyak sekitar 1-3 hari sebanyak 58,69% dan lama sakit 4-7 hari sebanyak 30,36%.
a. Penyakit Menular
Penyakit Diare masih merupakan penyebab utama kematian pada balita. Angka kesakitan yang dilaporkan dari sarana kesehatan dan kader per-1000 penduduk terlihat bahwa Provinsi Jawa Barat menempati urutan keempat terbesar bila dibandingkan dengan Provinsi di Pulau Jawa-Bali. Angka kesakitan Diare masih mengalami Fluktuasi, mengingat banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi dan masih memerlukan waktu untuk peningkatan seperti sanitasi lingkungan, sosial ekonomi & sosial budaya serta faktor gizi.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, Prevalensi diare klinis secara nasional sebesar 9% (rentang 4,2% - 18,9%), tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI. Yogyakarta. Kasus Diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan. Sedangkan Provinsi Jawa
Barat mempunyai prevalensi diare klinis > 9% yaitu 10,2%. Dan penyakit Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).
Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. Secara nasional proporsi responden diare klinis yang mendapatkan oralit adalah 42,2%, dan Provinsi Jawa Barat sebanyak 35,7%. Penyakit Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi pada Balita (16,7%). Prevalensi diare 13 % lebih banyak di pedesaan dibandingkan di perkotaan.
Angka Prevalensi Nasional TB cenderung meningkat bila dibandingkan antara hasil Riskesdas 2007 Angka Prevalensi TB sebesar 0,4% dan hasil Riskesdas 2010 sebesar 0,7%. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki- laki sebesar 0,8 persen dan pada perempuan 0,6 persen. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1,1 persen dan terendah pada kelompok tamat SMA sebesar 0,5 persen. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani, nelayan, dan buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0,4 persen.
Gambar VII. B. 6
Angka Prevalensi Tuberkulosis Paru Provinsi di Pulau Jawa Bali Tahun 2007 dan 2010
Sumber : Riskesdas 2007, 2010
Jumlah kasus baru BTA+ yang ditemukan pada tahun 2012 sebanyak 202.301 kasus. Jumlah tersebut sedikit lebih rendah bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2011 yang sebesar 197.797 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan jumlah penduduk yang tinggi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kasus baru di tiga provinsi tersebut sekitar 40% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia.
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 122 Tabel VII. B. 4
Cakupan Penemuan BTA Positif dan Case Detection Rate (CDR) Menurut Provinsi di Pulau Jawa-Bali Tahun 2012
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia, Ditjen PPPL Tahun 2012
Untuk Angka Insidens Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan hal ini disebabkan antara lain dengan tingginya mobilitas dan kepadatan penduduk, nyamuk penular penyakit DBD tersebar di seluruh pelosok dan masih banyak menggunakan tempat-tempat penampungan air tradisional (tempayan,bal,drum dll).
Pada tahun 2012, jumlah penderita DBD di Indoenesia yang dilaporkan sebanyak 90.245 kasus dengan jumlah kematian 816 orang (Incidence Rate/Angka kesakitan= 37,11 per100.000 penduduk dan CFR= 0,90%). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun 2012 dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 65.725 kasus dengan IR 27,67.
Apabila dilihat menurut Provinsi yang berada di Pulau Jawa-Bali, maka terlihat bahwa Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama tertinggi dengan Angka IR 64,48 per 100.000 penduduk pada tahun 2012. Sedangkan Angka Insidence Rate DBD Jawa Barat mengalami penurunan menjadi 44,85 per 100.000 penduduk.
Angka Kesakitan Malaria sejak empat tahun terakhir menunjukan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan, hal ini diakibatkan antara lain adanya perubahan lingkungan seperti penebangan hutan bakau, mobilitas penduduk dari Pulau Jawa ke Luar Jawa yang sebagian besar masih merupakan daerah endemis malaria dan obat malaria yang resisten yang semakin meluas.
Secara nasional angka kesakitan malaria selama tahun 2005 – 2012 cenderung menurun yaitu dari 4,1 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2005 menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012.
Untuk wilayah Jawa dan Bali, API tertinggi adalah Provinsi DI. Yogyakarta sebesar 0,06 per 1.000 penduduk diikuti Jawa Tengah sebesar 0,03 per 1.000 penduduk. Sedangkan yang terendah terdapat di Provinsi Bali dan DKI Jakarta. Rincian API dan AMI menurut provinsi Jawa Bali tahun 2012 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Laki Perempuan L + P Laki Perempuan L + P Laki Perempuan L + P 1. DKI. Jakarta 16.265 11.471 27.736 5.631 3.621 9.252 122,64 74,94 98,18 2. Jawa Barat 33.765 27.038 60.803 19.309 14.170 33.479 88,72 66,03 77,45 3. Jawa Tengah 21.219 17.256 38.475 11.414 8.865 20.279 68,49 52,57 60,48 4. DI. Yogya 1.510 1.152 2.662 742 478 1.220 40,93 26,57 33,91 5. Jawa Timur 23.346 19.358 42.704 14.270 11.315 25.585 76,06 59,40 67,66 6. Banten 8.864 6.664 15.528 5.140 3.568 8.708 98,62 69,70 84,29 7. B a l i 1.681 1.204 2.885 827 614 1.441 44,93 33,96 39,49 Indonesia 187.110 136.976 324.086 117.081 80.366 197.447 97,62 67,11 82,38 BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % Provinsi Perkiraan Kasus Menular
Tabel VII. B. 5
Annual Parasite Incidence (API) Malaria Provinsi Di Jawa-BaliTahun 2008-2012
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012
Perkembangan penyakit AIDS terus menunjukan peningkatan. Meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat risiko penyebaran AIDS. Saat ini di Indonesia telah digolongkan sebagai negara tingkat epidemi dengan prevalensi lebih dari 5%. Jumlah penderita AIDS di Indonesia sebenarnya belum diketahui dengan pasti. Jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan pada tahun 2012 sebanyak 42.887 kasus dan 3.846 kasus diantaranya meninggal dunia.
HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko, yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL), penggunaan Narkoba suntik secara bergantian, transfusi darah dan perinatal. Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko. Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
Gambar VII. B. 7
Jumlah Kasus Baru Penderita AIDS 10 Provinsi Tertinggi Di Indonesia Tahun 2012
Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2012
2008 2009 2010 2011 2012 1. DKI. Jakarta - - - 0,05 0,00 2. Jawa Barat 0,58 0,36 0.43 0,47 0,01 3. Jawa Tengah 0,07 0,08 0.10 0,01 0,03 4. DI. Yogya 0,03 0,03 0.01 0,00 0,06 5. Jawa Timur 0,71 0,71 0.10 0,01 0,02 6. Banten 0,17 0,14 0.03 0,03 0,02 7. B a l i 0,03 0,02 0.03 0,00 0,00 Indonesia 0,16 1,85 1.96 1,75 1,69
Annual Parasite Incidence (API) Per 1.000 Provinsi
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 124 Menurut provinsi, Jawa Timur merupakan provinsi dengan penemuan kasus baru AIDS tertinggi pada tahun 2012, yaitu sebesar 822 kasus, diikuti oleh Jawa Tengah dan Bali yang masing-masing sebesar 798 dan 650 kasus. Menurut jenis kelamin, persentase kasus baru AIDS tahun 2012 pada kelompok laki-laki lebih besar dibandingkan persentase pada kelompok perempuan yaitu sebesar 51,6% berbanding 33,0%.
Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa persentase wanita umur 15-49 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 76,7%. Sedangkan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV AIDS sebesar 82,3%.
Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian. Jumlah kasus flu burung terus menurun dari tahun ke tahun dari 55 pada tahun 2006 menjadi 9 kasus pada tahun 2012. Secara kumulatif jumlah kasus flu burung pada manusia dari tahun 2005 sampai Desember 2012 sebanyak 192 kasus dengan 160 di antaranya meninggal (rata-ratacase fatality rate sebesar 83,3%). Menurut jenis kelamin, sebanyak 57,4% (105 orang) terkonfirmasi berjenis kelamin perempuan dan 45,3% (87 orang) pada jenis kelamin laki-laki. Perbedaan sekitar 10% ini perlu diteliti lebih lanjut apakah jenis kelamin mempengaruhi kekuatan imunitas seseorang terhadap virus Flu Burung.
Menurut riwayat kontak penderita AI sebanyak 48,9% mempunyai riwayat keterpaparan secara langsung dengan unggas sakit, mati atau dengan produk unggas lainnya, 37,23% riwayat keterpaparannya dengan lingkungan, 2,19% keterpaparannya dengan pupuk dan 11,68% kasus riwayat keterpaparannya tidak jelas.
b. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Immunisasi
Bedasarkan data laporan Sistem Surveilans Terpadu (SST), keadaan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan immunisasi, apabila dibandingkan dengan Provinsi di Pulau Jawa dan Bali, maka Penyakit Difteri, Tetanus Neonatorum dan Campak di Jawa Barat menempati urutan ke 2, 3, 1 terbesar di Pulau Jawa-Bali, jika dibandingkan secara Nasional Penyakit Tetanus Neonatorum di Jawa Barat menempati urutan ke-7 terbesar, Penyakit Campak menduduki urutan ke-2 setelah Provinsi Jawa Tengah. Kasus AFP di Indonesia sebanyak 1951 kasus diantaranya 337 Kasus ada di Jawa Barat.
Tabel VII. B. 7
Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Immunisasi (PD3I) Di Provinsi Jawa –Bali Tahun 2012
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012
c. Penyakit Tidak Menular
Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari telah berpengaruh terhadap transisi epidemiologi sehingga semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular diantaranya seperti Penyakit Jantung, Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal dan sebagainya.
Berdasarkan Riskesdas tahun 2007, Prevalensi, Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7,2%, berdasarkan wawancara, sementara berdasarkan riwayat di diagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0,9%. Cakupan kasus jantung yang sudah di diagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12,5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung. Prevalensi penyakit jantung Menurut provinsi, berkisar antara 2,6% di Lampung sampai 12,6% di NAD. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional, termasuk Provinsi Jawa Barat 8,2%.
Prevalensi penyakit DM diIndonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0,7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1,1%. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63,6%, lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung. Prevalensi DM Menurut provinsi, berkisar antara 0,4% di Lampung hingga 2,6% di DKI Jakarta. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional, termasuk Provinsi Jawa Barat 1,3.
Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4,3‰. Prevalensi Menurut provinsi, berkisar antara 1,5‰ di Maluku hingga 9,6‰ di DI Yogyakarta. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional, termasuk Provinsi Jawa Barat
Provinsi Difteri Tetanus Neonatorum Campak AFP
1. DKI. Jakarta 0 0 1.895 65 2. Jawa Barat 31 14 2.618 337 3. Jawa Tengah 32 0 490 198 4. DI. Yogya 2 0 1.093 40 5. Jawa Timur 954 29 1.207 240 6. Banten 13 32 1.846 83 7. B a l i 2 0 31 26 Indonesia 1.192 119 15.987 1.951
PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2012 126 5,5%. Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah.
Prevalensi penyakit asma secara nasional sebesar 1,9% dan Provinsi Jawa Barat sebesar 2,5%, Menurut jenis pekerjaan utama, prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja, disusul kelompok petani/ nelayan/ buruh.
Prevalensi Jantung di Indonesia sebesar 0,9% dan Provinsi Jawa Barat sebesar 1%. Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga, diikuti kelompok petani/ nelayan/ buruh dan tidak bekerja
Prevalensi penyakit Hipertensi di Jawa Barat sebesar 9,5% lebih besar dari pada angka Nasional sebesar 7,2%.
Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4,6‰. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20,3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18,5‰), Sumatera Barat (16,7‰), dan Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0,9‰), sedangkan Provinsi Jawa Barat 2,2‰ dibawah angka Nasional.
Prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.8%-12.9% dengan rerata 7.5%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur(12.9%), sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3.8%). Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12.9%), Kalimantan Selatan (12.0%), Gorontalo (11.1%), Sulawesi Tengah (10.2%), DKI Jakarta (10.1%), dan Papua Barat (10.1%), dan Provinsi Jawa Barat 9,5%, selebihnya dibawah 10%. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh, kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/ tumpul. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensi nyarata – rata kecil atau sedikit .