• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. 1. Fokus Amatan Penelitian

Untuk mempermudah penulisan agar lebih fokus dalam melakukan penelitian, maka peneliti memfokuskan masalah yang akan dibahas pada persoalan metode bimbingan mental spiritual terhadap penyandang masalah tuna susila.

Banyak pelayanan yang ditawarkan oleh panti sosial karya wanita PSKW Mulya Jaya Jakarta, tapi disini peneliti hanya memfokuskan penelitian mulai dari proses bimbingan mental spiritual dengan meneliti metode bimbingan mental spiritual yang dilaksanakan disana.

Fokus amatan penelitian dalam karya ilmiah ini adalah sebagai berikut penjelasan dari rinciannya:

1. Pendekatan Awal

Adalah serangkaian kegiatan untuk mendapatkan pengakuan, dukungan bantuan, dan peran serta dalam pelaksanaan program, dan bermaksud memperoleh gambaran potensialitas sumber-sumber pelayanan, pasar usaha dan kerja serta untuk mendapatkan calon klien. Pendekatan yang dimaksud meliputi; kegiatan-kegiatan orientasi dan konsultasi, identifikasi, motivasi, dan seleksi dengan jabaran rincian sebagai berikut:

a. Orientasi dan Konsultasi

Adalah kegiatan pengenalan program pelayanan kepada pemerintah daerah, instansi-instansi teknis, dan pilar-pilar partisipan usaha kesejahteraan sosial yang terkait untuk mendapatkan pengesahan atau pengakuan, dukungan dan bantuan serta peran sertanya dalam pelaksanaan program. Pendekatan awal di PSKW Mulya Jaya yang dilakukan dalm bentuk orientasi dan konsultasi.

b. Identifikasi

Adalah kegiatan upaya untuk memperoleh data yang lebih rinci tentang diri penyandang masalah tuna susila serta potensi terhadap lingkungannya, termasuk sumber-sumber pelayanan, sarana dan prasarana kerja dan usaha, fasilitas atau garis kemudahan.

c. Motivasi

Adalah kegiatan pengenalan program kepada penyandang masalah tuna susila untuk menumbuhkan keinginan dan dorongan tinggi dalam mengikuti, melaksanakan program pelayanan dan rehabilitasi sosial.

d. Seleksi

Adalah kegiatan pengelompokkan atau klasifikasi penyandang masalah kesejahteraan sosial terutama yang sudah di motivasi, untuk menentukan siapa yang memenuhi persyaratan dan siapa yang tidak dapat diterima menjadi calon penerima pelayanan.

2. Penerimaan

Adalah serangkaian kegiatan administratif maupun teknis meliputi registrasi, menelaahan atau pengungkapan masalah, dan penempatan kelayan pada program rehabilitasi sosial yang dilaksanakan pada saat calon penerima pelayanan hasil seleksi secara syah diterima sebagai klien definitive di Panti. Kegiatan tersebut secara operasional adalah sebagai berikut:

a. Registrasi

Adalah kegiatan administrasi pencatatan dalam buku induk penerima pelayanan (setiap penerima pelayanan 1 klien agar diberi NIP atau NIK (nomor induk peserta/klien) dan mengkomplikasikan berbagai formulir isian untuk mendapatkan penerima pelayanan definitif lengkap dengan segala informasi biodatanya.

b. Penelaahan dan pengungkapan masalah (Assesment)

Adalah upaya untuk menelusuri, menerima, dan menggali data penerima pelayanan (klien), faktor serta penyebab masalahnya, tanggapannya serta kekuatan-kekuatannya dalam upaya membantu dirinya sendiri. Hal ini dapat dikaji, dianalisa dan diolah untuk membantu upaya rehabilitasi sosial, dan resosialisasi bagi penerima pelayanan (klien).

c. Penempatan kelayan pada program rehabilitasi sosial

Adalah kegiatan pengelompokkan bakat dan minat para penerima pelayanan (klien) dipadukan dengan program bimbingan, khususnya program keterampilan kerja praktis yang sudah diprogramkan (sesuai dengan inventarisasi pasaran usaha kerja) untuk menambahkan semangat dan kecintaan untuk mengikuti bimbingan kerja tersebut.

3. Bimbingan Mental Spiritual

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan rohani atau tuntunan untuk dapat memahami diri sendiri, dan orang lain dengan cara mempelajari berbagai ilmu pengetahuan khususnya tentang ilmu keagamaan yang didukung dengan pelatihan dan pemahaman cara berpikir positif serta praktik kegiatan ibadah, demi terwujudnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat.11

11

Abdul Rahman, S. Sos.I dan Ust. Nuhri Sulaeman, Panduan Bimbingan Mental Spiritual, (Jakarta: Departemen Sosial, 2011), h.1

Proses kegiatan ini yang peneliti fokuskan, untuk mengetahui bagaimana (1) Metode bimbingan mental spiritual, (2) Faktor pendukung dan penghambat keberhasilan bimbingan mental spiritual.

4. Resosialisasi

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang bersifat dua arah yaitu di satu pihak untuk mempersiapkan klien agar dapat berintegrasi penuh kedalam kehidupan dan penghidupan secara normative, dan di satu pihak lagi untuk mempersiapkan masyarakat khususnya masyarakat daerah asal atau lingkungan masyarakat di lokasi penempatan kerja atau usaha klien agar mereka dapat menerima, memperlakukan dan mengajak serta untuk berintegrasi dengan kegiatan kemasyarakatan. Adapun kegiatan resosialisasi meliputi beberapa hal sebagai berikut12:

a. Bimbingan kesiapan dan peran serta masyarakat

Adalah kegiatan bimbingan atau tuntunan pendekatan untuk menumbuhkan kemauan keluarga, masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi sosial.

b. Bimbingan sosial hidup bermasyarakat

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan agar klien tersebut dapat melaksanakan seluruh kegiatannya sesuai dengan norma yang berlaku dan menghindari kegiatan yang menjadi larangan-larangan masyarakat.

12

Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementrian Sosial R.I, diakses dari Pada tanggal 09 Maret 2011.

c. Bimbingan pemberian bantuan stimulans usaha produktif Adalah serangkaian kegiatan pengadaan bantuan peralatan dan bahan untuk mempersiapkan klien dapat melaksanakan praktek bermata pencaharian dan bantuan tersebut bersifat merangsang usaha-usahanya agar dapat lebih berkembang.

d. Bimbingan usaha kerja

Adalah kegiatan tuntunan praktek berusaha atau bekerja untuk dapat menciptakan lapangan kerja yang layak, serta praktek mengelola usaha, menuju terciptanya kondisi usaha yang efektif dan efisien.

e. Penempatan dan penyaluran

Adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mengembalikan penerima pelayanan kedalam kehidupan dan penghidupan di masyarakat secara normative baik dilingkungan keluarga, masyarakat, daerah asal, maupun kejalur-jalur lapangan kerja atau usaha mandiri (wirausaha) dengan bertransmigrasi.

5. Bimbingan lanjut

Adalah serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada klien dan masyarakat guna lebih memantapkan, meningkatkan dan mengembangkan kemandirian klien dalam kehidupan serta penghidupan yang layak.

Kegiatan bimbingan usaha bimbingan atau tuntunan untuk lebih memantapkan kemampuan penyesuaian diri dalam tata hidup bermasyarakat dan keikutsertaan mereka dalam proses pembangunan sesuai dengan kemampuannya.

b. Bantuan pengembangan usaha bimbingan peningkatan keterampilan

Serangkaian kegiatan yang diarahkan kepada penerima pelayanan dalam bentuk pemberian bantuan ulang balik berupa peralatan dan bahan permodalan maupun pemantapan keterampilan, sehingga jenis usaha atau kerjanya lebih berkembang.

c. Bimbingan pemantapan kemandirian usaha kerja

Serangkaian kegiatan bimbingan yang diarahkan kepada penerima pelayanan guna dapat meningkatkan usaha ekonomis, produktif, sehingga dapat mengembangkan jenis dan jumlah penghasilannya13.

6. Evaluasi

Evaluasi dilakukan secara menyeluruh dalam pelaksanaan program pelayanan dan rehabilitasi sosial mulai tahap perencanaan sampai akhir tahap pelayanan yang ditetapkan, untuk mengukur tingkat keberhasilan. Evaluasi adalah suatu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara obyektif terhadap pencapaian hasil-hasil

13

Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementrian Sosial R.I, diakses dari Pada tanggal 09 Maret 2011.

sebagaimana telah direncanakan sebelumnya dalam upaya menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial terhadap penyandang masalah Tuna Susila.14

Tujuannya untuk mengukur efektifitas dan efisiensi dari pelaksanaan pelayanan dan rehabilitasi sosial terhadap penyandang masalah Tuna Susila dan sekaligus mengukur secara obyektif hasil-hasil pelaksanaan kegiatan tersebut.

7. Terminasi (Pengakhiran Pelayanan)

Pengakhiran pelayanan dilaksanakan untuk memastikan hasil evaluasi umum terhadap klien telah dapat menjalankan fungsi sosialnya secara wajar dan mampu menjadi warga Negara masyarakat yang bertanggung jawab. Dalam hal ini dipersiapkan klien dalam proses pengakhiran berjalan secara wajar, dimana pemutusan pelayanan tidak menimbulkan konflik psikologis yang dapat mengganggu klien. Disamping itu agar administrasi penanganan kasus berlangsung dengan tertib, dibuatkan surat pemberitahuan formal bahwa proses pelayanan klien sudah berakhir.15

Dokumen terkait