• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Iklim Berinvestas

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 96-100)

2.4 Aspek Daya Saing Daerah

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestas

Kabupaten TTU secara geografis memiliki lokasi strategis yang menghubungkan sekaligus sebagai salah satu pintu masuk Negara RDTL/Distric

Oecusi. Iklimnya tropis dan tanahnya subur, kaya dengan kandungan alam dan

mineral. Hanya saja semua kekayaan dan potensi ini belum dikelola optimal; salah satu penyebabnya adalah belum terciptanya iklim investasi yang memberikan kemudahan berusaha bagi investor. Iklim investasi yang dimaksudkan mencakup regulasi, stabilitas ekonomi makro, kepastian hukum, sistem perijinan, korupsi, ketersediaan SDM terampil, dan ketersediaan infrastruktur (listrik, jalan, pelabuhan, telekomunikasi, dsb). Pelaksanaan sistem regulasi di Kabupaten TTU sangat lemah dan ini nyaris mencakup semua aspek. Regulasi yang lemah menyebabkan ketidakpastian hukum dan dalam ketidakpastian hukum pungutan liar dan berbagai tindak korupsi semakin merajalela. Hal ini terlihat pada kasus korupsi di tahun 2006 yang menyumbangkan angka kriminalitas sebesar 0,83% meningkat menjadi 1,69% di tahun 2009.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten TTU untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam pengembangan dunia usaha dan investasi guna menggerakan sektor riil. Langkah konkrit yang telah dilakukan antara lain :

a. Memberikan kemanan dan kepastian hukum bagi investor

Indikator yang dapat dilihat adalah semakin menurunnya angka kriminalitas terutama sejak 2009.

b. Mewujudkan stabilitas politik

Salah satu indikator dalam menilai stabilitas politik di Kabupaten TTU adalah jumlah demonstrasi. Demonstrasi merupakan indikator karena demonstrasi menunjukkan adanya kesenjangan atau penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebagai barometer stabilitas politik.

c. Penataan Birokrasi

Yang menjadi indikator kunci terkait dengan penataan birokrasi dalam pengembangan investasi adalah pelayanan perijinan yang cepat, tepat dan murah.

2.4.3.1 Angka Kriminalitas

Semakin tinggi angka kriminalitas menggambarkan bahwa semakin rendah Keamanan dan kepastian hukum di suatu wilayah. Keamanan yang terjamin akan mengurangi potensi gangguan kriminalitas oleh oknum masyarakat terhadap aset-aset berharga perusahaan maupun terhadap aktifitas investasi. Diakui bahwa perkembangan angka kejahatan sejak tahun 2006 mengalami peningkatan hingga tahun 2008, dimana pada tahun 2006 hanya terdapat 120 kasus pelanggaran, meningkat menjadi 248 kasus di tahun 2007 dan puncaknya pada tahun 2008 yang mencapai 928 kasus. Namun melalui upaya koordinasi dengan semua pihak, termasuk di dalamnya aparat keamanan, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, Pemerintah Kabupaten TTU berusaha menurunkan angka kejahatan tersebut yang secara drastis berkurang di tahun 2009 menjadi 178 kasus. Upaya ini semakin ditingkatkan guna memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat, termasuknya di dalamnya investor yang menanamkan modalnya di Kabupaten TTU.

Secara rinci, perkembangan tingkat kriminalitas di Kabupaten Timor Tengah Utara terbaca pada tabel berikut :

Tabel 2.34. Perkembangan Jumlah Kasus Kejahatan/Pelanggaran Di Kabupaten TTU Tahun 2006 – 2010

No. Jenis kejahatan / pelanggaran 2006 2007 2008 2009

1. Terhadap ketertiban umum 18 37 110 14

2. Pembakaran 12 - 17 2 3. Memalsu materai/surat - - 12 5 4. Kesusilaan 13 10 33 3 5. Perjudian 11 31 37 2 6. Penculikan 6 9 32 8 7. Pembunuhan 5 7 64 19 8. Penganiayaan 17 44 157 42 9. Pencurian 19 67 176 33

No. Jenis kejahatan / pelanggaran 2006 2007 2008 2009 10. Perampokan - - 11 4 11. Memeras/mengancam 1 - 12 4 12. Penggelapan - 4 16 5 13. Penipuan 10 7 24 4 14. Merusak barang - 1 22 3 15. Penadahan 2 4 24 1 16. Korupsi 1 1 10 3 17. Lainnya 15 26 171 26 Jumlah 120 248 928 178

Sumber Data ; TTU Dalam Angka Tahun 2007 – 2010

Memperhatikan tabel di atas, terlihat bahwa antara tahun 2008 – 2009 terjadi penurunan jumlah pelanggaran yang cukup signifikan pada jenis pelanggaran penadahan (berkurang 95,83%), perjudian (berkurang 94,59%) dan kesusilaan (berkurang 90,90%). Hal ini tidak berarti bahwa upaya penurunan angka kriminalitas hanya menitikberatkan pada hal-hal tersebut. Sesungguhnya penurunan lebih dominan pada 3 (tiga) jenis pelanggaran tersebut karena selain keterbatasan-keterbatasan yang ada, jumlah kejadiannya pun lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus lain (terutama penganiayaan, pencurian dan pelanggaran terhadap ketertiban umum).

Kepastian hukum akan memberikan payung kebijakan perlindungan yang tepat bagi investor. Perlindungan ini sangat terkait dengan pengaturan yang adil kepada investor terutama pada mekanisme penyelesaian konflik di bidang investasi. Pemerintah Kabupaten TTU senantiasa berupaya memberikan kepastian hukum agar tercipta jaminan bagi keadilan bagi semua pihak. Kondisi ini terlihat pada semakin meningkatnya jumlah perkara yang diputuskan di Pengadilan Negeri Kefamenanu. Pada tahun 2006, jumlah perkara yang diputuskan hanya sebesar 79,29% dari keseluruhan perkara, angka ini meningkat menjadi 90,22% di tahun 2009.

2.4.3.2 Jumlah Demonstrasi

Demonstrasi, terlebih yang berdampak anarkis dan melibatkan berbagai elemen masyarakat akan sangat mempengaruhi stabilitas politik. Terjaganya stabilitas politik tentunya sangat diharapkan masyarakat. Berkaitan dengan stabilitas politik, ditemukan kenyataan bahwa kondisi politik yang tidak stabil akan menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, dimana instabilitas politik berdampak pada penurunan supply tenaga kerja ataupun modal. Investasi pun akan menjadi tidak menyenangkan akibat meningkatnya risiko kerugian modal dan berkurangnya tenaga kerja. Kesenjangan dan distorsi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sering menjadi pemicu terjadinya demonstrasi kepada lembaga kepemerintahan dengan maksud meminta pertanggungjawaban dan keterbukaan pemerintah selaku administrator pemerintahan dan pembangunan. Berbagai kepentingan ataupun cara penyelesaian masalah yang ditempuh melalui aksi turun ke jalan dengan jumlah massa besar, yang tidak didasari oleh suatu pemahaman yang baik terhadap nilai- nilai demokrasi serta terlalu besarnya euforia politik, menyebabkan lumpuhnya pelayanan publik dan terganggunya kondusivitas daerah.

Jumlah demonstrasi di Kabupaten TTU tahun 2009 sebanyak 10 kali dengan pendemo sebanyak 462 orang dan terjadi peningkatan pada tahun 2010 sebanyak 22 kali dengan jumlah peserta sebanyak 1.990 orang. Peningkatan jumlah demonstrasi di tahun 2010 terjadi karena bertepatan dengan adanya hajatan politik Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati TTU periode tahun 2010 – 2015, namun tidak pernah terjadi hal-hal yang mengarah pada anarkis. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi sudah sangat dipahami oleh umumnya masyarakat TTU, sehingga demonstrasi yang terjadi hanya merupakan wadah atau sarana menyalurkan aspirasi tanpa mengganggu pelayanan publik maupun kondusivitas daerah.

2.4.3.3 Lama Proses Perijinan

Pemerintah Kabupaten TTU menyadari akan pentingnya kegiatan pelayanan perijinan sebagai isu sentral untuk meningkatkan investasi daerah. Salah satu upaya meningkatkan kualitas layanan perijinan adalah dengan melakukan penataan birokrasi di bidang perijinan. Pemerintah Kabupaten TTU

telah berkomitmen untuk menata kembali dan menyederhanakan proses perijinan dengan limit waktu yang jelas dan pasti. Hal ini untuk memberikan layanan yang berkualitas. Langkah konkrit yang telah dilakukan adalah dengan membuka Kantor Pelayanan Perijinan Satu Pintu (KP2TSP) yang fokus utamanya adalah memberikan layanan perijinan yang cepat, tepat dan murah sehingga pihak investor akan mendapatkan kenyamanan dalam pengurusan perijinan di bidang investasi.

Lembaga ini diharapkan memiliki keunggulan kompetitif dan mampu memberikan kemudahan dibidang pelayanan perijinan. Sampai dengan saat ini, Bupati Timor Tengah Utara telah menyerahkan sebagian kewenanangannya berupa penerbitan 17 jenis perijinan kepada KP2TSP guna memudahkan koordinasi dengan stakeholder yang pada akhirnya akan mempersingkat proses birokrasi pengurusan perijinan. KP2TSP telah menetapkan Standar Operasional Prosedur pelayanan atas 17 jenis perijinan dimaksud, sehingga akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat atau investor.

Mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, lamanya proses perijinan di Kabupaten Timor Tengah Utara berkisar 3 - 12 hari kerja sejak pemohon memenuhi segala kelengkapan persyaratannya, tergantung pada jenis perijinannya. Kepastian lamanya waktu proses perijinan ini merupakan perwujudan pelayanan yang transparan, akuntabel, efektif dan efisien, serta memberikan kepastian kepada investor dalam berinvestasi di Kabupaten TTU.

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 96-100)

Dokumen terkait