• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Wajib a Pendidikan

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 37-62)

2.3 Aspek Pelayanan Umum

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib a Pendidikan

Pembangunan pendidikan di Kabupaten TTU selama 5 (lima) tahun terakhir yakni periode 2005 – 2010 mengalami perkembangan yang cukup baik meski masih terdapat banyak kekurangan/kelemahan yang harus dibenahi. Ada 3 (tiga) indikator utama yang umum digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan pendidikan yakni 1) tingkat kelulusan siswa, 2) Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK), dan 3) angka buta huruf.

Tingkat kelulusan siswa menunjukkan indikator kualitas dan kemapanan layanan pendidikan suatu daerah. Dalam 5 (lima) tahun terakhir angka kelulusan siswa pada jenjang SD berjalan fluktuatif namun secara umum mengalami peningkatan. Rata-rata persentase kelulusan siswa SD sebesar 94,97%. Pada kondisi tahun ajaran 2009/2010, kelulusan siswa SD mencapai 95,23% dan tahun pelajaran sebelumnya sebesar 94,67%. Trend kenaikan yang sama dialami pula pada level SMP dan SMA, rata-rata persentase kelulusan selama 5 (lima) tahun terakhir cukup baik, masing-masing sebesar 64,22% dan 90,34%. Mengacu pada paparan angka tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas kelulusan siswa semakin membaik namun masih dibutuhkan pembenahan lebih lanjut karena persentase kelulusan terutama untuk level SMP dan SMA belum memuaskan.

Indikator lainnya adalah APK dan APM sebagaimana telah diuraikan pada sub bab 2.2. di atas menunjukkan bahwa untuk semua jenjang pendidikan masih rendah terlebih untuk jenjang SMP dan SMA namun secara umum sudah mengalami suatu kemajuan. Hal ini menunjukkan bahwa daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah (SD) semakin membaik yang dipicu oleh menguatnya peran keluarga untuk menyekolahkan anak usia sekolah semakin tinggi dan didukung dengan intervensi kebijakan pemerintah untuk mengentaskan kebodohan melalui program Wajib Belajar Sembilan tahun dan kebijakan lainnya yang memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Sementara untuk level SMP dan SMA belum menampilkan suatu kemajuan yang berarti. Daya tampung sekolah untuk kedua level sekolah tersebut masih rendah meski berbagai kebijakan yang meringankan beban biaya sekolah telah dibuat oleh pemerintah. Persoalan ini sekaligus menjelaskan bahwa ketersediaan sekolah SMP dan SMA masih terbatas sehingga banyak anak usia

sekolah yang tidak bersekolah. Khusus untuk PAUD, angka partisipasinya masih rendah karena keterbatasan sarana pendidikan untuk anak usia dini. Sementara data mengenai angka buta huruf yakni penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis huruf latin menunjukkan prosentase yang semakin berkurang.

Terkait dengan analisa ketiga indikator utama tersebut, tentu banyak hal yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas pendidikan di Kabupaten TTU. Ada beberapa indikator turunan yang dapat dideskripsikan untuk membantu menganalisis kondisi pembangunan pendidikan sekaligus mengukur kinerja pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan sebagai urusan wajib. Indikator-indikator tersebut adalah rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah, rasio guru dan murid, ketersediaan fasilitas sekolah, angka putus sekolah, angka melanjutkan sekolah dan persentase guru yang memenuhi kualifikasi S1/D- IV.

Rasio ketersediaan sekolah terhadap jumlah murid juga berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selama 5 (lima) tahun terakhir, rata- rata rasio ketersediaan sekolah terhadap jumlah murid pada jenjang SD sebesar 74,09, SMP sebesar 44,81 dan jenjang SMA mencapai 9,86. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari 10.000 penduduk usia sekolah (7 – 12 tahun) terdapat 74 sekolah SD sehingga daya tampung sekolah dasar rata-rata sebanyak 135 anak usia sekolah. Demikian pula pembacaan yang sama untuk jenjang SMP dan SMA sesuai rasio masing-masing. Kemampuan menampung penduduk usia sekolah SMP sebanyak 223 anak usia sekolah dan daya tampung sekolah SMA berjumlah 1014 peserta didik. Selain menunjukka masih minimnya ketersediaan sekolah, hal ini sekaligus menjelaskan bahwa tingkat persebaran sekolah yang kurang merata menyebabkan daya jangkau atau akses penduduk usia sekolah terhadap layanan pendidikan kurang memadai baik secara geografis maupun secara ekonomis. Untuk menjawab permasalahan ini, sebenarnya pertumbuhan jumlah sekolah pada semua jenjang sudah menunjukkan peningkatan namun seiring dengan itu laju pertumbuhan penduduk usia sekolah pun terus bertambah. Artinya bahwa rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan.

Sehubungan dengan itu, perlu dipaparkan pula mengenai rasio guru dan murid untuk semua jenjang. Rumusnya adalah menghitung jumlah guru dibagi

jumlah murid lalu dikalikan 10.000. Rata-rata rasio guru dan murid SD selama 5 (lima) tahun terakhir mencapai 619,33, untuk jenjang SMP sebesar 738,75 dan SMA sebesar 646,75. Angka ini menunjukkan bahwa dalam setiap 10.000 murid terdapat 647 orang guru SD, dan pembacaan yang sama pula berlaku untuk rasio di tingkat SMP dan SMA.

Mutu pendidikan juga sangat bergantung pada kelayakan tempat belajar yang kondusif. Sebab, tempat belajar yang nyaman turut membangun situasi belajar yang baik bagi peserta didik untuk meraih prestasi yang lebih baik. Untuk itu, perlu dipaparkan pula tentang rasio antara bangunan sekolah dengan kondisi rusak terhadap total bangunan sekolah yang ada pada semua jenjang. Pada tahun 2010, sebanyak 737 ruang kelas SD dalam kondisi rusak atau 45,38% dari total 1851 ruang kelas yang ada. Untuk tingkat SMP, sebanyak 761 ruang kelas dalam kondisi rusak (48,62%) dari 1565 ruang yang ada. Sementara pada jenjang SMA, dari 208 ruang kelas, 27 diantaranya rusak (12,98%). Dengan data ini, dapat disimpulkan bahwa masih banyak siswa SD hingga SMA yang belajar dalam ruang kelas yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini sudah tentu berpengaruh terhadap perkembangan kualitas belajar yang kemudian berdampak pada kualitas output.

Jumlah guru yang berkualitas (setidaknya diindikasikan oleh guru yang berkualifikasi S-1 atau D-IV) sangat menentukan kualitas pendidikan. Pada kondisi 2010, jumla guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan tersebut, untuk jenjang SD sebanyak 60 orang (3,4%) dari 1761 guru, SMP sebanyak 361 (64,46%) dari total guru sebanyak 560 orang, untuk jenjang SMA sebanyak 165 (90,16%) dari 183 orang guru dan untuk SMK sebanyak 62 orang atau 88,57% dari 70 orang guru yang ada. Data ini menunjukkan betapa minimnya ketersediaan guru yang berpendidikan D-IV atau S1. Artinya bahwa upaya pengembangan kualitas pendidikan di Kabupaten TTU masih jauh dari harapan bila kualifikasi tenaga pendidiknya belum memenuhi standard terendah kualifikasi pendidikan.

b. Kesehatan

Pembangunan bidang kesehatan merupakan salah satu aspek utama dalam pembangunan manusia. Untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat di daerah, setidaknya ada 3 (tiga) indikator pokok yang digunakan yakni angka kematian (Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Balita dan Angka Kematian Bayi),

status gizi masyarakat dan usia harapan hidup. Capaian ketiga Indikator tersebut telah diuraikan pada bagian tentang aspek kesejahteraan masyarakat. Baik buruknya potret pembangunan kesehatan di daerah yang ditunjukan oleh ketiga indikator tersebut, sangat bergantung pada beberapa hal yakni ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai untuk memberikan layanan kepada masyarakat secara optimal. Selain itu, cakupan penemuan dan penanganan penyakit serta pelayanan kesehatan juga menjadi faktor penentu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kondisi ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan sangat berpengaruh terhadap akses masyarakat pada layanan kesehatan sebagai public goods yang harus diberikan oleh pemerintah. Dalam 5 (lima) tahun terakhir, perkembangan jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Jenis sarana kesehatan seperti puskesmas (rawat inap dan non inap) dan puskesmas pembantu tidak mengalami perubahan, jumlahnya masih tetap 15 unit sedangkan puskesmas pembantu berjumlah 52 unit. Sementara Polindes dan posyandu masing-masing mengalami sedikit pertumbuhan sebesar 1,7%. Minimnya pertumbuhan fasilitas ini sudah tentu tidak mampu melayani kebutuhan seluruh masyarakat TTU yang jumlahnya banyak dengan pertumbuhan yang cukup tinggi pula sehingga rasio antara jumlah fasilitas kesehatan dan jumlah penduduk semakin tinggi. Terkait dengan itu, cakupan puskesmas terhadap total kecamatan yang ada mencapai 62% dan cakupan puskesmas pembantu terhadap jumlah desa/kelurahan sebesar 37,14%. Sementara fasilitas kesehatan berupa Rumah Sakit di Kabupaten TTU hanya berjumlah 1 (satu) unit, rumah sakit bersalin sebanyak 3 (tiga) unit dan balai pengobatan sebanyak 13 unit. Kondisi daya tampung beberapa sarana tersebut juga kurang memadai. Di samping itu, ketersediaan tenaga kesehatan juga masih tergolong rendah sehingga rasio tenaga kesehatan terhadap total penduduk TTU. Dalam beberapa tahun terakhir, rata-rata rasio dokter terhadap penduduk mencapai 10/100.000 penduduk, dokter gigi sebesar 5/100.000 penduduk, rasio perawat 120/100.000 penduduk, rasio bidan sebesar 86/100.000 penduduk dan rasio tenaga kesehatan masyarakat sebesar 12/100.000 penduduk.

Selain faktor ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan, aspek lain seperti cakupan penemuan dan penanganan penyakit serta pelayanan kesehatan juga sangat penting untuk dikaji. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2009 mencapai 74,79%, atau sebanyak 4826 ibu bersalin sedangkan sisanya ditangani oleh tenaga dukun beranak terlatih dan tak terlatih. Indikator lainnya berupa cakupan desa UCI mencapai 42%, cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan sebesar 45,6%, dan cakupan kunjungan bayi mencapai 67,2%.

c. Lingkungan hidup

Lingkungan hidup merupakan salah satu isu strategis yang mengglobal akhir-akhir ini. Perhatian dunia semakin intens pada persoalan lingkungan sebab lingkungan menjadi determinant pembangunan dunia yang berdampak sangat serius bagi keberlangsungan habitat makluk hidup. Dalam Milenium Development

Goals (MDGs), upaya pelestarian lingkungan hidup mendapat tempat sebagai salah

satu prioritas pembangunan dunia. Karena itu, dukungan dari pemerintah kabupaten dan level pemerintahan lainnya untuk pelestarian lingkungan hidup sangat dibutuhkan.

Tingkat kerusakan lingkungan terutama hutan di Kabupaten TTU masih menjadi persoalan klasik yang diwariskan dari tahun ke tahun. Penyebab utamanya adalah cara bertani sebagian petani yang masih menggunakan sistem tebas bakar secara berpindah-pindah. Banyak hutan yang ditebas untuk dijadikan sebagai ladang. Hal ini tentu saja tidak menjadi kesalahan masyarakat tetapi sekaligus menampilkan sebuah indikasi kurang berhasilnya pemerintah daerah. Kendati demikian, harus diakui bahwa pemerintah daerah telah berusaha keras untuk menurunkan tingkat kerusakan lingkungan melalui intervensi berbagai kebijakan. Beberapa diantaranya adalah dengan melakukan rehabilitasi lahan kritis dalam kawasan hutan, di luar kawasan hutan dan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir pantai utara.

Rata-rata luas areal rehabilitasi lahan kritis dalam kawasan hutan mencapai 18.370 ha, rehabilitasi lahan kritis di luar kawasan hutan rata-rata 32.133 ha sedangkan rata-rata rehabilitasi hutan mangrove selama 5 (lima) tahun terakhir mencapai 296 ha. Akan tetapi besarnya proyek rehabilitasi hutan tersebut belum mampu menjawab tuntutan perbaikan atau pemulihan kerusakan lingkungan yang sudah mengkhawatirkan. Meski demikian, apresiasi sudah tentu diberikan kepada pemerintah daerah atas daya upayanya, namun kekurangan-

kekurangannya perlu diperbaiki melalui terobosan baru yang diharapkan mampu memberikan perubahan bagi pelestarian lingkungan hidup. Tidak hanya soal hutan, masih banyak indikator lain yang umum digunakan untuk mengukur kinerja pemerintah dalam mengelola lingkungan hidup. Indikator tersebut adalah jumlah Tempat Penampungan Sampah (TPS), daya tampung TPS, penanganan pencemaran status mutu air, udara dan tanah. Jumlah TPS pada tahun 2009 sebanyak 16 buah lalu meningkat menjadi 40 buah pada tahun berikutnya, sementara daya tampungnya berkapasitas 53,92 m2 selanjutnya meningkat menjadi 134,00 m2. Sedangkan indikator penduduk berakses air minum, akan dijelaskan pada urusan perumahan dengan maksud untuk mempermudah pembacaan terhadap alur kinerja urusan perumahan. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata jumlah usaha dan atau kegiatan yang mentaati persyaratan administratif dan teknis pencegahan pencemaran air sebesar 97%, udara sebesar 100% dan tanah sebesar 0,009%. Terkait dengan hal ini, persentase penanganan sampah yang dibuang ke TPS mencapai 26% dan penanganan sampah menjadi kompos sebesar 11%, dan sisanya dibuang ke sungai, dibakar dan ditimbun. Sementara cakupan penilaian teknis dokumen Analisa Masalah Dampak Lingkungan (AMDAL) sebesar 73,85%.

d. Pekerjaan Umum

Pembangunan infrastruktur yang memadai menjadi suatu keharusan mutlak dalam meningkatkan pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan bidang-bidang lainnya. Dengan infrastruktur yang memadai, akses pengembangan ekonomi rakyat, penumbuhan investasi dan akses masyarakat terhadap pelayanan berbagai bidang menjadi lebih baik. Dalam 5 (lima) tahun terakhir, pembangunan dan peningkatan kualitas sarana prasarana daerah mengalami perkembangan yang cukup baik namun masih banyak kebutuhan akan sarana jalan, jembatan, saluran irigasi dan utilitas lingkungan yang belum terpenuhi.

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan infrastruktur yakni panjang dan kondisi jalan, panjang jaringan irigasi yang dibangun, jumlah tempat ibadah, jumlah TPS dan pemukiman layak huni. Jalan kabupaten pada keadaan 2006 sepanjang 906,69 Km kemudian meningkat menjadi 925 Km pada pertengahan 2010 (sudah mencakup jalan lingkungan/desa, kabupaten, provinsi dan jalan nasional). Sementara total

panjang jalan yang dibangun sejak 2006 hingga 2010 mencapai 178,827 km dengan jenis pekerjaan yang berbeda yakni pengaspalan, pengerasan (agregat) dan pembukaan jalan baru (tanah).

Sementara untuk jaringan irigasi primer yang dibangun pada tahun 2006 – 2010 masing-masing sepanjang 779 m, 488 m, 1.388 m, 1.900 m dan 242 pada tahun 2010. Selain itu, dibangun pula 4 (empat) buah bendungan baru, rehabilitasi 6 (enam) buah bendungan serta bangunan pendukung irigasi lainnya pun ikut dibangun dalam lima tahun terakhir.

e. Penataan Ruang

Penataan ruang merupakan salah satu rujukan bagi penyusunan rencana pembangunan daerah baik untuk jangka pendek, menengah maupun untuk jangka panjang. Rencana tata ruang yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan daerah karena dalam rencana dimaksud telah ditetapkan peruntukannya sesuai karakteristik, potensi dan kecocokan bagian-bagian ruang yang ada. Dalam penyusunan RPJPD Kabupaten TTU tahun 2011 – 2031 ini juga mengacu pada rencana tata ruang wilayah daerah yang ditertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten TTU tahun 2008 – 2028.

Produk hukum daerah tersebut menjadi salah satu indikator kinerja pemerintah daerah dalam bidang tata ruang pada periode sebelumnya meski masih tersisa beberapa tunggakan diantaranya adalah perencanaan tata ruang kota Kefamenanu yang hingga kini belum ditetapkan dalam bentuk peraturan daerah. Dengan produk hukum daerah ini, diupayakan peruntukan lahan sesuai ketentuan rencana tata ruang yang ada.

f. Perencanaan Pembangunan

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa perencanaan pembangunan daerah kabupaten/kota selain selaras dan sinergis dengan kebijakan pembangunan provinsi dan pusat juga harus memperhatikan rencana tata ruang daerah. Dalam manajemen pembangunan yang baik harus didahului dengan suatu perencanaan yang matang, terukur, terarah, rasional dan sistematis. Tanpa

perencanaan yang baik, hampir dapat dipastikan pembanguan tidak akan membuahkan hasil yang optimal karena ketidakpastian arah. Bila dikategorikan menurut jangka waktu berlaku, maka perencanaan pembangunan daerah dapat dikategorikan dalam 3 (tiga) kelompok yakni perencanaan pembangunan jangka pendek, menengah dan panjang. Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun sebelumnya, pemerintah daerah telah menghasilkan dokumen-dokumen perencanaan pembangunan baik untuk skala tahunan maupun 5 (lima) tahunan. Sedangkan dokumen RPJPD akan disusun, dibahas dan ditetapkan pada tahun 2011 ini.

Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan di bidang ini adalah ketersediaan dokumen-dokumen perencanaan berupa RPJPD, RPJMD dan RKPD yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah dan atau peraturan kepala daerah serta penjabaran program RPJMD kedalam RKPD.

f. Perumahan

Urusan perumahan sangat berhubungan erat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kondisi perumahan menjadi salah satu instrumen yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan seseorang. Dengan argumentasi ini, urusan perumahan wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk memperhatikan kebutuhan rakyat akan rumah layak huni. Tinggi rendahnya kinerja pemerintah daerah dalam memberikan layanan di bidang perumahan dapat diketahui melalui beberapa indikator yakni rumah tangga pengguna air bersih, rumah tangga pengguna listrik, rumah tangga bersanitasi, lingkungan pemukiman kumuh dan rumah layak huni. Jumlah rumah tangga yang menggunakan leding dan sumur terlindung (kondisi 2009) mencapai 49,68% sementara sisanya masih menggunakan air dari sumur tak terlindung, mata air terlindung dan tak terlindung, sungai dan air hujan. Jika ditilik dari sumber penerangan yang digunakan, pada tahun 2009 sebagian besar rumah tangga masih menggunakan minyak tanah atau pelita (57,48%) sedangkan sisanya telah menggunakan listrik PLN (33,83%) dan listrik non PLN sebesar 7,56%.

Banyak ukuran yang digunakan untuk menentukan rumah layak huni, misalnya jenis lantai, atap dan dinding, namun ada pula yang menggunakan pemilahan jenis rumah berdasarkan kualitas bangunan. Pada kondisi 2009, jumlah

rumah berlantai tanah lebih dominan (54,27%), rumah beratap ijuk/daun-daunan lainnya sebesar 30,20% dan yang berdinding bambu dan bebak mencapai 72,43%. Sementara jika diukur berdasarkan kualitas, sebagian besar rumah di Kabupaten TTU tergolong rumah tidak permanen yakni mencapai 52,47%.

g. Kepemudaan dan Olah Raga

Tujuan utama pengembangan urusan kepemudaan dan olah raga bukan semata-mata untuk meraih prestasi melainkan memberdayakan pemuda agar berperan aktif dalam pembangunan melalui berbagai jenis karya nyata serta membangun semangat dan jiwa sportivitas dalam pergaulan sosial. Karenanya, penting untuk memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat, selain untuk tujuan kesehatan juga untuk tujuan sosial. Olah raga juga mengindikasikan tingkat kemandirian suatu daerah. Logikanya sederhana, semakin banyak event olah raga dan sarana olah raga yang tersedia di suatu daerah menunjukkan bahwa kebutuhan akan olah raga sebagai bentuk hiburan/ rekreasi semakin tinggi. Ketika kebutuhan akan hiburan mulai meningkat, hal ini sekaligus menjelaskan bahwa problema kebutuhan pokok semakin berkurang.

Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun bidang ditandai dengan beberapa point

yakni jumlah organisasi pemuda, jumlah organisasi olah raga, jumlah kegiatan kepemudaan, jumlah kegiatan olah raga dan jumlah lapangan olah raga. Jumlah organisasi pemuda yang ada sebanyak 12 organisasi. Sementara kegiatan kepemudaan yang dilaksanakan pada tahun 2006 hingga 2008 masing-masing sebanyak 23 kegiatan, sedangkan kondisi 2009 sebanyak 53 kegiatan lalu meningkat lagi menjadi 54 kegiatan.

h. Penanaman Modal

Penguatan investasi daerah secara optimal akan berdampak secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang dicirikan oleh pertumbuhan pendapatan per kapita dan pertumbuhan PDRB. Semakin banyak investor dan nilai investasi yang ditanamkan dalam daerah semakin tinggi pula sirkulasi uang dalam daerah yang akan mendongkrak pendapatan masyarakat

dengan mampu menyerap potensi sumber daya yang ada. Dalam kurun waktu lima tahun lalu, pemerintah daerah telah berupaya meningkatkan investasi dalam daerah melalui program pengembangan iklim investasi daerah yang mencakup beberapa kegiatan penting untuk mempromosikan dan mendatangkan investor. Kinerja pelayanan urusan ini ditunjukkan dengan beberapa indikator yakni jumlah investor, nilai investasi dan rasio daya serap tenaga kerja lokal.

Sampai dengan keadaan 2009, jumlah investor berskala nasional baik PMDN maupun PMA sebanyak 14 investor dengan nilai investasi mencapai Rp.205.530.650.000,-. Angka ini belum termasuk 48 investor untuk pertambangan mangan yang hingga kini belum terdaftar pada BKPMD Kabupaten TTU. Khusus untuk investor yang bergerak di bidang pertambangan (mangan) telah mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah yang cukup banyak karena lapangan usaha ini tersebar hampir di seluruh Kabupaten TTU.

i. Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah

Pemberdayaan ekonomi rakyat baik di pedesaan maupun yang di daerah perkotaan, peran lembaga keuangan mikro seperti koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sangat dibutuhkan. Kedua jenis lembaga ini selain berfungsi sebagai pemodal (menyediakan modal pinjaman) bagi usaha rakyat juga diharapkan sebagai distributor hasil-hasil usaha masyarakat baik di bidang pertanian, industri dan lain sebagainya. Dengan demikian, geliat perekonomian rakyat akan meningkat karena ada lembaga yang menyalurkan dan atau menjual hasil usaha masyarakat kepada pasar.

Dalam kurun waktu tahun 2005 – 2010, pengembangan koperasi dan UKM tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Masih terdapat koperasi yang tidak sehat, bisa disebut sebagai koperasi papan nama , artinya bahwa nama koperasi yang bersangkutan terdaftar tetapi tidak berfungsi atau tidak aktif lagi. Sejak tahun 2006 hingga 2010, berturut-turut jumlah koperasi sebanyak 55 unit, kemudian meningkat menjadi 60 unit dan meningkat lagi menjadi 63 unit pada tahun 2008. Angka ini masih bertahan di tahun 2009 lalu meningkat lagi menjadi 72 unit. Diantara koperasi yang ada, hanya sebagian kecil yang dikategorikan sebagai koperasi berkualitas. Pada kondisi tahun 2006, hanya 13 unit koperasi yang berkualitas, 2007 hingga 2010, sebanyak 23 unit, meningkat menjadi 31 unit,

lalu 41 unit dan terakhir menjadi 50 unit. Ketidakaktifan dan kurang berkualitasnya sejumlah koperasi antara lain diakibatkan oleh mismanagement, keterbatasan modal dan rendahnya kapasitas SDM pengelola.

Selain koperasi dan UKM, perlu dideskripsikan pula mengenai jumlah UKM non BPR dan jumlah usaha mikro dan kecil. Data tentang jumlah pengusaha dikelompokkan atas 3 (tiga) kelompok yakni pengusaha kecil, menengah dan besar. Diantara ketiganya, yang paling banyak adalah jenis usaha mikro dan kecil sebanyak 883 pada tahun 2006, sedangkan data 2007 hingga 2010 berturut-turut berjumlah 887 unit, 892 unit, 897 dan kemudian meningkat lagi menjadi 926. Sementara jumlah pengusaha menengah sebanyak 280 sedangkan pengusaha besar berjumlah 34.

j. Kependudukan dan Catatan Sipil

Pelayanan administrasi kependudukan dan catatan sipil menjadi salah satu barang publik yang wajib diberikan oleh pemerintah untuk menjamin keteraturan sosial. Hal ini menjadi penting, tidak hanya bagi pemerintah sebagai salah satu alat ukur dalam pemberian layanan tetapi juga bagi rakyat sendiri sebagai penunjuk identitas politik.Pemberian layanan administrasi kependudukan dan catatan sipil di Kabupaten TTU pada periode lalu secara perlahan telah menunjukkan suatu perubahan yang lebih baik. Akan tetapi kualitas layanan tersebut perlu ditingkatkan lagi karena masih banyak hal yang dipandang belum diurus secara optimal. Berhasil tidaknya pemerintah dalam menjalankan urusan ini dapat diindikasikan oleh beberapa hal seperti rasio penduduk ber-KTP, rasio bayi berakte kelahiran, rasio pasangan berakte nikah, ketersediaan database

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 37-62)

Dokumen terkait