• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Bab ini memaparkan hasil analisis kondisi umum daerah sebagai bagian

yang penting untuk merumuskan isu strategis dan permasalahan pembangunan

daerah. Sajian data dan informasi ini menjadi kerangka pemikiran strategis untuk

menyusun perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Timor Tengah Utara

(TTU) periode 2011 – 2015 berdasarkan potensi daerah dan permasalahan pokok yang dihadapi. Dalam bagian ini, dipaparkan hasil analisis terhadap empat aspek

utama penyelenggaraan pemerintahan daerah, yakni : (1) geografi dan demografi;

(2) kesejahteraan masyarakat; (3) pelayanan umum; dan (4) daya saing daerah.

2.1 Aspek Geografis dan Demografis

2.1.1 Lokasi dan Wilayah

2.1.1.1 Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Kabupaten TTU adalah salah satu Kabupaten dari 5 (lima)

kabupaten/kota yang ada di daratan Timor dan 21 kabupaten/kota di Provinsi

Nusa Tanggara Timur (NTT) dengan batas-batas wilayah administratif sebagai

berikut:

Sebelah Selatan : berbatasan dengan wilayah Kabupaten Timor Tengah

Selatan

Sebelah Utara : berbatasan dengan wilayah Ambenu-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dan Laut Sawu

Sebelah Barat : berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan

Sebelah Timur : berbatasan dengan wilayah Kabupaten Belu.

(2)

Sedangkan sebagian wilayah TTU yang berbatasan dengan Laut Sawu atau lazim

dikenal dengan sebutan wilayah pantai utara (pantura) yang memiliki luas lautan

± 950 km2 dengan panjang garis pantai ± 50 km.

Secara administrasi pemerintahan, Kabupaten TTU terdiri dari 24

Kecamatan dan 174 kelurahan/desa (31 kelurahan dan 143 desa).

Kecamatan-kecamatan di Kabupaten TTU yaitu : Miomaffo Barat, Miomaffo Tengah, Musi,

Mutis, Miomaffo Timur, Noemuti, Bikomi Selatan, Bikomi Tengah, Bikomi Nilulat,

Bikomi Utara, Naibenu, Noemuti Timur, Kota Kefamenanu, Insana, Insana Utara,

Insana Barat, Insana Tengah, Insana Fafinesu, Biboki Selatan, Biboki Tanpah,

Biboki Moenleu, Biboki Utara, Biboki Anleu dan Biboki Feotleu.

2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis

Secara astronomis, posisi Kabupaten TTU terletak diantara 90 02' 48"

dan 90 37' 36" Lintang Selatan (LT) serta antara 1240 04' 02" dan 1240 46' 00"

Bujur Timur (BT).

Secara geografis pada umumnya merupakan tipologi desa daratan (163

Desa) dan hanya 11 desa yang termasuk tipologi desa kawasan pantai yaitu: Desa

Oepuah dan Oepuah Utara di Kecamatan Biboki Moenleu; Kelurahan Humusu C,

Humusu Oekolo dan Desa Oesoko di Kecamatan Insana Utara; Desa Nonotbatan,

Maukabatan, Tuamese, Oemanu, Motadik dan Kelurahan Ponu di Kecamatan

Biboki Anleu.

Dilihat dari aspek rona fisik tanah, wilayah dengan kemiringan kurang

dari 40 % meliputi areal seluas 2.065,19 km2 atau 77,4 % dari luas wilayah TTU; sedangkan sisanya 604,51 km2 atau 22,6 % mempunyai kemiringan lebih dari 40%. Wilayah dengan kemiringan kurang dari 40 persen sebagian besar berada

pada ketinggian kurang dari 500 m dari permukaan laut yakni seluas 1676,51 km2 atau 62,8 %. Berdasarkan data Lembaga Penelitian Tanah (LPT) Bogor (1974)

memperlihatkan bahwa di Kabupaten TTU ditemukan 3 (tiga) jenis tanah yaitu :

Litosol seluas 1.666,96 km2 atau 62,44 %, tanah Kompleks seluas 479,48 km2 atau 17,96 % dan tanah Grumusol 523,26 km2 atau 19,60 %.

Hasil survei penyusunan rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten

(3)

arealnya sebagai berikut: tanah dengan kedalaman efektif kurang dari 30 cm

seluas 35.316 ha (13,2%); kedalaman 30-60 cm seluas 73.201 ha (27,4%); 60-90

cm seluas 16.354 ha (6,1%) dan kedalaman efektif diatas 90 cm dengan luas

142.099 ha (53,2 %). Kemampuan dan daya tahan tanah yang rawan erosi seluas

105.226 hektar (39,4%), dan sisanya 161.744 hektar (60,6%) merupakan tanah

dengan struktur yang relatif stabil. Secara parsial tanah labil yang rawan erosi

terdapat pada tiga wilayah kecamatan yakni Miomaffo Barat 37.921 hektar, Biboki

Selatan 28.538 hektar, dan Biboki Utara 28.538 hektar.

Ditinjau dari aspek letak wilayah, Kabupaten TTU termasuk salah satu

kabupaten wilayah perbatasan karena berbatasan langsung dengan negara RDTL

dari 4 (empat) kabupaten di Propinsi NTT, oleh karena itu perlu mendapat

perhatian terutama dalam hal pengembangan infrastruktur dan kemiskinan.

Gambar 2.1 Peta Wilayah Administratif Kabupaten TTU

2.1.1.3 Topografi

(4)

km2 (6,63 %) memiliki ketinggian < 100 m dari atas permukaan laut (dpl); 1.499,45 km2 (56,17 %) memiliki ketinggian 100-500 m dpl dan 993,19 km2

(37,20 %) memiliki ketinggian > 500 m dpl. Secara detail kondisi topografi dibagi

menjadi 5 (lima) kategori, yaitu:

1. Daerah dengan ketinggian 0-25 m dpl : 6.5189,69 Ha

2. Daerah dengan ketinggian 26-100 m dpl : 11.186,000 Ha

3. Daerah dengan ketinggian 101–500 m dpl : 149.944,935 Ha

4. Daerah dengan ketinggian 501-1000 m dpl : 88.908,875 Ha

5. Daerah dengan ketinggian diatas 1000 m dpl : 10.410,500 Ha

Pada topografi dataran terdapat beberapa kawasan yaitu :

Dataran Aroki (Oeroki) di Kecamatan Biboki Utara dan Biboki Selatan seluas 16.300 Ha dan berada pada ketinggian 370 m dpl yang tersusun dari endapan

pasir dan tanah liat dari perbukitan sekitarnya; Sekon di Kecamatan Insana

seluas 2.500 Ha dan berada pada ketinggian 450 – 776 m dpl; Fatuoni dan Oelolok di Kecamatan Insana,Ponu di Kecamatan Biboki Anleu serta Mena di

Kecamatan Moenleu dengan luas ± 3.700 Ha.

Dataran Mamsena, Kecamatan Insana dan Noemuti, Kecamatan Noemuti seluas

± 20.000 Ha.

2.1.1.4 Geologi

Secara umum pulau Timor dan kepulauan Nusa Tenggara lainnya terletak

pada wilayah Ring Api Pasifik Seismik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurosia, tepatnya pada busur Sunda-Banda bagian luar atau

busur geantiklin yang dimulai dari Timur ke Barat sebelah Selatan yang tidak bergunung api atau merupakan rona gempa dangkal. Pulau Timor termasuk

kedalam tipe pegunungan kelopak dimana intensitas tektoniknya cukup aktif

dengan sesar sungkup yang cukup banyak ditemukan di bagian selatan, hal ini

menyebabkan litologi yang menyusun daerah ini cukup rumit dan sering

(5)

Berdasarkan peta geologi Lembar Kupang-Atambua, Timor skala

1:250.000, (Suwitodirjo dan Tjokrosapoetro, 1996), Pusat Penelitian dan

Pengembangan Geologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral,

Departemen Pertambangan dan Energi bahwa pergerakan tektonik di pulau Timor

yang berlangsung sejak Kapur hingga akhir Eosen akibat pergerakan benua

Australia ke utara dengan zona penunjaman condong ke utara. Akibat pergerakan tersebut terjadi benturan busur kepulauan Paleo Timor dengan kerak samudera Hindia. Pada waktu proses perbenturan inilah, sehingga terjadi pembentukan

batuan campur aduk, pengendapan formasi Noni, Haulasi dan formasi Ofu,

penempatan batuan-batuan basa dan ultrabasa serta peralihan pada formasi

Maubisse, Ailieu dan komplek Mutis.

Secara umum stratigrafi geologi di daerah ini diklasifikasikan ke dalam

empat unit yaitu unit batu karang, liat, batu gamping dan aluvial. Di daerah batu

karang umumnya mempunyai bentuk lahan yang relatif datar sampai berombak,

tetapi dominan ditutupi oleh batuan induk dan batuan lepas dalam luasan yang

cukup besar. Unit liat umumnya dicirikan dengan topografi yang sangat curam

dengan erosi parit yang hebat serta potensi longsor yang besar. Unit batu gamping

mempunyai bentuk permukaan yang relatif lebih landai akibat peresapan

(infiltrasi) air yang lebih baik dari liat. Sedangkan unit aluvial umumnya

mempunyai bentuk permukaan yang datar yang terbentuk di pinggiran sungai

atau endapan pada muara sungai.

2.1.1.5 Hidrologi

Secara umum Kabupaten TTU memiliki kondisi hidrologi yang cukup baik

karena ketersediaan air tanah dan air permukaan hampir tersebar di seluruh

wilayah baik sungai, mata air maupun sumur gali. Sungai-sungai yang ada

memiliki rata-rata panjang aliran 30-50 km. Terdapat 8 (delapan) sungai utama

yang mengalir sepanjang tahun yaitu : Noetoko, Noebesi, Taisola, Noemuti-Haekto,

Naen, Maubesi, Mena-Kaubele dan Ponu dan 97 anak sungai dengan membentuk

(6)

Tabel 2.1. Nama dan Panjang Sungai Utama di Kabupaten TTU Menurut Kecamatan

No Kecamatan Nama Sungai Panjang Sungai

(Km)

1. Miomaffo Barat Noetoko 40

Noebesi 50

2 Miomaffo Timur Taisola 40

3 Noemuti Noemuti –Haekto 33

4 Kota Kefamenanu Naen 30

5 Insana Maubesi 40

6 Biboki Selatan Mena-Kaubele 40

7 Biboki Anleu Ponu 40

Sumber : BPS TTU, 2011

Sumber mata air di Kabupaten TTU termasuk tipe air tanah yang

diremajakan yaitu air yang untuk sementara waktu telah dikeluarkan dari daur

hidrologi oleh pelapukan, maupun oleh sebab-sebab lain dan kembali ke daur lagi

dengan proses-proses metamorfis. Jumlah ketersediaan sumber mata air

sebanyak 1.704, dan 635 sumber mata air dapat mengeluarkan air sepanjang

tahun dan tidak dipengeruhi oleh curah hujan (perenial springs) dengan kondisi ketersediaan air cukup baik; sebanyak 826 sumber mata air bersifat musiman karena mengeluarkan air hanya pada musim tertentu dan tergantung pada curah

hujan (intermitent springs), dengan kondisi ketersediaan air sedikit serta 243 sumber mata air yang kering di musim kemarau serta dapat mengeluarkan air

pada periode tertentu saja (periodic springs).

Ketersediaan mata air hampir tersebar di seluruh desa dengan rata-rata

3-5 sumber mata air yang tidak kering pada musim kemarau. Dari kondisi

hidrologi ini sebagian besar (78 %) telah digunakan untuk kebutuhan penyediaan

air bersih bagi masyarakat dengan debit rata-rata 5-300 liter/detik. Potensi

sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan untuk energy alternatif adalah Desa

Kuluan, Kecamatan Biboki Utara (100 liter/detik), Oel Ainiut, Kecamatan Insana

(200 liter/detik); Oel Nianin, Kecamatan Miomaffo Barat (250 liter/detik);

Oeaijao,Kecamatan Miomaffo Barat (300 liter/detik); dan Oel Ainiut Jak,

Kecamatan Miomaffo Timur (100 liter/detik).

Berdasarkan kondisi hidrologi ini menggambarkan pola Daerah Aliran

(7)

Sungai (SWP- DAS) di pulau Timor, maka wilayah Kabupaten TTU termasuk DAS

Benenain (wilayah tengah) dengan luas 150,080 Ha dan memiliki Sub DAS

Maubesi dan Bikomi. Pola aliran DAS tersebut bersifat dendritik dengan kerapatan aliran air bersifat tergenang.

2.1.1.6 Klimatologi

Sesuai dengan klasifikasi iklim oleh Schmidt dan Ferguson Kabupaten

TTU termasuk wilayah iklim tipe D (iklim semi arid) dengan koefisien 2 sebesar

71,43 % atau beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau dan hujan.

Curah hujan rata-rata selama 5 tahun (2005-2009) sebesar 1.286,70 mm/bulan

dengan jumlah hari hujan adalah 133,17 hari/tahun. Suhu udara berkisar antara

22º - 34º C, kelembaban udara 69 – 87 % dan intensitas penyinaran matahari 50 – 98 %. Rata-rata jumlah Hari Hujan (HH) dan Curah Hujan (CH) di Kabupaten TTU

tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Seperti halnya di tempat lain di Provinsi NTT, pada bulan Juni – September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap

air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember – Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan

Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti

setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April – Mei dan Oktober – November. Walaupun demikian mengingat TTU dekat dengan Australia, arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan Samudera Pasifik

sampai di wilayah TTU kandungan uap airnya sudah berkurang yang

mengakibatkan hari hujan di TTU lebih sedikit dibanding wilayah yang dekat

dengan Asia. Hal ini menjadikan TTU sebagai wilayah yang tergolong kering di

mana hanya 4 (empat) bulan yaitu bulan Januari, Febuari, Maret, dan Desember

yang keadaannya relatif basah dan 8 (delapan) bulan sisanya relatif kering.

(8)

Tabel 2.2. Rata-rata jumlah Hari Hujan (HH) dan Curah Hujan (CH) di Kabupaten

Jumlah Hari Hujan Curah Hujan (mm)

(9)

B

u

la

n

Jumlah Hari Hujan Curah Hujan (mm)

2

Sumber : Hasil Olahan dari Data BPS TTU

2.1.1.7 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten TTU untuk kawasan budidaya seluas

12.079 Ha dan kawasan lindung seluas 63.270 Ha. Penggunaan lahan untuk

kawasan budidaya terdiri dari lahan sawah irigasi seluas 3.585 ha dan lahan

sawah tadah hujan seluas 1.415 ha (tersebar di Kecamatan Insana Barat, Insana

Tengah, Insana, Biboki Tanpah, Biboki Utara dan Biboki Selatan). Lahan sawah

(irigasi dan tadah hujan) yang digunakan mencapai 5000 ha (41,39 %) per musim

tanam. Sementara potensi lahan kering seluas 187.650 ha, yang difungsikan untuk

kawasan budidaya seluas 11.259 Ha (60%). Penggunaan lahan untuk kawasan

lindung termasuk di dalamnya kawasan cagar alam Mutis seluas 2 ha.

Tabel 2.3. Potensi Penggunaan Lahan Untuk Usaha Pertanian Dan Hutan di Kabupaten TTU Pada Tahun 2009

No Kecamatan

Luas lahan Pertanian (Ha) Padang

(10)

Penggemba-No Kecamatan

Luas lahan Pertanian (Ha) Padang

(11)

Penggemba-No Kecamatan

Luas lahan Pertanian (Ha) Padang

Penggemba-Sumber : Hasil Olahan dari Data BPS TTU dan SKPD Terkait

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

2.1.2.1 Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Produksi tanaman pangan selama tahun 2009 secara umum mengalami

fluktuasi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari

pengaruh kondisi curah hujan sepanjang tahun 2009. Bagi tanaman bahan

makanan yang waktu penanamannya relatif tepat dan adaptif terhadap fluktuasi

curah hujan memperlihatkan hasil yang cenderung membaik seperti padi ladang,

jagung, ubikayu, kacang tanah dan kacang hijau. Sedangkan produksi tanaman

seperti padi sawah dan ubi jalar mengalami sedikit penurunan karena rata-rata

curah hujan baru normal setelah fase pembuahan tanaman tersebut sudah lewat.

Ketersediaan produksi pangan dari komoditas padi selama tahun 2009 sebanyak

28 409 ton gabah kering giling (konversi ke beras: 18 374 ton) atau mengalami

peningkatan sebesar 21,94% dari keadaan tahun sebelumnya. Secara parsial,

(12)

produksi 212,80 %. Peningkatan produksi padi pada tahun ini diduga lebih banyak

disebabkan oleh faktor alam dan juga peningkatan luas lahan.

Ketersedian produksi jagung yang menjadi makanan pokok sebagian

besar masyarakat TTU selama tahun 2009 sebanyak 55. 948 ton pipilan kering

atau mengalami peningkatan 78,01 % dari tahun sebelumnya. Produksi tanaman

kacang-kacangan masing-masing adalah sebagai berikut: kacang tanah naik

0,14%, kacang hijau naik 200%, sedangkan produksi kacang kedele sama seperti

tahun lalu yakni 3 ton. Ketersedian produksi untuk makanan berpati selama tahun

2009 yakni ubi kayu meningkat 77,93%, dan ubi jalar justru menurun 34,38%.

Produksi komoditas sayur-sayuran selama musim panen tahun 2009

memperlihatkan hasil yang cukup beragam yakni untuk beberapa jenis

sayur-sayuran seperti kacang panjang, cabai, tomat, dan bayam mengalami penurunan,

sementara pada jenis lainnya bawang merah, bawang putih, kentang, kol, pitsai,

kacang merah, labu siam, terung, ketimun, wortel, kangkung buncis, dan kangkung

mengalami sedikit peningkatan produksi bila dibandingkan dengan tahun

sebelumnya. Diduga karena kemampuan adaptif secara alamiah ataupun

ketepatan waktu tanam bagi beberapa komoditis dengan kondisi curah hujan yang

bersifat fluktuatif tersebut.

Wilayah pengembangan padi sawah, tadah hujan dan padi ladang serta

palawija (jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan) dan tanaman buah-buhan

diprioritaskan di seluruh wilayah Kecamatan. Sedangkan tanaman sayur-sayuran

difokuskan di Kecamatan Miomaffo Barat. Penekanan pengembangan komoditas

diutamakan pada komoditas jagung, kacang tanah dan bawang putih sebagai

komoditas potensial.

2.1.2.2 Perkebunan Rakyat

Pada umumnya baik produksi maupun luas panen komoditas

perkebunan di Kabupaten TTU pada tahun 2009 belum memperlihatkan hasil

dengan kapasitas yang cukup memadai. Hal ini dapat disebabkan penanganan

budidaya perkebunan rakyat oleh sebagian besar petani masih diletakkan sebagai

usaha komplementer dari usaha pokok yaitu pertanian tanaman pangan. Produksi

tanaman kelapa pada tahun 2009 sebesar 574,18 ton atau mengalami penurunan

(13)

sebagai salah satu tanaman potensial di daerah ini, pada tahun 2009

menghasilkan 1.480,73 ton dari luas panen 9.670 hektar atau mengalami

penurunan 7,16 % dari keadaan tahun 2008.

Jambu mente sebagai komoditas unggulan daerah,pada tahun 2009

menghasilkan 1.485,91 ton yang dihasilkan dari areal tanam seluas 11.265 ha atau

dengan produktivitas rata-rata 1,31 kwintal per hektar dan mengalami penurunan

hanya sebesar 0,09 ton. Komoditas perkebunan yang lainnya memiliki kapasitas

produksi selama tahun 2009 adalah : pinang 462,85 ton (naik 2,40 %), kapuk

107,57 ton (turun 39,23 %), kopi 148,84 ton (naik 7,08 %), dan kakao/coklat

43,04 ton (naik 4,98 %).

Wilayah pengembangan perkebunan rakyat diarahkan di seluruh wilayah

Kecamatan dan secara intensifikasi fokusnya pada Kecamatan Insana, Biboki

Utara, Biboki Feotleu, Miomaffo Timur, Naebenu, Bikomi Utara dan Kecamatan

Bikomi Tengah untuk komoditas perkebunan jambu mente dan kemiri, karena

jenis tanaman ini sudah cukup familiar dengan kondisi masyarakat di Kabupaten

TTU dan mempunyai prospek nilai perdagangan yang cukup tinggi.

2.1.2.3 Peternakan

Peternakan merupakan salah satu sektor vital yang mampu menyanggah

kehidupan ekonomi sebagian besar keluarga tani di pedesaan. Paling tidak dengan

memelihara ternak, rumah tangga tani dapat membiayai kebutuhan di luar pangan

seperti menyekolahkan anak, membiayai kesehatan dan perumahan, bahkan pada

saat kondisi kritis seperti gagal panen, komoditi ternak justru diandalkan untuk

menopang pengadaan ketersediaan pangan keluarga. Jumlah rumah tangga usaha

ternak di Kabupaten TTU pada tahun 2009 tidak mengalami perubahan dari tahun

sebelumnya. Bahkan jumlah rumah tangga usaha ternak jenis ayam ras petelur

mengalami penurunan secara drastis. Sebagaian ternak besar maupun kecil

mengalami peningkatan populasi dari tahun sebelumnya seperti ternak Sapi Bali

naik 0,09 %, Babi naik 1,25 %, Ayam Buras/Kampung naik 0,74 %, Kerbau naik

0,47 %, Kambing/Domba naik 0,06 %, dan Kuda naik 21,61 %. Sedang itik/itik

manila turun 26,86 %.

(14)

kendala yang semakin serius karena belakangan ini lalu-lintas mutasi ternak

keluar, terutama bibit pejantan menjadi semakin sulit dikendalikan; ditambah

ancaman penyakit bruccelosis yang sampai dengan saat ini terus menjadi momok yang menghantui perkembangan populasi ternak sapi, ketersediaan Hijauan

Makanan Ternak (HMT) semakin berkurang dan rusaknya ketersediaan rumput di

padang penggembalaan akibat tekanan dari rumput bunga putih (suf muti=bahasa lokal) atau Crhomolaena Odorata. Kendala lainya adalah, sebagian besar petani ternak masih bertahan dengan pola budidaya ternak yang bersifat tradisional

sebagai akibat dari kurang variatifnya pola pembinaan dan penyuluhan yang

selama ini terkesan masih terpaku pada pola konvensional. Pola budidaya ternak

yang bersifat sub sisten ini mengakibatkan pertambahan populasi ternak berjalan

di tempat, dan terkesan berjalan secara alamiah tanpa rekayasa teknologi

peternakan secara signifikan. Mutasi ternak sapi selama tahun 2009 sebagai

berikut: dipotong di RPH sebanyak 737 ekor dan di luar RPH 700 ekor, sedangkan

yang diantarpulaukan melalui pelabuhan Wini ataupun transportasi darat

sebanyak 14.100 ekor. Jumlah mutasi penggunaan yang cukup tinggi ini jika tidak

diimbangi dengan pengadaan kembali terutama lahir baru dapat dipastikan

populasi sapi Bali pada masa datang akan semakin berkurang.

Wilayah pengembangan peternakan, terutama untuk komoditas ternak

sapi diarahkan di Kecamatan Biboki Anleu, Biboki Feotleu, Biboki Moenleu;

Insana, Insana Tengah dan Kecamatan Mutis. Sedangkan komoditas unggas (ayam

potong) diprioritaskan di Kecamatan Kota Kefamenanu.

2.1.2.4 Perikanan

Komoditas perikanan memiliki nilai ekonomis tinggi karena selain

menjadi bahan pangan yang memiliki kandungan protein tinggi, juga mampu

memberikan tingkat kehidupan yang layak bagi keluarga tani nelayan. Dengan

semakin terbatasnya lahan pertanian yang subur belakangan ini, sektor perikanan

dengan program GEMALA (Gerakan Masuk Laut) diharapkan menjadi alternatif

lapangan kerja yang menjanjikan bagi pertambahan angkatan kerja baru. Produksi

ikan di Kabupaten TTU sebagian besar berasal dari perikanan laut. Dari total

produksi 444,87 ton pada tahun 2009, sebanyak 98,38 % atau 437,67 ton

(15)

% adalah produksi perikanan darat. Dari 789 rumah tangga nelayan pada tahun

2009, sedangkan nelayan dengan perahu tanpa motor 23,19 %, motor tempel 9,89

%, dan kapal motor hanya 2,41 %. Dengan sebagian besar rumah tangga nelayan

yang memiliki sarana penangkapan ikan yang masih bersifat tradisional, maka

dipastikan kemampuan wilayah operasi penangkapannya masih sebatas wilayah

perairan pesisir dengan hasil tangkapan yang kurang maksimal. Jenis ikan yang

dominan untuk produksi penangkapan di laut seperti kerapu, ikan merah, ekor

kuning, tembang, ikan terbang, kembung, tuna/cakalang, tongkol dan layur.

Sedangkan jenis ikan untuk produksi budidaya kolam seperti ikan nila, gabus,

mujair dan ikan mas.

Wilayah pengembangan perikanan laut dan tambak diarahkan di

Kecamatan Insana Utara, Biboki Selatan dan Biboki Anleu. Sedangkan untuk

komoditas perikanan darat (budidaya kolam) dapat diarahkan di Kecamatan

Insana, Miomaffo Barat, Noemuti dan Noemuti Timur.

2.1.2.5 Kehutanan

Hutan memiliki peranan penting bagi kelestarian alam dan menopang

kehidupan komunitas ekosistem alam di sekitarnya. Luas hutan di Kabupaten TTU

adalah 126 235 hektar atau sekitar 47,3 % dari luas wilayah daratan. Kecamatan

yang memiliki hutan terluas adalah Kecamatan Biboki Selatan yaitu 18,1% dari

luas hutan di seluruh Kabupaten TTU. Sebaliknya Kecamatan Kota Kefamenanu

hanya memiliki hutan seluas 0,5 % atau terendah dari seluruh kecamatan. Bila

diamati menurut fungsi hutan, maka komposisi luasnya sebagai berikut: hutan

produksi terbatas 53,9 %, hutan lindung 32,5 %, hutan produksi yang dapat

dikonversi 10,7 %, hutan cagar alam 1,6 % dan hutan produksi tetap 1,2 %.

Primadona hasil hutan berupa kayu cendana, baik produksi maupun

populasinya belakangan ini semakin menurun. Data tahun 2006 produksi kayu

cendana sebesar 33.678 kilogram atau turun 35,4 % dibandingkan dengan tahun

2004 lalu. Diperkirakan untuk tahun-tahun yang akan datang produksinya akan

terus anjlok mengingat populasinya sangat terbatas dan cenderung punah. Data

populasi cendana hasil inventarisasi tahun 1997 lalu hanya 16.263 pohon atau

turun sebanyak 36,3 % dari keadaan tahun 1996. Hasil hutan lainnya yang cukup

(16)

turun 5,66 % dari tahun sebelumnya,kayu jati persegi jenis balok produksinya

17.566 m3 (naik 338,26 %), asam biji 512,75 ton (naik 20,50 %), madu 106 liter (naik 324 %).

Kerusakan hutan pada umumnya terjadi karena ulah manusia, antara

lain, karena penebangan pohon secara besar-besaran (ilegal logging, kebakaran hutan, perambahan hutan secara berlebihan dan praktek konversi hutan karena

perladangan beringsut. Berdasarkan data Balai Pengelolaan DAS Benain (Baca

Benenain) – Noelmina (2010) bahwa kerusakan hutan di Kabupaten TTU telah

mencapai 63,270 Ha dengan kondisi lahan kritis seluas 43,081 ha, lahan agak

kritis seluas 18,743 ha dan lahan potensi kritis kritis seluas 1,446 hektar.

Pengembangan kehutanan lebih diarahkan untuk kawasan hutan lindung

dan sempadan Daerah Aliran Sungai (DAS) Benenain (wilayah tengah) dengan

sub-sub DAS yang berada di wilayah Kabupaten TTU yaitu Sub DAS Maubesi dan

Bikomi.

2.1.2.6 Pertambangan dan Sumberdaya Mineral

Potensi sumberdaya mineral golongan A dan B yang menonjol di

Kabupaten TTU adalah Nikel 2,637 ppm, Tembaga 223,8 ppm, Perak 31,7 PPm,

dan Emas 223,9 ppm. Sedangkan untuk golongan C batu marmer 321.798.466 ton

meyebar di beberapa kecamatan, namun yang bisa ditambang sampai dengan saat

ini hanya di Kecamatan Biboki Selatan sebanyak 78.595 m3.

Kegiatan penambangan mineral Mangan (Mn) di Kabupaten TTU, baru

ramai dilaksanakan selama 3 (tiga) tahun terakhir ini, sebagai akibat dari

permintaan konsumsi Mangan dunia, karena potensi deposit mineral Mangan ini

tersebar hampir di seluruh kawasan wilayah Kabupaten TTU dan dinilai cukup

berkualitas yang berkisar antara 30 – 60 % atau mendekati standar proses pemurnian yang berlaku di pabrik pengolahan. Hasil penyelidikan geokimia

regional sitematik di Kabupaten TTU dan TTS Propinsi NTT oleh Ramli dkk,

(2002), bahwa penyebaran Mangan sebagian besar berada di bagian Timur

sampai dengan Timur Laut, yaitu di sekitar desa Haumeni (Kab. TTU) sampai

Utara Niki-Niki; di Selatan sampai dengan Barat Daya sekitar Oetaman sampai

(17)

410 ppm. Sebaran pada umumnya menempati jenis tanah formasi kompleks

Bobonaro.

Namun demikian karena kegiatan pertambangan Mangan (fatu metan

atau fatu pah= istilah lokal) yang dimulai dari tahap pra penambangan dan proses penambangan masih dilakukan secara sederhana dan dalam kegiatan

penambangannya masih menggunakan tenaga masyarakat-lokal (termasuk

perempuan dan anak) sebagai pekerja utama, sehingga pertambangan Mangan

umumnya dapat memberikan peluang terhadap penurunan kualitas fisik

lingkungan hidup dan dapat mempengaruhi proses sosial, ekonomi, dan

peminggiran terhadap peran kaum perempuan dan anak, terutama dalam

kaitannya dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Berdasarkan data dari

Bapedalda Kabupaten TTU, tercatat dari periode Agustus 2009 s/d Oktober 2010

pekerja tambang manual yang meninggal dunia akibat tertimbun tanah galian

sebanyak 20 orang dan luka berat sebanyak 1 orang (diantaranya terdapat 9 orang

perempuan), disamping itu ada peningkatan kunjungan pasien terhadap penyakit

saluran pernapasan dan paru-paru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Kefamenanu maupun puskesmas yang ada di Kecamatan.

Wilayah pengembangan pertambangan harus memperhatikan aspek

penyelamatan lingkungan yaitu DAS (sempadan sungai), kawasan permukiman,

kawasan hutan lindung serta disesuakan dengan batas maksimal luasan perijinan

untuk Ijin Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) yang ditetapkan; baik berupa Ijin

Usaha pertambangan (IUP) eksplorasi dan IUP operasi Produksi serta Ijin

Pertambangan Rakyat (IPR) dengan tetap memperhatikan kondisi ketersediaan

kandungan deposit,umur masa tambang dan dampak penting terhadap komponen

lingkungan hidup.

2.1.2.7 Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup

Peranan SDA dan LH sangat penting dalam pembangunan daerah

Kabupaten TTU, baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan ekonomi

maupun sebagai pendukung sistem kehidupan masyarakat. Sesuai dengan

fungsinya tersebut, SDA dan LH perlu dikelola dengan bijaksana agar dapat terjaga

dan lestari untuk generasi saat ini dan di masa yang akan datang sesuai dengan

(18)

karena lonjakan jumlah penduduk di Kabupaten TTU akan berimplikasi pada

meningkatnya kebutuhan akan SDA untuk bahan baku industri maupun

kebutuhan konsumsi. Peningkatan kebutuhan tersebut dapat berakibat pada

peningkatan pemanfaatan SDA secara berlebihan dan tidak ramah lingkungan

yang pada akhirnya akan menurunkan daya dukung dan daya tampung atau fungsi

dari LH. Kondisi ini sudah mulai dirasakan di Kabupaten TTU, terutama timbulnya

permasalahan pemenuhan akan kebutuhan pangan, energi serta kebutuhan akan

sumber daya air di berbagai wilayah Kecamatan, adanya perubahan iklim mikro

dan cuaca yang cukup ekstrim maupun terhadap perubahan lingkungan biologis

terutama di kawasan perdesaan.

Hal yang mendorong terjadinya berbagai fenomena ini dikarenakan

penduduk akan berlomba mencari nafkah dalam mendukung kehidupan

sehari-harinya dengan memanfaatkan berbagai potensi SDA dan LH yang ada sehingga

cenderung bersifat destruktif dan tidak lagi memperhatikan daya dukung dan

daya tampung dari LH tersebut. Persoalan yang timbul antara lain adanya

konversi lahan dan penebangan hutan secara berlebihan; apalagi ditambah

dengan kebiasaan penduduk melaksanakan pola usaha tani lahan kering secara

berpindah dan tebas bakar (dalam bahasa dawan disebut kono), maka dapat menyebabkan nilai kesuburan tanah/lahan yang berkurang dan pada gilirannya

berpengaruh terhadap produktivitas hasil usaha pertanian yang relatif akan

berkurang juga. Persoalan lainnya, bahwa pandangan SDA dan LH merupakan

milik bersama (common propertyresources) yang dapat dimanfaatkan oleh semua orang (open access), sehingga setiap pengguna sumberdaya berkeinginan untuk memaksimalkan keuntungan sebesar-besarnya maka dapat menyebabkan

terjadinya kerusakan SDA dan pencemaran LH dan konflik pemanfaatan ruang

sebagai akibat dari over-eksploitasi dan deplesi terhadap ketersediaan potensi SDA.

Berdasarkan pada hasil analisa pengujian kualitas air (air permukaan, air

limbah, air laut) dan udara maupun kualitas tanah untuk produksi biomassa di

Kabupaten TTU dapat dikatakan bahwa tingkat pencemaran lingkungan belum

memberikan dampak yang signifikan terhadap gangguan kehidupan manusia dan

daya dukung lingkungan karena secara fisik data-data analisis masih berada di

bawah standar baku mutu yang dipersyaratkan. Namun adanya perubahan kondisi

ekologis, telah menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati; terutama

(19)

persaingan usaha di bidang LH (seperti kasus pertambangan Marmer dan

Mangan) maupun perburuan liar dan penebangan hutan secara illegal, telah

menyebabkan kondisi kualitas hutan merosot dengan antara lain karena

berkurangnya keanekaragam flora dan fauna bahkan potensi untuk punah seperti

Rusa Timor (Cervus timorensis), Kakatua (Cacatua sulphurea), Ayam Hutan Merah

(Gallus gallus), Gagak Hitam (Corvus corone), Merpati (Columba livia), Cendana

(Santalum album), Gaharu (Aquilaria malaccensis), Ampupu (Eucalyptus

urophylla).

Secara umum indikator dan parameter kerusakan SDA dan pencemaran

LH harus terus dikelola dan diawasi agar diketahui tingkat pencemaran dan

kerusakannya sehingga dapat dirumuskan strategi yang tepat untuk mengatasi

dan menanggulangi persoalan yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

Pengembangan SDA dan LH difokuskan untuk mendukung peningkatan ekonomi

rakyat dengan fokus wiilayah perlindungan dan pengelolaan di prioritaskan pada

kawasan cagar alam Mutis (2 ha), kawasan DAS Benenain (wilayah tengah) seluas

150,080 ha, kawasan sentra pertanian/perkebunan rakyat, kawasan wilayah

pesisir sepanjang 50 km dan laut seluas 900 km² dan kondisi lingkungan

permukiman padat penduduk untuk tetap menjaga keseimbangan ekologis.

2.1.2.8 Pariwisata

Pengembangan pariwisata harus dikaitkan dengan pengembangan

ekonomi daerah, ruang wilayah dan potensi obyek wisata andalan yang nantinya

dapat berperan sebagai prime mover dan secara interaktif terkait dengan pengembangan sektor-sektor lainnya. Pengembangan pariwisata dengan

pendekatan pengembangan ekosistem, yaitu melalui penatan ruang yang

dilakukan dengan pendekatan secara terpadu dan terkoordinasi, berkelanjutan

dan berwawasan lingkungan. Berdasarkan kepada konsep pengembangan wilayah

di Kabupaten TTU, maka potensi pariwisata perlu didorong dengan

mengembangkan Daerah Tujuan Wisata (DTW) untuk menarik kunjungan wisata

ke wilayah Kabupaten TTU sebagai suatu daya tarik khusus yang berbeda dari

daerah lain seperti peningkatan produk pariwisata alam dan religius/budaya

(20)

aktraksi jenis tarian budaya maupun wilayah cagar alam laut sawu yang ada di

wilayah Kabupaten TTU.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana 2.1.3.1 Banjir

Wilayah rawan banjir setiap tahunnya terjadi di Kecamatan Biboki Utara

(Boronubaen, Tualene), Bikomi Selatan (Maurisu), Biboki Tanpah (Oekopa),

Biboki Anleu (Ponu), Biboki Moenleu (Kaubele), dan Kota kefamenanu (Kelurahan

Maubeli). Bencana alam ini disebabkan oleh ulah manusia yang tidak

memperhatikan fungsi ekologis/lingkungan hidup yang berdampak tingginya

aliran air karena tanah telah tandus. Musibah ini dari tahun 2007 -2009 telah

menyebabkan kerugian bagi 10 – 100 KK dengan rusaknya rumah pemukiman penduduk ataupun gagal panen.

2.1.3.2 Tanah Longsor

Wilayah rawan longsor terjadi hampir di setiap wilayah kecamatan di

Kabupaten TTU, tetapi penyebab tertinggi biasanya terjadi di Kecamatan Bikomi

Selatan (Oebkin) dengan luas longsor 200 meter dan jarak kikisan 10 meter.

Kondisi ini telah menyebabkan rumah warga terendam air dan kerusakan

tanaman jagung 10 hektar.

2.1.3.3 Angin Taufan

Wilayah yang sering terkena bencana angin taufan (putting beliung)

adalah Kecamatan Biboki Utara (Boronubaen, Hauteas, Sapaen dan Birunatun),

Biboki Tanpah (Oekopa), Biboki Anleu (Sifaniha, Motadik, Nonotbatan,

Maukabatan, Kotafoun, Oemanu), Biboki Selatan (Sainiup, Tokbesi, Tunbaen,

Upfaon), Insana Utara (Fafinesu A, Humusu B, Oesoko), Biboki Moenleu (Luniup),

Kota Kefamenanu (Kelurahan Maubeli dan Sasi), Bikomi Tengah (Oemanu

Selatan), Bikomi Utara (Napan), Miomaffo Barat (Manusasi), Mutis (Tasinifu), Musi

(21)

2.1.3.4 Kekeringan

Wilayah Kabupaten TTU pada dasarnya beriklim semi arid artinya tingkat kekeringan pasti akan lebih besar sebagai akibat dari kondisi iklim yang ada.

Namun biasanya masalah kekeringan ini sering melanda daerah pantai utara

(pantura) yang kadang-kadang juga membawa faktor ikutannya adalah serangan

hama belalng kumbara seperti terjadi di Kecamatan Biboki Utara (Boronubaen

dan Hauteas) dan Kecamatan Miomaffo Timur (Jak, Tuntun, Sainoni, Taekas,

Banain A, Banain B dan Banain C) yang telah menyebabkan rawan pangan karena

gagal panen.

2.1.4 Kependudukan-Demografi 2.1.4.1 Jumlah Penduduk

Kondisi kependudukan di Kabupaten TTU menjadi faktor terpenting

dalam proses pelaksanaan pembangunan karena penduduk dapat menjadi subyek

sekaligus obyek dari pembangunan itu sendiri. Jumlah penduduk yang besar

bermanfaat dalam penyediaan tenaga kerja untuk mengelola potensi SDA dan LH

yang tersedia dan dapat juga untuk mempertahankan keutuhan negara dari

ancaman yang berasal dari bangsa lain apalagi wilayah Kabupaten TTU berbatasan

langsung dengan negara Timor Leste.

Perkembangan penduduk yang pesat tanpa diimbangi dengan persediaan

sumber daya alam dan sumber dana yang memadai, maka hanya akan menjadi

beban bagi pembangunan. Sebaliknya, bila percepatan pertumbuhan penduduk

jauh lebih lamban dari percepatan pertambahan sumber daya alam dan sumber

dana yang ada, maka penduduk yang banyak dengan kualitas yang memadai akan

menjadi modal pembangunan yang sangat berharga. Berdasarkan hal tersebut

pemerintah dalam berbagai format perencanaan selalu menempatkan masalah

kependudukan sebagai kerangka acuannya, karena penduduk dengan aspek

kualitas dan kuantitasnya merupakan pelaku sentral sekaligus sebagai obyek yang

menikmati hasil-hasil pembangunan secara lebih adil dan berprikemanusiaan.

Jumlah penduduk Kabupaten TTU sampai akhir tahun 2009 sesuai hasil

(22)

laki-laki 114.124 jiwa, dengan tingkat kepadatan rumah tangga 4 orang dan

kepadatan penduduk 85 orang per km2.

2.1.4.2 Struktur Penduduk

Analisis struktur kependudukan (Registrasi Penduduk) tahun 2009

memperlihatkan beberapa indikator sebagai berikut : (1) Angka sex ratio pada tahun 2009 sebesar 99 menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki sedikit

lebih rendah dari penduduk perempuan yakni pada setiap 99 penduduk laki-laki

terdapat 100 orang penduduk perempuan; (2) Dilihat dari struktur umur

penduduk, maka sebagian besar penduduk TTU berada pada usia muda dimana

konstruksi piramida penduduknya masih berbentuk ekspansif. Dari 227. 147 jiwa

pada tahun 2009, sebesar 36,8 % merupakan penduduk usia muda (berumur 0 -

14 tahun); dan (3) Angka beban ketergantungan (Dependency Ratio) pada tahun 2009 adalah 75 yang menunjukkan bahwa setiap 100 orang penduduk usia

produktif (15-64 tahun) harus menanggung sekitar 75 orang yang belum dan tidak produktif usia <1 tahun ≥ tahun .

Proporsi penduduk yang tergolong Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja

(TPAK) dikatakan bahwa angka ini rendah pada umur-umur muda (karena

sekolah), kemudian naik sejalan dengan kenaikan umur sampai mencapai

puncaknya pada sekitar umur 25-29 tahun dan selanjutnya turun lagi secara

perlahan pada umur-umur berikutnya (antara lain karena pensiun, kesehatan

yang tidak memungkinkan dan telah mencapai usia yang tua sekali). TPAK di suatu

wilayah dapat pula diartikan sebagai kesiapan penduduk di wilayah bersangkutan

untuk terjun ke pasar kerja baik sebagai pekerja maupun pencari kerja. Pada

tahun 2009, TPAK Kabupaten TTU sebesar 77,04 %.

Angka kesempatan kerja merupakan perbandingan antara penduduk

yang bekerja dengan angkatan kerja. Pada tahun 2009 angka kesempatan kerja

TTU tergolong tinggi yakni 95,88 %, ini berarti angka pengangguran terbuka di

TTU sebesar 4,12 %. Kendatipun tingkat penggangguran terbuka relatif kecil,

namun bila dibandingkan dengan tingkat pendapatan per kapita penduduk yang

masih rendah dapat diduga bahwa sebenarnya angka setengah pengangguran dan

pengangguran terselubung di Kabupaten TTU terutama pada sektor pertanian di

(23)

Komposisi penduduk yang bekerja pada tahun 2009 sebagian besar yakni

60,42 % dari penduduk yang bekerja, mempunyai lapangan pekerjaan utama di

sektor pertanian. Selebihnya masing-masing 19,83 % bekerja pada sektor

manufaktur dan 19,75 % bekerja pada sektor jasa. Hal ini juga menggambarkan

bahwa telah terjadi pergeseran komposisi penduduk yang bekerja di setiap

sektornya, dimana sektor pertanian mulai menunjukkan adanya penurunan

persentase sedangkan sektor manufaktur dan jasa mengalami peningkatan

persentase penduduk bekerja.

2.1.4.3 Distribusi Penduduk

Dilihat dari aspek distribusi penduduk yaitu penduduk terbanyak di

Kabupaten TTU terdapat di Kecamatan Kota Kefamenanu yaitu sebesar 15,9 %,

sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Kecamatan Noemuti Timur

yaitu sebesar 1,6%. Kota Kefamenanu merupakan kecamatan dengan tingkat

kepadatan penduduk dan kepadatan rumah tangga tertinggi yaitu masing-masing

sebesar 487 orang/km2 dan 6 (enam) orang/rumah tangga.

Tabel 2.4. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Luas Wilayah, Kepadatan Penduduk dan Kepadatan Rumah Tangga Menurut Kecamatan di Kabupaten TTU Tahun 2009

(24)
(25)

Kecamatan Laki-laki

Sumber Data : Hasil Olah Registrasi Penduduk 2009, BPS TTU

2.1.4.4 Kelahiran,Kematian Datang dan Migrasi

Khusus untuk pertambahan penduduk alamiah, dimana angka kelahiran

kasar (CBR) pada tahun 2009 sebesar 7 (tujuh) per 1000 penduduk lebih rendah

bila dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 16 kelahiran per 1000 penduduk.

Untuk tingkat kelahiran bayi di Kabupaten TTU secara kasar Kecamatan Miomaffo

Timur merupakan kecamatan dengan tingkat kelahiran bayi tertinggi. Hal ini

dapat dilihat dari angka CBR Insana Utara yang menunjukkan angka 23 (artinya

dari 1.000 penduduk di Kecamatan Insana Utara terdapat 23 kelahiran hidup),

sedangkan Kecamatan Bikomi Nilulat memiliki tingkat kelahiran bayi terkecil

(CBR=2 atau dengan kata lain dari 1000 penduduk di Kecamatan Bikomi Ninulat

terdapat 2 kelahiran hidup). Menurunnya angka fertilitas ini menunjukkan upaya

pengendalian tingkat kelahiran melalui program KB akhir-akhir ini mulai

membaik sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam

(26)

Tabel 2.5. Kelahiran, Kematian, Datang, dan Migrasi Penduduk Kabupaten TTU Tahun 2005-2009

Tahun

Jumlah Penduduk

(jiwa)

Jenis Kelamin

Kelahira n (jiwa)

Kematia n (jiwa)

Datang (jiwa)

Migrasi (jiwa) L (jiwa) P (jiwa)

2005 215156 107206 107950 4068 1039 3998 3930

2006 218958 109166 109792 3899 448 1483 1869

2007 222824 110235 112589 4026 1129 - -

2008 225094 112055 113039 3630 1090 - -

2009 227147 113023 114124 1666 677 - -

Sumber : Hasil olahan dari Data BPS TTU

Angka kematian kasar (CDR) di Kabupaten TTU sebesar 2 (artinya dari

1000 penduduk di Kabupaten TTU terdapat 2 kematian). Tingkat kematian paling

tinggi di Kabupaten TTU terdapat di Kecamatan Miomaffo Timur (CDR=8, atau

dengan kata lain dari 1000 penduduk di Kecamatan Miomaffo Timur terdapat 8

kematian).

2.1.4.5 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

Berdasarkan data penduduk di Kabupaten TTU dari usia 10 tahun ke atas

berstatus pendidikan tidak bersekolah lagi (69,49 %), berstatus pendidikan

Perguruan Tinggi (PT) memiliki persentase paling kecil (0,95 %), sedangkan

sisanya adalah penduduk dengan status pendidikan tidak/belum pernah sekolah,

SD, SLTP, dan SMA dimana masing-masing memiliki persentase 11,74 %, 10,35 %,

5,37 % dan 4,10 %. Namun kondisi ini setiap tahun berubah dengan indiaksi

perbaikan kualitas tingkat pendidikan penduduk yang semkin membaik. Jumlah

(27)

2.1.4.6 Jumlah Penduduk Menurut Agama

Dilihat dari komposisi penduduk, maka dari 227.147 jiwa pada tahun

2009, sebanyak 91,87 % diantaranya beragama Katholik, sedangkan selebihnya

masing-masing Kristen Protestan 6,63 %, Islam 1,42 %, Hindu/Budha dan lainnya

0,08 %. Jumlah penduduk menurut agama di Kabupaten TTU ini dapat dilihat pada

Tabel 2.7.

Tabel 2.6. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Kabupaten TTU Thn 2005-2009

Tahun

Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan yang ditamatkan (jiwa)*

Tidak/

Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Menurut Status pendidikan (%)*

TAHUN SD SMP SMU PT

Keterangan: * Berumur di atas 10 Tahun Sumber : Hasil olahan dari Data BPS TTU

Tabel 2.7. Jumlah Penduduk Menurut Agama di Kabupaten TTU Tahun 2005-2009

Tahun

Penduduk Berdasarkan Agama yang di anut (jiwa)

Islam Protestan Katolik Hindu Budha

2005 2626 12881 199524 125 -

2006 2330 13947 202558 123 -

(28)

Tahun

Penduduk Berdasarkan Agama yang di anut (jiwa)

Islam Protestan Katolik Hindu Budha

2008 2313 13534 209174 73 -

2009 3223 15060 208680 184 -

Sumber Data : Hasil Olahan dari Data BPS TTU

2.1.4.7 Jumlah Penduduk Menurut Kewarnegaraan

Penduduk di Kabupaten TTU menurut kewarnegaraan yang ada dari

tahun 2005 – 2007 sebanyak 33 orang adalah Warga Negara Asing (WNA), sedangkan pada tahun 2008-2009 tidak ada lagi Warga Negara Asing yang

menetap.

Tabel 2.8. Jumlah Penduduk Menurut Kewarganegaraan di Kabupaten TTU Tahun 2005-2009

Tahun

Penduduk Berdasarkan

Kewarganegaraan Keterangan

WNI (jiwa) WNA (jiwa)

2005 215.123 33

2006 218.925 33

2007 222.791 33

2008 225.094 -

2009 227.147 -

Sumber: Hasil Olahan dari Data BPS TTU

2.1.4.8 Jumlah Penduduk Menurut Suku/Etnis

Dalam konteks pertumbuhan wilayah Kabupaten TTU telah menyerap

penduduk yang berasal dari berbagai kawasan sub-budaya di Pulau Timor, Sabu,

Rote, Sumba, Flores dan pulau lainnya di Indonesia yang masuk ke Kabupaten TTU

(29)

Beberapa suku/etnis yang sekarang menetap di wilayah Kabupaten TTU di

antaranya adalah Tionghoa, Helong, Atoni (terutama dari Kabupaten TTS dan

Kupang), Belu, Timor Leste, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende/Lio, Sikka,

Lamaholot, Alor, Sabu, Rote, Jawa, Bali, Lombok, Bima, Toraja, Bugis/Makasar,

Batak, Ambon dan Sunda. Konsentrasi suku/etnis ini lebih banyak berada di pusat

Kota Kefamenanu, sehingga permukiman kota itu tumbuh menjadi

kelompok-kelompok permukiman etnis yang semakin lama semakin padat dan melebar serta

dengan tingkat homogenitas identitas etnisnya. Akibat dari perkembangan kota

dan pertumbuhan permukiman demikian, pada gilirannya memunculkan pola

permukiman segregatif, dan pada gilirannya mengakibatkan polarisasi serta

segregasi kehidupan permukiman dalam berbagai bentuk dan jenisnya seperti:

etnis, strata sosial, okupasi dan juga agama. Segregasi permukiman yang demikian,

pada akhirnya membawa dampak pada polarisasi karakteristik budaya atau

sub-budaya yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menyimpan pontensi konflik

antar penduduk.

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Dalam pengertian yang luas, kesejahteraan tidak saja mencakup aspek

ekonomi tetapi juga meliputi aspek pendidikan dan kesehatan. Bila mengacu pada

konsep UNDP mengenai Human Development Index, dapat dipahami bahwa kesejahteraan mencakup 3 (tiga) index komposit yakni tingkat

pendapatan/penghasilan, pengetahuan/pendidikan dan derajat kesehatan

masyarakat. Indeks pembangunan ekonomi diindikasikan oleh banyak hal antara

lain pendapatan per kapita dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sementara peningkatan kualitas SDM dilakukan melalui pembangunan bidang

pendidikan, kesehatan, olah raga dan seni budaya.

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.2.1.1 Pertumbuhan PDRB

Tingkat perekonomian masyarakat Kabupaten TTU dalam periode lalu

ditunjukkan oleh beberapa indikator yakni pertumbuhan PDRB, PDRB per kapita

(30)

pertumbuhan ekonomi daerah yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan PDRB dan

pendapatan perkapita mengalami perkembangan yang cukup baik meski trendnya

fluktuatif.

Tabel 2.9. Pertumbuhan Ekonomi, PDRB & Pendapatan Per Kapita Tahun 2006– 2010

Tahun PDRB (ADHB) PDRB (ADHK)

Pertumbuhan Ekonomi

(ADHK)

PDRB per Kapita

2006 571.726.000 405.803.000 3,88 2.633.990

2007 602.423.000 423.655.000 4,40 2.730.443

2008 745.008.874 446.618.972 5,42 3.342.166

2009 832.329.064 471.674.665 5,61 3.667.246

2010 932.943.657 499.132.627 5,82 4.052.841

Sumber : BPS Kabupaten TTU (2011)

Berdasarkan pada tabel di atas, menggambarkan bahwa nilai tambah

yang dihasilkan sektor-sektor PDRB masih rendah. Demikian pula halnya dengan

rata-rata tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah. Jika angka

pendapatan per kapita ini dikonversi ke dalam jumlah hari dalam setahun, maka

rata-rata pendapatan penduduk TTU sebesar Rp.11.103,- per hari. Rendahnya

penghasilan masyarakat ini sekaligus menggambarkan bahwa angka kemiskinan

cukup tinggi. Pada tahun 2006, persentase penduduk dibawah garis kemiskinan

mencapai 32,65%, tahun 2007 sebesar 30,12% lalu menurun menjadi 27,74%

pada tahun 2008 dan pada kondisi 2009 menjadi 24,96%. Angka ini masih lebih

tinggi daripada prosentase penduduk di bawah garis kemiskinan di Provinsi NTT

(31)

2.2.1.2 Laju Inflasi

Gejala meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dikenal dengan

istilah inflasi. Ada banyak faktor yang menyebabkan inflasi antara lain karena

kapasitas permintaan terhadap suatu barang dan jasa melebihi volume

persediaannya, naiknya harga struktur input barang import yang sangat rentan

terhadap kurs mata uang asing, struktur ekonomi yang kurang seimbang dan

tingginya jumlah uang yang beredar di tangan masyarakat. Karena itu upaya

pencegahan inflasi harus berawal dari pengamatan yang cermat terhadap faktor

penyebab utama inflasi di suatu wilayah.

Adapun laju inflasi umum yang terjadi berdasarkan akumulasi perubahan

IHK per bulan di Kota Kefamenanu terhadap tujuh kelompok komoditas barang

dan jasa 9,0 % pada tahun 2005, 9,3 % pada tahun 2006, 11,5 % pada tahun 2007

dan meningkat menjadi 17,56 % pada tahun 2008. Inflasi umum pada tahun 2009

adalah sebesar 5,33 %. Secara parsial pada tahun 2009 tingkat inflasi tertinggi

terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 11,37 %;

menyusul perumahan 10,99 %; bahan makanan 5,47 %; sandang 5,28 %;

kesehatan 4,25 %; pendidikan rekreasi dan olahraga 0,81 %; dan transportasi &

komunikasi -5,16 %. Khusus untuk sembilan bahan pokok (sembako) kebutuhan

masyarakat laju inflasi sepanjang tahun 2009 untuk masing-masing komoditas

sebagai berikut: beras -1,6 %, ikan asin 11,5 %, minyak goreng 10,0 %, gula pasir

20,0 %, garam dapur 8,0 %, minyak tanah 10,7 %, sabun cuci 0,0 %, tekstil 0,0 %,

batik kasar 4,8 %, tepung terigu 6.8 %, semen 10,7 % dan emas 14,5 %.

Tabel 2.10. Laju Inflasi Untuk Tujuh Kelompok Komoditas Barang dan Jasa di Kota Kefamenanu Tahun 2006-2009

No Kelompok Komoditas

Laju inflasi Kelompok Komoditas per Tahun (%)

2006 2007 2008 2009

1 Bahan Makanan 15,78 12,01 16,47 5,47

2 Makanan jadi,minuman rokok dan tembakau

7,65 15,85 1,43 11,37

(32)

No Kelompok Komoditas

Laju inflasi Kelompok Komoditas per Tahun (%)

2006 2007 2008 2009

4 Sandang 8,15 8,69 7,67 5,28

5 Kesehatan 5,72 4,18 10,00 4,25

6 Pendidikan,Rekreasi dan Olaraga 16,27 5,49 76,88 0,81

7 Transportasi dan Komunikasi 1,29 4,18 34.55 -5,16

Sumber Data: Survei Harga-Harga, BPS TTU, 2010

Tingkat inflasi tertinggi di Kabupaten TTU pernah terjadi pada tahun

1998 sebesar 114,29 % sebagai dampak krisis monoter dan krisis ekonomi yang

melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1997 dan mencapai momentumnya pada

tahun tersebut. Pada tahun-tahun setelah itu tingkat laju inflasi berjalan fluktuatif

karena manajemen perekonomian nasional masih ditandai dengan kebijakan

kenaikan harga berbagai barang dan jasa strategis akibat berkurangnya anggaran

subsidi dalam APBN. Barang strategis seperti listrik, minyak tanah, bensin, solar

dan tarif telepon yang terus mengalami penyesuaian harga pada gilirannya akan

menaikkan harga berbagai kebutuhan pokok karena barang-barang strategis

tersebut mempunyai kaitan langsung dengan sektor produksi dan distribusi. Laju

inflasi di Kabupaten TTU pada tahun 2009 mencapai sekitar 5,33 %. Hal ini terjadi

mungkin akibat dari kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga beberapa

komoditas sembako sehingga tidak memicu naiknya harga berbagai barang

kebutuhan masyarakat lainnya.

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial 2.2.2.1 Pendidikan

Tingkat kesejahteraan masyarakat juga tercermin dari kualitas

pendidikan masyarakat berdasarkan beberapa indikator yang digunakan untuk

mengukur kualitas pendidikan yakni angka melek huruf, angka rata-rata lama

sekolah, angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni dan angka pendidikan

(33)

Indikator melek huruf dan buta huruf dapat dilihat dari angka prosentase

penduduk 10 tahun ke atas yang memiliki kepandaian membaca dan menulis.

Indikator ini merupakan gambaran yang sangat mendasar dari tingkat pendidikan

penduduk karena apabila prosentase penduduk yang dapat membaca dan menulis

semakin besar menunjukkan semakin membaiknya tingkat kesejahteraan

masyarakat (dari aspek pendidikan). Jumlah penduduk buta huruf (usia 10 tahun

ke atas) pada tahun 2006 sampai 2010 berturut-turut mencapai 36.796 jiwa,

29.476 jiwa, 23.486 jiwa, 17.866 jiwa lalu menurun menjadi 12.556 jiwa pada

kondisi 2010. Trend penurunan jumlah penduduk buta huruf ini mengindikasikan

performance di bidang pendidikan yang cukup baik. Kendati demikian, angka ini

masih tergolong tinggi sehingga membutuhkan intervensi kebijakan yang cukup

intens. Selain angka buta huruf, tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten TTU

yang masih rendah dapat dilihat dari angka rata-rata lama sekolah yang hanya 6,7

tahun pada tahun 2010. Artinya rata-rata penduduk hanya menamatkan sekolah

dasar sederajat.

Terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam penyediaan akses dan

pemerataan pendidikan dasar bagi masyarakat dan mulai adanya peningkatan

partisipasi untuk pendidikan menengah pertama dan atas. Angka partisipasi

pendidikan dasar (baik APK dan APM) sudah melebihi kondisi ideal yakni APK

mencapai 140,76 % dan APM hampir mencapai 100 % pada tahun 2010. Angka

partisipasi pendidikan menengah pertama terus meningkat dalam kurun waktu

2006-2010 dimana APK mencapai 98,39 % dan APM mencapai 77,83 % pada

tahun 2010. Sedangkan angka partisipasi pendidikan menengah atas relatif masih

rendah dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.

Pada tahun 2010, APK untuk SMA/SMK/MA hanya sekitar 65,21 % dan

APM sekitar 39,83 %. Rendahnya angka partisipasi pendidikan menengah atas

kemungkinan diakibatkan minimnya sekolah menengah di kota kecamatan dan

terbatasnya kemampuan dan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan

(34)

Tabel 2.11. Pencapaian Aspek Kesejahteraan Masyarakat Untuk Urusan Pendidikan Kabupaten TTU Tahun 2006 – 2010

Indikator Satuan 2006 2007 2008 2009 2010

Angka Partisipasi Kasar:

Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A

% 103,03 166,69 101,83 124,11 124,28

Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/Paket B

% 70,76 78,42 83,51 98,34 99,88

Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/Paket C

% 40,92 42,96 48,00 65,21 70,72

Angka Partisipasi Murni :

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A

% 94,05 93,20 94,24 99,33 99,69

Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

% 48,04 55,45 58,30 70,54 70,71

Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C

% 27,45 28,56 39,58 39,83 43,81

Sumber Data: Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga ,Kab. TTU Tahun 2010

2.2.2.2 Kesehatan

Aspek kesehatan juga merupakan salah satu parameter dari indeks

pembangunan manusia yang berkontribusi terhadap tingkat kesejahteraan

masyarakat. Beberapa indikator yang dapat menggambarkan derajat kesehatan

masyarakat adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Usia

Harapan Hidup (UHH) dan gizi buruk.

Paparan data pada Tabel 2.12. berikut ini sudah dapat menjelaskan kondisi derajat kesehatan masyarakat Kabupaten TTU yang pada umumnya masih

rendah. Tampak sangat jelas, AKI dan AKB yang cukup tinggi, status gizi

masyarakat, terutama angka gizi buruk dan gizi kurang yang cukup tinggi, juga

usia harapan hidup yang rendah, masih berada di bawah 70 tahun. Tentu saja

(35)

pemerintah yang tepat untuk menurunkan AKI, AKB dan gizi buruk sekaligus

untuk menaikkan atau memperpanjang usia harapan hidup.

Tabel 2.12. Indikator Derajat Kesehatan Masyarakat Kabupaten TTU Tahaun 2006-2010

No Indikator

Capaian Per Tahun

2006 2007 2008 2009 2010

1. Status Gizi Masyarakat :

Gizi Baik

8,4/1000KH 9,4/1000KH 9,4/1000KH 9,4/1000KH

5 Usia Harapan Hidup :

Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab.TTU 2010 Catatan : KH = Kelahiran Hidup

2.2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olaraga

Aspek seni budaya dan olah raga menjadi salah satu instrumen yang

mengindikasikan tingkat kemandirian masyarakat suatu daerah. Di samping aspek

ekonomi, pendidikan dan kesehatan, jumlah event serta sarana olah raga dan

kesenian menunjukkan tingkat kemapanan masyarakat. Asumsinya sederhana,

(36)

mengindikasikan bahwa kebutuhan masyarakat akan hiburan semakin tinggi.

Artinya, kebutuhan dasar seperti ketersediaan pangan, pendidikan dan kesehatan

sudah mencukupi sehingga yang menjadi prioritas berikutnya adalah kebutuhan

hiburan.

Di Kabupaten TTU, jumlah event olah raga dan kesenian lebih banyak diselenggarakan pada musim tertentu, misalnya menjelang perayaan HUT RI dan

HUT Kota Kefamenanu. Sementara event-event resmi baik di dalam daerah maupun keluar daerah pada tahun 2006 hingga 2008 masing-masing sebanyak 50

kegiatan, kemudian meningkat menjadi 113 (keadaan 2009) lalu meningkat lagi

menjadi 122 kegiatan. Klub olah raga yang ada sebanyak 40 unit (2006 – 2008), lalu meningkat menjadi 49 unit (2009 – 2010).

Jenis olah raga yang dipertandingkan secara rutin, minimal setahun

sekali adalah pacuan kuda sebagai olah raga yang cukup diminati rakyat TTU. Ada

dua arena pacuan yang digunakan yakni arena pacuan kuda Wini dan Naen di

Kecamatan Kota Kefamenanu. Saat ini hanya terdapat 1 (satu) buah gedung serba

guna yang seringkali digunakan untuk pentas seni dan olah raga (khusus untuk

badminton). Sementara jumlah organisasi olah raga yang terdaftar sebanyak 14

organisasi.

2.3 Aspek Pelayanan Umum

Salah satu alasan keberadaan pemerintah daerah adalah untuk

memberikan pelayanan publik secara berkualitas baik berupa barang publik

maupun jasa publik guna memenuhi kebutuhan dan menjawab tuntutan

masyarakat. Sehubungan dengan konteks pelaksanaan otonomi daerah, pelayanan

publik dipilah kedalam dua jenis urusan pemerintahan yakni urusan wajib dan

urusan pilihan. Urusan wajib merupakan urusan yang harus dilaksanakan untuk

memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat sedangkan urusan pilihan

adalah urusan yang dipilih sesuai kondisi dan potensi unggulan daerah untuk

(37)

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib a. Pendidikan

Pembangunan pendidikan di Kabupaten TTU selama 5 (lima) tahun

terakhir yakni periode 2005 – 2010 mengalami perkembangan yang cukup baik meski masih terdapat banyak kekurangan/kelemahan yang harus dibenahi. Ada 3

(tiga) indikator utama yang umum digunakan untuk mengukur kinerja

pembangunan pendidikan yakni 1) tingkat kelulusan siswa, 2) Angka Partisipasi

Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK), dan 3) angka buta huruf.

Tingkat kelulusan siswa menunjukkan indikator kualitas dan kemapanan

layanan pendidikan suatu daerah. Dalam 5 (lima) tahun terakhir angka kelulusan

siswa pada jenjang SD berjalan fluktuatif namun secara umum mengalami

peningkatan. Rata-rata persentase kelulusan siswa SD sebesar 94,97%. Pada

kondisi tahun ajaran 2009/2010, kelulusan siswa SD mencapai 95,23% dan tahun

pelajaran sebelumnya sebesar 94,67%. Trend kenaikan yang sama dialami pula pada level SMP dan SMA, rata-rata persentase kelulusan selama 5 (lima) tahun

terakhir cukup baik, masing-masing sebesar 64,22% dan 90,34%. Mengacu pada

paparan angka tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas kelulusan siswa

semakin membaik namun masih dibutuhkan pembenahan lebih lanjut karena

persentase kelulusan terutama untuk level SMP dan SMA belum memuaskan.

Indikator lainnya adalah APK dan APM sebagaimana telah diuraikan pada

sub bab 2.2. di atas menunjukkan bahwa untuk semua jenjang pendidikan masih

rendah terlebih untuk jenjang SMP dan SMA namun secara umum sudah

mengalami suatu kemajuan. Hal ini menunjukkan bahwa daya serap sistem

pendidikan terhadap penduduk usia sekolah (SD) semakin membaik yang dipicu

oleh menguatnya peran keluarga untuk menyekolahkan anak usia sekolah

semakin tinggi dan didukung dengan intervensi kebijakan pemerintah untuk

mengentaskan kebodohan melalui program Wajib Belajar Sembilan tahun dan

kebijakan lainnya yang memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang

mampu. Sementara untuk level SMP dan SMA belum menampilkan suatu

kemajuan yang berarti. Daya tampung sekolah untuk kedua level sekolah tersebut

masih rendah meski berbagai kebijakan yang meringankan beban biaya sekolah

telah dibuat oleh pemerintah. Persoalan ini sekaligus menjelaskan bahwa

(38)

sekolah yang tidak bersekolah. Khusus untuk PAUD, angka partisipasinya masih

rendah karena keterbatasan sarana pendidikan untuk anak usia dini. Sementara

data mengenai angka buta huruf yakni penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak

dapat membaca dan menulis huruf latin menunjukkan prosentase yang semakin

berkurang.

Terkait dengan analisa ketiga indikator utama tersebut, tentu banyak hal

yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kualitas pendidikan di Kabupaten

TTU. Ada beberapa indikator turunan yang dapat dideskripsikan untuk membantu

menganalisis kondisi pembangunan pendidikan sekaligus mengukur kinerja

pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan sebagai urusan wajib.

Indikator-indikator tersebut adalah rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia

sekolah, rasio guru dan murid, ketersediaan fasilitas sekolah, angka putus sekolah,

angka melanjutkan sekolah dan persentase guru yang memenuhi kualifikasi

S1/D-IV.

Rasio ketersediaan sekolah terhadap jumlah murid juga berpengaruh

terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selama 5 (lima) tahun terakhir,

rata-rata rasio ketersediaan sekolah terhadap jumlah murid pada jenjang SD sebesar

74,09, SMP sebesar 44,81 dan jenjang SMA mencapai 9,86. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa dari 10.000 penduduk usia sekolah (7 – 12 tahun) terdapat 74 sekolah SD sehingga daya tampung sekolah dasar rata-rata sebanyak 135 anak

usia sekolah. Demikian pula pembacaan yang sama untuk jenjang SMP dan SMA

sesuai rasio masing-masing. Kemampuan menampung penduduk usia sekolah SMP

sebanyak 223 anak usia sekolah dan daya tampung sekolah SMA berjumlah 1014

peserta didik. Selain menunjukka masih minimnya ketersediaan sekolah, hal ini

sekaligus menjelaskan bahwa tingkat persebaran sekolah yang kurang merata

menyebabkan daya jangkau atau akses penduduk usia sekolah terhadap layanan

pendidikan kurang memadai baik secara geografis maupun secara ekonomis.

Untuk menjawab permasalahan ini, sebenarnya pertumbuhan jumlah sekolah

pada semua jenjang sudah menunjukkan peningkatan namun seiring dengan itu

laju pertumbuhan penduduk usia sekolah pun terus bertambah. Artinya bahwa

rasio ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah belum mampu memenuhi

kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan.

Sehubungan dengan itu, perlu dipaparkan pula mengenai rasio guru dan

Gambar

Gambar 2.1 Peta Wilayah Administratif Kabupaten TTU
Tabel 2.1.
Tabel 2.2.
Tabel 2.3.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula halnya dengan mayoritas penduduk di Kabupaten Kotawaringin Timur, dimana sekitar 71% penduduknya berada di daerah pedesaan, dengan sektor pertanian

PKOR atau lebih akrab disebut “pekor” merupakan singkatan dari Pusat Kegiatan Olahraga.Secara administratif PKOR Way Halim berada di Kelurahan Way Halim, Kecamatan

c) Kawasan pengembangan budi daya rumput laut jenis cotoni terdapat di Kecamatan Larompong Selatan, Larompong, Suli, Belopa, Belopa Utara, Kamanre, Ponrang

Terdapat 3 halte yang berada di wilayah penelitian ini yaitu yang pertama ada Halte di Kelurahan Petojo Utara Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat yang merupakan tempat

Kondisi topografi Kabupaten Labuhanbatu pada umumnya memiliki ketinggian yang rendah dengan kelerengan yang relatif datar dari Kecamatan Panai Hilir hingga Kecamatan

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa penduduk usia lanjut dan usia balita yang berada di wilayah deliniasi memiliki rata-rata yaitu sebesar 11,06%, dimana kecamatan yang

59 Berdasarkan RTRW Kota Cimahi Tahun 2012-2032, Kecamatan Cimahi tengah berada pada fungsi pusat pelayanan kawasan yang terdiri dari daerah CBD meliputi Kelurahan Cimahi,

Lebih rinci, setiap kelurahan yang ada di Kecamatan Telukjambe Timur memiliki batas administratif menurut arah mata angin dapat dilihat pada Tabel 3.2