• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Pilihan a Kelautan dan Perikanan

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 62-69)

2.3 Aspek Pelayanan Umum

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan a Kelautan dan Perikanan

Kelautan dan perikanan merupakan salah satu urusan pilihan yang dapat dikembangkan untuk mengembangkan penghasilan/pendapatan masyarakat. Karena sifatnya pilihan maka perlu disesuaikan dengan potensi daerah otonom yang memilih urusan dimaksud. Sejalan dengan argumen ini, Kabupaten TTU memilih untuk menjalankan urusan perikanan dan kelautan karena terdapat potensi kelautan yang cukup luas di daerah perairan pantai utara. Urusan ini

sangat prospektif bagi masyarakat Kabupaten TTU bila pengelolaan potensi perikanan dan kelautan di kawasan pantai utara optimal. Selama ini pengelolaan kekayaan laut di pantai utara masih jauh dari maksimal. Karenanya, Pemerintah Daerah Kabupaten TTU telah mencanangkan suatu program yang memotivasi rakyat untuk aktif memanfaatkan potensi laut yaitu GEMALA (Gerakan Masuk Laut). GEMALA tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang menjalankan aktivitas di laut tetapi juga untuk mensuplai ikan dan hasil laut lainnya kepada masyarakat yang tidak berprofesi sebagai nelayan.

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan pengelolaan potensi perikanan dan kelautan. Indikator utama yang dipakai untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan bidang ini adalah produksi perikanan, konsumsi ikan, cakupan bina kelompok nelayan dan produksi perikanan kelompok nelayan. Dalam 5 (lima) tahun terakhir, perkembangan produksi ikan tangkapan bersifat fluktuatif namun secara umum mengalami peningkatan. Pada keadaan tahun 2010, produksi ikan tangkapan mencapai 437,67 ton. Selain ikan tangkapan, produksi ikan budidaya juga mengalami trend yang sama yakni cenderung meningkat. Produksi ikan budidaya air payau pada kondisi tahun terakhir sebanyak 195,8 ton sementara produksi ikan budidaya air tawar mencapai 7,8 ton. Indikator lainnya adalah jumlah nelayan yang juga meningkat dari tahun ke tahun, dimana pada kondisi 2006 jumlah nelayan sebanyak 683 orang, lalu meningkat menjadi 712, meningkat lagi menjadi 742 dan pada tahun 2010 berjumlah 798.

Tampilan data ini menunjukkan betapa rendahnya minat masyarakat mengelola mengelola sumber daya perikanan dan kelautan. Baik produksi ikan maupun jumlah nelayan yang jumlahnya masih rendah melukiskan belum optimalnya kinerja pemerintah daerah mengembangkan sektor ini. Meski kinerja belum optimal namun penting untuk mengapresiasi upaya dan langkah kongkrit yang telah diambil oleh pemerintah daerah karena hal ini telah menjadi dasar pijak pengembangan sektor perikanan dan kelautan untuk 5 (lima) tahun ke depan.

b. Pertanian

Struktur perekonomian daerah dalam beberapa tahun terakhir masih didominasi oleh bidang pertanian (dalam arti luas). Hal ini diindikasikan oleh kontribusi sektor pertanian terhadap total PDRB yang mencapai 47%. Sektor pertanian menjadi sektor unggulan (core competence) daerah terutama sub sektor pertanian tanaman pangan dan peternakan. Dengan menyandang predikat sebagai sektor primadona, pertanian kemudian menjadi prioritas utama pembangunan daerah. Pertanian ditempatkan sebagai lokomotif bagi bagi sektor-sektor lainnya. Asumsinya bahwa pertanian yang maju akan mampu menarik perkembangan bidang lainnya, pendidikan akan menjadi maju, kesehatan akan baik, lingkungan hidup menjadi lestari dan koperasi dan UKM pun akan menjadi lebih maju, sehingga dalam Panca Program Strategis Kabupaten TTU 2005 – 2010, program pengembangan pertanian ditempatkan sebagai program pertama, sebagai prioritas utama untuk meningkatkan ekonomi rakyat.

Keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan pertanian kemudian memberikan hasil yang cukup baik. Meski fluktuatif namun secara umum mengalami peningkatan produktivitas untuk semua jenis tanaman. Bedasarkan data pada tabel 2.17 di bawah ini menjelaskan bahwa produktivitas pertanian tanaman pangan (padi dan jagung), perkebunan (jambu mente) dan tanaman hortikultura (jeruk keprok dan bawang putih) semakin membaik. Pada tahun 2009 produksi Padi sawah 3,9 Ton/ha; padi ladang 2,1 Ton/ha; jagung 2,59 Ton/ha; Kacang Tanah 1,48 Ton/ha, jeruk keprok 55.138 Ton/tahun; Bawang putih 200 Ton/tahun dan komoditas jambu mete 1.485,91 Ton/ha serta komoditas ternak sapi mencapai 86.319 ekor/tahun.

Tabel 2.16. Capaian Hasil Urusan Pertanian Untuk Komoditas Unggulan di Kabupaten TTU Tahun 2006-2009

No Indikator

(Produktivitas/Produksi)

Capaian Hasil

2006 2007 2008 2009

1 Padi:

a. Padi Sawah (Ton/ha) 1,76 1,77 3,5 3,9 b. Padi Ladang (Ton/ha) 0,9 1,36 1,76 2,1

No Indikator

(Produktivitas/Produksi)

Capaian Hasil

2006 2007 2008 2009

2 Jagung (Ton/Ha) 1,01 1,08 1,61 2,59

3 Kacang Tanah (Ton/ha) 0,3 0,3 0,3 1,48 4 Jeruk Keprok (Ton/Tahun) 24,835 3.167 42,341 55.138 5 Bawang Putih (Ton/Tahun) 92 80 44 200 6 Jambu Mete (Ton/Tahun) 1.219,80 1.304,61 1.486 1.485,91 7 Ternak Sapi (ekor/tahun) 75.475 86.168 86.239 86.319

Sumber Data : BPS TTU dan Olahan dari Beberapa dokumen lainnya.

Hal ini sekaligus mengindikasikan keberhasilan pembangunan pertanian meski harus diakui bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan kekurangpuasan atas prestasi ini. Beberapa diantaranya adalah masih banyak lahan tidur yang belum dikelola dan masih tingginya angka kemiskinan di wilayah pedesaan yang sebagian besarnya bekerja sebagai petani. Artinya bahwa, angka- angka ini belum mampu melepaskan rakyat miskin dari ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Namun secara agregat beberapa komoditas ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, sehingga dikelompokan menjadi komoditas unggulan yang dapat mendongkrak nilai ekonomi dan pendapatan masyarakat di Kabupaten TTU.

c. Kehutanan

Pembangunan bidang kehutanan di Kabupaten TTU selama ini terbentur beberapa kendala teknis, diantaranya adalah cakupan kawasan hutan yang melingkupi 77 desa sehingga terjadi ketidakjelasan kepemilikan lahan masyarakat yang berada dalam kawasan hutan tersebut. Persoalan lainnya adalah tingkat kerusakan hutan yang masih tinggi akibat pola pertanian sebagian rakyat TTU masih tradisional yakni dengan cara tebas bakar dan berpindah-pindah. Dari persoalan ini, pemerintah daerah telah mengupayakan agar pihak departemen kehutanan dapat meninjau kembali kawasan hutan yang meliputi puluhan desa

tersebut. Sementara untuk persoalan tradisi bertani yang cenderung merusak kawasan hutan, pemerintah telah mencanangkan program UBUNTAP (Usaha Kebun Menetap) dengan tujuan agar system tebas bakar dapat dikurangi sampai pada titik terendah. Sejauh ini, kerusakan kawasan hutan telah mencapai 817,5 ha dari total kawasan hutan lahan kritis yang mencapai 256.126 ha.

Menyikapi problema kerusakan hutan yang masih tinggi maka pemerintah daerah telah melakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis. Data tentang capaian rehabilitasi lahan dan hutan sejak 2006 hingga 2010 (keadaan Mei) tertera dalam tabel berikut :

Tabel 2.17. Rehabilitasi Lahan Kritis dan Hutan Kabupaten TTU Tahun 2006 – 2010

NO Tahun

Rehabilitasi Lahan Kritis dalam Kawasan Hutan (Ha)

Rehabilitasi Lahan Kritis Luar Kawasan

Hutan (Ha) Rehabilitasi Hutan Mangrove (Ha) Budidaya Kayu Putih (Ha) 1. 2. 3. 4. 5. 2006 2007 2008 2009 2010 17.722 18.522 18.522 18.542 18.542 31.115 31.915 32.115 32.735 32.785 228 298 298 318 338 20 20 - 20 20 Sumber Data: Dinas Kehutanan Kabupaten TTU Tahun 2010

Kinerja pembangunan kehutanan juga tampak jelas dari tingkat kerusakan hutan dan seberapa besar share sektor kehutanan bagi PDRB. Data tentang kerusakan hutan telah diuraikan di atas sementara kontribusi sub sektor ini terhadap total PDRB mencapai 0,88%. Sebagai bagian dari sektor pertanian, sumbangan sub sektor kehutanan masih tergolong rendah. Artinya bahwa nilai tambah yang dihasilkan dari bidang kehutanan belum mencerminkan optimalnya pengelolaan sumber daya hutan.

d. Energi dan Sumber Daya Mineral

Optimalisasi pemanfaatan SDA seringkali tidak berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan hidup sehingga merugikan lingkungan dan masyarakat sekitar lokasi. Contoh kongkritnya adalah pertambangan marmer di Desa Teba dan Desa Oenbit yang kemudian menyisakan kerusakan hutan di lokasi tambang. Contoh lainnya adalah pertambangan batu mangan yang telah dilakukan sejak 2008 lalu, juga merusak lingkungan bahkan telah memakan korban nyawa karena ketidaksiapan masyarakat menekuni profesi barunya sebagai penambang. Pertambangan batu mangan saat ini telah menjadi primadona masyarakat Kabupaten TTU karena mampu menghasilkan banyak uang dalam hitungan jam. Akan tetapi resiko yang ditimbulkan pun sangat besar, selain kerusakan lingkungan juga taruhan nyawa manusia.

Karena itu, sejak awal mesti ada kesepakatan antara pemerintah daerah dengan para pihak yang mengelola tambang mangan tersebut untuk mereklamasi lokasi tambang pada setiap akhir tahun. Di samping itu, usaha pertambangan juga harus didahului dengan pemberian ijin dari pemerintah daerah sehingga jelas apa yang menjadi hak dan kewajiban pengusaha. Secara makro, kinerja pelayanan di bidang ini dapat digambarkan melalui kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB yang mencapai 1,4%.

e. Pariwisata

Arah dan tujuan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten TTU adalah untuk menjadikan TTU sebagai daerah destinasi dan transit dari dan ke negara Timor Leste. Untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan baik mancanegara maupun domestik maka pemerintah daerah telah melakukan beberapa terobosan seperti mempromosikan potensi wisata daerah ke luar negeri dan di dalam negeri. Outcome yang diharapkan dari upaya tersebut adalah meningkatnya kunjungan wisatawan. Kunjungan wisatawan yang semakin tinggi akan meningkatkan sirkulasi uang dalam daerah dan dengan demikian akan berdampak langsung pada menguatnya ekonomi masyarakat.

Pengukuran kinerja pemerintah daerah dalam memberikan layanan di bidang ini maka setidaknya ada 2 (dua) indikator yang digunakan yakni jumlah

kunjungan wisatawan dan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB. Data mengenai kunjungan wisatawan sejak 2006 – 2010 tertera dalam tabel berikut.

Tabel 2.18. Jumlah Kunjungan Wisatawan di Kabupaten TTU Tahun 2006-2010

No Wisatawan

Jumlah Pengunjung (Orang)

2006 2007 2008 2009 2010* 1. 2. Domestik Mancanegara 22.191 188 22.626 198 17.824 148 25.622 260 12.811 131 Sumber Data: LKPJ Bupati TTU Akhir Masa Jabatan 2005 – 2010

*) sampai dengan Mei 2010

Sementara kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB dalam beberapa tahun terakhir rata-rata mencapai 0,7%. Sajian data ini menjelaskan bahwa pengelolaan pariwisata di Kabupaten TTU belum optimal yang ditunjukkan dengan kedua indicator tersebut. Karena sangat dibutuhkan terobosan lain yang mampu mengoptimalkan pembangunan kepariwisataan di daerah.

f. Industri

Pembinaan sektor industri di Kabupaten TTU lebih diarahkan pada jenis industri rumah tangga (home industry) guna memberdayakan ekonomi masyarakat kecil. Alasan lainnya, bahwa perindustrian di Kabupaten TTU masih didominasi industri kecil dan belum terdapat industri dalam skala besar.

Capaian kinerja pemerintah daerah dalam memberikan layanan kepada masyarakat di bidang industri tercermin dari beberapa indikator yakni kontribusi sektor perindustrian terhadap PDRB, pertumbuhan industri dan cakupan bina kelompok pengrajin. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, rata-rata share sektor perindustrian bagi PDRB mencapai 1,58%. Sementara pertumbuhan industri sebesar 0,09% dan jumlah kelompok pengrajin yang dibina sebanyak 302 unit dari 1.018 unit industri yang ada.

g. Perdagangan

Penguatan sektor perdagangan di daerah menjadi suatu keniscayaan untuk meningkatkan geliat ekonomi daerah. Sektor ini juga sangat membantu pemerintah daerah dalam upaya mengurangi pengangguran sebab bidang usaha perdagangan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup banyak.Kinerja pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor perdagangan terbaca dari kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB dan cakupan bina kelompok/usaha informal. Pada tahun 2010, kontribusi sub sektor perdagangan (dalam skala besar dan eceran) terhadap PDRB mencapai 7,2% sementara cakupan kelompok usaha yang dibina sebanyak 70 unit. Dengan angka ini maka dapat disimpulkan bahwa sektor ini sesungguhnya masih membutuhkan banyak dorongan agar terjadi peningkatan yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat.

h. Ketransmigrasian

Ketransmigrasian merupakan salah satu urusan pilihan yang dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten TTU. Upaya pengembangan bidang ini dilakukan melalui program pengembangan transmigrasi yang meliputi beberapa kegiatan penting seperti pembangunan kawasan Kota Terpadu Mandiri, pendampingan dan pelatihan bagi para transmigran, penempatan transmigran, dan lain sebagainya.

Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja pemerintah daerah memberikan layanan di bidang ini adalah jumlah transmigran swakarsa. Pada tahun 2010, jumlah transmigran swakarsa sebanyak 50 KK dari total transmigran lokal sebanyak 150 KK. Paparan ini sekaligus menjelaskan bahwa kinerja pelayanan di bidang ketransmigrasian masih tergolong rendah.

Dalam dokumen BAB 2 Gambaran Umum Wilayah_ 31 okt_B5 (Halaman 62-69)

Dokumen terkait