KAJIAN SEJARAH DAN SOSIOLINGUISTIK
A. Pengapsahan Kitab Kuning Pesantren 1. Pengertian Kitab Kuning
2. Format dan Karakter Teks Kitab Kuning
Format kitab klasik yang paling umum digunakan di pesantren sedikit lebih kecil dari kertas kuarto (26 cm) dan tidak dijilid. Lembaran-lembaran (koras-koras) tak terjilid dibungkus kulit sampul, sehingga para santri dapat membawa hanya satu halaman yang kebetulan sedang dibaca dan dipelajari saja. Ini adalah simbolik: ia membuat kitab tampak lebih klasik. Kitab yang ditulis para pengarang modern, penerjemah atau pensyarah modern tidak pernah dibuat mengikuti format ini. Banyak pemakai kitab klasik yang sangat mengkaitkan karakteristik ini dengan kitab klasik, dan penerbit mengikuti saja selera konsumennya. Sebagian penerbit bahkan mencetak kitab di atas kertas berwarna kuning (yang diproduksi khusus untuk mereka oleh beberapa perusahaan Indonesia) karena tampaknya kitab berwarna kuning ini juga menjadi lebih klasik di pikiran para pemakainya.5
Adapun terkait dengan karakter gaya teks bahasa Arab kitab kuning memang sedikit berbeda dengan gaya bahasa teks Arab Modern. Teks bahasa Arab kuning dapat dikatagorikan sebagai gaya bahasa Arab klasik. Hal ini dikarenakan sebuah teks dapat dikatakan klasik jika teks atau tulisan itu sudah berumur lebih dari seratus tahun. Usia teks yang sudah berumur seratus tahun ke atas ini, tentunya akan
48
sedikit berbeda jika dibandingkan dengan gaya bahasa teks saat ini. Dalam kasus teks Arab, perubahan format dan gaya bahasa teks biasanya baru nyata terlihat pada teks-teks yang berumur 100 tahun ke atas.
Secara umum, terdapat beberapa karakteristik tentang format dan gaya bahasa teks klasik, di antaranya adalah; (a) bahasa yang digunakan lebih bernuansa sastra dan bombastis; (b) sistematika buku ditandai dengan ،عرف ،هيبنت باب ،لصف yang setara dengan bab dan sub bab; (c) tema terkait dengan masalah agama; (d) tidak dilengkapi dengan tanda baca; (e) tidak dilengkapi dengan paragraf; dan (f) kalimatnya panjang-panjang.6
Karakteristik teks kitab klasik yang lain adalah kata-kata yang digunakan, secara semantis terkadang sudah mengalami perubahan, baik perubahan yang berupa penyempitan makna (tad}yīq al-ma’na) maupun sebaliknya. Selain karakteristik kata dan makna yang digunakan, perbedaan teks klasik dan modern dapat dilhat pada gaya bahasa dan juga pola kalimat yang digunakan.
6 Moh Syarif Hidayatullah, Jembatan Kata: Seluk Beluk Penerjemahan Arab-Indonesia (Jakarta: PT Grasindo, 2017), 94
49 3. Pengertian Pengapsahan Kitab
Sebagian besar ahli sejarah sepakat bahwa gerakan islamisasi di Nusantara salah satunya ditandai dengan adanya gerakan penerjemahan kitab-kitab keagamaan oleh masyarakat santri. Dalam konteks penerjemahan kitab-kitab pesantren, kegiatan alih bahasa ini sering juga disebut dengan pengapsahan.
Kata “terjemah” merupakan kata serapan bahasa Arab, yang diambil dari kata ”tarjama”, yang secara leksikal, memiliki arti “menjelaskan”, seperti pada kalimat “tarjama al-kalāma” berarti “fassarahu bi lisānin ākhar” (menjelaskan dengan bahasa lain). Ada juga yang berarti “memindahkan arti kepada bahasa lain”, seperti pada kalimat “tarjamahu bi al-turkiyyah” yang berarti “naqalahu ila al-lisāni al-Turkiyyah” (memindakan kepada bahasa Turki).7
Sementara itu, secara terminologis “terjemah” dapat diartikan sebagai “usaha memindahkan pesan dari teks berbahasa Arab (teks sumber) dengan padanannya ke dalam bahasa Indonesia (bahasa sasaran)”.8 Sementara itu, Hoad (1992) seperti dikutip Kardimin menegaskan bahwa penerjemahan merupakan kegiatan mengalihkan secara tertulis pesan dari teks suatu bahasa ke dalam teks bahasa
7 Lihat Kamus Al-Maurīd fi al-Lugah (Beirut: Dār al-Masyreq Sari, 2008) cet. 43, 60
8 Ibnu Burdah, Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), 9-10
50
lain. Dalam hal ini teks yang diterjemahkan disebut teks sumber (Tsu) dan bahasanya disebut bahasa sumber (Bsu). Berkenaan dengan hasil terjemahannya teks yang disusun oleh penerjemah disebut teks sasaran (Tsa) dan bahasanya disebut bahasa sasaran (Bsa).9
Larson seperti dikutip Burdah mendefinisikan penerjemahan sebagai pengalihan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran melalui tiga langkah pendekatan; (1) mempelajari leksikon, struktur gramatika, situasi komunikasi, dan konteks budaya dari teks bahasa sumber; (2) menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya; (3) mengungkapkan kembali makna yang sama dengan menggunakan (4) leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran.10
Pendapat Larson ini menunjukan bahwa proses penerjemahan dilakukan secara teliti sesuai dengan kaidah yang berlaku pada bahasa sumber. Dengan penerjemahan secara utuh dan tetap berdasar pada kaidah kebahasaan bahasa sumber ini, paling tidak dapat meminimalisir kesalahan atau kekaburan makna yang terkandung dalam teks, sehingga hasil penerjemahannya tidak bebas dan liar begitu saja. Terlebih, jika bahasa sumber yang diterjemahkan
9 Kardimin, Ragam Penerjemahan. Mukaddimah. Jurnal Studi Islam. Vol. 2, No.1 (2017), 191
10 M.L. Larson, Meaning-Based Translation (London” Prentice Hall, 1984), 3. Lihat Juga Kardimin, Ragam Penerjemahan, 1991-1992
51
memiliki kaidah gramatikal yang komplek serta memiliki dimensi-dimensi linguistik yang rumit, seperti yang terdapat dalam sistem gramatika bahasa Arab.
Dalam kegiatan penerjemahan kitab pesantren, sebenarnya banyak ragam istilah yang ditemukan seperti “terjemahan jenggotan”. Ada juga yang menyebutnya “pemaknaan gandul” atau “terjemahan gantung”, bahkan ada yang menamainya dengan “penerjemahan antar baris“ dan lain sebagainya. Penulis sendiri menyebutnya dengan model “pengapsahan”. Hal ini dikarenakan, pada prakteknya mengkaji teks kitab kuning tidak hanya sebatas memaknai setiap kata dengan model gantung tapi lebih dari itu, yakni menjelaskan bahkan juga menafsirkan maksud isi kandungan yang ada dalam teks tersebut. Sehinga tidak sedikit kitab-kitab pengapsahan dalam bentuk narasi bebas akan tetapi isi kandungannya tidak menyimpang dari arti kandungan teks aslinya.
Namun demikian, simbol-simbol gramatik seperti yang biasa digunakan dalam pengapsahan lengkap tetap digunakan dalam pola pengapsahan deskriptif-interpretatif ini. Model yang demikian, secara konsisten dilakukan ulama Indonesia dalam menerjemahkan kitab-kitab kuning pesantren. Kata “pengapsahan” sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab, yakni dari kata “fas}ah}a” yang ber-wazan “af’ala” menjadi “afs}ah}a” yang berarti “menjelaskan
52
maksud” (bayyana murādahu).11 Berangkat dari pengertian inilah bahwa istilah pengapsahan dalam kajian ini tidak semata dipahami sebagai pola penerjemahan gantung seperti yang selama ini dipahami sebagaian besar masyarakat, tapi juga meliputi semua model penerjemahan kitab termasuk penerjemahan deskriptif-interpretatif, atau penerjemahan bebas, selama model penerjemahan itu masih menggunakan unsur-unsur pengapsahan kitab, seperti penggunaan aksara
pegon, penggunaan simbol-simbol gramatik dan
menyertakan sebagian potongan teks sumber yang diterjemahkan.