• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Ulama-ulama Pesisir Utara Jawa Tengah: Penulis dan Penerjemah Kitab-kitab Pesantren

Wilayah pesisir utara Jawa Tengah dapat dikatakan sebagai salah satu basis wilayah pesantren, dimana para kiai lahir dari daerah tersebut. Di samping mengajar dan mendidik santri, para kiai tersebut juga menulis dan menerjemahkan kitab-kitab keagamaan klasik yang diajarkan di pesantren. Produktivitas para kiai ini dapat dilihat dari banyaknya kitab-kitab terjemahan yang selama ini beredar dan dipelajari di beberapa pesantren di Indonesia. Kitab-kitab itu ditulis atau dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Berikut beberapa kiai pesisir utara Jawa Tengah yang cukup produktif dalam menulis, menerjemahkan dan memberikan komentar kitab-kitab klasik pesantren:

1. Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak Batang

Di kalangan masyarakat Rifa’iyah, sampai saat ini diyakini bahwa Kiai Ahmad Rifa’i dilahirkan pada tahun 1786 M di Desa Tempuran yang terletak di sebelah selatan Masjid Besar Kendal. Ayahnya bernama Muhammad Marhum, anak seorang penghulu Landeraad Kendal bernama RKH. Abu Sujak alias Sutjowidjoyo. Dalam satu sumber disebutkan, sejak kecil ia telah ditinggalkan oleh

175

ayahnya dan kemudian dipelihara oleh kakeknya bernama Kiai Asy’ari, seorang ulama terkenal di wilayah Kaliwungu yang kemudian membesarkannya dengan pendidikan agama.1

Dengan demikian, masa remajanya berada dalam lingkungan kehidupan agama yang kuat karena Kaliwungu merupakan wilayah yang sejak dulu terkenal sebagai pusat perkembangan Islam di wilayah Kendal dan sekitarnya. Di lingkungan inilah ia diajarkan bermacam-macam ilmu pengetahuan agama Islam yang lazim dipelajari dunia pesantren seperti ilmu Nah}w, S}arf, Fiqh, Badī’, Bayān, Ilmu H}adis|, dan Ilmu Al-Qur’ān.2

Hal ini yang kemudian menyebabkan ia banyak berhubungan dengan bahasa Arab. Kiai Ahmad Rifa’i pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus belajar di sana dan sekembalinya dari Mekah ia banyak melakukan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa yang kemudian disebut dengan kitab Tarajumah.

Kiai Ahmad Rifa’i termasuk salah satu kiai yang produktif dalam menulis kitab, terutama kitab berbahasa Jawa dengan nilai sastra yang sangat tinggi.3 Kitab-kitabnya

1 Ahmad Syadzirin Amin, Mengenal Ajaran Tarjumah Syaikh H. Ahmad Rifa’i (Pekalongan: Yayasan Al-Insap), 9

2 Ahmad Syadzirin Amin, Mengenal Ajaran Tarjumah, 10

3 Sartono Kartodihardjo dkk., Sejarah Nasional Indonesia (Jakarta: Departemen P & K, 1975), jilid IV, 301.

176

merupakan saduran dari kitab-kitab berbahasa Arab hasil tulisan ulama terdahulu ditambah dengan dalil-dalil dari al-Qur’ān dan H}adis|.4 Sementara itu, penamaan Tarajumah merupakan upaya menghindari konsekwensi politis karena banyak ungkapan yang dinilai berbahaya bagi pemerintah kolonial Belanda dan untuk memberikan kesan bahwa kitab itu bukanlah pandangan Kiai Ahmad Rifa’i sendiri, tapi hanya sekedar menyalin dari kitab berbahasa Arab.5

Bentuk tulisan kitab ini adalah Arab Jawa (pegon), dengan uraian berbentuk syair. Kemampuan menyampaikan Islam dengan kitab berbahasa Jawa, dan berirama syair ini menarik bagi orang Jawa.6 Di antara beberapa kitab karangannya, terdapat tiga buah yang merupakan induknya, yaitu kitab Ri’āyah al-Himmah, kitab Abyān al-Hawāiz, dan kitab Muh}ibbah. Ketiga kitab ini mengandung pelajaran dasar tentang ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf. Sampai saat ini, ketiga kitab tersebut masih digunakan dalam pesantren-pesantren Rifa’iyah.7

4 Sartono Kartodihardjo dkk., Sejarah Nasional, 92

5 Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak (Yogyakarta: LKiS, 2001), 25

6 Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (Jakarta: 1984), 116.

7 Ahmad Adaby Darban, Rifa’iyah: Gerakan Sosial Keagamaan di Pedesaan Jawa Tengah 1850-1982 (Yogyakarta: Tarawang Press, 2004), 30.

177

Namun demikian, para ilmuwan serta para pengikut jama’ah Rifa’yah tidak ada kata sepakat tentang berapa jumlah kitab yang ditulis Kiai Ahmad Rifa’i, baik kitab yang ditulis ketika ia berada di Kalisalak maupun ketika ia berada di pengasingan (daerah Ambon). Ahmad Syadzirin Amin, salah seorang pemimpin jama’ah Rifa’iyah memberikan gambaran atau rincian tentang jumlah kitab- baik yang ada maupun yang hilang-, kesemuanya berjumlah 53 kitab.8 Sementara itu, Moelyadi Martosoedarmo merinci paling sedikit berjumlah 50 kitab.9 Sedangkan Kuntowijoyo merincikan karya-karya Ahmad Rifa’i tersebut berjumlah 53 kitab.10 Adapun kitab-kitab Ahmad Rifa’i mulai ditulis ketika ia menetap di Kalisalak Batang, yaitu sekitar tahun 1245 H. hingga tahun 1275 H.

Di antara nama-nama kitab berikut bahasannya yang dapat ditemukan adalah;11 kitab Nas}īh}ah al-’Awām (nasihat untuk kaum awam); membicarakan tentang amar ma’ruf dan nahi munkar, selesai ditulis pada tahun 1254 H./ 1837 M.; kitab Syārih} al-īmān (penjelasan tentang iman);

8 Ahmad Syadzirin Amin, Mengenal Ajaran Tarjumah, 18.

9 Depag RI, Potensi, Lembaga Sosial Keagamaan (Semarang: Balai Latihan dan Pengembangan Agama, 1982), 10.

10 Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1999), 130.

11 Ahmad Syadzirin Amin, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’i dalam Menentang Kolonial Belanda (Jakarta: Jama’ah Masjid Baiturrahman, 1997), 119-127.

178

membicarakan Iman, Islam, dan Ihsan, selesai ditulis pada tahun 1255 H./1838 M.; kitab Taysīr (kemudahan); membicarakan tentang shalat Jum’at menurut madzhab Syafi’i, selesai ditulis pada tahun 1256 H./ 1839 M.; kitab Bayān (penjelasan); membicrakan tentang ilmu pendidikan dan dakwah Islam, selesai ditulis pada tahun 1257 H./ 1839 M.; kitab Targīb (kegemaran ibadah); membicarakan tentang cara mengetahui keagungan dan kekuasaan Allah (ma’rīfah) serta kecintaan kepada-Nya, selesai ditulis pada tahun 1257 H./ 1840 M.; kitab T}arīqah (jalan kebenaran); membicarakan tentang cara menempuh jalan keridhaan Allah, selesai ditulis pada tahun 1257 H./ 1840 M.; kitab ’Ināyah (pertolongan); membicarakan tentang Khalīfah Syar’iyah dan dunyāwiyyah, selesai ditulis pada tahun 1256 H./ 1839 M.;

Kitab-kitab Kiai Ahmad Rifa’i yang lain adalah kitab At}lab (menuntut); membicarakan tentang kewajiban menuntut ilmu agama, selesai ditulis pada tahun 1259 H./ 1842 M.; kitab H}usn al-Mat}ālib (kebaikan ilmu yang dituntut); membicarakan tentang us}ūluddin, fiqh, dan tasawuf, selesai ditulis pada tahun 1259 H./1842 M.; kitab T}ulāb (pencari kebenaran); membicarakan tentang kiblat shalat di Jawa, selesai ditulis pada tahun 1259 H./1842 M.; kitab Absyar (mengupas); membicarakan tentang arah kiblat shalat di Jawa, selesai ditulis pada tahun 1259 H./1842 M.;

179

kitab Tafrīqah (pemisahan antara haq dengan bāt}il); membicarakan tentang kewajiban seorang mukalaf terhadap Allah dan masyarakat, selesai ditulis pada tahun 1260 H./ 1843 M.; kitab Asna al-Maqāsid (ketetapan yang harus dikerjakan); membicarakan tentang us}ūluddin, fiqh dan tasawuf, selesai ditulis pada tahun 1261 H./ 1845 M.; kitab Tafs}īlah (perincian); membicarakan tentang Iman, Islam, dan Ibadah, selesai ditulis pada tahun 1261 H./ 1845 M; kiab Imdād (petunjuk); membicarakan tentang sifat takabur dan akibatnya, selesai ditulis pada tahun 1261 H./ 1845 M.

Kiai Ahmad Rifa’i juga menulis kitab Irsyād (petunjuk); membicarakan tentang makrifat kepada Allah, selesai ditulis pada tahun 1261 H./ 1845 M.; kitab Irfaq (memberi manfaat), merupakan ringkasan dari kitab-kitab aqidah islamiyah yang membicarakan tentang Iman dan Islam, selesai ditulis pada tahun 1261 H./1845 M.; kitab Naz}m Arfa’ (pengharapan dan penangguhan); membicarakan tentang hikayat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, selesai ditulis pada tahun 1261 H./1845 M.; kitab Jam’ul Masā’il (kumpulan masalah-masalah); membicarakan tentang us}ūluddin, fiqh, dan tasawuf, selesai ditulis pada tahun 1261 H./1845 M.; kitab Qawā’id (pilar-pilar agama); membicarakan tentang akhlak, selesai ditulis pada tahun 1261 H./1845 M.; kitab Tah}sīn (memperbaiki); membicarakan tentang kewajiban fidyah puasa, selesai