INTERPETATIVE ANALYSIS
F. Prinsip-prinsip Dasar Pola Pengapsahan Kitab-kitab Pesantren
Dalam konteks kebahasaan, penulis mencermati bahwa pengapsahan kitab keagamaan berbahasa Arab yang dilakukan para kiai pesantren sedikit besar didasarkan pada beberapa prinsip penting. Prinsip-prinsip dasar tersebut di antaranya adalah:
Pertama: Penguasaan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’ān, H}adis| dan bahasa kitab-kitab keagamaan. Bagi masyarakat pesantren, bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat karena bahasa Arab merupakan bahasa agama. Seperti diketahui bahwa al-Qur’ān dan H}adis| Nabi, sebagai ajaran pokok agama Islam ditulis dengan bahasa Arab. Memahami isi kandungan al-Qur’ān dan H}adis| merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Untuk memahami keduanya dibutuhkan kemampua bahasa Arab. Oleh karena itu, mempelajari dan memahami bahasa Arab juga merupakan kewajiban tersendiri. Hal ini senada dengan kaidah us}ūl yang sering dipegang masyarakat pesantren, “Mā lā Yatimmu al-Wajib illa Bihi Fahuwa Wājib”. Bahasa Arab selain sebagai bahasa al-Qur’ān dan H}adis|| juga merupakan bahasa ilmu pengetahuan, di mana hampir sebagian besar kitab-kitab ajaran Islam ditulis dengan
123
bahasa Arab, tidak terkecuali kitab-kitab kuning pesantren yang saat ini masih dipelajari kaum santri dan masyarakat umum.
Kedua: Pemahamahan teks agama bagi masyarakat awam. Penerjemahan teks-teks kitab dengan pola pengapsahan merupakan upaya para kiai pesantren dalam memahamkan para santri dan masyarakat terhadap pemahaman yang komprehensif terutama dalam ajaran-ajaran agama yang terkandung dalam kitab-kitab kuning. Dengan demikian, tradisi pengapsahan merupakan salah satu misi kaum pesantren dalam melakukan penguatan keagamaan masyarakat melalui pemahaman kitab-kitab terjemahan. Hampir sebagian besar, para kiai pesantren baik itu menulis, menerjemahkan ataupun memberikan komentar pada kitab-kitab keagamaan, tiada lain ditujukan untuk memudahkan para santri dan masyarakat agar dapat memahami isi kandungan teks-teks keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab klasik berbahasa Arab.
Ketiga: Sistem bahasa Arab memiliki struktur kaidah bahasa yang kompleks. Sistem gramatika Arab tidak sama dengan sistem gramatika bahasa asing lainnya. Struktur bahasa Arab memiliki kompleksitas dan kerumitan tersendiri. Sekalipun beberapa linguist berpandangan bahwa bahasa memiliki sistem universal akan tetapi berbeda dengan bahasa Arab yang di dalamnya ditemukan khas}ā’is} tersendiri. Sebut saja model penulisan Arab yang ditulis dari arah kanan ke arah kiri misalnya, merupakan ciri khas bahasa Arab yang tidak
124
dimiliki oleh sistem tulisan bahasa asing lainnya. Uslub Jumlah fi’liyah (V+S+O) juga merupakan pola struktur yang unik yang terdapat dalam bahasa Arab. Demikian juga dengan konsep ‘Irāb, Isytiqāq (derivatif), katagori gender, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan karateristik yang khas yang terkadang menyulitkan seseorang dalam belajar bahasa Arab. Keragaman makna dalam setiap kata dalam bahasa Arab juga menjadi keunikan sistem bahasa Arab yang lain. Dengan melihat kompleksitas serta kerumitan teks Arab tersebut, para kiai pesantren menganggap pentingnya atas penguasaan ilmu nah}w-s}arf. Oleh karena itu, tidak sedikit kitab-kitab pesantren yang terkait dengan pembahasan kaidah gramatika Arab juga secara massif diterjemahkan ke dalam bahasa lokal.
Keempat: Perlunya pemahaman Teks-teks Arab secara komprehensif. Tujuan utama dari proses pembelajaran di pesantren adalah mempelajari isi kandungan kitab-kitab berbahasa Arab secara mendalam serta memahaminya secara utuh. Hal ini ditujukan agar setiap teks dalam kitab dapat betul-betul dipahami para santri. Membaca, menerjemahkan, mengerti dan juga memahami setiap isi kitab kuning merupakan kegiatan pokok dalam memahami ilmu-ilmu agama di pesantren. Sehingga tidak heran, jika banyak para santri yang menempuh pendidikan di pesantren dengan waktu yang cukup lama. Dalam pandangan kiai pesantren, memahami ilmu agama itu harus mendalam, termasuk dalam memahami isi kandungan teks
125
kitab-kitab kuning. Dengan kata lain, para santri dituntut untuk terus berupaya mengkaji dan memahami isi kandungan kitab, sehingga mereka akan mendapat pengetahuan yang lebih komprehensif dengan apa yang sudah mereka pelajari.
Kelima: Penerjamahan teks secara lughawy dan tafsīry. Seperti dijelaskan di awal bahwa kompleksitas sistem dalam bahasa Arab tidak hanya terletak pada struktur bahasa yang dimiliki, tapi juga terletak pada sistem makna (meaning system). Diakui bahwa satu kata dalam bahasa Arab memiliki banyak makna, dari mulai makna leksikal (al-ma’na al-mu’jamy), makna gramatikal (al-ma’na al-nah}wy) hingga makna kontekstual (al-ma’na al-siyāqy). Dalam memahami kompleksitas makna tersebut dibutuhkan penerjemahan secara lugawy dan tafsīry. Makna kontekstual bisanya mebutuhkan penjelasan atau tafsiran (interpretative analysis) yang lebih panjang dalam pengapsahan kitab yang dilakukan para kiai pesantren. Dengan demikian, tidak jarang para kiai melakukan penjelasan dengan menggunakan disiplin ilmu lain yang terkait (interdisipliner). Hal ini agar pemahaman para santri terhadap teks yang dibaca cukup mendalam dan juga kaya dengan wawasan pengetahuan.
Namun demikian, pola-pola pengapsahan kitab serta rumusan prinsip-prinsip dasar pengapsahan di atas juga mendapatkan kritik baik di kalangan ilmuwan bahasa Arab
126
maupun praktisi pendidikan khususnya di bidang pembelajaran bahasa Arab.
Dalam konteks pembelajaran bahasa, pola-pola pengasahan teks bahasa Arab tersebut masih berkutat pada pembelajaran gramatika Arab. Padahal, kajian bahasa Arab tidak hanya nah}w dan s}arf tapi juga kajian kompetensi lain seperti yang tertuang dalam empat kemahiran berbahasa (al-mahārāt al-arba’). Pola pengapsahan masih bertumpu pada belajar tentang bahasa bukan belajar tentang berbahasa. Secara metodologis, pola pengapsahan teks ini lebih menekankan pada pembelajaran nah}w dan tarjamah.
Pola pembelajaran nah}w dan tarjamah ini cenderung mengabaikan kemahiran lain seperti kemahiran berbicara (mahārah al-kalām), dan juga cenderung banyak menggunakan bahasa ibu dibanding menggunakan bahasa Arab (bahasa sumber).25 Para pelajar juga hanya mempelajari satu ragam bahasa, yaitu ragam bahsa tulis klasik, sedangkan bahasa tulis modern dan bahasa percakapan tidak diperoleh.26 Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain mengenai kekurangan sistem pembelajaran model Gramatika-Terjemah, yang salah satu polanya adalah pengapsahan kitab-kitab klasik yang biasa diajarkan di beberapa pesantren salaf di Indonesia.
25 Muhammad Ali al-Khuli, Asālib Tadrīs al-Lugah al-Arabiyah (Riyādh: al-Mamlakah al-Arabiyah al-Su’ūdiyyah, 1982), 21
26 Ahmad Fuad Effendi, Metodologi Pengajarab Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2012), 44
127 BAB IV