PENULISAN DAN PENGAPSAHAN KITAB-KITAB KIAI PESISIR UTARA JAWA TENGAH ABAD XIX-XX
A. Pola Pengapsahan Deskriptif-Interpretatif
2. Sistem Tanda Ruj ū ’ dan Marja’
Dalam pola pengapsahan kitab-kitab pesantren, selain digunakan simbol dan tanda gramatik, digunakan juga sistem tanda-tanda anaforik seperti sistem ruju’ dan marja’. Seperangkat tanda rujū’an biasanya dipakai untuk menandai teks yang mengandung arti kata sebelumnya. Kata-kata seperti ism ẓamīr dan juga fi’il merupakan satuan bahasa yang seringkali diberi tanda rujū’an. Adapun kata yang dirujū’, sering disebut dengan istilah marja’. Tanda rujū’ yang digunakan harus sama persis dengan tanda yang dibubuhkan pada kata yang menjadi marja’.
Secara umum seperangkat tanda rujū’ dan marja’ ini berbentuk angka-angka Arab atau angka/ huruf Arab yang dibolak-balik secara tidak teratur, sehingga jika dilihat sekilas, perangkat tanda rujū’an ini menjadi unik dan khas. Dari segi penempatan, kedua penandaan tersebut biasanya diposisikan berbeda. Tanda rujū’ ditempatkan di bawah kata, sementara tanda marja’ diposisikan di atas kata yang menjadi rujukan. Berikut tanda-tanda rujū’ yang secara umum digunakan para kiai pesantren berikut contohnya dalam pengapsahan teks kitab kuning.
107
(Sumber: Kitab Kaifiyah al-Ma’āni bi al-Ikhtis}ār)
Namun demikian, proses pengkodean (encoding) tanda ruju’ dan marja’ yang digunakan tidak mesti sama persis seperti tanda-tanda di atas. Terkadang ditemukan juga beberapa kitab terjemahan yang menggunakan seperangkat tanda yang berbeda, dan itu sangat tergantung kepada kesepakatan sistem tanda yang digunakan para kiai, penulis kitab. Bahkan tidak sedikit para kiai membuat kreativitasnya sendiri dalam memberi simbol/ penanda rujū’/ marja’ dalam me-ngapsahi kitab-kitab yang mereka terjemahkan.
D. Pengapsahan Pola Gandul-Tanda dan Simbol Gramatik 1. Cara Kerja Pola Gandul-Tanda dan Simbol Gramatik
Pola pengapsahan ini biasa digunakan untuk mengetahui makna kata sekaligus struktur kata dalam teks. Bahkan lebih dari itu, pola semacam ini dipakai juga untuk mengetahui makna interpretatif dan makna sintagmatik setiap kata yang terdapat dalam teks. Dengan kata lain, pola pengapsahan teks kitab ini merupakan pola analisis bahasa yang komprehensif yang tidak hanya digunakan untuk
108
menerjemahkan setiap kata dalam teks tapi juga menjelaskan maksud satuan bahasa yang terkandung dalam teks tersebut.
Seperti disebutkan di awal, banyak istilah yang dipakai para peneliti dalam menamai pola penerjemahan teks kitab-kitab pesantren ini, diantaranya adalah pola terjemahan “makna gandul”, pola terjemahan “maknani”, penerjemahan “antar baris”, “terjemahan gantung” dan lain sebagainya. Namun demikian, dari sekian banyak terminologi di atas, penulis melihat bahwa istilah-istilah tersebut terkesan hanya sebatas “menerjemahkan”, padahal tradisi pengapsahan yang biasa dilakukan para kiai lebih dari sekedar mengartikan maknanya. Oleh karena itu, penulis lebih suka menggunakan istilah pengapsahan.
Kata “ngapsahi” sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yakni dari kata “fas}ah}a” yang dimasukan ke dalam wazan “af’ala” menjadi “afs}ah}a” yang berarti “menjelaskan maksud” (bayyana murādahu).15 Kata “ngapsahi” merupakan bentuk konvergensi Arab-Jawa dengan tambahan awalan “ng” dan akhiran “i”. Upaya ini untuk memudahkan masyarakat Jawa dalam mengingat dan mengucapkan istilah tersebut. Kata ngapsahi merupakan bentuk kata kerja, dan jika dirubah kepada kata benda menjadi pengapsahan.
15 Lihat “Al-Munjid fi al-Lugah wa al-‘A’lām”, 584; Lihat juga A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 1057
109
Dalam tradisi ngapsahi, seorang pembaca teks tidak hanya dituntut mampu menganalisis tataran linguistik, tapi juga tataran non linguistik teks. Tataran non linguistik inilah yang dimaksud dengan cara kerja analisis interpretatif. Dalam proses ngapsahi atau Irhamni menyebutnya dengan Terjemahan Jenggotan (TJ) paling tidak, dapat dilihat pada tiga sudut pandang, yaitu sebagai proses pengajaran membaca teks Arab, sebagai proses belajar bahasa Arab, terutama yang berkaitan dengan tata bahasa dan sebagai kegiatan penerjemahan.16
Dalam melakukan pengajaran membaca, seorang pembelajar tidak hanya dituntut sekedar mendapatkan pesan yang terkandung dalam teks, akan tetapi ia juga harus dapat membuktikan kebenaran hasil bacaannya itu (kebenaran pesan) yang ditangkapnya dengan menunjukan beberapa bukti yang berkaitan dengan struktur tata bahasa (nah}w, s}arf, dan balāgah), arti setiap kata (makna leksikal), pemahaman terhadap ilmu yang menjadi topik meliputi ilmu yang terkait dengan topik teks, logika, sejarah ilmu dan sebagainya. Mekanisme semacam ini merupakan suatu bentuk keterbukaan ilmiah yang dijunjung tinggi di pesantren.17
16 Irhamni, Kearifan Lokal Pendidikan Pesantren Tradisional di Jawa: Kajian atas Praktek Penerjemahan Jenggotan. Jurnal Ulūmunā. Vol. XV No. (2011), 108
110
Bukti-bukti pemahaman terhadap ilmu terkait menjadi sangat penting dalam pengapsahan kitab. Penjelasan-penjelasan mengenai wawasan keilmuan lain ini banyak dituangkan para kiai dalam menulis dan menerjemahkan kitab-kitabnya. Seperti contoh, bagaimana Kiai Bisri Musthafa mampu menjelaskan tentang sejarah orang-orang yang pernah membahas llmu mantiq, dari mulai zaman Luqman Hakim sampai Aristoteles pada zaman Yunani. Penjelasan ini ia tuliskan secara sistematis dalam kitabnya “Naz}m al-Sulam al-Munawaraq fi al-Mant}q”.18 Dan tentunya masih banyak kitab-kitab lainnya yang dikaji secara interdisipliner.
Dalam tradisi Barat, orang tidak akan menemukan mekanisme pola pengapsahan semacam ini, sehingga dapat dipastikan hasil terjemahan dalam tradisi Barat sulit dikontrol kebenarannya oleh pembaca. Karya terjemahan tidak lebih sekedar hanya pada menerbitkan dua bahasa (Bahasa Sumber/ BSu dan Bahasa Sasaran/ BSa) sekaligus dalam terbitan sebagai bentuk kontrol terhadap kebenaran karya terjemahan. Bahkan sering hanya karya terjemahannya yang diterbitkan tanpa diikuti bahasa aslinya dalam edisinya. Model penerjemahan seperti ini, sudah barang tentu mudah
18 Bisri Musthafa, Naẓm al-Sulam al-Munawaraq fi al-Mant}iq (Kudus: Menara Kudus, 1372 H), 1
111
disalahgunakan karena pembaca atau pihak lain yang berkepentingan tidak lagi dapat melacak teks aslinya.19
Lebih lanjut Amani menyebutkan bahwa sebagai pengajaran penerjemahan, TJ setidaknya melibatkan beberapa kegiatan yaitu analisis, transfer, restrukturisasi, dan evaluasi.20 Dalam penerjemahan, analisis teks dapat berupa membaca teknis teks dengan berupaya menangkap secara kesluruhan makna teks BSu. Dalam hal ini kegiatan analisis dititikberatkan pada analisis struktur bahasa atau gramatikal (nah}w, s}arf, dan balāgah). Bentuk nyata (tampilan fisik) dari hasil analisis ini adalah syakl atau harakat dan simbol-simbol linguistik, sedangkan hasil yang tidak nyata adalah makna global yang ditangkap penerjemah, yang belum dituangkan dalam bentuk tulisan. Kegiatan analisis juga terjadi ketika seorang penerjemah “mendialogkan” makna atau arti kosa kata/ frase yang dijumpai dengan makna global yang telah dirumuskan, untuk menentukan makna atau arti yang “pas” dalam struktur TJ.21
Sementara itu, transfer dalam penerjemahan merupakan kegiatan pengalihan pesan yang terdapat dalam BSu kedalam BSa. Namun demikian, pada kenyataannya, pengalihan pesan dalam penerjemahan jenggotan tidak dapat terjadi
19 Irhamni, Kearifan Lokal Pendidikan Pesantren, 109 20 Irhamni, Kearifan Lokal Pendidikan Pesantren, 109 21 Irhamni, Kearifan Lokal Pendidikan Pesantren, 110
112
begitu saja, melainkan melalui beberapa tahapan, yaitu; (1) tahap pemahaman sepintas terhadap makna global teks; (2) tahap “pendialogan” makna lokal atau arti kosa kata/ frase dengan makna global dan sebaliknya; (3) tahap penuangan hasil pendialogan (arti yang dituangkan secara jenggotan) dalam tulisan secara jenggotan.22 Tahapan-atahapan analisis inilah yang menjadikan hasil dari pengapsahan cukup akurat dalam memahami teks, baik secara parsial (makna kata) maupun secara global (makna gramatikal teks).
Adapun langkah restrukturisasi merupakan proses penyusunan kembali pesan BSu yang telah ditangkap oleh penerjemah dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya ke dalam BSa. Dalam pengapsahan atau TJ yang menjadi BSa adalah bahasa Jawa yang telah dipengaruhi oleh struktur BSu paling tidak dalam urutan kata. Bahasa terjemah ini tidak seperti bahasa Jawa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari (colloqial speech), sebab bahasa Jawa yang ada sudah dicampur dengan bahasa-bahasa (kata-kata) simbolik yang diadaptasikan dengan struktur bahasa Arab.
Kegiatan restrukturisasi ini meliputi; (1) pemberian simbol-simbol lingustik pada kata, frase, atau kalimat; (2) mengatur atau memilih bahasa Jawa TJ yang sesuai termasuk bahasa-bahasa simbolik; dan (3) pemberian simbol-simbol
113
referensi (rujū, anaforik).23 Sebenarnya ada satu lagi dalam melakukan restrukturisasi dalam pola pengapsahan, yakni memberikan harakat yang benar pada setiap kata dalam teks sesuai dengan kaidah kebahasaan.
Proses encoding dan decoding dengan perangkat tanda gramatik ini juga sebenarnya manjadi trend dalam analisis model-model linguistik modern, seperti yang digunakan dalam beberapa aliran linguistik yang berkembang di negara-negara Barat. Hanya saja, pola analisis tanda dalam linguistik modern biasanya relatif lebih sederhana dan hanya dipergunakan untuk jenis bahasa-bahasa latin.
Sementara itu, dalam pola ngapsahi, di samping digunakan sistem tanda juga dilengkapi dengan simbol-simbol gramatik (penjelasan pesan kode). Demikian juga dengan seperangkat tanda gramatik relatif lebih lengkap dan juga komprehensif. Hal ini sangat dipahami karena sistem dan juga struktur teks dalam bahasa Arab memiliki satuan-satuan lingual yang cukup kompleks.
Langkah terakhir adalah evaluasi, yakni menelaah kembali semua kegiatan dalam penerjemahan jenggotan untuk memperoleh keputusan yang tepat bagi kebenaran penerjemahan yang ditemukan. Kegiatan itu dalam penerjemahan jenggotan dapat berupa evaluasi terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan oleh penerjemahan
114
(analisis, transfer, dan strukturisasi) yang dapat dilakukan pada setiap kegiatan itu, yang disebut dengan evalusi bagian dan evaluasi terhadap hasil akhir terjemahan yang disebut dengan evaluasi menyeluruh. Evaluasi per bagian dilakukan dengan “sambil lalu” selama proses penerjemahan, sedangkan evaluasi menyeluruh dilakukan dengan membaca kembali hasil terjemahan itu secara detail atau dengan cara mengungkapkan kembali hasil TJ dalam susunan bahasa yang wajar (bukan secara jenggotan) baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.24
Sehingga tidak heran, pada sebagian kitab-kitab pengapsahan, di samping di dalamnya menyajikan penerjemahan pola gantung, juga di bawahnya disertakan penjelasan tambahan secara deskriptif-interpretatif seperti yang sudah di singgung di awal pembahasan. Berangkat dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar, terdapat beberapa kegiatan mendasar dalam melakukan pengapsahan teks kitab, yaitu;
Pertama; memberikan tanda gramatik dan simbol referensi sebagai penanda struktur dan makna kata; kedua; memberikan harakat yang benar pada setiap kata dalam teks sesuai dengan kaidah kebahasaan (nah}w, s}arf, dan balāgah); ketiga; membahasalokalkan setiap simbol gramatika dan juga fungsi-fungsi gramatika lain dalam satuan bahasa ke
115
dalam bahasa Jawa; keempat; memberikan makna parsial untuk masing-masing satuan bahasa hingga satuan bahasa yang terkecil sekalipun; kelima; memberikan makna intepretasi dari masing-masing arti kata dan makna teks secara keseluruhan; keenam; menghubungkan makna teks dalam topik tertentu dengan topik keilmuan lain yang terkait; ketujuh; mengkontekstualisasikan maksud teks dengan kejadian-kejadian yang sedang berkembang.
Demikianlah cara kerja pengapsahan teks kitab kuning yang memiliki dimensi analisis cukup lengkap sehingga pola pengapsahan ini dapat dikatakan lebih dari sebatas kegiatan menerjemahkan. Ia juga merupakan proses interpretasi terhadap teks dan juga proses kontekstualisasi pesan/ maksud yang ada dalam teks dalam melihat permasalahan atau kejadian-kejadian yang tengah terjadi.
2. Pola Model Gandul-Tanda dan Simbol Gramatikal