BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Foto 2. Foto Hari Sabtu, 22 Oktober 2011 (Cuplikan Video 2)
1. Tahap Preiconography
Di cuplikan video yang ke 2 ini, posisi tubuh Moammar Khadafi masih bersandar dan orang-orang yang berada didekatnya masih sama. Moammar Khadafi juga masih menunjukkan ekspresi seperti terkejut atau terheran dan darah masih terlihat pada sebagian wajahnya hingga ke pakaiannya. Hanya saja dalam foto ini, Moammar Khadafi menatap ke seseorang/ sesuatu yang ada dihadapannya sambil mengangkat tangannya. Tepatnya di sebelah kanan si pengambil video. Seseorang yang berada di sisi kanan Moammar Khadafi (sebelah kiri pengambil video), semakin mendekat ke tubuh Moammar Khadafi.
2. Tahap Iconography
Keinginan masyarakat Libya untuk menjatuhkan rezim pemerintahan Moammar Khadafi berkaitan erat dengan pola kepemimpinan yang ia terapkan. Disini peneliti menguraikan kondisi pemerintahan Libya yang penuh dengan gejolak, kritik dan pertentangan dari dunia internasional yang ditinjau dari tiga aspek, yaitu : a) sistem pemerintahan dan politik otoriter, b) sistem perekonomian terpusat, dan c) kebijakan luar negeri radikal.
A. Sistem Pemerintahan Dan Politik Otoriter
Moammar Khadafi telah menunjukkan sikap menentang pemerintahan Barat, sejak ia berkuasa pada tahun 1969. Hal itu tercermin dalam buku hijau yang diterbitkannya, berjudul “Third Universal Theory” yang diluncurkan pada tahun 1979. Dalam undang-undang No. 71 tahun
Universitas Sumatera Utara 1972, dituliskan adanya pelarangan untuk menghina konstitusi negara, tanpa ada penjelasan yang detail mengenai bentuk penghinaan tersebut. Hal ini, bisa menjadi dasar bagi negara untuk melarang semua bentuk kritik terhadap pemerintah, membendung semua aspirasi rakyat, yang seyogyanya menjadi nafas dari demokrasi. Penghapusan partai politik di Libya berlangsung sangat ekstrim. Pada Oktober tahun 1969, dalam pidato kenegaraan, Moammar Khadafi menyebutkan bahwa Libya harus berada pada kondisi “satu”, sehingga keberadaan partai politik, yang ia yakini hanya memecah belah negara dalam berbagai lingkaran-lingkaran
kepentingan, dan intrik untuk mencapainya, dihapuskan
(http://www.photius.com/countries/libya/government/libya_government_o pposition_to_qadhaf~229.html).
Terdapat dual pemerintah dalam struktur pemerintahan di Libya.
Selain General People’s Congress (GPC) terdapat pula “Revolutionary
Sector” yang terdiri dari Moammar Khadafi sebagai Pemimpin Revolusi
dan 12 anggota dalam “Revolutionary Command Council”, yang dibentuk
pada tahun 1969. Posisi pemimpin revolusi ini tidak dipilih dan tidak bisa diganggu gugat. “Revolutionary Sector” inilah yang mendikte segala
proses pembuatan keputusan, atau merupakan sentral dari semua kebijakan yang dikeluarkan oleh GPC sebagai sektor kedua dalam hierarki
pemerintahan Libya (http://bti2003.bertelsmanntransformation-
index.de/134.0.html?&L=1). Walaupun, Moammar Khadafi tidak memiliki peranan legislatif secara langsung dan tidak memiliki peranan eksekutif secara formal, akan tetapi sebagai Pemimpin Revolusi, Moammar Khadafi memiliki kekuasaan sangat besar untuk mengintervensi legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Politik di Libya juga dianggap family affair, dikarenakan selama
kepemimpinan Moammar Khadafi sejak 1969, tampuk kekuasaan di Libya diwarnai dengan pembagian kekuasaan bukan saja kepada relasinya di “Revolutionary Command Council”, akan tetapi juga kepada beberapa
Universitas Sumatera Utara hanya menjadikannya pemimpin Libya tetapi juga menjadikan ia sebagai pemilik kekuasaan tanpa tandingan di Libya. Hal yang sama berlaku pada putra-putranya. Meskipun tidak memiliki jabatan struktural dalam pemerintahan Libya, kekuatan dan keputusan mereka bersifat tidak bisa
diganggu gugat.
Terdapat 20 grup oposisi pemerintahan Moammar Khadafi yang
berada di luar negeri. Grup terbesar yaitu Libyan National Salvation Front
(LNSF) yang terbentuk tahun 1981, dipimpin oleh Muhammad Yusuf al Magariaf, mantan Duta Besar Libya untuk India. LNSF pernah menyerang markas Moammar Khadafi di Bab al Aziziyah pada tahun 1984. Percobaan pembunuhan dan kudeta yang dilancarkan secara mendadak ini, gagal mengeksekusi Moammar Khadafi. Akibatnya, Moammar Khadafi kemudian melakukan penangkapan terhadap 2000 orang yang diduga terlibat dan 8 orang digantung di depan umum. Kegarangan Moammar Khadafi tidak berhenti sampai di situ. Selama tahun 1985, yang juga dikenal sebagai tahun gelombang kekerasan, sejumlah warga Negara Libya di luar negeri dilaporkan terbunuh ataupun terluka serius. Para korban diantaranya, Duta besar Ezzedin Ghadamsi, pengusaha Ahmad Barrani terbunuh di Siprus, dan seorang mahasiswa yang berdomisili di Jerman Gibril Denali. Kebijakan pembunuhan atau “penghapusan” lawan politik ini berlanjut hingga tahun 1987 ketika Muhammad Salim Fuhaimah, seorang anggota Komite Eksekutif dari Organisasi Nasional
Libya (The Libyan National Organization), dibunuh di Athena pada 7
Januari 1987
(http://www.photius.com/countries/libya/government/libya_government_e xiled_opposition.html).
Selain itu banyak pula lawan politik Moammar Khadafi yang berakhir tragis di penjara, ataupun menghilang tanpa jejak. Kondisi dimana tidak ada apresiasi terhadap perbedaan dalam pendangan politik, tidak menyisakan tempat yang “aman” bagi pihak oposisi. Kebijakan
Universitas Sumatera Utara langkah yang sangat kontroversial dan menuai banyak kritikan terhadap Libya.
Sikap garang Moammar Khadafi terlihat mulai melunak pada tahun 2000- an, misalnya pada bulan April tahun 2007, untuk pertama kalinya sejak tahun 1969, para penulis dan professor di universitas-universitas di Libya mengeluarkan permohonan untuk kebebasan pers. Agustus tahun
2007, dua harian swasta mulai diterbitkan yaitu harian Oea dan Cyrene.
Hal yang sama berlaku dalam hal pertelevisian, dimana diluncurkan pula
tayangan Al-Libiyah, yang merupakan bagian dari Al-Ghad Media Group,
milik putra Moammar Khadafi, Saif Al-Islam Al-Qhadafy. Selain itu pada tahun 2008, Moammar Khadafi menunjukkan perubahan adanya keinginannaya untuk mencoba menjadi lebih “low profile” dengan
mengumumkan bahwa Libya tidak akan lagi menjadi negara tertutup dan bahwa suatu hari Libya tidak akan lagi membutuhkan dirinya sebagai pemimpin serta setiap rakyat Libya memiliki hak untuk menikmati kekayaan Libya. Ia memberikan pengumuman ini pada peringatan hari jadi ke-31 Libya.
B. Sistem Perekonomian Terpusat
Moammar Khadafi menasionalisasi semua bisnis asing di Libya dalam kurun 3 tahun masa kepemimpinannya, termasuk industri berat, lahan pertanian, bank, perusahaan jasa, dan firma asuransi. Pada Desember
1971, Libya menasionalisasi perusahaan minyak British Petroleum dan
memutihkan dana yang mencapai US$ 550 juta yang tersimpan di Bank Inggris. Pada tahun 1973, pemerintah Libya mengumumkan bahwa semua perusahaan minyak yang beroperasi di Libya, akan dinasionalisasi. Hal ini menjadikan negara (Libya) mengontrol 60% dari produksi minyak domestiknya pada tahun 1974 dan semakin berkembang setiap tahunnya, mulai dari kegiatan eksplorasi, produksi, hingga proses pendistribusiannya (http://workmall.com/wfb2001/libya/libya_history_petroleum_politics.htm l).
Universitas Sumatera Utara
Moammar Khadafi mengeluarkan undang-undang yang
menempatkan semua aktivitas ekonomi di Libya, di bawah kontrol negara sejak tahun 1977. Sebagaimana yang diungkapkan dalam teori ekonomi,
bahwa perekonomian akan menjadi “sehat” jika segala keputusan
diserahkan kepada pasar. Berbeda halnya dengan Libya, dimana semua aktivitas ekonomi berada di bawah kekuasaan pemerintah termasuk sektor privat, sehingga timbul kondisi yang bertentangan. Bukan hanya di sektor pengelolaan minyak, negara bahkan menjadi pengelola utama di bidang- bidang lainnya, seperti air, listrik, komunikasi, transportasi, pelabuhan, bandara, listrik, jasa penerbangan, dan ekspor-impor, tanpa adanya keterlibatan pihak swasta.
Contoh lain adalah Perusahaan Impor negara (The public import
company), atau The National Organization for Supply CommoditiesI
(NOSC), menjadi satu-satunya pihak yang memonopoli impor dan penjualan bahan-bahan kebutuhan pokok. Sejak akhir tahun 1970-an, pemerintah Libya telah menekan sektor swasta yang dianggap sebagai eksploitasi oleh kaum borjuis. Sesuai dengan Volume II Buku Hijau Moammar Khadafi, “The Green Book, Part II: The Solution of the Economic Problem: "Socialism," yang mengungkapkan pemikiran
Moammar Khadafi bahwa seseorang tidak bisa dikontrol oleh orang lain,
menjadi tidak kaya, tidak sejahtera, tidak berpenghasilan, karena orang
lain mengontrol pendapatannya. Menurutnya, setiap orang berhak untuk
“jatah” yang sama dengan orang lain
(http://www.photius.com/countries/libya/government/libya_government_t he_green_book_part~233.html).
Meskipun Libya memiliki kekayaan alam yang sangat banyak, baik dalam terminologi kekayaan alam yang masih terpendam ataupun yang telah dieksploitasi dengan angka penghasilan yang fantastis, akan tetapi
catatan tahun 2010 dari Economy Watch menunjukkan angka
pengangguran di Libya mencapai 30%, dalam artian 1.979.388 jiwa
Universitas Sumatera Utara (http://www.economywatch.com/world_economy/libya/structure-of- economy.html). Libya seharusnya mampu menyediakan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Faktanya, tingkat pengangguran dan kemiskinan masih tinggi di Libya. Ternyata Libya lebih memilih menggunakan jasa pekerja asing dengan tingkat pendidikan yang lebih baik untuk bekerja di bidang pengolahan minyak, konstruksi, dan medis.
Aspek lain yang bisa dianalisa dari isu sistem ekonomi terpusat yang menyebabkan kesenjangan di Libya terdapat pada kekayaan putra- putra Moammar Khadafi. Pasca revolusi, dalam sebuah aksi penggeledahan oleh NTC ditemukan sejumlah besar uang dan emas di Tripoli, di kantor milik dari Saif al- Islam Khadafi yang merupakan putra kedua Moammar Khadafi. Seorang tentara NTC mengatakan, uang dan emas yang diperkirakan bernilai jutaan dolar tersebut ditemukan di kantor
Saif yang terbengkalai di dekat Bab al-Aziziya
(http://international.okezone.com/read/2011/10/19/412/517363/ditemukan- harta-karun-di-kantorputra-khadafi).
Moammar Khadafi juga diindikasikan menggelapkan uang negara senilai puluhan milyar USD, menyelundupkannya dalam berbagai akun bank di luar negeri. Korupsi ini bahkan disebutkan tidak hanya terjadi dalam lingkupan keluarga Moammar Khadafi, termasuk para kolega
dekatnya atau para member elite.
C. Kebijakan Luar Negeri Radikal
Di awal menduduki tampuk pemerintahan Libya, Moammar Khadafi mengusung satu visi bagi Libya untuk menjadi pemrakarsa
bersatunya negara-negara Arab (Arab unity). Sekitar 3 bulan sejak ia
berkuasa, Moammar Khadafi menyusun Piagam Tripoli. Pada tahun 1971, dibentuk perjanjian Benghazi yang menghubungkan Libya, Mesir, dan
Suriah. Pada tahun 1973, dibentuk Hassi Mahmoud Accords, yang
menghubungkan Libya dengan Aljazair (yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Presiden Boumedienne). Pada tahun 1974, dibuat
Universitas Sumatera Utara perjanjian Djerba, yang menghubungkan Libya dan Tunisia (Tunisia berada di bawah kepemimpinan Habib Bourguiba) (Adnan, 2008: 37).
Dua dekade pemerintahannya, juga diwarnai dengan ambisi politik Moammar Khadafi untuk menggalang dukungan di Negara-negara Afrika. Salah satunya, Moammar Khadafi memberikan dukungannya terhadap Presiden Numeiri di Sudan tahun 1971. Perkembangan hubungan kedua negara sangat fluktuatif, ketika Sudan akhirnya menuduh Libya terlibat dalam 3 gerakan kudeta. Barulah pada tahun 1978, Libya kembali membuat kesepakatan perbaikan hubungan dengan Sudan, namun tidak bertahan lama. Sebab Moammar Khadafi mengutuk terang-terangan dukungan Sudan terhadap Presiden terpilih di Mesir Anwar Al Sadat dan
perjanjian Camp David terkait masalah Palestina.
Setelah Numeiri turun tahta pada tahun 1985, Moammar Khadafi membuka hubungan baru dengan pemerintahan selanjutnya oleh Jenderal Shawar Dhahab dan pemimpin Oposisi Shadiq Al Mahdi yang kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri Sudan. Kedua negara kemudian
membuat military protocol pada Juli 1985 dan Moammar Khadafi menjadi
Kepala Negara pertama yang mengunjungi Khartoum. Akan tetapi, melihat fenomena yang terjadi di Chad, Al Mahdi kemudian menyikapinya
dengan kebijakan “truely neutral regional and global stance”, sekaligus
meminta Moammar Khadafi menarik semua pasukannya dari Sudan (http://www.photius.com/countries/libya/government/libya_government_s udan.html). Rencana besar Moammar Khadafi untuk persatuan Arab dan
menjadi major actor di Afrika, pada kenyataannya tidak berjalan dengan
baik. Hubungan Libya dengan Aljazair juga tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Begitu pula dengan Tunisia. Merasa visinya gagal dan tidak bersambut di kalangan negara-negara Arab, Moammar Khadafi
memutar scope politik luar negerinya sepenuhnya ke arah selatan, ke
Afrika Hitam, dengan menyusung orientasi revolusionernya tentang “African Unity”.
Universitas Sumatera Utara Hubungan Libya yang buruk dengan Negara Barat, dimulai oleh Presiden Ronal Reagan hingga Presiden Brack Obama (Presiden Amerika saat terjadinya revolusi menumbangkan Moammar Khadafi). Presiden Reagan memasukkan Libya dalam daftar Negara yang mendukung terorisme internasional. Libya dikaitkan dengan beberapa aksi terorisme internasional, di antaranya, pemboman sebuah diskotik pada tahun 1986 di
Berlin, pemboman pesawat Prancis (French Airliner) pada tahun 1989,
dan yang paling fenomenal adalah pemboman pesawat Pan Am Flight 103
di Lockerbie, Skotlandia
(http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2011/04/20114191264316874 1.html). Amerika Serikat kemudian menarik kesimpulan dengan memasukkan Libya sebagai “state sponsor of terrorism”, yang kemudian
berujung pada pemutusan hubungan diplomatik, dan pemberian sanksi ekonomi. Amerika Serikat, bahkan pada bulan April 1986, melancarkan serangkain serangan memborbardir Tripoli dan Benghazi, yang menewaskan putri Moammar Khadafi.
Sanksi-sanksi yang dikenakan atas Libya baik oleh Amerika Serikat maupun PBB, membuat Moammar Khadafi merasa perlu untuk memperbaharui manuver politiknya pada dekade 1990-an. Ia kemudian menghentikan dukungan terhadap gerakan-gerakan bersenjata (gerakan pembebasan dan revolusioner) di Afrika, yang menjadi ciri khasnya dalam berkiprah secara internasional. Moammar Khadafi mendapatkan banyak
dukungan dalam masa isolasinya karena sanksi Barat. Ia mengganti centre
point-nya, dari Pan-Arabic ke Pan-Africa, dari “pembuat huru-hara”
karena dukungannya baik secara politik maupun militer terhadap banyak gerakan bersenjata menjadi “peace broker” dan “development partner” di
Afrika.
Tahun 2003, Moammar Khadafi kembali menghentak dengan kebijakan politik luar negerinya yang kontroversial. Setelah menjadikan Libya negara Paria akibat berbagai sanksi yang dikenakan, Moammar Khadafi akhirnya menyatakan akan meninggalkan “terorisme”, dan tak
Universitas Sumatera Utara lagi memburu keinginan membuat senjata pemusnah massal. Tahun 2007, ia membebaskan pengawal-pengawal medis Bulgaria yang sudah mendekam selama 8 tahun penjara di Libya, atas tuduhan menyebarkan virus HIV AIDS pada anak-anak di Libya. Hal ini cukup menjadi dasar bagi PBB untuk menarik sanksi atas Libya. Pada 30 Agustus 2008, Moammar Khadafi juga menyatakan kesediannya untuk membayar kompensasi bagi 270 korban pengeboman pesawat Lockerbie. Tahun
2009, ia terpilih sebagai ketua Uni Afrika
http://m.liputan6.com/news/read/359060/empat-dekade-kekuasaan- khadafi-penuh-kontroversi.
3. Tahap Iconology
Video amatir yang tersebar luas memperlihatkan warga yang bertindak layaknya hukum rimba. Tak ada bentuk penghormatan sedikitpun pada mantan Presiden Libya itu. Video itu juga memperkuat fakta bahwa Moammar Khadafi masih hidup ketika ditangkap oleh pasukan NTC dan ia meninggal sebelum diserahkan ke pemerintah/ pihak berwenang. Ini menunjukkan bahwa Moammar Khadafi meninggal ditangan warganya.
Gestur yang terlihat dalam foto ini yakni Moammar Khadafi yang mengangkat tangannya ke arah seseorang didepannya itu seperti sedang bertanya atau menyatakan sesuatu. Kemungkinan, Moammar Khadafi berusaha membela diri agar segera dibebaskan. Seseorang di sebelah kanan Moammar Khadafi yang masih memegang tubuh Moammar Khadafi, bahkan semakin mendekatkan diri pada Moammar Khadafi. Sepertinya, orang tersebut semakin berusaha untuk berhadapan langsung dengan Moammar Khadafi untuk memastikan bahwa orang yang sudah lemah itu adalah mantan presidennya. Lemahnya keadaan Moammar Khadafi saat itu, ditambah dengan ia dikelilingi oleh masyarakat yang membencinya, membuat Moammar Khadafi tidak bisa melakukan perlawan.
Universitas Sumatera Utara 4.1.1.c Cuplikan video 4