• Tidak ada hasil yang ditemukan

Logistic Regression

Lampiran 18 Foto hasil pengamatan sekolah Kondis

bangunan sekolah SD Benda 1 Manajemen data SD Muhamadiyah Perpustakaan SD Unggulan

Ruang UKS SMP Karangampel

Gedung sekolah SD Benda Gedung Sekolah SD Unggulan Kondisi toilet di SD Eretan Kulon 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia itu sendiri. Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Demikian pentingnya peranan pendidikan, maka dalam Undang-undang Dasar 1945 diamanatkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan, pengajaran dan pemerintah mengusahakan untuk menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-undang.

Tanggung jawab dalam memberikan pendidikan tidak hanya melekat pada pemerintah, tetapi juga pada keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat, disadari atau tidak merupakan institusi yang sangat strategis dalam menciptakan SDM yang berkualitas. Bila ditinjau berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 mengenai penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, telah dirumuskan delapan fungsi keluarga sebagai jembatan menuju terbentuknya sumberdaya manusia yang handal. Salah satu fungsi keluarga yang berkaitan dengan pembentukan sumberdaya manusia adalah fungsi pendidikan dan sosialisasi. Fungsi pendidikan dapat dilakukan melalui sekolah dengan memberikan pengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Komitmen tersebut tentunya perlu didukung oleh pemerintah (sebagai penyedia pelayanan pendidikan) dengan memberikan mutu yang terbaik kepada siswa dan orangtua sebagai pengguna jasa pendidikan.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 Ayat 1). Salah satu kewajiban pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah menjamin tersedianya dana guna

terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun (Pasal 11 Ayat 2). Hal ini menyebabkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal hingga jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) tanpa dipungut biaya. Selain itu, pemerintah mengupayakan alokasi dana pendidikan tahun 2009 sebesar 20 persen sesuai ketentuan Pasal 49 Ayat (1) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Dana tersebut digunakan untuk pembiayaan dana BOS dan BOS buku dengan tujuan meringankan beban orangtua terutama yang ekomoni lemah, sehingga tidak ada hambatan lagi bagi mereka untuk mengakses pendidikan.

Pelayanan pendidikan yang diberikan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan biaya, tetapi juga kualitas yang melekat pada sekolah, seperti fasilitas fisik (gedung sekolah, lapangan olahraga, dan toilet), kualitas tenaga kerja (guru dan tenaga administrasi) dan pelayanan yang berhubungan dengan tatap muka secara langsung. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai penyedia pelayanan diwakili oleh sekolah, karena sekolah merupakan objek yang berinteraksi secara langsung dengan orangtua dan siswa (sebagai pengguna pelayanan). Oleh karena itu, sekolah harus menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang diberikannya, karena apabila mutu pelayanan yang diterima oleh orangtua lebih baik atau sama dengan yang dibayangkan, mereka akan cenderung akan loyal terhadap sekolah tersebut.

Loyalitas orangtua merupakan manifestasi dan kelanjutan dari kepuasan orangtua dalam menggunakan fasilitas maupun jasa pelayanan yang diberikan oleh pihak sekolah. Kepuasan itu sendiri muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya (Kotler 1997). Kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan ditentukan pula oleh tingkat kepentingan sebelum menggunakan jasa pendidikan, dibandingkan dengan hasil persepsi orangtua setelah orangtua merasakan kinerja pelayanan pendidikan tersebut. Tingkat kepentingan orangtua merupakan keyakinan orangtua sebelum memilih dan merasakan jasa yang akan dijadikannya standar acuan dalam menilai kinerja pelayanan pendidikan.

Dalam mewujudkan pendidikan dasar yang berkualitas diperlukan evaluasi terhadap pelayanan pendidikan yang telah dirasakan berjalan hingga saat ini. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui kepuasan masyarakat dalam hal ini orangtua, sehingga dapat menjadi bahan acuan untuk

meningkatkan pelayanan pendidikan dan partisipasi masyarakat untuk lebih peduli dan berperan serta dalam menciptakan sumberdaya berkualitas.

Perumusan Masalah

Lembaga pendidikan tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya industri jasa. Perhatian pada mutu layanan pendidikan bertujuan untuk menarik para calon siswa, melayani dan mempertahankan mereka. Peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya mutu layanan akademik dan mutu pengajaran merupakan upaya-upaya yang harus dilakukan agar kepuasan siswa dan orangtua sebagai pelanggan lembaga pendidikan dapat diberikan secara optimal.

Dalam mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan orangtua terhadap pelayanan bidang pendidikan, perlu diketahui terlebih dahulu gambaran mengenai harapan orangtua terhadap pelayanan dan kinerja aktual pelayanan yang diterima. Idealnya orangtua merasakan kepuasan apabila ada kesesuaian persepsi antara harapan dan kenyataan. Memang dalam jangka pendek, seringkali tidak terlihat hubungan antara kepuasan pelanggan dengan tingkat keuntungan, karena kepuasan adalah strategi yang lebih bersifat defensive, maka kemampuannya untuk mempertahankan pelanggan itulah yang akhirnya mempengaruhi keuntungan dalam jangka panjang (Irawan 2003). Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik orangtua dan sekolah?

2. Bagaimana tingkat kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan dasar yang disediakan oleh sekolah serta apakah terdapat perbedaan antara tingkat kepuasan ayah dan ibu?

3. Atribut apa saja yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan dasar?

4. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan dasar?

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik orangtua dan sekolah terhadap tingkat kepuasan pelayanan pendidikan dasar.

Tujuan Khusus

2. Menganalisis tingkat kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan dasar dengan pertanyaan langsung dan menggunakan CSI (Consumer Satisfaction Index),

3. Menganalisis kinerja atribut pelayanan pendidikan dasar dengan menggunakan analisis IPA (Importance Performance Analysis),

4. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan orangtua terhadap pelayanan pendidikan dasar.

Kegunaan Penelitian Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah yang meliputi: strategi peningkatan kualitas pelayanan pendidikan, strategi peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan strategi peningkatan partisipasi masyarakat di bidang pendidikan. Menjadi bahan evaluasi bagi penggunaan jasa pendidikan di masa yang akan datang dan pengulangan (replikasi) di kabupaten lain. Selain itu diharapkan juga dapat dijadikan sebagai diagnostik, akuntabilitas dan pada beberapa kasus dapat dijadikan sebagai “bench marking” untuk penilaian secara periodik dalam memperkuat peningkatan jasa pendidikan dasar dan mejadi alat pelengkap ketika dipergunakan sebagai bagian dari program nasional, regional dan lokal untuk memonitor perubahan dalam penigkatan akses dan kualitas jasa pendidikan dari berbagai periode.

Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu wadah masyarakat untuk menyampaikan keinginan dan saran kepada pemerintah berkaitan dengan kebutuhan pendidikan yang mereka harapkan. Selain itu, dapat lebih meningkatkan peranserta masyarakat untuk lebih berpatisipasi dalam pendidikan baik sebagai pengguna maupun evaluator.

Bagi Peneliti

Penelitian ini menjadi bahan pembelajaran bagi peneliti mengenai faktor- faktor yang dapat menimbulkan tingkat kepuasan pelanggan. Selain itu, peneliti dapat mempelajari budaya suatu daerah dan seberapa kuat budaya tersebut

mempengaruhi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, dalam hal ini menyekolahkan anaknya atau tidak.

TINJAUAN PUSTAKA

Kebijakan Pendidikan Nasional

Dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3).

Untuk mewujudkan tujuan yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut, Departemen (Kementrian) Pendidikan Nasional menyusun visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dengan berlandaskan visi tersebut, maka pendidikan nasional memiliki misi sebagai berikut:

• Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;

• Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;

• Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;

• Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global;

• Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.

Kebijakan pembangunan pendidikan dalam kurun waktu 2004-2009 meliputi peningkatan akses rakyat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas melalui peningkatan pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan pemberian akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat menjangkau pelayanan pendidikan, seperti masyarakat

miskin, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, masyarakat di daerah- daerah konflik ataupun masyarakat cacat (BPK 2006).

Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (wajib belajar sampai dengan tingkat Sekolah Menengah Pertama) dicanangkan pemerintah pada awal PELITA VI (1994/1995). Program yang perintisaannya dilaksanakan selama periode PELITA V tersebut pada prinsipnya merupakan pengembangan dan seklaigus kelanjutan dari program wajib belajar enam tahun yang telah dicanangkan pada PELITA III (2 Mei 1984) (Wahjoetomo 1993).

Program wajib belajar pada hakikatnya merupakan upaya pemerintah yang secara sistematis menginginkan terjadinya peningkatan kualitas manusia Indonesia, sehingga dapat berpatisipasi aktif dalam keseluruhan pembangunan nasional serta adaptif dalam penyerapan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang muaranya adalah mendekatkan pada pencapaian tujuan pembangunan nasional, yakni masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, program wajib belajar merupakan salah satu upaya untuk perluasan dan pemerataan kesempatan belajar bagi setiap warga Negara. Kebijakan tersebut merupakan salah satu implementasi isi pasal 31 UUD 1945 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Hal ini sejalan dengan hasil Konferensi Pendidikan untuk Semua (Education for All) di Jomtien, Thailand, Maret 1990. Konferensi tersebut menegaskan bahwa “pendidikan merupakan hak bagi semua orang dan juga dapat membantu secara menyakinkan orang menjadi lebih aman, lebih sehat, lebih berhasil dan lebih berwawasan lingkungan” The World Bank Annual Report (1991) diacu dalam Wahjoetomo (1993).

Secara kualitatif, program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan mampu mengantarkan manusia Indonesia pada pemilikan kompetensi pendidikan dasar sebagai kompetensi minimal. Kompetensi pendidikan dasar yang dimaksud, seperti ditegaskan pada Pasal 13 UU No. 2 Tahun 1989 adalah kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini juga relevan dengan unsur-unsur kompetensi pendidikan dasar yang diidentifikasi oleh International Development Research Center (1979) dalam Wahjoetomo (1993), antara lain:

1. Kemampuan berkomunikasi 2. Kemampuan dasar menghitung

3. Pengetahuan dasar tentang negara, budaya dan sejarah

4. Pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidang kesehatan, gizi, mengurus rumah tangga dan memperbaiki kondisi kerja

5. Kemampuan berpatisipas secara aktif dalam masyarakat sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, memahami hak, dan kewajibannya sebagai warga negara, bersikap, dan berpikir kritis serta dapat memanfaatkan perpustakaan, buku-buku bacaan dan siaran radio (IDRC dalam Wahjoetomo 1993).

Tiga Pilar Pendidikan

Rencana pembangunan pendidikan nasional jangka menengah 2005- 2009 (Depdiknas 2005) mencantumkan tiga pilar pendidikan sebagai panduan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Tiga pilar ini berkaitan dengan akses terhadap pendidikan, peningkatan mutu, dan akuntabilitas.

1. Pemerataan dan Perluasan Akses

Pemerataan dan perluasan akses akan dilakukan dengan mengupayakan menarik semua anak usia sekolah yang sama sekali belum pernah sekolah, menarik kembali siswa putus sekolah dan lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan. Program pemerataan dan perluasan akses dilakukan dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

• Pemberian bantuan biaya operasional. Bantuan biaya operasional pendidikan diberikan dalam rangka membantu sekolah mencapai proses pembelajaran secara optimal. Bantuan pembiayaan tidak membedakan sekolah negeri maupun swasta, madrasah maupun sekolah umum.

• Penyediaan perpustakaan, buku teks pelajaran maupun nonteks pelajaran yang tidak membedakan sekolah negeri dan swata, sekolah umum dan madrasah.

• Rehabilitasi ruang kelas yang rusak, merupakan upaya melaksanakan penyediaan sarana penunjang pendidikan yang layak untuk pendidikan dasar (SD dan SMP).

• Unit sekolah baru dan RKB. Penyediaan prasarana pendidikan termasuk pembangunan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas baru (RKB) diupayakan dalam rangka pemerataan dan perluasan di tingkat SMP/MTs, untuk menampung peningkatan jumlah lulusan SD/MI. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan di tingkat SD dilakukan dengan memanfaatkan layanan pendidikan yang sudah ada.

• Perintisan pendidikan dasar sembilan tahun satu atap, merupakan langkah untuk mendirikan SD dan SMP satu atap atau SMP Khusus, yaitu penambahan tingkat kelas (extended classes) untuk penyelenggaraan pendidikan menengah pertama pada setiap SD negeri yang ada di daerah terpencil, serta berpenduduk jarang atau terpencar. Pada pendidikan luar biasa (PLB) upaya pemerataan dan perluasan akses dilakukan dengan pengembangan sekolah terpadu (SMP dan SMPLB) melalui pendidikan inklusif.

• Penyelenggaraan kelas layanan khusus di sekolah dasar, merupakan layanan pendidikan bagi anak usia sekolah dasar (7-12 tahun) yang putus sekolah atau sama sekali belum pernah sekolah dasar sampai tamat. Layanan pendidikan dilaksanakan selama kurang satu tahun di luar kelas reguler pada sekolah dasar yang ada sebagai transisi untuk memasuki kelas reguler.

2. Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing

Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan dasar akan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan berikut:

• Pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan sistem penilaian. Pengembangan model kurikulum perlu memperhatikan potensi peserta didik, karakteristik daerah serta akar sosiokultural komunitas setempat, perkembangan IPTEK, dinamika perkembangan global, lapangan kerja, lingkungan budaya dan seni dan lain-lain. Pada jenjang pendidikan dasar muatan kecakapan dasar (basic learning contents) perlu ditekankan pada kecakapan berkomunikasi (membaca, menulis, mendengarkan dan menyampaikan pendapat dan sebagainya), kecakapan intrapersonal (pemahaman diri, penguasaan diri, evaluasi diri, tanggung jawab dan sebagainya), kecakapan interpersonal (bersosialisasi, bekerja sama, mempengaruhi/mengarahkan orang lain, bernegosiasi, dan sebagainya), kemampuan mengambil keputusan (memahami masalah, merencanakan, analisis, menyelesaikan masalah, dan sebagainya). Dalam rangka perluasan pendidikan kecakapan hidup, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung pengenalan dasar kewirausahaan dan kepemimpinan, pengenalan dan pengembangan etika, penanaman dasar apreasi terhadap estika dan lingkungan hidup.

• Kapasitas profesi pendidik juga akan ditingkatkan agar mereka mampu membawakan proses pembelajaran efektif, sesuai dengan standar kompetensi pendidik yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran efektif diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, memotivasi, menyenangkan, dan mengasyikkan untuk mendorong peserta didik berpartisipasi aktif, berinisiatif, kreatif, dan mandiri, sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan kematangan psikologis.

• Pengembangan mutu dan keunggulan pendidikan dasar, juga disertai dengan program peningkatan kualitas jasmani dan pengembangan sekolah sehat. Dengan demikian, dapat tercipta siswa yang sehat dan bugar, serta sekolah yang memenuhi standar sekolah sehat.

• Sarana dan bahan belajar seperti perpustakaan, media pembelajaran, laboratorium bahasa/ IPA/ matematika, alat peraga pendidikan, buku pelajaran dan buku nonteks pelajaran atau buku bacaan lain yang relevan perlu dikembangkan. Pemerintah akan melaksanakan pengembangan naskah buku pendidikan dan melakukan pengendalian mutu buku teks pelajaran dan buku nonteks pelajaran/ bacaan lainnya yang relevan. Dengan mempertimbangkan pesatnya perkembangan pemanfaatan ICT dalam berbagai sektor kehidupan, pemerintah akan terus mengembangkan pemanfaatan ICT untuk sistem informasi persekolahan dan pembelajaran termasuk pengembangan pembelajaran secara elektronik (e-learning).

3. Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas dan Citra Publik

Pengembangan kapasitas dewan pendidikan (DP) dan komite sekolah (KS) serta komite PLS merupakan kegiatan yang akan terus dilakukan dalam rangka pemberdayaan partisipasi masyarakat untuk ikut bertanggung jawab mengelola pendidikan dasar. Berfungsinya kedua kelembagaan tersebut secara optimal akan memperkuat pelaksanaan prinsip good governance dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.

Pengembangan kapasitas juga akan terus dilakukan terhadap para pengurus sekolah atau satuan pendidikan nonformal lainnya untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan leadership menuju otonomi pengelolaan. Kegiatan ini, bersama dengan penguatan DP/ KS/ komite PLS merupakan bagian dari upaya penerapan MBS dan manajemen berbasis masyarakat (MBM) secara maksimal. Pengembangan EMIS (education management

information systems) sebagai sistem pendukung manajemen akan dilakukan untuk menunjang keberhasilan upaya mengukur sejumlah indikator penting perluasan, mutu, dan efisiensi sesuai dengan standar nasional pendidikan dasar.

Bantuan Operasional Pendidikan (BOP)

Ekonomi menjadi faktor dominan penyebab seseorang tidak ikut serta dalam pendidikan, terutama pendidikan formal. Banyaknya beban biaya hidup menyebabkan seseorang membuat prioritas utama dalam mengalokasikan pengeluarannya. Langkah strategis yang dilakukan pemerintah dalam membantu mengurangi biaya pendidikan adalah melalui program pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi SD/ MI/ SDLB/ SMP/ MTs/ SMPLB negeri/ swasta dan Pesantren Salafiyah serta sekolah keagamaan non-Islam setara SD dan SMP yang menyelenggarakan wajib belajar pendidikan sembilan tahun, yang selanjutnya disebut sekolah.

Program BOS bertujuan untuk membebaskan iuran siswa, tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Sasaran program BOS adalah semua sekolah baik negeri maupun swasta di seluruh kabupaten/ kota tidak termasuk program kejar paket A, B dan SMP Terbuka karena sudah dibiayai pemerintah sepenuhnya. Besar dana bantuan yang diterima sekolah penerima BOS dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:

a. SD/ MI/ SDLB/ Salafiyah/ sekolah keagamaan non-Islam setara SD Rp 117.500,00 per siswa untuk setiap semester atau Rp 235.000,00 per tahun.

b. SMP/ MTs/ SMPLB/ Salafiyah/ sekolah keagaamaan non-Islam setara SMP Rp 162.250,00 per siswa untuk setiap semester atau Rp 324.500,00 per siswa per tahun.

Standar Nasional Pendidikan

Pelayanan pendidikan yang bermutu adalah pelayanan yang diberikan minimal sesuai dengan standar pelayanan mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang dimaksud dengan standar pelayanan adalah (Anonim 2005):

Standar Isi

Pasal 5 - (1) Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan

tertentu. (2) Standar isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan/ akademik.

Standar Proses

Pasal 19 - (1) Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Standar Kompetensi Lulusan

Pasal 25 - (1) Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. (2) Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah.

Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Pasal 28 - (1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik. (3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a. Kompetensi pedagogik; b. Kompetensi kepribadian; c. Kompetensi profesional dan d. Kompetensi sosial.

Standar Sarana dan Prasarana

Pasal 42 - (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang

unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi dan ruang/ tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Standar Pengelolaan

o Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan

Pasal 49 - (1) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. (2) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi.

o Standar Pengelolaan oleh Pemerintah Daerah

Pasal 59 - (1) Pemerintah Daerah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:

a. Wajib belajar;

b. Peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah;

c. Penuntasan pemberantasan buta aksara;

d. Penjaminan mutu pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah

e. Daerah maupun masyarakat;

f. Peningkatan status guru sebagai profesi; g. Akreditasi pendidikan;

h. Peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat; dan

i. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan.

o Standar Pengelolaan oleh Pemerintah

Pasal 60 - Pemerintah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:

a. Wajib belajar;

b. Peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi;

c. Penuntasan pemberantasan buta aksara;