BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Fraksi Kloroform dari EDSL
Hasil fraksi kloroform diperoleh sebanyak 1,1 gram dari 2 gram EDSL.
Hidrolisis ekstrak etanol 80% dengan HCl 2N dengan tujuan untuk memutuskan ikatan gula dan non-gula kemudian disari dengan pelarut kloroform untuk mengektraksi senyawa saponin (Harborne, 1987).
4.7 Analisis Fraksi Kloroform Secara KLT
Hasil analisis KLT fraksi kloroform menggunakan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak n-heksana-etilasetat dengan berbagai variasi perbandingan ( 6:4, 7:3, 8:2) dan penampak bercak Liebermann-Burchard. Hasil yang terbaik terdapat pada fase gerak n-heksana-etilasetat dengan perbandingan 7:3 karena menghasilkan pemisahan noda yang paling baik dan banyak yaitu menghasilkan 8 noda (merah muda, ungu, merah mudsa, merah muda, biru, hijau
tua, hijau tua, hijau tua). Analisis kromatogram hasil KLT dapat dilihat pada Lampiran 13 halaman 60 dan harga Rf dapat dilihat pada Lampiran 14 halaman 61.
4.8 KLT Preparatif Fraksi Kloroform
Hasil KLT preparatif pada fraksi kloroform menggunakan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak n-heksana-etilasetat (7:3) dan penampak bercak Liebermann-Burchard. Senyawa saponin yang diperoleh memberikan warna bervariasi yang dapat dilihat pada Lampiran 15 halaman 62.
Hasil KLT preparatif yang memberikan noda yang paling jelas atau dominan dikerok dan dielusi dengan pelarut metanol p.a. Hasil filtrat diuapkan, didinginkan, ditambahkan metanol dingin, kemudian dimasukkan dalam freezer sampai terbentuk kristal.
4.9 Uji Kemurnian Isolat Saponin
Masing-masing isolat dilakukan uji kemurnian dengan KLT 1 arah menggunakan fase gerak n-heksana-etilasetat (7:3), n-heksana-etil asaetat (9:1) dan toluena-etil asetat (6:4). Kemudian KLT 2 arah menggunakan fase gerak I n-heksana-etilasetat (7:3), fase gerak II toluena-etilasetat (6:4), fase diam plat pra lapis silika gel GF 254 dan penampak bercak Liebermann-Burchard. Hasil uji kemurnian isolat menunjukkan satu noda warna ungu (Rf=0,88) dengan berat isolat sebesar 0,0135 gram. Hasil kromatogram dapat dilihat pada Lampiran 19 halaman 66.
4.10 Identifikasi Isolat dengan Spektrofotometer Ultraviolet (UV) dan Spektrofotometer Inframerah (IR)
Hasil identifikasi isolat saponin Rf=0,88 (ungu) dilihat pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2.
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa isolat dengan Rf=0,88 (warna ungu) diperoleh panjang gelombang maksimum 240 nm. Hal ini membuktikan adanya gugus kromofor yang terbaca pada panjang gelombang 240 nm. Adanya serapan pada panjang gelombang 200 nm – 400 nm menunjukkan adanya senyawa aromatis dan ikatan rangkap terkonjugasi dengan transisi n→π* dan π→π*.
Penyerapan radiasi ultra violet dibatasi oleh sejumlah gugus fungsional (yang disebut dengan kromofor) yang mengandung elektron valensi dengan tingkat energi eksitasi (Gandjar dan Rohman, 2007).
Menurut Woodward, pembentukan suatu ikatan rangkap eksosiklik akan menyebabkan suatu tambahan geseran bathokromik sebesar 5 nm, geseran menjadi 10 nm bila ikatan rangkap eksosiklik menjadi dua cincin. Geseran batokhromik di dalam struktur s-cis menyebabkan siklisasi tidak jelas, sehingga
Gambar 4.1 Spektrum isolat dengan spektrofotometer UV
penurunan instensitas lebih mudah dijelaskan, karena momen transisi dari sistem siklik atau homoanular lebih kecil dari sistem asiklik atau heteroanular. Fieser juga menjelaskan tentang aturan dari serapan diena untuk heteroanular adalah 214 nm dan homoanular 253 nm (Silverstein, 1986).
Pada Gambar 4.2 menunjukkan bahwa isolat dengan Rf=0,88 (warna ungu) hasil analisis menggunakan spektrometer infra merah memberikan gugus O–H (3421,72 cm-1 ), gugus C–H (2920,23 cm-1 dan2862,36 cm-1), gugus C=O (1743,65 cm-1 ), gugus C=C (1631,78 cm-1 , 1546,91 cm-1), gugus C-O (1226,73 cm-1 , 1161,15 cm-1, 1103,28 cm-1, 1026,13 cm-1 ), hal ini dapat di lihat berdasarkan daerah serapan IR menggunakan hukum Hooke dimana gugus O–H (3800-2700 cm-1), gugus C–H (3000-2850 cm-1), gugus C=O (1850-1600 cm-1), gugus C=C (1900-1500 cm-1), gugus C-O (1300-800 cm-1) (Silverstein, 2005).
Gugus-gugus yang didapatkan pada spektrometer inframerah menyerupai struktur triterpenoid/steroid saponin dengan mempunyai salah satu gugus seperti gugus –OH, gugus –CH, gugus C=Odan gugus C-O (Farnsworth, 1966).
Gambar 4.2 Spektrum isolat dengan spektrometer IR
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia daun tumbuhan situduh langit yang diperoleh kadar air 7 , 9 7 %, kadar sari larut air 10,43%, kadar sari larut etanol 10,52%, kadar abu total 4,29%, dan kadar abu tidak larut asam 0,93% yang memenuhi persyaratan secara umum, yaitu kadar air <10% dan kadar abu tidak larut dalam asam <2%.
b. Hasil KLT dan KLT preparatif menggunakan fase gerak n-heksana- etilasetat (7:3), fase diam silika gel GF254 dan penampak bercak Liebrmann-Burchard didapatkan 1 noda murni (Rf=0,88 warna ungu) yang menunjukkan adanya isolat saponin.
c. Hasil isolasi diperoleh satu isolat saponin yang mempunyai panjang gelombang 240 nm dan mempunyai gugus –OH, C–H, C=C dan C–O.
5.2 Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan identifikasi senyawa isolat saponin yang diperoleh dengan spektrometer massa, spektrometer C-NMR dan spektrometer H- NMR, serta uji farmakologi.
DAFTAR PUSTAKA
Bogoriani, W. (2015). Saponin Daun Andong (Cordyline Terminalis Kunth) Menurunkan Kolesterol Plasma Dengan Meningkatkan Ekskresi Kolesterol Dan Asam Empedu Feses Pada Tikus Wistar Serta Membentuk Kompleks Dengan Kolesterol Secara In Vitro. Disertasi. Denpasar:
Universitas Udayana. Halaman 3-4.
Cheeke, P.R. (2001). Actual And Potential Applications Of Yucca Schidigera And Quillaja Saponaria Saponins In Human And Animal Nutrition. Recent Advances In Animal Nutrition In Australia. 13(1): 115-126.
Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.
Cetakan Pertama. Padang: Andalas University Press. Halaman 1, 21 dan 27
Depkes R.I. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 6-7.
Depkes R.I. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 323-325, 334.
Depkes R.I. (2010). Suplemen I Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 140-141.
Ditjen POM R.I. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 1, 10-11.
Farnsworth, N.R. (1966). Biological and Phytochemical Screening of Plants.
Journal of Pharmaceutical Sciences. 55(3): 258, 259.
Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 229, 231.
Garai, S. (2014). Triterpenoid Saponin. Natural Product Chemical Research.
2(6): 1-13.
Gunawan, D. dan Mulyani, S. (2004). Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid Pertama. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 87.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 151.
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia III. Jakarta: Badan Litbang Departemen Kehutanan. Halaman 1829.
Hostettmann, K., Hostettmann, M., Dan Marston, A. (1995). Cara Kromatografi Preparatif: Penggunaan Pada Isolasi Senyawa Alam. Penerjemah:
Kokasih Padmawinata. Bandung: ITB. Halaman 9-12, 33-34.
Jack, I.R. (2008). Phytochemical analysis and antimicrobial activity of the extract of leaves of fleabane (Conyza sumatrensis). JASEM. 12(4): 63.
Jurzysta, M. (1973). Isolation and Chemical characterization of saponins from lucerne seeds (Medicago media Pers.). Acta Societatis Botanicorum Poloniae. 42(2): 202.
Khopkar, S.M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia. Halaman 222-223, 248.
Majinda, R.R.T. (2012). Extraction And Isolation Of Saponins. Natural Products Isolation, Methods In Molecular Biology. 864:1. Pages 415-417.
Markham, K.R. (1998). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung:
ITB. Halaman 1-3.
Merck, E., Darmstadt. (1978). Dyeing Reagents for Thin Layer and Paper Chromatography. German: Federal Republic of Germany. Page 1.
Netala, V.R., Ghosh, S.B., Bobbu, P., Anitha, D., Dan Tartte, V.
(2015). Triterpenoid Saponins: A Review On Biosynthesis, Applications And Mechanism Of Their Action. Internasional Journal Of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 7(1): 24-27.
Nugraha, T., Kiki, M., Reza, A.K. (2016). Pengujian Aktivitas Antioksidan pada Fraksi Berbeda dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Dari Daun Jalantir (Erigeron sumatrensis Retz.) yang Berasal dari Jawa Barat Indonesia.
Prosiding Farmasi. 2:2. Halaman 755.
Nurhidayah., Minarti., Anugrah, P., Imran (2008). Uji Aktivitas Senyawa Turunan Terpenoid, Steroid dan Fenolik dari Ekstrak Jaringan Kayu Batang Tumbuhan Ndokulo (Kleinhovia Hospital.) terhadap Pertumbuhan Sel Kanker (Leukemia P-388). Kimia, MIPA, Universitas Halu Oleo. Halaman 1.
Ragasa, C.Y., Po-Wei, T., Chien-Chang, S. (2009). Antimicrobial Terpenoids from Erigeron sumatrensis. NRCP Research Journal. 10(1): 27.
Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 157,172.
Sastrohamidjojo, H. (1985). Kromatografi. Yogyakarta: Liberty. Halaman 6, 28-35.
Sastrohamidjojo, H. (1995). Sintesis Bahan Alam. Cetakan Pertama. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Shaha, N.Z., Naveed, M., Sadia, A., and Abdur, R. (2012). Preliminary Phytochemical and Anti-Radical Profile of Conyza sumatrensis. Middle-East Journal of Medicinal Plants Research. 1(1): 5.
Silverstein, R.M., Bessler, G.C., dan Morrill, T.C. (1986). Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik. Alih bahasa Hartono, dkk. Jakarta:
Erlangga. Halaman 305-318.
Silverstein, R.M., Webster, F.X., Kiemle, D.J. (2005). Spectrometric Identification of Organic Compounds. Seventh Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc. Page 75.
Stahl, E. (1985). Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi.
Diterjemahkan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung: ITB Stuart, B. (2004). Infrared Spectroscopy: Fundamentals and Applications.
Australia: John Willey & Sons, Ltd. Pages 72, 77.
Tersono, L. (2008). Tanaman Obat & Jus Untuk Mengatasi Penyakit Jantung, Hipertensi, Kolesterol dan Stroke. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman 76-77.
World Health Organization. (1998). Quality Control Methods for Medical Plant Materi LS. Switzerland: Geneva. Halaman 25-28.
Lampiran 1. Surat identifikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tumbuhan situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Lampiran 2. Gambar tumbuhan situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Lampiran 3. Gambar daun segar dan kering situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Daun segar situduh langit
Daun kering situduh langit
Lampiran 4. Gambar serbuk simplisia daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Lampiran 5. Perhitungan karakteristisasi simplisia daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
1. Penetapan kadar air
% Kadar air =volume awal (ml) − volume akhir (ml)
2. Penetapan kadar sari larut air
% Kadar sari larut air = berat sari (g) berat sampel (g) x
Lampiran 5. (Lanjutan)
3. Penetapan kadar sari larut etanol
% Kadar sari larut air = berat sari (g) berat sampel (g) x
4. Penetapan kadar abu total
% Kadar abu total = Berat sari (g)
Lampiran 5. (Lanjutan)
5. Penetapan kadar abu tidak larut asam
% Kabu tidak larut asam = berat sari (g)
Lampiran 6. Bagan pembuatan serbuk simplisia, karakterisasi simplisia dan skrining fitokimia daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Serbuk simplisia Simplisia
Dicuci lalu ditiriskan
Dikeringkan dalam lemari pengering
Ditimbang berat kering Dihaluskan
Karakterisasi simplisia, meliputi penetapan:
- kadar air
- kadar sari larut air - kadar sari larut etanol - kadar abu total
Skrining fitokimia, meliputi pemeriksaan
- triterpenoid/steroid - alkaloid
- glikosida - saponin - flavonoid
Daun situduh langit
Lampiran 7. Bagan pembuatan ekstrak etanol daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.) (EDSL) (Depkes RI, 2010).
Dimaserasi dengan etanol 80%
Direndam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk
Didiamkan selama 18 jam – 48 jam Disaring
Ampas
Ditambahkan etanol 80%
Dibiarkan selama 2 hari Disaring
Maserat I Maserat II
Digabung Maserat
Dipekatkan dengan vakum putar pada suhu 50OC
Ekstrak etanol kental Simplisia daun situduh langit
Lampiran 8. Bagan analisis EDSL secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
di KLT dengan :
FG : n-hexana – etil asetat (9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5) FD : silika gel GF 254 Penampak Noda: LB EDSL
Kromatogram Di KLT dengan :
FG : Aceton – n-hexana (4:1 dan 1:4)
FD : silika gel GF 254 Penampak Noda : LB
Kromatogram
Lampiran 9. Bagan pembuatan fraksi kloroform daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Ditambahkan HCl 2N dan direfluks selama 5 jam Didinginkan kemudian saring
diuapkan di waterbath sampai kental
ditambahkan kloroform kemudian pisahkan
dipekatkan menggunakan penangas air suhu 45OC
Lapisan kloroform
Lapisan air
Fraksi kloroform
Ekstrak etanol
Filtrat Ampas
Ekstrak etanol kental
Lampiran 10. Bagan isolasi senyawa saponin dari fraksi klorofrom daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
di KLT dengan :
FG : n-hexana – etil asetat FD : silika gel GF 254 Penampak Noda: LB
masing-masing noda dikerok, dielusi dengan metanol p.a
diuapkan di water bath di uji kemurnian:
1 arah: FG: n-heksana-etilasetat (7:3) FD: silika gel GF 254
Penampak bercak: LB
2 arah: FG I: n-heksana-etilasetat (7:3) FG II: toluena-etilasetat (5:5)
FD: silika gel GF 254 Penampak bercak: LB
dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer UV dan IR
di KLT preparatif dengan : FG : n-hexana – etil asetat (7:3)
Lampiran 11. Kromatogram hasil KLT ekstrak etanol daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan: Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, fase gerak nheksan -etilasetat, jarak rambat 8,5 cm, penampak bercak: Liebermann-Burchard, b:biru, h: hijau, hm: hijau muda, ht: hijau tua, k: kuning, kj: kuning jingga, mm: merah muda, um: ungu muda, bp: batas pengembangan, tp: titik penotolan.
mm
Lampiran 12. Harga Rf hasil KLT ekstrak etanol daun situduh langit (Erigeron
Lampiran 13. Kromatogram hasil KLT fraksi kloroform daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan: Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, fase gerak: n-heksana-etilasetat, jarak rambat 18,5 cm, penampak bercak:
Liebermann-Burchard, b: biru, hm: hijau muda, ht: hijau tua, mm: merah muda, u: ungu, tp: titik penotolan, bp: batas pengembangan.
mm
mm u
mm
mm
mm u
mm
mm
BP
7:3 6:4 8:2
TP
Lampiran 14. Harga Rf hasil KLT fraksi kloroform daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
No. Perbandingan Harga Rf Warna
Lampiran 15. Kromatogram hasil KLT preparatif fraksi kloroform daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan: Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, dengan fase gera: n-heksana-etilasetat, jarak rambat 17 cm, penampak bercak: Liebermann-Burchard, tp: titik penotolan, bp: batas pengembangan.
TP BP
Lampiran 16. Kromatogram hasil KLT 1 arah isolat senyawa saponin daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan : Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, fase gerak: n-heksana-etilasetat (7:3), jarak rambat 8,5 cm, penampak bercak:Liebermann-Burchard, tp: titik penotolan, bp: batas pengembangan.
Ungu (Rf=0,88)
TP BP
Lampiran 17. Kromatogram hasil KLT 1 arah isolat senyawa saponin daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan : Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, dengan fase gerak n-heksana-etilasetat (9:1), jarak rambat 8,5 cm, penampak bercak:Liebermann-Burchard, tp: titik penotolan, bp: batas pengembangan.
Ungu (Rf= 0,44)
TP BP
Lampiran 18. Kromatogram hasil KLT 1 arah isolat senyawa saponin daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan : Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, fase gerak: toluen-etilasetat (6:4), jarak rambat 8,5 cm, penampak bercak:
Liebermann-Burchard, tp: titik penotolan, bp: batas pengembangan.
BP
TP
Ungu (Rf= 0,85)
Lampiran 19. Kromatogram hasil KLT 2 arah isolat isolat senyawa saponin daun situduh langit (Erigeron sumstrensis Retz.)
Keterangan : Fase diam: plat pra lapis silika gel GF 254, jarak rambat 8 cm, penampak bercak: Liebermann-Burchard, fase gerak I: n- heksana-etilasetat (7:3), fase gerak II toluena-etilasetat (5:5), tp:
titik penotolan bp1: batas pengembangan 1, bp2: batas pengembangan 2.
BP1
TP TP
Fase Gerak 2 Fase Gerak 1
ungu
0,5
0,5