BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Spektrofotometri
2.5.2 Spektrofotometri inframerah (IR)
Spektrofotometri inframerah pada umumnya digunakan untuk:
1. Menentukan gugus fungsi suatu senyawa organik
2. Mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya.
Prinsip kerja spektrofotometri inframerah yaitu interaksi energi dengan suatu materi. Spektrofotometri inframerah berfokus pada radiasi elektromagnetik pada rentang frekuensi 4000-200 cm-1 (Khopkar, 1990). Bentuk spektrum inframerah yang dihasilkan berupa grafik yang menunjukkan persentase transmitan yang bervariasi pada setiap frekuensi radiasi inframerah. Satuan frekuensi yang digunakan pada garis horizontal yang dinyatakan dalam bilangan gelombang yang didefinisikan sebagai banyaknya gelombang dalam tiap satuan panjang.
Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu panjang gelombang 2,5-50 µm atau bilangan gelombang 4000-200 cm-1. Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul yang dapat menyebabkan pita dan absorbs sinar inframerah sangat khas dan spesifik untuk setiap tipe ikatan kimia atau gugus fungsi (Dachriyanus, 2004). Daerah spektra spektroskopi
inframerah dibagi dalam tiga kisaran yaitu inframerah dekat (12.500-4000 cm-1), inframerah tengah (4000-400 cm-1) dan inframerah jauh (400-100 cm-1). Daerah inframerah tengah merupakan daerah yang digunakan untuk penentuan gugus fungsi (Gandjar dan Rohman, 2007).
Menafsirkan sebuah spektrum inframerah tidak terdapat aturan yang pasti., tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mencoba menafsirkan sebuah spektrum, yaitu:
1. Spektrum harus cukup terpisah dan mempunyai kuat puncak yang memadai.
2. Spektrum harus dibuat dari senyawa yang cukup murni.
3. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga pita akan teramati pada kerapatan atau panjang gelombang yang semestinya. Kalibrasi yang betul dapat dilakukan dengan baku-baku yang dapat dipercaya, misalnya polisterna.
4. Metode penanganan cuplikan harus ditentukan., seperti pada penggunaan pelarut, maka macam dan konsentrasi pelarut serta tebal sel harus disebutkan juga (Silverstein, 1986).
Dua kawasan penting dalam pemeriksaan awal sebuah spektrum adalah daerah 4000 – 1300 cm-1 (2,5 – 7,7 µm) dan daerah 909 – 650 cm-1 (11,0 – 15,4 µm). Bagian kerapatan tinggi sebuah spektrum disebut sebagai daerah gugus fungsi. Kerapatan uluran khas bagi gugus-gugus fungsi yang penting seperti -OH, NH dan C=O terletak pada bagian itu. Ketiadaan serapan pada selang jejak gugus- gugus tertentu biasanya dapat digunakan sebagai bukti bahwa molekul itu tidak mempunyai gugus-gugus tersebut. Menafsirkan seperti itu harus dengan hati-hati, sebab suatu struktur tertentu yang khas dapat menyebabkan sebuah pita menjadi sangat lebar sehingga tidak terartikan (Silverstein, 1986).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini meliputi pengumpulan dan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, analisis ekstrak dengan kromatografi lapis tipis (KLT), isolasi senyawa saponin menggunakan KLT preparatif, uji kemurnian isolat dan karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultra violet (UV) dan spektrofotometri infra merah (IR).
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
3.2 Alat-Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat kaca laboratorium, blender, mixture vibrator, neraca analitik, oven listrik, penangas air, penguap vakum putar (rotary evaporator), seperangkat alat kromatografi lapis tipis (Desaga), seperangkat alat penentuan kadar air (alat stahl), spektrofotometer infra merah (Shimadzu), spektrofotometer ultra violet (Shimadzu) dan tanur.
3.3 Bahan-Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah daun situduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) dan bahan-bahan kimia berkualitas Merck yang digunakan
kecuali dinyatakan lain berkualitas pro analisis yaitu α-naftol, amil alkohol, amonia pekat, asam asetat anhidrida, asam klorida pekat, asam sulfat pekat, besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, etilasetat, iodium, isopropanol, kalium iodida, kloroform, metanol, n- heksana, natrium hidroksida, natrium sulfat anhidrida, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat dan toluena. Air suling dan etanol hasil destilasi.
3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi
Pembuatan larutan pereaksi dibawah ini menurut Depkes R.I. (1995).
3.4.1 Larutan air-kloroform
Sebanyak 2,5 ml kloroform dikocok dengan 900 ml air suling, encerkan dengan air suling hingga 1000 ml.
3.4.2 Larutan kloralhidrat
Sebanyak 50 gram kloralhidrat ditimbang dan dilarutkan dalam 20 ml air suling.
3.4.3 Pereaksi asam klorida 2 N
Sebanyak 17 ml asam klorida pekat diencerkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.4.4 Pereaksi asam sulfat 50% dalam metanol
Sebanyak 5 ml asam sulfat pekat ditambahkan hati-hati kepada 5 ml metanol.
3.4.5 Pereaksi asam nitrat 0,5 N
Sebanyak 3,4 ml asam nitrat pekat diencerkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.4.6 Pereaksi besi (III) klorida 1%
Sebanyak 1 g besi (III) klorida dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml.
3.4.7 Pereaksi Bouchardat
Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling, ditambahkan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.4.8 Pereaksi Dragendorff
Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml kalium iodida P 54,4% b/v, didiamkan sampai memisah sempurna. Lalu diambil lapisan jernih dan diencerkan dengan air suling secukupnya hingga 100 ml.
3.4.9 Pereaksi Liebermann-Burchard
Sebanyak 5 ml asam asetat anhidrida dicampurkan dengan 5 ml asam sulfat 97%, kemudian ditambahkan tambahkan campuran tersebut ke dalam 50 ml etanol (Merck, 1978).
3.4.10 Pereaksi Mayer
Larutan raksa (II) klorida P 2,27% b/v sebanyak 60 ml dicampur dengan 10 ml larutan kalium iodida P 50% b/v, kemudian ditambahkan air suling secukupnya hingga 100 ml.
3.4.11 Pereaksi Molisch
Sebanyak 3 g α-naftol dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh volume 100 ml.
3.4.12 Pereaksi natrium hidroksida 2 N
Sebanyak 8,002 g natrium hidroksida dilarutkan dalam air suling bebas
karbon dioksida hingga 100 ml.
3.4.13 Pereaksi timbal (II) asetat 0,4 N
Sebanyak 15,17 gram timbal (II) asetat dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida secukupnya hingga 100 ml.
3.5 Pengambilan dan Pengolahan Sampel 3.5.1 Pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara purposif tanpa membandingkan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun situduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) segar yang diambil dari Desa Tanjung Mariah, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
3.5.2 Identifikasi tumbuhan
Identifikasi daun tumbuhan situduh langit dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-Bogor.
3.6 Pengolahan Sampel
Daun situduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) disortir dan dipisahkan antara ranting pohon dan daun, dibersihkan dari pengotor dengan air mengalir, ditiriskan dan dikeringkan. Simplisia dinyatakan kering bila diremas akan mudah hancur, kemudian simplisia dihaluskan atau dijadikan serbuk menggunakan blender dan ditimbang, selanjutnya disimpan dalam wadah bersih yang tertutup rapat dan di tempat yang sejuk. Bagan pengolahan sampel dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 53.
3.7 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia
Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi penetapan kadar air, kadar sari larut dalam air, kadar sari yang dalam etanol, kadar abu total, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam.
3.7.1 Penetapan kadar air
Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluena) (Depkes R.I., 1995).
Cara kerja:
1. Penjenuhan toluena
Sebanyak 200 ml toluena dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam kemudian toluena didinginkan dengan cara didiamkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan 0,05 ml (Depkes R.I., 1995).
2. Penetapan kadar air simplisia
Sebanyak 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang berisi toluena tersebut, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit hingga toluena mendidih. Kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetesan per detik, sampai sebagian air terdestilasi, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan hingga 4 tetes per detik hingga semua air terdestilasi. Bagian dalam pendingin dibilas dengan toluena. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa (Depkes R.I., 1995).
3.7.2 Penetapan kadar sari larut dalam air
Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml air-kloroform dalam labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam lalu disaring.
Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan penguap berdasar rata yang telah ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105˚C sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam air dihitung dengan persen terhadap bahan yang telah kering (Depkes R.I., 1995).
3.7.3 Penetapan kadar sari larut dalam etanol
Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml etanol 96% dalam labu bersumbat sambil dikocok selama 18 jam kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol 96%. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap berdasar rata yang telah ditara dan sisanya dipanaskan pada suhu 1050C sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah kering (Depkes R.I., 1995).
3.7.4 Penetapan kadar abu total
Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah dipijar dan ditara. Kurs dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 500-600˚C selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap.
Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah kering (Depkes R.I., 1995).
3.7.5 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui kertas saring (fast filter ashless) dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang kering (Depkes R.I., 1995).
3.8 Skrining Fitokimia
Pemeriksaan skrining fitokimia (uji pendahuluan) dilakukan berdasarkan metode dari Depkes R.I. (1995) dan Farnsworth (1966) yang meliputi senyawa alkaloid, glikosida, flavonoid, saponin, tannin dan triterpenoid/steroid.
3.8.1 Pemeriksaan alkaloida
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia ditimbang menggunakan neraca analitik, kemudian ditambahkan 1 ml larutan HCl encer (HCl 2N) dan 9 ml air suling di dalam erlenmeyer, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk percobaan berikut:
a. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan berwarna kuning.
b. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna jingga.
c. Tiga tetes filtrat, ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan berwarna kuning (Depkes R.I., 1995).
3.8.2 Pemeriksaan glikosida
Sebanyak 3 gram serbuk simplisia ditimbang, lalu disari dengan 30 ml campuran dari 7 bagian etanol 95% dan 3 bagian air suling. Direfluks selama 10 menit, didinginkan, lalu disaring. Diambil 20 ml filtrat, ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan selama 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 2 bagian isopropanol dan 3 bagian kloroform, perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan ditambahkan Na2SO4 anhidrat, disaring, kemudian diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC, sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut: 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian diuapkan di atas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml akuades dan 5 tetes larutan pereaksi Molish, lalu ditambahkan dengan hati-hati 2 ml asam sulfat pekat, terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (glikon) (Depkes R.I., 1995).
3.8.3 Pemeriksaan triterpenoida/steroida
Sebanyak 1 gram serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, disaring, lalu filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Liebermann-Burhard), diteteskan pada saat akan mereaksikan sampel uji. Apabila terbentuk warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harborne, 1987).
3.8.4 Pemeriksaan flavonoida
Sebanyak 10 gram serbuk simplisia ditambah 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Ditambahkan 0,1 gram serbuk Mg, 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol ke dalam 5 ml filtrat, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika pada lapisan amil alkohol terjadi warna merah kekuningan atau jingga (Farnsworth, 1966).
3.8.5 Pemeriksaan tanin
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia disari dengan 10 ml air suling lalu disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru atau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
3.8.6 Pemeriksaan saponin
Sebanyak 0,5 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan, kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Saponin positif jika terbentuk busa yang stabil tidak kurang dari 10 menit setinggi 1 sampai 10 cm dan dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang (Depkes R.I., 1995).
3.9 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Situduh Langit (EDSL)
Ekstraksi simplisia daun situduh langit dilakukan menurut Depkes RI, 2010.
Cara kerja:
Satu bagian serbuk kering simplisia dimasukkan ke dalam maserator, tambahkan 10 bagian etanol 80%. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara
pengendapan. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya dua kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Hasil maserasi disaring, kemudian dipekatkan dengan alat penguap vakum putar pada suhu 50˚C sampai diperoleh ekstrak etanol daun situduh langit (EDSL) cukup kental dan dipekatkan diatas penangas air hingga menjadi kental. Bagan pembuatan ekstrak etanol daun situduh langit dapat dilihat pada Lampiran 7 halaman 54.
3.10 Analisis EDSL secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
EDSL dianalisis secara KLT menggunakan fase diam plat pra lapis silika gel GF 254 dengan fase gerak yang bervariasi yaitu: n-heksana-etilasetat perbandingan 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, dan 5:5, aseton-n-heksana perbandingan 4:1 dan 1:4. Hasil analisis KLT diidentifikasi menggunakan penampak bercak Liebermann-Burchard (Nugraha, 2016; Harborne, 1987).
Cara kerja:
EDSL ditotolkan pada plat lapis tipis silika gel GF 254 (yang telah diaktifkan), kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap fase gerak. Setelah pengembangan selesai plat dikeluarkan dan dikeringkan, plat disemprot dengan penampak bercak Liebermann-Burchard dan dipanaskan dalam oven pada suhu 110˚C selama 5 menit lalu diamati perubahan warna yang terjadi. Hasil yang terbaik digunakan untuk analisis fraksi kloroform secara KLT.
Bagan analisis dapat dilihat pada Lampiran 8 halaman 55.
3.11 Pembuatan Fraksi Kloroform EDSL
Pembuatan fraksi kloroform EDSL dilakukan menurut (Jurzysta, 1972;
Harbne, 1987).
Cara kerja:
EDSL direfluks menggunakan HCl 2N selama 4-6 jam, disaring kemudian filtrat diekstraksi dengan kloroform, didiamkan selama 12-18 jam. Diambil lapisan kloroform (lapisan bawah) kemudian diuapkan hingga pekat, diperoleh fraksi kloroform. Fraksi kloroform dianalsis dengan menggunakan KLT. Bagan pembuatan fraksi koloroform dapat dilihat pada Lampiran 9 halaman 56.
3.12 Analisis Fraksi Kloroform secara KLT
Fraksi kloroform dianalisis secara KLT menggunakan fase diam plat pra lapis silika gel GF 254 dengan fase gerak n-heksana-etilasetat perbandingan 6:4, 7:3, 8:2. Hasil analisis KLT diidentifikasi menggunakan penampak bercak Liebermann-Burchard (Nugraha, 2016; Harbone, 1987).
Cara kerja:
Fraksi ditotolkan pada plat lapis tipis silika gel GF 254 (yang telah diaktifkan), kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap fase gerak. Setelah pengembangan selesai plat dikeluarkan dan dikeringkan, plat disemprot dengan penampak bercak Liebermann-Burchard dan dipanaskan dalam oven pada suhu 110˚C selama 5 menit lalu diamati perubahan warna yang terjadi. Hasil yang terbaik digunakan untuk pemisahan KLT preparatif. Bagan analisis fraksi kloroform dapat dilihat pada Lampiran 10 halaman 57.
3.13 Isolasi Senyawa Saponin secara KLT Preparatif
Uji KLT preparatif fraksi kloroform sebagai fase diam plat pra lapis silika gel GF 254, fase gerak digunakan n-heksana-etilasetat (7:3) dan sebagai
penampak bercak digunakan pereaksi Liebermann- Burchard (Nugraha, 2016;
Harbone, 1987; Hostettmann, 1995), Cara kerja:
Fraksi kloroform ditotolkan berupa pita pada jarak 1,5 cm dari tepi bawah plat KLT berukuran 20x20 cm yang telah diaktifkan, kemudian dimasukkan ke dalam chamber yang telah jenuh dengan uap fase gerak, pengembang dibiarkan naik membawa komponen yang ada, setelah mencapai batas pengembangan plat dikeluarkan dari bejana lalu dikeringkan. Bagian tengah plat ditutup dengan kaca yang bersih sedangkan pada sisi kanan dan kiri plat (± 1 cm) disemprot dengan penampak bercak Liebermann- Burchard. Selanjutnya, silika pada bagian tengah plat yang sejajar dengan bercak noda yang diinginkan dikerok dan dikumpulkan. Silika yang dikumpulkan dielusi dengan metanol p.a., disaring kemudian pelarutnya diuapkan. Masing-masing silika yang diperoleh diuji kembali dengan KLT untuk mengetahui isolat pada Rf berapa yang menghasilkan noda tunggal. Bagan isolasi senyawa saponin secara KLT preparatif dapat dilihat pada Lampiran 10 halaman 57.
3.14 Uji Kemurnian Terhadap Isolat
3.14.1 Uji kromatografi lapis tipis satu arah
Uji kemurnian isolat secara satu arah dilakukan dengan KLT menggunakan fase gerak n-heksana-etilasetat (7:3), n-heksana-etilasetat (9:1) dan toluen-etil asetat (6:4), fase diam plat pra lapis silika gel GF 254 serta penampak bercak Liebermann-Burchard (Sastrohamidjojo, 1985 dan Stahl, 1985).
Cara kerja:
Isolat ditotolkan pada plat lapis tipis silika gel GF 254, lalu dimasukan ke dalam bejana yang telah jenuh. Setelah pengembangan selesai, plat dikeluarkan dan dikeringkan, plat disemprot dengan penampak bercak dan dipanaskan di oven pada suhu 110 oC selama 5 menit lalu diamati perubahan warna yang terjadi dan dihitung harga Rf-nya.
3.14.2 Uji kromatografi lapis tipis dua arah
Terhadap hasil isolasi dilakukan KLT 2 arah menggunakan fase gerak n- heksana-etilasetat (7:3) dan toluena-etilasetat (5:5) fase diam plat pra lapis silika gel GF 254 serta penampak bercak Liebermann-Burchard (Sastrohamidjojo, 1985;
Harbone, 1987).
Cara kerja :
Isolat ditotolkan pada plat pra lapis silika gel GF 254 ukuran 10x10 cm lalu dikembangkan memakai fase gerak I yaitu n-heksana-etilasetat (7:3), hingga mencapai batas pengembangan, kemudian plat dikeluarkan dari dalam chamber dan dikeringkan, setelah plat kering, dikembangkan kembali dengan arah yang berbeda 90oC memakai fase gerak II yaitu toluena-etilasetat (5:5) disemprot dengan memakai penampak bercak Liebermann-Burchard, setelah itu plat dipanaskan pada suhu 110oC selama 5 menit lalu diamati perubahan warna yang terjadi.
3.15 Karakterisasi Isolat
Karakterisasi isolat dengan spektrofotometer ultraviolet (UV) dan spektrofotometer inframerah (IR) dilakukan di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi USU Medan.
3.15.1 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometer ultraviolet (UV)
Isolat hasil isolasi dilarutkan dalam pelarut metanol, kemudian dimasukkan kedalam kuvet yang telah dibilas dengan metanol, selanjutnya absorbansi larutan sampel diukur pada panjang gelombang 200-400 nm (Khopkar, 1990).
3.15.2 Karakterisasi isolat dengan spektrofotometer inframerah (IR)
Karakterisasi isolat dengan spektrofotometer inframerah dilakukan dengan cara mencampurkan 1 mg isolat dengan 100 mg kalium bromida menggunakan alat mixture vibrator dan dimasukkan ke dalam spektrofotometer inframerah serta diukur pada bilangan gelombang 4000-500 cm-1 (Khopkar, 1990).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Tumbuhan
Hasil identifikasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor menyebutkan bahwa sampel adalah daun situduh langit suku Compositae jenis Erigeron sumtrensis Retz (Marline, 2017). Hasil identifikasi dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 46 dan Gambar tumbuhan situduh langit dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 47.
4.2 Pemeriksaan Karakteristik
Hasil karakterisasi simplisia daun situduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) meliputi penetapan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut asam. Hasil karakterisasi dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan perhitungan karakterisasi dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 50.
Tabel 4.1 Hasil karakterisasi simplisia daun situduh langit
No. Karakteristik simplisia Hasil (%)
1. Kadar air 7,97 %
2. Kadar sari larut dalam etanol 10,52 %
3. Kadar sari larut dalam air 10,43 %
4. Kadar abu total 4,29 %
5. Kadar abu tidak larut dalam asam 0,93 %
Hasil penepatapan kadar air pada simplisia daun situduh langit yaitu 7,97
% yang menunjukkan kandungan air yang masih di dalam batasan minimal yang dapat ditolerir karena kandungan air yang tinggi menyebabkan ketidakstabilan ekstrak. Penetapan kadar air untuk memberi batasan atau rentang besarnya kandungan air di dalam simplisia, karena tingginya kandungan air dapat mempercepat pertumbuhan jamur (Ditjen POM R.I., 2000).
Kadar sari yang larut dalam etanol dengan bobot persen 10,43% dan kadar sari yang larut dalam air dengan bobot persen 10,52 %. Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan senyawa yang dapat larut dalam air dan kandungan senyawa yang larut dalam etanol (Ditjen POM R.I., 2000). Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dalam simplisia dan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar dan non polar. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, tanin, gula, enzim, zat warna dan asam organik.
Senyawa-senyawa yang larut dalam etanol adalah glikosida, flavonoid, steroid/triterpenoid, karotenoid dan dalam jumlah sedikit yang larut yaitu lemak (Depkes R.I., 1986).
Kadar abu total dengan bobot persen 4,29 % dan kadar abu tidak larut dalam asam dengan bobot persen 0,93 %. Penetapan kadar abu untuk mengetahui kandungan mineral internal yang terdapat di dalam simplisia yang diteliti, serta senyawa anorganik yang tersisa selama pembakaran. Kadar abu tidak larut asam untuk menentukan jumlah silika, khususnya pasir yang ada pada simplisia (WHO, 1998).
4.3 Hasil Skrining Fitokimia
Hasil skrining fitokimia simplisia daun situduh langit dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang golongan senyawa metabolit sekunder. Hasil dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil skrining senyawa kimia simplisia daun situduh langit
No. Nama Senyawa Hasil
1. Triterpenoida/Steroida +
2. Alkaloida –
Hasil skrining senyawa kimia pada serbuk simplisia daun situduh langit diperoleh senyawa flavonoida, saponin, glikosida dan triterpenoida/steroida.
Menurut Tersono (2008), pada bagian daun mengandung saponin dan polifenol.
Akar mengandung saponin dan flavonoid. Kulit batang mengandung alkaloid, flavonoid, dan polifenol. Menurut Farnsworth (1966), apabila memberikan warna merah, jingga ataupun kuning pada amil alkohol menunjukkan adanya flavonoida.
Senyawa saponin dianggap positif jika terdapat warna hijau biru untuk saponin steroid dan merah ungu untuk saponin triterpenoid.
4.4 Ekstraksi
Hasil ekstraksi simplisia daun situduh langit dengan pelarut etanol 80%
diperoleh EDSL sebanyak 125 g dari 1,5 kg simplisia. Persen rendemen diperoleh sebesar 8,33%. Penggunaan pelarut etanol 80% adalah untuk menarik semua senyawa metabolit sekunder pada daun.