• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai karakteristik simplisia daun situduh langit, cara dan hasil isolasi saponin dari daun tumbuhan situduh langit.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan 2.1.1 Habitat

Tumbuhan sitiduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) berasal dari Amerika tropis dan di Jawa ditemukan tumbuh mulai dari dataran rendah sampai

± 2650 m dpl (di atas permukaan laut), sering tumbuh sebagai tumbuhan penggangu yang tidak begitu merugikan terutama di daerah tidak begitu subur (Heyne, 1987).

2.1.2 Morfologi

Tumbuhan ini merupakan terna yang tegak dan bagian kaki berkayu, tinggi 0,3 m sampai 3,5 m di bagian bawah pada umumnya tidak bercabang, tetapi dibagian atas sering bercabang, batang memiliki rusuk-rusuk yang menyolok.

Daun tunggal berwarna hijau, bersilang, tepi bergerigi, ujung runcing, panjang 4-7 cm, lebar 1-2 cm, tangkai silindris, pertulangan menyirip. Tumbuhan ini memiliki bunga majemuk di ketiak daun, kelopak bentuk mangkok, hijau, benang sari panjang 4-5 mm, jumlah lima, kuning, tangkai putik silindris, panjang 3-4 mm, kuning, kepala putik bulat, kuning, mahkota halus, kuning pucat. Buah dari tumbuhan ini berbentuk bulat telur berwarna putih dan biji bulat telur, kecil berwarna putih. Akar tunggang berwarna putih kotor (Heyne, 1987)

2.1.3 Nama Umum

Di Indonesia, situduh langit dikenal dengan nama jabung, jalantir (Sunda), jabungan, jentik manis, sembungan (Jawa), kamandhin kerbhuy (Madura) (Heyne, 1987; Tersono, 2008).

2.1.4 Sinonim

Situduh langit memiliki beberapa sinonim yaitu, Erigeron linifolius Auct.

non Willd, Conyza angustifolia Thwait, Conyza sumatrensis (Retz.) E. Walker, (Heyne, 1987).

2.1.5 Klasifikasi tumbuhan Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Asterales Suku : Compositae Marga : Erigeron

Jenis : Erigeron sumatrensis Retz.

2.1.6 Kegunaan

Daun situduh langit berkhasiat sebagai obat sakit kepala (pusing) dan akarnya berkhasiat sebagai obat pegal linu. Untuk obat sakit kepala (pusing) dipakai ± 10 gram daun segar, dicuci dan ditumbuk halus, kemudian ditempelkan di dahi sebagai pilis. Di Bogor Heyne mendapatkan keterangan bahwa setelah akar diremas-remas dengan adas-pulasari dapat dioleskan pada pinggang untuk pengobatan penyakit pinggang tertentu (Heyne, 1987; Tersono, 2008).

2.1.7 Kandungan kimia

Daun dan akar mengandung saponin, di samping itu daunnya juga mengandung polifenol dan akarnya juga mengandung flavonoida. Kulit batangnya mengandung alkaloida, flavonoida dan polifenol (Tersono, 2008).

2.2 Uraian Kimia 2.2.1 Glikosida

Glikosida adalah senyawa organik yang bila dihidrolisis menghasilkan satu atau lebih gula yang disebut glikon dan bagian bukan gula yang disebut aglikon.

Gula yang paling sering dijumpai dalam glikosida adalah glukosa. Secara kimia dan fisiologi, glikosida alam cenderung dibedakan berdasarkan bagian aglikonnya (Robinson, 1995).

Hubungan ikatan antara aglikon dan glikon glikosida dapat dibedakan menjadi empat yaitu:

1. Tipe O-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui atom O, contoh: salicin.

2. Tipe S-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui atom S, contoh: sinigrin.

3. Tipe N-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui atom N, contoh: visin dan krotonosid

4. Tipe C-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui atom C, contoh: aloin (Farnsworth, 1966).

2.2.2 Saponin

Saponin adalah glikosida triterpenoid dan sterol (Harborne, 1987). Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya menyerupai sabun (bahasa Latin sapo berarti sabun). Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang kuat, yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menimbulkan hemolisis sel darah merah, dalam larutan yang sangat encer

saponin sangat beracun untuk ikan. Beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba. Saponin merupakan senyawa berasa pahit dan mengakibatkan iritasi terhadap selaput lender (Robinson, 1995).

Pencarian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah dilaboratorium menjadi sterol hewan yang berkhasiat penting (misalnya kortison, estrogen kontraseptif, dan lain-lain). Pola glikosida saponin kadang-kadang rumit, banyak saponin yang mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukoronat (Harbone, 1987). Senyawa saponin secara umum dapat diidentifikasi dari warna yang dihasilkannya dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Warna biru-hijau menunjukkan adanya senyawa saponin steroida, dan warna merah, merah muda, atau ungu menunjukkan adanya senyawa saponin triterpenoida (Farnsworth, 1966).

Saponin triterpenoida dan saponin steroida memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Aglikonnya diperoleh dengan hidrolisis dalam suasana asam atau enzim, dan tanpa gula ciri kelarutannya sama dengan ciri sterol lain (Gunawan dan Mulyani, 2004; Robinson 1995). Tipe aglikon senyawa saponin dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Farnsworth, 1966):

Gambar 2.1 Sapogenin (Farnsworth, 1966)

Saponin triterpenoida secara umum banyak terdapat pada tumbuhan dikotil seperti: gipsogenin terdapat pada Gypsophylla sp., dan asam glisiretat terdapat pada Glycyrrhiza glabra (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 2.2 Saponin Triterpenoida (Gunawan dan Mulyani, 2004) Saponin steroida terdapat pada tumbuhan monokotil maupun dikotil, contohnya diosgenin yang terdapat pada Dioscorea hispida, dan hekogenin yang terdapat pada Agave americana (Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 2.3 Saponin Steroida (Gunawan dan Mulyani, 2004)

2.2.5 Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder. Keberadaannya dalam daun kemungkinan dipengaruhi oleh adanya proses fotosintetis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoida (Markham, 1998). Senyawa

flavonoida mempunyai struktur C6-C3-C6. Tiap bagian C6 merupakan cincin benzena yang dihubungkan oleh atom C3 yang merupakan rantai alifatik (Sastrohamidjojo, 1995; Markham, 1998).

Flavonoida umumnya terdapat dalam tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosida. Flavonoida terdapat dalam bentuk bebas maupun terikat sebagai glikosida. Glikosidanya larut dalam air dan etanol tapi tidak larut dalam pelarut organik, sedangkan geninnya (aglikon) tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut-pelarut organik (Markham, 1998).

2.2.4 Triterpenoid/Steroid

Steroid adalah triterpen yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantren. Senyawa steroid dahulu dianggap sebagai senyawa satwa, yaitu sebagai hormon kelamin, asam empedu dan lain-lain. Salah satu estrogen hewan adalah esteron. Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosintetis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualen. Senyawa ini berstruktur siklik yang relatif rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehida atau asam karboksilat. Mereka berupa senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan aktif optik. Triterpenoid dapat dibagi atas 4 golongan senyawa, yaitu triterpen sebenarnya, steroid, saponin dan glikosida jantung (Harborne, 1987).

2.3 Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut tertentu. Proses ekstraksi akan menghasilkan ekstrak, berupa ekstrak kental, ekstrak padat maupun

ekstrak cair yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan. Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut menurut Depkes R.I. (2000) yaitu:

A. Cara dingin 1. Maserasi

Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan cara perendaman menggunakan pelarut dengan sesekali pengadukan pada temperatur kamar.

Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.

2. Perkolasi

Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan menggunakan alat perkolator dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus sampai diperoleh perkolat.

B. Cara panas 1. Refluks

Refluks adalah proses penyarian simplisia dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

2. Digesti

Digesti adalah proses penyarian simplisia dengan pengadukan kontinu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu 40-50°C.

3. Sokletasi

Sokletasi adalah proses penyarian menggunakan pelarut yang selalu baru, yang umumnya dilakukan dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

4. Infudasi

Infudasi adalah proses penyarian dengan pelarut air pada temperatur 90°C selama 15 menit.

5. Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses penyarian dengan pelarut air pada temperatur 90°C selama 30 menit.

2.4 Kromatografi

Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan perbedaan perpindahan dari komponen-komponen senyawa di antara dua fase yaitu fase diam (dapat berupa zat cair atau zat padat) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat cair). Karena fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua ada empat macam sistem kromatografi. Keempat macam sistem kromatografi tersebut adalah :

1. Fase bergerak zat cair – fase tetap padat, dikenal dengan kromatografi serapan yang meliputi kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukaran ion

2. Fase bergerak gas – fase tetap padat, meliputi kromatografi gas padat

3. Fase bergerak sat cair – fase tetap zat cair, dikenal dengan kromatografi

partisi, meliputi kromatografi kertas

4. Fase bergerak gas – fase tetap zat cair, meliputi kromatografi gas cair dan kromatografi kolom kapiler (Sastrohamidjojo, 1985).

Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan dilakukan dengan menggunakan salah satu atau gabungan dari beberapa teknik tersebut dan dapat digunakan pada skala mikro maupun makro (Harborne, 1987).

2.4.1 Kromatografi kolom

Kromatografi kolom merupakan bentuk dari kromatografi cair. Fase diam, baik bahan yang jerap (KCP) atau film zat cair pada penyangga (KCC), ditempatkan di dalam tabung kaca berbentuk silinder, pada bagian bawah tertutup dengan katup atau keran, dan fasae gerak dibiarkan mengalir ke bawah melaluinya karena gaya berat (Gritter, dkk., 1991).

2.4.2 Kromatografi cair kinerja tinggi

KCKT dilakukan baik sebagai metode cair-padat maupun sebagai metode cair-cair. Segi unik KCKT ialah dengan pemakaian salah satu jenih detektor yang sangat peka untuk menganalisis eluen dari kolom jika kita memisahkan linarut yang tidak berwarna atau yang konsestrasinya rendah (Gritter, dkk., 1991).

2.4.3 Kromatografi gas

Dalam kromatografi gas, fase gerak berupa gas lembam seperti helium, nitrogen, argon atau bahkan hidrogen yang digerakkan dengan tekanan melalui pipa yang berisi fase diam. Walaupun dikenal sebagai kromatografi gas padat, dengan fase diam berupa permukaan zat padat, kromatografi jenih ini tidak dipakai seluas kromatografi gas cair yang fase diamnya lapisan zat cair. Pada kromatografi gas, hal yang sangat penting ialah kelarutan, dimana kelarutan

berkaitan erat dengan suhu, maka pengendalian suhu yang tepat adalah keharusan (Gritter, dkk., 1991).

2.4.4 Kromatografi kertas

Pemisahan dengan kromatografi kertas biasa dikenal dengan analisa kapiler. Metode yang bersesuaian dengan kromatografi serapan, dimana salah satu zat padat dapat digunakna untuk menyokong fase tetap yaitu bubuk selulosa. Pada kromatografi kertas peralatan yang dipakai tidak perlu alat-alat yang teliti dan mahal. Senyawa yang terdeteksi pada kertas dapat segera diidentifikasi dengan cara memotong-motong kertas kemudian dilarutkan secara terpisah. Cara kerjanya mirip sdengan kromatografi lapis tipis (Sastrohamidjojo, 1985).

2.4.5 Kromatografi lapis tipis

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar, dimana fase diamnya berupa lapisan yang seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, lempeng aluminium atau lempeng plastik (Gandjar dan Rohman, 2007). Campuran yang akan dipisah berupa larutan yang ditotolkan baik berupa bercak ataupun pita. Setelah plat atau lapisan dimasukkan ke dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).

Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (Stahl, 1985).

a. Penyerap/fase diam KLT

Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penyerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin

baik kinerja KLT. Penyerap yang paling sering digunakan adalah silika dan serbuk sellulosa (Gandjar dan Rohman, 2007).

b. Fase gerak pada KLT

Fase gerak yang digunakan pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan mencoba-coba. Biasanya fase gerak yang digunakan berisi dua campuran pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.

Fase gerak yang digunakan harus memiliki tingkat kemurniaan yang tinggi sehingga dapat memberikan pemisahan yang baik (Gandjar dan Rohman, 2007).

c. Harga Rf

Rf atau faktor retardasi didefiniskan sebagai perbandingan antara jarak yang ditempuh solut dengan jarak yang ditempuh oleh fase gerak. Nilai Rf ini terkait dengan faktor perlambatan dan nilai ini bukanlah suatu nilai fisika absolut untuk suatu komponen, meskipun demikian dengan pengendalian kondisi KLT secara hati-hati, nilai Rf dapat digunakan sebagai cara kualitatif. Nilai maksimum Rf adalah 1 dan nilai minimumnya adalah 0 (Sastrohamidjojo, 1985).

Rf= Jarak yang ditempuh solut Jarak yang ditempuh fase gerak

Faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan, sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya, tebal dan keterataan dari lapisan penyerap, pelarut dan derajat kemurniannya, derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana, teknik percobaan, jumlah cuplikan yang digunakan, suhu dan kesetimbangan (Sastrohamidjojo, 1985).

2.4.5.1 Kromatografi lapis tipis preparatif

Kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif merupakan salah satu metode pemisahan dengan menggunakan peralatan sederhana. Ketebalan penyerap yang sering dipakai adalah 0,5-2 mm. Plat kromatografi biasanya berukuran 20 x 20 cm. Pembatasan ketebalan lapisan dan ukuran plat sudah tentu mengurangi jumlah bahan yang dapat dipisahkan dengan KLT preparatif. Penyerap yang paling umum digunakan adalah silika gel. Penotolan cuplikan dilakukan dengan melarutkan cuplikan dalam sedikit pelarut. Cuplikan ditotolkan berupa pita dengan jarak sesempit mungkin karena pemisahan tergantung pada lebar pita. Penotolan dapat dilakukan dengan pipet tetapi lebih baik dengan penotol otomatis. Pengembangan plat KLT preparatif dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. Bejana dijaga tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan bantuan kertas saring yang diletakkan berdiri di sekeliling permukaan bagian dalam bejana (Hostettmann, 1995).

2.4.5.2 KLT dua arah

KLT dua arah atau KLT dua dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama, karena nilai Rf juga hampir sama, selain itu dua sistem fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campuran tertentu sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang hampir sama (Gandjar dan Rohman, 2007).

Cuplikan ditotolkan pada satu sudut lapisan yang berbentuk bujur sangkar dan dikembangkan dengan satu sistem pelarut sehingga campuran terpisah menurut jalur yang sejajar dengan salah satu sisi. Plat diangkat, dikeringkan, diputar 90 derajat, lalu diletakkan di dalam sistem pelarut yang kedua sehingga

bercak yang terpisah pada pengembangan pertama terdapat di sepanjang bagian bawah plat. Komponen yang terpisah (bercak) biasanya terdapat dimana saja pada lapisan (Gritter, dkk., 1991).

2.5 Spektrofotometri

2.5.1 Spektrofotometri ultraviolet (UV)

Prinsip spektrofotometri ultraviolet adalah interaksi terjadi antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Prinsip kerja spektrofotometri ultraviolet berdasarkan hukum Lambert-Beer, bila cahaya/sinar monokromatis melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi dipancarkan (Dachriyanus, 2004).

Spektrofotometer UV-Vis pada umunya digunakan untuk:

1. Menentukan jenis kromofor, ikatan rangkap yang terkonyugasi dan auksokrom dari suatu senyawa organik.

2. Menjelaskan informasi dari struktur berdasarkan penjang gelombang maksimum suatu senyawa.

3. Mampu menganalisis senyawa organik secara kuantitatif dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Dachriyanus, 2004).

Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan antara panjang gelombang atau frekuensi sinar UV terhadap intensitas serapan (absorbansi). Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm.

Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet tergantung pada struktur elektronik dari molekul yang bersangkutan (Sastrohamidjojo, 1985).

Transisi-transisi elektronik yang terjadi diantara tingkat-tingkat energi di dalam suatu molekul ada 4, yaitu transisi sigma-sigma star (σ→σ*), transisi n-sigma star (n→σ*), transisi n-phi star (n→π*) dan transisi phi-phi star (π→π*) (Gandjar dan Rohman, 2007).

a. Transisi sigma-sigma star (σ→σ*)

Energi yang diperlukan untuk transisi ini besarnya sesuai dengan energi sinar yang frekuensinya terletak diantara UV vakum (kurang dari 180 nm), contoh metana yang hanya mempunyai jenis ikatan –C-H, mempunyai pita serapan elektron sigma pada panjang gelombang 125 nm.

b. Transisi non bonding electron (n)-sigma star (n→σ*)

Jenis transisi ini terjadi pada senyawa organik jenuh yang mengandung atom-atom yang memiliki elektron bukan ikatan (elektron n). Energi yang diperlukan untuk transisi ini lebih kecil dibanding transisi σ→σ*, sehingga sinar yang diserappun mempunyai panjang gelombang lebih panjang, yakni sekitar 150-250 nm.

c. Transisi n→π* dan transisi π→π*

Untuk memungkinkan terjadinya jenis transisi ini, maka molekul organik harus mempunyai gugus fungsional yang tidak jenuh sehingga ikatan rangkap dalam gugus tersebut memberikan orbital phi yang diperlukan. Jenis transisi ini merupakan transisi yang paling cocok untuk analisis sebab sesuai dengan panjang gelombang antara 200-700 nm, dan panjang gelombang ini secara teknis dapat diaplikasikan pada spektrofotometer.

Perbedaan antara transisi n→π* dan transisi π→π* adalah:

n→π* π→π*

a. Absorbtivitas molar (ε) antara 10-100 liter. cm-1.mol-1

b. Biasanya, pelarut yang polar menyebabkan pergesaran biru atau hypsochromic shift (pergeseran pita serapan ke arah panjang gelombang yang lebih pendek)

a. Absorbtivitas molar (ε) antara 1000-10.000 liter. cm-1. mol-1 b. Biasanya, pelarut yang polar

menyebabkan pergesaran merah atau bathchromic shift (pergeseran ke arah panjang gelombang yang lebih panjang)

2.5.2 Spektrofotometri inframerah

Spektrofotometri inframerah pada umumnya digunakan untuk:

1. Menentukan gugus fungsi suatu senyawa organik

2. Mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya.

Prinsip kerja spektrofotometri inframerah yaitu interaksi energi dengan suatu materi. Spektrofotometri inframerah berfokus pada radiasi elektromagnetik pada rentang frekuensi 4000-200 cm-1 (Khopkar, 1990). Bentuk spektrum inframerah yang dihasilkan berupa grafik yang menunjukkan persentase transmitan yang bervariasi pada setiap frekuensi radiasi inframerah. Satuan frekuensi yang digunakan pada garis horizontal yang dinyatakan dalam bilangan gelombang yang didefinisikan sebagai banyaknya gelombang dalam tiap satuan panjang.

Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu panjang gelombang 2,5-50 µm atau bilangan gelombang 4000-200 cm-1. Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul yang dapat menyebabkan pita dan absorbs sinar inframerah sangat khas dan spesifik untuk setiap tipe ikatan kimia atau gugus fungsi (Dachriyanus, 2004). Daerah spektra spektroskopi

inframerah dibagi dalam tiga kisaran yaitu inframerah dekat (12.500-4000 cm-1), inframerah tengah (4000-400 cm-1) dan inframerah jauh (400-100 cm-1). Daerah inframerah tengah merupakan daerah yang digunakan untuk penentuan gugus fungsi (Gandjar dan Rohman, 2007).

Menafsirkan sebuah spektrum inframerah tidak terdapat aturan yang pasti., tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mencoba menafsirkan sebuah spektrum, yaitu:

1. Spektrum harus cukup terpisah dan mempunyai kuat puncak yang memadai.

2. Spektrum harus dibuat dari senyawa yang cukup murni.

3. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga pita akan teramati pada kerapatan atau panjang gelombang yang semestinya. Kalibrasi yang betul dapat dilakukan dengan baku-baku yang dapat dipercaya, misalnya polisterna.

4. Metode penanganan cuplikan harus ditentukan., seperti pada penggunaan pelarut, maka macam dan konsentrasi pelarut serta tebal sel harus disebutkan juga (Silverstein, 1986).

Dua kawasan penting dalam pemeriksaan awal sebuah spektrum adalah daerah 4000 – 1300 cm-1 (2,5 – 7,7 µm) dan daerah 909 – 650 cm-1 (11,0 – 15,4 µm). Bagian kerapatan tinggi sebuah spektrum disebut sebagai daerah gugus fungsi. Kerapatan uluran khas bagi gugus-gugus fungsi yang penting seperti -OH, NH dan C=O terletak pada bagian itu. Ketiadaan serapan pada selang jejak gugus- gugus tertentu biasanya dapat digunakan sebagai bukti bahwa molekul itu tidak mempunyai gugus-gugus tersebut. Menafsirkan seperti itu harus dengan hati-hati, sebab suatu struktur tertentu yang khas dapat menyebabkan sebuah pita menjadi sangat lebar sehingga tidak terartikan (Silverstein, 1986).

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini meliputi pengumpulan dan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, analisis ekstrak dengan kromatografi lapis tipis (KLT), isolasi senyawa saponin menggunakan KLT preparatif, uji kemurnian isolat dan karakterisasi isolat dengan spektrofotometri ultra violet (UV) dan spektrofotometri infra merah (IR).

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.2 Alat-Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat kaca laboratorium, blender, mixture vibrator, neraca analitik, oven listrik, penangas air, penguap vakum putar (rotary evaporator), seperangkat alat kromatografi lapis tipis (Desaga), seperangkat alat penentuan kadar air (alat stahl), spektrofotometer infra merah (Shimadzu), spektrofotometer ultra violet (Shimadzu) dan tanur.

3.3 Bahan-Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah daun situduh langit (Erigeron sumatrensis Retz.) dan bahan-bahan kimia berkualitas Merck yang digunakan

kecuali dinyatakan lain berkualitas pro analisis yaitu α-naftol, amil alkohol, amonia pekat, asam asetat anhidrida, asam klorida pekat, asam sulfat pekat, besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, etilasetat, iodium, isopropanol, kalium iodida, kloroform, metanol, n- heksana, natrium hidroksida, natrium sulfat anhidrida, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat dan toluena. Air suling dan etanol hasil destilasi.

3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi

Pembuatan larutan pereaksi dibawah ini menurut Depkes R.I. (1995).

3.4.1 Larutan air-kloroform

Sebanyak 2,5 ml kloroform dikocok dengan 900 ml air suling, encerkan dengan air suling hingga 1000 ml.

3.4.2 Larutan kloralhidrat

Sebanyak 50 gram kloralhidrat ditimbang dan dilarutkan dalam 20 ml air suling.

3.4.3 Pereaksi asam klorida 2 N

Sebanyak 17 ml asam klorida pekat diencerkan dengan air suling hingga 100 ml.

3.4.4 Pereaksi asam sulfat 50% dalam metanol

Sebanyak 5 ml asam sulfat pekat ditambahkan hati-hati kepada 5 ml metanol.

3.4.5 Pereaksi asam nitrat 0,5 N

Sebanyak 3,4 ml asam nitrat pekat diencerkan dengan air suling hingga 100 ml.

3.4.6 Pereaksi besi (III) klorida 1%

Sebanyak 1 g besi (III) klorida dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml.

3.4.7 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling, ditambahkan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.

3.4.8 Pereaksi Dragendorff

Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml kalium iodida P 54,4% b/v, didiamkan sampai memisah sempurna. Lalu diambil lapisan jernih dan diencerkan dengan air suling

Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml kalium iodida P 54,4% b/v, didiamkan sampai memisah sempurna. Lalu diambil lapisan jernih dan diencerkan dengan air suling

Dokumen terkait