HASIL PENELITIAN
V.I.I Analisis Isi Tekstual
IV.2.2 ANALISIS FRAMING
3. Frame berita 21 April 2011 Masih Ada Kecurangan
Perguruan Tinggi Belum Percaya Kualitas UN
JAKARTA,KOMPAS- Hingga hari kedua pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/SMK sederajat, tim pengawas dari perguruan tinggi masih menemukan kecurangan di sejumlah sekolah. Tim pengawas menilai sejumlah sekolah itu kurang percaya diri pada kemampuan murid-muridnya.
“Akibatnya, guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,” kata Ketua Kepengawasan dan Pemindaian Ujian Nasional (UN) DKI Jakarta Soeprijanto Rabu (20/4) di Jakarta.
Kecurangan antara lain ditemukan di sekolah-sekolah yang masih menumpang di sekolah lain. “Ditemukan kasus penggandaan kunci lemari penyimpanan naskah soal. Masih diselidiki apakah naskah soalnya juga bocor,” kata Soeprijanto yang juga Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Soeprijanto mengatakan, pengawasan masih dilakukan oleh perguruan tinggi karena berharap akan ada peningkatan mutu UN. “Jika kejujuran dalam Un sudah ditegagkan, perguruna tinggi tidak perlu lagi menjadi pengawas UN,” katanya.
Namun, jika kecurangan msaih terjadi, berarti kualitas UN masih rendah. Jika ini dibiarkan berlanjut, perfuruan tinggi belum bisa sepenuhnya percaya dan menerima Un sebagai “kunci masuk” ke PTN.
Soeprijanto mengakui pengawas dari perguruan tinggi masih terbatas jumlahnya. Tahun ini dosen yang dilibatkan untuk melakukan pengawasan Un di DKI Jakarta berjumlah mencapai 1.391 orang dan ditugaskan untuk melakukan pengawasan di rayon serta berbagai SMA dan SMK.
Di DKI Jakarta masih terjadi kesalahan pencatatan jumlah peserta ujian nasional yang cukup signifikan.pada hari pertama ujian nasional, panitia pelaksana melaporkan ada 5.314 sisiwa yang tidak hadir dalam ujian Bahasa Indonesia. “Namun setelah diperikasa ulang, ternyata hanya 236 peserta yang tidak hadir,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.
Kesalahan itu menurut Taufik Yudi, terjadi pada pendataan tingkat rayon. Di rayon 04 Jakarta Utara misalnya, dari 2.853 peserta UN, yang hadir tercatat 1.864 peserta.” Ternyata jumlah itu peserta dari kelas IPA, sedangkan peserta dari kelas IPS lupa tidak terhitung,” kata Taufik Yudi.
Kesalah itu juga terjadi di Rayon 07 Jakarta Barat. Data awal menunjukkan ada 5.320 peserta, “Ternyata hanya ada 3.206 peserta,” kata Taufik. Dinas Pendidikan DKI Jakarta saat ini sedang menelusuri penyebab kesalahan-kesalahan tersebut.
Prosedur pengamanan lembar jawaban UN, kata Taufik, para pengawas menghitung lembar jawaban, mencatatnya dan menyegelnya dalam amplop. Amplop kemudian diteruskan ke tingkat sekolah, rayon, dan terakhir dikumpulkan di kampus UNJ pada hari itu.
Jumlah lembar jawaban yang masuk ke UNJ ini, sambung Taufik, belum termasuk peserta dari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Karena alas an jarak yang jauh, seluruh lembar jawaban dari Kepulauan Seribu akan disimpan dulu di ruang penyimpanan naskah masing-masing rayon. (LIK/ARN/MDN/(ACI/ENG).
Defining Problem
Sejak tiga tahun lalu, kasus terungkapnya kecurangan UN menjadi pembicaraaan yang hangat ditengah masyarakat apalagi setiap menjelang pelaksanaan ujian nasional, dan ujian nasional tahun ini masih tetap diwarnai oleh kecurangan. Jika tahun sebelumnya kecurangan yang terjadi sangat bervariasi dan sudah terorganisir, tahun ini memang mengalami perubahan. Kecurangan tidak sekomplit tahun lalu.
Dalam berita ini dilaporkan bentuk kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional SMA/MA/SMK tahun 2011 ini berupa bantuan jawaban yang diberikan guru kepada anak didik pada saat ujian berlangsung. Bentuk kecurangan memang berkurang, tetapi mental pendidik dan anak didik sudah terikat dengan kecurangan itu sendiri.
“Hingga hari kedua pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/SMK sederajat, tim pengawas dari perguruan tinggi masih menemukan kecurangan di sejumlah sekolah... “
“... guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,”
Masalah berikutnya yang diungkapkan dalam berita ini adalah kesalahan menghitung jumlah peserta ujian yang tidak hadir di daerah DKI Jakarta. Kesalahan itu terjadi di pendataan di tingkat Rayon.
“...panitia pelaksana melaporkan ada 5.314 sisiwa yang tidak hadir dalam ujian Bahasa Indonesia. Namun setelah diperiksa ulang, ternyata hanya 236 peserta yang tidak hadir...”
Diagnose Cause
Dalam berita “Masih Ada Kecurangan” ini yang menjadi masalah utamanya adalah adanya kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional. Dan aktornya adalah guru di masing- masing sekolah, yang apabila difikirkan secara logika, pengawas ujian juga pasti terlibat dalam kecurangan ini. karena saat guru memberikan contekan kepada anak didiknya yang sedang melaksanakan ujian nasional, pasti ada pengawas juga di dalam ruangan. Bahkan dikatakan juga, bahwa murid diizinkan saling mencontek ketika ujian berlangsung. Disebutkan yang menjadi penyebab terjadinya kecurangan ini adalah sekolah kurang percaya diri pada kemampuan murid-muridnya. Padahal, dengan sistem penilaian kolaborasi dari nilai ujian nasional dengan nilai sekolah dengan perbandingan 60:40 persen, sudah sangat membantu nilai kelulusan siswa.
Kecurangan itu juga terjadi di sekolah-sekolah yang menumpang di sekolah lain. Ditemukan kasus penggandaan kunci lemari penyimpanan naskah soal. Masih diselidiki apakah naskah soal memang telah bocor atau belum. Sebaiknya pemerintah memikirkan dengan serius dengan sekolah-sekolah yang masih menumpang di sekolah lain.
Kesalahan menghitung jumlah peserta ujian dalam berita ini tidak dijelaskan apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut.
Make Moral Judgement
Pemerintah mencanagkan hasil ujian nasional menjadi syarat untuk masuk perguruan tinggi, tanpa mengikuti ujian seleksi masuk. Dengan adanya kebijakan ini, memang akan semakin mengefektifkan fungsi ujian nasional. Tetapi dengan memandang proses ujian nasional yang berlangsung beberapa tahun ini, pemerintah melihat masih banyak yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan ujian nasional sebagai syarat masuk perguruan tinggi. Dengan adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi, membuat pihak perguruan tinggi meragukan kemurnian nialai ujian nasional yang diperoleh oleh siswa-siswa SMA/MA/SMK.
“... jika kecurangan masih terjadi, berarti kualitas UN masih rendah. Jika ini dibiarkan berlanjut, perguruan tinggi belum bisa sepenuhnya percaya dan menerima UN sebagai “kunci masuk” ke PTN.”
Treatment Recommendation
Dalam berita ini, narasumber maupun harian Kompas hanya menuturkan permasalahan, tidak ada memuat jalan keluar bagi masalah yang dihadapi.