• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

V.I.I Analisis Isi Tekstual

IV.2.2 Rangkuman Frame Berita

Setelah masing-masing berita diatas dianalisis dengan keempat komponen,maka langkah selanjutnya adalah merangkumkan hasil analisis tersebut sehingga dapat dilihat secara menyeluruh frame berita ujian nasional 2011 dan bagaimana harian Kompas mengkonstruksinya.

Defining Problem

Dari kelima berita yang telah dianalisis, dapat dilihat apa masalah utama yang dibahas dalam setiap berita. Dan apabila dipahami secara keseluruhan akan terdapat pola berita yang sama dalam pembahasannya. Sepuluh dari sebelas berita tentang ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK ini berada pada rubrik pendidikan dan budaya pada halaman 12. Tidak ada satu pun berita yang berada pada halaman utama. Jadi dalampemberitaannya harian Kompas memandang ujian nasional ini hanya dari sisi pendidikannya. Dan narasumber yang dipilih juga berasal dari akademis dan pemerintah bagian pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, panitian UN, kepala dinas pendidikan dan menteri pendidikan. Ini menyebabakan pembahasan berita hanya berkisar pada masalah dan pandangan yang sama. Akan lebih baik apabila ada narasumber dari pihak lain, misalnya lembaga survey atau aktivis,sehingga pendapat mereka bisa menjadikan pembahasan berita lebih kritis.

Secara umum berita ujian nasional 2011 ini, membahas tentang sistem ujian nasional dengan prosedur yang baru, yaitu sistem penilaian kelulusan siswa dengan mengkombinasikan nilai ujian nasional dengan nilai ujian sekolah. Dalam berita yang telah dianalisis, yang menjadi topic utama bahasan berita adalah keberhasilan ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK tahun 2011. Pemerintah menilai keberhasilan ujian nasional tahun ini dari sisi persentase kelulusan yang mengalami peningkatan dari tahun lalu, yaitu 99.04 % naik menjadi 99.22%. Dari total peserta Ujian Nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK yang berjumlah 1.461.941 siswa hanya 16.098 siswa yang tidak lulus. Selain dari persentasenya,

sistem ujian nasional tahun ini juga dianggap berhasil bila dibandingkan dengan tahun lalu. Siswa sangat terbantu dengan sistem mengkombinasikan ujian nasional dengan ujian sekolah. Hal demikian dinyatakan oleh anggota Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, berikut ini:

“... pelaksanaan tahun ini relatif lebih baik,”

“Secara umum, saya melihat tahun ini pelaksanaan dan hasil UN lebih baik dibanding tahun sebelumnya.”

Kecuranagan UN yang selama beberapa tahun terakhir menjadi permasalahan nasional, berdasarkan pengaduan yang masuk ke pos pengaduan menteri pendidikan nasional, tahun ini dinyatakan berkurang. Tidak ada lagi kasus kebocoran naskah soal dan kunci jawaban yang beredar sebelum ujian dimulai. Memang kecurangan masih belum total bersih, masih ada kecurangan-kecurangan dalam porsi lebih sedikit yang terus diminimalisasikan

Diagnose Causes

Dari hasil ujian nasional tahun 2011 ada peningkatan signifikan persentase kelulusan, yaitu dari 99.04 % menjadi 99.22 %. Perubahan sistem penilaian kelulusan menjadi kombinasi antara nilai ujian nasional dan nilai sekolah dengan persentase 60:40 persen menjadi penyebab dari kenaikan persentase kelulusan ini. Kepala Dinas Pendidikan Sultra mengatakan:

“Para siswa menjadi tidak tertekan lagi menghadapi UN....”

Secara kuantitatif, pelaksanaan UN tahun 2011 memang berhasil, tetapi apabila ditinjau dari kualitatifnya, masih ada hal-hal yang diragukan. Contohnya nilai sekolah siswa yang dikatrol oleh masing-masing sekolah, sehingga rata-rata siswa memperoleh nilai 8-9 pada nilai sekolahnya. Hal ini disebabkan porsi nilai sekolah sebesar 40 % dalam penentuan kelulusan. Sekolah dan guru berupaya sebisa mungkin untuk membantu anak didiknya

dengan cara mengkatrol nilai sekolah. Pada dasarnya hal ini merupakan kecuranagan juga, sama seperti ujian nasional sebelumnya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Walaupun berita menuliskan bahwa pengawasan ujian nasional tahun ini sangat ketat, ujian nasional tahun ini tetap diwarnai dengan kecurangan. Pada hari-H pelaksanaan ujian guru memberikan jawaban kepada anak didik yang sedang ujian dan siswa diizinkan untuk saling menyontek. Dari situasi ini dapat dilihat bahwa ada kompromi antara sekolah, guru, dan pengawas. Dimana seharusnya, selain pengawas tidak seorangpun yang dibenarkan masuk dan keluar ruang ujian.

“... guru membantu memberikan jawaban dan membiarkan muridnya mencontek di ruang ujian,”

Ujian nasional hampir setiap tahunnya mengalami perubahan sistem ujian, dan sampai saat ini belum ditetapkan standart ujian kelulusan bagi siswa-siswi. Dengan perubahan- perubahan dari tahun ke tahun, tentu akan mengalami kesulitan dalam sosialisasi dan teknis. Demikian juga dengan tahun ini, dengan perubahan sistem yang baru, pemerintah dan panitia terkesan kurang matang mempersiapkan teknis ujian, terlihat dari adanya sekolah yang tidak mengirimkan nilai sekolah siswa-siswinya dan sirkulasi naskah soal yang belum sistematis.

Make Moral Judgement

Nilai moral yang ditampilkan sebagai bentuk legitimasi dan delegitimasi dalam berita ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK tahun 2011, tidak terlalu banyak. Secara umum dapat dilihat sebagai faktor yang mendukung kesuksesan pelaksanaan ujian nasional tahun 2011. Faktor yang dimaksud adalah rencana pemerintah untuk menjadikan hasil ujian nasional sebagai pemetaan kondisi pendidikan Indonesia maupun sekolah. Selain sebagai data untuk pemetaan pendidikan Indonesia,pemerintah juga mencanangkan hasil ujian nasional sebagai persyaratan masuk perguruan tinggi negeri. Dengan adanya kebijakan ini,maka pemerintah

mengusahakan untuk meningkatkan mutu ujian nasional, yang nantikan juga akan meningkatkan gambaran pendidikan Indonesia. Untuk mencapai mutu yang baik, harian Kompas menuliskan bahwa pemerintah memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan.

Treatment Recommendation

Ada beberapa hal yang menjadi pokok bahasan utama dalam pembahasan berita ujian nasional 2011 ini. Tetapi dari kendala-kendala yang ada, baik narasumber ataupun harian Kompas tidak memberikan tawaran penyelesaian yang menjawab persoalan tersebut.

Harian Kompas sama sekali tidak menawarkan penyelesaian dari permasalahan yang diangkat. Sedangkan dari pihak pemerintah ada kebijakan yang diambil guna menjawab permasalahan yang ada, yaitu memberikan bantuan dana untuk pembenahan pendidikan bagi sekolah atau daerah yang hasil ujian nasionalnya tahun ini tidak memuaskan.

“Kebijakan serupa diterapkan tahun lalu. Bantuan dana Rp100 miliar diberikan kepada 100 kabupaten/kota dengan hasil UN kurang baik. Setiap kabupaten/kota memperoleh Rp 1 miliar untuk satu tahun. Khusus di NTT ada 10 kabupaten yang dibantu.

Dan untuk permasalahan teknis pelaksanaan UN yang masih ditemukan dalam banyak hal, pemerintah hanya menghimbau ketelitian teknis untuk ujian nasional berikutnya.

Frame Berita Ujian Nasional SMA/MA/SMK Tahun 2011

Defining Problem Secara umum, persentase kelulusan ujian nasional SMA/MA/SMK tahun ini mengalami peningkatan signifikan.

Diagnose Causes Sistem penilaian kombinasi nilai ujian nasional dengan nilai sekolah sangat membantu dalam ujian nasional tahun ini. Make Moral Judgement Pemerintah mencanangkan hasil ujian

nasional sebagai syarat masuk PTN dan bahan pemetaan kondisi pendidikan Indonesia dan masing-masing sekolah.

Treatment Recommendation Daerah dengan hasil UN rendah, diberikan bantuan dana, dan menghimbauan agar semua pihak yang terkait, teliti dalam menjalankan teknis persiapan dan pelaksanaan ujian.

BAB V

PENUTUP

V.1. KESIMPULAN

Berdasarkan rangkaian proses penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Setelah dianalisis dengan analisis framing dengan pendekatan Robert Entman, dapat dilihat dengan jelas bagaimana konstruksi berita ujian nasional 2011 tingkat SMA/MA/SMK. Isu yang diangkat adalah ujian nasional 2011. Dan aspek ditonjolkan adalah ujian nasional 2011 mengalami keberhasilan yang cukup signifikan yaitu meningkat dari 99.04 persen menjadi 99.22 pesen. Konstruksi berita ini dapat dilihat dari rubrik penempatan berita, 90 persen berita tersebut berada pada rubrik pendidikan & kebudayaan. Sehingga berita ujian nasional ini tidak kritis. Karena dipandang dari satu sisi saja dengan pilihan narasumber yang berasal dari satu latar belakang juga. Narasumber harian Kompas yang notabene daripihak pendidikan, menyebutkan bahwa kecurangan dalam UN juga sudah berkurang apabila dibandingkan dengan tahun lalu. Harian Kompas juga sangat minim dalam mengekspose kelemahan dari sistem ini, dan keunggulannya yang selalu diberitakan. Dengan fakta dan uraian yang dituturkan narasumber dalam harian Kompas, seolah ujian nasional tahun ini sudah mengalami keberhasilan dalam hal kuantitatif dan kualitatif. Padahal kuantitatif dan kualitatif tidak selamanya berbanding lurus.

ini adalah peningkatan persentase kelulusan siswa dalam ujian nasional yang dianggap sebagikeberhasilan sistem baru yang ditetapkan pemerintah. Namun, terkait ini Kompas kurang proporsional dalam menampilkan berita, berdasarkan pemilihan narasumber, jenis penulisan berita, posisi berita dan isu-isu yang diangkat.

3. Isu ujian nasional tidak menjadi berita yang masuk dalam agenda penting harian Kompas. Terlihat dari tidak ada satu pun dari 11 berita yang ada tidak satu pun menjadi headline news. Tetapi 90 persen berada pada rubrik pendidikan dan kebudayaan dan satu lainnya pada rubrik metropolitan. Dalam berita yang keseluruhannya dikemas dalam bentuk straight news menyebabkan berita tersebut tidak dibahas secara mendalam. Penulisan berita ujian nasional 2011 seolah hanya momentum saja. Tidak satu pun dari berita yang dibahas lebih dari 20 paragraf dan hanya 2 berita yang dibahas dalam 16-20 paragraf. Seharusnya tahun ini lebih dibahas lagi, karena sistem ujian yang baru diberlakukan tahun ini, merupakan alternative yang diputuskan pemerintah atas persoalan ujian nasional dari tahun sebelumnya.

V.2 SARAN

1. Keterbatasan peneliti baik dalam hal-hal teknis seperti kurangnya literatur sangat mempengaruhi penelitian. Oleh karena itu hendaknya kajian penelitian tentang media lebih ditingkatkan lagi sehingga memperluas pemahaman tentang penelitian konstruktivis.

2. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan terlihat bahwa ternyata media memiliki kepentingan tertentu. Tidak selamanya berita itu murni memberitakan fakta lapangan. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang cukup untuk memahami faktor yang membentuk realitas tersebut sehingga pemahaman pembaca tidak digiring oleh berita- bertita yang disuguhkan oleh media. Dalam menanggapi setiap isu yang beredar, sebesar

apapun media memberitakannya seharusnya pola berfikir yang cermat perlu untuk terus dijaga. Karena dengan literasi media, dapat dibedakan apa yang sesuai fakta apa yang telah dipengaruhi.

3. Media hendaknya menjaga integritasnya dalam memberitakan berita, sehingga berita yang disampaikan menjadi informasi bahkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan menjadi bumerang yang merusak pola pikir khalayak luas. Yang dierlukan oleh khalayak adalah kebenaran dari fakta-fakta yang ada, jangan menjadikan masyarakat menjadi sasaran untuk kuasa dan keuntungan.