KONSTRUKSI BERITA UJIAN NASIONAL 2011
PADA HARIAN KOMPAS
(Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)
Diajukan Oleh:
NAMA : ELISABET M SAMOSIR
NIM : 090922061
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.
Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011 tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.
KATA PENGANTAR
Pujian, hormat dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memampukan penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “KONSTRUKSI
BERITA UJIAN NASIONAL 2011 PADA HARIAN KOMPAS (Studi Analisis Framing
Berita Ujian Nasional 2011 Tingkat SMA/MA/SMK pada Harian Kompas dengan
Pendekatan Paradigma Konstruktivisme)”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan
untuk menyelesaikan masa studi dan mencapaigelar kesarjanaan di Program Ekstensi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari dalam keterbatasannya, masih banyak kekurangan dalam
penulisan skripsi ini. Untuk itu dengan besar hati penulis menerima masukan yang baik untuk
perkembangan skripsi ini skripsi ini.
Dan pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
1. Orangtua penulis W. Samosir/S. Panggabean dan seluruh keluarga besar (Abang,
kakak, dan ipar) yang telah mendukung penulis dalam doa, perhatian dan
kebutuhan-kebutuhan penulis, sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan FISIP Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Fatma wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Sumatera Utara, terima kasih atas bantuan Ibu kepada penulis dalam
penulisan skripsi ini.
4. Bapak Syarifuddin Pohan, M.Si, Ph.D selaku Dosen Pembimbing, terima kasih
banyak penulis ucapkan atas bantuan Bapak dalam setiap ilmu, pemikiran, dorongan
dan waktu yang Bapak luangkan untuk membantu penulis dalam penyelesaian skripsi
ini.
5. Seluruh dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU, terimakasih telah membekali penulis
6. Harian Kompas sebagai sumber berita yang sangat berpengaruh besar dalam penulisan
dan penyelesaian skripsi ini.
7. Sahabat penulis , Desi dan Echa terimakasih telah memotivasi dan mendukung
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
8. Seluruh teman-teman ekstensi Ilmu Komunikasi angkatan 2009, terimakasih atas
kebersamaan kita selama kuliah.
9. Rekan kerja penulis, khususnya kak Nurul Fatimah, terimakasih banyak untuk setiap
izin dan pengertian yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman KTB dan Persekutuan Siswa Kristen, terimakasih telah mendoakan dan
memotivasi penulis selama penyelesaian skripsi ini.
11. Dan semua pihak yang telah mendukung penulisan skripsi ini, terimakasih untuk
segalanya.
Medan, 16 Agustus 2011
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAKKATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang Masalah 1
I.2 Perumusan Masalah 4
I.3 Pembatasan Masalah 5
I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 5
I.4.1 Tujuan Penelitian 5
I.4.2 Manfaat Penelitian 5
I.5 Kerangka Teori 6
I.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa 6
I.5.2 Berita dan Jurnalistik 7
I.5.3 Paradigma Konstruktivisme 8
I.5.4 Ideologi Media 9
I.5.5 Hegemoni Media 9
I.5.6 Analisis Framing 10
I.6 Kerangka Konsep 11
BAB II. URAIAN TEORITIS 14
II.1Komunikasi dan Komunikasi Massa 14
II.2 Berita dan Jurnalistik 17
II.2.1 Berita 17
II.2.2 Jurnalistik 19
II.3 Paradigma Konstruktivisme 20
II.4 Ideologi Media 27
II.5 Hegemoni Media 28
II.6 Analisis Framing 30
BAB III. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN METODOLOGI
PENELITIAN 37
III.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 37
III.1.1 Sejarah Harian Kompas 38
III.1.2 Visi, Misi, dan Motto Harian Kompas 40
III.1.3 Nilai-nilai Dasar Harian Kompas 41
III.2 Metode Penelitian 41
III.3 Subjek Penelitian 43
III.4 Teknik Pengumpulan Data 43
III.5 Teknik Analisis Data 44
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 48
IV.1 Analisis Isi Tekstual 49
IV.2 Analisis Framing 62
IV.2.2 Rangkuman Frame Berita 83
BAB V. PENUTUP 87
V.1 Kesimpulan 87
V.2 Saran 88
V.3 Implikasi Penelitian 89
V.3.1 Implikasi Teoritikal 89
V.3.2 Implikasi Praktikal 89
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel. 1 Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis 22
Tabel 2 Dimensi Framing Robert Entman 35
Tabel 3 15 Koran Teratas Tingkat Nasional 37
Tabel 4 Contoh Tabel Narasumber 44
Tabel 5 Contoh Tabel Jumlah Paragraf 45
Tabel 6 Contoh Tabel Jenis Berita 45
Tabel 7 Contoh Tabel Rubrik 45
Tabel 8 Contoh Tabel Isu yang Ditonjolkan 46
Tabel 9 Daftar Berita Ujian Nasional 49
Tabel 10 Profil Berdasarkan Halaman 50
Tabel 11 Profil Berdasarkan Jenis Berita 52
Tabel 12 Profil Berdasarkan Rubrik 53
Tabel 13 Profil Berdasarkan Jumlah Paragraf 53
Tabel 14 Profil Berdasarkan Narasumber 54
Tabel 15 Profil Berdasarkan Isu yang Diangkat 55
Tabel 16 Frekuensi Jumlah Paragraf 56
Tabel 17 Frekuensi Jenis Berita 57
Tabel 18 Frekuensi Posisi Berita 58
Tabel 19 Frekuensi Rubrik 58
Tabel 20 Frekuensi Narasumber 60
Tabel 21 Frekuensi Isu yang Ditonjolkan 61
Tabel 22 Daftar Berita yang Diteliti 62
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas (Studi Analisis Framing Berita Ujian Nasional 2011 pada Harian Kompas dengan Pendekatan Paradigma Konstruktivisme). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana rekonstruksi berita Ujian Nasional dan mengetahui bagaimana pandangan dan posisi harian Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan yang dipakai adalah paradigma kontruktivisme, yaitu paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan ) kita sendiri.
Subyek penelitian yang dipakai adalah berita tentang ujian nasional tahun 2011 tingkat SMA/MA/SMK pada harian Kompas yang terbit mulai tanggal 16 April sampai tanggal 18 Mei 2011, tidak termasuk opini dan berita lokal . Setelah berita dikumpulkan terdapat 11 berita yang memenuhi kriteria penelitian. Kemudian data-data yang telah terkumpul dikliping, ditabulasikan dan berikutnya dianalisis. Ada dua tahap analisis yang dilakukan, yaitu analisis tekstual kuantitatif dengan cara mentabulasikan berita berdasarkan jumlah, frekuensi, dan persentase dari setiap kategori paragraph, jenis berita, posisi berita,rubrik berita, atribut sosial narasumber, dan isu yang diangkat dalam berita. Kemudian analisis berikutnya adalah analisis framing yang bertujuan untuk melihat isu yang diangkat dan aspek apa yang ditonjolkan dalam berita ujian nasional tersebut.
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Bidang yang sangat berpengaruh dalam pembangunan suatu bangsa adalah bidang pendidikan. Pendidikan mengintegrasi dalam segala bidang dan dengan pendidikan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan bukan hanya membentuk kognitif, tetapi pendidikan juga harus mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik, seperti: pengenalan diri, keterampilan, akhlak mulia, kecerdasan, kekuatan spiritual dan lain-lain. Untuk mencapai tujuan yang mulia ini disusunlah kurikulum, yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan dan metode pembelajaran. Dan untuk melihat tingkat keberhasilan pendidikan tersebut dilakukanlah evaluasi. Evaluasi yang berhasil adalah evaluasi yang mengunakan alat yang sesuai untuk mengukur setiap aspek tujuan.
Dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas/sederajat, saat ini menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Ujian Nasional merupakan evaluasi belajar pada akhir tahun ajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran.
Namun UN hingga kini menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat maupun pemerintah. Banyak polemik yang tak kunjung terjawab. Beberapa diantaranya seperti makelar jawaban, jual beli soal maupun kunci jawaban, pencurian soal, unjuk rasa, kasus bunuh diri, frustrasi dan dampak psikologis terkait siswa-siswi yang tidak lulus. Di satu sisi, UN merupakan sebuah cita-cita mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dimana pemerintah menginginkan pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Di sisi lain pemerintah belum memiliki kemampuan untuk meningkatakan standarisasi dan kualitas pendidikan kita, baik kualitas pengajar, standarisasi kurikulum dan standarisasi sarana prasarana yang ada. Sehingga sistem pendidikan kita mengalami ketimpangan.
sekolah-sekolah di daerah yang tidak difasilitasi oleh pemerintah, baik dari segi sarana prasarana, jumlah dan kwalitas tenaga pengajar. Di daerah masih ada sekolah yang hanya memiliki dua atau tiga orang guru, untuk mengajar siswa SMA dari kelas X sampai kelas XII. Masih banyak sekolah yang gedung dan alat mobilernya tidak memadai untuk mendukung proses belajar mengajar. Sementara di kota-kota besar, gedung-gedung sekolah berdiri megah dengan tenaga pengajar yang berkualitas dan dilengkapi oleh fasilitas yang mendukung pendidikan. Bagaimana mungkin sekolah-sekolah tertinggal dapat disetarakan standar penilaiannya dengan sekolah-sekolah bonafit yang ada di perkotaan, dimana semua fasilitas pendidikan serba memadai.
Ujian nasional yang berlangsung hanya dalam beberapa hari dan hanya menguji beberapa mata pelajaran dijadikan patokan untuk mengukur keberhasilan siswa/siswi juga dianggap kurang tepat. Karena pada saat pengumuman, tidak sedikit ditemui siswa yang selama tiga tahun menjalani pembelajaran memiliki prestasi yang baik dinyatakan tidak lulus. Dengan menjadikan UN patokan tunggal dalam evaluasi hasil belajar, seolah-olah meniadakan arti dari pendidikan selama tiga tahun sebelumnya dan mata pelajaran yang tidak masuk ujian nasional. Sistem ujian nasional memandang keberhasilan anak didik dilihat hanya dalam beberapa hari, tidak secara kontiniu selama proses belajar mengajar dilakukan.
Hal di atas merupakan racun mematikan bagi bangsa Indonesia secara sistemik mulai dari pemimpin nasional, pemimpin provinsi, daerah, guru bahkan sampai kepada siswa-siswi. Sistem ini akan merusak mental bangsa. Mengajarkan generasi penerus untuk meraih keberhasilan dengan kecurangan. Hal yang menyedihkan, menanggapi kondisi tersebut, Mendiknas menuturkan dengan enteng : “Menyelengarakan Ujian Nasional adalah sebuah tugas besar, jika terjadi beberapa kecurangan, saya rasa itu wajar, karena kami bukan
malaikat,”
un-wajar/
Memandang fakta-fakta yang ada di lapangan, sangat bijak bila sistem ujian nasional ini ditinjau ulang keberadaannya. Berbagai desakan dan tuntutan juga sudah disampaikan agar ujian nasional ditiadakan. Tetapi hal itu tidak membuat pemerintah bergeming. Ujian nasional 2011 tetap diadakan meskipun dengan beberapa ketentuan yang baru lagi. Tahun ini, paket soal UN dikemas dalam lima kode soal (A,B,C,D,E) dan memperhitungkan nilai sekolah sebanyak 40% sebagai penentu nilai kelulusan, dengan nilai kelulusan minimal adalah 5.5. Dari segi sistem sudah semakin baik, tetapi sistem yang setiap tahunnya mengalami perubahan, juga menjadi kelemahan karena ketidak adaan sistem baku ujian nasional. Mental peserta ujian sudah terlanjur terkontaminasi dan pada pelaksanaan ujian nasional 2011 ini pun, kecurangan tetap terjadi.
). Dinas Pendidikan dan sekolah bersandiwara demi nama baik dengan meraih tingkat kelulusan yang tinggi, bahkan mereka sangat bangga apabila mencapai persentase 100% walau dengan kecurangan.
Hampir seluruh media, khususnya media cetak menyoroti masalah ujian nasional ini. Pemberitaannya juga beragam-ragam, ada yang mengkritik dan mendukung menolak UN dan ada juga surat kabar yang menampilkan seolah-olah ujian nasional berjalan dengan baik dan benar. Kompas juga mengulas setiap berita tentang ujian nasional dengan detail dan mendasar. Inilah mengapa peneliti memilih harian Kompas sebagai objek penelitian tentang berita ujian nasional 2011.
“Inti Sari”, dengan 128 halaman pada saat pertama kali terbit pada tanggal 7 agustus 1963. perkembangan berikutnya berubah nama menjadi “Bentara Rakyat” dan terakhir menjadi Kompas. Kompas edisi pertama dicetak pada tanggal 28 juni 1965 dengan motto “ Amanat Hati Nurani Rakyat”. Dan saat terbit pada 6 Oktober 1965, Kompas menembus angka 23.268 eksemplar, hingga pada akhir pemerintahan Soeharto tiras Kompas mencapai angka lebih dari 600 ribu eksemplar per hari. Pembaca koran ini mencapai 2.25 juta orang di seluruh Indonesia. Sejarah perjalan Kompas menjadi sebuah jaminan objektifitas dalam setiap pemberitaannya
Pada umumnya pemberitaan di media cetak maupun elektronik sedikit banyak selalu dipengaruhi oleh latar belakang, seperti ideologi dan pemilik media. Bahkan secara khusus cara pandang wartawan terhadap suatu isu mempengaruhi isi berita yang dibuatnya. Dan tidak menutup kemungkinan hal serupa juga terjadi dalam surat kabar harian Kompas terkait pengulasan berita tentang ujian nasional 2011. Kita tidak mengetahui secara jelas fakta-fakta apa yang mendasari pemikiran wartawan dan bagaimana suatu peristiwa tersebut dikonstruksi menjadi berita. Untuk mengetahui lebih mendalam konstruksi pemberitaan, peneliti menggunakan analisis framing. Framing bersama semiotik dan analisis wacana berada dalam rumpun studi analisis. Proses framing berkaitan dengan persoalan bagaimana sebuah realitas dikemas dan disajikan dalam persentase media.
Dari serangkaian penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti konstruksi berita tentang ujian nasional 2011 pada harian Kompas.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah sebagai berikut:
“Bagaimanakah konstruksi berita Ujian Nasional 2011 dalam harian Kompas?”
Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan pembatasan agar dalam penelitian lebih jelas dan lebih fokus. Adapun pembatasan masalah adalah sebagai berikut:
a. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, untuk mengetahui isi pemberitaan Ujian Nasional 2011.
b. Penelitian ini menggunakan analisis framing . Media yang diteliti adalah media cetak harian, dalam hal ini harian Kompas.
c. Penelitian ini dibatasi untuk meneliti konstruksi berita Ujian Nasional 2011 untuk tingkat SMA/MA/SMK.
d. Berita yang diteliti adalah pemberitaan mengenai Ujian Nasional 2011 yang terbit mulai tanggal 16 April sampai dengan tanggal 18 Mei 2011.
1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui konstruksi berita Ujian Nasional 2011 di Harian Kompas.
2. Untuk mengetahui pandangan dan posisi harian Kompas terkait pemberitaan Ujian Nasional 2011.
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperkaya bacaan referensi, bahan penelitian serta sumber bacaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak yang membutuhkan dan yang terkait di dalamnya agar dapat lebih meningkatkan kualitasnya.
1.5 KERANGKA TEORI
Dalam penelitian ilmiah, yang menjadi landasan dalam berpikir adalah teori. Teori berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), definisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variable, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat,2004:6).
1.5.1 Komunikasidan Komunikasi Massa
Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Yang berarti “ Siapa Mengatakan Apa dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?” (Mulyana,2005:62).
Komunikasi massa merupakan salah satu jenis dari komunikasi. Komunikasi massa itu sendiri diadopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa). Artinya komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang “mass mediated”.
Kata massa dalam komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar “orang banyak”. Massa kita artikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar di berbagai lokasi dalam waktu yang sama dan menerima pesan-pesan komunikasi yang sama. (Wiryanto,2005,3).
berbeda dengan konteks penerimanya. Secara signifikan tidak ditemukan resiproksitas, kesetaraan, dan saling pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu dan komunitas lebur dalam totalitas massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa modern mencerminkan problem-problem masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).
Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah
2. Komunikator pada komunikasi massa terlembaga
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
4. Media komunikasi massa menimbulakan keserempakan
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen.
1.5.2 Jurnalistik dan Berita
Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari bahasa Belanda journalistiek, dan dalam bahasa Inggris journalistic atau journalism, yang bersumber pada perkataan journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin diurnal, yang berarti “harian” atau “setiap hari”. Secara gamblang, jurnalistik didefenisikan sebagai keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat.
dikemas rapi menjadi cerita, pada hari yang sama di radio, atau televisi dan keesokan harinya di berbagai media. Tidak semua hal dapat dikatakan berita, sesuatu dapat dikatakan berita jika terdapat unsur-unsur berita di dalamnya, seperti aktual (baru), kedekatan, penting, akibat, pertentangan/konflik, seks, ketegangan, kemajuan-kemajuan, konsekuensi, emosi, humor, dan human interest.
1.5.3 Paradigma Konstruktivisme
Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1. paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi (penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.; 2. paradigma adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah kerangka berfikir.
Menurut ilmu komunikasi definisi paradigma adalah pola yang meliputi sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Pemahaman terhadap paradigma dan perspektif yang kini menjadi acuan dalam teori komunikasi modern diilhami oleh tradisi proses informasi, dimana teori komunikasi itu berawal dari perspektif pemprosesan informasi sehingga menjadi paradigma.
Menurut Robert Fredrichs, definisi paradigma adalah pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi subject matter yang semestinya dipelajari.
Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak akan pernah mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi dari suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi hendak melihat bagaimana kita menjadi tau akan sesuatu (Ardianto,,2007:80).
dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Positivisme meyakini bahwa pengetahuan harus merupakan representasi dari kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Konstruktivitas adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Ardiyanto,2007:154).
1.5.4 Ideologi Media
Kata ideology berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea berarti sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis berasal dari kata logos yang berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori (Sobur,2004:64).
Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Ideologi ini abstrak dan berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas (Sudibyo,2001:12).
Media berperan mendefenisikan bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu kepada khalayak. Pendefenisian tersebut bukan hanya peristiwa, melainkan juga aktor-aktor sosial. Dari berbagai fungsi media dalam mendefenisikan realitas, fungsi utama ideologi adalah media sebagai mekanisme integrasi sosial, yaitu menjaga nilai-nilai kelompok dan mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu di jalankan. Berita dibentuk dari ideologi dominan dalam suatu wilayah. Ideologi juga bisa bermakna pemaknaan atau penandaan.
1.5.5 Hegemoni Media
Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan yang memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok dominan. Oleh karena itu, perlu usaha bagi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam (common sense) (Eriyanto,2001:107).
Kelebihan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana yang dominan, yang terkadang kebenarnya bersifat sepihak. Ada suatu nilai atau konsensus yang dianggap memang benar, sehingga ketika ada cara pandang atau wacana lain dianggap tidak benar. Media disini secara tidak sengaja dapat menjadi alat bagaimana nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan meresap dalam benak khalayak sehingga menjadi konsensus bersama.
1.5.6 Analisis Framing
Kata framing berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata frame. Gagasan ini pertama kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipergunakan untuk menbedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isi dan penekanan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Ia juga menambahakan bahwa frame berimplikasi penting bagi komunikasi politik. Menurutnya, frame menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen lainnya memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.
Pendekatan Entman inilah yang digunakan dalam penelitian ini. Dua dimensi yang telah dituliskan di atas, selanjutnya di konsepsi oleh Etnman menjadi perangkat frame yang selalu ada dalam sebuah berita. Perangkat framing yang dimaksud meliputi pendefenisian masalah (Define Problem), memperkirakan masalah atau sumber masalah (Diagnose Causes), membuat keputusan moral (Make Moral Judgement), menekankan penyelesaian (Treatment Recommendatioan). Empat perangkat framing ini merupakan “pisau analisis” framing yang digunakan untuk mengolah dan menganalisa frame pemberitaan sebuah media.
1.6. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert Entman. Fokus perhatian Entman tertuju pada dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas isu.
Kemudian Entman mengkonsepsi dua dimensi besar tersebut ke dalam perangkat framing. Perangkat framing yang dimaksud adalah:
1. Pendefenisian masalah (define problem), yaitu bagaimana suatu peristiwa dilihat? Atau sebagai masalah apa?
2. Memperkirakan masalah (diagnose causes), yaitu melihat peristiwa disebabkan apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah?
4. Menekankan penyelesaian (Treatment recommendation), yaitu penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah.
Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman
(Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol.1, No. 2 September 2007, dalam skripsi Andi Sunarjo Simatupang. 2010. Konstruksi Berita 100 Hari SBY-Boediono, FISIP USU MEDAN)
1.7 TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca atau dipresentasikan (Singarimbun,1995:263). Dilihat dari kemungkinan banyaknya jumlah artikel berita harian Kompas, maka peneliti akan menyederhanakan dalam bentuk analisis dua tahap. Tahap tersebut adalah:
a. Dengan metode analisis isi tekstual secara konvensional kuantitatif untuk mengetahui isu-isu yang dianggap menonjol yang membantu dalam pemilihan berita yang akan dikonstruksi. Dalam penelitian ini kategorisasi yang digunakan
BERITA
Moral Judgement/ Evaluation Membuat Keputusan Moral Problem Identification
Pendefinisian Masalah
Diagnoses Causes Memperkirakan Sumber Masalah
Treatment Recommendation Rekomendasi Penyelesaian FRAMING
• Seleksi isu
peneliti adalah berdasarkan jumlah paragraph, jenis berita, posisi berita, rubrik berita, nama dan atribut sosial narasumber dan isu yang menonjol dalam berita. Kemudian kategorisasi tersebut akan ditabulasikan berdasarkan jumlah, frekuensi dan persentase.
b. Analisis kualitatif dalam konstruksi berita yang dipilih oleh peneliti untuk diteliti. Berita yang akan diteliti kemudian ditabulasikan berdasarkan berita yang diteliti dan frame isi pemberitaan, yaitu pendefenisian masalah, memperkirakan masalah atau sumber, membuat keputusan moral, dan menekankan penyelesaian.
BAB II
BAB II
URAIAN TEORITIS
II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa
Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena
komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia dan
masyarakat. Aktivitas komunikasi dapat dilihat pada setiap aspek kehidupan sehari-hari
manusia yaitu sejak dari bangun tidur sampai manusia beranjak tidur pada malam hari. Bisa
dipastikan sebagian besar dari kegiatan kehidupan kita mengunakan komunikasi baik
komunikasi verbal maupun nonverbal.
Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya
“communis” adalah “communico” yang artinya berbagi. Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti "
membuat sama" (to make common). Istilah “communis” adalah istilah yang paling sering di
sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata kata Latin yang
mirip Komuniksi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan di anut
secara sama.
Pengertian komunikasi sudah didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak
orang yang mendifinisikannya. Menurut Harold Lasswell komunikasi pada dasarnya
merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa?
kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom?
pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Wilbur
Schramm menyatakan komunikasi sebagai suatu proses berbagi (sharing process).
Dance dan Larson (Vardiansyah, 2004 : 9) setidaknya telah mengumpulkan 126
definisi komunikasi yang berlainan Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada
prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang
atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi
dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk
melakukan umpan balik.
Ilmu komunikasi dari waktu ke waktu mengalami perkembangan yang semakin pesat. Pada awalnya komunikasi memang sekadar alat antar manusia, agar manusia saling berhubungan dan mengerti. Awalnya komunikasi tidak mendapat perhatian lebih, sampai pada abad ke-5 SM, di Yunani berkembang ilmu retorika yang berarti seni berpidato dan berargumentasi yang bersifat menggugah atau seni menggunakan bahasa secara lancar untuk mempengaruhi atau mengajak. Sejak abad ini komunikasi khususnya dalam hal retorika mendapat perhatian besar dari para filsuf-filsuf besar pada waktu itu, inilah yang menjadi bibit dari komunikasi massa (Ardianto.2007;20).
Khalayak media bukan partisipan komunikasi, melainkan objek dari komunikasi yang
termediasi dan terstruktur dari satu arah. Konteks produksi pesan berbeda dengan konteks
penerimanya. Secara signifikan tidak ditemukan resiproksitas, kesetaraan, dan saling
pemahaman. Dalam komunikasi massa, individu dan komunitas melebur dalam totalitas
massa. Dengan konteks ini, komunikasi massa modern mencerminkan problem-problem
masyarakat massa (Sudibyo,2009:194).
Beberapa ciri-ciri komunikasi massa yang membedakannya dengan komunikasi lain
adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Dalam media cetak seperti koran,
komunikasi hanya berjalan satu arah. Komunikan tidak bisa memberikan respon
kepada komunikator media yang bersangkutan.
2. Komunikator pada komunikasi massa terlembaga. Komunikator dalam media massa
bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang yang digerakkan oleh satu system
manajemen dalam mencapai tujuan tertentu.
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Pesan pada komunikasi massa itu tidak
ditujukan pada satu orang atau satu kelompok tertentu, tetapi kepada seluruh lapisan
masyarakat.
4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Media massa dapat
menyampaikan pesan kepada komunikan secara serempak walau berada pada tempat
yang berbeda.
5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen. Media massa bersifat anonim dan
heterogen, maksudnya komunikan merupakan orang-orang yang tidak saling
Komunikasi massa memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut:
a. Menginformasikan (to inform). Maksudnya media massa merupakan tempat untuk
menginformasikan peristiwa-peristiwa atau hal-hal penting yang perlu diketahui oleh
khalayak.
b. Mendidik (to educate). Tulisan di media massa dapat mengalihkan ilmu pengetahuan
sehingga mendorong perkembangan intelektual, membentuk watak dan dapat meningkatkan
keterampilan serta kemampuan yang dibutuhkan para pembacanya.
c. Menghibur (to intertait). Media massa merupakan tempat yang dapat memberikan hiburan
atau rasa senang kepada pembacanya atau khalayaknya.
d. Mempengaruhi (to influence). Maksudnya bahwa media massa dapat mempengaruhi
pembacanya. Baik pengaruh yang bersifat pengetahuan (cognitive), perasaan (afektive),
maupun tingkah laku (conative).
e. Kontrol sosial (wacth dog), maksudnya bahwa dengan adanya media massa kita dapat
mengontrol jalannya pemerintahan.
II.2 Jurnalistik dan Berita
II.2.1. Jurnalistik
Istilah jurnalistik berasal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah
bahasa Inggris journalism yang bersumber dari kata journal, yang merupakan terjemahan dari
bahasa Latin diurnal yang berarti “harian” atau “setiap hari”.
Dari berbagai literatur dapat dikaji defenisi jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan,
mencari,mengumpulkan,mengolah, menyajikan dan menyebarkan berita, melalui media
berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya”(Haris S.2005). Peristiwa
menarik perhatian khalayak, merupakan bahan dasar jurnalistik yang kemudian bisa diolah
menjadi berita untuk disebarluaskan kepada masyarakat (Effendy,2005:151).
F. Fraiser Bon membagi fungsi jurnalistik ke dalam empat bagian, yaitu To Inform, To
Interpret, To Guide, dan To Entertain. Sedangkan Assegaft membaginya menjadi memberi informasi, memberi hiburan, melaksanakan kontrol sosial, pers (the fourth estate) (Haris,
2005).
Berdasarkan bentuk dan pengelolaanya, jurnalistik dapat dibagi ke menjadi (Sumandria,
2006):
1. Jurnalistik media cetak
Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual.
Verbal, menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam
rangkaian kata dan kalimat yang efektif dan komunikatif. Visual, menunjuk kepad
kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak dan hal-hal yang
menyangkut segi tampilan.
2. Jurnalistik media elektronik auditif
Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebi anyak
dipengaruhi dimensi verbal, tehnologikal dan fisikal. Verbal berhubungan dengan
memungkinkan daya pancar radio dapat ditangkap dengan baik. Fisikal erat kaitannya
dengan kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak.
3. Jurnalistik media elektronik audiovisual
Merupakan gabungan dari verbal, visual, tehnologikal, dan dimensi dramatikal.
Dramatikal berarti berkaitan nilai dan aspek dramatic yang dihasilkan oleh rangkain
gambar secara simultan.
II.2.2 Berita
Salah satu produk jurnalistik adalah berita. Berita menurut Doug Newsom & James A.
Wollert dapat didefenisikan sebagai apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih
luas lagi masyarakat. Dan menurut Michael V. Charnley berita adalah laporan tercepat
mengenai fakta dan opini yang menarik dan penting, atau keduanya bagi sejumlah besar
penduduk (Sumandria,2006). Berita dapat disajikan dalam bentuk cetak, siaran, internet, atau
dari mulut ke mulut. Berita merupakan laporan tentang fakta atau ide yang termassa, yang
dipilih oleh redaksi suatu media untuk disiarkan atau dicetak, yang dapat menarik perhatian
pembaca atau penonton, baik itu karena pentingnya berita tersebut atau bisa juga karena
beritanya luar biasa. Ada beberapa konsep berita yang dapat dikembangkan yaitu, berita
dapat sebagai laporan tercepat, rekaman fakta-fakta objektif, interpretasi, sensasi, minat
insan, ramalan dan sebagai gambar (Effendi,2005:131).
Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik wartawan Indonesia berisi “Wartawan Indonesia (WI)
tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri”. Oleh karena itu berita tersaji harus akurat,
lengkap, adil dan berimbang, objektif, ringkas dan jelas, hangat.
Ada beberapa nilai yang menentukan suatu peristiwa layak dijadikan sebagai berita atau
tidak, yaitu: keluarbiasaan (unusualness), kebaruan (newness), akibat ( impact), aktual (
timeliness), kedekatan (proximity), informasi (information), konflik (conflict), orang penting (public figure ), kejutan (surprising), ketertarikan manusiawi (human interest), seks ( sex ) .
Berita tidak mutlak harus memenuhi unsur-unsur tersebut, tetapi semakin banyak unsur
tersebut melekat pada suatu peristiwa, semakin tinggilah nilai layak peristiwa tersebut
menjadi sebuah berita.
II.3 Paradigma Konstruktivisme
Pengertian paradigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diantaranya: 1.
paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi
(penggabungan inti) dan deklinasi (perbedaan kategori) dari kata tersebut.; 2. paradigma
adalah model dari teori ilmu pengetahuan; 3. paradigma adalah kerangka berfikir.
Menurut kamus komunikasi (1989) definisi paradigma adalah pola yang meliputi
sejumlah unsur, yang berkaitan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
harus mengobservasi hal tersebut, dan hal tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara tersendiri. Nilai paradigma tidak terletak pada nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan realitas yang ada, karena paradigma tergantung tujuan yang hendak diteliti. Yang menjadi intinya adalah upaya mencari paradigma yang dapat memberikan kepada kita konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita. Memilih suatu paradigma berarti memilih suatu paradigma dengan keuntungan dan kelemahannya yang terkandung di dalamnya tanpa mengingkari nilai dan mempermasalahkan validitas paradigma lain (Ardianto.2007: 75-78).
Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup empat paradigma:
1. positivism, postpositivism,
2. critical theories, dan
3. contructivism
Masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. (http//manajemenkomunikasi. blogspot.com/2010/10/12/pengertian-dan-fungsi-teori-dalam.html).
Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu, untuk mempermudah kepentingan bahasan tentang implikasi metodologi dari sebuah paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 paradigma, yaitu:
1. Classical paradigm (mencakup positivism dan postpositivism).
2. Critical Paradigm, dan
3. Constructivism Paradigm.
Tabel 1. Perbandingan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis
Bidang Positivisme Post-Positivisme Kritis Konstruktivisme
Ontology
Sumber: Ardianto, Elvinaro, 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung. PT.Rosda Karya.
Paradigma Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma
positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang
tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis.
Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia
secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen
yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna
Kajian pokok dalam paradigma konstruktivisme menurut Weber, menerangkan
bahwa substansi bentuk kehidupan di masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif
saja, melainkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif.
Weber juga melihat bahwa tiap individu akan memberikan pengaruh dalam masyarakatnya
tetapi dengan beberapa catatan, dimana tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut
harus berhubungan dengan rasionalitas dan tindakan sosial harus dipelajari melalui penafsiran
serta pemahaman.
Bila ditelusuri ke belakang, konstruktivisme berasal dari teori Popper yang membedakan alam semesta ke dalam tiga pengertian, yaitu: (1) dunia fisik; (2) dunia kesadaran atau mental atau disposisi tingkah laku; (3) dunia dari isi objektif pemikiran manusia, khususnya pengetahuan ilmiah, puitis dan seni. Popper menyatakan objektivisme tidak dapat dicapai pada dunia fisik, melainkan melalui pemikiran manusia secara pribadi maupun kelompok. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi konstruktivisme yang tidak hanya menyajikan batasan baru mengenai keobjektifan, melainkan juga batasan baru mengenai kebenaran dan pengetahuan manusia.
Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Kosntruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruki (bentukan) kita sendiri. Dalam konstruktivisme, pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan bukan titik pasti yang kaku, tetapi merupakan suatu proses menjadi mengerti. Para konstruktvis menganut paham bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang terlibat dalam proses mengetahui. Keberadaan realitas tidak hadir begitu saja pada pikiran pengamat, realitas ada karena pada diri manusia terdapat skema, kategori, konsep, dan struktur pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang diamati (Ardianto,2007:154).
1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsespsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan apabila konsepsi itu digunakan ketika berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
Dalam konteks hubungan konstruktivisme dengan ilmu komunikasi Robyn Penmann merangkumkannya sebagai berikut:
1. Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek yang memiliki pilhan bebas, walaupun lingkungan sosial membatasi apa yang dapat dan telah dilakukan. Jadi tindakan komunkatif dianggap sebagai tindakan sukarela, berdasarkan pilihan subjeknya.
2. Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatu yang objektif sebagaimana diyakini positivisme, melainkan diturunkan dari interaksi dalam kelompok sosial. Pengetahuan itu dapat ditemukan dalam bahasa, dan melalui bahsa itulah konstruksi realitas terjadi.
3. Pengetahuan bersifat kontekstual, maksudnya pengetahuan merupakan produk yang dipengaruhi ruang dan waktu, juga akan mengalami perubahan seiring dengan pergeseran waktu.
5. Pengetahuan bersifat sarat nilai.
Menurut Bungin (2008:196), ada tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi
sosial, yaitu;
a. Keberpihakan media massa terhadap kapitalisme. Sebagaimana diketahui, kini hampir
semua media, baik cetak maupun elektronik telah dimiliki oleh satu golongan
kapitalis tertentu. Artinya, media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital
untuk menjadikan media massa sebagai alat peraup untung yang sebesar-besarnya,
baik dari segi kuasa, modal dan uang. Semua elemen media massa termaksud
orang-orang media massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, pola pikir mereka adalah
membuat media massa yang laku di masyarakat.
b. Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini adalah dalam
bentuk empati, simpati dan berbagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Namun
intinya adalah usaha penjualan berita dan meningkatnya rating yang sangat
bermanfaat untuk menarik minat kaum kapitalis.
c. Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan
umum dalam arti sesungguhnya pada dasarnya adalah visi setiap media massa.
Namun akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkan jati dirinya, yang tinggal
hanya slogan-slogan media tentang visi.
Secara esensial, pendekatan konstruktivis pada media, wartawan dan berita dapat
dirangkum dalam 6 perspektif (Eriyanto, 2003), yaitu:
a. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum konstruktivis, realitas itu
bersifat subjektif. Realitas itu ada karena diciptakan dan dihadirkan oleh konsep
subjektif wartawan. Realitas itu bisa berbeda-beda, tegantung pada bagaimana
fakta berupa kenyataan itu bukanlah sesuatu yang real, melainkan tergantung kapada
pemikiran orang yang memaknai fakta tersebut.
b. Media adalah agen konstruksi. Dalam pandangan konstruktivis, meda bukan suatu
saluran yang bebas. Media juga menjadi subjek atau agen yang turut mengkonstruksi
realitas, melalui pandangannya, bias dan keberpihakannya. Maka berita yang
diberitakan oleh media tidak hanya menggambarkan realitas, tidak hanya
menunjukkan pendapat sumber berita, tetapi juga konstruksi dari media itu sendiri.
c. Berita bukan refleksi dari realitas, hanya konstruksi atas realitas. Menurut pandangan
konstruktivis, berita merupakan hasil dari konstruksi sosial yang selalu melibatkan
pandangan, ideologi dan nilai-nilai dari wartawan dan media. Bagaimana realitar itu
dijadikan berita, tergantung pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai. Proses
pemaknaan selalu melibatkan nilai-nilai tertentu, sehingga sangat besar kemungkinan
berita merupakan cerminan dari realitas. Fakta yang sama bisa saja menghasilkan
berita yang berbeda, tergantung dari sudut pandang yang berbeda.
d. Berita bersifat subjektif atas realitas. Berita subjektif lahir dari sisi lain wartawan.
Karena wartawan sendiri melihat dengan persfektif dan berbagai pertimbangan
subjektifnya. Penempatan sumber berita yang lebih ditonjolkan dari sumber lainnya,
menempatkan wawancara seorang tokoh lebih besardengan tokoh lainnya, liputan
yang hanya satu, tidak berimbang. Bagi kaum konstruktivis, hal itu bukanlah
merupakan sebuah kekeliruan atau bias, tetapi dianggap memang itulah praktek yang
dijalankan oleh wartawan.
e. Wartawan bukanlah pelapor, melainkan agen konstruksi realitas. Menurut pandangan
kaum konstruktivis, wartawan tidak bisa menyembunyikan pilihan moral dan
berita. Dan berita bukan produk individual, melainkan juga bagian dari proses
organisasi dan interaksi wartawan di dalam suatu media.
f. Etika, pilihan moral dan keberpihakan wartawn adlah bagian integral dalam produksi
berita. Aspek etika, moral dan nilai-nilai tertentu tidak dapat dihilangkan dalam
pemeritaan media. Wartawan bukan robot yang meliput apa adanya, apa yang dilihat
tanpa interpretasi apapun. Etika dan moral dalam banyak hal dapat berarti
keberpihakan pada satu kelompok atau nilai tertentu yang merupakan integral dan
tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkostruksi realitas sosial.
II.4 Ideologi
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea dan logia.
Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s News Colligiate Dictionary berarti sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil perumusan suatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis, berasal dri kata logos yang berarti world. Kata ini berasal dari
kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science
(pengetahuan) atau teori (Sobur,2004:64).
Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi
tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka
menghadapinya. Ideologi ini abstrak dan berhubungan denga konsepsi atau posisi seseorang
dalam menafsirkan realitas. Dalam konsespsi Marx, ideologi adalah bentuk kesadaran palsu.
Kesadaran seseorang, siapa mereka, dan bagaimana mereka menghubungkan dirinya dengan
masyarakat dibentuk dan diproduksi oleh masyarakat, tidak oleh ideologi yang alamiah.
Kesadaran kita tentang realitas sosial ditentukan oleh masyarakat, tidak oleh psikologi
Media berperan mendefenisikan bagaimana realitas seharusnya dipahami, bagaimana
realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu kepada khalayak. Pendefinisian tersebut bukan
hanya peristiwa, melainkan juga aktor-aktor sosial. Diantara dari berbagai fungsi media
dalam mendefenisikan realitas,fungsi utama dalam ideologi adalah media sebagai mekanisme
integrasi sosial. Media disini berfungsi menjaga nilai-nilai kelompok, dan mengontrol
bagaimana nilai-nilai kelompok itu dijalankan.
II.5 Hegemoni
Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani hegeishtai (to lead). Antonio Gramsci
(1971) membangun suatu teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok yang
didominasi terhadap kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa
tindakan kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap
kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar. Nilai dan ideologi hegemoni
ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan, sehingga pihak yang didominasi
tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa. Media dapat menjadi sarana
dimana satu kelompok mengukuhkan posisinya dan merendahkan kelompok lain.ini bukan
berarti media adalah kekuatan jahat yang dengan senjaga merendahkan masyarakat bawah.
Proses bagaimana wacana mengenai gambaran masyarakat bawah bisa buruk di media.
Dalam produksi berita, proses itu terjadi melalui cara yang halus, sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran, logis, bernalar awan (common sense) dan semua orang berpikir itu bukanlah suatu hal yang patut dipertanyakan. Singkatnya, hegemoni dapat dikatakan sebagai reproduksi ketaatan, kesamaan pandangan, dengan cara yang lunak. Lewat media massalah hegemoni dilakukan. Media secara perlahan-lahan memperkenalkan, membentuk, dan menanamkan pandangan tertentu kepada khalayak.
berhubungan dengan kebiasaaan wartawan yang lebih mengedepankan apa yang menarik untuk diberitakan kepada publik. Jika idea atau gagasan dari kelompok dominan diterima sebagai sesuatu yang common sense, kemudian ideologi itu diterima baik melalui praktik kerja, maka hegemoni telah terjadi.
Hegemoni bergerak pada level makna bersama (common sense) dalam asumsi-asumsi yang dibuat mengenai kehidupan sosial dan pada wilayah yang diterima sebagai sesuatu yang “natural” atau “demikian adanya”. Common sense merupakan cara mendeskripsikan segala sesuatu yang “setiap orang tahu”, atau paling tidak “harus tahu”. Gramsci mengingatkan bahwa cara paling efektif dalam menguasai (ruling) adalah melalui pembentukan asumsi- asumsi common sense.
Asumsi common sense merupakan konstruksi sosial. Asumsi ini memberi implikasi pada pengertian tertentu mengenai dunia sosial. Asumsi common sense adalah ungkapan yang, misalnya, menyatakan bahwa “posisi moderat lebih baik daripada posisi ekstrim”, atau “perempuan lebih pantas menjadi pengasuh dibanding laki-laki”, dan contoh-contoh lain yang sejenis. Ketika orang mengadopsi asumsi common sense, mereka juga akan menerima seperangkat keyakinan tertentu atau ideologi mengenai hubungan sosial. Gramsci melihat hegemoni sebagai pertarungan yang terjadi setiap hari mengenai konsep-konsep akan realitas. Penguasa, yakni mereka yang memelihara kekuasaan dengan mendefinisikan asumsi-asumsi, bekerja memberikan stabilitas dan legitimasi dan menggabungkan kekuatan potensial oposan ke dalam basis kerangka kerja ideologi.
merupakan alat paling jitu untuk menyampaikan satu pemikiran kepada masyarakat. Sedang hegemoni jenis kedua, adalah hegemoni pada sistem masyarakat yang terbuka (tanpa satu produsen), di mana pemikiran-pemikiran yang timbul dalam masyarakat mendapatkan ruang yang bebas untuk diapresiasikan, serta terbuka untuk menjadi bahan diskusi masyarakat umum.
II.6 Analisis Framing
Kata framing berasal dari bahasa Inggris yakni dari kata frame. Gagasan ini pertama
kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai struktur
konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan,
dan wacana. Kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974 yang
mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku yang membimbing individu dalam
membaca realitas. Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipergunakan untuk
menbedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta (Sobur,2004:162).
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara
ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisi ini mencermati strategi seleksi ,
penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih
berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.
Dengan kata lain framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau
cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara
pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yng diambil, bagian man
yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut.
Analisis framing adalah salah satu bentuk analisis teks yang berada dalam kategori
penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan sosial bukanlah
pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspekif atau cara pandang yang digunakan
wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Framing juga merupakan pendekatan
untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Gamson dan
Modigliani menyebut cara pandang itu sebagai kemasan yang mengandung konstruksi makna
atas peristiwa yang akan diberitakan. Menurut mereka, frame adalah cara bercerita atau
gugusan ide-ide terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna
peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana (Eriyanto,2005:66).
Ada hal penting dalam framing, ketika sesuatu diletakkan dalam frame, maka ada
bagian yang terbuang dan ada bagian yang terlihat. Kita bisa menghadirkan analogi ketika
kita memotret pemandangan, maka yang masuk dalam foto hanyalah bagian yang berada
dalam frame, dan ada bagian lain yang terbuang. Analisis framing menanyakan mengapa
berita X diberitakan? Mengapa berita lain tidak diberitakan? Mengapa suatu tempat dan pihak
yang terlibat berbeda meskipun peristiwanya sama? Mengapa kenyataan didefenisikan
dengan cara berbeda? Mengapa sisi atau angle tertentu yang ditonjolkan dan bukan yang
lain? Mengapa fakta tertentu ditonjolkan danbukan yang lain? Mengapa menampilkan
sumber berita X dan mengapa bukan sumber berita yang lain yang diwawancarai?
(Kriyantono, 2008)
G.J Aditjondro mendefenisikan framing sebagai metode penyajian realitas dimana
kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara
halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja. Dengan menggunakan
istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dengan bantuan foto, karikatur dan alat
ilustrasi lainnya (Sudibyo,1999:165). Menurut Aditjondro, proses framing merupakan bagian
tak terpisahkan dari proses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian
keredaksian media cetak. Reporter di lapangan menentukan siapa yang diwawancarai.
laporan reporter akan dimuat atau tidak, dan menentukan judul apa yang akan diberikan.
Petugas tata muka, dengan atau tanpa berkonsultasi dengan para redaktur, menentukan
apakah teks berita itu diberikan aksentuasi foto, karikatur, atau bahkan ilustrasi lain. Bahkan,
kata Aditjondro, proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga
pihak-phak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha
menampilakn sisi-sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (menyembunyikan sisi-sisi lain),
sambil mengaksentuasikan kesahihan pandanganya dengan mengacu pada pengetahuan,
ketidaktahuan, dan perasaan para pembaca. Proses framing menjadikan media massa menjadi
arena dimana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan dalam suatu perang simbolik
antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangnnya di dukung pembaca
(Siahaan dalam Sobur,2004:165).
Salah satu yang menjadi prinsip analisis framing adalah bahwa wartawan bisa
menerapkan standart kebenaran, matriks objektivitas, serta batasan-batasan tertentu dalam
mengolah dan menyuguhkan berita. Dalam mengkonstruksi suatu realitas, wartawan juga
cenderung menyertakan pengalaman serta pengetahuannya yang sudah mengkristal menjadi
skema interpretasi. Dengan skema ini pula wartawan cenderung membatasi atau menyeleksi
sumber berita, menafsirkan komentar-komentar sumber berita, serta member porsi yang
berbeda terhadap tafsir dan perspektif yang muncul dalam wacana media (Sobur,2004:166).
Pada dasarnya pekerjaan media adalah mengkonstruksi realitas. Isi media adalah hasil
peristiwa-peristiwa yang telah dikonstruksi para pekerja media. Pada biasanya ada tiga
tindakan yang dilakukan pekerja media massa, khususnya oleh para komunikator massa
(orang media yang bertanggung jawab atas editorial sebuah media), tatkala melakukan
konstruksi realitas yang berujung pada pembentukan makna atau citra. Yang pertama, pilihan
kata atau simbol. Sekalipun media hanya melakukan pegutipan langsung dari sumber berita,
simbol yang digunakan sumber tersebut. Kedua, dalam melakukan pembingkaian (framing),
minimal karena adanya tuntutan keterbatasan kolom atau halaman pada media cetak dan
keterbatasan ruang dan waktu pada media elektronik. Jarang ada media yang meliput suatu
peristiwa dari awal sampai akhir. Biasanya berita yang panjang, lebar, rumit akan
disederhanakan melalui pembingkaian (framing) fakta-fakta berita yang penting sehingga
layak terbit/tayang. Ketiga, menyediakan ruang dan waktu untuk sebuah berita. Jika media
massa memberi tempat pada sebuah peristiwa, maka masyarakat akan memberi perhatian
terhadap berita tersebut. Semakin besar tempat dan ruang yang diberikan oleh media,
semakin besar pulalah perhatian yang didapat dari masyarakat.
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isi dan penekanan
aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses
seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Ia juga menambahakan
bahwa frame berimplikasi penting bagi komunikasi politik. Menurutnya, frame menuntut
perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen lainnya
memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda.
Konsep framing dalam pandangan Entman, secara konsisten menawarkan sebuah cara
untuk mengungkapkan the power of communication text. Analisis framing dapat menjelaskan
dengan cara yang tepat pengaruh atas kesadaran manusia yang didesak oleh komunkasi
informasi dari sebuah lokasi. Framing menurut Entman secara esensial meliputi penyeleksian
dan penonjolan isu. Membuat frame adalah menyeleksi beberapa aspek dari suatu
pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol didalam suatu teks yang
dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga mempromosikan sebuah defenisi permasalahan
yang khusus, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan atau merekomendasikn penanganannya
Penonjolan yang dimaksud, merupakan proses membuat informasi menjadi lebih
bermakna. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok sudah tentu mempunyai
peluang besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami realitas.
Karena itu, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan
isu lain; serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana.
Seperti penempatan yang mencolok (menempatkan di headline, halaman depan atau bagian
belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan,
pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang sedang
diberitakan (Sobur,2004:164).
Table 2. Dimensi Framing Robert Entman
Seleksi Isu
Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta. Dari realitas yang kompleks dan beragam; aspek mana yang diseleksi untuk ditampilakan? Dari proses ini selalu terkandung di dalamnya ada bagian fakta yang dimasukkan. Tidak semua aspek atau bagian dari isu yang ditampilkan, wartawan atau gatekeepers memilih aspek tertentu dari isu tersebut.
Penonjolan Aspek
Tertentu Dari Isu
Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa/isu telah dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar dan citra tertentu untuk ditampilakan kepada khalayak.
Sumber: Eriyanto.2005.Analisis Framing konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta:Lkis
Dua dimensi yang telah dijelaskan diatas, selanjutnya dikonsepsi oleh Entman menjadi
perangkat Framing yang selalu ada dalam sebuah berita. Perangkat Framing yang dimaksud
a. Pendefenisian masalah (define problems) adalah elemen yang pertama sekali dapat
kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/bingkai yang paling
utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Ketika ada masalah
atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu itu dipahami. Peristiwa yang sama dapat
dipahami dengan cara yang berbeda. Dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan
realitas bentukan yang berbeda.
b. Memperkirakan masalah atau sumber masalah (diagnose causes), merupakan elemen
framing untuk membingkai siapa yang dianggap aktor dari suatu peristiwa. Penyebab disini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa
dipahami, tentu saja menekankan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah.
c. Membuat keputusan moral (make moral judgement) adalah elemen framing yang
dipakai untuk membenarkan/memberi argumentasi pada pendefenisian maslah yang
sudah dimuat. Ketika masalah sudah didefenisikan, penyebab masalah sudah ditentukan,
dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung masalah tersebut.
d. .Menekankan penyelesaian (treatment recomendation). Elemen ini dipakai untuk
menilai apa yang dikendaki wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kantor pusat Kompas berada di Jakarta dan memiliki 7 kantor perwakilan, yakni
Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pontianak dan Medan. Selain kota-kota
tersebut, di kota lain Kompas juga memiliki wartawan, namun mereka tidak memiliki kantor
dan menyampaikan informasi dengan jaringan internet. Pada tahun 1982 Kompas pernah
memiliki kantor perwakilan di luar negri, yakni di New York, tetapi saat ini sudah tidak aktif.
Kompas mengadakan kerja sama dengan instansi swasta dalam dan luar negri, antara lain dengan yayasan Lembaga Konsumen dalam hal pengujian-pengujian dan beberapa
Perguruan Tinggi Negeri/Swasta dalam bidang penelitian dan magang. Kompas juga banyak
menjalin kerjasama dengan negara lain, seperti Malaysia, Amerika Serikat, Kanada,
Australia, Jepang, Arab,dll. Kompas menjadi media cetak terbesar di Indonesia dengan
jumlah oplah mencapai 507 ribu eksemplar perhari. Kini jumlah pembaca Kompas mencapai
dua juta orang per hari.
Urutan 15 Koran Teratas Tingkat Nasional (Berdasarkan jumlah pembaca) Sumber : Nielsen Readership Study W4 2009
Nama Koran Jumlah Pembaca (000)
JAWA POS 1194
KOMPAS 1137
POS KOTA 939
TOP SKOR 729
WARTA KOTA 677
KEDAULATAN RAKYAT 505
BERITA KOTA 364
KORAN TEMPO 275
RADAR BOGOR 239
SUARA MERDEKA 228
PIKIRAN RAKYAT 224
SUMATERA EKSPRESS 215
LAMPU HIJAU 211
FAJAR 195
III.1.1 Sejarah Harian Kompas
Kompas sebagai suatu perusahaan media massa yang besar di Indonesia, pertama kali terbit pada tanggal 28 juni 1965. Kompas merupakan perusahaan yang paling lama daripada
media lainnya. Harian yang bermotto “ Amanat Hati Nurani Rakyat” ini diawali dengan
bangkrutnya PT. Kinta dengan majalah terbitan bulanan Intisari yang didirikan oleh (Alm.)
Auwjong Peng Koen, atau lebih dikenal dengan nama Petrus Kanisius Ojong seorang
pemimpin redaksi mingguan Star Weekly, beserta Jakob Oetama wartawan mingguan
Penabur milik gereja Katolik.
Kemunculan harian Kompas pada waktu itu sangat tepat karena pada masa 1965
adalah masa politik Indonesia yang panas dimana terjadi perseteruan antara PKI dan pihak
militer, terutama Angkatan Darat. Pada masa itu koran-koran nonkomunis berusaha
dimatikan oleh pihak komunis, supaya dapat melancarkan propaganda mereka terhadap
rakyat melalui surat kabar tanpa halangan. Melalui koran milik PKI yaitu, “Harian Rakyat”
dan koran-koran PKI lainnya, PKI berusaha mendapatkan simpati rakyat dengan menyatakan
aksi-aksi PKI seperti penyerobotan lahan sebagai aksi patriotik yang membela nasib rakyat.
Hal ini mendorong Letjend. Ahmad Yani sebgai Menteri Panglima Angkatan Darat
(1962-1965) menghubungi rekan sekabinetnya yaitu Drs. Frans Seda (1964-(1962-1965) yang juga gerah
kebijakan partai Katolik yang pada waktu itu diwakili oleh Frans Seda. Lalu bersama dengan
IJ. Kasimo, P.K Ojong dan Jakob Oetama diawalilah perintisan pembentukan koran tersebut.
Pada awalnya nama yang disiapkan adalah “Bentara Rakyat” , tetapi presiden
Soekarno mengusulkan untuk memberi nama “Kompas”, artinya sebagai media pencari fakta
dari segala penjuru.sedangkan nama “Bentara Rakyat” itu menjadi nama yayasan penerbt
harian Kompas.
Pendiri utama Kompas adalah tokoh organisasi Katolik, sedangkan pengasuh
sehari-hari dipegang oleh P.K Ojong dan Jacob Oetama dengan otonomi professional yang penuh.
Proses minta izin usaha dan izin terbit tidaklah mudah, karena PKI berusaha menghalangi,
karena menguasai aparatur di bagian perizinan pusat dan daerah. Berkat usaha dan imingan
dari Mgr. Soegipratama dan dukungan dari pimpinan Angkatan Darat Letnan Jendral Ahmad
Yani serta ketekunan, maka tahap demi tahap dapat dilewati. Pada tanggal 28 Juni 1965
terbitlah edisi pertama harian Kompas dengan tampilan sangat sederhana sebanyak 4.800
eksemplar dan meningkat menjadi 8.003 pada edisi berikutnya. Kehadiran Kompas akhirnya
dirasakan PKI sebagai ancaman. Segera mereka bereaksi keras mengeluarkan hasutan kepada
rakyat.
Dalam perjalanannya pada tahun 1972 barulah Kompas mampu memiliki percetakan
sendiri, yaitu “Percetakan Gramedia”. Semula Kompas hanya terbit sebanyak 4 halaman,
kemudian mengalami perkembangan menjadi 16 halaman dan terbit 7 kali dalam seminggu.
Dengan adanya Undang-Undang Pokok Pers pada tahun 1982 dan ketentuan SIUPP (Surat
Izin Usaha Penerbitan Pers) yang mewajibkan penerbitan pers berbadan hukum, maka
penerbit Kompas beralih ke PT. Kompas Media Nusantara sejak tahun1985. Sepanjang
gerakan Kompas pernah dua kali dilarang terbit olaeh pemerintah, dan kedua larangan itu
merupakan larangan massal. Pertama setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September