• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1. Hasil Pengukuran Masing-masing Perangkat Gramatikal

4.1.1.3. Frase Nomina Definit

kerbau mati

„kerbaunya mati‟

27. ie PRO3TG.[KT 3] mbiagh dia takut

„ dia ketakutan‟

Topik Silayagh pada klausa 23, disebutkan dalam empat klausa secara turut dalam bentuk anafora kosong. Kemunculan topik secara berturut-turut ini menyebabkan kesinambungan topik tinggi.

4.1.1.3. Frase Nomina Definit

Topik dalam bentuk frase nomina definit memiliki jarak referensi yang cukup, jauh dan kemunculan topik dalam tiga klausa secara berturut-turut selalu mendapat gangguan dari topik lain dan topik juga tidak dipertahankan keberterusannya pada penyebutan selanjutnya. Penjabaran topik dalam bentuk frase nomina definit untuk masing-masing ukuran kesinambungan topik dapat dilihat dalam tabel dan uraian berikut ini :

Tabel 4.3. Frase Nomina Definit

Ukuran Jumlah Token Nilai Nilai Rata-Rata

Jarak Referensi

Kemungkinan Gangguan Keberterusan Topik

97

97 97

513

183 91

5,29

1.89 0.94

` Jumlah keseluruhan token dalam bentuk frase nomina definit adalah 97.

Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai untuk jarak referensi 513, untuk kemungkinan gangguan 183 dan untuk keberterusan topik 91. Nilai rata-rata untuk jarak referensi adalah 513 : 97 = 5,29. Nilai rata-rata untuk kemungkinan gangguan adalah 183 : 97 = 1,89. Nilai rata-rata untuk keberterusan topik 91 : 97

= 0.94. Penghitungan yang lebih jelas masing-masing ukuran kesinambungan topik untuk frase nomina definit dapat dilihat pada (lampiran 3). Berikut ini adalah hasil pengukuran frase nomina definit pada ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu JR, KG, dan KT

4.1.1.3.1 Jarak Referensi

Untuk jarak referensi, selisih antara nilai topik (513) dengan jumlah kemunculannya (97) terpaut sangat jauh dan nilai rata-rata yang dimiliki (5,29) cukup tinggi. Artinya, dari rentang nilai 1-20 yang sudah ditentukan untuk jarak referensi, mayoritas topik mendapat nilai terbesar (20) karena jarak rujuk topik rata-rata melebihi 20 klausa sebelumnya sehingga topik sangat sulit teridentifikasi. Hal ini menunjukkan, topik dalam bentuk frase nomina definit tidak dapat teridentifikasi dengan baik berdasarkan pengukuran jarak referensi.

Dari 97 jumlah topik, hanya 36 topik yang jarak rujuknya paling dekat, yaitu 1 klausa saja. Selebihnya, mayoritas topik memiliki jarak rujuk yang paling jauh, yaitu 20 klausa dan pada umumnya merupakan frasa kata nama, seperti Layagh, Pengulu Mude, Beghu Dinem dan lain sebagainya. Pengukuran frase nomina definit pada jarak referensi dapat dilihat pada contoh berikut ini:

28. pade acegghe[PD. JR 20] edi Lot gho kepe ghaje pada acara itu Ada datang rupanya raja

`

„pada acara itu hadir juga raja‟

29. Penghulu Mude[PD. JR 20] undangen lain Penghulu Mude, undangan lain

„Pengulu Mude, dan undangan yang lain‟

30. Beghudinem[PD. JR 20] enggou niaAKan tepung tawagh Beghudinem sudah siap tepung tawar

„ Beghudinem telah menyiaAKan tepung tawar‟

31. tetibe ghohme Layagh[PD. JR 16] ghut pekenen keghajenen tiba datang layar sama pakaian kerajaan Lengkap

lengkap

„ Tiba-tiba datang Layagh lengkap dengan pakaian adat kebesaran‟

32. nepung tawaghi tihang utame ghut Beghu Dinem [PD. JR 10]

tepung tawar tiang utama sama Beru Dinem

„menepung tawari tiang utama bersama Beghu Dinem‟

Pada klausa 28 sampai dengan 32 , rata-rata frase nomina definit mendapat nilai tertinggi sehingga topik sulit teridentifikasi. Kemunculan topik dengan wujud-wujud baru ini menyebabkan jarak rujuk topik menjadi sangat jauh sehingga kesinambungan menjadi rendah.

4.1.1.3.2. Kemungkinan Gangguan

Untuk kemungkinan gangguan, selisih antara nilai topik (183) dengan jumlah kemunculannya (97) juga terpaut jauh dan nilai rata-rata (1.89) yang diperoleh cukup tinggi. Artinya, dari rentang nilai 1-2 yang sudah ditentukan untuk kemungkinan gangguan, mayoritas topik mendapat nilai maksimal (2). Ini berarti, mayoritas kemunculan topik pada tiga klausa sebelumnya secara

berturut-` turut mendapat gangguan dari topik lain, sehingga rujukan topik sulit teridentifikasi berdasarkan pengukuran kemungkinan gangguan. Dari 97 jumlah topik, hanya 11 topik yang kemunculannya pada lingkungan tiga klausa berturut-turut yang tidak mendapat gangguan dari topik lain, selebihnya setiap kemunculan topik selalu mendapat gangguan dari topik lain. Pengukuran frase nomina definit pada kemungkinan gangguan dapat dilihat pada contoh berikut ini:

33. anakne gelaghne Penghulu Mude [PD. KG 2]

anaknya bernama Penghulu mude

„ anaknya beranama Pengulu Mude‟

34. pada suatu waghi kalak metuende ngembah Layagh [PD.KG 2] be Pada suatu hari orang tua itu bawa Layagh ke istane

Istana

„ pada suatu hari orang tua itu membawa Layagh ke istana‟

35. te nebutken Layagh [PD. KG 2] be ghaje.

lalu kata Layagh pada raja

„ lalu memeperkenalkan Layagh kepada raja‟

36. nipeghintahken me layagh [PD. KG 2] ghut diperintahkan lah silayar bersama penghulu Mude [PD. KG 2]

penghulu mude

„ diperintahkanlah si Layagh dan Pengulu Mude‟

37. memakan kokhbo [PD. KG 2]

menjaga kerbau

„ mengebala kerbau‟

Berdasarkan contoh di atas, topik Layagh pada klausa 34 mendapat gangguan dari topik lain, yaitu Pengulu Mude pada klausa 33. Pada klausa 37, kemunculan kokhbo juga mendapat gangguan dari topik lain, yaitu Layagh pada

` klausa 36 dan 35. Kemunculan topik-topik pengganggu ini menyebabkan topik sulit teridentifikasi, sehingga kesinambungan topik Layagh menjadi rendah.

4.1.1.3.3. Keberterusan Topik (KT)

Untuk keberterusan topik, selisih antara nilai topik (91) dengan jumlah kemunculannya (97) terpaut sangat jauh dan nilai rata-rata (0.94). Artinya, dari rentang nilai yang tidak terbatas, yaitu 0 +, yang sudah ditentukan untuk keberterusan topik, mayoritas topik mendapat nilai terkecil (0). Hal ini berarti, kemunculan topik secara berturut-turut dianggap tidak terlalu penting, sehingga topik agak sulit teridentifikasi berdasarkan pengukuran keberterusan topik. Dari jumlah topik 97, hanya 1 topik yang kemunculannya tetap dipertahankan dalam 3 klausa berturut-turut dan merujuk pada tokoh utama dalam teks yaitu Silayagh. 4 topik lainnya hanya muncul dalam 1 klausa saja. Selebihnya, topik tidak dipertahankan kemunculannya karena dianggap tidak penting. Pengukuran frase nomina definit pada keberterusan topik dapat dilihat pada contoh berikut ini:

38. binatange mengajaghi Layagh [ PD. KT. 4]

binatang ajar Layagh

„ hewan itu mengajari Layagh, 39. kane Ø ughok

agar pandai

„supaya Layagh pintar‟

40. umugh Layagh [ PD. KT. 2] enggou 8 tahun usia layagh sudah delapan tahun Usia si layar sudah mencapai 8 tahun

41. suatu waghi ie laus be tepi ghimbe suatu hari dia pergi ke tepi rimba

` Suatu hari ia( Layagh) pergi kepinggir hutan

42. ni hadi ie jumpe ghut kalak metue disana ie jumpa sama orang tua

„Di sana ia( Layagh) bertemu dengan orang tua‟

Topik Silayagh pada 38 disebutkan secara berturut-turut sampai pada klausa 42 dalam bentuk anafora kosong Ø dan kata ganti diri ie . Dari data ditemukan, topik yang merujuk pada frasa kata nama lebih dipertahankan kemunculannya daripada bentuk topik lainnya. Dengan demikian topik dalam bentuk frasa kata nama memiliki kesinambungan tinggi untuk keberterusan topik.