BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1. Hasil Pengukuran Masing-masing Perangkat Gramatikal
4.1.1.5. Pronomina Posesif
Pada klausa 53, topik tande wakil hanya disebutkan satu klausa di bawahnya selebihnya mulai dari klausa 54, topik tidak dipertahankan kemunculannya, pada klausa 55 ada keberterusan topiknya, pada klausa 56 sampai 57 topik tidak dipertahankan kemunculannya. Hal ini disebabkan topik-topik tersebut bukanlah topik utama, dan kemunculannya haya sesekali saja. Oleh karena itu kesinambungan topik menjadi rendah.
4.1.1.5. Pronomina Posesif
Topik dalam bentuk pronomina posesif memiliki jarak referensi yang cukup dekat, tetapi untuk kemunculan topik dalam tiga klausa secara berturut-turut, mendapat cukup banyak gangguan dari topik lain dan topik juga tidak dipertahankan keberterusannya pada penyebutan selanjutnya. Penjabaran topik dalam bentuk pronomina posesif untuk masing-masing ukuran kesinambungan topik dapat dilihat dalam tabel dan uraian berikut ini :
Tabel 4.5. Pronomina Posesif
Ukuran Jumlah Token Nilai Nilai Rata-Rata
Jarak Referensi
Jumlah keseluruhan token dalam bentuk pronomina posesif adalah 37.
Setiap token diberi nilai berdasarkan rentang nilai yang sudah ditentukan untuk ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu jarak referensi, kemungkinan gangguan
` dan keberterusan topik. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai untuk jarak referensi 100, untuk kemungkinan gangguan 65 dan untuk keberterusan topik 61.
Sedangkan nilai rata-rata diperoleh dari jumlah nilai yang diperoleh token dibagi dengan jumlah kemunculan token tersebut. Nilai rata-rata untuk jarak referensi adalah 100 : 37 = 2.70. Nilai rata-rata untuk kemungkinan gangguan adalah 65 : 37 = 1.76. Nilai rata-rata untuk keberterusan topik adalah 61 : 37 = 1.65.
Penghitungan yang lebih jelas masing-masing ukuran kesinambungan topik untuk topik dalam bentuk pronomina posesif dapat dilihat pada ( lampiran 5 ). Berikut ini adalah hasil pengukuran pronomina posesif pada ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu JR, KG, dan KT.
4.1.1.5.1 Jarak Referensi
Untuk jarak referensi, selisih antara nilai topik (100) dengan jumlah kemunculannya (37) tidak terpaut jauh dan nilai rata-rata yang diperoleh (2.70) cukup rendah. Artinya, dari rentang nilai 1-20 yang sudah ditentukan untuk jarak referensi, mayoritas topik mendapat nilai antara 1-2 saja karena jarak rujuk topik relatif dekat sehingga topik tidak sulit teridentifikasi. Dari 37 jumlah token, 23 topik mendapat nilai terkecil (1) dan hanya 2 topik mendapat nilai terbesar (20).
Pada umumnya topik yang mendapat nilai terbesar merujuk pada frasa kata nama yang bukan merupakan tokoh utama. Pengukuran pronomina posesif pada jarak referensi dapat dilihat pada contoh berikut ini:
58. bagas melaksanaken tugas ne [ PP. JR 5]
dalam melaksanakan tugas nya
„dalam melaksanakan tugasnya‟
` 59. ghaje pecaye kalihen be pembantu ne [ PP. JR 1]
raja percaya sekali sama pembantu nya
„raja sangat percaya kepada pembantunya itu‟
60. lotme anak ne [ PP. JR 1] delaki ada anak nya laki-laki
„lahirlah anaknya laki-laki‟
61. ghoh keghine binatang ngikuti acaghe [ PP. JR 1]
datang semua binatang ikut acar nya
„semua binatang datang mengikuti acara raja‟
62. tebegeime penceghane nebutken gelagh anak ghaje [ PP. JR 1]
terdenga pembawa acara menyebutkan nama anak raja
„terdengar pembawa acara mengumumkan nama anak raja‟
63. gelagh anak ghaje [ PP. JR 1] „Layargh‟
nama anak raja Layar
„nama putra raja adalag Layagh‟
64. bahwene pighasatne [ PP. JR 1] Layagh pagi ngembah bencane bahwa pirasat Layagh nanti bawa bencana menurut firasatnya putra raja layar kelak a kan membawa bencana
Berdasarkan contoh-contoh di atas, klausa 58 sampai dengan klausa 64 masing-masing merujuk pada satu klausa sebelumnya, yaitu ne. Topik dalam bentuk pronomina posesif memiliki jarak rujuk yang relatif dekat sehingga topik mudah teridentifikasi dan kesinambunganpun menjadi tinggi.
4.1.1.5.2 Kemungkinan Gangguan
Untuk kemungkinan gangguan, selisih antara nilai topik (65) dengan jumlah kemunculannya (37) terpaut cukup jauh. Nilai rata-rata (1.76) yang diperoleh cukup tinggi. Artinya, dari rentang nilai 1-2 yang sudah ditentukan
` untuk kemungkinan gangguan, mayoritas topik mendapat nilai maksimal (2).
karena jarak rujuk topik rata-rata kurang dari tiga klausa sebelumnya. sehingga rujukan topik sulit teridentifikasi. Selain itu, dari 37 jumlah token hanya 9 topik mendapat nilai minimal (1) selebihnya topik mendapat nilai maksimal (2). Pada umumnya topik yang mendapat nilai (1) merujuk pada tokoh utama, seperti ne (Silayagh ). Pengukuran pronomina posesif pada kemungkinan gangguan dapat dilihat pada contoh berikut ini:
65. Gondok limang, ghut sawak bunge edime gelagh koboun ne [PP.KG2]
Gondok lima sama sawak bunge begitulah nama kerbau nya
„ nama kerbaunya adalah Gondok lima dan Sawak Bunge‟
66. te gat buet de enggou tukene [PP.KG 2] melohei lalu bangun kalau sudah perunyat lapar
„ lalu bangun setelah perutnya terasa lapar‟
67. be bone, sak kene koghbo ne[PP.KG 1] be kandang.
sore sore, gembala kerbau nya ke kandang
„ pada sore hari kerbaunya di halau ke kandang‟
68. sohme beghite be pakcik ne[PP.KG 1]
sampai berita kepada pakcik nya
„sampailah berita kepada pakciknya‟
69. pesta nindoghken ghumah enggi ne [PP.KG 2] sidebeghu, pesta bangun rumah adik nya perempuan
„pesta bangun rumah adik yang perempuan‟
70. ame Beghu Dinem [PP.KG 2] ni Natam ibu Beru Dinem di Natam
„ ibu Beghu Dinem di Natam‟
` Topik dalam bentuk pronomina posesif diri tidak mendapat gangguan dari topik lain pada tiga klausa sebelumnya secara berturut-turut. Topik diri merujuk pada topik utama Layagh pada klausa 65 sampai klausa 70. Topik diri di atas memiliki kesinambungan yang tinggi karena kemunculannya tidak mendapat gangguan dari topik lain.
4.1.1.5.3. Keberterusan Topik
Untuk keberterusan topik, selisih antara nilai topik (61) dengan jumlah kemunculannya (37) terpaut cukup jauh dan nilai rata-rata (1.65) yang diperoleh cukup rendah Artinya, dari rentang nilai yang tidak terbatas, yaitu 0 +, yang sudah ditentukan untuk keberterusan topik, mayoritas topik mendapat nilai terkecil antara 0 - 2 saja. Hal ini berarti, kemunculan topik secara berturut-turut dianggap tidak terlalu penting, sehingga topik agak sulit teridentifikasi berdasarkan pengukuran keberterusan topik. Dari 37 jumlah token, lebih dari setengah topik mendapat nilai (0), hanya 3 topik mendapat nilai terbesar masing-masing (13, 11, 9) selebihnya hanya berkisar nilai 1-5 saja. Pada umumnya, topik yang tetap dipertahankan kemunculannya pada klausa berikutnya secara berturut-turut merujuk pada tokoh utama, seperti ne (Silayagh). Pengukuran pronomina posesif pada keberterusan topik dapat dilihat pada contoh berikut ini:
71. manganpe mulai ningkunghangi ame cut ne [PP. KB.5]
makanpun mulai di kurangi mamak kecil nya
„ Makanpun berangsur dikurangi makciknya‟
72. sendah Layaghpe ngganti man nakan campugh ghut abu dapugh sekarang layaghpun sering makan nasi campur sama abu dapur
„kini Layagh sering makan nasi bercampur abu dapur‟
` 73. Ø kane nambahi nakan
agar tambah nasi, „Untuk menambah makan‟
74. Layaghpe nggahami bungkighik-ghik, saghpe, ghut dawan Layaghpun cari rimbang, pakis sama cendawan
„ si Layagh mencari rimbang pakis dan jamur‟
75. Layagh getatene memakan kobou Layagh suka jaga kerbau
„si layagh senang mengembala kerbau‟
76. Gondok limang, ghut sawak bunge edime gelagh koboune [PP. KB.5]
Gondok limang sama sawak bunge begitulah nama kerbaunya
„Gondok Limang dan Sawak Bunge itulah nama kerbaunya si Layagh‟
Berdasarkan contoh di atas, pronomina posesif ne pada klausa 71pada klausa 72 posesip ne sudah terganggu karna kehadiran topik yang lain. . Jadi, topik dalam bentuk pronomina posesif ne di atas memiliki kesinambungan yang cukup rendah karena topik tidak dapat dipertahankan pada klausa selanjutnya.
4.1.2. Tingkat Kesinambungan Perangkat Gramatikal Yang Digunakan