• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Tingkat Kesinambungan Perangkat Gramatikal Yang

73. Ø kane nambahi nakan

agar tambah nasi, „Untuk menambah makan‟

74. Layaghpe nggahami bungkighik-ghik, saghpe, ghut dawan Layaghpun cari rimbang, pakis sama cendawan

„ si Layagh mencari rimbang pakis dan jamur‟

75. Layagh getatene memakan kobou Layagh suka jaga kerbau

„si layagh senang mengembala kerbau‟

76. Gondok limang, ghut sawak bunge edime gelagh koboune [PP. KB.5]

Gondok limang sama sawak bunge begitulah nama kerbaunya

„Gondok Limang dan Sawak Bunge itulah nama kerbaunya si Layagh‟

Berdasarkan contoh di atas, pronomina posesif ne pada klausa 71pada klausa 72 posesip ne sudah terganggu karna kehadiran topik yang lain. . Jadi, topik dalam bentuk pronomina posesif ne di atas memiliki kesinambungan yang cukup rendah karena topik tidak dapat dipertahankan pada klausa selanjutnya.

4.1.2. Tingkat Kesinambungan Perangkat Gramatikal Yang Digunakan Kelima bentuk topik yang digunakan dalam penelitian ini adalah anafora kosong, pronomina tidak bertekan, pronomina posesif, frase nomina definit dan frase nomina indefinit. Hasil pengukuran masing-masing bentuk topik tersebut akan diurutkan menurut nilai rata-rata yang diperolehnya. Selanjutnya, tingkat kesinambungan kelima bentuk topik tersebut dapat dilihat pada ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu jarak referensi, kemungkinan gangguan, dan keberterusan topik.

` 4.1.2.1. Jarak Referensi

Hasil pengukuran kelima bentuk topik untuk jarak referensi diurutkan dari topik yang memiliki nilai rata-rata yang paling kecil sampai kepada yang paling besar. Pengurutan topik menggunakan parameter yang dikemukakan oleh Givon (1983), yakni, semakin dekat jarak topik semakin tinggi kesinambungan topik sebaliknya semakin jauh jarak topik semakin rendah kesinambungan topik.

Artiya, jarak topik jauh berarti topik memiliki nilai rata-rata yang relatif besar sedangkan jarak topik dekat memiliki nilai rata-rata yang relatif kecil. Penjelasan secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.6. Jarak Referensi

Singkatan Bentuk Topik Jumlah Token

Tabel 4.6 menunjukkan, .tingkat kesinambungan topik mulai dari topik yang memiliki nilai rata terkecil sampai pada nilai yang terbesar. Nilai

rata-` rata kecil (2.36, 1.35) menunjukkan kesinambungan tinggi dan nilai rata-rata besar menunjukkan kesinambungan rendah (13.18, 5.29, 2.70). Topik dalam bentuk anafora kosong memiliki kesinambungan topik tertinggi dengan nilai rata-rata (1,35) dan frase nomina indefinit memiliki kesinambungan topik terendah dengan nilai rata-rata (13.18).

Tingkat kesinambungan kelima bentuk topik untuk jarak referensi cukup berimbang karena dua topik memiliki kesinambungan topik yang rendah sedangkan tiga bentuk topik lainnya memiliki kesinambungan yang tinggi.

4.1.2.2. Kemungkinan Gangguan

Kelima bentuk topik diurutkan dari topik yang memiliki nilai rata-rata paling kecil sampai yang paling besar. Menurut parameter kesinambungan topik Givon (1983), semakin banyak topik lain yang mengganggu semakin rendah kesinambungan topik sebaliknya semakin sedikit topik lain yang mengangu semakin rendah kesinambungan topik. Dengan kata lain, topik yang banyak mendapat gangguan dari topik lain memiliki nilai rata-rata yang besar sedangkan topik yang tidak mendapat ganguan dari topik lain memiliki nilai rata-rata yang kecil. Penjelasan secara terperinci dapat dilihat pada tabel dan uraian berikut ini :

Tabel 4.7. Kemungkinan Gangguan

Singkatan Bentuk Topik Jumlah Token

`

Tabel 4.7 menunjukkan, .tingkat kesinambungan topik mulai dari topik yang memiliki nilai rata-rata terkecil sampai pada nilai yang terbesar. Rentang nilai diberikan antara 1-2. Nilai 1, apabila topik tidak mendapat gangguan dari topik lain dan nilai 2, apabila topik mendapat gangguan dari topik lain. Nilai rata kecil (1.12, 1.46) menunjukkan kesinambungan lebih tinggi dan nilai rata-rata besar menunjukkan kesinambungan rendah ( 1.89, 1.76, 1.73). Topik dalam bentuk anafora kosong memiliki kesinambungan topik tertinggi dengan nilai rata-rata (1.12), frase nomina definit memiliki kesinambunan topik rendah, dan frase nomina indefinit dan pronomina posesif memiliki kesinambungan topik paling rendah dengan nilai rata-rata (1.89).

Tingkat kesinambungan kelima bentuk topik untuk kemungkinan gangguan relatif rendah karena hampir seluruh kemunculan topik mendapat gangguan dari topik lain.

4.1.2.3.Keberterusan Topik

Kelima bentuk topik diurutkan dari topik yang paling rendah nilai rata-rata sampai kepada yang pemerolehan yang paling tinggi. Menurut parameter kesinambungan topik Givon(1983), semakin berturut-turut kemunculan topik semakin tinggi kesinambungan topik sebaliknya semakin tidak berturut-turut

` kemunculan topik semakin rendah kesinambungan topik. Artinya, kemunculan topik berturut-turut memiliki nilai rata-rata yang relatif besar sedangkan kemunculan topik yang tidak berturut-turut memiliki nilai rata-rata yang relatif kecil. Penjelasan secara terperinci dapat dilihat pada tabel dan uraian berikut ini :

Tabel 4.8. Keberterusan Topik

Singkatan Bentuk Topik Jumlah Token

Tabel 4.8 menunjukkan, .tingkat kesinambungan topik mulai dari topik yang memiliki nilai rata-rata terkecil sampai pada nilai yang terbesar. Rentang nilai diberikan tidak terbatas. Nilai rata-rata kecil (0.62, 0.94) menunjukkan kesinambungan rendah dan nilai rata-rata besar (1.74, 1.65, 1.42) menunjukkan kesinambungan tinggi. Topik dalam bentuk pronomina tidak bertekan memiliki kesinambungan topik tertinggi pertama (1.74) pertama dan topik dalam bentuk pronomina posesif memiliki kesinambungan topik tertinggi kedua (1.65). ketiga topik lainnya memiliki kesinambungan topik rendah, satu diantaranya, yaitu frase nomina indefinit memiliki kesinambungan topik paling rendah (0.62). Tingkat

` kesinambungan kelima bentuk topik untuk keberterusan topik relatif rendah karena mayoritas kemunculan topik secara berturut-turut berkisar antara 0-2 klausa saja.

4.1.2.4.Tingkat Kesinambungan Topik dalam Cerita Rakyat Alas

Tingkat kesinambungan masing-masing bentuk topik, yaitu anafora kosong, pronomina tidak bertekan, pronomina posesif, frase nomina definit, dan frase nomina indefinit berdasarkan ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu jarak referensi, kemungkinan gangguan dan keberterusan topik dapat dilihat pada grafik berikutini:

JR KG KT

POK 1,35 1,69 1,74

AK 2,36 1,46 1,42

``PP 2,7 1,76 1,65

FND 5,29 1,89 0,94

FNID 13,18 1,12 0,62

Gambar 4.1 Grafik Tingkat Kesinambungan Topik

0 5 10 15

JR KG KT

1,352,362,7 1,691,461,76 1,741,421,65 5,29

1,89 0,94

13,18

1,12 0,62

POK PK PP PD PID

` Untuk jarak referensi, anafora kosong memiliki nilai yang paling kecil (1.35) dibandingkan bentuk topik lainnya. Sedangkan nilai terbesar dimiliki oleh frase nomina indefinit (13.18). Untuk kemungkinan gangguan, nilai terkecil dimiliki olah frase nomina indefinit (1.12) dan nilai terbesar dimiliki oleh frase nomina definit (1.89). Untuk keberterusan topik, nilai terbesar dimiliki oleh anafora kosong (1.74) dan nilai terkecil dimiliki olah fras(0.62). B nomina indefinit berdasarkan kriteria ukuran kesinambungan topik, yaitu

- Semakin kecil jarak referensi, semakin tinggi kesinambungan topik, sebaliknya semakin besar jarak referensi, semakin rendah kesinambungan topik.

- Semakin kecil jarak kemungkinan gangguan, semakin tinggi kesinambungan topik, sebaliknya semakin besar jarak keberterusan topik semakin rendah kesinambungan topik.

- Semakin besar jarak keberterus topik, semakin tinggi kesinambungan topik, sebaliknya semakin kecil jarak keberterusan topik semakin rendah kesinambungan topik.

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan, topik dalam bentuk anafora kosong memiliki kesinambungan topik yang paling tinggi dalam cerita rayat Alas sedangkan topik dalam bentuk frase nomina indefinit memiliki kesinambungan terendah.

Berdasarkan hasil temuan di atas, secara umum dapat dikatakan kesinambungan topik dalam bentuk anafora kosong, pronomina tidak bertekan,

` pronomina posesif, frase nina definit, dan frase nomina indefinit dalam cerita rakyat Alas cukup rendah, seperti terlihat dalam tabel berikut ini

4.1.2.5.Tingkat Kesinambungan Keseluruhan Perangkat Gramatial yang Digunakan

Jumlah keseluruhan nilai masing-masing bentuk topik, yaitu anafora kosong, pronomina tidak bertekan, pronomina posesif, frase nomina definit, dan frase nomina indefinit, dikelompokkan menurut ketiga ukuran kesinambungan topik, yaitu jarak referensi, kemungkinan gangguan dan keberterusan topik.

Penjelasan lebih terperinci dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.9. Ketiga ukuran Kesinambungan Topik Dalam Keseluruhan Perangkat Gramatikal

Jumlah Token

Jumlah Nilai

Nilai Rata-Rata

Jarak referensi 348 2480 7.12

Kemungkinan gangguan 348 630 1.81

Keberterusan topik 348 361 1.04

Jumlah token dari keseluruhan bentuk topik, yaitu 348, jarak referensi memiliki nilai rata terbesar (7.12), dan keberterusan topik memiliki nilai rata-rata terkecil (1.04). Untuk jarak referensi, rentang nilai yang ditentukan antara 1- 20, sedangkan nilai rata-rata untuk jarak referensi secara keseluruhan adalah 7.12.

` Artinya, jarak rujuk topik cukup rendah dan topik dapat teridentifikasi dengan mudah. Untuk kemungkinan gangguan, rentang nilai yang ditentukan antara 1-2, nilai 1 berarti topik tidak mendapat gangguan dari topik lain dan nilai 2 berarti topik mendapat gangguan dari topik lain. Dari hasil temuan, nilai rata-rata untuk kemungkinan gangguan 1.81, tidak terpaut jauh dengan nilai yang sudah ditentukan, yaitu 2. Artinya, hampir semua kemunculan topik mendapat gangguan dari topik lain, sehingga sulit mengidentifikasi topik tersebut. Untuk keberterusan topik, rentang nilai tidak terbatas, tergantung seberapa penting keberadaan topik tersebut. Nilai rata-rata yang diperoleh untuk keberterusan topik 1.04, artinya mayoritas topik adalah topik-topik baru dan kemunculannya dianggap tidak terlalu penting sehingga rujukan topik menjadi sulit. Oleh karena itu, secara umum dapat disimpulkan, kesinambungan topik dalam kelima bentuk topik rendah karena tidak memenuhi kriteria kesinambungan topik yang telah ditentukan

4.1.3 Peran Topik dalam Cerita Rakyat Alas Silayagh dan Beghudinem