• Tidak ada hasil yang ditemukan

Friska Maish Memiliki Keluarga Utuh “ Bekerja Sebagai Pemulung Karena

BAB IV HASIL DAN PEMBAHSAN

4.4 Interpretasi Data Penelitian

4.4.2. Friska Maish Memiliki Keluarga Utuh “ Bekerja Sebagai Pemulung Karena

Herman berusia 33 tahun tinggal bersama isterinya yang bernama Sulastri berusia 29 tahun dan kelima anaknya. Anak yang pertama bernama Friska berusia 10 tahun duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar , dan anak kedua bernama Cindy Usia 7 tahun duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Anak yang ketiga bernama Tiven usia 5 tahun belum bersekolah, dan anak

keempat bernama Osea berusia 3 tahun, anak terakhir atau anak kelima dari pasangan Herman dan Sulastri ini adalah Dede ini masih berusia sekitar 10 bulan. Herman bekerja sebagai pencari barang bekas yang kemudian ia jual kepada agen. Sedangkan Sulastri bekerja sebagai pemulung botol-botol bekas. Pekerjaan ini sudah mereka lakoni selama tujuh tahun belakangan ini, dan dengan itulah Herman dan Sulatri menghidupi ke lima anak-anak mereka.

Gambar 5: Pemandangan depan rumah keluarga Herman.

Keluarga Herman tinggal di Kecamatan Medan Polonia, dengan menyewa rumah kecil dengan harga Rp.350.000/bulan. Rumah yang Herman sewa bagaikan gubuk kecil dan sudah tidak layak untuk di tempati, tetapi keluarga Herman tidak dapat pindah dari rumah yang sedang mereka tempati saat ini. Keadaan keuangan keluarga Herman membuat mereka harus bertahan dan tinggal di dalam rumah tersebut. Bagi Herman dan Sulastri rumah mereka hanya untuk tempat tidur saja, karena setiap hari mereka harus bekerja di jalanan demi untuk memberikan

makan untuk kelima anak-anaknya. Meskipun Sulasti masih mempunyai anak yang masih balita ia tetap pergi bekerja mencari botol-botol bekas. Anak-anaknya selalu ia titipkan kepada tetangga mereka yang berada disebelah rumah mereka. Hal ini mereka lakukan semata untuk dapat bertahan hidup.

Pernikahan Herman dan Sulastri berlangsung pada tahun 2005. Pada saat itu Herman sudah bekerja sebagai pencari barang bekas, karena tidak memiliki pendidikan yang tinggi Herman hanya dapat bekerja sebagai pencari barang bekas saja. Sebelumnya Herman bekerja sebagai buruh bangunan, tetapi karena pekerjaannya terlalu berat dan tidak seimbang dengan pendapatan yang di terima, maka ia memutuskan berhenti menjadi buruh bangunan. Berbulan-bulan lamanya Herman tidak bekerja , sementara ia harus menafkahi isteri yang pada saat itu sedang mengandung anak pertama mereka. Herman pun sudah mencoba mencari pekerjaan yang lain tetapi ia tak kunjung mendapatkannya. Tidak ada yang dapat dikerjakan Herman pada saat itu ia terus mencoba mencari apapun pekerjaan yang menghasilkan uang untuk isterinya.

Salah satu teman Herman, mangajak dirinya untuk bekerja sebagai pencari atau pengumpul barang bekas dengan menggunkan becak kecil yang tidak memiliki gerobak. Mereka berdua harus menyelusuri setiap jalanan dan mencari seseorang yang akan menjualkan barang bekas kepada mereka yang kemudian mereka jual kepada agen-agen yang menerima barang bekas tersebut. Dengan pekerjaan tersebut Herman merasa penghasilan yang ia terima cukup untuk biaya kebutuhan isterinya sehari-hari. Karena belum mempunyai seorang anak membuat penghasilan yang ia terima sudah cukup untuk mereka berdua. Meskipun penghasilan yang ia dapatkan sebenarnya tidak terlalu tinggi.

Pada tahun 2006, Sulastri melahirnya anak pertama mereka yaitu Friska. Setelah setahun lebih pernikahan mereka berlangsung akhirnya kedua pasangan ini dikarunia anak perempuan. Tentu saja kehadiran anak pertama mereka membuat Herman harus bekerja lebih giat karena ia akan menghidupi isterinya dan putri kecilnya. Setelah mempunyai anak, Herman merasa bahwa penghasilan yang ia terima dari mencari barang bekas tersebut tidaklah cukup. Karena ia hanya bekerja untuk membantu temannya dalam mencari barang bekas dan penghasilan yang ia dapatkan tidak terlalu tinggi. Dalam sehari Herman hanya diberikan uang sebesar Rp.20.000 pada saat itu. Tentu saja penghasilan yang sedikit itu akan sangat kurang bagi Herman. Anak pertamanya yang baru lahir akan membutuhkan susu dan lainya. Herman sebagai kepala rumah tangga harus mencari uang untuk membeli kebutuhan untuk isteri dan anak pertamanya.

Herman terus mencoba mencari pekerjaan yang lain yang berpenghasilan lebih tinggi, tetap saja tidak mudah baginya untuk mendapatkannya. Sementara anaknya memiliki kebutuhan yang banyak. Karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang lain, Herman mendapatkan ide untuk mencari dan mengumpulkan barang bekas dengan sendirian. Dengan begitu penghasilan yang ia dapatkan akan jauh lebih banyak karena ia tidak perlu bekerja dengan temannya yang selama ini yang telah memberikan ia uang. Akan tetapi, jika Herman harus bekerja dengan sendirian, ia pasti memerlukan becak seperti yang mereka gunakan bersama temannya ketika sedang bekerja. Pada akhirnya Herman meminta bantuan kepada temanya dan mengatakan bahwa ia ingin bekerja dengan sendirian, karena uang yang ia dapatkan tidak cukup.

Parman temanya dalam mencari barang bekas tersebut mengerti tentang keadaan yang dirasakan oleh Herman. Parman juga berniat untuk membantu temannya tersebut, karena yang menjadi permasalahan bagi Herman adalah ia tidak memiliki becak untuk mencari barang-barang bekas. Pada akhirnya Parman memberikan becak kepada Herman dengan menyewa perhari

kepadanya. Dengan seperti itu Herman dapat bekerja dengan sendirian dan dapat menikmati penghasilan yang ia dapatkan dengan sendirinya. Untuk sewa becak tidak terlau dipatokkan, berapa pun yang dapat diberikan oleh Herman tidak menjadi permasalahan bagi Parman. Karena becak tersebut memang tidak ada yang menggunakan dan akan lebih baik jika becak tersebut disewakan kepada Herman.

Gambar 5 : Becak Yang Herman Gunakan Untuk Bekerja.

Setiap harinya Herman dengan penuh semangat bekerja menyelusuri kota Medan ini dengan becak yang ia sewa. Herman harus mendapatkan pelanggan yang banyak, yang akan menjualkan barang-barang bekas kepadanya. Ia tidak meneriman barang bekas saja, tetapi juga buku-buku bekas dan juga koran bekas. Jika ada yang menjual kepadanya ia hanya menghargai

dengan Rp.1000/kg. Jika di jual kepada agen yang sudah menjadi langgananya, harga menjadi dua kali lipat dan ini menjadi sebuah keuntungan untuknya. Herman harus mendapatkan barang-barang bekas dengan sebanyak-banyaknya agar ia mendapatkan uang yang lebih banyak untuk anak dan isterinya di rumahnya. Herman juga harus mengumpulkan uang untuk membayar uang sewa rumah yang sedang keluarganya tempati.

Pekerjaan mencari barang-barang bekas tidak selamanya mendapatkan uang yang banyak. Herman dalam sehari pernah tidak mendapatkan barang-barang bekas untuk dijual kepada agennya. Sekitar lebih dari delapan jam Herman menyelesuri sudut-sudut kota Medan ini, terkadang ia mendapatkan lebih banyak barang-barang bekas, dan terkadang juga ia sama sekali tidak mendapatkan sedikit pun barang –barang bekas yang ia cari. Hal ini membuatnya mengalami kesulitan untuk membiayai anak dan isterinya. Dimana putri pertamanya semakin tumbuh dan berkembang, kebutuhan yang ia diperlukan oleh anaknya pun akan semakin banyak dan meningkat. Herman benar-benar merasa sangat terpuruk dan kekurangan dalam permasalahan ekonomi keluarganya.

Herman harus mampu keluar dari keterpurukannya, ia harus tetap mencari cara agar tidak mengalami penurunan terhadap pendapatannya. Ketika Herman sedang menjual barang-barang bekas kepada agennya, ia melihat lebih banyak orang yang menjual botol-botol bekas disana. Akhirnya Herman berniat mencari barang-barang bekas dan juga botol-botol bekas tersebut. Dengan cara tersebut Herman dapat menangani permasalah perekonomian keluargnya. Jika Herman tidak mendapatkan pelanggan untuk menjual barang-barang bekas kepadanya, ia masih mempunyai botol-botol bekas yang akan di jual kepada agenya dan akan menghasilkan uang walaupun tidak terlalu tinggi jumlahnya. Tetapi sangat berguna untuknya dan juga untuk isterinya dan anaknya yang memiliki kebutuhan lebih.

Pada tahun 2009, kembali pasangan Herman dan Sulastri dikarunia anak kedua yaitu seorang anak perempuan bernama Cindy, Friska telah memiliki seorang adik perempuan. Kelahiran anak kedua Herman membuatnya harus benar-benar bekerja keras, karena sekarang ia harus menghidupi dan menafkahi dua orang anak dan isterinya. Herman harus bekerja lebih giat untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Tetapi dengan seiring perkembangnya zaman, kebutuhan untuk keluarganya Herman pun semakin meningkat. Harga-harga sembako yang dibutuhkan oleh keluarga Herman pun semakin hari semakin bertambah dan mahal. Sementara pendapatan Herman semakin hari semakin menipis, keadaan ekonomi keluargnya, semakin terpuruk. Keluarganya harus hidup secara kekurangan karena kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu.

Karena kesulitan yang dialami oleh suaminya, Sulastri berniat untuk membantu suami dalam mencari uang dengan bekerja sebagai pemulung botol-botol bekas yang sama seperti pekerjaan sambilan Herman. Karena masih mempunyai seorang anak yang masih kecil, Herman tidak memberikan izin kepada isterinya untuk membantunya bekerja. Jika Sulastri ikut serta bekerja maka tidak akan ada yang menjaga kedua anak-anaknya, apalagi kedua anak-anaknya masih sangat membutuhkan kehadiran dan dekapan seorang ibu. Sulastri harus mengubur niatnya untuk membantu suaminya dalam bekerja dan mendapatkan uang. Sebenarnya Herman sangat membutuhkan bantuan isterinya, tetapi ia tidak mungkin harus mengorbankan kedua anak-anaknya.

Semakin hari kondisi perekonomian keluarga Herman benar-benar semakin sulit. Pada tahun 2011, Sulastri kembali melahirkan anak ketiga mereka yaitu anak laki-laki yang bernama Tiven. Herman merasa sangat gembira karena mereka telah dikaruniai seorang anak laki-laki, dimana setiap suku batak selalu menginginkan kehadiran seorang anak laki-laki. Akan tetapi, ini

menjadi permasalah juga bagi Herman karena beban yang harus ia tanggung juga akan semakin bertambah. Sementara perekonomian keluarganya dalam beberapa tahun ini selalu mengalami kesulitan dan penurunan. Keluarga Herman pun hidup dengan serba kekurangan, di tambah dengan kehadiran anak ketiga yang mempunyai kebutuhan yang lebih. Hal ini membuat Herman memilki utang yang lebih banyak kepada temannya Parman.

Pada tahun 2012, anak pertama Herman dan Sulastri mulai memasuki dunia pendidikan. Hal ini benar-benar menjadi puncak permasalahan bagi Herman, dan tidak mungkin Friska tidak mereka sekolahkan. Pada akhirnya Sulastri harus benar-benar membantu Herman dalam bekerja. Dengan berat hati Herman harus mengizinkan niat baik isterinya untuk membantunya. Pekerjaan yang di pilih Sulastri adalah menjadi seorang pemulung yang pencari botol-botol bekas minuman, yang pada saat itu banyak ibu-ibu yang berada dilingkungan tempat tinggalnya bekerja seperti seperti itu, dan dapat menghasilkan uang yang cukup bagi siapapun. Dengan bekerjanya Sulastri dapat membantu suaminya. Meskipun Sulastri masih memiliki anak-anak yang masih kecil tetapi ia tidak perlu merasa cemas terhadap anak-anaknya. Karena dia mempunyai seorang tetangga yang memiliki hubungan persaudaraan dengannya yang bersedia menjaga anak-anaknya jika ia pergi bekerja.

Herman dan isterinya selalu berpencar ketika bekerja di jalanan, Herman sendiri pergi mencari barang bekas dengan mengendarai becak yang digunakan untuk mengangkut barang-barang bekas yang didapatkanya. Sementara Sulastri isterinya hanya mencari botol-botol bekas dengan berjalan kaki dan membawa beberapa karung dan plastik besar , yang digunakankan untuk tempat botol-botol bekas yang didapatkannya, dan biasanya Herman akan menjemput isterinya pada sore hari di tempat yang sudah mereka tentukan, Sulastri mencari botol-botol bekas dari jalan jalan Jamin Ginting Padang Bulan, Pajak Sore, dan Sampai ke Pringan, mereka

bekerja hampir setiap hari tanpa mengenal lelah. Herman dan Sulastri berangkat bekerja pada pukul 10.00 wib, karena Sulastri harus mengurus anak-anaknya terlebih dahulu dan memasak untuk makan anak-anaknya jika ia harus pergi bekerja.

Gambar 6 : Sulastri Ketika Mencari Botol Bekas Minuman.

Herman dan Sulastri bekerja hampir setiap hari, jika mereka merasa lelah pada hari minggu, mereka akan beristirahat dan libur untuk bekerja. Hampir tidak pernah mereka melihat perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Setiap hari mereka harus bekerja untuk menghidupi anak-anaknya, meskipun mereka harus mengorbankan waktu untuk berkumpul bersama-sama anak-anaknya. Mereka sebagai orang tua harus bekerja keras untuk dapat bertahan dan melanjutkan hidup serta untuk menyekolahakn anak-anaknya. Pada saat itu Friska sudah memasuki dunia pendidikan dan duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Demi untuk anak-anaknya, Herman dan Sulastri harus benar-benar bekerja di jalanan tanpa mengenal lelah.

Setelah beberapa tahun Sulastri bekerja di jalanan, dan pada tahun 2013, kemudian ia melahirkan anak keempatnya, yaitu anak laki-laki yang bernama Osean. Kembali pasangan Herman dan Sulastri dikarunia seorang anak. Hal ini membuat Sulastri harus berhenti bekerja sebagai pemulung atau pencari botol-botol bekas, karena ia baru saja melahirkan anak keempatnya. Tetapi seletah enam bulan umur Osean, Sulastri kembali bekerja dalam membantu suaminya karena saat itu dengan bertambahnya jumlah anggota keluarganya membuat mereka harus lebih giat dalam bekerja. Karena akan semakin banyak kebutuhan-kebutuhan yang harus mereka penuhi untuk anak-anaknya.

Karena bekerjanya Herman dan Sulastri membuat para anak-anaknya kehilangan waktu untuk berkumpul bersama orang tuanya. Hal ini membuat anak-anaknya, tidak selalu dalam pengasuhan kedua orang tuanya. Herman dan Sulastri hanya mempunyai waktu ketika malam hari untuk berkumpul bersama dengan anak-anak mereka. Rasa lelah dan letih hampir setiap hari mereka rasakan, karena hal itu membuat kedua orang tua ini tidak mempunyai waktu untuk sekedar berkumpul dan bermain-main bersama anak-anaknya. Mereka berdua lebih memilih untuk segera tidur, karena dengan cara seperti itu dapat menghilangkan rasa lelah mereka. Meskipun kedua orang tua ini sudah bekerja menghabiskan waktu yang panjang, tetap saja masalah finansial keluarganya masih jauh dari kata cukup.

Pada tahun 2014 anak pertama pasangan Herman dan Sulastri memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya dan bekerja sebagai pemulung yang mencari botol-botol bekas yang sama dengan pekerjaan ibunya Sulastri. Ikut sertanya Sulastri dalam bekerja tentu tidak sepenuhnya merubah perekonomian keluarganya, tetap saja keluarga ini masih merasakan kekurangan dalam masalah perekonomian. Hanya saja dengan ikut sertanya Sulastri dapat

mengurangi beban suaminya, karena pada masa itu keluarganya mengalami masa krisis. Herman mempunyai utang yang cukup banyak dan mereka harus membayarnya dengan cara mencicil.

Friska pada saat itu masih berusia delapaan tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Karena ia sering ditinggalkan oleh ibu dan ayahnya untuk pergi bekerja di jalanan, membuatnya ingin bekerja juga seperti orangtuanya. Sebab selama ini keluarganya sangat merasakan kekurangan. Friksa sebagai seorang anak juga sangat merasakan kondisi perekonomian keluarganya yang selalu penuh dengan kekurangan. Kehidupannya dengan kehidupan teman-temannya yang berada di lingkungan tempat tinggalnya jauh sangat berbeda dengan dirinya. Ia dan saudaranya kerap merasa kekurangan dalam bidang materi yang diberikan oleh ibu dan ayahnya. Sering ia mendapatakan rasa iba oleh beberapa masyarakat yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Friska dan adik-adiknya sering mendapatkan pakian bekas dari sesama teman-temanya. Karena orangtuanya jarang memberikan pakaian baru kepada mereka.

Friska sangat menyadari bagaimana kondisi dan keadaan kedua orang tua. Ayah dan ibunya selalu bekerja keras setiap hari dan membuat ia dan adik-adiknya jarang sekali mendapatkan kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Friska dan adik-adiknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain-main di lingkungan tempat tinggal mereka , anak-anak Herman bagaikan anak yang terlantar yang tidak pernah di jaga atau di asuh oleh kedua orang tuanya. Namun Friska memahami kenapa kedua orang tuanya harus bekerja seharian penuh di jalanan. Semata agar kedua orang tuanya dapat menghidupi ia dan adik-adiknya , karena sebagai manusia akan memerlukan makan, minum, dan bahkan tempat tinggal untuk berlindung. Jika kedua orang tuanya tidak bekerja maka ia dan adik-adiknya tidak akan pernah mendapatkan itu semua. Meskipun ibunya ikut serta dalam bekerja juga tidak sepenuhnya dapat merubah keadaan ekonomi keluarganya tetap saja ia dan adiknya masih jauh dari kata cukup.

Oleh karena keadaan kedua orang tuanya, akhirnya Friska memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya untuk bekerja mencari dan mengumpulkan botol-botol bekas sebanyak-banyaknya dan semampunya. Friska bekerja mencari botol-botol bekas tersebut sehabis pulang dari sekolahnya dan kembali kerumahnya untuk menganti pakiannya. Sekalian untuk menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh ibunya, sebelum Sulastri berangkat bekerja. Friska bekerja mencari botol-botol bekas untuk pertama kalinya ia sendirian. Di lingkungan tempat tinggal Friska banyak keluarga yang bekerja sebagai pemulung botol-botol bekas, para anak-anak juga akan ikut serta dalam bekerja seperti orang tuanya. Tidak hanya Friska yang memilih pekerjaan seperti ini, teman-teman sebaya juga sebagian bekerja seperti dirinya.

Hal ini membuat Friska menjadi mempunyai teman untuk memulung atau mencari botol-bototl bekas. sehingga membuat Friska dan beberapa temannya selalu memulung bersama-sama. Friska tidak perlu merasa takut jika harus bekerja di jalanan, ia akan selalu memiliki teman. Meskipun tidak setiap harinya Friska harus bersama teman-temannya ketika memulung. Terkadang Friska juga harus pergi bekerja sebagai pemulung di jalanan seorang diri, tetapi ia bersama temannya selalu bertemu di jalanan. Maka tidak jarang Friska dan teman-temannaya selalu pulang bersama ke rumah mereka masing-masing. Friska dan teman-teman terkadang sudah membuat perjanjian agar pulang dan pergi dari memulung selalu bersama-sama. Meskipun begitu tidak setiap hari mereka harus memulung bersama-sama. Teman-teman sebayanya yang menjadi pemulung, sering juga pergi bekerja bersama dengan orang tua mereka masing-masing. Tidak seperti dirinya, ia tidak pernah bersama ibu untuk pergi memulung.

Menurut Friska, bekerja sebagai pemulung atau pencari botol-botol bekas di jalanan adalah hal yang meyenangkan. Daripada ia tidak bekerja sama sekali, Friska sering merasa bosan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika mereka pergi bekerja. Hampir seharian kedua orang

tuanya bekerja di jalanan, membuat waktu yang ia miliki untuk berkumpul bersama orang tua hanya sedikit saja. Dengan bekerjanya Friska ia tidak merasa kesepian lagi , dan dengan begitu Friska pun dapat untuk membantu kedua orang tua untuk mendapatkan uang. Ia juga sangat menyadari kenapa kedua orang tuanya harus bekerja keras setiap harinya. Karena ia dan saudaranya memiliki sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh kedua orang tua mereka. Bekerja sebagai pemulung tidak terlalu berbahaya bagi Friska, karena ia hanya mengambil dan memungut sampah dari orang lain.

Pekerjaan yang Friska lakukan pun tidak berada di jalanan besar seperti seorang pengamen. Ia hanya berada di tengah-tengah keramaian untuk memungut sampah yang berbentuk botol-botol bekas. Selama setahun belakangan ini, Friska pun jarang mendapatkan bahaya atau ancaman ketika ia pergi bekerja. Ia selalu dalam keadaan baik-baik saja ketika kembali pulang ke rumahnya. Niat Friska hanya untuk bekerja dan mencari sampai sebanyak-banyaknya botol bekas minuman tersebut. Dirinya pun tidak pernah menganggu orang lain yang memiliki pekerjaan yang sama seperti dirinya. Banyak anak-anaknya yang terlihat di jalanan bekerja juga seperti dirinya. Mulai dari anak-anak sampai orang tua pun banyak Friska temui di jalanan bekerja seperti dirinya, dan membuat Friska tidak menjadi merasa terasingkan ketika bekerja sebagai pemulung botol-botol bekas.

Namun, bukan berarti Friska tidak pernah mendapatkan gangungan ketika bekerja sebagai pemulung. Ia juga sering dilarang oleh sesama pemulung yang lebih tua darinya untuk tidak memulung di suatu tempat. Pemulung yang sering menganggu Friska selalu pemulung anak laki-laki yang lebih tua dari Friska pun tidak pernah tinggal diam jika ia mendapatkan larangan seperti itu, ia biasanya akan mencoba melawan dan mengatakan bahwa siapapun berhak untuk bekerja di jalanan apalagi untuk mencari botol-botol bekas. Karena kedua orangtuanya selalu

mengatakan siapapun yang ingin bekerja di jalanan adalah hak dari diri masing-masing, jalanan adalah ruang publik yang siapa saja pun mempunyai hak untuk melakukan apapun. Jika tidak merugikan bagi orang lain, seseorang dapat dengan bebas untuk berada di jalanan meskipun bekerja sebagai pemulung.

Friska pun tidak merasa merugikan siapapun ketika ia bekerja sebagai pemulung, maka dari itu dia selalu berani untuk melawan siapa pun orang-orang yang menurutnya tidak pantas untuk melarang ia memunguti sampah yang berupa botol-botol bekas . Meskipun begitu, Friska juga terkadang tidak ingin melawan seseorang yang lebih tua darinya, dan biasanya ia juga akan

Dokumen terkait