• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA

2.2 Kajian Teori

2.2.3 Modul

2.2.3.3 Fungsi dan Tujuan Penulisan Modul

Menurut Diklat Direktoral Tenaga Kependidikan (2008;5), penggunaan modul sering dikaitkan dengan aktivitas pembelajaran mandiri (self-instruktions).

Maka dari itu, modul harus memiliki kelayakan isi yang lengkap. Materi ajar dalam modul harus disajikan dengan lengkap dan jelas sehingga pembelajar mampu memahami setiap aspek isi dalam modul dengan baik pula. Selain kelengkapan isi, pola sajian dalam modul juga harus sesuai dengan tingkat pemahaman pembelajar

dengan menyajikan materi berpola dari khusus ke umum memgikuti tingkatan pemahaman pembelajar.

Sama halnya dengan bahan ajar pada umumnya, modul juga memiliki beberapa fungsi dalam dunia pendidikan. Prastowo (2015:107), memaparkan fungsi modul sebagai berikut.

a. Bahan ajar mandiri. Maksudnya, modul sebagai salah satu sumber belajar memang dirancang khusus untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pembelajar untuk belajar secara mandiri tanpa tergantung kepada kehadiran pendidik.

b. Pengganti fungsi pendidik. Maksudnya, modul sebagai bahan ajar dirancang untuk menggantikan fungsi guru dalam memberikan pengetahuan kepada pembelajaran. Maka dari itu, modul harus berlaku layaknya guru yang mampu menjelaskan materi pembelajaran dengan jelas, mudah, dan dapat dimengerti oleh pembelajar sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka.

c. Sebagai alat evaluasi. Maksudnya, selain menyajikan materi ajar yang dapat dipelajari secara mandiri, modul juga menyediakan alat evaluasi agar pembelajar dapat mengukur dan menilai sendiri tingkat penguasaannya terhadap materi pembelajaran melalui diskusi, latihan, dan tes formatif yang sudah disediakan dalam modul.

d. Sebagai bahan rujukan bagi peserta didik. Maksudnya, dalam modul sudah disediakan banyak materi pembelajaran sesuai kompetensi yang ingin dicapai oleh peserta didik sehingga peserta didik dapat menjadikan modul sebagai salah satu sumber referensi belajar mereka.

Sementara itu, Diklat Direktoral Tenaga Kependidikan (2008;5) menjabarkan tujuan dalam penulisan modul sebagai berikut.

a. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal. Maksudnya adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan modul harus bersifat komunikatif dan jelas agar mudah dipahami oleh pembelajar.

Penggunaan bahasa yang jelas dan tidak berbelit-belit akan membantu pembelajar memahami maksud atau pesan yang ingin penulis sampaikan.

b. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik peserta belajar/guru instruktur. Maksudnya adalah modul yang ditulis harus mampu menyajikan materi-materi secara utuh dan dapat menjadi fasilisator yang menggantikan peran guru atau pengajar dalam menjelaskan materi. Isi materi juga harus lengkap sehingga dapat dipelajari pembelajar secara mandiri untuk mengatasi keterbatasan waktu pembelajar yang belum memahami materi yang ada.

c. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi. Maksudnya adalah dalam penulisan modul harus dapat meningkatkan motivasi dan gairah belajar serta mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan siswa atau pembelajar belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.

d. Memungkinkan siswa atau pembelajar dapat mengukur atau mengevaluasi diri sendiri terkait hasil belajarnya. Maksudnya adalah dalam penulisan modul harus meyajikan soal-soal latihan atau unjuk kerja yang membantu pembelajar mengevaluasi tingkat pemahamannya. Adanya evaluasi ini dapat memberi

umpan balik ke pembelajar terkait hasil belajarnya dan materi apa yang masih belum dikuasai dengan baik oleh mereka.

Berdasarkan pendapat tentang fungsi dan tujuan modul di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada dua tujuan utama dalam penyusunan modul, yakni sebagai berikut. Pertama, modul merupakan bahan ajar mandiri yang disusun untuk pembelajaran yang membantu peserta didik belajar secara mandiri tanpa bantuan fasilisator. Oleh karena itu, peneliti harus benar-benar memperhatikan setiap komponen dalam modul agar efektif digunakan dalam proses pembelajaran. Kedua, modul memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk mengevaluasi dirnya sendiri dalam mengggunakan modul. Tujuan ini menjadi poin penting yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam menyusun modul. Pemberian tugas-tugas dan latihan dalam modul harus bisa membuat pembelajar mudah mengevaluasi ketercapaian kompetensi yang diharapkan.

2.2.3.4 Sistematika Modul

Menurut Sungkono (2003), ada tujuh komponen utama yang perlu ada dalam modul, yaitu:

a. Tinjauan pembelajaran. Maksudnya, berupa pemaparan secara umum tentang keseluruhan isi modul yang meliputi; deskripsi mata pelajaran, kegunaan mata pelajaran, kompetensi dasar, bahan pendukung lainnya dan petunjuk belajar.

b. Pendahuluan. Maksudnya, pembukaan suatu pembelajaran dalam modul yang meliputi; deskripsi singkat isi modul, indikator yang ingin dicapai, memuat

pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh, dan relevansi yang terdiri atas urutan kegiatan belajar dan petunjuk belajar

c. Kegiatan belajar. Maksudnya, kegiatan yang memuat materi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Bagian ini terbagi atas beberapa subbagian yang disebut kegiatan belajar. Kegiatan belajar berisi uraian materi, contoh, latihan, rambu-rambu latihan, rangkuman, tes formatif, kunci jawaban tes formatif, dan tindak lanjut.

d. Latihan. Maksudnya, kegiatan yang berisi sejumlah pertanyaan untuk mengetahui keberhasilan penguasaaan/pencapaian tujuan pada materi yang telah dipelajari.

e. Rangkuman. Maksudnya, bagian modul yang berisi ringkasan ikhtisar penting materi ajar yang ada dalam setiap bab yang telah disajikan.

f. Tes formatif. Maksudnya, bagian modul yang berisi tes yang harus dikerjakan oleh mahasiswa untuk mengetahui tingkat pemahamanannya dan tingkat pencapaian yang diperoleh setelah mempelajari bab dalam modul.

g. Tindak lanjut. Maksudnya, bagian akhir modul yang berisi petunjuk yang harus dilakukan oleh mahasiswa setelah mempelajari modul yang ada.

Selain itu, Diklat Direktoral Tenaga Kependidikan (2008;5) menjabarkan struktur penulisan modul dibagi atas tiga bagian sebagai berikut.

1. Bagian Pembuka

Bagian pembuka meliputi:

a. Judul

Dalam penulisan judul modul harus menarik dan memberi gambaran tentang materi yang dibahas dalam modul.

b. Daftar Isi

Daftar isi dalam modul menyajikan topik-topik yang dibahas.

Topik-topik tersebut diurutkan berdasarkan urutan kemunculan dalam modul.

Pembelajar dapat melihat secara keseluruhan tentang topik apa saja yang ada dalam modul melalui daftar isi. Daftar isi juga mencantumkan nomor halaman untuk mempermudah pembelajar menemukan topik.

c. Peta Informasi

Modul perlu menyertakan peta informasi. Pada peta informasi akan diperlihatkan kaitan antartopik dalam modul. Peta dalam modul dapat menggunakan diagram isi bahan ajar yang telah dipelajari sebelumnya.

d. Daftar Tujuan Kompetensi

Penulisan tujuan kompetensi dalam modul dapat membantu pembelajar untuk mengetahui pengetahuan, sikap, atau keterampilan apa yang dapat dikuasai setelah menyelesaikan pembelajaran.

e. Tes Awal

Pembelajar perlu diberitahu keterampilan atau pengetahuan awal apa saja yang diperlukan untuk dapat menguasai materi dalam modul. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi pre-test. Pre-test bertujuan untuk memeriksa apakah pembelajar telah menguasai materi prasyarat untuk mempelajari materi modul.

2. Bagian Inti

a. Pendahuluan/Tinjauan Umum Materi

Pendahuluan dalam modul berfungsi untuk; (1) memberikan gambaran umum mengenai isi materi dalam modul, (2) meyakinkan pembelajar bahwa materi yang akan dipelajari dapat bermanfaat bagi mereka, (3) meluruskan harapan pembelajar mengenai materi yang akan dipelajari, (4) mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan dipelajari, dan (5) memberikan petunjuk bagiamana mempelajari materi yang akan disajikan.

b. Hubungan dengan Materi atau Pelajaran yang Lain

Materi dalam modul sebaiknya lengkap, dalam arti semua materi yang perlu dipelajari tersedia dalam modul. Akan tetapi, bila tujuan kompetensi menghendaki pembelajar mempelajari materi untuk memperluas wawasan berdasarkan materi di luar modul, maka pembelajar perlu diberi tahu arahan materi apa, dari mana, dan bagaimana mengaksesnya. Bila materi tersebut tersedia dalam buku teks, maka arahan tersebut dapat diberikan dengan menuliskan judul dan pengarang buku teks tersebut.

c. Uraian Materi

Uraian materi merupakan penjelasan secara terperinci tentang materi pembelajaran yang disampaikan dalam modul. Organisasikan isi materi pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis, sehingga memudahkan pembelajar memahami materi pembelajaran. Apabila materi yang akan dituangkan cukup luas, maka dapat dikembangkan ke dalam

beberapa kegiatan belajar (KB). Setiap KB memuat uraian materi, penugasan, dan rangkuman. Adapun sistematikanya sebagai berikut.

Kegiatan Belajar 1

Gambar 2.1 Contoh Sistematika Uraian Materi dalam Bab

Di dalam uraian materi setiap kegiatan belajar, baik susunan dan penempatan naskah, gambar, maupun ilustrasi diatur sedemikian rupa sehingga informasi mudah dimengerti. Organisasikan antarbab, antarunit, dan antarparagraf dengan susunan dan alur yang memudahkan pembelajar memahaminya. Organisasi antara judul, subjudul, dan uraian yang mudah diikuti oleh pembelajar.

Pemberian judul atau penjudulan merupakan alat bantu bagi pembaca modul untuk mempelajari materi yang disajikan dalam bentuk teks tertulis.

Penjudulan membantu pembelajar untuk menemukan bagian dari teks yang ingin dipelajari, memberi tanda awal, akhir suatu topik, memberi kesan bahwa topik-topik terkelompok dalam topik yang lebih besar, memberi ciri topik yang

penting dan memerlukan pembahasan panjang dengan melihat banyak halaman untuk membahas topik tersebut.

Struktur penjudulan mencerminkan struktur materi yang dikembangkan oleh penulis modul. Hierarki sebaiknya tidak lebih dari tiga jenjang. Lebih dari tiga jenjang akan menyulitkan pembaca untuk memahami penjenjangan tersebut. Penjudulan untuk setiap jenjang sebaiknya dituliskan dalam bentuk huruf berbeda. Misalnya;

A. JUDUL 2. Sub Judul

a. Anak Judul (Sub dari sub judul) Gambar 2.2 Contoh Penjudulan dalam modul

d. Penugasan

Penugasan dalam modul perlu untuk menegaskan kompetensi apa yang diharapkan setelah mempelajari modul. Jika pembelajar diharapkan untuk dapat menghafal sesuatu, dalam penugasan hal ini perlu dinyatakan secara tegas. Jika pembelajar diharapkan menghubungkan materi yang dipelajari pada modul dengan pekerjaan sehari-harinya, maka hal ini perlu ditugaskan kepada pembelajar secara eksplisit. Penugasan juga menunjukkan kepada pembelajar bagian mana dalam modul yang merupakan bagian penting.

e. Rangkuman

Rangkuman merupakan bagian dalam modul yang menelaah hal-hal pokok dalam modul yang telah dibahas. Rangkuman diletakkan pada bagian akhir modul.

3. Bagian Penutup

a. Glossary atau daftar pustaka

Glossary berisikan definisi-definisi konsep yang dibahas dalam modul. Definisi tersebut diringkas dengan tujuan untuk mengingat kembali konsep yang telah dipelari.

b. Tes Akhir

Tes akhir merupakan latihan yang dapat pembelajar kerjakan setelah mempelajari suatu bagian dalam modul. Aturan umum untuk tes-akhir ialah bahwa tes tersebut dapat dikerjakan oleh pembelajar dalam waktu sekitar 20%

dari waktu mempelajari modul. Jadi, jika suatu modul dapat diselesaikan dalam tiga jam, maka tes akhir harus dapat dikerjakan oleh pembelajar dalam waktu sekitar setengah jam.

c. Indeks

Indeks memuat istilah-istilah penting dalam modul dan halaman dimana istilah tersebut ditemukan. Indeks perlu diberikan dalam modul supaya pembelajar mudah menemukan topik yang ingin dipelajari. Indeks perlu mengandung kata kunci yang kemungkinan pembelajar akan mencarinya.

Berdasarkan pemaparan di atas,dapat disimpulkan bahwa sistematika modul dapat dipandang sebagai kerangka acuan dalam menyusun sebuah modul.

Sistematika modul digital yang disusun oleh peneliti merujuk pada sistematika modul yang telah dijelaskan di atas. Pada bagian pendahuluan modul digital yang dikembangkan peneliti terdapat kata pengantar, deskripsi modul, rasional produk, petunjuk pengggunaan modul, pendahuluan, dan daftar isi. Bagian inti terdapat

kegiatan belajar, uraian materi, latihan, rangkuman, dan tes formatif. Bagian penutup terdapat tindak lanjut, daftar pustaka, dan glosarium.

2.2.4 Cerita Rakyat

Cerita rakyat kaya akan nilai kebudayaan suatu daerah. Hal itu dikarenakan cerita rakyat mengisahkan kejadian yang pernah terjadi di suatu tempat yang berkaitan dengan kebudayaan atau adat istiadat yang dipercayai oleh masyarakat secara turun-temurun. Adanya unsur budaya yang kental, maka cerita rakyat juga khas dengan nilai-nilai luhur atau nilai kearifan lokal yang dipercayai oleh masyarakat dari nenek moyang mereka. Nilai kearifan lokal itu menjadi pegangan dan kepercayaan hidup masyarakat pemilik cerita dalam menjalani kehidupan mereka.

2.2.4.1 Defenisi Cerita Rakyat

Cerita rakyat merupakan cerita yang kaya akan nilai-nilai moral dan kerarifan lokal, bisa dijadikan sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai-nilai pendidikan tentang kehidupan kepada masyarakat (Gusnetti, 2015:184).

Berdasarkan pendapat Gusnetti, cerita rakyat dapat dikatakan sebagai salah satu karya sastra berupa cerita yang mengandung nilai-nilai moral atau kearifan lokal yang bisa dijadikan sarana untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat. Nilai-nilai kehidupan itu tentu saja nilai-nilai yang baik dan dapat memberikan motivasi kehidupan yang positif kepada masyarakat.

Cerita rakyat adalah cerita yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, dari mulut ke mulut dan pada dasarnya disampaikan oleh seseorang pada orang lain melalui penuturan lisan maupun tulisan (Gusal, 2015). Lebih lanjut,

Kusmana (2014:32) mengatakan bahwa cerita rakyat merupakan cerita yang hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat dan biasanya mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa di suatu tempat pada masa lampau. Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, dapat dikatakan bahwa cerita rakyat memiliki dua cara dalam perkembangannya, yakni secara lisan dan tulisan. Selain itu, cerita rakyat merupakan bagian dari suatu masyarakat dan berisi nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat itu sendiri yang sudah ada sejak dahulu kala serta menjadi pegangan hidup masyarakat.

Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan salah satu karya sastra yang disebarkan secara turun-temurun dari mulut ke mulut dan kental dengan nilai-nilai kearifan lokal yang dipercayai serta diyakini oleh masyarakat pemilik cerita itu. Nilai-nilai itu menjadi pedoman hidup bagi semua masyarakat pemilik cerita. Mereka juga mewariskan cerita itu secara turun-temurun agar setiap generasi meyakini dan menjadikan nilai-nilai dalam cerita sebagai pedoman hidup mereka.

2.2.4.2 Tujuan Bercerita

Cerita rakyat yang kaya akan nilai kearifan lokal tentu saja memiliki tujuan. Gusal (2015) mengemukakan ada tiga tujuan bercerita dalam cerita rakyat, yaitu:

a) Disampaikan dengan maksud mendidik. Artinya, isi cerita dalam cerita rakyat memilki nilai pendidikan yang dapat mendidik suatu masyarakat. Cerita rakyat kaya akan nilai-nilai budaya yang turun-temurun dari jaman dulu dan nilai-nilai itu tentu saja dimaknai secara mendalam oleh masyarakat serta

dijadikan pedoman hidup mereka. Contoh: Masyarakat jawa yang mengenal secara turun-temurun filosofi Dasa Pitutur yang diajarkan oleh Sunan kalijogo b) Mengungkapkan sejarah. Artinya, cerita rakyat dapat dijadikan sumber

infomasi bagi generasi ke generasi untuk mengetahui kejadian apa yang pernah terjadi di daerah mereka. Hal itu dikarenakan isi cerita rakyat menceritakan peristiwa atau kejadian-kejadian yang betul-betul terjadi dalam masyarakat pemilik cerita itu sendiri. Contoh: cerita Watu Maladong dari Pulau Sumba yang menceritakan asal-usul sumber mata air di wilayah Sumba Barat Daya.

c) Mengetahui asal-usul suatu tempat. Artinya, isi cerita rakyat dapat menjadi sumber informasi tentang asal-usul suatu tempat. Melalui cerita yang diturunkan secara turun-temurun dapat membantu generasi ke generasi untuk mengetahui seluk-beluk daerahnya dan tidak melupakan peristiwa-peristiwa yang pernah ada. Contoh: Cerita rakyat Roro jongrang

Berdasarkan pendapat ahli tentang tujuan cerita rakyat di atas, dapat disimpulkan bawa setiap cerita rakyat dari daerah manapun memiliki tujuan-tujuan seperti yang dipaparkan di atas. Cerita rakyat bukan hanya sekedar cerita biasa, tetapi di dalamnya tersirat banyak pesan dan informasi yang perlu diketahui oleh generasi-generasi selanjutnya. Cerita rakyat mengandung didikan yang membantu menumbuhkan nilai-nilai kehidupan yang positif dalam diri masyarakat. Cerita rakyat juga membantu setiap generasi untuk bisa mengetahui asal-usul lelehur dan tempat kelahirannya. Dengan demikian, masyarakat bisa menghargai setiap hal yang pernah terjadi dan menjadi sejarah di daerah mereka sendiri.

2.2.4.3 Fungsi Cerita Rakyat

Selain memiliki tujuan bercerita, cerita rakyat juga memiliki fungsi.

Menurut Amin, dkk. (2013), ada beberapa fungsi cerita rakyat sebagai berikut.

1. Sebagai media untuk menghibur.

Cerita rakyat memuat banyak kisah yang dibumbui dengan unsur imajinatif sehingga terlihat menarik untuk didengar atau dibaca oleh orang. Ada banyak cerita rakyat yang juga dominan menampilkan unsur jenaka para tokoh dalam cerita sehingga pembaca atau pendengar cerita tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan nilai moral cerita, tetapi juga menjadi media hiburan mereka.

2. Mengajarkan nilai-nilai baik pada masyarakat.

Cerita rakyat memuat nilai-nilai kehidupan yang menjadi pedoman masyarakat pemilik cerita dari turun-temurun. Nilai-nilai itu merupakan nilai yang masih original dan mengajarkan hal-hal baik atau nasehat yang harus dipahami dan dipegang oleh masyarakat.

3. Menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan gaib.

Cerita rakyat merupakan salah satu jenis cerita lisan yang penceritaannya berpusat pada kehidupan masyarakat dan berkaitan dengan kepercayaan serta adat istiadat mereka. Maka dari itu, banyak cerita rakyat yang mengisahkan tentang kesaktian penguasa di suatu tempat yang yang disegani banyak orang dan harus diketahui oleh masyarakat dari turun-temurun.

Berdasarkan pemaparan fungsi cerita rakyat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebuah cerita rakyat memiliki banyak fungsi dalam

penyampaiannya. Cerita rakyat tidak hanya terbatas pada fungsi menghibur, tetapi juga ada nilai-nilai hidup yang tersirat di dalamnya. Nilai-nilai itulah yang menjadi pegangan hidup masyarakat pemilik cerita dalam setiap aspek hidup mereka.

2.2.4.4 Ciri-ciri Cerita Rakyat

Cerita rakyat sebagai salah satu karya sastra memilki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan karya sastra lainnya. Menurut Anas (2015), ciri-ciri cerita rakyat sebagai berikut.

1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara instan. Artinya, cerita rakyat merupakan salah satu jenis sastra lisan yang penyebaran dan pewarisannya dilakukan dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Oleh karena itu, cerita rakyat tidak diketahui siapa pengarangnya.

2. Cerita rakyat bersifat tradisional. Artinya, pusat penceritaan dalam cerita rakyat berkaitan dengan kehidupan, kebudayaan, dan adat istiadat suatu tempat yang sudah ada sejak dahulu kala.

3. Biasanya cerita mengalami beberapa versi dalam penyebarannya. Artinya, cerita rakyat merupakan bentuk cerita yang penyebarannya secara lisan dari muldari ut ke mulut sehingga ceritanya mengalami beberapa perubahan.

Berdasarkan pemaparan di atas tentang ciri-ciri cerita rakyat, maka dapat disimpulkan bahwa ciri utaman cerita rakyat adalah penyampaiannya bersifat lisan.

Cerita rakyat yang berkembang di setiap wilayah Indonesia rata-rata sistem penyampaiannya secara lisan. Akan tetapi, sudah ada cerita rakyat di beberapa wilayah yang mulai didokumentasikan. Hal itu tentu saja menjadi suatu hal yang

baik karena cerita rakyat dapat dibaca oleh banyak orang dan mendapatkan banyak nilai-nilai kehidupan dari dalam cerita itu.

2.2.4.5 Cerita Rakyat Sumba

Cerita rakyat Sumba merupakan cerita yang hidup dan berkembang secara turun-temurun di pulau Sumba, Nusa tenggara Timur. Sumba lebih dikenal dengan pulau “Merapu”, yaitu pulau yang kebanyakan masyarakatnya memiliki kepercayaan kepada seorang dewa bernama “Marapu‟ yang diibaratkan sebagai Tuhan. Dari kepercayaan itu, masyarakat Sumba meyakini bahwa orang-orang yang telah meninggal, termasuk nenek moyang, akan menjadi dewa yang menjaga pulau Sumba. Hal itulah yang membuat masyarakat Sumba mengikuti kepercayaan itu dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Cerita rakyat Sumba merupakan cerita-cerita yang berasal dari pulau Sumba bagian timur Indonesia. Indonesia yang merupakan negara bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika” memiliki banyak ragam budaya dan adat istiadat yang mewariskan nilai-nilai kearifan lokal yang mendidik, termasuk cerita-cerita dari Pulau Sumba.

Peneliti mengambil cerita rakyat Sumba yang sudah didokumentasikan dalam buku yang berjudul “Kumpulan 366 Cerita Nusantara” oleh Mahyudin Al Mudra, SH.

MM. MA., dan buku yang berjudul “Cerita Rakyat Sumba” oleh Frans W. Heri.

Pada modul yang dikembangkan oleh peneliti, mahasiswa diminta menggunakan nilai-nilai dalam cerita rakyat Sumba untuk dijadikan sebagai sumber ide atau sumber inspirasi dalam menulis cerpen dan puisi. Peneliti hanya menggunakan tiga cerita rakyat Sumba dalam modul, mengingat cerita rakyat

Sumba lebih banyak disampaikan secara lisan dan masih belum banyak didokumentasikan secara luas dalam bentuk tulisan. Terdapat tiga cerita rakyat Sumba yang digunakan oleh peneliti dalam modul, yaitu cerita “Watu Maladong”,

“Lona Kaka dan Lona Rara”, dan “We‟e Wini dan Legenda sebuah Kampung yang Hilang”.

Ketiga judul cerita rakyat Sumba yang dipilih peneliti termasuk dalam jenis legenda dan dongeng. Cerita “Watu Maladong” termasuk jenis legenda yang menceritakan asal-usul munculnya sumber mata air yang berada di beberapa wilayah Sumba. Cerita “Lona Kaka dan Lona Rara” termasuk jenis dongeng yang ceritanya murni dari khayalan dan tidak pernah terjadi. Cerita „We‟e Wini dan Legenda sebuah Kampung yang Hilang” termasuk jenis legenda yang menceritakan asal-usul terjadinya salah satu danau bernama „We‟e Wini” di wilayah Sumba.

Nilai-nilai dalam ketiga cerita di atas menggambarkan tentang adat istiadat dan kebudayaan masyarakat Sumba yang selalu mereka pegang sebagai pedoman hidup dari masa ke masa. Nilai kearifan lokal Sumba dianggap sakral dan suci oleh masyarakat Sumba sehingga apabila dijadikan pedoman hidup maka mereka akan selalu diberkati oleh nenek moyang dan dewa yang menjaga pulau Sumba. Maka

Nilai-nilai dalam ketiga cerita di atas menggambarkan tentang adat istiadat dan kebudayaan masyarakat Sumba yang selalu mereka pegang sebagai pedoman hidup dari masa ke masa. Nilai kearifan lokal Sumba dianggap sakral dan suci oleh masyarakat Sumba sehingga apabila dijadikan pedoman hidup maka mereka akan selalu diberkati oleh nenek moyang dan dewa yang menjaga pulau Sumba. Maka