• Tidak ada hasil yang ditemukan

WAKTU : 11.00 WIB – SELESAI

LOKASI : KANTIN TVRI SUMUT

VERIFIKASI :

Ibu kan sekarang masih meliput juga kan, nah kalau misalnya ibu selama ini berdasarkan pengalaman, kalau misalnya inisiatif atau memilih isu atau peristiwa yang mau diliput unsur apanya yang paling ibu anggap 'ini bagus jadi jadi berita'?

Nilai beritanya. Dampaknya kepada masyarakat, dampak buruk yang dirasakan masyarakat. Kalau uniknya ga usah udah ada jatahnya itu si Lukman.

Tapi pertimbangan soal fungsi kita sebagai LPP masuk jadi pertimbangan publik masuk jadi pertimbangan banget ga Bu atau jurnalistik secara umum aja yang ibu jalankan?

Jadi kan kalau sebenernya kalau penyiaran publik itu kan kita ga semata berita doang kan, kalau aku lihat sih sebenernya secara nasional yang untuk ke publiknya itu aku lihat sih cenderungnya ke program sebenernya bukan ke berita, kalau kita secara nasional. Karena kalau kita lihat kebijakannya program sekarang yang mengarahnya ke bagaimana menciptakan konten yang untuk kepentingan publik. Kalau berita sekarang masih dalam konteks yang tv lain ada kita harus ada, tv lain ada kita harus ada, bukan karena kepentingan kita mau melayani masyarakat yang butuh informasi ini ini ini, enggak. Mereka hanya mengukur tv ini ada loh, kita harus ada. Soalnya kalau kita melihat kebutuhan dari publik, kita ga harus dong ngacu ke 2 berita ini, bisa kita ciptakan topic the day itu, kita mau angkat apa hari ini, secara nasional nih ya. Inikan enggak, kita mengacu ke dua, pokoknya kalau tv ini sama tv ini ada kita harus ada. Gitu, baru sebatas itu.

Berarti pertimbangan masalah kita LPP harus begini beritanya, belum masuk ya?

Belum, belum. Belum sampai situ.

Idealnya apa sih yang membedakan siaran kita siaran berita nih, kan sama- sama melakukan tugas jurnalistik ya, isunya sama tapi harusnya kan hasilnya berbeda gitu antara berita di tv swasta dengan LPP, bedanya harusnya apa Bu?

Kalau TVRI kan kalau kita berita doing wrong kalau tv-tv yang lain ya, kalau kita justru itu sedapat mungkin diliput memang tapi yang doing wrong itu untuk atas nama si A, si B, si C itu biasanya kita gak terlalu vulgar, kita ga ... apa sih

namanya ya istilahnya kita ga ... misalnya contohnya berita Wayan Mirna Salihin misalnya ya kan, kalau tv-tv swasta lainnya bisa ambil dari orang-orang lain gitu yang menduga ini seperti ini gitu, skenarionya seperti ini. Kita enggak. Yang mana yang kita nampak itu aja yang kita liput, gitu loh.

Fakta intinya aja?

He'eh. Jadi tidak tendensius. Ya gitu aja. Itu udah berjalan sekarang?

Kalau aku lihat iya. Kalau aku lihat, jadi kita belum sanggup tuh TVRI itu misalnya ya menurut orang itu mereka udah bikin agenda setting padahal enggak, mereka ada acuannya di situ 2 tv, ada tv A dan tv B. Kalau ada di tv A tv B kita mesti ada. Mestinya kan ga kayak gitu.

Kita mestinya punya agenda sendiri.

Iya dong. Kita mau angkat ini nih, Ini kan enggak. Mereka baru sebatas itu, tapi mereka bilang mereka bikin agenda setting padahal enggk, hanya jadi kompetitor. Jangan sampe ..

Ga punya, gitu.

Ini kan TVRI punya berita-berita undangan atau mungkin yang masuk dalam segmen Klasserlah, ibu kan juga pasti meliput itu juga kan. Nah kalau secara teknis ketika dapat undangan itu ibu komunikasikan dulu atau liput dulu?

Ada yang liput dulu baru dikomunikasikan, ada yang dikomunikasikan dulu baru diliput.

Itu dalam peliputannya, gimana cara ibu meliputnya, misalnya angle

beritanya seperti apa? Apakah memang mencari isu nya dulu baru peristiwa atau memang murni hanya fakta mereka yang acara itu aja?

Isu dong, isulah diangkat dulu biar beritaya ada nilainya hahaha.. Baru „hal itu disampaikan‟..

Iya, jadi gini, kalau di Medan itu tipikal masyarakatnya acaranya harus disebut, mereka ga mau kalau ga disebut di naskah, walaupun ada gambarnya tetap aja harus di sebut.

Walau di backdrop ada.

Ada kan, orang pengennya diucapin gitu. Hal itu dikatakan di acara ini acara ini. Karena kalau di spanduk itu belum tentu bisa terbaca gitu kan, jadi tipikalnya kalau di sini harus disebut nama acaranya, disebut nama orangnya. Itu mereka suatu kebanggan tersendiri gitu, kemudian karena dia bayar, dia mau kepentingannya diakomodir, kepentingan dia. Apa kepentingan dia maunya, itu loh harusnya terakomodir. Kan mereka bayar maksudnya.

Sampai sejauh mana kita mengakomodir?

nya khusus kita angkatnya vulgar gitu, memang betul-betul vulgar. Tapi kalau misalnya BP nya biasa 500 ya tergantung dari reporternya lah, tergantung kita. Biasanya kita udah nyambung aja gitu sama si narasumber tuh kan dia maunya apa gitu, kita udah terbiasa dengan dia kerjanya.

Rata-rata memang kalau berita BP cara penulisan naskahnya udah pasti positif untuk kepentingan si pembayar?

Iyalah karena kan bayar, kecuali di dalamnya ada presiden, atau ada menteri, itu bisa jadi acaranya juga ga gitu kita angkat banget gitu. Kita cuma angkat menteri dan presidennya.

Itu pengaruh pembayaran itu ke naskah apa lagi bu? Misalnya jumlah

statement atau panjang durasi pengaruh ga?

Kalau panjang durasi itu tergantung itu kemampuan dari reporter. Tapi ga ada aturan sampai situ.

Ga ada.

Kalau yang khusus itu berapa bu?

Sejuta, satu juga setengah, ada yang lima juta, ada yang 10 juga. Menitnya dipanjangin.

Satu berita?

Iya, ada yang dia bayar misalnya 1 juta, jadi menitnya dipanjangain jadi kira-kira 4 menit. Ada yang dia bayar 5 juta misalnya jadi 4 menit, kalau dia 10 jadi 10 menit. Gitu 10 juta. Tapi itu kan ke kantor, lapornya ke kantor.

Bu, pernah ga sejauh ini ada intervensi dari Kasie misalnya atau DE atau Kabid atau Kepsta terkait konten berita yang ibu liput? Misalnya banyakin si inilah, nanti kamu angkat ininya aja atau banyakin gambar ini ini gitu ada ga pernah?

Kalau aku, aku enggak. Kalau aku enggak, ga pernah diintervensi, ga ada. Cuma „ini nih bayarnya 10 juta, bikin 10 menit‟. Gitu.

Itu otomatis udah ngerti reporter mesti nulis apa ya?

Iya iya. Tapi oknum, nah gitu. Oknum yang bayar itu yang kita angkat banyakan gitu. Misinya dia maunya apa, biasanya dia lebih banyak porsinya di situ yang diberita yang mahal itu gitu.

Baik gambarnya maupun panjang statement-nya dia?

Panjang statement-nya aja, kalau gambar kan dia mau kegiatannya semuanya diliput, semuanya masuk.

Jadi sebenernya cara ibu mengolah naskahnya supaya ga kesannya seremoni banget gimana biasanya ibu?

Ooh kalau yang aku yang ..., aku cuma ada yang berhubungan dengan aku, kita konsultasi sebenarnya, kita akan konsultasi sama dia, nanti aku mau bikin beritanya kayak gini gini. Gitu. Dia oke kalau gitu, „tapi nanti yang ini diangkat

ya, yang ini kayak gini kayak ini‟. „Iya tapi nanti aku angkat ini dulu ya, ini sebagai ini gitu‟. Kita konsultasi sama dia, kemudian dia udah oke dengan konsep kita baru kita bikin.

Pernah ga bu mengalami ga cocok sih sebenernya dengan tujuannya dia atau dengan ... maksudnya idealisme kita gitu sebenernya males juga ngangkat masalah kayak gini tapi karena dia bayar udah pejam mata ajalah. Pernah ga?

Enggak, aku kalau ga setuju aku bilang ga setuju, „enggak pak ga bisa kayak gitu pak, TVRI ga bisa kayak gitu‟. Misalnya ini perkawinan adat misalnya. Dia bayar mahal nih 5 juta, dia minta angkat 3 menit misalnya, tapi terus ada anaknya ulang tahun dimasukkin juga, minta masukkin juga acara ulang tahun anaknya ke dalam situ, aku gak mau.

Jadi didiskusikan dulu di awal.

Iya aku ga mau masukin, apaan masa kita cerita tentang ... tiba-tiba ada acara ulang tahunan, ga mungkin kan.

Tapi sebenernya kultur .. bukan kultur sih, ini kan udah ada hal yang udah kayak membudaya, dari gaya kerja, yang akhirnya bikin itu ga bisa dirunah lagi. Bener ga bu? Maksudnya akhirnya jadi menolak perubahan gitu karena „ya udahlah, udah kayak gini bertahun-tahun ngapain lagi sih di rubah-rubah‟. Ada ga?

Ga juga lah. Kalau dia untuk bagusnya kita terima, tapi kalau bikin ga bagus, dirubah tapi makin ga bangus ya enggaklah, tapi kalau dia berubahnya kemudian kita rasa lebih bagus lebih baik, ya pasti welcome dong. Temen-temen bilang „kayak gini dong, kayak gini bagusnya‟. Tapi kalau makin jelek „kayak mana itu sekarang berita daerah itu, kayak gitu kali isinya‟. Gitu.

Kalau diskusi tim liputan di bawah ada ga Bu misalnya mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang berlaku di redaksi? Sering ga misalnya di bawah ada pembicaraan soal itu?

Ada. Ga sering tapi ada.

Apa misalnya? Contoh kebijakan apa yang tidak bisa diterima misalnya di redaksi?

Kalau kemarin itu soal daftar itu tadi, yang tadi Feby tanya. Liputan?

He'eh, yang katanya harus reporter yang sebagai produser di lapangan, dia yang harus mendaftar. Padahal sebenarnya kameramen itu kan bukan mahluk kelas 2 dia di situ kan, sama aja setara kan, walaupun kita di lapangan kameramen kita perlu dia lapor kenapa emangnya. Selama ini yang syuting sendiri kok bisa lapor kameramen ga pake reporter, kan gitu. Terus kemudian penempatan berita kali ya. Misalnya nih presiden karena kunjungan presiden hari ini, aturannya item nya di atas dong, ya kan. Tapi ini gak. Susunan sabu-sabu kemudian presiden masuk di Klasser, jadi kayak gitulah. Diskusi-diskusi kayak gitulah.

Menurut ibu latar belakang agama, pendidikan, pengalaman seorang reporter dan kameramen pengaruh ga ke hasil liputannya? Misalnya si ini pasti tuh berita-beritanya kayak gitu gayanya, si ini pasti gereja aja yang diambil. Pengaruh ga dalam pemilihan isu?

Kalau aku bilang pendidikan iya, kalau agama enggaklah. Karena aku pun sebagai orang Muslim ketika aku ditugaskan untuk ngeliput berita Kristen aku ambil juga, kan aku bisa konsutasi sama yang Kristen „ini bener ga?‟, „kalau gini ini gimana nih?‟ Nanti dia terangin, atau aku telfon pendeta, „ini seperti ini nih, gimana nih

gini gini‟. Gitu, jadi kalau agama enggak sebenernya. Tapi kalau latar belakang

pendidikan wawasan iya loh. Latar belakang pendidikan itu paling penting itu, kalau dia tamatan SMA kemudian jadi reporter udah malang melintang 5 tahun baru dia kuliah, bikin beritanya ya kayak anak SMA. Tapi kalau dia dari SMA dia kuliah langsung, bikin beritanya ya caranya cara orang kuliah gitu.

Langsung kelihatan di naskah?

Iya langsung kelihatan. Kalau tamatan SMA, banyak tuh di sana, yang S2 pun dia, jadi gini, gitu tamat SMA jadi reporter, terus dia kuliah S2, naskahnya ya naskah yang jaman dulu tahun 70an dulu masuk, naskahnya yang sekarang yang dibikin ya sama tuh polanya. Gitu. Pola pikirnya dia ga berkembang mengikuti pendidikannya. Dia pola pikirnya masih pola pikir yang ketika itu. Dia mestinya dia fresh graduate ya jadi kalo kuliah apa SMA dia langsung kuliah, baru dia pola pikirnya terbentuk, dia bikin naskanya pasti beda.

Berarti kalau soal kepercayaan enggak ya? Nilai-nilai kepercayaan atau budaya ga ngaruh? Atau memang ibu liat ada juga memang reporter- reporter lain yang masih lah, masih kelihatan gitu ada muatan-muatannya dalam naskahnya gitu?

Orang lain mungkinlah kalau yang lain. Kalau aku sih enggak. Orang lain contohnya?

Ga misalnya ada juga sih reporter yang masih milih-mlih isu, dia maunya yang sukanya isunya yang gini-gini aja, gitu.

Bodoh itu namanya hahaha. Enggaklah kalau agama enggak, kalau budaya mungkin ya. Misalnya.. atau ke minatnya kali. Semakin minat dia baca, semakin minat dia ini walaupun dia SMA tapi dia minat bacanya minat ininya besar, udah pasti tuh cara bicaranya beda, dia bikin naskahnya pasti beda. Tapi tetap beda dengan yang ketika SMA dia sarjana. Gitu, tetep beda.

Ibu punya narasumber-narasumber langganan ga bu?

Ga ada. Justru aku kalau dia-dia aja bosen, udah tahu aku jawabannya apa. Dengan yang baru justru kau dapat belajar yang baru kan.

Iya maksudnya sebenernya kita punya pakem-pakem ga, maksudnya . Aturannya ada.

Selama ini komunikasi harus lapor sini lapor sini lapor sini..

Aturannya ada, tetapi kan ada kadang-kadang insidentil, ada hal-hal yang mempengaruhi itu sehingga peraturannya bisa kemudian kita ga saklek

menjalankannya bisa dong asal tidak menggangu sistem, tidak merusak berjalannya hari itu. Penugasan dan rule nya hari itu gitu. Ga masalah sebenernya. Tinggal lagi komunikasi kayak mana gitu kan.

Selama ini kan kalau liputan BP misalnya kan ada memang masuk ke kantor secara resmi, tapi kan ada uang kru juga. Nah itu ada aturannya ga sih bu? Enggak, kalau untuk kru enggak ada. Bisa aja kita nego, jadi idealnya kan dulu 250 ribu, dulu ya, 250 ribu ke kantor 250 ribu untuk kru ketika ditetapkan sebagai jadi 500, kru nya kan maunya seimbang dong. Bisa masuk ke dalam sekian, sama kita sekian juga, jadi imbang. Tetapi kan orang keberatan kalau 1 juta itu terlalu mahal, mereka bilang tujuh setengah dong, jadi kita bisa nego 1 juta setengah, bisa 1 juta, bisa 750.

Jadi itu lebih ke kru yang nerima undangan aja?

Dan tergantung sebenernya lembaganya gitu, kadang-kadang si lembaga punya budget segini ya udah kita terima aja, misalnya kan „bapak punya budget berapa? Saya punya budgetnya 1,5. Oke pak boleh pak‟. Tapi kalau yang masuk ke kantor sekian resminya. Gitu.

Itu mempengaruhi liputannya ga sih Bu?

Iya dong, jelas dong. Jelaslah kalau itu, itulah yang kemudian kita berani untuk ngangkatnya vulgar gitu, agak-agak vulgar gitu.

Sebenernya dari semua praktek-praktek itu kalau melihat dari sisi jurnalistik secara profesional gitu ya dengan misalnya ada berita BP ibu melihatnya gimana?

Itu istimewanya kalau reporter TVRI. Dia bisa membagi dirinya menjadi 2 bagian. Ketika dia meliput yang betul-betul peristiwa dan apanya, dia jadi orang yang betul-betul ga peduli dengan uang sama sekali, mau SPJ dikasih juga gak apa-apa, mau dikasih uang pergi juga gak apa-apa, yang penting dia dapat berita bagus. Ketika meliput itu dia ga mikir apa-apa lagi. Ketika dia di posisi undangan lain lagi dia jadi karakternya gitu, itulah istimewanya. Istimewa kan. Hahahaha. Kalau misalnya berita-berita yang berhubungan dengan instansi tertentu misalnya Kodam terus berita-berita ... apa yang kita sudah punya hubungan baik misalnya sudah punya hubungan baik sama Kadis ini, Kadis ini, pernah ada intervensi juga ga bu terhadap isi beritanya?

Dari?

Dari narasumber.

Kan kita kalau misalnya ke Dinas „Pak saya mau angkat ini pak‟ ya udah datang udah janjian ya kita bikin berita yang kita mau bikin, kita ga terpengaruh dengan intervensi dia walaupun dia kasih uang. Karena dari awal mau kita angkat ini. Kalau misalnya pola pikir bahwa TVRI masih ... mindset ya bahwa TVRI harus ya pro pemerintah itu masih berlaku ga sekarang?

Kayak gimana?

Ya masihlah karena kan semua kebijakan kita masih dikuasai pemerintahlah. Pemerintah daerah dan sebagainya, misalnya kita punya kerjasama sama walikota, kemudian kita kritisi selama 5 hari kita kritisi drainase aja, dia bakal telepon. "Itu apa-apan itu TVRI terus-terusan bahas drainase itu" Kita perlembutlah nanti, kita wawancarailah dia untuk menjawab ini, kemudian kita ambilah yang udah dibangun-bangun untuk meredam 5 hari tadi kita hajar drainase terus.

Secara prinsipnya kita masih bisa membuat berita yang mengkritisi pemerintah lokal atau pemerintah?

Dalam batas-batas tertentu masih. Yang ringan-ringan. Kalau yang, misalnya ada unjuk rasa, unjuk rasa walikota, kita ga ambil. Unjuk rasa gubernur, tv lain ambil kan, kita ga ambil karena kita ada kerjasama sama dia, gitu.

Itu bener-bener ga kita ambil atau tetap kita ambil cuma bahasanya aja kita mainkan di naskah?

Kita ambil tapi ga tayang.

Berarti sejauh ini tetap ada misalnya komplain keberatan dari pihak-pihak itu kalau misalnya berita kita ga sesuai?

Iya ya.

Pihak mana aja?

Yang MOU dengan kita lah, yang kerjasama sama kita. Kalau yang enggak kerjasama ya enggak.

Misalnya Kodam ga pernah ya? Kalau Kodam ga berani memang.

Maksudnya kita yang ga berani? Kenapa?

Ya pimpinannya pada ga berani, gitu. Kalau Kodam, spesial untuk Kodam itu yang bagus-bagus aja, ga pernah ga bagus. Unjuk rasa Kodam aja kita bisa ga tayang. Unjuk rasa perumahan Kodam misalnya tapi di situ aja TNI dan sebagainya, tv lain pun aku rasa sekarang pun udah ga gitu juga lagi, ga bisa juga ngeluarin kayak gitu.

Instansi lain selain Kodam yang bisa kayak gitu? Ga ada, Kodam aja. Kalau polisi masih, masih bisa. Udah sih.

Foto bersama Kepala Stasiun TVRI Sumatera Utara Bpk. Zainuddin Latuconsina (Informan I)

Foto bersama Kepala Bidang Pemberitaan TVRI Sumatera Utara Bpk. Andi Amri Adnan (Informan II)

Foto bersama Kepala Seksi Produksi Berita TVRI Sumatera Utara Ibu Ranggini (Informan III)

Foto bersama Kepala Bidang Sarana Komunikasi Desiminasi dan Informasi Dinas Kominfo Sumatera Utara, Ibu Afini (Informan Ekstramedia)

Foto bersama Sri Rukmini (Informan Triangulasi)