ANALISA DAN PEMBAHASAN
IV. 3.2). Persepsi Wartawan Terhadap Kegiatan Media Relations
IV.3.2. g). Persepsi Wartawan terhadap Piranti Media
Tabel 48
Intensitas penerimaan piranti media dari public relations Pertamina No
Intensitas penerimaan piranti media dari public relations
Pertamina F % 1 Sangat sering 1 4% 2 Sering 14 50% 3 Tidak pernah 12 43% 4 Tidak menjawab 1 4% TOTAL 28 100% P 54 / FC 64
Berdasarkan Tabel 48 diketahui responden yang menyatakan bahwa responden tersebut atau media asalnya sangat sering menerima piranti media dari public relations Pertamina terdapat 1 orang (4%). Responden yang menyatakan sering terdapat 14 orang (50%), mayoritas responden yang menyatakan sering adalah responden dari media cetak dan hanya 3 responden yang berasal dari media televisi. Responden yang menyatakan tidak pernah terdapat 12 orang (43%) dengan mayoritas berasal dari media televisi. Sedangkan responden yang tidak menjawab terdapat 1 orang (4%). Hampir semua piranti media yang disediakan oleh public relations Pertamina dapat diperoleh ketika datang ke kantor Pertamina atau pada kegiatan yang diadakan di Pertamina. Mayoritas wartawan yang datang pada kegiatan yang diadakan oleh
wartawan media cetak lah yang paling sering menerima piranti media yang disediakan oleh public relations Pertamina.
Tabel 49
Tingkat ke-up to date-an piranti media No Tingkat ke-up to date-an piranti
media F % 1 Sangat up to date 0 0% 2 Up to date 14 50% 3 Tidak up to date 3 11% 4 Tidak menjawab 11 39% TOTAL 28 100% P 55 / FC 64
Berdasarkan Tabel 49 diketahui bahwa tidak ada responden yang menyatakan bahwa piranti media yang diberikan oleh public relations Pertamina sangat up to
date. Responden yang menyatakan up to date terdapat 14 orang (50%). Responden
yang menyatakan tidak up to date terdapat 3 orang (11%). Sementara responden yang tidak menjawab terdapat 11 orang (39%) dengan alasan karena responden tersebut tidak pernah menerima piranti media yang diberikan oleh public relations Pertamina. Piranti media yang disediakan oleh public relations Pertamina adalah majalah Pertamina nasional dan majalah Pertamina lokal (kantor pemasaran setempat) yang diterbitkan satu bulan sekali. Piranti media lain yang juga disediakan adalah brosur tentang informasi mengenao produk Pertamina. Selain itu terdapat piranti media lain yang tidak disediakan namun dapat diberikan apabila dibutuhkan oleh wartawan misalnya foto dan data grafis lainnya.
Tabel 50
Teknik desain grafis public relations Pertamina dalam mengemas piranti media
No
Teknik desain grafis public relations Pertamina dalam mengemas piranti media
F % 1 Sangat baik 2 7% 2 Baik 14 50% 3 Tidak baik 1 4% 4 Tidak menjawab 11 39% TOTAL 28 100% P 56 / FC 64
Berdasarkan Tabel 50 diketahui bahwa responden yang menyatakan bahwa public relations Pertamina telah menggunakan teknik desain grafis dengan sangat baik dalam mengemas piranti media terdapat 2 orang (7%). Responden yang menyatakan sudah baik terdapat 14 orang (50%). Responden yang menyatakan tidak baik terdapat 1 orang (4%). Sementara responden yang tidak menjawab terdapat 11 orang (39%) dengan alasan bahwa responden tersebut tidak pernah menerima piranti media yang diberikan oleh public relations Pertamina. Berdasarkan pengamatan peneliti pada majalah bulanan yang diproduksi oleh public relations Pertamina Kantor Regional 1 Sumatera Utara, teknik desain grafis yang digunakan oleh public relations Pertamina tergolong masih sangat sederhana, dimana public relations Pertamina hanya mengandalkan paduan warna untuk membuat majalah tersebut kelihatan menarik untuk dilihat sehingga teknik desain grafis lain hamper tidak digunakan.
Tabel 51
Efektifitas piranti media sebagai sumber informasi No Efektifitas piranti media sebagai
sumber informasi F % 1 Sangat efektif 2 7% 2 Efektif 14 50% 3 Tidak efektif 3 11% 4 Tidak menjawab 9 32% TOTAL 28 100%
Berdasarkan Tabel 51 diketahui bahwa responden yang menyatakan bahwa piranti media yang diberikan oleh public relations Pertamina sangat efektif sebagai sumber informasi terdapat 2 orang (7%). Responden yang menyatakan efektif terdapat 14 orang (50%). Responden yang menyatakan tidak efektif terdapat 3 orang (11%) dengan alasan pada piranti media yang disediakan misalnya custumer newsletter lebih kepada promosi sehingga tidak memiliki nilai berita. Responden yang tidak menjawab terdapat 9 orang (32%) dengan alasan tidak pernah menerima piranti media baik yang diberikan maupun yang disediakan oleh PR Pertamina.
Tabel 52
Ketertarikan terhadap piranti media dari public relations Pertamina No
Ketertarikan terhadap piranti media dari public relations
Pertamina F % 1 Sangat tertarik 0 0% 2 Tertarik 16 57% 3 Tidak tertarik 3 11% 4 Tidak menjawab 9 32% TOTAL 28 100% P 58 / FC 64
Berdasarkan Tabel 52 diketahui bahwa tidak ada (0%) responden yang menyatakan bahwa responden sangat tertarik pada piranti media yang diberikan oleh public relations Pertamina. Responden yang menyatakan tertarik terdapat 16 orang (57%). Responden yang menyatakan tidak tertarik terdapat 3 orang (11%) dengan alasan bahwa wartawan hanya tertarik pada piranti media yang memiliki nilai berita. Responden yang tidak menjawab terdapat 9 orang (32%) dengan alasan tidak pernah menerima piranti media baik yang diberikan maupun yang disediakan oleh public relations Pertamina.
IV.4. Pembahasan
Persepsi pada dasarnya merupakan suatu proses yang terjadi dalam pengamatan seseorang terhadap orang lain. Pemahaman terhadap sesuatu informasi yang disampaikan orang lain yang sedang saling berkomunikasi, berhubungan atau berkerjasama, jadi setiap orang tidak terlepas dari proses persepsi. Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita (Mulyana, 2007: 179). Joseph A. Devito, mendefenisikan persepsi sebagai proses yang menjadikan kita sadar akan banyaknya yang mempengaruhi indera kita (Mulyana, 2007:1).
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu hal yang penting yang dialami oleh setiap orang. Setiap orang akan menerima segala sesuatu berupa informasi ataupun segala rangsangan yang datang dari lingkungannya, dalam batas-batas kemampuannya, segala rangsangan yang diterimanya dioleh, dan selanjutnya diproses. Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interprretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian – penyandian balik (decoding) dalam proses komunikasi (Mulyana, 2007:170).
Sobur juga menjelaskan bahwa dalam persepsi terdapat tiga komponen utama, yaitu:
4. Seleksi, adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
5. Interprestasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengaktegorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi dan kompleks menjadi sederhana.
6. Reaksi, yaitu persepsi yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi (Sobur, 2003:446).
Media relations dan kerja publisitas yang canggih menjadi tulang punggung bagi praktik public relations. Dalam banyak hal, membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dengan media, tetap menjadi ciri khas praktik public relations (Lattimore, 2010:200). Para jurnalis memiliki pandangan mendua terhadap praktisi public relations – satu sisi mencurigai mereka telah melakukan manipulasi dan pada saat yang sama juga bergantung kepada mereka untuk mendapatkan informasi. Sementara public relations memandang para jurnalis sebagai sebuah audiensi, sebuah medium tempat praktisi dapat menjangkau public relations yang lebih luas, serta sebagai penjaga pintu yang mewakili dan merespons keingintahuan public (Lattimore, 2010:199).
Walaupun mungkin banyak hal yan dapat dibicarakan tentang seni mempersiapkan bahan untuk konsumsi media, tetapi barangkali tidak ada yang lebih penting untuk keberhasilan publisitas selain membangun hubungan antara praktisi public relations dengan jurnalis. Ketika praktisi public relations berusaha menjalin hubugan positif dengan para jurnalis, mereka lebih mungkin untuk mendapatkan liputan berita yang menarik untuk organisasi mereka. Public relations yang baik berawal dari hubungan personal yang baik. Demikian pula suasana saling ketergantungan cenderung meningkat ketika praktisi public relations berurusan dengam wartawan spesialis yang meliput organisasi mereka, ketika masalahnya semakin kompleks, serta ketika wartawan diberi cukup waktu dan tempat untuk meliput beritanya dengan seksama (Lattimore, 2010:203).
Untuk itu, mengetahui persepsi wartawan terhadap kegiatan media relations yang dilakukan oleh PR Pertamina merupakan cara terbaik untuk melihat keberhasilan
media relations yang selama ini telah dilakukan. Selanjutnya dapat membuat rencana tindakan baik perbaikan kinerja maupun peningkatan kualitas pelayanan.
Berdasarkan populasi responden yang tergambar pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa total populasi terdapat 30 orang wartawan dari 30 media yang berbeda. Namun pada penelitian di lapangan, peneliti hanya dapat menjangkau 28 responden dimana wartawan yang berasal dari harian lokal Sumut Pos dan wartawan asal radio nasional Elshinta FM sampai saat pengolahan data ini belum dapat dijangkau oleh peneliti. Dari 28 responden yang dapat dijangkau peneliti, 12 diantaranya adalah wartawan dari harian lokal dan harian nasional. Adapun responden yang berasal dari harian lokal terdapat 8 orang (29%) yaitu Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Sinar Indonesia Baru, Tribun Medan, Harian Global, Andalas dan Posmetro. Responden yang berasal dari harian nasional terdapat 4 orang (14%) yaitu Kompas, Seputar Indonesia, Media Indonesia, dan Bisnis Indonesia. Responden yang berasal dari majalah yaitu majalah nasional hanya 1 orang (4%) yaitu Tempo. Responden yang berasal dari televisi terdapat 8 (29%) orang dimana semuanya berasal dari stasiun televisi nasional. Responden yang berasal dari radio terdapat 5 orang (18%) dimana 3 diantaranya adalah radio lokal yaitu RRI, Kiss FM dan Starnews dan selebihnya adalah radio jaringan nasional yaitu Trijaya FM, dan Smart FM. Sementara responden yang berasal dari media online terdapat 2 orang (7%) yaitu Kantor Berita Indonesia Antara, dan Detik.com.
Berdasarkan populasi responden yang tergambar pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa total populasi terdapat 30 orang wartawan dari 30 media yang berbeda. Namun pada penelitian di lapangan, peneliti hanya dapat menjangkau 28 responden dimana wartawan yang berasal dari harian lokal Sumut Pos dan wartawan asal radio nasional Elshinta FM sampai saat pengolahan data ini belum dapat dijangkau oleh peneliti.
Dari 28 responden yang dapat dijangkau peneliti, 12 diantaranya adalah wartawan dari harian lokal dan harian nasional. Adapun responden yang berasal dari harian lokal terdapat 8 orang (29%) yaitu Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Sinar Indonesia Baru, Tribun Medan, Harian Global, Andalas dan Posmetro. Responden yang berasal dari harian nasional terdapat 4 orang (14%) yaitu Kompas, Seputar Indonesia, Media Indonesia, dan Bisnis Indonesia. Responden yang berasal dari majalah yaitu majalah nasional hanya 1 orang (4%) yaitu Tempo. Responden yang berasal dari televisi terdapat 8 (29%) orang dimana semuanya berasal dari stasiun televisi nasional. Responden yang berasal dari radio terdapat 5 orang (18%) dimana 3 diantaranya adalah radio lokal yaitu RRI, Kiss FM dan Starnews dan selebihnya adalah radio jaringan nasional yaitu Trijaya FM, dan Smart FM. Sementara responden yang berasal dari media online terdapat 2 orang (7%) yaitu Kantor Berita Indonesia Antara, dan Detik.com.
Dalam penelitian ini diketahui bahwa mayoritas respondennya adalah pria. Hal ini tampak dalam Tabel 2, yang mana dari jumlah total responden 28 orang terdapat 21 orang (75%) responden pria. Hal ini mengindikasikan bahwa profesi sebagai wartawan lebih diminati oleh pria dibandingkan oleh wanita bagitupun organisasi media yang lebih meminati pria untuk diperkerjakan sebagai wartawan mereka.
Pelayanan public relations Pertamina terhadap wartawan dalam hal kontak pribadi dinyatakan sudah baik oleh para responden. Gambaran pelayanan tersebut dapat terlihat pada Tabel 10, 11, 12, 13, 14, 17, 18, 19, dan 42 dimana mayoritas menyatakan pelayanan PR Pertamina dalam hal kontak pribadi sudah baik. Hal ini dikarenakan PR Pertamina sangat berupaya menjaga hubungan baik dengan wartawan dengan selalu melayani wartawan dengan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh wartawan baik pada jam kerja maupun diluar jam kerja. PR Pertamina yang
dapat dihubungi dengan cara apapun misalnya melalui telepon, SMS bahkan melalui media online membuat wartawan merasa nyaman untuk menjalin mitra kerja dengan public relations Pertamina.
Beberapa responden berharap public relations Pertamina untuk selalu siap sedia ketika ditanyai oleh wartawan kapanpun dan diamanapun baik melalui telpon maupun sms. Selain itu wartawan juga berharap untuk selalu terbuka atas setiap jawaban yang diberikan dan bersedia menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan sekalipun pada akhirnya dinyatakan off the record. Selebihnya berharap public relations Pertamina agar melayani wartawan dengan tulus dalam melaksanakan fungsinya sebagai petugas public relations sehingga setiap wartawan mendapat kemudahan dalam mendapatkan informasi.
Pelayanan public relations Pertamina dalam hal konferensi pers dinyatakan sudah baik oleh responden. Gambaran pelayanan tersebut dapat terlihat pada Tabel 20, 22, 23, 24, dan 26 dimana mayoritas responden menyatakan bahwa pelayanan public relations Pertamina dalam hal konferensi pers sudah baik. Hal ini dikarenakan public relations Pertamina kerap melakukan konferensi pers untuk memberikan keterangan terkait isu yang sedang terjadi di Pertamina. Selain itu dalam konferensi pers public relations Pertamina dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh wartawan baik mengenai data statis dan data dinamis dan untuk keakuratan data, public relations Pertamina selalu menghadirkan pejabat yang terkait untuk memberikan keterangan langsung kepada pers.
Beberapa responden berpendapat bahwa sebaiknya public relations Pertamina lebih menyiapkan setiap data yang diperkirakan dibutuhkan ketika kegiatan konferensi pers berlangsung, bahkan responden berpendapat agar public relations Pertamina dapat menyiapkan data atau informasi tersebut pada berkas yang dapat
dibawa oleh wartawan dan menyediakan orang yang berkompeten/bertanggungjawab pada bidangnya. Wartawan juga dimungkinkan untuk melakukan tanya jawab dengan lebih leluasa. Responden juga berpendapat agar sebaiknya public relations Pertamina tidak membeda-bedakan media dalam memberikan informasi. Selain itu beberapa responden berpendapat agar pada kegiatan konferensi pers yang sedang berlangsung wartawan dapat menanyakan isu diluar isu yang khusus dibicarakan pada kegiatan tersebut. Sementara responden lain berpendapat agar public relations Pertamina sebaiknya tidak membuat undangan konferensi pers yang mendadak kepada wartawan. Selain itu sebaiknya kegiatan konferensi pers dimulai tepat waktu dan dilaksanakan di ruangan yang lebih leluasa.
Pengiriman siaran berita dan publisitas dinyatakan sudah baik oleh responden. Gambaran pernyataan tersebut dapat dilihat pada Tabel 28, 29, 31 dan 32 dimana mayoritas responden menyatakan sudah baik. Hal ini dikarenakan public relations Pertamina rutin mengirimkan siaran berita ke wartawan baik melalui email maupun diberikan secara langsung sehingga setiap wartawan dapat dipastikan tidak ketinggalan informasi mengenai isu yang terjadi di Pertamina. Mengenai siaran berita yang dikirimkan oleh public relations Pertamina responden berharap agar sebaiknya setiap siaran berita yang dikirimkan lebih menonjolkan nilai berita ketimbang promosi. Ada responden yang berharap agar public relations Pertamina mendapat pelatihan mengenai teknik penulisan berita karena responden tersebut sering menemukan bahwa public relations Pertamina sering menggunakan bahasa-bahasa yang sangat baku sehingga kurang dapat dimengerti atau terkesan asing. Responden lain juga berharap untuk setiap release yang dikirimkan disertai dengan foto atau gambar nyata dan data yang lengkap yang mendukung isi berita terlebih kepada media televise yang sangat membutuhkan visualisasi gambar bergerak. Selebihnya
responden menyatakan bahwa public relations Pertamina agar lebih sering mengirimkan siaran berita ke media tersebut dan cara pengiriman yang digunakan selama ini yaitu melalui email sudah efektif hanya saja penulisan berita lebih ditingkatkan lagi.
Kegiatan prasaji media yang dilakukan oleh public relations Pertamina dinyatakan sudah baik. Gambaran pernyataan tersebut dapat terlihat dalam Tabel 34, 35, 36, dan 37. hal ini dikarenakan pada kegiatan prasaji media wartawan mendapatkan informasi yang bernilai berita baik melalui wawancara, liputan maupun dari piranti media yang disajikan. Selain itu pada kegiatan prasaji media, wartawan juga memiliki kesempatan untuk dapat bertanya langsung kepada pejabat Pertamina yang datang pada kegiatan tersebut. Untuk kegiatan prasaji media yang diselenggarakan oleh public relations Pertamina, responden berharap agar sebaiknya public relations Pertamina memberikan waktu khusus yang lebih leluasa kepada wartawan untuk dapat bertanya kepada pejabat Pertamina atau personil Pertamina yang bertanggungjawab terhadap isu yang ditanyakan. Responden juga berharap agar dalam kegiatan prasaji media, informasi yang disajikan lebih mementingkan unsure berita dibandingkan dengan promosi produk. Untuk lebih mengefesien waktu, sebaiknya public relations Pertamina menyiapkan segala piranti media yang dibutuhkan dalam kegiatan prasaji media sehingga wartawan hanya perlu mengembangkan informasi yang didapat dari piranti media yang disediakan. Pada pelaksanaan kegiatan, sebaiknya public relations Pertamina tidak berlama-lama dalam kegiatan seremonial karena wartawan hanya membutuhkan informasi.
Pelayanan public relations Pertamina terhadap kegiatan makan bersama media – manajemen dinyatakan sudah baik oleh responden. Gambaran pernyataan ini dapat terlihat dari Tabel 40, 41, 42, 43, 44 dan 45. Hal ini dikarenakan melalui kegiatan
makan bersama media – manajemen, wartawan dapat menjalin keakraban tidak hanya pada sesame wartawan tetapi juga kepada personil Pertamina yang hadir. Pada kegiatan ini, wartawan juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai Pertamina melalui sharing ketika acara makan bersama media – manajemen berlangsung. Pada kegiatan makan bersama media – manajemen yang diselenggarakan oleh public relations Pertamina, responden berharap agar tujuan utama kegiatan makan bersama media – manajemen yaitu untuk meningkatkan keakraban antara insan pers dengan manajemen lebih ditingkatkan lagi, karena sejauh ini sesuai yang dirasakan oleh wartawan atau insan pers yang lain kegiatan ini belum tercapai secara merata. Untuk mencapai tujuan tersebut, responden menyarakan untuk mengutamakan pelayanan dengan ngobrol kepada wartawan dengan lebih santai, selain itu acaranya juga tidak dikemas dengan sangat formil supaya acara tidak terkesan kaku dan tegang. Sekalipun beberapa responden lain menyatakan bahwa melalui kegiatan ini wartawan bisa mendapatkan informasi lebih, namun bagi responden lain kegiatan ini tidak berpotensi untuk mendapatkan informasi sehingga harapannya pada kegiatan makan bersama tersebut para pejabat atau personil terkait dapat terus membagikan informasi kepada wartawan. Selain itu, public relations Pertamina juga perlu memperhatikan agar pada kegiatan ini tidak terjadi plot atau eksklusifitas antara wartawan yang satu dengan yang lain. Ada juga responden yang menyarankan agar public relations Pertamina tidak hanya meningkatkan dalam segi kualitas namun juga meningkatkan kuantitas diadakannya kegiatan tersebut.
Mayoritas wartawan tidak mengetahui mengenai lembar guntingan yang dikirimkan oleh public relations Pertamina ke media mereka. Gambaran pernyataan ini dapat terlihat pada Tabel 47, 48, dan 49. Hal ini dikarenakan lembar guntingan
yang dikirimkan oleh public relations Pertamina adalah berbentuk advertorial sehingga karena mengenai iklan, public relations Pertamina berhubungan langsung dengan bagian marketing pada media tersebut hal ini dapat diindikasikan sebagai penyebab wartawan tidak mengetahui lembar guntingan yang dimaksud pada pertanyaan ini. Namun diantara responden yang menjawab menyatakan bahwa lembar guntingan yang dikirimkan oleh PR Pertamina sudah baik. Mayoritas responden tidak mengetahui mengenai lembar guntingan yang dimaksud. Mereka juga tidak tahu apakah PR Pertamina mengirimkan advertorial ke media asal mereka. Namun bagi responden yang pernah mengetahui advertorial tersebut menyarankan agar sebaiknya isi dari advertorial tersebut lebih disesuaikan dengan nilai berita namun tidak mengubah substansi dan keinginan Pertamina. Responden lain menyarakan agar
advertorial yang dikirimkan dibuat dalam lembar putih yang disertai dengan tanggal
dan hari terbit secara lengkap.
Piranti media yang disajikan oleh public relations Pertamina dinyatakan sudah baik oleh responden. Gambaran pernyataan ini dapat terlihat dalam Tabel 50, 51, 52, 53 dan 54 dimana mayoritas responden menyatakan sudah baik. Hal ini dikarenakan responden sering menerima piranti media dari public relations Pertamina. Selain piranti media yang diberikan selalu up to date sekalipun informasi yang dimuat sangat sarat akan promosi. Hampir semua responden yang memberikan jawaban mengenai piranti media berharap agar public relations Pertamina semakin memperbaharui piranti media dengan mengutamakan informasi daripada promosi atau iklan. Selain itu responden berharap agar pada teknik pengemasannya, public relations Pertamina lebih fokus pada paduan warna dan menggunakan foto-foto yang sesuai dengan informasi yang disampaikan. Sebaiknya foto-foto yang digunakan adalah foto yang diambil oleh fotographer professional.
Kegiatan-kegiatan media relations yang sudah dijalankan dengan baik
Mayoritas responden merasa bahwa semua kegiatan media relations yang dilakukan oleh public relations Pertamina sudah dijalankan dengan baik baik kontak pribadi, press release, konferensi pers, prasaji media, makan bersama media – manajemen, lembar guntingan dan piranti media.
Kegiatan-kegiatan media relations yang belum dijalankan dengan baik
Mayoritas responden menjawab tidak ada. Namun beberapa responden menjawab bahwa kegiatan media relations yang belum dijalankan dengan baik adalah:
- Untuk beberapa isu, public relations Pertamina tidak dapat memberikan data yang diminta oleh wartawan, sekalipun dapat, wartawan sering sekali harus menunggu konfirmasi dari public relations Pertamina.
- Public relations Pertamina hanya melakukan kontak pribadi kepada wartawan hanya sebatas sebagai mitra kerja saja.
- Personil Pertamina diluar public relations cenderung tidak kooperatif dengan wartawan dan menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan dengan wartawan ketika dimintai tanggapan mengenai isu tertentu.
- Jika ada masalah dengan Pertamina tidak segera direspon - Minimnya ketersediaan data visual untuk media televisi
- Terjadi pembedaan antara wartawan media cetak dengan wartawan media online, radio dan televise.
- Piranti media yang disediakan masih terlalu menonjolkan promosi dibandingkan dengan nilai beritanya.
- Terkadang pada kegiatan konferensi pers wartawan tidak diberikan waktu untuk wawancara langsung dengan manager.
Hal yang paling menyenangkan selama menjalin mitra kerja dengan Pertamina
Terdapat tiga kegiatan media relations yang paling menyenangkan menurut Responden dimulai dari yang paling banyak disebutkan oleh responden adalah sebagai berikut:
- Kontak Pribadi: Responden merasa bahwa public relations Pertamina sangat