INPUT LINGKUNGAN
5. Gabungan aspek penilaian berdasarkan CCRF
Skor gabungan untuk kelima aspek (biologi, teknologi, sosial ekonomi, lingkungan) yang dinilai pada unit-unit penangkapan ikan di Kabupaten Donggala, dapat dilihat pada Tabel 10 berikut, dan standrdisasi hasil penilaian semua aspek dapat dilihat pada Tabel 11.
32
Tabel 10 Gabungan aspek penilaian berdasarkan CCRF
Alat tangkap X1 UP1 X2 UP2 X3 UP3 X4 UP4
Purse seine 1,0 3 2,0 3 4,0 1 1,0 3
Hand line 3,0 1 3,0 2 4,0 1 4,0 1
Gill net 3,0 1 3,5 1 4,0 1 3,5 2
Payang 2,0 2 0,6 4 3,6 2 0,5 4 Keterangan : V1 = hasil standarisasi dari X1, V2 = hasil standarisasi dari X2, V3= hasil standarisasi
dari X3, V4= hasil standarisasi dari X5, VA = (V1 + V2 + V3 + V4), UP = urutan prioritas
Tabel 11 Standardisasi hasil penilaian semua aspek
Alat tangkap V1 V2 V3 V4 VA UP
Purse seine 0,0 0,6 0,3 0,1 1,4 3
Hand line 1,0 0,6 0,3 1,0 2,9 2
Gill net 1,0 1,0 1,0 0,8 3,8 1
Payang 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 4
Keterangan : V1 = hasil standardisasi dari X1, V2 = hasil standarisasi dari X2, V3= hasil standarisasi
dari X3, V4= hasil standarisasi dari X5, VA = (V1 + V2 + V3 + V4), UP = urutan prioritas
Berdasarkan dari keempat aspek (biologi, teknologi, sosial ekonomi dan lingkungan) penilaian unit penangkapan ikan di Kabupaten Donggala sebelum dilakukan standarisasi terlihat bahwa pada aspek biologi, urutan teratas atau yang mendapat peringkat pertama adalah alat tangkap handline, dan gillnet, peringkat kedua payang dan peringkat tiga adalah purse seine.
Selanjutnya aspek teknologi, skor tertinggi adalah pada alat tangkap gillnet, terus diikuti oleh handline dan purse seine, diurutan kedua dan urutan ketiga adalah payang. Aspek sosial ekonomi, skor tertinggi adalah gillnet kemudiaan disusul dengan alat tangkap handline dan purse seine diurutan kedua dan payang diurutan ketiga. Aspek lingkungan menunjukkan bahwa urutan prioritas pertama adalah alat tangkap handline , kemudian secara berturut-turut adalah gillnet, purse seine dan payang diurutan terakhir.
Setelah dilakukan standarisasi pada skor gabungan dari keempat aspek (Tabel 10) maka diperoleh nilai skor tertinggi yang menjadi prioritas utama yaitu alat penangkapan gillnet lalu urutan kedua handline urutan ketiga purse seine dan urutan keempat adalah payang. Jadi dapat dikatakan bahwa alat tangkap jaring insang (gillnet) merupakan alat tangkap sebagai prioritas utama untuk dikembangkan di Kabupaten Donggala karena mempunyai keunggulan secara menyeluruh dari aspek biologi, teknologi, sosial ekonomi dan aspek lingkungan.
Penilaian unit penangkapan ikan pelagis unggulan di Kabupaten Donggala mengacu pada kriteria FAO 1995 yaitu; 1) Selektivitas alat tangkap, 2) alat tangkap tidak merusak habitat, 3) menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi, 4) alat tangkap tidak membahayakan nelayan, 5) produksi tidak membahayakan konsumen, 6) by atch rendah, 7) dampak biodiversity rendah, 8) tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi, dan 9) dapat diterima secara sosial
Merujuk pada ketentuan CCRF maka unit penangkapan ikan pelagis yang dianalisis dengan menggunakan metode skoring akan menghasilkan luaran atau output unit penangkapan unggulan yang ramah lingkungan. Berdasarkan pada penilaian aspek biologi, alat penangkapan ikan jenis jaring insang (gillnet) dan pancing ulur (handline) memperoleh penilaian yang sama dan menempati urutan prioritas pertama. Jaring insang dan pancing ulur menempati urutan prioritas
33 pertama karena pada penilaian aspek biologi kedua alat tangkap ini mendapatkan penilaian yang tinggi dibandingkan dengan alat tangkap purse seine dan payang. Hal ini berdasarkan pada hasil penilaian dengan kriteria selektif terhadap hasil tangkapan, tidak menangkap ikan secara berlebihan dan hasil tangkapan berkualitas tinggi. Kedua alat tangkap ini selektif terhadap jenis dan ukuran ikan yang menjadi target penangkapan. Menurut Sumardi et al (2014) bahwa ikan hasil tangkapan gillnet kurang dari tiga spesies dan ukurannya hampir sama dalam satu kali hauling. Selanjutnya alat tangkap purse seine berada pada urutan terkhir, hal ini disebabkan karena alat penangkapan ini tidak selektif dan menangkap ikan secara berlebihan. Alat tangkap purse seine menangkap ikan lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda, sehingga alat tangkap ini termasuk ketegori tidak selektif (Sumardi et al. 2014). Syamsuddin et al (2007), menyatakan bahwa alat tangkap purse seine memiliki nilai yang rendah pada kriteria selektifitas dan hasil tangkapan sampingan (bycatch), hal ini disebabkan karena alat tangkap tersebut dapat menangkap semua jenis ikan yang ada di fishing ground dari berbagai jenis dan ukuran.
Penilaian kriteria pada aspek teknologi menunjukkan bahwa alat tangkap gillnet menempati urutan prioritas pertama dibandingkan dengan alat penangkapan ikan lainnya. Berdasarkan pada penilaian kriteria yaitu jarak fishing ground dari fishing base atau fishing port, tidak menangkap ikan yang dilindungi dan tingkat kesulitan dalam penggunaan alat tangkap. Ketiga kriteria penilaian ini menjadikan gillnet lebih unggul daripada alat penangkapan lainnya. Jarak daerah penangkapan ikan dari pelabuhan perikanan atau fishing base untuk gillnet antara 1-2 mil, tidak pernah menangkap ikan yang dilindungi dan mudah dioperasikan. Gillnet masih tergolong alat penangkapan ikan skala kecil dan tradisional sehingga fishing ground-nya ≤ 3 mil. Berbeda dengan alat penangkapan purse seine dan payang yang mampu beroperasi antara 4-12 mil dari fishing base , Tanjaya (2011) menyatakan bahwa jarak daerah penangkapan ikan untuk purse seine di Kepulauan Kei Kecil dan Besar antara 4-20 mil dari pantai. Selanjutnya penilaian terhadap kriteria tidak menangkap ikan yang dilindungi. Gillnet yang dioperasikan nelayan di Kabupaten Donggala berdasarkan hasil penelitian tidak pernah menangkap ikan yang dilidungi. Berdasarkan hasil tersebut berbeda dengan yang ditemukan Rusmilyansari (2012) bahwa gillnet yang dioperasikan di Tanah Laut Kalimantan Selatan sering menangkap ikan yang dilindungi terutama penyu sisik.
Urutan keunggulan alat penangkapan ikan berdasarkan aspek sosial ekonomi, setelah dilakukan penilaian pada setiap kriteria memunculkan alat tangkap gillnet pada uruatan prioritas pertama, kemudian urutan berikutnya adalah purse seine dan handline diurutan kedua dan terakhir adalah payang. Keunggulan alat penangkapan gillnet pada aspek sosial-ekonomi terletak pada kriteria nilai investasi bersama dengan alat penangkapan handline, sedangkan pada kriteria lainnya hampir sama dengan alat penangkapan ikan lainnya. Keunggulan pada kriteria nilai investasi disebabkan karena untuk satu unit alat penangkapan gillnet dalam pengadaannya tidak terlalu mahal. Hal ini memungkinkan untuk nelayan yang memiliki modal kecil sudah dapat berinvestasi untuk satu unit penangkapan gillnet. Berbeda dengan investasi untuk pengadaan satu unit penangkapan purse seine mini yang membutuhkan modal besar untuk pengadaannya. Suardi (2005) mengemukakan bahwa biaya investasi untuk satu unit alat penangkapan purse
34
seine mini sebesar Rp. 30.000.000., sedangkan jaring insang hanyut (drift gillnet) sebesar Rp. 4.000.000,-.
Penilaian kriteria aspek sosial lainnya seperti kegitan operasi penangkapan ikan tidak membahayakan nelayan, tidak menimbulkan konflik antara nelayan dan produksinya tidak membahayakan konsumen. Keempat unit penangkapan ikan ini memperoleh nilai yang sama dengan niali maksimal. Hal ini disebabkan karena dari ketiga kriteria penilaian keempat unit penangkapan ikan memenuhi semua pesyaratannya. Menurut Sumardi et al (2014) bahwa alat penangkapan purse seine, handline, gillnet dan payang aman, tidak menimbulkan konflik dan hasilnya tidak membahayakan konsumen.
Urutan prioritas alat penangkapan ikan pada penilaian aspek lingkungan, telah menetapkan bahwa alat tangkap gillnet berada pada urutan kedua sedangkan alat tangkap handline diurutan prioritas pertama. Hal ini disebabkan karena alat tangkap handline sangat selektif dalam setiap kegiatan operasi penangkapan ikan. Handline menangkap ikan tidak lebih dari tiga jenis (spesies) dengan ukuran yang hampir sama. Hariyanto et al (2008), menyatakan bahawa alat pancing yang dikemabangkan di Teluk Lampung karena teknologi penangkapan ikan ini tidak merusak lingkunagan atau ramah lingkungan. Selanjutnya alat tangkap yang berada diurutan terakhir adalah payang. Alat tangkap payang tidak ramah lingkungan berdasarkan pada, Permen No.2/2015 tentang pelarangan alat tangkap payang pada pasal 4 ayat (1) dan payang memiliki by-catch yang tinggi.
Hasil standardisasi pada penilaian gabungan dari keempat aspek menunjukkan bahwa alat penangkapan ikan gillnet atau jaring insang berada pada urutan prioritas pertama, sedangkan urutan prioritas kedua adalah alat penangkapan handline. Berdasarkan pada urutan prioritas pertama untuk alat penangkapan gillnet maka keputusan, menetapkan gillnet yang akan dikembangkan di perairan Kabupaten Donggala. Keputusan ini sejalan dengan hasil penelitian Sumardi et al. (2014) menyatakan bahwa gillnet adalah alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan yang akan di kembangkan di perairan Provinsi Aceh.
Kesimpulan
Keempat alat penangkapan ikan yang diseleksi berdasarkan aspek biologi, teknis, sosial-ekonomi dan lingkungan serta merujuk ke ketentuan-ketentuan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) telah menetapkan bahwa gillnet atau jaring insang yang menjadi pilihan untuk dikembangkan di perairan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Sementara alat penangkapan payang tidak direkomendasikan untuk dikembangkan karena tidak ramah terhadap lingkungan.
35
5 ALOKASI UNIT PENANGKAPAN IKAN LAYANG
Pendahuluan
Dalam usaha perikanan tangkap, jenis dan jumlah unit penangkpan yang dioperasikan memberikan dampak yang besar terhadap komposisi jenis dan jumlah tangkapan. Peningkatan jumlah permintaan akan bahan pangan yang berasal dari laut untuk memenuhi kebutuhan protein, terutama protein hewani, telah memicu peningkatan usaha eksloitasi sumberdaya ikan. Peningkatan pengusahaan ini ditandai dengan bertambahnya jumlah unit penangkapan yang dioperasikan.
Keberadaan stok ikan disuatu perairan dipengaruhi oleh berbagai hal seperti tekanan eksploitasi dan variasi iklim yang terjadi sebagai dampak perubahan iklim global. Kondisi iklim global tidak mungkin untuk dikendalikan. Karena itu, pengendalian terhadap tekanan eksploitasi merupakan opsi yang dapat dilakukan.
Peningkatan jumlah unit penangkapan ikan yang tidak dikendalikan dapat menjadi pemicu terjadinya tangkap berlebihan terhadap sumberdaya ikan. Karena itu tingkat pemanfaatan yang optimal agar usaha perikanan tangkap yang dilakukan, dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan perlu dilakukan. Optimalisasi dalam perikanan tangkap harus dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik sehingga unit penangkapan yang dioperasikan menjadi produktif, selektif, efisien, dan ramah lingkungan (Sutisna 2007).
Setiap jenis unit penangkapan memiliki ukuran dan kapasitas penangkapan yang berbeda-beda, oleh karena itu optimalisasi terhadap setiap jenis unit penangkapan perlu dilakukan.
Alokasi sumberdaya perikanan dimulai dengan penetapan tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan layang sebagai target yang ingin dicapai. Target tersebut didasarkan pada tujuan pembangunan perikanan daerah Kabupaten Donggala yang mencakup aspek optimasi kelestarian sumberdaya ikan, aspek optimasi upaya, optimasi tenaga kerja dan aspek penggunaan BBM dan aspek penggunaan air tawar.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung unit penangkapan ikan layang yang optimum di perairan Kabupaten Donggala.
36
Metode Penelitian
Metode penelitian pada tahap ini yaitu melakukan pendekatan dengan analisis LGP (linear goal programming) karena mampu menangani banyak tujuan dalam berbagai dimensi, dimana konversi berbagai faktor dari kerugian dan keuntungan mungkin tidak terlalu diperhitungkan, (Lee et al, 1990).
Metode analisis LGP ini mampu memecahkan masalah alokasi sumberdaya dalam upaya mendukung kegiatan yang dinilai efisien (alternatif terbaik) untuk mencapai pendapatan maksimum, pemenuhan kebutuhan masyarakat dan dampak dari berbagai alternatif kebijakan terhadap penyerapan tenaga kerja di bidang perikanan.
Keberlanjutan kegiatan penangkapan ikan di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah unit penangkapan yang dioperasikan. Mengingat sifat sumberdaya ikan memiliki daya pulih yang terbatas, maka jumlah unit penangkapan ikan yang dioperasikan di suatu perairan harus sesuai dengan potensi yang ada.
Untuk menentukan jumlah optimal masing-masing jenis alat tangkap terpilih untuk mengeksploitasi sumberdaya unggulan di Kabupaten Donggala akan digunakan pendekatan Linear Goal Programming (LGP). Dalam goal programming terdapat variabel deviasional dalam fungsi kendala. Variabel tersebut berfungsi untuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian terhadap sasaran yang hendak dicapai, dimana dalam proses pengolahan model tersebut jumlah variabel deviasional akan diminimumkan di dalam fungsi tujuan (Siswanto 1990).
Menurut Richard R dalam Suyitno (1997) pemecahan masalah program linier melalui tahap-tahap sebagai berikut:
(1) Memahami masalah di bidang yang bersangkutan. (2) Menyusun model matematika.
(3) Menyelesaikan model matematika (mencari jawaban model).
(4) Menafsirkan jawaban model menjadi jawaban atas masalah yang nyata.
Tidak semua masalah optimasi dapat diselesaikan dengan metode program linier. Beberapa prinsip yang mendasari penggunaan metode program linier sebagai berikut: (1) Adanya sasaran . Sasaran dalam model matematika masalah program linier berupa fungsi tujuan yang akan dicari nilai optimalnya dalam hal ini nilai maksimum atau minimum.
(2) Ada tindakan altenatif Artinya nilai fungsi tujuan dapat diperoleh dengan berbagai cara dan diantara alternatif itu memberikan nilai yang optimal.
(3) Adanya keterbatasan sumber daya. Sumber daya atau input dapat berupa waktu, tenaga, biaya, bahan, dan sebagainya. Pembatasan sumber daya disebut kendala pembatas.
(4) Masalah dapat dibuat model matematika. Masalah harus dapat dituangkan dalam bahasa matematika yang disebut model matematika. Model matematika dalam program linier memuat fungsi tujuan dan kendala. Fungsi tujuan harus berupa fungsi linier sedangkan kendala harus berupa pertidaksamaan atau persamaan linier.
37
Antar variabel yang membentuk fungsi tujuan dan kendala harus ada keterkaitan, artinya perubahan pada satu peubah akan mempengaruhi nilai peubah yang lain.
Model goal programming untuk optimasi jenis armada penangkapan menggunakan model matematik :
Fungsi tujuan: Z =∑m
i=1 (DBi + DAi) Fungsi kendala :
A1 1X1 + A1 2X2 + ... +A1nXn + DB1– DA1 = b1 A2 1X1 +A2 2X2 + ... + A2nXn + DB2 – DA2 = b2 .
.
Dan seterusnya,
Am1 X1 + Am2 X2+...AmnXn + DBm-DAm = Dm Dimana :
Z = fungsi tujuan (total deviasi) yang akan diminimumkan DBi = deviasi bawah kendala ke-i
DAi = deviasi atas kendala ke-i
Bi = kapasitas/ketersediaan kendala ke-i
aij = parameter fungsi kendala ke-i pada variabel keputusan ke-j kendala ke-i = MSY, effort optimum dan tenaga kerja
Xj = variabel keputusan ke-j (jumlah alat tangkap) Xj, DAi dan DB1>0, untuk i = 1,2,..., dan j = 1,2,...,n.
Jenis alat tangkap yang merupakan variabel keputusan adalah semua unit penangkapan ikan dengan target tangkapan ikan layang yang dioperasikan nelayan Kabupaten Donggala saat ini (2014) yaitu : pancing sebanyak 5614, purse seine 57 unit dan gillnet 373 unit. Pendekatan Linear Goal Programming digunakan untuk mengalokasikan secara optimum jumlah unit penangkapan ikan dari ketiga jenis unit penangkapan tersebut.
Pada dasarnya model pada goal programming sama dengan model pada pemrograman linear, perbedaannya hanya terletak pada kehadiran sepasang variabel yang akan muncul pada fungsi tujuan dan fungsi-fungsi sumberdaya terbatas, model goal programming adalah variabel DB dan DA. Variabel DB berfungsi menampung deviasi yang berada di bawah sasaran yang dikehendaki, sedangkan variabel DA berfungsi menampung deviasi yang berada di atas sasaran yang dikehendaki. Jika diperoleh nilai variabel DB berarti tujuan yang diinginkan dari pemanfaatan sumberdaya ikan layang di Kabupaten Donggala tidak tercapai sebesar nilai deviasi. Sebaliknya, jika diperoleh nilai variable DA berarti tujuan yang diinginkan terlampaui (melebihi target) sebesar nilai tersebut. Apabila nilai deviasi sama dengan nol, berarti pemanfaatan sumberdaya ikan layang di Kabupaten Donggala tercapai (Supranto 1980).
38
Fungsi sumberdaya terbatas pada linear goal programming dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
1) Sumberdaya terbatas pertidaksamaan lebih kecil sama dengan (≤). Untuk sumberdaya terbatas tujuan jenis ini pertidaksamaannya dikurangi dengan variabel deviasi ke atas (DA).
2) Sumberdaya terbatas pertidaksamaan lebih besar sama dengan (≥). Untuk
sumberdaya terbatas tujuan jenis ini pertidaksamaannya ditambah dengan variabel deviasi ke bawah (DB).
3) Sumberdaya terbatas tujuan persamaan (=). Untuk sumberdaya yang terbatas jenis ini persamaannya dikurangi dengan variabel deviasi ke atas (DA) dan ditambah dengan variabel deviasi ke bawah (DB).
Variabel-variabel keputusan dalam model ini adalah sebagai berikut: DB = kekurangan pemenuhan sasaran jumlah unit penangkapan ikan pada sumberdaya terbatas-i (i = 1, 2, …, n)
DA = Kelebihan pemenuhan sasaran jumlah unit penangkapan ikan pada sumberdaya terbatas-i (i = 1, 2, …, n)
Penentuan komposisi optimum dari fungsi sumberdaya terbatas di dasarkan pada nilai Z yang paling minimum yang dihasilkan oleh Solver add-in dari LINDO.
Hasil Dan Pembahasan
Proses analisis dilakukan dengan alat bantu berupa paket program komputer dengan perangkat lunak LINDO (Linear, Interactive, and Discrete Optimizer)
Tujuan-tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut : 1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan layang
Berdasarkan hasil perhitungan analisis MSY ikan layang di perairan Kabupaten Donggala adalah 166,87 ton/trip/tahun. Namun demikian nilai potensi yang digunakan untuk pengalokasian adalah Jumlah Tangkap yang Dibolehkan (JTB) yaitu sebesar 80 % dari MSY atau sebesar 133,466. Ikan layang ditangkap oleh 3 jenis teknologi penangkapan pilihan yaitu purse seine, gillnet dan pancing, diasumsikan nilai produktivitas ideal dari setiap unit penangkapan purse seine (X1) untuk menangkap ikan layang adalah 0,35 ton/thn, gilnet (X2) 0,15 ton/thn dan pancing (X3) 0,13 ton/thn. Berdasarkan informasi ini maka dapat dibuat persamaan matematikanya yaitu sebagai berikut :
-DB1-DA1+0.35X1+0.15X2+0.13X3=133.496
2. Mengoptimalkan jumlah hari operasi sesuai dengan upaya penangkapan pada tingkat fMSY.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis fopt (fMSY) perikanan layang yang ada di perairan Kabupaten Donggala adalah 1425 trip/thn. Diasumsikan dilapangan menunjukkan bahwa setiap unit penangkapan ikan layang dapat
39 melakukan trip penangkapan ikan sebesar 150 trip untuk alat tangkap purse seine (X1), 140 untuk alat tangkap gillnet (X2) dan 160 untuk alat tangkap pancing (X3). Berdasarkan informasi ini maka dapat dibuat persamaan matematikanya yaitu sebagai berikut :
-DA2+150X1+140X2+160X3<=1425
3. Mengoptimalkan tingkat penyerapan tenaga kerja
Berdasarkan jumlah tenaga kerja (nelayan) yang dapat terserap di perairan Kabupaten Donggala adalah 23061 orang. Hasil observasi dan wawancara dilapangan menunjukkan bahwa setiap unit penangkapan ikan layang dapat menyerap rata-rata sebanyak 8 orang/unit untuk alat tangkap purse seine (X1), 2 orang/unit untuk alat tangkap gillnet (X2) dan 2 orang/unit untuk alat tangkap pancing (X3). Berdasarkan informasi ini maka model persamaan matematik dari sasaran penyerapan tenaga kerja adalah sebagai berikut :
DB3-DA3+8X1+2X2+2X2>=23061
4. Meminimalkan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM)
Berdasarkan pemakaian BBM diharapkan tidak lebih dari 2000 ton/thn, dan untuk purseseine (X1) diasumsikan menghabiskan 0,6 ton/thn dan gillnet (X2) menghabiskan 7ton/thn dan pancing (X3) 4 ton/thn. Berdasarkan informasi ini maka persamaan matematikanya adalah :
-DB4-DA4+0.6X1+7X1+4X3=2000 5 Meminimalkan pemakaian air tawar
Penggunaan air tawar diharapkan tidak lebih atau sama dengan 2000 ton/thn dan dengan asumsi penggunaan air tawar untuk purse seine (X1) = 20 ton/tahun dan penggunaan air tawar untuk gillnet sebanyak 0,2 ton/thn dan pancing 1 ton/thn. Berdasarkan informasi ini maka persamaan matematikanya adalah sebagai berikut :
-DB5-DA5+20X1+0.2X2+X3=1000
Alokasi hasil tangkapn yang dianjurkan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan layang di perairan Kabupaten Donggala adalah sebesar 166,87 ton per tahun, sehingga dapat mengurangi tingkat upaya untuk mencegah terjadinya overfishing. Mengingat keterbatasan akses dan sumberdaya ikan layang yang hanya terkonsentrasi disekitar perairan pantai, pembatasan jumlah hasil tangksapan sebanyak 166,87 ton tersebut harus dilakukan walaupun secara biologi belum mencapai titik MSY. Dengan adanya pembatasan tersebut diharapkan kontinuitas sumberdaya ikan layang pada tahun-tahun berikutnya tetap terjaga.
Kondisi aktual pada tahun 2014, jumlah alat tangkap pilihan yaitu purse seine sebanyak 57 unit, jumlah alat tangkap gillnet 373 unit dan jumlah pancing sebanyak 5614 unit. Sedangkan jumlah unit purse seine yang optimal adalah tetap, tidak perlu dilakukan penambahan atau pengurangan, dari hasil LINDO sebanyak 57 unit. Alat tangkap untuk gillnet aktualnya sebanyak 373 unit, dari hasil keluaran LINDO perlu penambahan armada penangkapan sebanyak 44 unit, jadi diharapkan untuk jumlah gillnet yang optimal diharapkan sebanyak 457 unit. Sedangkan untuk pancing aktualnya berjumlah 5614 unit, hasil optimal yang
40
diharapkan sebanyak 391 unit jadi perlu dilakukan pengurangan jumlah pancing sebanyak 5223 unit.
Hasil analisis komputer dengan menggunakan perangkat lunak LINDO dalam optimasi alokasi armada penangkapan ikan di Kabupaten Donggala sebagaimana terlihat pada Lampiran.
Pengalokasian jumlah unit penangkapan yang sesuai dengan daya dukung potensinya dan dari teknologi penangkapan ikan layang pilihan akan menjadikan sumberdaya ikan layang di Kabupaten Donggala dapat berjalan efisien, lestari dan berkelanjutan.
Sebagai langkah awal yang harus dilakukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan layang di perairan Kabupaten Donggala agar berkelanjutan adalah dengan melakukan penghapusan alat tangkap yang tidak diperbolehkan yaitu payang, maka dari itu perlahan-lahan ijinnya dicabut, dan sebagai alternatif diupayakan alat tangkapnya dimodifikasi atau dialih fungsikan ke alat tangkap gillnet Selanjutanya alat tangkap pancing perlu dikurangi dan alat tangkap gillnet perlu ditambah. Sedangkan purse seine tidak perlu dikurangi dan tidak perlu ditambah, ini karena mengingat masih kurangnya pengeksploitasian sumberdaya ikan layang jadi purse seine masih dipertahankan keberadaannnya.
Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait. Untuk itu dibutuhkan partisipasi baik dari nelayan yang merupakan ujung tombak penangkapan ikan, juga para pengusaha kapal ikan dan pedagang serta konsumen dalam hal ini masyarakat. Semua pihak-pihak yang terkait memiliki peranannya masing-masing yang saling melengkapi. Kesadaran seluruh anggota masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sumbherdaya ikan layang akan menjadikan sumberdayanya menjadi lestari. Untuk itu hendaknya partisispasi dari nelayan dan pihak-pihak terkait timbul melalui peningkatan kesadaran tentang pentingnya memiliki tanggungjawab untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan sumberdaya ikan layang guna kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang.
Kesimpulan
Alokasi alat tangkap yang optimal yang diharapkan adalah jumlah purse seine sebanyak 57, jumlah gillnet sebanyak 417 dan jumlah pancing sebanyak 391 untuk memanfaatkan sumberdaya ikan layang di Kabupaten Donggala.
41
6 STRATEGI PEMANFAATAN IKAN LAYANG
Pendahuluan
Produksi perikanan di Kabupaten Donggala sebesar 18.889,9 ton tahun 2012. Pada tahun sebelumnya produksi Kabupaten Donggala mencapai 37.865,7 ton. Jika dikalkulasi produktivitas dari sektor kelautan yang sangat potensial di Kabupaten Donggala baru terserap sekitar 19% saja, meskipun potensi kelautan dan perikanan sungguh sangat menjanjikan namun