• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gereja memandang katekese sebagai suatu kewajiban yang suci yang bersumber pada perintah Tuhan. Disisi lain katekese merupakan suatu hak, dari sudut teologi setiap orang yang sudah dibaptis berhak menerima pengajaran dan pendidikan yang memungkinkan mereka untuk berkembang dan menghayati kehidupan kristianinya. Katekese harus berlangsung dalam situasi, waktu maupun tempat yang mendukung dan semestinya dapat menggunakan media sosial serta perlengkapan yang memadai untuk mempermudah jalanya katekese (CT, art. 14).Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang katekese maka akan dilihat katekese menurut Catechesi Tradendae, katekese umat, dan relevansinya bagi pembinaan para suster Puteri Kasih dalam pelayanan terhadap orang miskin.

1. Pengertian Katekese

Dalam Catechesi Tradendae, paham katekese dimengerti sebagai salah satu usaha Gereja untuk memperoleh murid-murid, untuk membantu umat mengimani bahwa Yesus itu Putera Allah dan supaya dengan beriman mereka beroleh kehidupan dalam nama-Nya. Untuk membina serta mendidik mereka dalam perihidup itu dan dengan demikian membangun tubuh Kristus (CT, art. 1).

Katekese merupakan usaha gereja menjadikan umat manusia menjadi umat Kristus. Menolong orang semakin percaya bahwa Yesus itu adalah Putera Allah

sehingga memiliki kehidupan, yang bisa membantu untuk pembangunan hidup jemaat sesuai dengan perintah Yesus. Katekese juga diartikan sebagai pembinaan atau khususnya mencakup pengajaran Kristen, pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maskud untuk menghantar para pendengar memasuki hidup Kristen. Katekese dalam arti khusus merupakan pembinaan iman anak-anak, kaum muda dan orang dewasa, bentuknya adalah penyampaian pengajaran (CT, art. 18).

Dalam katekese umat, katekese diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman. Tukar pengalaman iman yang dilakukan oleh umat, dapat meneguhkan dan memperkaya umat dalam penghayatan hidup sehari-hari. Penghayatan iman dalam hidup sehari-hari sangatlah penting untuk dikomunikasikan dalam katekese umat (Huber, 1981: 10).

Rumusan yang lebih jelas dari hasil pertemuan kateketik antar keuskupan se-Indonesia pertama (PKKI I), mempunyai gagasan suatu bentuk katekese yang melibatkan seluruh umat, yang akhirnya dikenal sebagai katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat atau dengan kata lain katekese yang mengumat (Lalu, 2005: 3). Tampak dalam rumusan itu bahwa umat lebih aktif karena mereka yang berkepentingan menumbuhkan iman menjadi semakin dewasa.

Komunikasi iman merupakan usaha peserta untuk saling meneguhkan satu dengan yang lain dalam dialog yang dilakukan oleh mereka. Komunikasi yang dimaksud ialah untuk semua peserta yang hadir, baik peserta dengan pembimbing maupun antar peserta sehingga mereka dapat menemukan diri mereka sendiri dan menemukan kehendak Allah. Peserta diharapkan mensharingkan pengalaman iman bukan tentang rumusan iman.

Penyelenggaraan katekese dalam Catechesi Tradendae merupakan usaha Gereja agar umat terbantu untuk mengimani pribadi Yesus Kristus, menjadikan semua bangsa murid-Nya. Kepada umat manusia dipercayakan untuk mewartakan sabda kehidupan yang telah mereka dengar dan saksikan sendiri (CT, art. 1). Katekese umat merupakan suatu pelayanan Gereja untuk membantu umat dalam menghayati imannya dalam pribadi Yesus Kristus (Huber, 1981: 10). Model SCP tidak berlawanan dengan pengertian katekese sebagai pengajaran karena dalam SCP juga menrupakan pengajaran umat untuk lebih kritis dalam memaknai setiap pengalaman dan katekese yang mengumat, karena dalam SCP penekanan juga pada umat, mereka mempunyai kedudukan sebagai subyek.

Pelajaran yang bisa dipetik bagi pembinaan para suster bahwa mereka adalah bagian dari anggota Gereja yang berhak mendapatkan bantuan untuk mengembangkan diri lewat katekese untuk mengenal pribadi Yesus Kristus lewat pelayanan. Para suster bisa mengembangkan diri lewat sharing pengalaman iman dengan sesama suster, dan dengan dialog antar sesama membantu para suster menemukan kehendak Allah, memperkuat penyerahan diri kepada Tuhan secara total dan selalu berusaha memberi makna baru setiap pengalaman dengan kaca mata iman.

2. Tujuan Katekese

Dalam Catechesi Tradendae tujuan katekese ialah umat semakin menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan belajar lebih mengenal Yesus yang menjadi tumpuan kepercayaannya (CT, art. 20). Orang yang mengikuti Yesus Kristus berarti menanggapi undangan-Nya untuk bersatu, hidup mesra dengan-Nya. Bersatu dengan Yesus Kristus berarti menuruti perintah-Nya, dan berperilaku sesuai dengan

kehendaknya serta bertekun dalam doa (CT, art. 5). Segala usaha yang dilakukan Gereja bertujuan untuk mematangkan iman dan membina murid-murid Yesus yang sejati (CT, art. 9). Proses mematangkan atau mengembangkan iman umat dibutuhkan usaha pertobatan secara terus menerus, bersedia diubah menjadi ciptaan baru. Iman tidaklah sekali jadi tetapi tumbuh dan berkembang dengan membutuhkan suatu proses panjang sampai kepada kepenuhan hidup. Iman yang dewasa mampu menghayati dan mewujudkan serta mengambil bagian dalam hidup menggereja (CT, art. 25).

Dalam katekese umat tujuan katekese umat ialah untuk pembangunan hidup beriman baik secara personal maupun secara komuniter. Dalam arti ini katekese untuk mendewasakan iman umat yaitu dengan terang Injil semakin meresapi pengalaman hidup sehari-hari, sadar akan kehadiran Allah dengan jalan pertobatan dan semakin dikukuhkan ke dalam iman, harapan dan cinta kasih. Sebagai anggota Gereja, wajib menjemaat untuk ambil bagian dan berpartisipasi dalam hidup menggereja. Akhirnya sebagai umat yang dewasa, mengambil bagian dalam Gereja harus menjadi garam dan terang serta menjadi saksi Kristus dalam hidup di tengah-tengah masyarakat maupun Gereja (Huber, 1981: 22).

Dari definisi tujuan katekese baik Catechesi Tradendae maupun katekese umat di atas memberikan arti bahwa katekese membantu umat untuk mengembangkan iman, berjumpa dengan Yesus Kristen. Perjumpaan hati yang diilhami Injil pada akhirnya umat memperoleh kepenuhan hidup, mampu memberikan kesaksian hidup di tengah-tengah masyarakat. Jalan untuk mencapai ciptaan baru adalah pertobatan yang terus menerus (CT, art. 20) dalam katekese umat pertobatan kepada Allah yang memampukan orang untuk menyadari kehadiran Allah dalam kenyataan hidup, mendewasakan iman umat dengan terang Injil agar semakin bersatu

dengan Kristus dan ikut ambil bagian dalam tugas dan tanggungjawab Gereja serta menjadi saksi-saksi Kristus (Huber, 1981: 22). Dalam langakah SCP pada akhirnya umat atau peserta diajak untuk mengambil keputusan sebagai jawaban kristiani pribadi maupun bersama dalam keterlibatan mereka dalam hidup konkrit menggereja dan masyarakat (Sumarno, 2003: 27) akhir langkah dalam SCP sangat sesuai dengan tujuan katekese yaitu umat pada akhirnya ikut ambil bagian dalam karya perwartaan gereja dengan menjadi saksi-saksi Kristus.

Nilai yang bisa diambil bagi para suster Puteri Kasih dalam usaha meningkatkan efektivitas pelayanan ialah para suster diajak untuk mengolah pengalaman dengan refleksi, pengalaman hidup setiap hari dilihat dengan kaca mata iman, hasil pengolahan refleksi diwujudkan dalam pertobatan yang membawa para suster sampai pada karya nyata, yaitu meningkatkan semangat pelayanan, menyadari diri sebagai bagian dari Gereja dan berpartisipasi dalam kegiatan menggereja. Akhirnya para suster mampu menjadi saksi Kristus yang nyata dalam pelayanan.

3. Tugas Katekese

Katekese merupakan usaha tolong menolong yang terus menerus untuk mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Yesus Kristus menuju kepada kedewasaan hidup kristiani yang penuh (Setyakarjana, 1997: 17). Tugas katekese bisa digambarkan secara singkat sebagai berikut: pertama, Katekese memberitakan Sabda Allah, mewartakan Kristus. Katekese menghadirkan sabda Allah agar manusia bertemu secara pribadi dengan Allah. Orang kristen mempunyai buku kehidupan yang memuat tentang penyelamatan umat manusia yang memuncak dalam diri Yesus sendiri yaitu Kitab Suci. Peristiwa sengsara, wafat, dan

kebangkitan-Nya merupakan peristiwa definitif penyelamatan manusia menuju pertemuan abadi dengan Allah. Maka katekese bersifat kristosentris, Yesuslah pusat segala kegiatan katekese sedangkan pewarta merupakan alat supaya terjadi pertemuan pribadi antara manusia dengan Kristus (Telaumbanua, 1999: 9).

Kedua, katekese mendidik untuk beriman. Katekese mencari cara agar umat terdorong untuk terpikat kepada Allah, setelah terpikat pada Allah mereka akan meneruskan dalam tindakan sehingga tercapailah pembaharuan hidup, menjadi orang yang lebih berkenan kepada Allah. Berkatekese membutuhkan proses yang meliputi tiga komponen yang mempunyai peranan penting antara lain: komponen kognitif, komponen afektif, komponen operatif seperti ditegaskan pada kutipan berikut ini

Dalam katekese disajikan pemahaman agar orang semakin yakin dan bertanggung jawab atas iman atau agamanya (kognitif). Dalam berkatekese, perasaan/penghayatan perlu dibangkitkan sehingga umat semakin mencintai agamanya, Allahnya dan berkobar untuk berbakti, bersembah, dan bersyukur (afektif). Dalam berkatekese pun perlu diberi contoh-contoh konkret sehingga umat melihat kemungkinan untuk mengkonkritkan imannya dalam hidup sehari-hari (operatif) (Telaumbanua, 1999: 9-10).

Ketiga, katekese mengembangkan Gereja. Kegiatan-kegiatan/usaha yang dilakukan oleh katekese untuk mengembangkan iman umat menuju ke kedewasaan, mengobarkan semangat iman anggota sehingga mampu memberikan kesaksian hidup di masyarakat yang bisa membantu perkembangan Gereja. Gereja ada, berkembang dan menyebar karena aktivitas katekese yang dilakukan oleh katekis bersama umat (Telaumbanua, 1999: 10).

Pembinaan bagi para suster untuk meningkatkan pelayanan kepada orang miskin, bisa menggunakan katekese yang membangkitkan semangat untuk semakin mencintai tugas perutusannya. Belajar untuk bertanggung jawab atas imannya,

dengan cara mewujudkan dalam tindakan nyata. Sehingga pelayanan tetap terjaga dan para suster mampu melihat terobosan baru untuk meningkatkan.

4. Isi Katekese

Isi katekese dalam Catechesi Tradendae bersifat Kristosentris mempunyai maksud bahwa inti katekese adalah Yesus sendiri, sabda yang menjelma menjadi Putra Allah yang diajarkan. Yesus menjadi pola hidup umat. Seorang katekis dalam dirinya harus mendalami sabda Allah, mempunyai semangat doa dan akhirnya mampu menyampaikan ajaran Yesus lewat hidupnya setiap hari (CT, art. 6).

Isi katekese menurut katekese umat, tidaklah berbeda dengan Catechesi Tradendae dan harus tetap sama yaitu pribadi Yesus Kristus sendiri yang menjadi pola hidup dan menentukan jalannya katekese (Huber, 1981: 19). Kristuslah yang menjadi titik tolak atau ukuran umat kristen, karena Dialah jalan, kebenaran dan ke hidup yang menjadi awal serta tujuan hidup umat beriman (Yoh 14:6).

Isi yang penting dalam katekese model SCP pengalaman faktual peserta, yang mengaktualisasikan visi tradisi iman kristiani sekaligus refleksi kritis. Iman akan Yesus yang sudah diwujudkan dalam tindakan lalu direflesikan untuk memperoleh nilai yang baru (Sumarno, 2003: 27).

Kedua dokumen ini mempunyai isi yang sama yakni pribadi Yesus Kristus yang harus selalu dipertahankan dan diperjuangkan secara terus menerus. Dia adalah sumber hidup dan menjadi pengantara kepada Allah Bapa untuk selama-lamanya. isi kedua dokumen ini mengajak para suster untuk mengingat bahwa dalam pelayanan mereka harus meninggalkan diri sendiri dan mempunyai keyakinan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan untuk orang miskin itu dilakukan untuk melayani Yesus

sendiri. Isi katekese meneguhkan para suster untuk tetap bersemangat dalam doa dan pelayanan.

5. Proses Katekese

Catechesi Tradendae dalam proses lebih menekankan pada penyampaian pengajaran Kristen secara sistematis dan terorganisir, dengan mengkaji hal-hal yang pokok, menggunakan sarana yang menarik, pemilihan bahasa yang cocok dan kontekstual (CT, art. 21).

Katekese umat dalam proses menekankan segi dialog/sharing, komunikasi iman dari peserta yang sederajat. Mereka bersaksi tentang iman mereka, ada unsur saling menghargai dan mendengarkan. Hal itu melalui suatu proses yang terus menerus (Huber, 1981: 11). Gambaran proses katekese itu sebagai berikut:

- Pertobatan: mengambil sikap total dan sentral, penyangkalan logika duniawi dan memilih Kristus dalam persekutuan Gereja.

- Pembatinan sikap iman: menghayati dan menghidupi semakin ekstensif dan intensif sikap hidup yang baru sejalan dengan pertumbuhan harmonis komponen kognitif, afektif, dan operatif.

- Perjalanan menuju kematangan: mengembangkan terus interaksi unsur- unsur sikap hidup yang baru dan menghidupi pengalaman Gerejawi (Telaumbanua, 1999: 50).

Dari proses tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut: pertobatan pada awal pertemuan peserta perlu menyadari diri, sebagai orang yang masih kurang dan merendahkan diri mengakui segala ketidak-berdayaannya, perlu bertobat menyiapkan hati terbuka akan sabda Allah, proses ini berlanjut menuju kedewasaan. Pembatinan sikap iman: pengalaman hidup tidak dibiarkan hilang begitu saja maka perlu diolah menurut terang Injil, sejalan dengan perkembangan harmonis komponen Kognitif, yaitu mendalami isi dan makna iman serta keyakinan iman untuk menjamin wawasan

dan motivasi yang perlu agar dewasa dalam iman. Afektif, menanggapi tuntutan iman secara sadar dan personal. Operatif, diharapkan peserta berperilaku dan bertindak selaku orang kristen bagi Gereja dan masyarakat (Telaumbanua, 1999: 51-55).

Katekese model SCP menekankan proses berkatekese yang bersifat diaolgis partisipatif, bermula dri pengalaman hidup peserta yang direfleksikan secara kritis supaya menemukan maknanya dan dikonfrontasikan denan pengalaman hidup iman dan visi kristiani supaya muncul pemahaman sikap dan kesadaran baru yang menuju ada praxis (Groome, 1997: 1).

Pelajaran yang bisa diambil bagi para suster Puteri Kasih dalam meningkatkan efektivitas pelayanan kepada orang miskin ialah pengajaran merupakan suatu proses yang lama tidak bisa serta merta menjadi baik, maka para suster harus selalu mendapatkan masukan terus menerus untuk mengasah ketrampilan dan tekanan pada dialog sangat cocok untuk mengasah kemampuan berkomunikasi. Para suster diharapkan memiliki hati yang terbuka akan sabda Allah, dan semangat pertobatan yang terus menerus sehingga mencapai kedewasaan pribadi.

B. PEMILIHAN SHARED CHRISTIAN PRAXIS SEBAGAI MODEL KATEKESE

Dokumen terkait