• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk menjadi orang Kristiani yang sejati perlu melakukan apa yang dilakukan oleh Putera Allah, ketika Ia masih berada di bumi ini yaitu bekerja terus menerus untuk sesama, dengan mengunjungi dan menyembuhkan orang-orang sakit, dengan mengajarkan jalan keselamatan kepada mereka yang tidak mengenal-Nya. Barangsiapa menyatakan diri sebagai murid Kristus, ia wajib hidup sama dengan Yesus yang mengambil rupa seorang hamba (Flp 2:7), tidak ada artinya, kalau para murid-Nya mengambil rupa penguasa. Pelayanan berarti mengkuti jejak Kristus. Perwujudan iman Kristiani adalah pelayanan, maka iman Kristiani tidak pernah menjadi alasan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain (KWI, 1996: 449).

Berdasarkan pandangan ini layaklah bila orang yang menamakan diri sebagai orang Kristiani, pengikut Yesus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri. Melibatkan diri dalam pelayanan di wilayah ataupun Tarekat masing-masing, dengan cara pelayanan itulah orang kristiani menjadi saksi Kristus secara nyata. Setiap manusia diberi talenta yang berbeda-beda, maka di dalam perbedaan itulah mereka saling melengkapi.

1. Arti Pelayanan dalam Gereja

Tugas pelayanan dalam Gereja pertama menyangkut orang kristen secara perorangan dan sikap Kristus merupakan dasar kehidupannya. Sikap pribadi yang pertama-tama merupakan tuntutan pribadi. Gereja suatu lembaga yang berada di tengah-tengah masyarakat dituntut untuk menampakkan sikap pelayanan Kristus. Berbicara pelayanan dalam Gereja tidak bisa lepas dari Rasul Paulus, yang nampak pada surat-suratnya yang terdapat dalam 1 Kor 12:28-30. Paulus menunjukkan rupa-rupa pelayanan di dalam umat. Ada yang menerima kurnia sebagai rasul, kurnia sebagai nabi, dan ada kurnia sebagai pengajar. Kurnia pelayanan yang berbeda-beda menurut pemberian Tuhan (Abineno, 1974: 64). Tidak ada batasan yang jelas dari setiap tugas, karena menyangkut berbagai macam pelayanan yang saling berkaitan. Tujuan dari semua pelayanan ialah untuk pembinaan dan pembangunan umat. Norma bagi setiap pelayanan ialah kesaksian warta gembira. Kesaksian harus berlangsung dalam pengabdian dan membawa umat memasuki persekutuan dalam Tuhan. Semua orang kristen bertanggung jawab bersama untuk membina diri sebagai jemaat dengan cara serba berbeda menurut situasi hidup dan kurnia atau pelayanan mereka (Hardawiryana, 1976: 18).

2. Pelayanan dalam Arti Umum

Arti kata “melayani” menunjuk pada sikap perbuatan melayani atau dengan kata lain perbuatan dalam menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain. Dengan arti seperti di atas maka penulis dapat memberikan gambaran bahwa dalam pelayanan ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu tahu secara pasti siapa yang dilayani, sarana prasarana yang dibutuhkan sehingga orang yang dilayani

betul-betul mendapatkan apa yang dibutuhkan. Orang yang melayani diandaikan orang yang sudah mempunyai pengetahuan khusus atau memiliki kharisma mengenai pelayanan. Sesuai dengan situasi di atas maka pelayanan juga mempunyai warna yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan lingkungannya (Poerwadarminta, 1976: 573). Pelayanan merupakan suatu pengabdian yang menuntut dari pelayan itu suatu keiklasan untuk melaksanakan dan diandaikan mempunyai kharisma sebagai ungkapan roh yang menghidupkan. Demikianlah Hardawiryana mengemukakan pendapatnya seperti dikutip sbb.

Pelayanan ialah bentuk pengabdian tertentu diamalkan secara agak tetap, diakui dalam lingkup jemaat tertentu. Maka sifatnya lebih resmi daripada amal baik bagi sesama begitu saja. Tetapi tak sedikit pula orang beriman yang menjalankan pengabdian tanpa pengakuan resmi itu. Setiap pelayanan mengandaikan suatu kurnia atau kharisma, sebab pada hakekatnya ialah ungkapan Roh yang menghidupkan dan menggerakkan para anggotanya (Hardawiryana, 1976: 14).

Dari kutipan di atas pelayanan tidak menuntut balas dari orang yang telah dilayani. Melayani lebih dihayati sebagai suatu panggilan hidup sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus sendiri. Bila pelayanan dihayati sebagai suatu panggilan, maka pelayanan tidak dianggap sebagai suatu beban yang berat tapi dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dan menyucikan diri sendiri. Dalam hal ini dituntut suatu kesadaran dan kerelaan yang besar untuk ikut ambil bagian meringankan beban orang yang menderita tanpa mengharapkan suatu imbalan yang menguntungkan diri sendiri.

Pelayanan merupakan suatu kegiatan khusus yang didukung oleh Gereja, yang mengungkapkan kehadiran Allah dalam situasi manusiawi serta menguatkan hidup lebih penuh dalam misteri Allah, dalam persekutuan dengan Allah dan manusia. Dengan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan mempunyai

unsur memuliakan Allah dengan memperhatikan sesama lebih serius lewat pelayanan, baik dalam kelompok masyarakat maupun dalam kelompok Tarekat masing-masing dan melihat Allah dalam diri orang-orang yang dilayani. Definisi yang diberikan ini menghindari pengertian pelayanan secara fungsional atau relasional saja, meskipun pada akhirnya pelayanan membuka diri manusia terhadap kenyataan relasional, persekutuan manusia dengan Allah dan sesama dengan demikian semuanya membawa konsekuensi (Hardawiryana, 1976: 15).

3. Pelayanan Menurut Injil

Kitab Suci merupakan sumber dasar pelayanan bagi orang Kristen. Guru satu-satunya yang mereka ikuti adalah Yesus melalui pengajaran dan tugas pelayanan-Nya. Ia memberi contoh bagaimana melayani tanpa membedakan pribadi, kelompok dari segala tingkat dan latar belakang sosial terutama mereka yang miskin dan sakit, kaum wanita dan anak-anak (Luk 4:18-19). Maka pada kesempatan ini akan diuraikan beberapa pelayanan menurut Kitab Suci terutama dalam keempat Injil.

a. Pelayanan Menurut Injil Matius

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan” (Mat 23:11) Matius berbicara seperti itu bermaksud untuk menghindarkan orang dari kesombongan, orang yang kaya mempunyai kecenderungan jatuh pada kesombongan maka untuk mengatasi hal tersebut Matius menyarankan yang terbesar menjadi pelayan bagi sesama. Yesus melarang murid-murid-Nya memakai gelar kehormatan, karena di Palestina gelar kehormatan merupakan tanda kebanggaan dan kurang hormat kepada Allah. Seperti gelar rabbi karena hanya Yesus satu-satunya guru,

Bapa, gelar ini hanya untuk Allah. Pemimpin yang meniru Yesus harus menjadi hamba jemaat. Hal ini sudah dilakukan oleh Yesus sendiri ketika ia membasuh kaki para murid. Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani ini membedakan dirinya dengan penguasa yang ada di dunia, yang “menjalankan kuasanya dengan keras” (Mrk 10:42) Yesus melakukan pelayanan tanpa mengharapkan balas jasa dari orang lain, berani berkorban dalam segalanya. Hanya Yesus yang memberikan teladan dan pesan kepada manusia dan bila dilakukan akan mengubah seluruh hidup manusia. Yesus tidak pernah memandang orang lain lebih rendah dari diri-Nya. Itulah sikap yang diharapkan oleh Yesus dari murid-murid-Nya. Setiap pelayanan mengandaikan orang menjadi kecil (Mat 23:11) pemusatan ditujukan pada orang lain yang dilayani, seperti seorang ibu memusatkan perhatiannya kepada kebutuhan si anak, guru memusatkan pada kebutuhan murid, maka dimana seorang pemimpin mencari untung menyalahi etika pelayanan. Berbeda dengan kekuasaan yang ada di dunia ini yang masih memikirkan untung dan rugi dalam melakukan pelayanan (Bergant & Karris, 2002: 68).

Pertanyaan mengenai status dalam kerajaan yang akan datang dalam (Mat 20: 20-28) yang dilakukan oleh ibu Yohanes dan Yakobus, supaya anaknya mendapat tempat terhormat dalam kerajaan. Yesus menjawab, bila ingin mengambil bagian dalam Kerajaan-Nya mereka harus mengambil bagian meminum cawan kesengsaraan, dan bukan hak-Nya untuk menempatkan seseorang pada tempat yang terhormat dalam kerajaan. Yesus menggunakan kesempatan kemarahan para murid (Mat 20:24) untuk menerangkan dan mengajar mengenai pelayanan kepada orang lain sebagai jalan untuk menjadi pemimpin dalam jemaat-Nya. Kepemimpinan dipandang sebagai kekuasaan menurut pola orang kafir, yaitu memerintah dengan kekerasan

dipertentangkan dengan kepemimpinan menurut pola Yesus, hamba dari semua, sebagai pelayan yang berani mengurbankan diri demi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:25-27) gambaran tentang pelayanan kepada orang miskin merupakan pelayanan kepada Yesus sendiri. Hal itu mendorong banyak orang melakukan pelayanan (Mat 25:45) “sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukan juga untuk Aku” (Bergant & Karris, 2002: 71).

Matius mengajak semua orang untuk belajar rendah hati seperti Yesus dalam pelayanan-Nya, Ia merendahkan diri tidak menggunakan status-Nya sebagai anak Allah untuk menjadi pelayan. Dengan meninggalkan status-Nya Ia bisa mengambil bagian secara penuh dalam pelayanan umatnya, ikut merasakan, menyentuh dan mengalami sepenuhnya yang dirasakan oleh umatnya sehingga pelayanannya total kepada manusia. Demikian juga yang diharapkan dalam pelayanan para suster hendaknya mereka berani meninggalkan hak istimewanya sebagai seorang suster dan berani merendahkan diri untuk menjadi seorang pelayan yang total seperti yang telah diteladankan oleh Yesus sendiri.

b. Pelayanan Menurut Injil Markus

Gambaran tentang pelayanan terdapat dalam kitab Suci antara lain: Markus yang memberi gambaran tentang pelayanan yang diberikan oleh Yesus Kristus bagi kita bahwa kedatangannya ke dunia “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberitakan bahwa nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45) Yesus mengajak semua orang Kristen sebagai pengikutnya untuk menjadi hamba seperti yang sudah dilakukanNya, untuk menjadi yang pertama dan

terbesar adalah melayani kebutuhan semua orang seperti yang dilakukan oleh Yesus tanpa membedakan satu dengan yang lainnya (Bergant & Karris, 2002: 102).

Pesan Markus menjadi pemimpin berarti melayani kebutuhan saudara-saudara apapun yang mereka butuhkan. Bahkan untuk menunjukkan kerelaan-Nya yang luar biasa, tanpa mengingat lelah dan kebutuhan istirahat pribadi, semua disisihkan untuk pelayanan istimewa, karena Ia merasa tergerak hati-Nya (Mrk 6: 30-34) para murid Yesus ditarik oleh contoh dan teladan Yesus untuk ikut melayani bersama Dia. Mengikuti Yesus berarti melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus sendiri yaitu menjadi pelayan yang rendah hati (Bergant & Karris, 2002: 102).

Apabila seseorang ingin menjadi orang besar, itu hal yang biasa tidak aneh, justru merupakan tanda yang baik bahwa manusia berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Yang menjadi masalah ialah cara yang ditempuh oleh manusia itu baik atau buruk. Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya (Mrk 9:35). Bila seseorang mengikuti Yesus ia harus melakukan apa yang diajarkan oleh Yesus. Cara yang dilakukan dan diajarkan Yesus ialah menjadi pelayan. Petunjuk menjadi pelayan itu juga diberikan kepada kedua belas Rasul pilihan Yesus sendiri. Mereka diharapkan meniru cara Yesus menjadi pelayan dan harus menguasai cara Yesus berkarya, karena mereka akan menjadi teladan bagi anggota Gereja yang lainnya (Leks, 1987: 142).

Kata pelayan sendiri oleh kedua belas rasul sudah tidak menarik lagi mengingat bahwa mereka mempunyai hak istimewa sebagai seorang Rasul pilihan Yesus sendiri. Bukankah nasib mereka harus baik? Bukankah mereka patut menerima hormat dan yang lainnya. Namun semua pikiran itu menurut Yesus tidak pada

tempatnya, karena orang yang patut mendapatkan hormat ialah mereka yang melaksanakan pelayanan dengan tulus (Leks, 1987: 142).

Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, bukan aku yang disambut-Nya, tetapi Dia yang mengutus Aku (Mrk 9:37). Adegan itu disaksikan oleh para Rasul, sebab adegan itu tak lazim bagi bangsa Yahudi. Mereka cinta pada anak-anak dan memandang mereka sebagai bukti berkat Allah, pemberi hidup. Tetapi bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa selama manusia masih anak, ia tidak berperan sama sekali dalam masyarakat. Anak adalah urusan orang tuanya, tidak mempunyai hak apa-apa dan tidak berarti (Leks, 1987: 143).

Apa yang disaksikan oleh mereka ketika Yesus memeluk anak dan begitu mementingkannya, mereka terheran-heran. Dalam hal ini maksud Yesus sudah cukup jelas. Para Rasul harus menyambut anak, mereka harus mementingkan anak-anak yaitu orang-orang yang sama sekali tidak pernah dipentingkan dunia. Siapa anak semacam itu ialah semua orang yang tidak mempunyai uang, tidak berpangkat, yang diremehkan masyarakat. Dengan menyambut anak-anak itu rasul akan belajar untuk melayani. Dengan melayani rasul akan menjadi terbesar, sesuai dengan keinginan hatinya sendiri (Leks, 1987: 143).

Injil memberikan gambaran yang disebut orang kecil itu ialah mereka yang dianggap tidak berarti oleh kebanyakan orang, mereka tidak terpelajar, tidak berkedudukan, tidak berpangkat, agak bodoh, kurang pandai bicara, kurang berani, tidak mampu memberla diri. Sering kali mereka dianggap rendah oleh mereka yang tidak menganggap diri tidak rendah. Yesus sendiri mengatakan, “Ingatlah jangan menganggap rendah seorang dari mereka yang kecil ini!” (Mrk 18:10). Yesus lebih

mementingkan soal hati, tetapi orang Yahudi tidak mementingkan hal batiniah, mereka berpikiran sangat konkrit. Kalau Yesus mengatakan jangan menganggap rendah orang kecil Ia melihat luka hati orang yang direndahkan itu dan itu tidak sesuai lagi dengan pelayanan yang murah hati (Leks, 1987: 155).

Pelayanan diibaratkan juga seperti gembala yang mencari domba yang sesat. Seorang gembala itu penuh prakarsa dan penuh perhatian demikian juga bila orang melayani hendaknya penuh prakarsa yang memberdayakan orang yang dilayani. Perumpamaan gembala yang mencari domba satu yang sesat itu merupakan hal yang aneh. Karena kebanyakkan orang akan berkata biarlah yang satu sesat asal yang lain tidak, tetapi Yesus justru mengajarkan hal lain, Ia tidak membiarkan yang satu itu hilang. Dari perumpamaan ini jelas bahwa gembala yaitu orang yang memimpin dan bertanggung jawab atas kawanan domba harus berdaya upaya untuk mencari domba yang sesat. Inilah ajaran pelayanan yang memperhatikan hati. Domba yang sesat denga dicari oleh gembalanya akan merasa dirinya diperhatikan dan tidak dianggap remeh tapi ia merasa dihargai secara nyata. Seorang pelayan harus bisa mengadakan pendekatan secara manusiawi kontak dari hati ke hati (Leks, 1987: 158).

Pelayanan yang digambarkan oleh Injil Markus antara lain mendesak setiap orang supaya belajar dari Yesus tentang makna radikal menjadi seorang murid sekarang ini seperti tidak ada hari esok. Setiap orang harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk melayani orang lain dalam kasih bila mereka ingin menjadi pengikut-Nya, hal itu menjadi salah satu kekhasan pesan Markus.

c. Pelayanan menurut Injil Lukas

yang bersifat praktis seperti yang dilakukan oleh Marta (Luk 10:40) tetapi bagaimana secara pribadi kita mempunyai keterikatan yang mendalam secara pribadi akan Yesus ada waktu untuk mendengarkan SabdaNya (Luk 10:39) Karena tanpa doa perhatian kebutuhan orang lain dapat bukan kasih. Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati dan cerita mengenai Marta dan Maria dimaksudkan untuk memberikan ilustrasi ganda tentang pelayanan, tidak ada pertentangan antara pilihan Marta dan Maria, sebab keduanya saling melengkapi, kisah ini tidak bermaksud mempertentangkan pelayanan dan doa atau bahkan hidup aktif dengan hidup kontemplatif. Di sini mau dikatakan bahwa mendengarkan sabda Tuhan merupakan cara melayani Tuhan yang lebih tepat dan lebih perlu daripada memenuhi kebutuhan jasmaninya secara berlebihan (Leks, 2003: 304). Orang hendaknya menyambut Tuhan dengan memberikan segala perhatian pada sabda-Nya, berguru pada-Nya, belajar dari-Nya. Orang Samaria menekankan kasih kepada sesama, tindakan Maria menekankan kasih kepada Tuhan (Luk 10:38-42). Yesus memberi pengarahan tentang pelayanan, membagi perhatian dan waktu untuk Allah demi sesama dan melayani sesama demi Tuhan. Yesus sebagai Tuhan dan sesama menilai dan menginginkan pelayanan yang sejalan, seimbang menurut kepentingan pada saat itu (Bergant & Karris, 2002: 136).

Dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) memberikan gambaran yang lengkap mengenai pemuridan Kristen dalam istilah kasih kepada sesama yaitu pelayanan dan kasih kepada Yesus. Keduanya digabungkan untuk melukiskan jalan kepada kehidupan kekal. Sebagai suatu perumpamaan, cerita mengenai orang Samaria yang baik hati dimaksudkan untuk menentang suatu pola pikir yang salah tetapi diterima, yaitu orang Samaria sebagai anggota yang dihina

dan dicemooh oleh orang-orang Yahudi melakukan pelayanan kasih yang dihindari oleh para pemimpin agama Yahudi. Cerita ini memberikan suatu contoh perbuatan kasih suatu pemenuhan perbuatan perintah kasih. Sementara orang Lewi dan para Imam mengetahui secara jelas mengenai hukum Taurat dan bagaimana menafsirkannya bagi orang lain tetapi mereka tidak mempunyai tujuan yang mendalam sementara orang Samaria dengan melaksanakan kasih menunjukkan bahwa ia mengetahui hukum (Bergant & Karris, 2002: 135).

Disisi lain perumpamaan ini dibuat oleh Yesus untuk mengejutkan pendengarnya yang bertanya siapakah yang disebut sesama manusia, orang yang berada dalam keadaan setengah mati, terkapar, dan jadi korban perampokan itu adalah orang Yahudi (Luk 10:30). Imam dan orang Lewi yang melihat orang itu tetapi tidak menolongnya adalah sesama orang Yahudi, bahkan orang-orang yang biasanya dianggap teladan oleh masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang hari-harinya berkecimpung dalam dunia agama tetapi tidak menolong, dan orang Samaria yang lewat adalah musuh bebuyutan orang Yahudi. Dengan pertanyaan itu sebenarnya para ahli Taurat itu sudah tahu siapa sebenarnya sesamanya itu dan pertanyaan itu untuk mencobai Yesus. Tetapi Yesus memberi kejutan dan mengajak orang untuk masuk kedalam dunia lain sehingga orang sadar bahwa ia belum tahu apa-apa. Yesus memberi tekanan bahwa disini musuh bersedia menolong, sedangkan bangsa sendiri tidak menolong (Luk 10:33). Yesus mau menunjukkan bahwa yang dimaksud sesama ialah siapa saja yang menunjukkan belas kasihan dan menolong pada saat yang dibutuhkan. Bukan hanya untuk satu golongan saja manusia berbuat kasih tetapi manusia juga harus melakukan kasih seandainya musuh memerlukan bantuan (Luk 10:34), mereka harus dengan rela hati melakukannya, dengan kata lain

bahwa bila manusia melayani bukan terbatas pada golongan sendiri tetapi harus juga melampui batas golongan yang didasarkan atas kasih (Bergant & Karris, 2002: 135).

Perumpamaan lewat pertanyaan siapakah di antara ketiga orang itu, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?, hal itu mau menyadarkan kita bahwa sesama ialah orang yang mendekati manusia lain sambil menolongnya. Bila seseorang sungguh-sungguh mengasihi, ia tidak memerlukan dan tidak minta definisi sesama. Ia tidak pernah bertanya-tanya siapa, bagaimana, kapan, di mana seseorang harus dikasihinya. Kasih tidak mungkin diresepkan dan orang yang mengasihi paling menyadarinya (Leks, 2003: 294).

Lukas mempunyai kecenderungan untuk menonjolkan kelembutan hati, belas kasih Kristus terhadap orang miskin, itu sangat cocok untuk pelayanan masa kini, Lukas sering menggunakan perumpamaan dalam mengajar supaya mudah masuk kepada umat yang dilayaninya dan Lukas selalu menunjukkan rasa belas kasih dan pengampunan dalam pelayanannya.

d. Pelayanan menurut Injil Yohanes

Yohanes memberikan contoh ketaatan Yesus menjadi model pelayanan karena dalam melaksanakan kehendak-Nya Yesus tidak mengandalkan kesamaanya dengan Allah. Dari teladan itu Yesus ingin mengajar kepada pengikutnya untuk melakukan hal yang sama, dan yang jelas supaya umatnya tidak sombong. Yohanes juga menekankan bahwa makanan Yesus adalah pemenuhan kehendak Allah. Bagian dari kehendak itu adalah karya missioner dalam ladang yang sudah siap untuk dipanen. “makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya” (Yoh 4:34).

Panggilan untuk melayani merupakan ciri khas sebagai orang Kristiani untuk melaksanakan perintah Yesus saling mengasihi sebagaimana dalam kutipan ini “supaya saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:21) dengan sendirinya bila Allah menghendaki umatnya melakukan pelayanan sebagimana di kehendaki maka Allah akan memberikan rahmat dan kemampuan untuk melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya. Jadi dengan kata lain Allah tidak akan membiarkan umatnya berjalan tanpa bimbingan-Nya (Bergant & Karris, 2002: 145).

Adegan pembasuhan kaki yang terdapat dalam (Yoh 13:1-30), memiliki makna bahwa Yesus melakukan pekerjaan seorang hamba, demikian juga murid-murid-Nya harus saling melayani. Meskipun pelayanan yang dilakukan oleh Yesus tidak dimengerti oleh para murid dan baru dipahami setelah Yesus tidak ada. Pembasuhan kaki sebenarnya mempunyai beberapa makna yaitu melambangkan kematian Yesus sebagai hamba, untuk dapat ambil bagian dalam kematian Yesus syaratnya harus melalui baptis. Untuk itulah kita dibaptis dalam kematian Yesus harus meniru teladan-Nya untuk mengadakan pelayanan kepada sesama sebagaimana telah dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri (Bergant & Karris, 2002: 188).

Ajaran Yohanes sering berupa wejangan yang bersifat rohani, Sebagian besar wejangan dikaitkan dengan masa yang akan datang dan pada akhirnya segala ajaran dikaitkan dengan wafat Yesus di kayu salib sebagai lambang kemuliaan-Nya. dalam melaksanakan pelayanan, ia sering menggambarkan kedekatannya dengan Yesus yang hidup di tengah-tengah muridnya, untuk memberi gambaran bahwa Bapa tidak jauh dari manusia dan mudah didekati (Jaubert, 1980: 7).

4. Pelayanan Yesus sebagai Model Pelayanan Gereja

Pelayanan bukan suatu rumusan yang sudah jadi dan serba jelas segala artinya. Banyak orang sedang mempelajari bahkan para teolog sedang mempelajari latar belakang biblis serta perkembangan historis dari faham itu. Titik tolak paling tepat adalah pelayanan dari Yesus. Dalam Yesus manusia menemukan pola dasar segala bentuk kerasulan dan pelayanan. Kehidupan Yesus menunjukkan bagaimana Dia memahami perutusan-Nya serta melaksanakan. Untuk bisa melihat bagaimana keempat Injil ini memberikan terangnya dalam pelayanan maka bisa dilihat seperti yang ada di bawah ini. Pelayanan terjemahan dari kata Yunani, diakonia, dalam dunia

Dokumen terkait