BAB II. GAMBARAN UMUM TENTANG PELAYANAN PARA SUSTER
A. Pelayanan Serikat Puteri Kasih di Indonesia
1. Pendirian Serikat Puteri Kasih
Abad XVII di Perancis dikenal sebagai ‘le grand siècle’ yaitu abad yang agung, karena pada abad itu Perancis mengalami masa yang cemerlang dalam bidang politik, militer, sastra, seni, serta filsafat. Pada masa itu Perancis berhasil menggeser Spanyol sebagai negara adikuasa dalam percaturan politik Eropa. Tetapi pada saat itu rakyat Perancis sangat menderita , suatu keadaan yang sangat memprihatinkan. Di satu sisi Perancis berhasil dalam bidang tertentu tetapi di sisi lain rakyat mengalami kemiskinan yang luar biasa, karena penyakit pes, bencana alam yang menghancurkan penghasilan petani, struktur masyarakat yang sangat menekan orang kecil, dan terutama perang yang berkepanjangan merupakan sumber derita yang tak terkatakan (Paulo, 2001: 18).
Pada abad itu Allah memanggil Vinsensius de Paul sebagai bapak orang miskin. Vinsensius memandang orang-orang miskin yang penuh luka dan derita itu sebagai majikan. Karena dalam diri orang-orang miskin Vinsensius melihat Kristus sendiri. Bagi dia melayani orang miskin sama dengan melayani Kristus. Maka karya bagi orang miskin dipandang sebagai lanjutan doa dan cinta kepada Tuhan yang berpadu dengan cinta kepada orang kecil (Paulo, 2001: 18).
Setelah melihat orang miskin banyak yang menderita, pada pertengahan tahun 1617 Vinsensius meninggalkan istana keluarga de Gondi dan menjadi pastor di paroki Chàtillon-les-Dombes (Lyon). Di tempat inilah Vinsensius mendapat pengalaman yang luar biasa sehingga mendorong dia untuk membentuk
“Persaudaraan Kasih” yang pada akhirnya akan menjadi sebuah perkumpulan yang terus berdiri sampai sekarang. Untuk membentuk perkumpulan Persaudaraan Kasih ini, Vinsensius bekerja sama dengan Louisa de Marillac. Akhirnya perkumpulan itu berkembang menjadi Serikat Puteri Kasih. Vinsensius mendirikan Serikat Puteri Kasih pada 29 November 1633. Serikat inilah yang menjadi pendukung utama segala karya yang dibuat oleh Vinsensius. Akhirnya perkumpulan ini berkembang pesat ke berbagai penjuru dunia. Sampai saat ini Serikat Puteri Kasih melayani 94 negara, dengan anggota kurang lebih sekitar 21.000 orang suster yang menangani berbagai macam karya pelayanan terhadap orang-orang miskin (Román, 1993: 36-61).
2. Serikat Puteri Kasih di Indonesia
Serikat Puteri Kasih datang dari Belanda ke Indonesia pertama kali pada 14 November 1931. para suster yang datang pertama di Indonesia antara lain: Sr. Andrea van de Laak, Sr. Henriette Auerbach, dan Sr. Amelia Kerhofs. Mereka datang atas undangan Mgr. Dr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik pertama Surabaya. Para suster diminta untuk menangani anak-anak di Panti Asuhan Don Bosco yang sudah dirintis oleh romo Ter Veer CM. Rumah pertama berada di Jl. Ngemplak no. 8 Surabaya. Dengan bertambahnya anak yang dilayani maka pada tahun 1937 mereka pindah di Jl. Prinsesselaan (Jl. Tidar) sampai sekarang. Dan pada tahun-tahun berikutnya para suster Puteri Kasih melebarkan sayapnya ke berbagai kota secara khusus di Jawa Timur. Pada tahun 1934 Puteri Kasih datang di Kediri atas permintaan Romo H. Van Megen, CM, mereka pada berkarya di bidang pendidikan dan asrama untuk anak-anak perkebunan dari luar kota. Akhirnya karya berkembang menjadi besar. Komunitas Kediri menjadi rumah pusat dan menjadi
rumah pendidikan bagi para suster Puteri Kasih di Indonesia (Serikat Puteri Kasih, 1991: 1-3).
Setelah dari Kediri para suster Puteri Kasih melebarkan sayap ke Garum Blitar pada 19 Juli 1962 atas permintaan Mgr. J. Klooster CM. Karya yang ditanganai oleh para suster Puteri Kasih ialah melayani rumah tangga Seminari menengah, karya kesehatan dan sosial (Serikat Puteri Kasih, 1991: 3).
Pada 1 Januari 1965 para suster Puteri Kasih membuka rumah penampungan lansia yang menjadi bagian dari rumah pusat Kediri. Sekarang dikenal sebagai Panti Werda tepatnya berada di Dandangan Kediri. Karya para suster berikutnya berada di kota Bojonegoro yang menangani anak-anak asrama (Serikat Puteri Kasih, 1991: 4).
Pada 3 Desember 1969 para suster Puteri Kasih datang di Tulungagung untuk mengelola sekolah, sempat ditutup karena kekurangan tenaga, namun setelah dibuka kembali karya para suster semakin berkembang ke pelayanan sosial, kesehatan, pelayanan kepada pengemudi becak dan bidang pastoral lainnya (Serikat Puteri Kasih, 1991: 5)
Pada 15 Maret 1972 para suster Puteri Kasih melayani orang miskin di Tuban. Karya yang ditangani oleh para suster ialah bidang sosial tetapi akhirnya ditutup karena kekurangan tenaga. Pada 1 November 1973 para suster Puteri Kasih masuk di Cepu. Karya Pelayanan meliputi: pendidikan, poliklinik dan karya sosial. Cepu merupakan tempat para suster misionaris dari Italia datang untuk pertama kali dan mulai berkarya, di bidang pendidikan, kesehatan dan karya sosial (Serikat Puteri Kasih, 1991: 6).
Pada 1 Agustus 1977 para suster Puteri Kasih mengajukan permohonan untuk mendirikan rumah studi di Malang. Maksud pendirian rumah itu untuk melayani
orang miskin terutama di bidang kesehatan, pendampingan tuna wisma dan bidang sosial (Serikat Puteri Kasih, 1991: 6).
Pada 7 Agustus 1987 para suster Puteri Kasih mulai melangkah ke Jakarta Utara tepatnya di Cilincing. Para suster berkarya di bidang sosial, terutama pelayanan bagi para buruh nelayan (Serikat Puteri Kasih, 1991: 7).
Pada 6 Agustus 1988 para suster Puteri Kasih membuka rumah di Tanjungsari Surabaya untuk melayani para pemulung, meskipun pada akhirnya rumah inipun ditutup. Pada 25 Januari 1991 para suster Puteri Kasih meresmikan rumah Pohsarang sebagai rumah retret sekaligus melaksanakan karya sosial. Pada 27 Maret 1994 para suster Puteri Kasih meresmikan rumah untuk lansia yang berada di Surabaya. Letak rumah itu berada di sebelah komunitas don Bosco(Serikat Puteri Kasih, 1991: 8-9).
Pada 28 Maret 1995 para suster Puteri Kasih melangkahkan kaki ke pulau Kalimantan Selatan dengan pelayanan mengelola rumah untuk lansia dan karya sosial. Pada 1 Maret 1997 para suster melebarkan pelayanan ke Batulicin dengan pelayanan di bidang sosial dan pastoral. Pada 27 September 1998 para suster melangkah lebih jauh lagi di Wamena Papua dengan pelayanan untuk misi kemanusiaan karena bencana kelaparan. Selain itu para suster Puteri Kasih melayani bidang sosial seperti bantuan pengobatan, mengajar hidup sehat dan mengajar di sekolah dasar. Tetapi akhirnya rumah ini ditutup, karena situasi yang sulit adanya bentrok berdarah antara penduduk asli dan pendatang, maka pelayanan diserahkan kepada para romo Fransiskan. Pada 23 April 1999 para suster Puteri Kasih membuka rumah baru di Warakas Jakarta Utara untuk memberikan pelayanan kepada pemulung dan anak-anak miskin (Serikat Puteri Kasih, 1991: 10-12).
Demikianlah Serikat Puteri Kasih terus berkembang hanya karena penyelenggaraan Ilahi. Di mana ada orang miskin membutuhkan uluran tangan di situlah para suster akan memberikan pelayanan. Sampai sekarang banyak rumah didirikan dengan misi utama untuk melayani orang-orang miskin.
3. Serikat Puteri Kasih sebagai Serikat Hidup Apostolik
Serikat Puteri Kasih diakui oleh Gereja sebagai suatu serikat kepausan pada 8 Juni 1668. Dalam Kitab Hukum Kanonik, Serikat Puteri Kasih berada dalam jajaran serikat-serikat hidup kerasulan:
Kan. 731 - § 1. Di samping tarekat-tarekat hidup bakti masih ada serikat-serikat hidup kerasulan, yang anggota-anggotanya tanpa kaul religius mengejar tujuan kerasulan yang khas bagi serikat, dan dengan menghayati hidup persaudaraan dalam kebersamaan menurut gaya hidup khas mereka, mengarahkan kepada kesempurnaan cintakasih dengan mentaati konstitusi
§ 2. Di antara serikat-serikat itu terdapat serikat-serikat yang anggota-anggotannya menghayati nasehat-nasehat injili dengan suatu ikatan yang ditentukan dalam konstitusi (KHK, kan. 731).
Konstitusi serikat Puteri Kasih menerangkan bahwa: “Serikat Puteri Kasih merupakan Serikat Hidup Kerasulan dalam komunitas, yang menerima Nasihat-nasihat Injili yaitu menghayati kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan serta melayani orang miskin secara jasmani dan rohani, melalui suatu ikatan yang ditentukan oleh Konstitusi” (Konst, no. 1.13).
Para suster Puteri Kasih bukanlah biarawati, bukan pula anggota lembaga sekular, tetapi mereka menghayati kondisi khusus sebagaimana ditentukan oleh Konstitusi-konstitusi Serikat Puteri Kasih dari St. Vinsensius à Paulo antara lain: hidup dalam ikatan dalam bentuk kaul-kaul (Konst, no. 1.4). Kaul ini berakar pada misteri Gereja sehingga kaul dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi, kaul sebagai
sumber kekuatan dalam pelayanan sehingga Puteri Kasih di dalam Gereja menyerupai lembaga Hidup Bakti tanpa menjadi identik dengan mereka, meskipun para suster Puteri Kasih menjalani hidup bersama, mengucapkan kaul-kaul dan mentaati konstitusi. Dengan kekhususan itu para Puteri Kasih dimungkinkan untuk menjadi dirinya sendiri dengan kharisma dan spiritualitas yang dimilikinya dan yang diakui oleh Gereja.
Anggota Serikat Puteri Kasih tidak mengucapkan kaul religius seperti para biarawan-biarawati pada umumnya, karena kaul yang diucapkan oleh Suster Puteri Kasih bersifat privat, artinya tidak diterima oleh seorang pemimpin resmi yang mewakili Gereja, dalam hal ini adalah Uskup setempat. Kaul privat diperbaharui setiap tahun secara privat pula. Dalam Serikat Puteri Kasih bukan kaul yang membuat anggotanya menjadi suster Puteri Kasih, karena menjadi Puteri Kasih sudah terjadi sebelum mengikrarkan kaul untuk pertama kalinya, ketika mereka masuk masa novisiat/masa seminari (Konst, no. 2.5).
Istilah kaul yang berlaku untuk satu tahun dan selalu dapat diperbaharui, tidak berarti kaul itu berlaku sementara atau untuk waktu tertentu. Istilah itu berarti bahwa pemberian diri kita secara total kepada Allah dalam Serikat, senantiasa diperdalam dan diperbaharui secara dinamis dan terus menerus supaya tetap aktual. Kaul diikrarkan tidak sebagai syarat untuk menjadi Puteri Kasih (karena sudah menjadi Puteri Kasih sejak seseorang masuk ke seminari/novisiat), tetapi kaul diucapkan karena mereka ingin menjadi Puteri Kasih yang semakin sejati dari hari ke hari (Konst, no. 2.5).
Istilah “Hidup Kerasulan” selalu menunjuk pada murid yang berkumpul di sekitar Yesus, yang diutus ke misi, dan yang hidup seperti dilukiskan dalam Kisah
Para Rasul 2:42-47; 4:32-35; 5:12-16. Santo Vinsensius sering membandingkan hidup para Puteri Kasih dengan hidup para Rasul sedemikian rupa sampai berkata bahwa mereka adalah “rasul-rasul cinta kasih”. Cinta kasihlah yang mendorong kerasulan atau hidup mereka. Dan para pendiri menggarisbawahi kewajiban mereka untuk mengejar kesempurnaan status mereka. Tiada perbuatan cinta yang lebih besar dari pada memberikan diri sendiri secara menyeluruh menurut status dan jabatan demi keselamatan dan membantu mereka yang terabaikan (Konst, no. 1.4).
Para pendiri menegaskan bahwa berjuang sendirian melawan godaan ketidak-murnian membawa serta bahaya akan kehilangan panggilan. Maka suster Puteri Kasih hidup dalam suatu komunitas persaudaraan yang menghantar para suster ke suatu hidup penuh persaudaraan dengan saling mewujudkan cinta Kristus, saling mengadakan hubungan persaudaraan sejati dalam suasana kebenaran, kepercayaan, kegembiraan, saling memberi dan menerima, serta tahu menempatkan apa yang dimiliki untuk melayani semua, tidak ekslusif hanya berteman dengan orang tertentu saja dan tidak mau dengan orang lain dalam bersaudara. Mereka perlu menjaga keseimbangan dalam acara komunitas untuk menghidari kelesuan fisik dan mental yang sering memberi kesempatan kepada datangnya godaan melawan kemurnian, mereka perlu cukup waktu untuk istirahat, rekreasi bersama, berdoa, saat hening, dan kesendirian (Konst, no. 2.17).
4. Visi dan Misi Serikat Puteri Kasih Indonesia
Didorong oleh cinta kasih Kristus (2 Kor 5:14) yang hadir dalam diri orang miskin (Mat 25:31-46) yang dihayati oleh St. Vinsensius dan St. Louisa, maka para
suster Puteri Kasih di Indonesia merumuskan suatu Visi dan Misi yang diinspirasikan dari Konstitusi-konstitusi Serikat Puteri Kasih dari St. Vinsensius à Paulo.
a. Visi Serikat Puteri Kasih Indonesia
Untuk membantu terwujudnya suatu pelayanan seperti yang diinginkan oleh para pendiri maka Serikat Puteri Kasih menuangkan dalam visi, untuk menangkap dan memahami kharisma pendiri, rumusan visi seperti tertulis sbb.
Puteri Gereja yang menghayati semangat Vinsensian dalam Serikat Hidup kerasulan yang missioner, meneladan Bunda Maria dalam memberi diri secara total kepada Allah (Konst, no. 1.13).
Hidup dalam komunitas persaudaraan melayani Kristus dalam diri orang miskin dengan rendah hati, sederhana dan penuh kasih (Konst, no. 2.17). Dalam budaya Indonesia mewujudkan persaudaraan sejati serta dialog dalam masyarakat majemuk (Serikat Puteri Kasih, 1991: 14).
Suster Puteri Kasih adalah sebagai Puteri Gereja, yang menunjuk pada keterlibatan para suster Puteri Kasih dalam misi universal Gereja, yaitu membawa keselamatan yang disesuaikan dengan kharisma pendiri. Membawa misi Gereja sesuai dengan kharisma pendiri dengan menjadi pelayan orang miskin. Supaya pelayanan yang dilakukan oleh para suster Puteri Kasih lebih efektif maka mereka hidup dalam suatu komunitas persaudaraan. Suatu komunitas yang menjadi suatu tempat menimba kekuatan di saat para anggota mengalami tantangan dan kelelahan setelah bekerja. Hal itu menjadi ciri khas dari Serikat Hidup Kerasulan. Karena mengejar kesempurnaan kasih adalah ciri khas setiap orang Kristiani (LG, art. 39-40), maka para suster Puteri Kasih mengejar kesempurnaan itu lewat pelayanan dengan sikap rendah hati, sederhana, dan penuh cinta.
Serikat Puteri Kasih hidup dan berkembang di daerah Jawa Timur yang mempunyai banyak kebiasaan dan kebudayaan, tidak mudah hidup di tengah
masyarakat yang majemuk, maka sebagai salah satu cara yang dilakukan oleh para suster Puteri Kasih ialah dialog, dan berusaha untuk bisa masuk di berbagai kalangan baik di kalangan orang kaya maupun orang miskin dengan mengikuti cara hidup mereka, maka dengan sendirinya mereka harus menyesuaikan budaya setempat, sehingga mereka tidak merasa asing di mana pun mereka diutus. Para suster Puteri Kasih mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan setempat, pendekatan yang digunakan harus sesuai dengan budaya setempat supaya pewartaan kabar gembira dimengerti dan diamini oleh masyarakat setempat.
b. Misi Serikat Puteri Kasih Indonesia
Sebagai bentuk perwujudan dari visi yang telah dibuat oleh para suster Puteri Kasih maka, mereka menuangkan ke dalam misi. Sebagai arah yang membantu mereka dalam menjalankan perutusannya sebagai pelayan orang miskin, rumusan misi yang ada sbb.
Mewujudkan kontemplasi dalam aksi dan aksi dalam kontemplasi bahkan bila perlu meninggalkan Tuhan untuk Tuhan.
Memperjuangkan martabat manusia dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Melayani orang miskin secara jasmani dan rohani dengan cinta afektif dan efektif, maka pelayanan tidak hanya karitatif melainkan juga pemberdayaan melalui bidang pendidikan sosial kesehatan dan pastoral.
Menanggapi tanda-tanda jaman dan segala macam bentuk kemiskinan baru dengan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.
Membentuk jaringan kerjasama dengan keluarga Vinsensian dan kalangan lain untuk menjadi jembatan bagi orang miskin (Serikat Puteri Kasih, 1991: 14). Untuk melaksanakan visi Serikat Puteri Kasih, maka para suster Puteri Kasih menuangkan tujuan itu dalam rumusan misi sebagai rumusan yang akan diwujudkan dalam tindakan nyata. Maksud dari istilah mewujudkan kontemplasi dalam aksi dan
aksi dalam kontemplasi ialah apa yang didoakan oleh seorang Puteri Kasih itulah yang dilakukan dalam pelayanannya, dan merupakan persembahan hidup yang suci.
Bila orang miskin memerlukan bantuan para suster, maka selama melaksanakan pelayanan itu merupakan saat doa bagi para suster Puteri Kasih, tetapi kegiatan pelayanan tidak boleh menghapus acara doa dalam komunitas. Sebab doa dalam komunitas yang akan meneguhkan persatuan para suster dengan Allah. Selama para suster ada dalam persatuan dengan Allah, tidak ada yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan. Sekarang pertahankanlah persatuan kasih para suster dengan Allah. Para suster harus tetap tinggal dalam suasana batin yang rekolektif, dalam percakapan intim dengan Tuhan (Konst, no. 2.1).
Pernyataan di atas menjelaskan bagaimana posisi para Suster Puteri Kasih dalam melaksanakan misinya. Kalimat “Meninggalkan Tuhan untuk Tuhan” bisa berarti bahwa kontemplasi dan aksi bukan dua hal yang terpisahkan, melainkan satu, dan tidak ada pertentangan antara doa dan karya. Bahwa doa lebih melaksanakan suatu pekerjaan untuk Allah daripada berkarya menjadi pelayan orang miskin. Secara konkrit apabila seorang suster sedang berdoa di kapel dan di luar ada orang miskin yang memerlukan pertolongan, maka dengan semangat doa yang dibawa itulah suster harus keluar menemui dan menolong orang tersebut sebagai perwujudan dari doanya. Melayani orang miskin dihayati secara jasmani dan rohani dengan cinta afektif dan efektif. Cinta afektif adalah cinta yang dihayati secara lembut, cinta yang dirasakan dalam hati. Puteri Kasih hendaknya mencintai secara afektif, artinya dengan penuh kelembutan mengasihi Tuhan, seperti seorang anak mengasihi bundanya. Cinta seperti itu lebih terungkap dalam doa-doa, latihan rohani di mana orang bertemu Tuhan dan mengalami Tuhan sepenuh perasaan. Sedangkan cinta
efektif lebih merupakan cinta yang dinyatakan di dalam aksi. Vinsensius sendiri menegaskan perlunya menghayati cinta efektif dalam karya pelayanan secara nyata, sebab dalam pelayanan secara nyata terdapat kasih yang penuh. Mempraktekkan dan menghayati karya-karya nyata ini merupakan buah yang dihasilkan sesudah orang mengalami sendiri cinta Tuhan (Konst, no. 2.9).
B. MACAM-MACAM PELAYANAN SUSTER PUTERI KASIH DI INDONESIA