BAB VI PEMBAHASAN
E. Gambaran Keberadaan Ikan Pemakan Larva dan
Ikan pemakan larva yang ditemukan pada kolam ikan di Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga adalah mujair, nila dan karper. Gambaran keberadaan ikan pemakan larva tersebut pada rumah yang diteliti dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.3 Keberadaan Ikan Pemakan Larva di Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga Keberadaan Ikan Pemakan Larva Jumlah Persentase (%) Ada 9 27,3 Tidak ada 24 72,7 Total 33 100
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa 24 rumah (72,7%) ditemukan tidak terdapat ikan pemakan larva.
F. Gambaran Jarak Penempatan Kandang Ternak Sapi
Berikut adalah distribusi frekuensi rumah berdasarkan jarak penempatan kandang ternak sapi di Desa Sidareja Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga:
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Rumah Berdasarkan Jarak Penempatan Kandang Ternak Sapi di Desa Sidareja, Kecamatan
Kaligondang, Kabupaten Purbalingga Jarak Penempatan Kandang
Ternak Sapi
Jumlah Persentase (%)
< 10 m dari rumah 5 rumah 15,2
10 - 20 m dari rumah 6 rumah 18,2
21-50 m dari rumah 22 rumah 66,7
Total 33 rumah 100
Berdasarkan tabel di atas diketahui dari 33 rumah yang diteliti sebanyak 22 rumah (66,7%) berada pada jarak 21-50 m dari kandang ternak sapi.
G. Hubungan antara Suhu Udara dengan Kepadatan Nyamuk Anopheles sp di dalam Rumah
Untuk mengetahui hubungan antara suhu udara di sekitar rumah dengan kepadatan nyamuk Anopheles sp dalam rumah dilakukan analisis uji statistik korelasi pearson dengan hasil sebagai berikut :
Variabel Rata-rata SD
Suhu udara 27,57 1,87
Kepadatan nyamuk Anopheles sp
di dalam rumah
0,15 0,32
Hasil uji p = 0,305
H. Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Kepadatan Nyamuk Anopheles spdi dalam Rumah
Hubungan antara kelembaban udara di sekitar rumah dengan kepadatan
Anopheles sp di dalam rumah diketahui dengan melakukan analisis uji statistik korelasi pearson. Hasil analisis tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 5.6 Hubungan antara Kelembaban Udara dengan Kepadatan NyamukAnopheles spdi dalam Rumah
Variabel Rata-rata SD
Kelembaban udara 64,91 13,88
Kepadatan nyamuk Anopheles sp
di dalam rumah
0,15 0,32
Hasil uji p = 0,028
r = 0,382
Kelembaban udara di sekitar rumah ditemukan berhubungan dengan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah. Hal ini dibuktikan berdasarkan uji korelasi pearson didapatkan nilai p = 0,028 (p<0,05). Koefisien korelasi (r) juga didapatkan dengan nilai 0,382 yang artinya ada hubungan sedang ke arah positif yaitu semakin meningkat kelembaban udara maka kepadatan nyamukAnopheles spdalam rumah juga semakin meningkat. Gambaran kelembaban udara di sekitar rumah dan kepadatan nyamuk
Keberadaan Ikan Pemakan Larva KepadatanAnopheles sp Hasil Uji Rata-rata SD Ada 0,00 0,00 p = 0,037 Tidak ada 0,20 0,36
Anopheles spdi dalam rumah. Pada rumah yang tidak terdapat ikan pemakan larva rata-rata kepadatan Anopheles sp di dalam rumah adalah 0,20 ekor/orang/jam.
J. Perbedaan Kepadatan Nyamuk Anopheles sp dalam Rumah Berdasarkan Jarak Penempatan Kandang Ternak Sapi sebagai Cattle BarrierMalaria
Perbedaan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah berdasarkan jarak penempatan kandang ternak sapi sebagai cattle barrier malaria diketahui dengan melakukan analisis uji kruskal wallis. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.8 Perbedaan Kepadatan NyamukAnopheles spdalam Rumah Berdasarkan Jarak Penempatan Kandang Ternak Sapi sebagaiCattle
BarrierMalaria
Kepadatan nyamukAnopheles spdi dalam rumah tertinggi ditemukan pada rumah yang berjarak kurang dari 10 m dari kandang ternak sapi yaitu 0,81 ekor/orang/jam dan terendah pada rumah berjarak 10-20 m dari kandang ternak sapi yaitu 0,02 ekor/orang/jam. Hasil analisis menggunakan uji kruskal wallis didapatkan nilai p yaitu 0,000 (p < 0,05) yang artinya terdapat perbedaan kepadatan nyamukAnopheles spdi dalam rumah berdasarkan jarak penempatan kandang ternak sapi sebagaicattle barriermalaria.
Jarak Penempatan Kandang Ternak Sapi
KepadatanAnopheles sp Hasil Uji Rata-rata SD < 10 m dari rumah 0,81 0,32 p = 0,000 10-20 m dari rumah 0,02 0,05 21-50 m dari rumah 0,03 0,11
63
PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memiliki keterbatasan dalam mengontrol petugas penangkap nyamuk selama 12 jam proses penangkapan. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah petugas setiap malamnya yaitu sebanyak 8 atau 9 petugas. Sehingga peneliti hanya dapat mengontrol petugas penangkap ketika mengunjungi rumah sampel untuk mengisi lembar observasi. Kurangnya kontrol terhadap petugas ini tentunya dapat mempengaruhi jumlah nyamukAnopheles spyang tertangkap di dalam rumah. B. Gambaran SpesiesAnopheles spyang Tertangkap di dalam Rumah
Spesies Anopheles sp yang didapatkan pada penangkapan nyamuk yang dilakukan pukul 18.00-06.00 WIB adalah An. vagus. An. vagus tersebut berjumlah 19 ekor (12 ekor umpan orang dan 7 ekor di dinding dalam rumah).
Menurut Sari dkk (2011) An.vagus dapat berkembangbiak pada tambak yang sudah tidak digunakan lagi yang masih berisi genangan air, di sekitar kandang ternak, saluran pembuangan yang tidak lancar dan terdapat sampah di sekitarnya, semak-semak dan saluran pembuangan yang ditumbuhi rumput. HabitatAn. vagusadalah di dinding dalam rumah, sawah dan parit (Boesri dan Suwaryono, 2011). Selain bersifat zoofilik An. vagus ini juga bersifat antropofilik (Andriani dkk, 2014). Adanya sifat antropofilik menyebabkan spesies ini berpotensi sebagai vektor malaria.
C. Gambaran Suhu Udara dan Hubungannya dengan Kepadatan Nyamuk Anopheles spdi dalam Rumah
Suhu 25-27oC merupakan suhu optimum untuk perkembangan nyamuk. Jika suhu lebih dari 270C maka umur nyamuk menjadi lebih pendek (Sumantri, 2010). Hal ini menyebabkan turunnya populasi nyamuk. Bila umur nyamuk cukup panjang maka akan memberikan lebih banyak waktu untuk parasit malaria menyelesaikan masa inkubasi ekstrinsiknya dari gametosit sampai sporozoit di kelenjer liur (Natadisastra, 2009). Jika hal ini terjadi maka risiko penularan malaria semakin tinggi.
Selain mempengaruhi umur nyamuk, menurut Natadisastra (2009) suhu udara juga akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan telurAnophelesmenjadi dewasa. Pendeknya umur nyamuk dan lamanya siklus hidup nyamuk akhirnya dapat mempengaruhi kepadatan nyamukAnopheles di dalam rumah.
Rata-rata suhu udara di daerah penelitian adalah 27,57oC. Suhu udara terendah sebesar 25,8oC dan tertinggi 32oC. Pada daerah penelitian kepadatan
Anopheles sp tertinggi di dalam rumah ditemukan pada suhu 26,40C. Suhu ini termasuk dalam kisaran suhu optimum untuk perkembangbiakan nyamuk yaitu 25-27oC namun berdasarkan hasil uji korelasi pearson didapatkan nilai p = 0,305 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara suhu udara dengan kepadatan nyamukAnopheles spdi dalam rumah.
Menurut Mofu (2013) ada hubungan yang kuat antara suhu udara dengan kepadatan Anopheles dimana kepadatan Anopheles 68,8 % dipengaruhi oleh suhu udara. Kepadatan akan meningkat saat suhu udara turun sebaliknya kepadatan akan mengalami penurunan jika suhu udara meningkat. Hal ini
sejalan dengan penelitian Mading (2013) yang menunjukkan bahwa suhu udara sangat mempengaruhi kepadatan vektor malaria.
Suhu udara yang mempengaruhi kepadatan vektor malaria di dalam rumah akhirnya juga mempengaruhi kejadian malaria. Hasil penelitian Friaraiyatini dkk (2006) menunjukkan bahwa suhu udara berpengaruh terhadap kejadian malaria (p<0,05). Suhu merupakan faktor risiko malaria dimana suhu yang potensial berisiko menyebabkan malaria 2,571 kali lebih besar dibanding suhu yang tidak potensial (Nurfitrianah dkk, 2013).
Menurut Ahrens (2008) variasi suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian suatu tempat. Berdasarkan hal ini tidak adanya hubungan antara suhu udara dengan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah dapat disebabkan karena ketinggian di daerah penelitian yang relatif sama karena ruang lingkup wilayah penelitian kecil yaitu desa sehingga suhu udara tidak jauh berbeda. Dengan demikian dapat disimpulkan suhu udara di daerah penelian tidak berhubungan dengan kepadatan nyamukAnopheles spdi dalam rumah.
D. Gambaran Kelembaban Udara dan Hubungannya dengan Kepadatan NyamukAnopheles spdi dalam Rumah
Kelembaban udara di daerah penelitian berkisar 42-89% dengan kelembaban rata-rata 64,91%. Kelembaban 64,91% ini memungkinkan nyamuk Anopheles untuk hidup dan berkembangbiak dengan baik sehingga daerah ini rentan terhadap peningkatan populasi Anopheles. Menurut Datau dkk (2000) kelembaban paling rendah yang memungkinkan hidupnya nyamuk adalah 60%. Kelembaban yang terlalu rendah akan memperpendek umur nyamuk sehingga mengurangi kepadatannya. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian dimana pada kelembaban udara di bawah 60% grafik kepadatan
Anopheles spdi dalam rumah mencapai angka 0.
Berdasarkan hasil uji korelasi pearson didapatkan nilai p = 0,028 dan nilai koefisien korelasi (r) 0,382 yang artinya kelembaban udara berhubungan dengan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah dengan kekuatan hubungan sedang ke arah positif. Hal ini berarti semakin meningkat kelembaban udara maka kepadatan nyamuk Anopheles sp dalam rumah juga semakin meningkat.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Mofu (2013) dimana kelembaban udara berhubungan ke arah positif dengan kepadatan Anopheles. Kepadatan Anopheles tertinggi 4,1 ekor/orang/jam ditemukan pada kelembaban udara 85,3 % dan terendah 1 ekor/orang/jam pada kelembaban 78,5% dan 76%. Kepadatan terjadi seiring meningkatnya kelembaban udara sebaliknya jika kelembaban menurun maka kepadatan Anopheles juga turun. Suwito dkk (2010) juga menyebutkan bahwa kelembaban udara berhubungan dengan kepadatan nyamuk Anopheles. Dalam penelitian ini kepadatan
Anophelesditemukan 40,5 % dipengaruhi oleh kelembaban udara.
Kelembaban udara yang mempengaruhi kepadatan Anopheles di dalam rumah akhirnya juga mempengaruhi kejadian malaria. Berdasarkan penelitian Devi dan Jauhari (2006) kelembaban udara berhubungan dengan kejadian malaria dengan korelasi positif yaitu semakin meningkat kelembaban udara maka kejadian malaria juga akan meningkat. Sesuai dengan penelitian Zacarias dan Andersson (2011) bahwa kelembaban udara berhubungan dengan kejadian malaria dimana kelembaban udara yang meningkat 1% dari
kelembaban relatif menyebabkan risiko kejadian malaria yang lebih tinggi. Pada daerah ini rata-rata kelembaban udara adalah 69,16 tidak berbeda jauh dengan rata-rata kelembaban udara yang ditemukan di daerah penelitian yaitu 64,91%. Sehingga dapat dikatakan daerah penelitian rentan terhadap risiko kejadian malaria karena kelembaban udaranya mendukung hidupnya nyamuk
Anopheles spdan ditemukan berhubungan dengan kepadatan Anopheles sp di dalam rumah.
E. Gambaran Keberadaan Ikan Pemakan Larva dan Hubungannya dengan Kepadatan NyamukAnopheles spdi dalam Rumah
Pada daerah penelitian 24 rumah (72,7%) ditemukan tidak terdapat ikan pemakan larva dan hanya 9 rumah (27,3%) yang terdapat ikan pemakan larva. Ikan pemakan larva yang ditemukan adalah mujair, karper dan nila. Berdasarkan hasil uji mann-whitney didapatkan nilai p sebesar 0,037 (p<0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan antara keberadaan ikan pemakan larva di kolam ikan dengan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah. Rumah yang tidak terdapat ikan pemakan larva rata-rata kepadatan Anopheles sp di dalam rumah yang ditemukan adalah 0,20 ekor/orang/jam.
Menurut Datau dkk (2000) keberadaan berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (panchax spp), gambusia, nila dan mujair akan mempengaruhi populasi nyamuk. Sejalan dengan penelitian Adnyana dan Willa (2013) bahwa jenis fauna yang dijumpai hidup bersama larva
Anopheles sp di Desa Weepaboda diantaranya adalah ikan karper dan ikan nila dimana fauna ini dimanfaatkan sebagai musuh alami untuk mengurangi populasi vektor malaria. Sesuai dengan hasil penelitian dimana kepadatan
Anopheles sp mencapai angka 0 pada rumah yang terdapat ikan pemakan larva.
Keberadaan ikan pemakan larva di kolam ikan dapat mengurangi kepadatan Anopheles sp di dalam rumah sehingga berpotensi menurunkan transmisi malaria. Menurut Chandra (2009) rantai penularan malaria dapat diputus dengan manipulasi lingkungan agar populasi nyamuk Anopheles
berkurang. Salah satunya dengan menggunakan predator berupa pemeliharaan ikan di kolam-kolam. Penelitian Sulistiyani (2012) menunjukkan bahwa keberadaan ikan pemakan larva nyamuk di kolam berhubungan dengan kejadian malaria. Mereka yang pada rumahnya tidak terdapat keberadaan ikan pemakan larva berisiko terkena malaria 3,25 kali lebih besar dibandingkan yang terdapat ikan pemakan larva nyamuk di kolam.
Oleh sebab itu diperlukan adanya pemeliharaan ikan pemakan larva di sekitar rumah dalam menurunkan kepadatan nyamuk Anopheles sp di dalam rumah. Ikan tersebut berupa kepala timah, gambusia, nila dan mujair. Pemeliharaan ikan ini akhirnya berpotensi untuk menurunkan kejadian malaria.
F. Gambaran dan Perbedaan Kepadatan Nyamuk Anopheles sp dalam