• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Lokasi Penelitian

23

24 (Sumber : KPHP Kerinci Unit I)

Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian HKm Ranah Sako 4.1.2 Topografi Kabupaten Kerinci

Kabupaten Kerinci termasuk daerah yang memiliki topografi berbukit dan bergunung dengan luasan sekitar ±81,22%. Wilayah Kabupaten Kerinci terletak di atas ketinggian 1000 Mdpl yakni berkisar anatara 500-1000 Mdpl seluas 72.295 Ha (17,20%) sedangkan seluas 6.636 Ha berada pada ketinggian 500 Mdpl (1,5850 Ha terdapat di Batang Merangin) yang dimana pada ketinggian 500-3805 Mdpl merupakan bagian Bukit Barisan.

Dilihat dari ketinggian wilayah menunjukkan pengembangan wilayah di Kabupaten Kerinci yaitu pada wilayah terbangun dan dijadikan sebagai wilayah perkotaan dan pemukiman dengan ketinggian wilayah sekitar 100-500 Mdpl.

Sementara untuk luasan >1000 dpl merupakan Kawasan hutan milik Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

4.1.3 Topografi Desa Tamiai

Desa Tamiai termasuk ke dalam Kecamatan Batang Merangin wilayah Kerinci Provinsi Jambi. Beberapa desa berdampingan dengan Desa Tamiai antara lain Desa Pematang Lingkung, Desa Batang Merangin, dan Desa Muara Emat.

Kondisi geografis Desa Tamiai yaitu berkisar antara 101º36’0” - 101º48’0” Bujur

25 Timur dan 2º1’0” - 2º12’0” Lintang Selatan. Desa Tamiai memiliki luasan sekitar

±34.80,68 Ha dan memiliki ketinggian 700 -1780 mdpl, Desa Tamiai juga memiliki ketinggian yang beragam mulai dari yang tertinggi sampai terendah dan memiliki suhu rata rata 20-26ºC. jarak tempuh menuju desa tamiai dari pusat perkotaan adalah 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan bermotor dan memiliki akses jalan yang cukup baik. Adapun perbatasan Desa Tamiai yaitu Sebalah Utara Taman Nasional Kerinci Seblat sebelah Selatan Desa Pasar Tamiai, sebelah Barat Desa Pematang Lingkung dan sebelah Timur Desa Pasar Tamiai.

4.1.4 Aksesibilitas

Aksesibilitas menuju Desa Tamiai bisa digunakan dua jalur untuk sampai di lokasi penelitian. Jarak yang ditempuh menghabiskan waktu sekitar ± 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari pusat Kota Sungai Penuh atau kantor UPTD KPHP Unit I Kerinci apabila menempuh jalur Desa Debai, sedangkan menghabiskan waktu ± 90 menit dengan menempuh jalur Desa Pulau Sangkar dan Desa Pidung. Aksesibilitas untuk menuju lokasi HKm sendiri melalui jalan darat sehingga bisa menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Namun, akan lebih baik jika menggunakan spesifikasi kendaraan yang cocok dalam perbukitan mengingat jalan masih tanah dan akan becek apabila terjadinya hujan sehingga bisa mempersulit dalam aksesibilitas. Waktu tempuh dari pemukiman masyarakat ke lokasi HKm adalah ±30 menit.

Gambar 4. Aksesibilitas Jalan Menuju Area HKm

26 4.1.5 Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Desa Tamiai

Secara umum Desa Tamiai terdiri dari 532 Ha Hutan Kemasyarakatan dari seluruh Hutan Kemasyarakatan yang dikelola oleh kelompok tani. Diantaranya adalah 195 Ha Bukit Sebetung, 168 Ha Bukit Tengah, 100 Ha Ranah sako dan 69 Ha Bukit Lumut. (RPHJP KPHP Kerinci). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan hak izin Kelola kepada Hutan Kemasyarakatan Ranah Sako dengan SK.2825/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/5/2018 khusus untuk Hutan Kemasyarakatan Ranah Sako yang menjadi topik pada penelitian ini.

Adapun kepengurusan Hutan Kemasyarakatan Ranah Sako adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Nama Pengurus Kelompok Tani Hutan Ranah Sako No. Nama Jabatan

1. Saprijon Ketua Umum 2. Pirdaus Sekretaris Umum 3. Ennita Bendahara Umum

4. Eko Fransandi Ketua KUPS Usaha Kopi 5. Ade Apputra Ketua KUPS Usaha Madu Sumber : Data primer diolah, 2022

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, aspek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dalam masyarakat pada umumnya mengikuti aturan aturan yang sesuai dengan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang sudah ditetapkan oleh KPHP yang berpedoman pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 09 Tahun 2021 tentang pengelolaan Perhutanan Sosial. (RPHJP KPHP Kerinci). Berdasarkan aspek pengawasan, peran pemerintah dalam mengawasi masyarakat dengan melakukan pemantauan dan monitoring dalam sistem pengelolaan masyarakat. Kegiatan pengawasan dilakukan langsung oleh pihak KPHP terhadap kegiatan kegiatan yang berlangsung di HKm. Selain kegiatan pengawasan, pihak KPHP juga melakukan kegiatan pemberian pengetahuan kepada masyarakat dalam mengembangkan kegiatan kegiatan yang sedang berlangsung di lapangan. Seperti pengembangan model penanaman agroforestri, kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) mulai dari pembibitan, penanaman, serta pemeliharaan. Kegiatan pemberian pengetahuan dilakukan sesuai dengan

27 pengalaman sebelumnya. Masyarakat mengikuti tata cara pengelolaan yang diarahkan oleh pihak KPHP merujuk kepada Rencana Kerja Tahunan yang disertai aturan aturan di dalamnya. Bagi masyarakat yang melanggar aturan tersebut, diberikanlah sanksi yang tegas dan sudah disepakati oleh berbagai pihak termasuk masyarakat anggota pengelola. Apabila pelanggaran berat terjadi maka dapat diberikan sanksi yang tegas yakni berupa kesalahan masyarakat sendiri dalam mengambil lahan milik orang lain atau masyarakat bukan anggota HKm, sanksi juga diberikan kepada pelanggaran berupa mengambil hasil perkebunan milik orang lain maka akan diberi sanksi yang tegas dalam mengembangkan HKm ini. Pemerintah akan menindak tegas kepada pelanggaran yang terjadi tanpa ada tingkatan. Sanksi yang diberikan akan sama Ketika masyarakat mengalami pelanggaran diluar yang sudah ditetapkan maka akan melibatkan pihak kepolisian dalam menangani kasus ini.

4.1.6 Potensi Hutan

Potensi pohon kehutanan yang ada di Desa Tamiai masih terbilang asri.

Masyarakat disana hampir tidak pernah melakukan penebangan pohon kecuali dengan izin. Salah satu penyebabnya adalah sudah didirikannya PLTA di Desa Tamiai, sehingga dengan dorongan dari pemerintah masyarakat meyakini bahwa pohon adalah sumber air dan memeliharanya dengan baik. Untuk itu masyarakat mengelola hutan dengan sebaik mungkin serta melakukan kegiatan RHL pada lahan kritis dengan pengadaan bibit, baik itu pembelian sendiri secara pribadi maupun dari bantuan pemerintah.

Masyarakat melakukan penanaman berbasis agroforestri yang memadukan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian diantaranya adalah jahe (Zingiber officinale), cabai (Capsium frutescens), tomat (Solanum lycopercum), durian (Durio zibethinus), terong (Solanum melongena), alpukat (Persea Americana) dan kopi (Coffea sp) sebagai tanaman pertanian, dan tanaman kehutanan surian (Toona ciliata), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan Kayu pacat (Harpullia arborea) yang merupakan komoditas unggulan Kerinci dan sedang dijalankan di hutan kemasyarakatan Desa Tamiai Kerinci. Selain hasil hutan kayu pada wilayah Hutan Kemasyaratan Desa Tamiai juga ditemukan hasil hutan bukan kayu seperti jernang dan rotan termasuk madu. Selain itu juga ditemukan beberapa jenis satwa

28 baik itu yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Tamiai termasuk Ranah Sako diantaranya adalah Babi Hutan (Sus scrofa), Musang (Paradoksurus hermaphrodihus), Berang-berang (Tragulus sp.) Jelarang (Ratufora bicolor), Tikus (Rattus sp), dan Simpai (Presbytus melalophos). (RPHJP KPHP Kerinci).

4.1.7 Kondisi Sosial Ekonomi

Berdasarkan data yang diperoleh, mata pecaharian anggota kelompok Ranah Sako adalah petani. Tingkat perekonomian bahkan Pendidikan masih tergolong rendah. Terkhusus untuk anggota kelompok Ranah Sako sendiri Sebagian besar hanya tamatan SMA dan SMP. Beberapa diantaranya juga mengenyam Pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar saja. Sedikit diantaranya yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Masyarakat anggota kelompok hidupnya sangat bergantung pada lahan hutan kemasyarakatan yang mereka kelola mengingat masyarakat disana tergolong sebagai petani yang kekurangan lahan Sehingga mereka memanfaatkan lahan HKm untuk bercocok tanam disamping mengelola HKm itu sendiri. Adapun kegiatan pertanian masyarakat biasanya adalah perkebunan cabai, kopi, tomat, dan hasil tanaman pertanian lainnya dengan memadukan dengan potensi tanaman kehutanan di area HKm.

Dokumen terkait