BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
D. Gambaran Proses Pembelajaran Matematika dan Hasil Pengamatan . 65
G: Guru; SS: Semua Siswa; Sn: Siswa ke-n; An:
Pertemuan pertama baris percakapan ke-n Bn: Pertemuan kedua baris ke-n
1. Gambaran Proses Pembelajaran Matematika Pada Pengamatan I Hari/Tanggal : Senin, 30 Juli 2012
Kelas : V SD Negeri Timblharjo
Materi : Sifat komutatif dan asosiatif pada operasi hitung bilangan bulat
Guru membuka pelajaran dengan memberi salam ucapan selamat pagi kemudian mengajak para siswa berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
(A1) G : “Selamat pagi anak-anak” (A2) SS : “Pagi Pak”
(A3) G : “Bagus, sampai dimana materi kita?” (A4) SS : “Sifat operasi bilangan bulat”
(A5) G : “Ada berapa sifat?” (A6) SS : “Tiga”
Guru memberikan apersepsi dengan mengingatkan pengantar pokok
materi untuk hari ini yang telah di beritahukan pada pertemuan sebelumnya. Suasana kelas sudah tenang dari awal, para siswa sudah siap dengan pembelajaran hari ini, semuanya memperhatikan dan
mendengarkan apa yang di sampaikan oleh guru. Untuk memasuki materi, guru memberikan pengantar mengenai materi sifat komutatif dan asosiatif melalui pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang diketahui siswa tentang sifat komutatif dan asosiatif, bagaimana keberlakuan sifat komutatif dan
asosiatif pada operasi hitung bilangan bulat (Lampiran :A7 dan A8)
Guru meminta siswa maju ke depan menuliskan pemikirannya tentang sifat komutatif pada penjumlahan, perkalian, pengurangan dan pembagian.
Para siswa mulai berbicara satu dengan yang lain, sambil bertanya kepada temannya tenang apa yang dimaksud guru untuk mereka lakukan.
Beberapa siswa mengangkat tangannya dan meminta untuk maju ke depan. Guru menunjuk siswa yang sudah mengangkat tangannya untuk
maju ke depan.
Beberapa siswa maju ke depan menuliskan gagasannya terhadap bagian yang dipilihnya, namun beberapa siswa lain ada satu dua orang
yang hanya sibuk bermain dan mengganggu teman sebelahnya. Guru menegur siswa tersebut agar tidak merambat ke siswa-siswa lain yang masih berkonsentrasi dalam belajar. Siswa pyang pertama (S1) maju ke depan menuliskan tentang sifat komutatif pada perkalian, siswa kedua
(S2) yang maju kedepan mengerjakan sifat komutatif pada penjumlahan, siswa ketiga (S3) menuliskan tentang sifat komutatif pada pengurangan, sedangkan siswa ke empat (S4) yang maju kedepan menuliskan tentang
sifat komutatif pada pembagian (Lampiran: A10 sampai A13) Hal yang sederhana dilakukan oleh siswa adalah tanpa di minta, para siswa selalu menuliskan namanya masing-masing di atas pekerjaan mereka. Berikut adalah contoh foto hasil pekerjaan siswa di papan tulis.
Gambar 4. 1 Hasil pekerjaan siswa
Alinda Fina Tri 6x2=12 12-6=6 4:4=2 2x6=12 6-12=(-6) 2:4=0,5
Setelah selesai menuliskan gagasannya, satu persatu siswa mulai menjelaskan hasil pemikirannya di depan kelas, guru sebagai moderator diskusi kelas, meminta para siswa untuk menyimak apa yang dijelaskan
oleh temannya di depan kelas. Siswa yang sudah selesai menjelaskan, diminta untuk menantang teman-temannya, meminta tanggapan maupun persetujuan dari teman-temannya. Sedangkan siswa lainya diminta
menganalisis apa yang telah dijelaskan dan ditulis oleh temannya di depan kelas. Para siswa menyetujui apa yang disampaikan oleh S2 yang menjelaskan hasil pekerjaannya. Namun cara mereka mengungkapkan
persetujuan masih seperti paduan suara, tidak dengan mengangkat tangan dan menjelaskan mengapa ia menyetujui hasil pemikiran temannya. Siswa kedua maju kedepan dan kembali menjelaskan hasil pekerjaannya,
tidak ada yang bertanya atau menanggapi apa yang disampaikan oleh siswa kedua kecuali mengatakan persetujuan secara bersama (koor). Guru mengulang kembali apa yang telah dijelaskan oleh siswa pertama dan kedua, dan membenarkan hasil pemikiran keduanya kemudian
memberikan penghargaan dengan mengatakan “Selamat” (Lampran: A20 sampai A35)
Ketika sampai pada siswa ketiga, setelah ia selesai menjelaskan hasil
pemikirannya, kemudian seperti biasa guru memancing para siswa bertanya, namun para siswa masih tetap diam dan belum ada yang bertanya, mereka hanya mengatakan benar atau setuju dengan pendapat
temannya yang telah menjelaskan hasil pemikirannya. Karena belum ada siswa yang bertanya kemudian guru yang bertanya kepada S3 tentang bagaimana dan mengapa jika 12 dikurangi 6 hasilnya pasotif 6 sedangkan,
6 dikurangi dengan 12 hasilnya bisa negatif enam. S3 diam sesaat dan agak kebingungan dengan pertanyaan guru. Kemudian guru bertanya kepada seluruh siswa apa artinya enam dan dua belas. Para siswa
mengatakan bahwa itu menunjukkan jumlah. Setelah itu, guru bertanya kepada S3 apa saja yang bisa menunjukkan jumlah dalam kehidupan sehari-hari. S3 menjawab pake kelereng, dimana jumlah kelereng ada dua
belas. Kemudian guru menggambarkan symbol kelereng sebanyak 12 biji kelereng dipapan tulis, lalu S3 diminta menunjukkan banyakknya kelereng jika di ambil enam. S3 melingkari gambar kelereng sebanyak 6 biji
kelereng. Berikut adalah gambar ketika siswa melingkari kelereng dan menuliskan jumlah keseluruhan kelereng (Lampiran A36 sampai A42) Pada gambar itu juga tampak guru menghitung jumlah kelereng dengan menunjuk kearah gambar apakah lingkaran itu sudah melingkari sebanyak
Gambar 4. 2 Saat siswa menunjukkan jumlah dua belas dan enam.
Setelah S3 selesai menunjukkan jumlah 12 dan hasil pengurangan dari 12 dikurangi 6, selanjutnya guru bertanya lagi kepada siswa, bagaimana 6 dikurangi 12 bisa mendapatkan hasil negatif enam. S3 kembali bingung dengan pertanyaan gurunya. Lalu guru meminta siswa lain membantu S3
menunjukkan bagaimana 6 dikurangi 12 hasilnya bisa negatif enam. Kemudian S1 mengangkat tangannya ingin membantu S3, guru mempersilakan S1 maju ke depan dan membantu S3 (Lampiran A44
sampai A46) Guru mendampingi keduanya di depan kelas sambil berkata kepada S3 bahwa ia bebas mengerjakannya sesuai dengan caranya sendiri. S1 memberikan ide kepada S3 untuk membuat garis bilangan. S3
menggambar garis bilangan, namun ia masih kesulitan membuatnya karena garisnya kurang rapi. Lalu S1 mengambil sebuah penggaris kayu besar yang tersedia didekat papan tulis. S3 dan S1 bersama-sama memegang penggaris tersebut dan S3 mulai menggambar kembali garis
bilangan menggunakan penggaris tersebut. Berikut adalah foto saat keduanya membuat garis bilangan menggunakan penggaris kayu tersebut.
Gambar 4. 3 Siswa membuat garis bilangan dengan penggaris kayu
Setelah selesai membuat garis bilangan, guru bertanya lagi kepada S3 tentang dari mana hasil enam dikurangi dua belas sama dengan negatif
enam (Lampiran 47 sampai A49) Ketika S3 bingung, guru membantu membimbing S3, walaupun S3 membuat kesalahan, tetapi guru tidak memarahi S3. Siswa berusaha lagi menentukan panjang enam dengan menghitung langkah dari tiap bilangan mulai dari positif enam sampai
negatif enam. Banyak langkah dari positif enam sampai negatif enam adalah dua belas, lalu guru bertanya lagi kepadanya darimana atau daerah enam itu yang mana dengan landasan bahwa dua belas itu dari positif
enam sampai negatif enam (Lampiran: A50) S3 masih tampak bingung, ia tetap mengatakan bahwa panjang enam itu dari positif enam sampai negatif enam. Karena S3 masih kebingungan, guru meminta siswa lainnya
enam. Lalu ada seorang siswa laki-laki (S5) maju ke depan berusaha membantu S3 dalam menunjukkan panjang enam (Lampiran: A52 dan A53) Dengan bimbingan dan kesabaran guru serta bantuan
teman-temannya, S3 akhirnya bisa mengerti bagaimana menetukan panjang enam dan cara menunjukkan enam dikurangi dua belas (Lampiran: A56 sampai A61)
Setelah S3 selesai, dilanjutkan oleh siswa terakhir atau S4 untuk menjelaskan hasil pemikirannya ke depan kelas. Setelah ia selesai mempresentasikan hasil pemikirannya, kemudian ia menantang temannya
untuk bertanya dan menanggapi penjelasannya. Salah seorang siswa perempuan (S6) mengangkat tangannya hendak bertanya, guru memintanya untuk maju ke depan supaya semua siswa tahu apa dan
bagian mana yang tidak ia pahami atau mengerti untuk ia tanyakan. S6 maju ke depan dan mengungkapkan ketidakpahamannya (Lampiran: A64 dan A65)
S4 mulai menjelaskan kembali kepada S6 bagaimana cara pembagian
bersusun panjang atau porogapit (Lampiran: A66 dan A 67) Guru menegaskan kembali penyimpulan dari S4 sampai S6 benar-benar mengerti dan paham dengan jawaban S4 (Lampiran: A68 sampai A70)
Selain S6, ternyata masih ada siswa lain yang belum mengerti mengapa di belakang dua ditambahkan nol (Lampiran: A71 sampai AA74) Kemudian S1 maju kedepan sambil menunjukkan ketidakpahamannya pada
pekerjaan S4. S4 menjelaskan kembali kepada S1 dimana nol itu ada karena dua tidak bisa dibagi empat, sehingga meminta bantuan nol dibelakangnya. Setelah keduanya duduk dibangku masing-masing,
kemudian guru meminta siswa lainnya untuk maju ke depan menjelaskan dengan cara lain bagaimana menghitung pembagian dua dibagi empat (Lampiran: A75) Salah satu siswa bertanya kepada guru apakah mereka
boleh berdiskusi atau tidak. Guru dengan senang hati mempersilakan para siswa berdiskusi dan berpikir dengan caranya masing-masing (Lampiran: A76 dan A77)
Kemudian para siswa saling berdiskusi dengan teman sebangku ataupun dengan teman yang berada didepan-belakangnya, kiri maupun kanannya selama kurang lebih 5 menit. Lalu guru mulai menunjukkan
selembar kertas buram dan berkata kepada semua siswa untuk memperhatikannya ke depan. Guru membagi kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama besar, namun sebelum menentukan apakah kedua bagian kertas tersebut sama besar atau tidak, guru bertanya kepada siswa
apakah ukuran kedua bagian kertas tersebut sama atau tidak dan para siswa menjawab secara serentak bahwa ukurannya sama. Dengan menempelkan kedua kertas tersebut, guru menunjukkan kepada seluruh
siswa bahwa kedua bagian kertas tersebut memang sama besar (Lampiran: A74 sampai A84)
Dengan menggunakan kedua kertas tersebut, guru mau mengajak para siswa untuk melihat dan menemukan bagaimana mencari nilai dari dua dibagi empat (Lampiran: A84 sampai A87) Kemudian guru menanyakan
berapa besar kertas setelah yang awalnya satu dibagi dua, kemudian masing-masing kertas dibagi dua lagi. Sehingga semua siswa dapat melihat bahwa diperoleh besarnya adalah satu perdua atau setengah
(Lampiran: A88 sampai A93) Berikut adalah gambar saat guru menunjukkan dan membagi kertas buram di depan kelas.
Gambar 4. 4 Guru menunjukkan alat peraga kertas buram
Semua siswa diminta untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh guru. Masing-masing siswa menyobek dan mengambil selembar kertas dari bukunya sendiri untuk dibagi seperti yang diminta oleh guru. Beberapa siswa membagi dengan cara melipat kertas mnjadi
dua bagian, selanjutnya dilipat lagi menjadi empat bagian, bahkan ada yang melipat menjadi delapan bagian sesuai dengan pemikirannya sendiri. Peneliti berkeliling sambil melihat-lihat siswa beraktivitas melipat dan
membagi selembar kertas menjadi beberapa bagian. Berikut adalah gambar saat pada saat siswa membagi kertas-kertas tersebut.
Gambar 4. 5 Siswa membagi kertas buram menjadi beberapa bagian
Peneliti berkeliling melihat dan mengamati apa yang dilakukan para siswa sementara siswa aktif membuat alat peraga sendiri-sendiri untuk
memperlihatkan dua dibagi empat. Guru juga berkeliling dan memeriksa hasil karya siswa. Setelah semua siswa siap dengan kertas yang sudah mereka potong, kemudian guru mulai menjelaskan bagaimana kertas itu digunakan untuk menghitung dua dibagi empat (Lampiran: A103 sampai
A115)
Kemudian guru meminta siswa lain menuliskan setengah dalam bentuk yang berbeda selai nol koma lima, lalu ada siswa mengangkat tangan yaitu S8, kemudian Ia maju kedepan dan menuliskan lambang bilangan setengah dalam bentuk satu per dua. Guru mengecek apakah
pekerjaan S8 benar atau tidak dengan cara bertanya kepada seluruh siswa (Lampiran: A116 dan A117) Guru membandingkan nilai setengah yang
dibuat S8 dengan nilai setengah yang dibuat oleh S4. S8 menulis dalam bentuk satu per dua atau satu dibagi dua, sedangkan S4 menuliskan nol
koma lima.
Siswa menanggapi dengan mengatakan bahwa nilainya sama. Tetapi
guru mencoba bertanya apakah siswa yakin betul itu sama atau tidak dengan meminta siswa mambuktikan bagaimana satu dibagi dua sama dengan nol koma lima. Para siswa mulai berdiskusi dengan teman-temannya sementara guru terus memotivasi siswa untuk bertanya dengan
teman yang dianggap bisa membuktikannya. Dua orang siswa yaitu S9 dan S10 maju ke depan berusaha untuk membuktikan, S9 menuliskan proses pembuktian sementara S10 yang berpikir dan menyebutkan apa
yang harus ditulis S9, yaitu dengan cara bersusun panjang. Setelah mereka selesai,lalu guru mengecek hasil pekerjaan mereka dan meminta mereka kembali ketempat duduknya masing-masing.
Guru memberi kesimpulan tentang sifat komutatif dan keberlakuannya pada operasi hitung bilangan bulat. Setelah itu guru melanjutkan dengan
sifat asosiatif dengan memberikan definisi (Lampiran: A118) Guru meminta siswa untuk maju ke depan, kemudian beberapa siswa laki-laki S10 mengangkat tangan dan maju ke depan, Ia membuat sifat asosiatif
pada perkalian. Selain S10, ada juga siswa laki-laki lain yaitu S11 maju ke depan menuliskan pemikirannya. Ia membuat sifat asosiatif pada
penjumlahan. Kemudian siswa laki-laki lainnya S12 maju ke depan juga untuk menuliskan pemikirannya tentang sifat asosiatif pada pengurangan. S11 mengalami kesulitan dalam menuliskan tentang sifat asosiatif pada
penjumlahan, lalu guru meminta siswa lain untuk membantu S11 menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa siswa berebutan ingan mju kedepan membantu S11. Akhirnya S2 yang diminta membantu S11 di
depan. S2 berusaha membantu S11, tetapi S11 menolaknya karena merasa malu sebab ia diminta harus menulis apa yang dikatakan S2 di tambah lagi teman-temannya yang lain mengejek dan menggodanya. Karena di
motivasi oleh guru, S11 akhirnya mau menulis apa yang dikatakan S2.
Setelah semua siswa yang maju ke depan selesai menuliskan hasil
pemikiran mereka tentang sifat asosiatif, lalu masing-masing dari mereka maju ke depan dan menjelaskan hasil pemikiran mereka. Presentasi dimulai oleh S13 yang membahas tentang sifat asosiatif pada
pengurangan, kemudian dilanjutkan oleh S10 dan S12. S11 tidak lagi diminta menjelaskan karena ia telah menjelaskan pada saat ia dibantu oleh S2 menyelesaikan gagasannya. Pemlajaran di akhiri dengan pemberian
kesimpulan oleh guru tentang keberlakuan sifat asosiatif baik pada penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Dalam memahami sifat ini, siswa tidak mengalami kesulitan yang berarti hal ini terlihat
ketika siswa diminta bertanya. Semua menjawab bahwa mereka mengerti dengan apa yang di pelajari pada hari ini.
Berikut adalah gambaran hasil pengamatan berdasarkan lembar pengamatan.
Pengamatan Ke- : I
Hari/Tanggal : Senin/ 30 Juli 2012 Kelas / Jumlah Siswa : V/ 35
Standar Kompetensi : Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar : Melakukan operasi hitung bilangan bulat termasuk penggunaan sifat-sifatnya, pembulatan, dan penaksiran
Sub Materi : Sifat komutatif dan asosiatif pada operasi hitung bilangan bulat
Tabel 4. 1 Pengamatan Pembelajaran di Kelas Pada Pengamatan I
No Kriteria Pernyataan Pelaksanaan Keterangan Ya Tidak
1
Pembelajaran di mulai dari masalah kontekstual atau realistik.
Ya
Guru meminta siswa sendiri yang melakukannya, guru hanya memberikan pertanyaan agar siswa berpikir untuk masuk ke tujuan pembelajaran yaitu mengenai sifat-sifat komutatif dan asosiatif.
2
Guru memfasilitasi pembelajaran berupa media atau permainan atau alat peraga.
Tidak
Guru meminta siswa menggunakan kertas dari bukunya masing-masing pada saat menunjukkan pembagian 2 dibagi 4.
3 Siswa di beri kesempatan menyelesaikan masalah sendiri. Ya
4 Siswa belajar berinteraksi dan berdiskusi dalam kelompok besar maupun kecil. Ya
Siswa berinisiatif sendiri untuk berdiskusi dengan teman-temannya. Hanya saja tidak semua siswa melakukan diskusi, ada juga siswa yang hanya bermain dengan temannya.
5
Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa melalui motivasi.
Ya
Guru selalu memberikan pertanyaan dan dorongan agar siswa tertarik dengan pembelajaran. 6 6a. Guru memberikan pembelajaran tidak selalu di dalam kelas. Tidak
Guru hanya memberikan pembelajaran di dalam kelas. 6b. Guru memberikan pembelajaran dengan metode yang bervariasi
Ya Guru menggunakan metode presentatif bagi siswa, dimana guru sebagai moderator dan siswa yang mempresentasikan hasil pemikirannya 6c. Guru memberikan pembelajaran dengan tempat duduk siswa yang bervariasi Ya 7
7a. Guru mendorong terjadinya interaksi antara guru dengan siswa. Ya 7b. Guru mendorong terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa Ya 8 8a. Guru memberikan apresiasi atau penghargaan bagi siswa yang berani mengungkap kan Ya
Guru selalu megucapkan selamat dan memberikan penghargaan jika ada siswa yang berani mengugkapkan pendapatnya baik verbal maupun non verbal.
jawabannya 8b. Guru menghargai siswa walaupun jawaban dan penjelasan siswa salah Ya
Guru selalu sabar membimbing siswa, guru selalu menekankan bahwa matematika itu butuh kesabaran. 9 Siswa menyelesaikan masalah melalui representasi atau model sesuai struktur kognitifnya. Ya 10 Guru tidak mengajari siswa atau langsung
mengantarkannya ke tujuan pembelajaran
Ya
Guru membiarkan siswa menemukan sendiri apa yang diharapkan dalam pembelajaran 11 11a. Siswa menjelaskan dan memberikan alasan tehadap jawabannya. Ya 11b. Siswa memahami jawaban teman dengan men-iya-kan atau menyetujui jawaban teman Ya
Tetapi hana beberapa siswa yang berani mengangkat tangan, bertanya dan menanggapi jawaban temannya, sedangkan yang lain kebanyakan menjawab seperti koor.paduan suara. 11c. Siswa bertanya atau menanggapi jawaban teman Ya
Belum optimal, karena hanya beberapa orang saja yang aktif bertanya.
2. Gambaran Proses Pembelajaran Matematika Pada Pengamatan II Hari/Tanggal : Selasa, 31 Juli 2012
Materi : Sifat distributif pada operasi hitung bilangan bulat
Pukul : 07.00 – 09.00
Guru memulai pembelajaran mengingatkan siswa dengan
menanyakan beberapa hal dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan distribusi. Siswa sudah siap dengan pembelajaran, tidak ada lagi siswa yang mondar-mandir di kelas, semua siswa duduk diam
mendengarkan guru sehingga guru tidak lagi perlu meminta siswa untuk tenang. Guru bertanya apakah para siswa pernah mendengar istilah distribusi barang maupun distributor barang ke beberapa tempat atau
daerah. Para siswa menjawab bahwa mereka pernah mendengarnya (Lampiran: B1 sampai B5) Guru bertanya lagi kepada seluruh siswa tentang kata lain dari mendistribusikan barang dan bagaiman barang
tersebut di distribusikan. Para siswa diam sesaat sambil bertanya satu sama lain dengan teman sebangkunya, lalu beberapa siswa mulai menjawab dan berkata bahwa barang-barang yang didistribusikan itu kata lainnya adalah di sebarkan (Lampiran: B7 dan B8)
Kemudian guru bertanya lagi dengan menganalogikan barang sebagai
bilangan yang di sebarkan. Siswa mulai bertanya satu sama lain, ada yang masih diam. Lalu guru menuliskan beberapa soal di papan tulis dan meminta siswa mengerjakan soal tersebut sesuai caranya masing-masing. Para siswa mulai menulis soal dan mengerjakan soal tersebut dibukunya
masing-masing. Guru memberikan waktu 10 menit untuk siswa berpikir. Siswa boleh mengerjakan sendiri, boleh dengan teman sebangku, dan boleh juga berdiskusi dengan teman lain yang dirasa bisa membantu.
Siswa selalu diberi kesempatan untuk berpikir dan memecahkan masalah sesuai kemampuannya.
Ketika para siswa sedang mengerjakan soal, peneliti berkeliling sambil melihat dan memperhatikan siswa mengerjakan masalah yang diberikan guru. Guru juga berkeliling melihat dan memeriksa pekerjaan
siswa. Guru bertanya apakah siswa bisa mengerjakan atau tidak. Beberapa siswa bergabung dalam kelompok kecil dengan teman sebangku atau didepannya. Beberapa kali peneliti bertanya kepada siswa apakah ada
kesulitan atau kebingungan dalam mengerjakan soal. Peneliti juga membantu siswa jika ada siswa yang bertanya (Lampiran: B9) Setelah berjalan kebelakang, peneliti menemukan siswa membuat kesalahan
dimana siswa salah dalam melakukan perkalian (Lampiran: B10 sampai B15)
Pada saat guru pergi keluar kelas dan siswa sedang sibuk berdiskusi, ternyata ada beberapa siswa lain yang membuat keributan. Tiba-tiba lebih dari separuh siswa mengangkat tangan. Peneliti bertanya mengapa para
siswamengangkat tangan mereka secara serentak. Siswa menjawab bahwa tanda meminta siswa lain jangan mengganggu proses belajar dan berpikir
mereka. Beberapa siswa kebingungan mengerjakan soal nomor lima, yaitu soal tentang berapa nilai 6 x (15 x 5). Apakah itu juga merupakan sifat
distributif atau bukan.
Setelah siswa dianggap selesai berpikir dan berdiskusi dengan siswa
lainnya untuk mencari jawaban dari soal yang di berikan oleh guru, kemudian guru mempersilakan siswa maju ke depan menuliskan hasil pemikirannya. Tiga orang siswa laki-laki maju dan mengerjaka soal nomor 1 sampai 3. Siswa maju satu persatu mempresentasikan hasil
pekerjaannya. S5 menjelaskan tentang sifat distributif penjumlahan terhadap perkalian (Lampiran: B18) Sambil menunggu S5 menjelaskan hasil pekerjaannya, guru memberikan motivasi kepada siswa bahwa
belajar matematika itu butuh kesabaran, ketenangan, telaten, teliti. Setelah S5 selesai menjelaskan jawabannya, kemudian guru bertanya kepada seluruh siswa di dalam kelas apakah ada yang mempunyai cara berbeda
selain cara yang diguakan oleh S5 (Lampiran: B19 sampai B24) Untuk soal nomor satu telah dikerjakan oleh S5 dan S6, guru bertanya apakah pekerjaan S5 dan S6 itu sama atau berbeda dan apakah sudah sesuai
dengan prinsip daripada sifat distributif (Lampiran: B25 sampai B29) Kemudian para siswa mengangkat tangan berebutan untuk maju ke depan dan mengungkapkan pendapatnya dan gagasannya yang berbeda dari S5
dan S6. Selanjutnya guru mempersilakan S6 duduk dan memberikan penghargaan dengan mengucapkan “bagus”.
Setelah mempersilakan S6 duduk, guru menantang para siswa apakah ada yang mempunya cara berbeda dan sudah sesuai dengan sifat distributif
(Lampiran: B30) Para siswa mengangkat tangan agar di persilakan maju ke depan, tetapi guru meminta siswa yang putra untuk maju, karena yang mengangkat tangan adalah siswa yang sama yang sudah maju sebelumnya, akhirnya guru menunjuk salah satu dari siswa perempuan. Sambil
menunggu siswa menulis di papan tulis, guru memberikan motivasi kepada siswa.
(B31) G: “Namanya belajar itu, salah ora opo-opo” (Namanya belajar itu,
salah tidak apa-apa)
Setelah siswa selesai menuliskan hasil pemikirannya, kemudian guru
memintanya untuk mempresentasikan hasil pemikirannya kepada teman-temannya. Pada awalnya ia menjelaskan dengan suara yang kurang keras sehingga tidak terdengar oleh temannya yang duduk di belakang, oleh
karena itu guru memintanya untuk mengulangi lagi dari awal. Ia mulai menjelaskan lagi dan suaranya masih belum keras. Guru bertanya kenapa