Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diet, indikator antropometri yang sering digunakan adalah Berat Badan menurut
Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), Berat Badan menurut TinggiBadan (BB/TB). Penelitian ini menggunakan indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U), hasi penelitian menunjukan bahwa kejadian gizi buruk pada anak dengan rentang umur 6 sampai 12 bulan di Posyandu Desa Pari adalah 2,1 % dari total seluruh balita pada rentang umur tersebut. Angka gizi buruk sendiri data penimbangan bulan maret menunjukan 1,6% anak di Desa Pari berstatus gizi buruk, selain gizi buruk pada anak ada masalah lain terkait gizi seperti gizi kurang 4,3% dan gizi lebih 3,2%. Jika dijumlahkan sekitar 9,6% masalah terkait status gizi yang ada di Desa Pari, Hal ini terbilang cukup besar karena permasalahan terkait gizi dikatakan masalah kesehatan masarakat jika menyentuh angka 10%, jika tidak ditanggapi dengan serius ini dapat menjadi masalah serius, apalagi status gizi merupakan elemen penting dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
6.4. Gambaran Umur Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Umur pada anak usia dini (Balita, Batita, Baduta dan Bayi) merupakan element yang penting, karna dalam usia ini umur sering kali dijadikan tolak ukur untuk menentukan suatu kondisi atau keadaan pada anak seperti status gizi dan status tumbuh kembang anak. Umur sangat memegang peranan penting dalam penentuan status gizi, kesalahan dalam penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat akan tidak berarti jika tidak disertai dengan penentuan
umur yang tepat. Umur juga memiliki peranan yang penting sebagai tolak ukur perkembangan anak, dalam perkembangan anak seiring dengan bertambahnya umur berbeda pula keterampilan yang harus dikuasai anak.
Pada penelitian ini umur di kategorikan menjadi tiga kelompok sesuai dengan tingkatan capaian keterampilan (milestone) pada perkembangan anak. Kelompok pertama ada pada rentang umur 6-12 bulan, terdapat 45,7% anak di Desa Pari dengan rentang umur ini. Kelompok kedua ada pada rentang umur 13-18 bulan, terdapat 30,9% anak pada rentang umur ini di Desa Pari. Kelompok ketiga dengan rentang umur 19-24 bulan terdapat 23,4% anak dengan rentang umur ini di Desa Pari.
6.5. Gambaran Jenis Kelamin Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Perbedaan jenis kelamin berpengaruh pada perkembangan motorik anak. Anak perempuan lebih sering melatih keterampilan yang membutuhkan keseimbangan tubuh, seperti permainan melompat atau menari. Sedangkan anak laki-laki lebih senang melatih keterampilan melempar, menangkap dan menendang atau berprilaku yang mementingkan kecepatan dan kekuatan. Ada beberapa kegiatan yang dapat mengembangkan gerakan motorik anak, misalnya aktivitas berjalan di atas papan, olahraga, menari, atau bermain dengan mainan yang mengharuskan anak untuk bergerak.
Anak laki-laki sering dikatakan lebih memiliki dibandingkan anak perempuan. Jenis kelain sering kali dijadikan tolak ukur dalam menilai suatu
kondisi yang terjadi pada anak. Dalam penilaian status gizi, jenis kelamin menjadi salah satu kriteria yang harus diperhatikan dalam pengukuran, indikator apapun yang digunakan (BB/U, TB/U, BB/TB) akan selalu di bedakan berdasarkan jenis kelamin.
Dalam penelitian ini diketahui pada anak rentang umur 6 sampai 24 bulan terdapat 48 anak berjenis kelamin laki-laki dan 46 anak berjenis kelamin perempuan, jadi dapat dilihat bahwa antar jumlah anak dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan di Posyandu Desa Pari Mandalawangi Pandeglang Banten dalam rentang umur ini relatif sama.
6.6. Gambaran Status Berat Bayi Lahir Rendah Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Gizi ibu yang jelek sebelum maupun pada saat kehamilan lebih sering menghasilkan berat bayi lahir rendah (BBLR). Disamping itu dapat menghambat perkembangan otak janin yang dapat mempengaruhi perkembangn kecerdasan dan emosi, bayi dapat dikatakan menderita BBLR jika berat bada saat lahir kurang dari 2500 gramm.
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) meningkatkan resiko terjadinya
cerebral palsy yaitu gangguan perkembangan motorik yang berhubungan dengan kemampuan berjalan, serta jika dibandingkan dengan bayi atern, bayi BBLR lemah dalam keterampilan mototorik halus seperti mengurai benang.
Pada penelitian ini di dapatkan bahwa anak pada rentang umur 6 sampai 12 bulan di Posyandu Desa Pari 6,4% diantaranya mempunyai riwayat BBLR dan 93,6% lainnya mempunyai riwayat kelahiran dengan berat yang normal. Kelahiran BBLR merupakan indikasi kehamilan yang kurang sehat, hal ini dapat berupa asupan gizi yang tidak baik pada ibu hamil atau terjadi kesakitan pada ibu saat mengandung.
6.7. Gambaran Pengetahuan Ibu Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Dari pendidikan, ibu akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik maka akan mudah menerima segala informasi terutama semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak untuk dapat berkembang secara optimal. Informasi tersebut meliputi bagaimana cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan anak, dan menstimulasi perkembangan anak. Pengetahuan dan pemahaman yang baik diperoleh dari suatu pendidikan yang baik melalui proses dan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Syah, 2003)
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prilaku ibu dalam tumbuh kembang anak. Dengan terbatasnya kemampuan ibu dalam pengetahuan sehingga memungkinkan terhambatnya kemampuan anak. Pengetahuan ibu mempunyai pengaruh terhadap perkembangan motorik anak, hasil penelitian menunjukan tingkat pengetahuan ibu pada anak dengan rentang
usi 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari, terdapat 4,3% ibu dengan tingkat pengetahuan rendah, dan 34% ibu dengan tingkat pengetahuan sedang dan 61% ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi.
Jika ditinjau dari data yang diperoleh yaitu sebanyak 58 orang atau 61,7% dari 94 ibu memiliki pengetahuan yang tinggi dalam perkembangan mottorik kasar anak, dapat dikatakan sebagian besar ibu pada anak dengan rentang usia 6-24 tahun di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang meiliki pengetahuan yang tinggi tentang perkembangan motorik kasar.
6.8. Gambaran Tingkat Pendidikan Ibu Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan pengetahuan, semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu terhadap suatu masalah, lembaga pendidikan di Negara kita terbagi kedalam 2 kategori formal dan nonformal. Contoh dari lembaga pendidikan formal adalah sekolah Negeri atau Suasta yang mengacu pada kurikulum Depag atau Dinas Pendidikan dan contoh dari lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren yang dipimpin oleh para ajengan dan kiyai.
Dalam penelitian ini tingkat pendidikan yang dimaksud adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah diselesaikan oleh ibu anak dalam sistem pendidikan nasional. Berdasarkan hasil penelitian 64,9% ibu anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari memiliki tingkat pendidkan rendah, dan 35,1%
sisanya memiliki pendidikan yang tinggi, dapat disimpulkan ibu anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten sebagian besar masih berpendidikan rendah.
6.9. Gambaran Tingkat Pendidikan Ayah Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Sama halnya dengan tingkat pendidikan pada ibu, tingkat pendidikan pada ayah pun berarti jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah diselesaikan oleh ayah anak dalam sistem pendidikan nasional. Dari pendidikan ini diharapkan ayah mendapatkan banyak informasi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dalam berupa akses langsung maupun akses perantara.
Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini diketahui 43,6% ayah anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan 56,4% meiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan tingkat pengetahuan ibu, sebagian besar ayah anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawngi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
6.10. Gambaran Status Ekonomi Keluarga Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Pendapatan yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Biasanya pendapatan keluarga diukur dengan pendapatan Upah Minimum
Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Regional (UMR), upah minium Provinsi Banten untuk Kabupaten Pandeglang adalah Rp.1.418.000/Bulan.
Berdasarkan hasil penelitian 36,2% keluarga berpenghasilan rendah dan 63,8% berpenghasilan tinggi. Desa pari merupakan pusat perdagangan di Kecamatan Mandalawangi, di desa ini terdapat pasar sebagai tempat perputaran uang dan akses bagi penduduk sekitar untuk berniaga ataupun menjual hasil kebun dan sawah untuk para petani, jadi tak mengherankan jika sebagian besar penduduk Desa Pari berpenghasilan tinggi.
6.11. Gambaran Jumlah Anak dalam Keluarga Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang mempunyai status ekonomi yang cukup akan mengurangi kasih sayang dan perhatian pada anak. Sedangkan jumlah anak yang banyak pada keluarga dengan status ekonomi yang kurang tidak hanya mengurangi perhatian dan kasih sayang juga kebutuhan primer sandang, pangan, pun tak terpenuhi. Jadi banyaknya anak dalam satu keluarga akan mempengaruhi status gizi anak dantumbuh kembang anak.
Berdasarkan data penelitian 40% keluarga anak dengan rentang usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari memiliki anak 2 atau kurang, sedangkan 59,6% keluarga anak dengan rentang usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari mempunyai anak 3 atau lebih. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan jumlah anak dalam satu kepala keluarga di Desa Pari Kecamatan Mandalawangi
Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten masih mempunyai banyak anak yaitu 3 atau lebih.
6.12. Gambaran Stimulus Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teraturakan lebih cepat berkembang terutama dalam perkembangan motorik kasar anak, yang dimaksud stimulus dalam penelitian ini adalah merupakan cara orang tua mengasuh mendidik dan membesarkan anak yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak, seperti yang ditunjukan jawaban responden pada angket.
Hasil penelitian ini menunjukan 25,5% anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten mendapat stimulasi yang kurang dan 74.5% anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten mendapat stimulasi yang cukup. Dapat dikatakan anak usia 6-24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten mendapat stimulasi yang cukup dari orang tua mereka.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Yekti Rokhani (2008) Hasil penelitian ini menunjukkan baduta yang perkembangan motorik kasarnya lambat pada periode tertentu sebanyak 34 anak (77,3 %). Sedangkan jumlah baduta yang motorik kasarnya normal dari awal periode perkembangan hanya 10 anak (22,7 %). Sebagian besar status gizi anak baduta
di Puskesmas Kampung Sawah baik, yaitu 90,9 %, hanya 9,1 % saja yang kurang baik. Sedangkan untuk pola asuh juga cukup baik, yaitu 54,5 %, dan kurang baik sebesar 45,5 %. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan perkembangan motorik kasar.
6.13. Hubungan Status Gizi Dengan Status Perkembangan Motorik Kasar Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu. Penentuan status gizi ditentukan berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) berdasarkan Z-score baku rujukan WHO NHCS. Menurut BAPPENAS dalam materi Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015 terdapat beberapa faktor yang menyebabkan status gizi, menurut Unicef, faktor yang mempengaruhi status gizi digolongkan atas penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung yaitu konsumsi makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Adapun penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.
Setelah dilakukan uji chi-square pada variabel status gizi dan motorik kasar didapatkan sel yang mempunyai nilai harapan (nilai E) kurang dari 5 sebanyak 6 sel (75%), dengan dengan demikian harus dilakukan penggabungan
kategori-kategori yang semakna dalam rangka memperbesar harapan dari sel-sel tersebut. Maka status gizi dirubah menjadi dua kategorik yaitu, 0 = status gizi bermasalah (gabungan dari 0,1 dan 3) dan 1 = status gizi baik.
Berdasarkan hasil penelitian status gizi secara signifikan mempengaruhi status perkembangan motorik kasar anak dengan nilai p 0,009 artinya adanya hubungan yang bermakna antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar anak pada anak usia 6 sampai 24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
Hasil ini sesuai dengan hasi penelitian Lindawati (2010) didapatkan bahwa tingkat perkembangan motorik anak dengan status gizi kurang tidak sesuai dengan usia terjadi pada 66.7% responden, sedangkan tingkat perkembangan motorik anak dengan status gizi normal tidak sesuai hanya terjadi pada 32.8% responden. Dengan hasil hitung 0,004 dan p value 0,01 artinya ada hubungan bermakna antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar.
Begitu juga dengan hasil penelitian Ulya (2012) menunjukkan bahwa status gizi anak sebagian besar baik sebanyak 32 anak (78,0%), perkembangan motorik kasar anak sebagian besar normal sebanyak 30 anak (73,2%), dan ada hubungan yang bermakna antara status gizi anak dengan perkembangan motorik kasar pada anak di Posyandu Mukti Asih Kelurahan Genuk Sari dengan nilai p sebesar 0,000 (Ulya, Maslachatul. 2012)
Namun hasil penelitian ini bertentangan dengan hasi penelitian Gunawan dkk. (2010) dengan jumlah subjek 321 anak usia 6 sampai 24 bulan dan yang memenuhi kriteria inklusi 308 anak, terdiri dari 164 laki-laki (53,2%) dan 144 perempuan (46,8%). Anak yang mengalami perkembangan normal 278 anak (90,22%) dan meragukan 30 anak (9,78%). Sedangkan status gizi dinilai berdasarkan BB/PB, hasil normal 277 anak (89,9%) dan kurus 31 anak (10,10%). Dari 31 anak dengan status gizi kurang, di antara 2 anak di antaranya mengalami perkembangan meragukan dan dari 28 anak dengan perkembangan meragukan mempunyai status gizi normal. Tidak terdapat hubungan antara gangguan perkembangan dengan status gizi (p=0,394).
Seperti yang telah dipaparkan bahwa menurut hasil penelitian status gizi berhubungan signifikan secara statistik dengan status perkembangan motorik kasar anak. Dengan demikian untuk meningkatkan status perkembangan motorik kasar anak maka harus dimulai dengan memperbaiki status gizi anak tersebut. Untuk penanggulangan gizi buruk pemerintah telah merancang bebeapa program salah satu program yang di adopsi pemerintah untuk penanggulangan gizi buruk adalah program positive deviance.
Positive Deviance (PD) atau penyimpangan positive adalah sebuah program baru di dalam dunia kesehatan, yang bertujuan untuk menangani kasus gizi buruk atau gizi kurang bagi anak-anak Balita yang ada di seluruh Indonesia. Disebut dengan penyimpangan positive karena anak-anak penderita gizi buruk yang berada di satu lingkungan bisa mencontoh perilaku hidup sehat
anak-anak yang tidak menderita gizi buruk.Program PD ini lebih mengembangkan konsep pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat secara penuh untuk mengatasi masalah gizi buruk, sangat jauh berbeda dengan program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang dikembangkan oleh pemerintah. Program PMT sangat tidak efektif karena masyarakat tidak dilibatkan secara penuh dalam program tersebut, bahkan cenderung membuat masyarakat manja dan memiliki ketergantungan sangat tinggi terutama bagi keluarga penderita gizi buruk. Di samping itu juga, program PMT sangat mubazir dalam hal pembiayaan, karena semua keluarga penderita gizi buruk selalu berharap untuk mendapat bantuan. Itu sebabnya program PD perlu mendapat perhatian pemerintah (Depkes) untuk diadopsi dalam rangka mengatasi gizi buruk di masyarakat.
Selain positive deviance ada beberapa program yang telah terdahulu disosialisasikan kepada masyarakat dalam upaya kesehatan promotif dan preventif terdapat program penyuluhan gizi melalui promosi kadarzi, revitalisasi posyandu, pemberian supplementasi gizi dan pemberian MP-ASI bagi balita gakin. Sedangkan dalam upaya kuratif dan rehabilitatif terdapat program penemuan aktif dan rujukan kasus gizi buruk, perawtan balita gizi buruk dan pendampingan balita gizi buruk pasca perawatan.
Dalam menunjang penanggulangan gizi buruk demi terwujudnya status perkembangan motorik kasar anak yang optimal maka dierlukan peran berbagai pihak termasuk didalamnya keluarga. Peran keluarga dalam kerangka kerja
pencegahan dan peanggulangan gizi buruk adalah mengikuti onseling gizi, memberikan ASI ekslusif dan MP-ASI, memberikan gizi yang seimbang padda anak, memberikan pola asuh yang baik, pemantauan pertumbuhan anak, menggunakan garam beryodium, memanfaatkan pekarangan rumah sebagai apotek dan pasar hidup, peningkatan daya beli keluarga dan menjadi keluara siaga.
6.14. Hubungan Umur Dengan Status Perkembangan Motorik Kasar Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Semua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.
Berdasarkan hasil penelitian tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dan staus perkembangan motorik kasar pada anak usia 6 sampai 24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.dengan p value 0,422.
Penelitian ini selaras dengan penelitian Vita dkk. yang menyebutkan bahwa pada anak usia 12-18 bulan yang terdiri atas 22 anak (51%) laki-laki dan 21 anak (49%) perempuan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna (p >0.05) pada sebaran sampel menurut umur dan jenis kelamin di kedua keluarga.
Penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Gunawan dkk (2010) yang menyatakan bahwa hasil penelitian menggambarkan bahwa umur balita dengan gangguan perkembangan anak sebanyak 31 anak. Dengan p value 0,009 ada hubungan antara umur dengan gangguan perkembangan anak.
Pada penelitiaan ini variabel umur tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status perkembangan motorik kasar dikarenakan pada pengukuran status perkembangan motorik kasar menggunakan indikator umur sebagai parameter pengukurannya. Maka dari itu walaupun dalam teori Soetjiningsih dan Hidayat dikatakan bahwa umur termasuk kedalam faktor yang mempengaruhi motorik kasar, tapi berdasarkan hasil penelitian ini tidak memiliki hubungan dengan status perkembangan motorik kasar.
6.15. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Status Perkembangan Motorik Kasar Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat. Dalam hal ini jenis kelamin mempunyai peranan tersendiri
dalam tumbuh kembang anak, khususnya perkembangan motorik kasar. Dalam tumbuh kembang anak selain umur, jenis kelamin merupakan faktor yang harus diperhatikan sebagai salah satu indikasi dalam menentukan status perkembangan motorik kasar anak.
Berdasarkan hasil penelitian tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan status perkembangan motorik kasar anak pada anak usia 6 sampai 24 bulan di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.dengan p value 1,000
Hal ini selaras dengan penelitian Gunawan (2010) yang menyebutkanHasil penelitian menggambarkan bahwa jenis kelamin laki dengan gangguan perkembangan anak sebesar 5,9% dan jenis kelamin perempuan dengan gangguan perkembangan anak sebesar 3,7%. Dengan p value 0,494 tidak ada hubungan antara Jenis kelamin dengan gangguan perkembangan anak.
6.16. Hubungan Status Berat Bayi Lahir Rendah Dengan Status Perkembangan Motorik Kasar Pada Anak Usia 6 sampai 24 bulan Di Posyandu Desa Pari Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang
Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak, karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini (Hidayat, 2008). Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi. Angka kematian bayi di Indoesia tercatat 16,3 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2008, ini memang bukan gambaran yang indah
karena masih terbilang tinggi bila di bandingkan dengan Negara – negara di bagian ASEAN.
Menurut data WHO tahun 2007 prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan (Setyowati, 1996). Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5 %.