• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS

A. Gambaran Umum tentang Katekese Umat

Katekese umat adalah salah satu bentuk keterlibatan Gereja dalam

mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Katekese membantu setiap umat untuk

menghayati imannya secara nyata. Dengan bantuan katekese umat semakin bisa

memaknai pengalaman hidupnya sehari- hari dalam terang Injil. Melalui katekese,

umat beriman berkumpul dan saling berbagi pengalaman iman serta saling

meneguhkankan antara satu sama lain.

1. Pengertian Katekese Umat

Dalam anjuran apostolik Catechesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Katekese ialah “pembinaan anak-anak, kaum muda, dan

orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian

ajaran-ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis,

dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen”

(CT, art. 18).

Dengan kata lain, katekese dapat diartikan sebagai usaha-usaha dari pihak

Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan

mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari- hari. Di dalam katekese meliputi

unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan,

serta pendewasaan. Metode sangat perlu diperhatikan dalam rangka membantu

umat untuk memahami apa yang dimaksud dengan katekese umat (Telaumbanua,

37

Katekese umat merupakan proses yang berasal dari umat, oleh umat dan

untuk umat. Oleh karena itu unsur utama yang harus selalu ada dalam katekese

adalah umat, karena katekese merupakan usaha yang dilakukan untuk

mengembangkan iman umat serta lebih membantu mendalami hidup berimannya

sehingga semakin mantap dengan apa yang telah diyakini.

Ada beberapa pandangan yang mengemukakan pengertian katekese umat

diantaranya menurut rumusan PPKI II dalam buku Katekese Umat yang dikemukakan oleh Huber (1981: 10) mengatakan katekese adalah:

Komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (= penghayatan iman) antara jemaat/kelompok, yang sebagai kesaksian saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing- masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam katekese umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Pula mengandaikan perencanaan.

Katekese kapan dan dimanapun juga merupakan komunikasi iman.

Komunikasi yang terjadi bukan saja antara pembimbing dengan peserta tetapi

lebih- lebih komunikasi antar peserta sendiri. Arah katekese pada jaman sekarang

menuntut agar para peserta semakin mampu mengungkapkan diri demi

pembangunan jemaat. Katekese umat adalah salah satu bidang di dalam usaha

pastoral Gereja yaitu tentang pembinaan iman umat (Huber, 1981: 18).

Siauwarjaya (1987: 38) mengatakan bahwa katekese umat adalah usaha

kelompok secara terencana untuk saling menolong mengatikan hidup nyata dalam

terang Yesus Kristus sebagaimana telah dihayati dalam tradisi Gereja, agar

kelompok makin mampu mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam hidup

38

hidupnya sehari-hari sehingga menjadi semakin yakin dan percaya kepada Yesus

Kristus.

2. Tujuan Katekese Umat

Demikian juga katekese umat memiliki tujuan dan harapan yang sangat

mulia demi perkembangan kedewasaan iman umat. Tujuan dari katekese umat

dirumuskan oleh PKKI II (Huber, 1981: 16) sebagai berikut:

- supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari- hari;

- dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari- hari;

- dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita. - pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas,

mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; - sehingga kita sanggup memberikan kesaksian tentang Kristus dalam

hidup kita di tengah masyarakat.

Dalam buku Membangun Gereja Indonesia 2, Siauwarjaya (1987: 34) mengemukakan bahwa katekese umat sebagai salah satu usaha pastoral untuk

membangun Gereja. Tujuan katekese dilihat dari 4 (empat) fungsi dasariah Gereja

yaitu persekutuan, pewartaan, perayan iman, dan pelayanan. Katekese umat juga

bertujuan membina iman umat, agar umat semakin bersatu dengan Kristus demi

pelaksanaan penataan hidup bersama yang lebih manusiawi dalam semangat

Kristus. Katekese umat mendukung hidup persekutuan/ persaudaraan diantara umat. Katekese mengajak umat untuk saling menolong untuk menyadari

kehadiran Kristus dalam hidupnya secara personal dan berdasarkan kehadiran

39

mengasihi, saling mendukung, saling meneguhkan, saling melayani sebagai

perwujudan persatuan mereka dengan Kristus.

Katekese umat mendukung fungsi perayaan iman. Katekese umat membantu

umat untuk saling menolong untuk menyadari pentingnya mengeksplisitkan iman

dalam bentuk perayaan iman dan mewujudnyatakannya dalam hidup sehari- hari.

Katekese menolong umat untuk menyadari bahwa Liturgi baru sungguh-sungguh

menjadi ungkapan iman bila iman yang merupakan gema dari penghayatan

imannya (Siauwarjaya, 1987: 34).

Katekese umat menunjang fungsi pelayanan. Tujuan katekese umat adalah

untuk menolong umat merealisasikan imannya dalam hidup nyata. Karena dalam

hidup itulah iman sungguh-sungguh menjadi real dalam pelaksanaan. “Bukan

setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam

Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di

surga” (Mat 7:21). Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae

mengungkapkan tujuan dari katekese yakni sebagai suatu tahap pengajaran dan

pendewasaan iman bagi umat kristiani yang telah percaya dan menyerah diri

seutuhnya kepada Yesus Kristus sehingga mencapai pada pertobatan hati yang

jujur dan berusaha semakin mengenal Yesus ysng menjadi tumpuan

kepercayaannya (CT, art. 20).

Katekese umat mengajak umat untuk saling menolong untuk terus menerus

bertobat dan peka terhadap kehendak Allah dalam hidupnya serta berani

memperjuangkan kehendak Allah dalam pelbagai dimensi hidup manusia. Bagi

40

mereka, kekuatan mereka, dan kesetiaan Allah kepada mereka. Katekese umat

mengusahakan agar mereka tidak menyerah pada situasi dan tetap semangat

dalam menjalani hidup dan mengikuti Kristus. Bagi mereka yang terlibat dalam

penindasan, katekese umat mengajak mereka untuk menyadari situasi

ketidakadilan dan menolong mereka untuk menyadari tanggung jawab mereka

terhadap yang lemah, agar mereka terbuka kepada Allah dan terbuka untuk

mengambil bagian dalam tugas pengutusan Kristus, sehingga Kerajaan Allah

semakin terwujud di tengah-tengah dunia (Siauwarjaya, 1987: 37)

3. Isi dan Tema Katekese

Tema dan isi katekese yang diberikan harus selalu sesuai dengan

kebutuhan dan situasi umat. Segala permasalahan dan kebutuhan umat yang

mendesak harus menjadi perhatian bagi katekese. Isi katekese dapat bersumber

dari Tradisi, Kitab Suci, refleksi iman dari para teolog, dan bacaan-bacaan hari

Minggu (Sumarno Ds, 2006: 27).

Katekese umat merupakan salah satu usaha Gereja dalam mengembangkan

iman umat. Isi warta keselamatan terjadi dari bagian-bagian yang berkaitan satu

sama lain secara erat, meskipun pewahyuannya diberikan oleh Allah tahap demi

tahap, dahulu melalui para nabi, dan terakhir di dalam Putera-Nya (Ibr 1:1).

Karena katekese mempunyai tujuan menuntun masing- masing orang beriman

Kristiani dan jemaat-jemaat beriman ke arah iman yang matang, maka katekese

perlu dengan tekun mengusahakan supaya keseluruhan harta warta kristiani

41

tindakan pendidikan Ilahi, dan sekaligus memperhatikan kepenuhan wahyu Illahi

yang dianugerahkan, yakni supaya umat Allah mendapat rejeki dan kehidupan

darinya (DCG, art. 38)

Obyek iman pada dasarnya merupakan sesuatu yang kompleks, yaitu Allah

sendiri yang penuh misteri dan tindakan penyelamatan-Nya di dalam sejarah;

semua ini diketahui melalui apa saja yang diberitahukan oleh Allah tentang

diri-Nya sendiri serta tindakan-tindakan-diri-Nya. Kristuslah yang menjadi pusatnya, baik

dalam hal tindakan Allah maupun pengejewantahan-Nya kepada manusia. Oleh

sebab itu obyek katekese adalah karya-karya Allah, yaitu karya-karya yang telah

dilaksanakan oleh Allah, yang sedang dilaksanakan dan yang akan dilaksanakan

oleh Allah untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Semua itu

berhubungan erat dan serasi satu sama lain, dan menjadi keutuhan rencana

keselamatan (DCG, art. 39).

Beberapa pandangan yang mengatakan bahwa isi dari katekese ialah

bersumber atau bertitik tolak dari hidup Yesus sendiri. Katekese juga bersumber

dari pengalaman hidup peserta. Inti dari kegiatan katekese meliputi tiga unsur

yakni pengalaman hidup nyata, teks Kitab Suci atau Tradisi dan penerapan konkrit

pada hidup peseta (Sumarno Ds, 2006: 11).

Dalam menentukan tema dalam katekese sangat penting jika ditentukan

bersama dengan umat/peserta, karena dengan itu pendamping bisa menge tahui

kebutuhan atau kerinduan umat (Sumarno Ds, 2006: 27). Tema katekese umat

hendaknya diangkat dari situasi konkrit masyarakat yaitu tentang

42

masalah kebutuhan sehari- hari misalnya makan, minum, rumah, pendidikan anak

dsbnya (Komkat KWI, 1997: 98).

Apabila tema telah disepakati bersama-sama dengan umat, maka seorang

pendamping bisa mulai dengan mempersiapkan katekese. Semua yang diberikan

sebagai bahan dalam proses katekese harus selalu mengarah pada Yesus Kristus,

karena Dialah sumber utama dalam katekese. Dalam katekese umat, kita bersaksi

tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada

kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai

pola hidup dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian baru, yang mendasari

penghayatan iman Gereja di sepanjang Tradisinya (Sumarno Ds, 2006: 9).

4. Peserta Katekese Umat

Rumusan PKKI II, dalam Katekese Umat yang diungkapkan dala m Huber (1981: 10) mengatakan:

Yang berkatekese ialah umat. Artinya semua orang beriman, baik secara perorangan maupun secara kelompok, yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Jadi singkatnya seluruh umat baik umat dalam kelompok-kelompok basis maupun umat di sekolah atau diperguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan satu unsur yang memberi arah pada katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan aspek umat pada pengertian Gereja itu sendiri.

Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada

pengertian Gereja. Rumusan diatas mau menunjukan bahwa seluruh Gereja sadar

bahawa katekese tidak ditujukan kepada sebagaian umat saja melainkan semua

43

mereka yang sudah memilih kristus secara mutlak maupun mereka yang ingin

mengenal Kristus seperti para katekumen.

Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama

dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Dapat

dikatakan juga katekese umat adalah komunikasi iman umat, dari umat, dan untuk

umat. Peserta adalah pelaksana karya pelayanan katekese. Pelaksana karya

katekese adalah para umat beriman sebagai keseluruhan, baik Gereja yang

menyeluruh maupun gereja- gereja setempat, baik para pemuka Gereja, maupun

bukan pemuka, setiap orang beriman, maka karya katekese tidak bisa berjalan

sendiri-sendiri: setiap orang beriman perlu memperhatikannya,

memungkinkannya, dan mengajukannya (Setyakarjana, 1997:18).

Dalam katekese, umat bukan hanya sebagai obyek atau sasaran atau target

dari kegiatan katekese, melainkan peserta juga bertindak sebagai subyek

pelaksana katekese itu sendiri.

5. Sarana dan Metode dalam Berkatekese

Di dalam berkatekese, metode yang digunakan harus dapat mendukung

proses pelaksanaan katekese. Metode juga harus disesuaikan dengan situasi

peserta atau umat. Metode yang dipakai diharapkan dapat membantu tercapainya

tujuan katekese. Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae mengatakan bahwa umur serta perkembangan nalar orang Kristen, taraf kematangan rohani,

44

menggunakan metode dalam proses pembinaan iman sehingga tujuan pelaksanaan

katekese dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan (CT, art. 51).

Banyak metode yang bisa dikembangkan dalam berkatekese. Penggunaan

metode- metode itu tergantung dari fasilitator yang membawakan katekese. Dalam

menggunakan metode untuk katekese seorang fasilitator diharapkan bisa

menyesuaikan dengan usia, kebudayaan, dan sikap pribadi-pribadi yang

bersangkutan (EN, art. 44).

Selain memperhatikan metode dalam berkatekese, sarana juga sangat perlu

diperhatikan. Sarana adalah salah satu pendukung dalam berkatekese sehingga

katekese menjadi lebih hidup dan menarik. Sebaiknya kegiatan katekese diberikan

dengan mempergunakan segala sarana, daya-upaya didaktik, dan alat-alat

komunikasi sosial yang efisien agar kaum beriman lebih mudah memahami dan

menangkap maksud yang ingin disampaikan sehingga dengan mudah mereka

dapat mempelajari ajaran Katolik secara lengkap dan dapat mempraktekkannya

dengan lebih tepat (KHK, kan. 779). Dalam Cathecesi Tradendae, Yohanes Paulus II mengungkapkan pentingnya penggunaan sarana-sarana dalam

berkatekese sebagai berikut:

Kami menghimbau agar prakarsa-prakarsa yang dimaksudkan untuk memberi pembinaan Kristen kepada semua orang kelompok itu, memakai upaya- upaya yang cocok (sarana-sarana aud io-visual, buku-buku kecil, diskusi-diskusi, pelajaran-pelajaran), semakin bertambah banyak, serta memampukan banyak orang dewasa untuk menutup kekosongan akibat suatu katekese yang serba kurang dan tidak memadai, untuk secara harmonis melengkapi pada taraf lebih tinggi katekese yang mereka terima waktu masih kanak-kanak, atau bahkan untuk menyiapkan diri secukupnya di bidang itu agar mampu menolong sesama secara lebih serius (CT, art. 45).

45

Artikel di atas mengharapkan untuk menyelenggarakan

pembinaan-pemb inaan terhadap umat, selalu memakai sarana-sarana yang ada misalnya

dengan menggunakan sarana-sarana audio-visual, buku-buku kecil,

diskusi-diskusi, pelajaran-pelajaran bahkan bisa lebih kreatif lagi, sehingga membantu

umat untuk semakin menghayati imannya secara mantap.

Mewartakan sabda Allah dengan media memang sangat diharapkan oleh

pihak Gereja, dan sangat cocok dengan perkembangan zaman sekarang ini.

Evangelii Nuntiandi menyebutkan abad kita ditandai dengan media massa atau sarana-sarana komunikasi sosial, dan pewartaan yang pertama, katekese atau

pendalaman iman, lebih lanjut tidak dapat dilakukan tanpa menggunakan

media-media ini (EN, art. 45). Perkembangan alat alat komunikasi sangat berperan

penting dalam mengembangkan iman umat. Proses pewartaan menjadi mudah,

umat semakin memahami dan menangkap maksud dari pewartaan dengan baik.

Melalui alat-alat komunikasi yang digunakan tersebut dapat membantu

keberhasilan suatu pewartaan. “Berkat alat-alat ini, Gereja berhasil berbicara

kepada banyak orang” (EN, art. 45). Hal ini bermaksud bahwa melalui alat-alat

komunikasi yang telah banyak beredar di jaman ini, sangat berperan penting

dalam perkembangan diri dan iman setiap pribadi. Proses pewartaan dapat

tersampaikan dengan cepat, praktis dan dapat didengar atau disaksikan oleh

seluruh umat. Pewartaan yang dilakukan melalui alat-alat komunikasi juga sangat

praktis dan efisien karena tidak membutuhkan waktu yang banyak, sehingga

proese pewartaan dapat tersampaikan dengan cepat dan dapat diterima oleh umat

46

6. Shared Christian Praxis sebagai Salah Satu Model Katekese Umat

Dalam berkatekese atau pendalaman iman, ada beberapa model yang bisa

digunakan diantaranya Model pengalaman hidup yang lebih bertolak dari pada

pengalaman hidup konkrit sehari- hari, model Biblis lebih bertolak dari

pengalaman Kitab Suci atau Tradisi, dan model Campuran Biblis dan Pengalaman

Hidup yang lebih bertolak pada hubungan antara Kitab suci atau Tradisi dengan

pengalaman hidup konkrit (Sumarno Ds, 2006: 11).

Dari ketiga model diatas, terdapat satu model yang lebih bertolak dari

pengalaman hidup konkrit yang dikonfrontasikan dengan Kitab Suci atau Tradisi

Kristiani yakni model Shared Christian Praxis. SCP bermula dari kebutuhan para katekis untuk menemukan suatu pendekatan berkatekese yang handal dan efektif,

artinya suatu pendekatan yang mempunyai dasar teologis yang kuat,

menggunakan model pendidikan yang “progresif”, yang memiliki keprihatinan

pelayanan pastoral yang aktual (Groome, 1997: 1).

Model Shared Christian Praxis adalah model katekese yang menekankan proses berkatekese yang bersifat dialogal dan partisipatif yang bermaksud

mendorong peserta, berdasarkan konfrontasi antara “tradisi” dan “Visi” kristiani,

agar baik secara pribadi maupun bersama, mampu mengadakan penegasan dan

mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam

kehidupan manusia yang terlibat dalam dunia. Model katekese ini bermula dari

pengalaman hidup peserta, yang direfleksi secara kritis dan dikonfrontasikan

dengan pengalaman iman dan visi kristiani supaya muncul sikap dan kesadaran

47

Bagi setiap peserta yang telah menyadarinya, katekese dengan model ini

sangat menggarisbawahi peran-keberadaan peserta sebagai subyek yang bebas dan

bertanggungjawab, serta kehadiran peserta sungguh-sungguh dihargai. Dialog

antar subyek (inter subyektivitas) yang ditekankan dalam model ini tidak hanya

terjadi antara para peserta dengan pendamping tetapi juga antar peserta it u sendiri

(Groome, 1997: 1).

a. Istilah- istilah dalam Model Shared Christian Praxis

Katekese model SCP ini terdiri dari beberapa istilah yang sangat penting

untuk diketahui khususnya oleh seorang pendamping. Dengan menguasai

istilah-istilah tersebut peran seorang pendamping akan sangat membantu kelancaran

proses pendampingan. Istilah- istilah yang dikenal dalam SCP meliputi Shared, Christian, dan Praxis.

1) Shared

Istilah shared menunjuk pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipasi aktif dari semua peserta, sikap egalitarian, terbuka baik untuk

kedalaman diri pribadi, kehadiran sesama, maupun untuk rahmat Tuhan. Istilah

kata Shared juga mengandung makna dialog, kebersamaan, keterlibatan, dan solidaritas. Dalam “sharing” semua peserta diharapkan secara terbuka siap

mendengar dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati, kata sharing

juga terkandung hubuingan dialektis antara pengalaman hidup faktual peserta

48

menekankan kemitraan yang saling melengkapi, partisipasi aktif dan dialog dalam

diri seseorang, dialog dengan orang lain, dengan Tuhan, dengan Cerita/Visi iman

Kristen. Di dalam Shared Christian Praxis selalu mewujudkan dialog atau percakapan diantara peserta dengan fasilitator. Hal ini berarti setiap orang

diharapkan menjadi partisipan atau peserta yang aktif, yang mengembangkan

semangat kemitraan (Tabita Kartika Christiani, 2008: 1).

Di dalam sharing juga berarti berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan, serta

saling mendengarkan pengalaman orang lain. Dialog mulai dari diri sendiri dan

diungkapkan selaras dengan pengalamannya sendiri dalam suasana penuh

persaudaraan dan cinta kasih (Sumarno Ds, 2006: 16).

Dalam dialog ada dua unsur penting yaitu membicarakan dan

mendengarkan. Membicarakan (to tell) tidak sama dengan berbicara (to speak). Membicarakan berarti menyampaikan apa yang menjadi kebenaran dan

pengalamanku dan mengatakan apa yang terjadi dalam diriku sebagaimana

adanya, bukan apa yang didengar dari orang lain saja, atau apa yang dipikirkan

atau apa yang diperkirakan. Membicarakan didasari oleh sikap keterbukaan dan

kejujuran serta kerendahan hati untuk mengungkapkan pengalaman dan

pengetahuan yang nyata terjadi dan diyakininya (Sumarno Ds, 2006: 16).

Mendengarkan berarti mendengar dengan hati dan rasa, tentang apa yang

dikomunikasikan oleh orang lain. Dengan mendengarkan orang lain maka peserta

dapat menemukan diri sendiri dan menemukan kehendak Tuhan. Sikap

49

menimbulkan gerak hati serta empati terhadap apa yang dikomunikasikan oleh

orang lain (Sumarno Ds, 2006: 17).

Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam sharing yaitu cinta akan dunia

dan manusia yang menjadi dasar berkomunikasi, sikap kerendahan hati mau

menerima dan memberi pengalaman pribadi, pengalaman iman yang mendalam

yang melibatkan manusia lain dengan jujur dan terbuka, suasana saling berharap

akan kekuatan dan dukungan dari sesama, bijaksana terhadap apa yang mau

di-sharing-kan yang diterima dari hasil sharing dengan orang lain. Diharapkan pula

dalam sharing yang terjadi adalah bukan hanya dialog antara peserta saja, tetapi

antara peserta dengan Tuhan (Sumarno Ds, 2006: 17).

2) Christian

Kata Christian menekankan kesempatan untuk membuat jalan masuk bagi peserta kepada Tradisi/Visi iman Kristen sepanjang zaman, dan memampukan

mereka untuk mengambil maknanya bagi kehidupan mereka. Tradisi Kristen

mencakup Kitab Suci, liturgi, pengakuan iman, dogma, doktrin, teologi, sakramen

dan ritual (Tabit a Kartika Christiani, 2008: 1). Katekese dengan model Shared Christian Praxis mencoba mengusahakan supaya kekayaan iman kristiani sepanjang sejarah dan visinya makin terjangkau, dekat dan relevan untuk

kehidupan zaman sekarang. Kekayaan iman yang ditekankan dalam model ini

meliputi dua unsur pokok yaitu pengalaman hidup iman kristiani sepanjang

sejarah (tradisi) dan visinya (Groome, 1997: 3). Tradisi (dengan huruf besar T)

50

lampau saja, tetapi seluruh pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang

sudah terungkap dan yang sudah dibakukan oleh Gereja dalam rangka

menanggapi pewahyuan Allah di dunia ini (Sumarno Ds, 2006: 17).

Setiap manusia mempunyai pengalaman dan sejarah masing- masing,

manusia mempunyai tradisi- nya sendiri-sendiri dalam menghayati dan menjalani

hidupnya di dunia atas dasar keyakinan imannya. Dalam hidup berimannya

manusia menciptakan tradisinya sendiri yang dapat dilihat dalam kerangka

pengalaman hidupnya di dunia dalam sejarah sebagai orang beriman yang ada

dalam peristiwa dan sejarah dunia dan manusia. Tradisi (dengan huruf kecil t)

menunjukan pada pengalaman hidup konkrit sehari- hari (Sumarno Ds, 2006: 17).

Pengertian Visi (dengan huruf besar V) dalam Gereja tidak bisa dilepaskan

dari Tradisi, karena Visi itu bukan sekedar suatu pengetahuan tertentu saja, tetapi

suatu kenyataan hadirnya atau manifestasi konkrit dari isi Tradisi, dan yang

menjadi jawaban hidup orang beriman terhadap apa yang ditawarkan dalam

pengalaman iman kristiani dan terhadap janji Allah yang terungkap dalam Tradisi

atau pengalaman iman kristiani. Setiap manusia dalam menjalani hidupnya di

dunia ini berusaha menanggapi janji Allah dalam hidupnya dan merumuskannya

dalam visi kristianinya atas dasar pengenalannya akan tradisi atau pengalaman

yang dihayatinya. Visi Kristiani menjadi ukuran keberimanan manusia yang

senantiasa terbuka akan masa depan (Sumarno Ds, 2006: 17).

Sifat dialektik berarti mengkonfrontasikan ‘visi’ dan ‘tradisi’ peserta dengan

Dokumen terkait