BAB V: PENUTUP
B. Saran
Mahasiswa IPPAK adalah para kaum muda dan anggota Gereja, oleh karena
itu mereka berkewajiban dalam meneruskan tugas perutusan yang telah diberikan
oleh Yesus kepada para murid yakni mewartakan sabda Allah di tengah-tengah
dunia. Oleh sebab itu, para mahasiswa perlu dibina dan dipersiapkan sejak dini
sesuai dengan perkembangan jaman, sehingga iman, kepribadian, dan
pengetahuan, terus menerus diperkembangkan dan akhirnya siap menjadi katekis
yang bermutu.
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengungkapkan beberapa saran
bagi para mahasiswa IPPAK agar semakin menyadari pentingnya keterlibatan
dalam hidup menggereja baik di lingkungan kampus, Gereja dan masyarakat.
Beberapa saran yang dapat diberikan oleh penulis bagi mahasiswa IPPAK
diantaranya:
§ Meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan hidup menggereja dengan cara lebih memberi waktu khusus untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di
107
§ Selalu menyadari panggilan diri sebagai katekis dengan selalu berusaha menjadi teladan yang baik dalam hidup rohani dan kepribadiannya sehari-hari.
§ Menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi dengan sesama teman di kampus dan warga masyarakat di lingkungan tempat tinggal serta dimanapun berada.
§ Terus menerus mengembangkan diri dengan terlibat dalam kegiatan yang mengembangkan kepribadian dan penge tahuan.
§ Selalu berupaya mengembangkan iman umat dengan terlibat dalam memberikan katekese baik kepada umat di lingkungan maupun sesama
mahasiswa di kampus.
Demikian kesimpulan dan saran yang dapat penulis sampaikan di dalam
skripsi ini. Semoga kesimpulan dan saran ini semakin menyadarkan mahasiswa
IPPAK dalam meningkatkan keterlibatannya dalam hidup menggereja demi
DAFTAR PUSTAKA
Bergant, Dianne & Karris, Robert. (Ed.). (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.
Yogyakarta: Kanisius.
Bobis. (2001). Pak Krumun Dalam Lakon Akhir Peziarahan. Utusan, 05, h. 17. Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese
(F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat (Buku asli diterbitkan 1991).
Huber, Th. SJ. (Ed.). (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius.
Kitab Hukum Kanonik. (2006). (V. Kartosiswoyo Pr. dkk, Penerjemah). Bogor: Grafika Mardi Yuana (Buku asli diterbitkan 1983).
Komisi Kateketik KAS. (1998). Mengikuti Yesus Kristus 1:Buku Pegangan Calon Baptis. Yogyakarta: Kanisius.
Komisi Kateketik KWI. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi.
Yogyakarta: Kanisius
__________. (1997). Pedoman Untuk Katekis: Dokumen Mengenai Arah Panggilan, Pembinaan, dan Promosi Katekis di Wilayah-wilayah yang Berada di bawah Wewenang CEP. Yogyakarta: Kanisius.
Konsili Vatikan II. (1983). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor (Dokumen asli diterbitkan 1966).
Lalu, Yosef. (2007). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius.
Leks, Stefan. (2000), Tafsir Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Mangunhardjana, AM. (1984). Membimbing Rekoleksi. Ende: Nusa Indah. __________. (1986). Pendampingan Kaum Muda. Yogyakata: Kanisius. Nendro. http://www. indonesia-tourism. com. hmtl. accessed on July 4, 2008. Panjaitan, Sontang. http://www.natasoktober.bravehost.com/serbaserbi.html.
accessed on July 4, 2008.
Poerwadarminta, W.J.S. (1982). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Prodi IPPAK. (2008). Daftar dan Jumlah Mahasiswa Semester GENAP Tahun Akademik 2007/2008. Manuskrip yang diterbitkan pada Februari 2008 oleh Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Seran, Margareta. (2008). Biarlah Kita Berbeda, Namun Tetap Saling Mencintai. Dalam Didik Cahyono. (Ed.). Kumpulan Refleksi Mahasiswa. Biarlah Berbeda dan Saling Mencinta. (hh. 124-129). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta:
Setyakarjana, SJ. (1997). Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Kateketik.
Shelton, Charles. (1987). Spiritualitas Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius.
Siauwarjaya, Afra. (1987). Membangun Gereja Indonesia II: Katekese Umat dalam Pembangunan Gereja Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Staf Prodi IPPAK. (2004). Panduan Akademik: Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. Buku Panduan ya ng diterbitkan tahun 2004 oleh Prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
109
Suhardiyanto. (2005). Pendidikan Hidup Menggereja. Diktat Mata Kuliah Pendidikan Hidup Menggereja bagi Mahasiswa Semester II Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sumantri, Y. (2002). Akar & Sayap: Buku Panduan Retret Civita untuk Remaja
dan Muda-Mudi tentang Nilai dan Kebebasan. Yogyakarta: Kanisius. Sumarno, Ds. (2006). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama
Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah Program Pengalaman Lapangan PAK Paroki untuk Mahasiswa Semester V, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tabita Kartika Christiani. (2008). Shared Christian Praxis dalam Konteks Indonesia. Makalah yang diambil dari bahan Pengayaan Diri Dosen Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pada tanggal 18-19 Juni 2008.
Tangdilintin, Philip. (1984). Pembinaan Generasi Muda: Visi dan Latihan. Jakarta: Obor.
__________. (2008). Pembinaan Generasi Muda: dengan Proses Manajerial Vosram. Yogyakarta: Kanisius.
Telaumbanua, Marinus. (1999). Ilmu Kateketik. Jakarta: Obor.
Tim Kerja Liturgi Gereja Santo Antonius Kotabaru. (2000). Kidung Ekaristi.
Kumpulan Lagu-lagu Rohani untuk Perayaan Ekaristi yang disusun oleh Tim Kerja Liturgi Gereja Santo Antonius Kotabaru, Yogyakarta.
__________. (2008). Membagi Roti dan Ikan di Jaman Modern, Beranikah Kita?
Teks Perayaan Ekaristi dan Warta Iman yang disusun oleh Tim Kerja Liturgi Gereja Santo Antonius Kotabaru, Yogyakarta
Tim Redaksi Pusat Musik Liturgi. (2008). Kaum Muda dan Liturgi Alternatif.
Warta Musik, 04, hh. 100-102.
Wharton, Paul. (1994). 111 Cerita & Perumpamaan bagi Para Pengkhotbah dan Guru. Yogyakarta: Kanisius.
Yayasan Komunikasi Bina Kasih. (1982). Tafsiran Alkitab Masa Kini 3. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Yohanes Paulus II. (1995). Catechesi Tradendae (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979).
110
(1)
Lampiran 1: Kue sioner untuk Mahasiswa IPPAK A. Pemahaman tentang Shared Christian Praxis
1. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Shared Christian Praxis! 2. Menurut anda apa tujuan SCP?
3. Jelaskan tentang ciri khas setiap langkah dalam SCP!
4. Berapa kali anda menggunakan model SCP dalam berkatekese? Mengapa? 5. Kapan dan dimana anda melaksanakan SCP?
6. Selain melaksanakan katekese SCP dalam proses perkuliahan di kampus, dalam kesempatan apa sajakah anda melaksanakannya?
7. Dalam berkatekese dengan model SCP, apakah anda menggunakan seluruh langkah dala m melaksanakan proses katekese? Jika tidak mengapa?
8. Menurut anda apa kelemahan dari SCP? 9. Apa kekuatan dari SCP?
10.Manfaat apa yang anda rasakan dari model katekese ini?
11.Permasalahan-permasalahan apa saja yang sering dijumpai dalam melaksanakan katekese Umat dengan model SCP?
12.Hal-hal apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan katekese model SCP?
B. Pemahaman tentang Keterlibatan Hidup Menggereja
13.Menurut anda apa yang dimaksud dengan keterlibatan hidup menggereja?
14.Menurut anda kegiatan apa saja yang termasuk dalam hidup menggereja baik di dalam kampus atau di luar kampus?
15.Sebagai seorang mahasiswa IPPAK yang merupakan calon katekis dan sekaligus kaum muda katolik, pentingkah kita terlibat dalam hidup menggereja?mengapa? 16.Anda sudah terlibat dalam hidup menggereja? Dalam bidang apa saja?
17.Menurut anda apakah mahasiswa IPPAK sudah cukup terlibat dalam hidup menggereja? Dalam bidang apa saja?
18.Bagaimana anda menilai keterlibatan mahasiswa IPPAK tersebut?
19.Kendala-kendala apa saja yang menghambat anda untuk aktif dalam hidup menggereja?
20.Hal-hal apa saja yang mendukung anda untuk terlibat dalam hidup menggereja? 21.Manfaat apa saja yang anda peroleh ketika terlibat dalam hidup menggereja? 22.Bagaimana respon atau tanggapan umat terhadap keterlibatan anda?
C. Hubungan antara katekese Shared Christian Praxis dengan Keterlibatan Hidup Menggereja
23.Menurut anda apakah katekese dengan model Shared Christian Praxis cocok untuk kaum muda? Mengapa?
24.Menurut anda, apakah Katekese model SCP dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa IPPAK dalam hidup menggereja? Sebutkan alasannya!
(2)
25.Dalam membawakan SCP, tema-tema apa yang sudah anda berikan?
26.Menurut anda apakah tema-tema tersebut sudah cocok dengan kebutuhan peserta? 27.Siapa sajakah peserta yang pernah anda dampingi dalam katekese SCP
(anak-anak/kaum muda/orang tua)? Mengapa?
28.Sebagai pemandu atau fasilitator dalam memberikan SCP, sikap-sikap apa saja yang harus dimiliki sehingga proses katekese tidak kaku, dapat berjalan dengan baik dan lancar?
29.Menurut anda apa bantuan SCP bagi perkembangan kaum muda khususnya hidup menggerejanya?
30.Menurut anda apa saja kendala yang dihadapi jika katekese SCP diberikan kepada kaum muda?
31.Apa saja hal- hal yang mendukung jika katekese dengan model SCP diberikan kepada kaum muda guna meningkatkan hidup menggerejanya?
32.Menurut anda katekese SCP sangat baik diberikan kepada kaum muda dalam jeda waktu berapa lama ( cth: 1 minggu sekali/1 bulan sekali), sebutkan alasannya! 33.Menurut anda, apa saja metode yang cocok digunakan untuk SCP bagi kaum
muda?
34.Menurut anda apa saja sarana yang cocok untuk katekese SCP bagi kaum muda? 35.Menurut anda, tema-tema apa sajakah yang cocok dibawakan untuk pertemuan
(3)
Lampiran 2: Hasil Rangkuman Kuesioner Mahasiswa IPPAK-USD I. Pelaksanaan
A. Responden : 36 Mahasiswa. Semester VI 15 orang, semester VIII 15 orang dan semeter X 6 orang.
B. Waktu pelaksanaan : Akhir April – akhir Mei 2008
C. Tempat : Kampus IPPAK, Jln. Ahmad Jazuli No. 2 Kotabaru, Yogyakarta
II. Pokok-pokok Pertanyaan dan Jawaban A. Pemahaman Tentang Shared Christian Praxis
1. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Shared Christian Praxis!
Jawaban:
• Model katekese yang bermula dari pengalaman hidup yang selanjutnya direfleksikan secara kritis, kemudian dikonfrontasikan dengan visi Kristiani dan tradisi gereja.
• Salah satu model katekese umat dengan pengalaman hidup yang bertitik tolak pada sharing pengalaman iman Kristiani yang dialami dalam kehidupan sehari- hari.
• Katekese yang termasuk model pengalaman hidup karena pelaksanaannya sangat menekankan dialog dan partisipatif peserta.
• Salah satu model katekese yang di dalamnya terdiri dari beberapa langkah yang saling berkatan dan terarah.
2. Menurut anda apa tujuan SCP!
Jawaban:
• Meningkatkan penghayatan iman agar lebih terbuka serta saling menguatkan dalam iman.
• Agar umat dapat terlibat dalam berkatekese dan dapat mengungkapkan pengalaman imannya.
• Mendorong umat untuk secara pribadi atau bersama mampu mengadakan peneguhan dan mengambil keputusan demi terwujudnya kerajaan Allah dalam kehidupan yang terlibat dalam dunia.
• Membantu umat untuk mengembangkan iman dan keterlibatan baru.
• Membantu umat untuk merefleksikan pengalaman hidupnya dan
mewujudnyatakan dalam hidup sehari-hari..
• Mengungkapkan pengalaman faktual yang dikomunikasikan dengan tradisi/visi Kristiani.
• Membantu peserta untuk mengolah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman.
(4)
3. Jelaskan tentang ciri khas setiap langkah dalam SCP! Jawaban:
• Langkah 0: Pemusatan aktivitas, langkah 1: pengungkapan pengalaman Faktual, langkah 2: refleksi kritis atas pengalaman faktual, langkah 3: menggali pengala man iman kristiani, langkah 4: menerapkan iman Kristiani dalam situasi hidup peserta, langkah 5: mengusahakan aksi konkrit dalam hidup peserta.
4. Berapa kali anda menggunakan model SCP dalam berkatekese?Mengapa?
Jawaban:
• Empat kali selama praktek di kampus, dan empat kali selama KBP, karena tugas dari kampus dan termasuk dalam program kerja KBP.
• Enam kali, karena tugas dari kampus
• ± Enam kali, tugas dari kampus dan mendampingi umat lingkungan. Alasannya karena praktis dan peserta dapat terlibat aktif serta sesuai dengankebutuhan peserta.
• Hanya lima kali, alasannya karena model Shared Christian Praxis terlalu panjang dan memakan waktu yang lama.
• Banyak sekali, karena asyik dan model katekese ini membuat suasana menjadi lebih hidup, sederhana dan mudah di terima.
• Sebelas kali. Lima kali wajib dikampus, enam kali di lingkungan.
• Enam kali di lingkungan, alasannya karena model ini membantu umat menggali pengalaman imannya.
• Lima kali. Karena melalui Shared Christian Praxis lebih mudah dan teratur langkah-langkah.
• Lebih dari sepuluh kali, alasannya karena cocok untuk kaum muda dan anak-anak. Umat menyukai model tersebut dan membuat mereka aktif.
5. Kapan dan dimana anda melaksanakan SCP?Metode dan sarana apa saja yang anda gunakan?
Jawaban:
• Pada saat praktek SCP di lingkungan Pengok- Paroki Baciro dan pada waktu KBP di Pogot-Surabaya, di Lingkungan St. Petrus Kotabaru. Metode yang digunakan yaitu metode cerita, diskusi, dialog. Sarana yang digunakan berupa lembaran cerita bergambar, kertas, spidol, Kitab Suci, Madah Bakti.
• Di kampus dan di lingkunga n tempat KBP di Gombong. Metode yang digunakan bercerita, diskusi, sharing, tanya jawab, permainan. Sarana yang dimanfaatkan tanaman yang ada disekitar, teks cerita bergambar, teks cerita, TV, VCD.
• Di lingkungan tempat tinggal (Klaten). Metode yang pergunakan diskusi, sharing, dialog. Sarana yang digunakan teks cerita, gambar, madah bakti, Kitab Suci, Tape, Kaset, kertas dan spidol.
• Melaksanakan dalam rangka bulan Kitab Suci di Paroki Baciro. Metode yang digunakan sharing, dialog, diskusi, permainan, dan Sarana yang digunakan
(5)
teks Kitab Suci, Teks Cerita bergambar, Madah Bakti, Gitar, kertas dan spidol.
• Di lingkungan Yohanes Paulus dan Servasius, Paroki Kotabaru. Metode yang digunakan sharing, diskusi kelompok, dialog, permainan. Sarana yang digunakan Tape, Kaset, teks cerita, teks Kitab Suci, Madah Bakti, teks lagu, kertas, spidol.
• Di lingkungan Jogoyudan Jetis dan di lingkungan St. Jhon Don Bosco Gamping. Metode yang digunakan bercerita, diskusi, sharing, nonton dan tanya jawab. Sarana yang digunakan teks cerita, teks lagu, TV, VCD, kertas, spidol
6. Selain melaksanakan katekese SCP dalam proses perkuliahan di kampus, dalam kesempatan apa sajakah anda melaksanakannya!
Jawaban:
• Pada kesempatan doa lingkungan meskipun tidak sering • Di sekolah pada waktu PPL, dan pada waktu rekoleksi
• Ketika diberi kesempatan untuk mengisi pendalaman iman, pendalaman Kitab Suci, dan pada masa puasa.
• Pada kesempatan arisan ibu- ibu, bapak-bapak • Pada waktu pertemuan PIA.
7. Dalam berkatekese dengan model SCP, apakah anda menggunakan seluruh langkah dalam melaksanakan proses katekese? Jika tidak mengapa?
Jawaban:
• Iya menggunakan seluruh langkah, karena mengikuti proses agar ada kesinambungan dan terarah.
• Terkadang ada langkah- langkah yang digabungkan karena melihat situasi peserta dan keterbatasan waktu.
• Semua langkah digunakan hanya pada langkah 0, terkadang hanya dilewati karena umat sudah terkondisi dan tema sudah dibuat sesuai dengan kebutuhan.
8. Menurut anda apa kelemahan dari SCP?
Jawaban:
• Waktu yang terlalu panjang • Langkah- langkah terlalu banyak
• Jika umat pasif, proses SCP tidak akan berjalan dengan lancar • Umat mudah bosan karena banyak sharing
9. Apa kekuatan dari SCP!
Jawaban:
• Peserta menjadi terbuka satu sama lain untuk mensharingkan pengalaman imannya, serta terlibat aktif
(6)
• Semua permasalahan yang dibahas digali dari pengalaman hidup umat sehingga sungguh sangat mengena bagi umat.
• Memberi kekebasan umat mengungkapkan hasil refleksinya mengenai Kitab Suci.
• Membantu dan memudahkan umat untuk mena ngkap makna Kitab Suci, serta memaknainya sesuai dengan pengalaman sehari- hari.
10.Manfaat apa yang anda rasakan dari model katekese ini!
Jawaban:
• Peserta berani untuk terlibat aktif
• Peserta semakin dibantu untuk mengembangkan hidup imannya
• Semakin diperkaya dengan model pendampingan ini sehingga menjadi semakin mantap dalam mendampingi umat
• Menambah wawasan dalam menghubungkan pesan atau makna Kitab Suci • Menambah pengalaman dan pengetahuan tentang model katekese.
11.Permasalahan-permasalahan apa saja yang sering dijumpai dalam melaksanakan katekese Umat dengan model SCP?
Jawaban:
• Membutuhkan waktu yang cukup lama baik dalam membuat persiapannya maupun pelaksanaannya
• Terkadang ada umat yang mendominasi
• Ada umat yang kurang aktif dan hanya diam tidak mau sharing
• Terkadang dalam pemilihan tema tidak sesuai dengan kebutuhan peserta. • Merasa kurang siap, canggung, malu- malu, dan takut jika berhadapan dengan
umat yang dirasa lebih berpengalaman.
12.Hal-hal apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan katekese model SCP!
Jawaban:
• Peserta aktif dan penggunaan sarana-sarana
• Pendamping sudah mendapatkan materi tentang SCP
• Mempunyai langkah- langkah yang jelas, ada dasar biblisnya. • Semangat dan motivasi umat.
• Membuat persiapan yang matang
• Suasana yang santai, dialogis, saling menerima namun bersifat mendalam.
B. Pemahaman Tentang Keterlibatan Hidup Menggereja
13.Menurut anda apa yang dimaksud dengan keterlibatan hidup menggereja?
Jawaban:
(7)
• Merupakan kegiatan dimana umat beriman ikut ambil bagia n secara aktif dalam berbagai kegiatan yang bersifat gerejani demi perkembangan iman. • Ikut membangun jemaat dalam lingkup gereja maupun luar Gereja
• Keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan Gerejawi yang ditawarkan.
• Turut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan di paroki, lingkungan, dan masyarakat sosial.
14.Menurut anda kegiatan apa saja yang termasuk dalam hidup menggereja baik di dalam kampus atau di luar kampus?
Jawaban:
• Di dalam Kampus: Rekoleksi kampus, HIMKA, Koor kampus, menjadi petugas dalam misa kampus, PPL di Sekolah, Karya Bakti Paroki.
• Di luar Kampus (dalam lingkup Gereja): Mudika, PIR, PIA, Doa Lingkungan, Pendalaman iman, PIOD, PIOT, legio Maria, Patemon, koor Gereja.
• Di luar Kampus (dalam lingkup masyarakat): Ikut kerja bakti lingkunga, ikut acara Tujuh belasan, menjadi panitia dalam acara-acara yang diadakan di lingkungan.
• Semua kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan pewartaan iman.
15.Sebagai seorang mahasiswa IPPAK yang merupakan calon katekis dan sekaligus kaum muda katolik, pentingkah kita terlibat dalam hidup menggereja?mengapa?
Jawaban:
• Penting sekali, karena melalui keterlibatan tersebut kita ambil bagian dalam mewartakan Kerajaan Allah
• Penting karena dapat mengembangkan hidup iman kita
• Sangat penting, karena kita tahu kemana arah IPPAK nantinya. Jadi sudah seharusnya kita selalu terlibat dalam hal menggereja.
• Sangat penting, karena dengan terlibat kita memajukan Gereja dan masyarakat.
• Sangat penting, sebab tugas kita sebagai seorang katekis/kaum muda untuk mewartakan Kerajaan Allah dan meneruskan tugas pewartaan Gereja.
16.Anda sudah terlibat dalam hidup menggereja? Dalam bidang apa saja?
Jawaban:
• Sudah donk, dalam bidang rohani dan sosial masyarakat • Sudah, dalam bidang katekese, koor dan lektor
• Selama ini sudah terlibat dalam mengajar katekumen, retret, dan rekoleksi. • Sudah terlibat dengan ikut doa bersama dan karang taruna.
• Sudah terlibat dengan menjadi tim rekoleksi SMP, SMA.
17.Menurut anda apakah mahasiswa IPPAK sudah cukup terlibat dalam hidup menggereja?dalam bidang apa saja?
(8)
• Ada sebagian terlibat dan ada sebagian yang belum. Dalam bidang rohani dan sosial masyarakat.
• Sudah cukup terlibat dalam koor, katekese lingkungan, pastoral paroki, dampingi mata pelajaran Kristianitas di Van Lith.
• Sudah cukup tapi masih kurang karena banyak mahasiswa yang hanya terlibat di dalam kampus saja tanpa mau keluar.
• Sudah terlibat, namun hanya karena tugas kampus saja.
18.Bagaimana anda menilai keterlibatan mahasiswa IPPAK tersebut?
Jawaban:
• Mereka terlibat dalam bidang rohani misalnya terlibat dalam doa lingkungan, pendamping PIA, Mudika
• dalam bidang sosial masyarakat misalnya membantu korban gempa.
• Keterlibatan mahasiswa IPPAK sangat dibutuhkan sebagai latihan dan juga sebagai perwujudan dari teori- teori yang sudah didapat melalui mata kuliah. • Keterlibatan mahasiswa IPPAK sejauh yang diamati hanya karena adanya
tugas kampus saja, tapi untuk kesadaran dari diri pribadi masih sangat kurang dan bahkan jarang sekali.
19.Kendala-kendala apa saja yang menghambat anda untuk aktif dalam hidup menggereja!
Jawaban:
• Kurang bisa membagi waktu. • Malas ikut kegiatan
• Banyaknya tugas-tugas dari kampus • Malu, merasa tidak diterima oleh umat. • Merasa sebagai warga asing
• Berbenturan dengan jadwal komunitas
20.Hal-hal apa saja yang mendukung anda untuk terlibat dalam hidup menggereja!
Jawaban:
• Kemauan diri sendiri, komunitas • Ingin mengembangkan diri dan iman • Dukungan dari orang tua, komunitas
• Merasa terpanggil dan sadar akan tugas sebagai warga Gereja
• Dukungan yang diperoleh melalui mata kuliah yang diberikan.di kampus
21.Manfaat apa saja yang anda peroleh ketika terlibat dalam hidup menggereja!
Jawaban:
• Hidup iman berkembang, mendapat benyak pengalaman dan teman, dikenal oleh umat
(9)
• Hidup rohani semakin diperkaya, semakin peka dan solider dengan sesama, mampu menghargai orang lain sebagai pribadi apa adanya.
• Bisa berelasi dengan banyak orang
• Semakin positif menapaki panggilan hidup.
22.Bagaimana respon atau tanggapan umat terhadap keterlibatan anda!
Jawaban:
• Positif dan senang banget, antusias, dan aktif.
• Sangat mendukung dan mengharapkan kehadiran dan keterlibatan
C. Hubungan antara Katekese SCP dengan Keterlibatan Mahasiswa IPPAK dalam Hidup Menggereja
23.Menurut anda apakah katekese dengan model Shared Christian Praxis cocok untuk kaum muda?mengapa?
Jawaban:
• Tergantung dengan tema dan metode yang dibawakan oleh pendamping
• Cocok, karena melalui SCP dapat menggali pengalaman sehingga menyentuh dan mengena
• Cocok karena model katekese adalah model yang kreatif
• Cocok-cocok saja asalkan sesuai dengan kebutuhan dan permasahan ya ng sedang maraknya dihadapi.
24.Menurut anda, apakah Katekese model SCP dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa IPPAK dalam hidup menggereja?sebutkan alasannya!
Jawaban:
• Bisa, jika tema dan metode sesuai dengan kebutuhan
• Bisa karena melalui SCP kita dapat disadarkan dan diajak membuat niat yang merupakan rencana dan arah kedepan. Yang akan diusahakan mewujudkannya.
• Bisa, karena melalui SCP peserta semakin merasakan saling diteguhkan, saling percaya, dan saling memperhatikan satu sama lain.
• Sangat membantu, karena melalui Shared Christian Praxis mahasiswa diperkaya dengan berbagai model sehingga mempermudah pelaksanaan katekese.
• Sangat membantu, karena mahasiswa diajak untuk menyadari betapa pentingnya terlibat didalam hidup menggereja.
25.Dalam membawakan SCP, tema-tema apa yang sudah anda berikan?
Jawaban:
• Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan • Dipanggil untuk mengikuti Kristus