BAB II. GAMBARAN UMUM TENTANG PELAKSANAAN
B. Pelaksanaan Katekese Shared Christian Praxis Oleh
Setiap mahasiswa IPPAK-USD yang telah mengikuti mata kuliah PPL PAK
PAROKI, sudah mengenal katekese model Shared Christian Praxis. Pelaksanaan katekese Shared Christian Praxis di kampus IPPAK-USD wajib dilakukan oleh mahasiswa semester V (lima), karena ini merupakan mata kuliah yang meminta
setiap mahasiswa untuk langsung praktek membawakan katekese di tengah-tengah
umat. Setiap mahasiswa IPPAK-USD khususnya semester lima ke atas, sudah
terbiasa dengan katekese model Shared Christian Praxis.
Menurut beberapa mahasiswa yang pernah melaksanakan katekese Shared Christian Praxis, kelancaran suatu proses katekese ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya pemahaman mahasiswa IPPAK-USD semester V (lima) ke atas
terhadap katekese Shared Christian Praxis, fasilitator dalam katekese, peserta, tempat dan waktu, tema dan materi, metode dan sarana katekese, suasana yang
tercipta ketika pelaksanaan katekese berlangsung, hal- hal yang menghambat
proses katekese, hal- hal yang mendukung serta manfaat yang dirasakan dari
model katekese Shared Christian Praxis. Beberapa faktor itulah yang me mbantu kelancaran suatu proses katekese. Sebelum praktek untuk memberi katekese
kepada sesama teman mahasiswa dan umat, mahasiswa pelaksana sudah diberi
23
1. Pemahaman Mahasiswa IPPAK-USD Semester V (lima) ke atas terhadap
Katekese Shared Christian Praxis
Mahasiswa IPPAK-USD sudah cukup memahami tentang katekese model
Shared Christian Praxis. Dalam menjelaskan tentang katekese Shared Christian Praxis, ada beberapa pengertian yang saling berkaitan. Katekese Shared Christian Praxis adalah salah satu model katekese yang bermula dari menggali pengalaman hidup yang selanjutnya direfleksikan secara kritis, kemudian
dikonfrontasikan dengan visi kristiani dan tradisi Gereja. Katekese ini juga
dipahami sebagai bentuk katekese yang bersifat dialogal dan partisipatif, dengan
kata lain bahwa ketekese ini merupakan kesempatan untuk berbagi atau sharing
pengalaman iman kepada sesama umat beriman [Lampiran 2: (3)].
Beberapa tujuan dari katekese Shared Christian Praxis menurut mahasiswa IPPAK-USD diantaranya untuk membantu peserta baik secara pribadi maupun
bersama dalam mengambil keputusan demi terwujudnya Kerajaan Allah di
tengah-tengah dunia. Meningkatkan penghayatan iman agar lebih terbuka serta
saling menguatkan dalam iman. Umat dapat terlibat dan berpartisipasi aktif dalam
berkatekese serta dapat mengungkapkan pengalaman imannya. Katekese Shared Christian Praxis merupakan salah satu sarana pengembangan iman umat. Katekese Shared Christian Praxis juga membantu peserta untuk mengungkapkan dan merefleksikan pengalaman imannya [Lampiran 2: (3)].
Sedangkan untuk kekhasan atau ciri-ciri dari setiap langkah dalam katekese
24
ini disebabkan karena setiap mahasiswa sudah terbiasa dengan model ini
[Lampiran 2: (4)].
2. Fasilitator Katekese
Pada semester V (lima) ke atas, mahasiswa IPPAK-USD praktek
membawakan katekese di kampus dan lingkungan bersama umat. Dalam
kesempatan inilah setiap pribadi diberi kesempatan untuk membawakan katekese
secara penuh. Katekese dipandu oleh mahasiswa sendiri dari awal hingga akhir.
Dengan membawakan katekese tersebut mahasiswa IPPAK-USD telah menjadi
fasilitator di tengah-tengah umat.
Banyak pandangan mahasiswa yang mengatakan bahwa menjadi fasilitator
di tengah-tengah umat tidak mudah. Pada kenyataan yang terjadi setiap
mahasiswa pelaksana katekese sudah berusaha semaksimal mungkin dalam
membawakan katekese dengan baik. Setiap pribadi berusaha untuk santai, tidak
terburu-buru, ramah dan murah senyum sehingga tidak terkesan sombong, sabar
dalam menghadapi umat yang terkadang mau menang sendiri. Kreatif dalam
memilih tema yang sesuai dengan kebutuhan peserta [Lampiran 2: (10)].
Menurut mahasiswa IPPAK untuk menjadi seorang fasilitator yang baik
adalah menguasai materi serta memiliki wawasan yang luas sehingga tidak
canggung jika harus berhadapan dengan umat yang kritis dalam menanggapi suatu
pernyataan. Pada kenyataan yang terjadi, tidak setiap mahasiswa sudah bisa
25
adapula yang terkesan tidak siap dalam berkatekese di tengah-tengah umat
[Lampiran 2: (10)].
Usaha yang dilakukan mahasiswa agar dapat tampil menjadi fasilitator yang
baik di tengah umat yaitu pada saat persiapan membuat bahan pertemuan yang
akan diberikan kepada umat, mempersiapkan persiapan materi mulai dari awal
persiapan sampai pelaksanaan, hingga sampai pada evaluasi. Persiapan ini akan
sangat membantu kelancaran proses katekese [Lampiran 2: (10)].
3. Peserta Katekese
Dalam berkatekese unsur utama yang harus selalu ada adalah peserta.
Demikian juga denga n pelaksanaan katekese dengan model Shared Christian Praxis yang dilaksanakan oleh mahasiswa IPPAK-USD. Dalam praktek melaksanakan katekese, mahasiswa diminta untuk terlibat di lingkup kampus
bersama mahasiswa dan di lingkungan bersama umat. Dalam rangka
melaksanakan PPL, peserta yang selalu didampingi oleh mahasiswa IPPAK-USD
adalah para mahasiswa yang bersama-sama melaksanakan praktek dan umat di
Lingkungan yang terdiri dari orang tua dan mudika [Lampiran 2: (10)].
Mahasiswa IPPAK-USD melaksanakan katekese tidak hanya dalam rangka
PPL namun juga sering memberikan katekese pada kesempatan-kesempatan
tertentu. Peserta yang paling sering didampingi oleh mahasiswa yakni para orang
tua yang terdiri dari bapak-bapak, ibu- ibu, dan kadangkala mendampingi para
mudika. Kebanyakan peserta yang didampingi terdiri dari beberapa kelompok
26
mendampingi kelompok arisan bapak-bapak, arisan ibu-ibu, campuran antara
bapak, ibu, mbah- mbah, mudika, para mahasiswa IPPAK sendiri dan bahkan ada
juga anak-anak yang ikut serta dalam proses katekese [Lampiran 2: (10)].
Karakter peserta yang didampingi juga sangat berbeda-beda, ada peserta
yang sangat aktif dalam sharing, namun ada juga peserta yang pasif dan hanya
mendengarkan saja dari awal pertemuan hingga akhir. Namun ada pula karakter
peserta yang tidak mau mengalah atau egois, contohnya dalam sharing tidak
memperhatikan waktu dan selalu mempertahankan pendapatnya [Lampiran 2:
(6)].
4. Tempat dan Waktu Katekese
Tempat dan waktu mahasiswa IPPAK-USD melaksanakan katekese Shared Christian praxis yaitu selama melaksanakan praktek di kampus yang berlangsung selama satu semester, yang tepatnya pada semester V (lima). Semua mahasiswa
yang menjalani PPL PAK Paroki, wajib melaksanakan katekese minimal
sebanyak empat kali, yang dilaksanakan satu kali pertemuan di depan
teman-teman mahasiswa dan dosen pembimbing mata kuliah, serta melaksanakan tiga
kali pertemuan katekese di lingkungan bersama umat [Lampiran 2: (4)].
Setiap mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang disertai satu
dosen. Dalam kelompok tersebut, masing- masing mahasiswa akan praktek secara
bergantian membawakan katekese kemudian setelah itu dievaluasi bersama-sama.
Tempat dilaksanakannya katekese adalah di sekit ar lingkungan kampus
27
setiap hari Kamis, dan bisa mengalami perubahan sesuai dengan waktu yang telah
disepakati.
Mahasiswa IPPAK-USD juga melaksanakan PPL PAK Paroki di lingkungan
bersama umat, dengan waktu dan tempat pelaksanaan ter lebih dahulu disepakati
dengan ketua lingkungan. Kebanyakan mahasiswa pelaksana katekese Shared Christian Praxis melaksanakan katekese ini ketika mendapat tugas dari kampus, saat diminta dari lingkungan tempat tinggal, dan ketika melaksanakan KBP
[Lampiran 2: (4)]. Beberapa lingkungan yang selalu menjadi tempat untuk para
mahasiswa melaksanakan katekese diantaranya lingkungan di paroki Baciro,
Kotabaru, Gamping, Klaten, Kalasan, Jetis [Lampiran 2: (4)].
5. Tema dan Materi Katekese
Berdasarkan hasil wawancara kepada mahasiswa IPPAK-USD menyebutkan
bahwa selama mendampingi umat dengan memberikan katekese model Shared Christian Praxis, tema yang diberikan selalu sesuai dengan kebutuhan peserta atau umat yang akan didampingi [Lampiran 2: (9)]. Dalam menentukan tema
untuk praktek di kampus, mahasiswa memilih tema berdasarkan bacaan Kitab
Suci yang dipilih sesuai dengan hari pelaksanaan katekese. Tema dipilih sesuai
dengan kebutuhan dan situasi mahasiswa sebagai peserta dan berkaitan dengan
panggilan mereka sebagai calon katekis.
Tema yang dipilih ketika melaksanakan katekese di lingkungan bersama
umat, dipilih sesuai dengan bacaan Kitab Suci dan kadangkala menyesuaikan
28
dengan kenyataan sehari- hari. Tema-tema yang pernah diberikan oleh mahasiswa
IPPAK pada saat berkatekese diantaranya dipanggil untuk mengikuti Kristus,
kesesuaian antara kata dan perbuatan, dipanggil untuk mencintai sesama,
melayani dengan rendah hati, membangun komunitas kasih [Lampiran 2: (9)].
Materi adalah uraian dari tema, yang lebih dikembangkan sehingga dapat
mengena dengan situasi peserta. Materi yang diberikan berkaitan dengan katekese
Shared Christian Praxis disesuaikan dengan langkah-langkah yang ada di dalam katekese tersebut yakni langkah pertama peserta diajak untuk mengungkapkan
pengalaman hidup. Dalam langkah ini peserta diminta untuk mensharingkan
pengalaman iman dalam hidupnya sehari- hari, langkah kedua peserta diminta
untuk merefleksikan pengalaman imannya dengan panduan pertanyaan mendalam
berkaitan dengan pengalaman imannya. Langkah ketiga peserta diajak untuk
membaca perikop Kitab Suci dan menemukan pesan dari perikope tersebut.
Langkah keempat peserta diajak untuk menerapkan pesan dari perikope ke dalam
hidup sehari- hari dengan melihat sikap-sikap yang harus dimiliki sebagai pengikut
Kristus. Langkah yang terakhir yaitu menerapkan aksi konkrit dalam hidup
selanjutnya. Peserta diajak untuk membuat nia t-niat dan harapan untuk
diwujudkan dalam kehidupan yang akan datang [Lampiran 2: (3)].
6. Metode dan Sarana Katekese
Banyak sekali kreatifitas yang telah dilakukan mahasiswa dalam
membawakan katekese, baik dalam mengolah metode dan menggunakan sarana.
29
sering digunakan adalah sharing, dan diskusi kelompok. Masih ada beberapa
metode yang bisa digunakan misalnya dengan metode bermain, nonton, dan
dramatisasi namun hal itu sangat jarang sekali diterapkan [Lampiran 2: (4)-(5)].
Selain memperhatikan metode, sarana juga digunakan oleh para mahasiswa
dalam melaksanakan katekese. Sarana yang paling sering dimanfaatkan yaitu
cerita bergambar yang isinya bercerita tentang peristiwa-peristiwa dalam
kehidupan sehari-hari. Melalui cerita itu, peserta diajak untuk merefleksikannya
kedalam kenyataan hidup sehari- hari. Dalam menggunakan sarana, kadangkala
mahasiswa mencoba kreatif dengan menggunakan sarana, tape, kaset, VCD,
alat-alat permainan dan apa saja benda yang ada di sekitar [Lampiran 2: (4)-(5)].
7. Suasana Katekese
Setiap mahasiswa IPPAK yang melaksanakan katekese selalu berusaha
untuk menciptakan suasana yang hidup dan komunikatif. Salah satu usaha yang
dilakukan mahasiswa sebagai fasilitator, agar suasana menjadi nyaman adalah
dengan berusaha santai dan selalu menyapa peserta. Oleh karena itu peran seorang
fasilitator sangat menentukan dalam mengarahkan peserta [Lampiran 2: (10)].
Berdasarkan pengalaman mahasiswa berkatekese di tengah-tengah
mahasiswa, dosen dan umat di lingkungan, suasana yang dirasakan adalah cukup
santai, penuh rasa kekeluargaan, saling mendukung dan menyemangati satu sama
lain serta saling mengevaluasi satu sama lain sehingga untuk pelaksanaan yang
akan datang lebih baik lagi [Lampiran 2: (6)]. Tidak selamanya suasana bisa
30
ingin mempertahankan pendapatnya. Situasi ini yang menyebabkan suasana
menjadi kacau dan membuat fasilitator menjadi bingung [Lampiran 2: (6)].
8. Hal-hal yang Menghambat Pelaksanaan Shared Christian Praxis
Pelaksanakan proses katekese model Shared Christian Praxis, menghadapi bermacam- macam hambatan diantaranya langkah- langkah katekese Shared Christian Praxis terlalu panjang dan banyak pertanyaan sehingga memakan waktu yang cukup lama. Aktivitas utama yang dilakukan dalam katekese Shared Christian Praxis adalah sharing (banyak bicara) yang membuat umat menjadi mudah bosan. Katekese dengan model Shared Christian Praxis belum begitu dikenal oleh banyak umat sehingga kadangkala umat menjadi terkesan hanya
ikut-ikut saja tanpa mengerti apa tujuan kegiatan tersebut sehingga membuat umat
takut, malu untuk sharing atau mengungkapkan pengalaman iman mereka
[Lampiran 2: (6)].
Dalam pelaksanaan katekese kadangkala ada umat yang mendominasi atau
tidak mau mengalah dalam mempertahankan pendapat dan idenya. Tema yang
dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan peserta sehingga membuat umat kecewa dan
tidak semangat dalam mengikuti kegiatan. Fasilitator kurang menguasai bahan
(menafsirkan Kitab Suci), kurang kreatif mencari sarana dan menggunakan
metode yang ada, kurang bisa mengatasi peserta yang pasif, dan membagi waktu
dengan baik [Lampiran 2: (6)].
Permasalahan-permasalahan inilah yang kadangkala menjadi hambatan
31
terus menerus masih sangat diharapkan. Beberapa hal diatas menjadi penghambat
sehingga dalam melaksanakan katekese mahasiswa selalu mengalami kesulitan
dan merasa bahwa katekese yang dibawanya kurang berhasil [Lampiran 2: (6)].
9. Hal-hal yang Mendukung Pelaksanaan Katekese Shared Christian Praxis
Setelah merasakan beberapa hambatan yang dapat dikatakan sebagai
penghambat dalam melaksanakan katekese model Shared Christian Praxis, ternyata ada juga hal- hal yang dirasakan mendukung dalam pelaksanaan katekese
yakni adanya langkah- langkah dalam katekese SCP yang mempermudah proses
katekese. Persiapan yang telah dibuat dengan baik dan tema yang sesuai dengan
kebutuhan umat sanga t mendukung kegiatan karena membuat umat semangat
dalam mengikuti kegiatan. Pentingnya menguasai bahan, metode, dan sarana
ketika akan memberikan katekese karena itu akan sangat membantu proses
katekese agar berjalan dengan baik [Lampiran 2: (6)].
Partisipasi umat yang mau ikut terlibat dalam proses katekese Shared Christian Praxis dengan sharing sangat membantu kelancaran kagiatan katekese. Adanya sarana yang mendukung dan digunakan sehingga membuat proses
katekese menjadi menarik serta tidak membuat peserta menjadi bosan. Metode
katekese Shared Christian Praxis yang sangat kreatif, membuat semua peserta terlibat dan ambil bagian secara penuh dalam katekese, sehingga peserta merasa
disapa, dilibatkan, dan semakin diteguhkan. Model katekese Shared Christian Praxis yang selalu sharing, membuat peserta menjadi terbuka dalam mengungkapkan pengalaman imannya [lampiran 2: (6)].
32
10.Manfaat yang dirasakan dari Model Katekese Shared Christian Praxis
Mahasiswa IPPAK-USD banyak merasakan manfaat dari pelaksanaan
katekese model Shared Christian Praxis antara lain semakin merasa diperkaya dengan model- model katekese, dapat menggali makna Kitab Suci lebih dalam,
sangat mengena dengan situasi peserta, semakin terlatih untuk bisa
menghubungkan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup sehari- hari,
umat semakin terbuka dalam mengkomunikasikan pengalaman imannya, khusus
bagi seorang fasilitator merasa tertentang untuk terus- menerus belajar dan
mengembangkan diri [Lampiran 2: (5)].