• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. MFI informal : 1 Pelepas uang

4 GAMBARAN UMUM

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Bogor memiliki luas 2 301.95 km2 (BPS Kabupaten Bogor 2013) dan secara geografis terletak antara 6’19° LU – 6’47° LS dan 106°1’ - 107°103’ BT dengan tipe morfologi wilayah yang bervariasi, dari dataran yang relatif rendah di bagian utara hingga dataran tinggi di bagian selatan, yaitu sekitar 29.28 % berada pada ketinggian 15-100 mdpl, 42.62% berada pada ketinggian 100-500 m dpl, 19.53% berada pada ketinggian 500-1000 mdpl. Perbatasan wilayah Kabupaten Bogor yaitu dengan Kabupaten Sukabumi di sebelah selatan, Kabupaten Lebak di sebelah barat, Kota Depok di sebelah utara, dan Kabupaten Purwakarta di sebelah timur.

Secara administratif, berdasarkan Peraturan Daerah No 3 Tahun 2003 Tentang Pembentukan dan Perda No 40 Tahun 2004 Tentang OTK Kecamatan, Kabupaten Bogor Memliki 40 Kecamatan. Menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, penduduk di Kabupaten Bogor berjumlah 4 771 932 jiwa dengan kepadatan 2 303.93 jiwa per kilometer persegi. Berdasarkan topografinya, Kabupaten Bogor terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah yang menunjang pengembangan perekonomian dari sektor-sektor unggulan seperti pertanian terutama tanaman pangan (padi dan palawija).

Tabel 4 Demografi Kecamatan contoh penelitian di Kabupaten Bogor tahun 2012

Karakteristik Kec. Cijeruk Kec. Caringin Kec. Cigombong

Luas wilayah (Ha) 4 719.29 7 741.38 4 828.56

Perbatasan wilayah U : Kota Bogor

B : Kec. Tamansari S : Kec. Cigombong T : Kec. Caringin U : Kec. Ciawi B :Kec. Cigombong

& Kec. Cijeruk S : Kec. Cigombong T : Kec. Ciawi U : Kec. Cijeruk B : Kab. Sukabumi S : Kab. Sukabumi T : Kec. Caringin Jumlah desa/kel 9 12 9

Jumlah penduduk (jiwa) 80 402 116 525 90 902

Komoditi unggulan Tanaman pangan Tanaman pangan Tanaman pangan

Sentra Padi organik Desa Cibalung Desa Muara Jaya Desa Ciburuy

Luas panen padi org. (ha) 55 102 150.6

Produktifitas Padi organik

(Ton/Ha) 6 5,4 6.86

Luas lahan sawah (Ha) 721 1414 653

Produksi (Ton) 9 630 14 101 7 741

Produktivitas padi (Ton/Ha) 6.48 6.30 6.35

Sumber : BKP5K Bogor dan Pemda setempat

Kondisi geografis tersebut memiliki nilai positif dan negatif bagi usahatani padi organik. Kabupaten Bogor sebagian wilayahnya berada pada dataran tinggi dan sangat subur untuk menanam komoditi pangan maupun hortikultura. Namun untuk padi, dengan ketinggian lahan yang demikian dan bervariasinya lokasi sawah, mengakibatkan perbedaan produktifitas dan belum bisa menyamai produktifitas padi sawah di dataran rendah yang berupa hamparan. Namun demikian, penerapan sistem organik diharapkan dapat meningkatkan produksi

25 padi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk di Kabupaten Bogor secara khusus.

Pada Tabel 4 dapat dilihat luas lahan sawah yang ditanami padi organik pada masing-masing desa contoh adalah 55, 102, dan 150.6 ha untuk Desa Cibalung, Desa Muara Jaya, dan Desa Ciburuy, sedangkan produktifitasnya masing-masing adalah 6 ton/ha, 5.4 ton/ha, dan 6.86 ton/ha untuk Desa Cibalung, Desa Muara Jaya, dan Desa Ciburuy. Sedangkan secara total masing-masing kecamatan contoh secara berurutan kecamatan Cijeruk, Caringin, dan Cigombong memiliki 721, 1 414, dan 653 ha lahan sawah dengan produktifitas 6.48; 6.30; dan 6.35 ton/ha.

Pertanian Padi Organik di Kabupaten Bogor

Sistem pertanian organik di Kabupaten Bogor dimulai pada tahun 2004 atas prakarsa dari 3 pihak terkait yaitu petani, dinas pertanian Kabupaten Bogor, dan Dompet Dhuafa Republika. Kerjasama ketiganya menjaring beberapa kelompok tani untuk menerapkan sistem pertanian sehat dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia secara bertahap serta meninggalkan penggunaan pembasmi hama dari bahan-bahan kimia. Kecamatan yang dipilih yaitu Caringin, Cigombong, dan Cijeruk. Masing-masing kecamatan direpresentasikan oleh 1 desa yaitu Muara Jaya di Caringin, Ciburuy di Cigombong, dan Cibalung di Cijeruk. Khusus di Desa Ciburuy Kecamatan Cigombong, usahatani padi organik sudah dimulai sejak tahun 2002 lalu kemudian menginisiasi kecamatan lain dan juga Dompet Dhuafa serta Dinas Pertanian untuk menerapkan usahatani padi organik tersebut.

Pertanian padi organik dikembangkan selain untuk mengembalikan kesuburan tanah juga untuk menanggapi permintaan pasar akan pangan sehat. Proses produksi padi organik relatif tidak berbeda dibandingkan dengan padi konvensional. Hanya saja penggunaan input eksternal lebih diminimalisir. Prosesnya hampir sama yaitu dimulai dari pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pengairan, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, panen, dan kegiatan pasca-panen.

Petani yang bergabung dengan kelompok tani, difasilitasi oleh Dinas Pertanian berupa penyediaan input seperti benih, pupuk, dan alat mesin pertanian. Sedangkan pihak Dompet Dhuafa melakukan pemberdayaan dan pelatihan mengenai sistem pertanian organik itu sendiri serta membukakan pasar baru untuk memasarkan hasil panen dari petani. Sistem pertanian organik ini tentu saja dilakukan secara bertahap dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia sebesar 25 persen. Pada setiap tahun dikurangi sebanyak 25 persen sehingga sudah ada petani yang konsisten meninggalkan pupuk kimia, tapi masih ada yang menggunakan sedikit pupuk kimia untuk merangsang pertumbuhan di saat kondisi alam tidak mendukung.

Pada awal dilakukannya kerjasama dan program pemberdayaan ini, diikutsertakan 5 kelompok tani dari tiga kecamatan tersebut. Lalu pada tahun- tahun berikutnya berkembang dan kelompok tani yang menerapkan sistem pertanian ini terus berkembang. Imbauan pemerintah untuk menggabungkan kelompok tani menjadi sebuah Gapoktan semakin meningkatkan semangat petani untuk menerapkan pertanian organik. Pada tahun 2010 dimana pemerintah

26

mencanangkan program Go Organic 2010, jumlah petani padi organik semakin banyak karena dukungan pemerintah memberikan kebutuhan benih dan juga pupuk organik siap pakai serta dibentuk unit usaha untuk pembuatan pupuk organik agar petani menjadi mandiri. Namun program tersebut hanya bertahan beberapa musim tanam dan pada akhirnya petani masih mengandalkan jerami dan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk organik bagi tanaman padi mereka.

Karakteristik Sosial Ekonomi Responden

Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 35 petani yang memperoleh kredit mikro dari lembaga semi-formal yaitu koperasi dan gapoktan dan sebanyak 33 petani yang tidak memperoleh kredit sebagai responden kontrol. Untuk tujuan pertama, diambil semua responden contoh yaitu petani yang dapat mengakses dan tidak dapat mengakses kredit mikro di 3 desa dari 3 kecamatan di Kabupaten Bogor yang menjadi sentra produksi padi organik. Untuk tujuan kedua dan ketiga, responden yang digunakan juga berasal dari responden untuk analisis di tujuan pertama. Desa dan Kecamatan terpilih dalam penelitian ini yaitu : Desa Ciburuy dari Kecamatan Cigombong, Desa Muara Jaya dari Kecamatan Caringin, dan Desa Cibalung dari Kecamatan Cijeruk.

Beberapa karakteristik sosial ekonomi petani responden yang akan dibahas adalah jenis kelamin, usia petani, tingkat pendidikan petani, jumlah tanggungan keluarga, pekerjaan utama, pengalaman usahatani, status lahan garapan, dan luas lahan garapan. Untuk petani penerima kredit di jelaskan juga mengenai jumlah perolehan kredit, dan jenis lembaga kredit yang diakses.

Jenis Kelamin Responden

Responden petani padi organik sangat didominasi oleh pria. Dari 68 responden, hanya 1 orang petani yang berjenis kelamin wanita (Tabel 5). Petani yang dimaksud adalah petani yang menjadi pengambil keputusan dalam kegiatan usahatani padi organik. Walaupun sebagian besar petani tersebut juga ikut bekerja langsung mengusahakan lahan yang dimiliki/digarap. Tapi semua responden terpilih adalah para pengambil keputusan dalam usahatani padi organik yang dilakukan baik sebagai pekerjaan utama maupun sampingan. Selain itu, petani pria pengambil keputusan lebih berani dalam mengambil risiko usahatani. Sebanyak 98 dan 100 persen responden masing-masing untuk petani penerima kredit dan non-kredit adalah petani laki-laki sedangkan petani wanita hanya 2 persen saja pada kelompok petani penerima kredit.

Tabel 5 Jenis kelamin petani responden No Jenis Kelamin

Petani

Petani Kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Laki-laki 34 98 33 100 2 Perempuan 1 2 0 0 Jumlah 35 100 33 100

27

Usia Responden

Petani responden rata-rata masih berada pada usia produktif baik yang bertindak hanya sebagai pengambil keputusan atau yang turut serta mengolah lahan garapannya. Usia petani responden berkisar antara 30 – 73 tahun dengan kriteria jarak umur sebagaimana dilihat pada Tabel 6. Jumlah petani responden terbanyak pada usia antara 40-49 tahun yakni 31,4 persen untuk petani penerima kredit, sedangkan petani bukan penerima kredit didominasi oleh petani dengan usia 50-59 tahun yakni sebanyak 39.4 persen. Pada interval usia tersebut produktifitas kerja sudah mulai menurun sehingga untuk bekerja di sektor lain, relatif sulit memperoleh kesempatan. Namun demikian, sektor pertanian tetap menyediakan pekerjaan bagi mereka.

Di antara petani responden tidak ada petani dengan usia dibawah 30 tahun hal ini karena ketertarikan pada sektor pertanian sangat rendah di kalangan orang- orang muda. Petani dengan usia antara 30-39 tahun pun tidak banyak hanya sekitar 17 dan 18 persen pada masing-masing petani penerima kredit dan non- kredit. Hal ini menandakan bahwa pekerjaan sebagai petani tidak diminati oleh orang-orang muda karena rentang waktu perolehan pendapatan yang cukup lama (tidak bulanan).

Tabel 6 Usia petani responden No Interval usia petani

(tahun)

Petani Kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 30 – 39 6 17,1 6 18.2 2 40 – 49 11 31.4 4 12.1 3 50 – 59 9 25.7 13 39.4 4 60 – 69 6 17.1 9 27.3 5 ≥ 70 3 8.6 1 3.0 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Tingkat Pendidikan Responden

Petani identik dengan tingkat pendidikan formal yang rendah dan banyak juga yang buta huruf. Namun petani responden di Kabupaten Bogor sudah tidak ada yang buta huruf. Walau demikian rata-rata pendidikan formal petani hanya sampai pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Tapi ada juga petani yang sampai menempuh pendidikan sampai S1 sebanyak masing-masing 1 orang pada kelompok petani penerima kredit dan bukan penerima kredit. Hal ini menandakan bahwa petani masih didominasi oleh orang-orang dengan tingkat pendidikan relatif rendah dan hanya memiliki keahlian mengusahakan lahan pertanian. Namun jika petani memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, akan dapat meningkatkan kemungkinan petani dalam pengelolaan usahatani yang lebih profesional karena lebih mampu mencari dan mengolah informasi dan teknologi (Ogada et al. 2010). Tabel 7 berikut menyajikan jumlah petani dengan tingkat pendidikan yang berbeda.

Petani penerima kredit maupun non-kredit masing-masing didominasi oleh petani dengan pendidikan sekolah dasar yakni sebanyak 48.6 dan 45.5 persen. Petani dengan tingkat pendidikan sekolah menengah pertama berjumlah sebanyak

28

31.4 dan 33.3 persen untuk petani penerima kredit dan non-kredit. Jumlah tersebut menandakan bahwa untuk menjadi petani padi organik, tidak membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi. Cukup mengandalkan tenaga fisik dan kemauan untuk menunggu rentang waktu produksi selama beberapa bulan tanpa ada pemasukan lain. Kecuali petani tersebut memiliki sumber penghasilan lain di luar usahatani padi organik.

Tabel 7 Lamanya pendidikan petani responden No Lamanya Pendidikan

petani (tahun)

Petani Kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 0 – 6 17 48.6 15 45.5 2 7 – 9 11 31.4 11 33.3 3 10 – 12 6 17.1 6 18.2 4 > 12 1 2.9 1 3.0 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Jumlah Tanggungan Keluarga Responden

Tanggungan keluarga dapat menentukan pengelolaan usahatani padi organik karena di dalamnya akan ada keputusan pemanfaatkan modal dalam bentuk tenaga kerja maupun ketersediaan modal dalam bentuk uang. Semakin banyak anggota keluarga di usia kerja, maka pemanfaatan tenaga kerja diutamakan dari dalam keluarga sebaliknya jika tidak bisa bekerja sebagai tenaga kerja pertanian karena usia atau bekerja di sektor lain, maka petani akan menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga.

Tabel 8 Jumlah tanggungan keluarga responden No Jumlah tanggungan

keluarga (orang)

Penerima kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 0 – 3 27 77.1 15 45.5 2 4 – 6 7 20.0 16 48.5 3 7 – 9 1 2.9 0 0.0 4 ≥ 10 0 0.0 2 6.1 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah tanggungan keluarga petani responden berkisar antara 0-3 orang atau sekitar 27% dari semua responden petani penerima kredit. Kebanyakan dari petani sudah berusia lanjut dan anak-anak mereka telah berkeluarga, sehingga jumlah anggota keluarga yang ditanggung sedikit. Untuk petani yang tidak memperoleh kredit jumlah tanggungan keluarga didominasi antara 0-3 dan 4-6 orang yakni sebanyak 45.5% dan 48.5%. Dari semua petani responden, ada juga yang lebih dari 10 karena memiliki banyak anak yang usianya masih sekolah dan belum bekerja yakni sebanyak 6.1%.

29 Di Kabupaten Bogor, kebanyakan anggota keluarga dengan usia produktif, tidak mau bekerja di sektor pertanian. Sehingga fungsi pembagian kerja dala usahatani tidak terjadi. Usahatani padi organik yang dimiliki dan petani bertindak sebagai pengambil keputusan sekaligus sebagai pekerja membutuhkan tambahan tenaga kerja yang diambil luar keluarga. Jumlah tanggungan keluarga ini dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap perilaku akses kredit mikro maupun usahatani padi organik itu sendiri. Jika semua anggota keluarga memiliki keinginan untuk mengembangkan usahatani keluarga, maka fungsi anggota keluarga akan sangat baik begitu juga untuk penguatan modal usahatani yang sedang dilakukan dan peningkatan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, sehingga dapat mengurangi biaya tenaga kerja.

Status Usahatani Responden

Petani responden hampir semuanya menjadikan usahatani padi organik sebagai pekerjaan utama. Hanya beberapa petani yang menjadikan usahatani padi organik sebagai pekerjaan sampingan karena telah memiliki pekerjaan tetap atau memiliki usaha lainnya di luar usahatani. Untuk petani penerima kredit dan bukan penerima kredit masing-masing hanya 5 orang (14.3%) dan 7 orang (21.2%) saja yang menjadikan usahatani padi organik sebagai pekerjaan sampingan (Tabel 9). Hal ini menandakan bahwa usahatani padi organik masih menjadi prioritas pilihan hidup bagi penduduk di lokasi penelitian. Namun demikian, petani responden rata-rata memiliki pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang di saat menunggu panen atau lahan telah selesai ditanami padi.

Tabel 9 Status Usahatani

No Status

usahatani

Penerima kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Utama 30 85.7 26 78.8 2 Sampingan 5 14.3 7 21.2 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Pengalaman Usahatani

Pengalaman usahatani merupakan lamanya petani mulai melakukan usahatani, baik padi maupun komoditas lainnya. Petani penerima kredit memiliki pengalaman usahatani rata-rata antara 11-20 tahun (42.9%) sedangkan petani bukan penerima kredit rata-rata memiliki pengalaman 11-20 tahun dan 21-30 tahun masing-masing 33.3%. Pengalaman usahatani memberikan pengetahuan dan juga informasi terkait dengan teknis produksi maupun tren konsumsi yang ada di masyarakat.

Sejak para petani merubah sistem usahatani menjadi organik, pengalaman tersebut tetap menjadi acuan dalam menjalankan usahatani padi organik. Terutama pemahaman mengenai kondisi lahan dan siklus musim tanam yang paling sesuai untuk penanaman padi. Berkenaan dengan akses kredit, petani berpengalaman lebih berani mengambil risiko dibandingkan dengan petani tidak berpengalaman. Untuk meningkatkan modal usahatani petani berpengalaman lebih mampu mengelola keuangan terutama untuk modal usahatani sehingga

30

berani mengambil kredit. Secara rinci data pengalaman usahatani petani responden berdasarkan interval tahun disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Pengalaman usahatani No Pengalaman usahatani

(tahun)

Penerima kredit Petani Non-Kredit Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 3 – 10 10 2.5 8 24.3 2 11 – 20 15 42.9 11 33.3 3 21 – 30 7 20 11 33.3 3 > 30 3 8.6 3 9.1 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Status Usahatani

Tidak semua petani responden melakukan usahatani padi organik di atas lahan milik sendiri. Semua responden yang tidak memiliki lahan pada akhirnya menyewa atau melakukan bagi hasil dengan pemilik lahan. Sebanyak 100 persen responden penerima kredit dan 24.3 persen petani non-kredit tidak memiliki lahan dan mereka memilih melakukan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan. Alasannya adalah sistem bagi hasil lebih mudah dihitung karena pembagiannya tergantung pada hasil panen yang diperoleh. Banyak atau sedikitnya hasil panen, tetap akan dibagi hasilnya sesuai dengan kesepakatan di awal musim tanam.

Ada beberapa mekanisme bagi hasil yang diterapkan, di antaranya maro dengan pembagian 50-50 atau 60-40. Untuk sistem maro 50-50, biaya usahatani ditanggung oleh penggarap, tapi benih berasal dari pemilik lahan, sedangkan biaya pembelian pupuk dan panen ditanggung oleh pemilik lahan dan penggarap masing-masing 50%. Tapi untuk sistem bagi hasil 60-40, semua biaya usahatani ditanggung oleh penggarap dan pemilik lahan hanya mendapat bagi hasil sebesar 40 persen. Petani bukan penerima kredit sebagian besar (69.7 persen) menjalankan usahatani padi organik di atas lahan milik sendiri. Ada pula petani yang melakukan usahatani padi organik di atas lahan sewa atau gadai masing- masing 3% untuk petani bukan penerima kredit. Tabel 11 menyajikan data lengkap status usahatani responden.

Tabel 11 Status lahan garapan petani responden No Status Lahan

garapan

Penerima kredit Petani Non-Kredit Persentase (%) Persentase (%) 1 Milik sendiri 0 0 23 69.7 2 Sewa 0 0 1 3 3 Gadai 0 0 1 3 4 Bagi hasil 35 100 8 24.3 Jumlah 35 100 33 100

31

Luas lahan garapan

Lahan garapan padi organik di Kabupaten Bogor dikategorikan usahatani skala mikro. Berdasarkan Tabel 12, petani penerima kredit menggarap lahan dengan luas kurang dari 0,3 ha yakni sebanyak 51 persen. Sedangkan petani bukan penerima kredit, lahan yang digarap oleh petani sebagian besar di bawah 0.3 hektar atau sebanyak 80 persen. Petani dengan luas lahan garapan lebih dari 0.5 ha masih sangat sedikit sehingga wajar jika petani belum mencapai produktifitas yang seharusnya.

Tabel 12 Luas lahan garapan padi organik No Luas lahan

garapan (ha)

Penerima kredit (orang) Petani Non-kredit (orang) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 < 0.3 17 51 26 80 2 0.3 – 0.5 10 28 5 15 3 > 0.5 8 21 2 5 Jumlah 35 100 33 100

Sumber : Data primer

Luasan ini menandakan petani padi organik perlu melakukan intensifikasi pertanian jika ingin meningkatkan produktifitasya. Salah satunya dengan menerapkan SRI menggunakan benih unggul dan pupuk organik yang dosisnya tepat. Upaya intensifikasi yang sudah diterapkan sebagian petani adalah dengan menggunakan metode penanaman dengan sistem legowo. Penerapan sistem tanam ini dapat mengoptimalkan penggunaan lahan sehingga produksi dapat ditingkatkan. Luas lahan garapan akan mempengaruhi besar kecilnya modal yang harus disiapkan oleh petani untuk satu musim tanam. Semakin luas lahan garapan maka membutuhkan modal yang lebih besar. Untuk itu kredit usahatani tani yang diajukan akan menyesuaikan dengan kebutuhan modal. Ekspektasi akan produksi juga akan meningkat karena lebih efisien dalam penggunaan input namun produktifitas lebih baik.

Jenis Lembaga Kredit yang Diakses Petani Responden

Lembaga kredit mikro yang diakses bukan lembaga formal seperti bank atau BPR. Petani padi organik di Kabupaten Bogor dengan skala usaha yang mikro/kecil, hanya bisa mengakses kredit pada lembaga semi-formal yaitu koperasi dan gapoktan. Kedua lembaga tersebut menyediakan kredit lunak untuk modal usahatani padi organik. Kredit mikro yang disalurkan berupa sejumlah uang yang akan dikembalikan oleh petani pada saat panen dalam bentuk uang tunai juga.

Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa jumlah responden yang mengakses kredit mikro lebih banyak ke koperasi dan sisanya ke gapoktan. Persentase terhadap keseluruhan responden, petani yang mengakses kredit melalui koperasi sebanyak 41.1% dan ke gapoktan sebanyak 10.3%. Persentase ini menandakan bahwa lembaga keuangan mikro untuk usahatani padi organik belum berkembang luas di Kabupaten Bogor.

32

Tabel 13 Jenis Lembaga Kredit yang Diakses Petani Responden No Jenis lembaga kredit Jumlah petani (orang) Persentase (%) Persentase terhadap total responden (%) 1 Koperasi 28 80 41.2 2 Gapoktan 7 20 10.3 Jumlah 35 100 51.5

Sumber : Data primer

Jumlah Kredit Mikro yang Diakses Petani

Jumlah kredit yang disetujui oleh Koperasi atau Gapoktan tergantung dari luas lahan yang akan ditanami padi organik. Dikarenakan luas lahan yang digarap mayoritas kurang dari 0.5 hektar, maka nilai pinjaman yang diajukan tidak lebih dari 2 juta rupiah (Tabel 14). Mayoritas petani (48.6%) mengakses kredit antara 500 ribu tapi kurang dari 1 juta rupiah. Petani hanya mengakses sebanyak itu berdasarkan luas lahan yang diusahakan. Semakin luas maka kredit yang disalurkan semakin tinggi.

Tabel 14 Jumlah kredit yang disalurkan ke petani No Nilai kredit (Rp) Jumlah petani

(orang) Persentase (%) Persentase dari total petani (%) 1 < 500 000 6 17.1 8.9 2 500 000 - 990 000 17 48.6 25 3 1 000 000 - 1 490 000 7 20.0 10.2 4 1 500 000 - 2 000 000 5 14.3 7.3 Jumlah 35 100 51.5

Sumber : Data primer

Input dan Output Usahatani Padi organik

Penggunaan input untuk produksi padi organik tidak jauh berbeda dengan padi konvensional. Hanya terjadi pengurangan dalam penggunaan pupuk kimia tapi diperbanyak penggunaan pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan adalah jerami yang didiamkan selama 2-4 minggu bersamaan juga dengan kotoran ternak sehingga membusuk dan menjadi kompos. Lalu kompos tersebut dimasukkan kembali ke lahan sambil dilakukan pembajakan tanah. Jika dihitung dari total jerami hasil panen per satuan hektar tanah, maka diperkirakan menghasilkan 12 ton kompos jerami. Namun tidak semua petani memanfaatkan jerami tersebut secara keseluruhan. Dari hasil wawancara dengan petani, jerami yang digunakan tidak sampai 12 ton per hektar. Seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. Penggunaan pupuk organik paling banyak hanya mencapai 7.79 ton (Tabel 15).

Padi organik yang dimaksud dalam penelitian ini belum sepenuhnya murni menggunakan pupuk organik saja. Tapi masih menggunakan pupuk kimia untuk membantu perangsangan pertumbuhan tanaman padi dengan dosis rendah (hanya 25 persen), karena pertanian organik yang diterapkan adalah sistem LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) atau petani setempat menyebutnya pertanian organik rasional dan produk beras yang dihasilkan dinamakan beras sehat. Penggunaan pupuk kimia pada usahatani padi organik berbeda dosis dan

33 jenis pupuk. Setelah dilakukan penghitungan rata-rata, petani menggunakan pupuk jenis urea, TSP, KCl, dan Ponska. Adapun pupuk kimia yang paling banyak digunakan adalah urea dengan rata-rata penggunaan per hektar adalah 53 kg dan 62 kg untuk masing-masing petani penerima kredit dan non-kredit.

Tabel 15 Input dan output usahatani padi organik per hektar per satu musim tanam

Input-output Petani penerima

kredit Petani non-kredit Input :

Benih (Kg/ha)

Pupuk organik (Kg/Ha) Pupuk Urea (Kg/Ha) Pupuk TSP (Kg/Ha) Pupuk KCl (Kg/Ha) Pupuk Ponska (Kg/Ha)

Tenaga kerja dalam keluarga (HKP) Tenaga kerja luar keluarga (HKP)

30 6 110 53 21 3 3 26 137 37 7 790 62 21 9 19 40 126 Output : GKP (Ton) 4.77 5.52

Sumber : Data primer Keterangan :

- Tenaga kerja dalam keluarga = tenaga kerja wanita + tenaga kerja pria

- Tenaga kerja luar keluarga = tenaga kerja wanita + tenaga kerja pria + tenaga mesin traktor Selain itu penggunaan benih juga masih tinggi dikarenakan petani masih harus menyulam tanaman sampai beberapa kali. Normalnya untuk satu hektar lahan, dibutuhkan benih sebanyak 25 kg (Situmeang 2012). Hal ini dilakukan karena banyaknya hama yang memakan tanaman padi muda seperti tikus,

Dokumen terkait