Karakteristik Wilayah Letak dan Luas Wilayah
Kecamatan Pamijahan adalah salah satu dari 40 kecamatan yang berada di Kabupaten Bogor. Kecamatan Pamijahan terletak di Kabupaten Bogor bagian barat dengan luas 8 088 hektar atau 3 persen dari luasan total wilayah Kabupaten Bogor. Batas-batas wilayah Kecamatan Pamijahan sebagai berikut:
Sebelah utara : Kecamatan Cibungbulang dan Kecamatan Ciampea Sebelah selatan : Kabupaten Sukabumi
Sebelah barat : Kecamatan Leuwiliang Sebelah timur : Kecamatan Tenjolaya
Wilayah Kecamatan Pamijahan memiliki luas hamparan yang terbentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi karena berada pada 500 – 1 000 meter di atas permukaan laut.
Kondisi Alam dan Potensi Agribisnis
Seluas 1 101.50 hektar wilayah di Kecamatan Pamijahan merupakan hutan yang terbagi menjadi hutan rakyat dan hutan negara. Kecamatan Pamijahan memiliki potensi sektor pertanian yang cukup tinggi terutama dalam produksi beras. Pada tahun 2014, luas panen padi sawah di Kecamatan Pamijahan sebesar 6 428 hektar dengan produksi sebesar 28 391.40 ton. Selain itu, Kecamatan Pamijahan juga memproduksi tanaman palawija dan hortikultura. Komoditas
19 palawija yang banyak dibudidayakan seperti jagung manis, ubi kayu, dan ubi jalar. Sedangkan jenis tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan merupakan tanaman semusim seperti mentimun, buncis, terong, tomat, cabai, kacang panjang, dan sawi hijau. Dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya sawi hijau merupakan tanaman paling banyak diusahakan. Komoditas hortikultura lainnya yang dibudidayakan adalah tanaman buah. Tanaman buah yang diusahakan di Kecamatan Pamijahan antara lain alpukat, jambu biji, papaya dan pisang.
Selain komoditas pangan, palawija, dan hortikultura, komoditas peternakan dan perikanan juga banyak diusahakan di Kecamatan Pamijahan. Populasi hewan ternak yang paling besar yaitu ayam ras pedaging diikuti domba dan sapi perah. Pada sektor perikanan, mayoritas budidaya perikanan di Kecamatan Pamijahan dilakukan di kolam air tenang. Komoditas ikan konsumsi yang paling banyak dibudidayakan adalah ikan lele dan ikan mas. Selain itu beberapa peternak juga membudidayakan ikan hias seperti corydoras, cupang, koi, dan koki.
Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk
Pada tahun 2014, jumlah penduduk wilayah Pamijahan adalah 146 190 orang dimana jumlah laki- laki 74 807 orang dan perempuan 71 130 orang. Penduduk di Kecamatan Pamijahan terdistribusi secara merata dari usia 0 hingga usia lebih dari 60 tahun dengan distribusi jumlah penduduk terbesar berada pada kisaran umur 51 – 60 tahun yaitu sebanyak 219 958 penduduk atau 13.65 persen dari keseluruhan penduduk. Kecamatan Pamijahan adalah masyarakat campuran penduduk asli dan WNI keturunan. Bahasa dominan yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa sunda. Agama yang dipeluk penduduk Kecamatan Pamijahan adalah Agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha.
Mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Pamijahan mayoritas adalah peternak/petani, karyawan swasta dan pedagang. Kondisi perekonomian masyarakat Kecamatan Pamijahan bertumpu pada sektor perdagangan dan sektor pertanian. Pada sektor perdagangan terdiri dari olahan pangan serta makanan ringan. Pada sektor pertanian masyarakat Kecamatan Pamijahan lebih dominan pada beternak, tanaman hias, dan perikanan. Usaha ternak ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan dilakukan dengan dengan dua cara yakni bekerjasama dengan perusahaan peternakan atau secara mandiri. Kerjasama kemitraan antara perusahaan dan peternak dilakukan dengan pola inti plasma dan maklon. Selain itu, terdapat pula peternak yang melakukan usahanya secara mandiri. Akan tetapi, hanya sedikit peternak yang berani untuk melakukan usahanya secara mandiri. Pada waktu penelitian ini hanya terdapat satu orang peternak mandiri di Kecamatan Pamijahan. Peternak yang menjalankan usaha ternaknya secara mandiri mengaku menggunakan modal pribadi dan telah mengenal pembeli sehingga tidak mengalami kesulitan dalam penyediaan sarana produksi dan penjualan panen. Saat ini tidak sedikit pula peternak bermitra lebih memilih untuk mengontrakan kandangnya kepada perusahaan inti dibandingkan dengan melakukan sendiri usaha ternaknya ataupun bermitra dengan perusahaan. Hal ini banyak dipilih peternak dikarenakan peternak tidak merasakan adanya keuntungan dengan bermitra. Sektor lain yang juga berperan dalam perekonomian masyarakat Kecamatan Pamijahan adalah sektor jasa, seperti jasa-jasa angkutan, dan pariwisata.
20
Karakteristik Responden
Karakteristik peternak merupakan aspek yang penting dalam menilai keberhasilan usahanya. Karakteristik-karakteristik tersebut penting diketahui karena mempengaruhi pengambilan keputusan peternak dalam mengelola usahanya. Petani yang memiliki kemampuan pendidikan yang baik, kemampuan teknis yang baik dan lebih banyak pengalaman akan mendapatkan hasil pada posisi yang terbaik (Setianingsih et al dalam Nurfadillah 2014). Responden dalam penelitian ini adalah peternak yang melakukan usaha ayam ras pedaging di Kecamatan Pamijahan. Responden penelitian yaitu peternak ayam ras pedaging yang bermitra sebanyak 30 peternak yang terbagi menjadi dua kelompok yakni peternak skala I dan peternak skala II. Peternak skala I sebanyak 19 peternak mitra dengan rata-rata kapasitas usaha sebanyak 3 657.89 ekor. Peternak skala II sebanyak 11 peternak mitra dengan rata-rata kapasitas usaha sebanyak 7 909.09 ekor ayam. Karakteristik responden terbagi menjadi dua hal, yaitu karakteristik peternak yang mencakup usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan diluar usaha ternak dan karakteristik usaha ternak yang mencakup lama usaha, kapasitas usaha, dan alasan beternak ayam ras pedaging.
Usia
Usia peternak merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja usaha ternak ayam yang dan memiliki keterkaitan dengan pengambilan risiko. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa peternak responden memiliki usia yang beragam mulai dari 28 – 60 tahun. Sebagian besar peternak mitra skala I berusia antara 31 – 40 tahun sedangkan peternak mitra skala II berusia 41-50 tahun. Hal ini membuktikan bahwa tidak selalu peternak yang berusia muda lebih berani dalam mengambil risiko. Walaupun secara fisik, maka semakin tua tenaga kerja akan semakin turun prestasinya namun semakin tua usia tenaga kerja akan semakin banyak pengalamannya dalam berusaha sehingga dapat meningkatkan prestasi kerja. Sebaran responden berdasarkan kelompok usia dapat terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Kelompok usia responden
Kelompok usia (tahun)
Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 21-30 3 15.78 1 9.09 31-40 8 42.10 3 27.27 41-50 3 15.78 6 54.54 >50 5 26.31 1 9.09 Jumlah 19 100.00 11 100.00 Pendidikan
Kemampuan peternak dalam pengelolaan usahanya salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Pendidikan dapat berupa pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Peternak mitra skala I mayoritas mengenyam pendidikan setingkat SMA dengan persentasi sebesar 31.57 persen. Sedangkan sebagian besar peternak mitra skala II mengenyam pendidikan formal setingkat
21 SMP dengan persentasi sebesar 45.45 persen. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan formal terdapat pada Tabel 5.
Tabel 5 Tingkat pendidikan formal responden
Tingkat Pendidikan Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Tidak sekolah 2 10.52 1 9.09 SD 5 26.31 4 36.36 SMP 4 21.05 5 45.45 SMA 6 31.57 1 9.09 Perguruan Tinggi 2 10.52 0 0.00 Jumlah 19 100.00 11 100.00
Pendidikan non-formal didapatkan dalam bentuk pelatihan atau pembinaan. Seluruh peternak mitra pernah mendapatkan pembinaan pada awal mereka bergabung dengan perusahaan inti mengenai proses budidaya yang sesuai dengan prosedur perusahaan inti.
Jenis Kelamin
Mayoritas peternak responden berjenis kelamin laki laki, yaitu sebesar lebih besar dari 90 persen pada peternak mitra. Terdapat dua peternak mitra yang berjenis kelamin perempuan. Kedua peternak tersebut merupakan ibu rumah tangga yang memutuskan untuk beternak sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang yang dapat menambah penghasilan keluarga. Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Jenis kelamin responden
Jenis Kelamin Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Laki-laki 18 94.73 10 90.90 Perempuan 1 5.27 1 9.10 Jumlah 19 100.00 11 100.00
Perkerjaan di Luar Beternak Ayam Ras
Pada umumnya usaha ternak ayam ras pedaging merupakan usaha utama bagi peternak karena dalam proses budidaya ayam ras sangat menyita waktu serta tenaga peternak. Hal ini dapat dilihat pada peternak mitra, sebesar 73.68 persen peternak mitra skala I dan 100 persen peternak mitra skala II fokus mengelola usaha ternak ayamnya yang menandakan bahwa kegiatan usaha ternak merupakan usaha utama bagi peternak. Tetapi selain menjadi peternak ayam ras pedaging, beberapa responden memiliki pekerjaan lain yang juga memiliki pekerjaan lain seperti pegawai negeri, petani, dan ibu rumah tangga. Sebaran responden berdasarkan pekerjaan di luar usaha beternak ayam dapat dilihat pada Tabel 7.
22
Tabel 7 Pekerjaan di luar beternak ayam
Pekejaan lain Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Pegawai Negeri 2 10.52 0 0.00 Petani/peternak 1 5.27 0 0.00
Ibu Rumah Tangga 2 10.52 0 0.00
Tidak ada 14 73.68 11 100.00
Jumlah 19 100.00 11 100.00
Karakteristik Usaha Ternak Ayam Ras Pedaging Lama Usaha
Usaha ternak ayam ras pedaging yang diusahakan oleh responden memiliki lama usaha yang bervariasi antara 1 - 15 tahun. Mayoritas peternak mitra skala I telah mengusahakan usaha ternak ayam ras pedaging dalam rentang waktu 1 – 5 tahun, sedangkan peternak mitra skala II mayoritas telah mengusahakan usahanya selama 10 – 15 tahun. Sebaran responden berdasarkan lama usaha dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Lama usaha ayam ras pedaging
Lama usaha (tahun)
Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 – 5 11 85.16 3 27.27 5 – 10 2 10.52 3 27.27 10 – 15 7 36.84 4 36.36 >15 0 0.00 1 9.10 Jumlah 19 100.00 11 100.00
Alasan Beternak Ayam Ras Pedaging
Terdapat beberapa alasan yang mendasari peternak memilih usaha ayam ras pedaging. Alasan terbanyak peternak mitra skala I memilih usaha ini adalah karena peternak telah memiliki pengalaman budidaya dengan persentase sebesar lebih dari 40 persen dari keseluruhan peternak mitra skala I. Walaupun sebagian besar peternak menjalankan usahanya selama 1 – 5 tahun, tetapi peternak telah memiliki pengalaman dalam pemeliharaan ayam ras pedaging karena telah lama bekerja sebagai anak kandang atau ikut mengurus ternak milik keluarga.
Alasan lain mengapa peternak mitra skala I memilih usaha ayam ras pedaging ini adalah karena keuntungan yang besar sebanyak 26.31 persen, perputaran modal yang cepat sebanyak 5.27 persen, usaha turun-temurun sebanyak 15.78 persen dan alasan lainnya sebanyak 5.27 persen. Alasan lainnya ini terdiri dari untuk mencari penghasilan tambahan, ingin memiliki usaha, dan coba-coba. Berbeda dengan peternak mitra skala I, pada peternak mitra skala II alasan beternak ingin memiliki usaha sendiri menjadi alasan terbanyak, diikuti oleh pengalaman budidaya. Sebaran alasan peternak dalam mengusahakan ayam ras pedaging dapat dilihat pada Tabel 9.
23 Tabel 9 Alasan beternak ayam ras pedaging
Alasan Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)
Keuntungan yang besar 5 26.31 2 18.18
Perputaran modal yang cepat 1 5.27 2 18.18
Usaha turun temurun 3 15.78 0 0.00
Memiliki pengalaman budidaya 9 47.36 3 27.27
Alasan lainnya 1 5.27 4 36.36
Jumlah 19 100.00 11 100.00
Kapasitas Usaha Ayam Ras Pedaging
Usaha ternak ayam ras pedaging yang diusahakan 30 responden memiliki kapasitas usaha yang berbeda, berkisar antara 2 000 ekor hingga 14 000 ekor. Berdasarkan kapasitas usahanya, peternak mitra dikategorikan sebagai peternak rakyat karena kapasitas usaha per siklusnya tidak melebihi 15 000 ekor (SK Mentan No. 362/Kpts/TN.120/5/1990). Peternak mitra skala I paling banyak diusahakan dengan kapasitas 2 501 - 5000 ekor dan paternak skala II paling banyak mengusahakan usahanya dengan kapasitas 5 500 – 6 000 ekor. Sebaran responden berdasarkan kapasitas usahanya dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Kapasitas usaha ayam ras pedaging
Kapasitas (ekor) Skala I Skala II Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 2 000 – 4 000 13 68.43 0 0.00 4 001 – 6 000 6 31.57 5 45.45 8 001 – 10 000 0 0.00 4 36.36 10 001 – 12 000 0 0.00 1 9.09 12 001 – 14 000 0 0.00 1 9.09 Jumlah 19 100.00 11 100.00
Budidaya Ayam Ras Pedaging
Proses budidaya ayam ras pedaging yang dilakukan oleh peternak mitra membentuk siklus produksi yang dimulai dari persiapan kandang hingga panen. Untuk setiap satu siklus produksi membutuhkan waktu sekitar 50 – 60 hari sehingga dalam satu tahun peternak biasanya maksimal memiliki enam siklus produksi.
Persiapan Kandang
Sebelum kegiatan pemeliharaan ayam berlangsung, terlebih dahulu kandang dan peralatan yang akan digunakan harus dipersiapkan dengan baik. Tujuan dari persiapan kandang ini sendiri yaitu untuk memberikan rasa nyaman pada ayam ketika ayam mulai masuk, serta supaya terhindar dari gangguan penyakit.
24
Setelah siklus produksi sebelumnya selesai dilakukan, maka kandang harus segera dibersihkan dan disterilisasi. Pertama-tama kandang dibersihkan dari sekam dan sisa kotoran. Apabila terdapat bagian kandang yang harus diperbaiki, biasanya peternak akan melakukan perbaikan terlebih dulu sebelum kemudian kandang dicuci dengan cara menyemprotkan air bersih. Selanjutnya lantai dan dinding kandang dibasahi dengan larutan detergen kemudian didiamkan selama kurang lebih satu jam supaya mudah dicuci. Seluruh bagian kandang disikat, kemudian dibilas sampai benar-benar bersih. Setelah kandang benar-benar bersih, kandang didiamkan dan barulah disemprot dengan desinfektan secara merata ke setiap sudut kandang dan lingkungan sekitar kandang. Kemudian kandang ditutup dan didiamkan kembali selama satu minggu. Peralatan kandang seperti tempat pakan dan tempat minum juga dicuci dengan air bersih dan detergen untuk mencegah adanya penyakit dan sisa sisa kotoran yang masih tertinggal.
2. Penebaran litter dan pengaturan peralatan
Litter atau alas kandang yang digunakan peternak adalah sekam. Sekam ditebar di lantai kandang dengan ketebalan 5 – 7 cm. Sekam yang digunakan harus bersih, kering, dan ditebar merata. Penggunaan sekam sebagai alas bertujuan untuk menghangatkan, mencegah luka pada ayam, dan menyerap air yang berasal dari kotoran mapun tumpahan minum sehingga lantai tetap kering. Peralatan kandang seperti tempat pakan dan tempat minum ayam disusun di dalam kandang sesuai dengan kebutuhan ayam. Tempat pakan dan tempat minum dipasang secara berselang-seling.
3. Persiapan masa brooding
Indukan atau brooder berfungsi untuk menghangatkan anak ayam. Brooder
digunakan sampai ayam berumur 14 – 15 hari. Jenis bahan bakar pemanas yang digunakan oleh peternak berbeda-beda. Terdapat berbagai macam pilihan pemanas yang dapat digunakan untuk menciptakan suhu stabil dalam kandang. Berdasarkan hasil wawancara, jenis pemanas yang digunakan peternak mitra yakni kayu bakar, serbuk gergaji, batu bara, dan gas. Hal ini membuat alat pembakaran yang digunakan peternak pun berbeda-beda sesuai dengan jenis pemanas yang digunakan.
Ukuran dan jumlah brooder tergantung dari jumlah dan umur ayam. Semakin besar dan umur semakin bertambah, maka brooder diperluas. Setiap kandang umumnya cukup dengan satu pemanas jika pemanasan dilakukan dengan kayu bakar yang dibakar dalam tong karena biasanya hanya sebagian ruang kandang yang digunakan untuk memanaskan ayam. Tetapi apabila peternak menggunakan gas, batu bara ataupun serbuk kayu maka peternak memerlukan lebih dari satu alat pemanas. Kandang disekat dengan tirai maupun papan triplek atau pagar bambu (chick guard) untuk memperkecil ruangan dan meminimalisir panas yang keluar. Usahakan udara di dalam kandang tidak terlalu pengap, artinya tetap harus memperhatikan kepentingan ventilasi udara bagi ayam. Tata cara dalam tahap brooding antara peternak mitra dan peternak mandiri memiliki sedikit perbedaan. Walaupun peternak mitra rata-rata memiliki kapasitas produksi yang lebih besar dan jumlah kandang yang lebih dari satu, tetapi selama masa brooding
biasanya peternak mitra melakukannya dalam satu kandang hingga DOC berumur 14 hari. Setelah itu, DOC akan didistribusikan ke kandang-kandang lain selama masa finisher
25
Pemeliharaan
Peternak harus memperhatikan masa pemeliharaan ayam ras pedaging dari DOC sampai umur panen. Semakin baik masa pemeliharaan maka hasil produksi akan baik. Periode pemeliharaan broiler yang umum dilakukan peternak terdiri dari dua fase yaitu fase starter dan fase finisher.
Pemeliharaan fase starter dimulai pada umur 1 hari sampai dengan 21 hari atau minggu pertama hingga minggu ketiga. Pada minggu pertama dimulai saat
chick in, DOC dipindahkan ke brooder dan segera diberi minum larutan gula dan air hangat untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pada minggu pertama ini pemanas dinyalakan sepanjang hari. Pakan dan air minum diberikan sehari tiga kali yaitu saat pagi, siang dan sore. Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditabur pada feed tray ataupun tutup boks. Pada minggu pertama juga dilakukan vaksinansi ND killed (tetelo) dan IB (gumboro) saat umur DOC 4 hari dengan cara suntik dan tetes. Penyuntikan dilakukan oleh petugas perusahaan, sedangkan vaksin tetes diberikan oleh peternak. Umumnya sebagian peternak menggunakan koran atau karung yang diletakkan diatas sekam agar DOC tidak memakan sekam, kemudian setelah minggu pertama lapisan koran atau karung sudah mulai dibuka. Pelaksanaan masa pemeliharaan pada minggu kedua dan minggu ketiga tidak berbeda dengan minggu pertama. Tetapi peternak dapat menggurangi penggunaan pemanas dengan hanya menyalakan pemanas pada saat malam hari atau jika cuaca dingin. Pemberian pakan dan minum pada minggu kedua sudah mulai diberikan di tempat makan dan minum yang diletakkan diatas sekam sedangkan pada minggu ketiga pemberian pakan diletakkan di tempat makan yang digantung setinggi jangkauan ayam.
Pada minggu kedua atau saat DOC telah berumur 12 – 15 hari, dilakukan vaksinasi IBD (gumboro) dengan cara diminumkan. Pada minggu kedua atau saat ayam telah berumur 14 hari, alas sekam sudah dapat diangkat. Beberapa peternak melakukan vaksinasi ND lasota kembali pada umur 18 – 21 hari dengan cara diminumkan. Apabila peternak melakukan pemberian vaksin dengan cara diminumkan, ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya.
Fase finisher dimulai dari umur 21 hari minggu hingga panen. Minggu keempat merupakan masa pemeliharaan menjelang panen. Masa pemeliharaan pada minggu ini tidak berbeda dengan minggu sebelumnya. Pada minggu keempat hingga panen, penggunaan pemanas sudah tidak diperlukan dan pemberian obat sudah berkurang. Obat-obatan yang banyak digunakan adalah obat-obatan yang ditujukan untuk mengobati penyakit cocci (berak darah), gumboro, CRD (ngorok), dan coryza (snot).
Selama masa pemeliharaan ayam baik pada fase starter ataupun fase
finisher, pengontrolan harus sering dilakukan untuk mengetahui kondisi dan ketersediaan pakan dan minum, kondisi lingkungan (suhu, kebersihan, dan kerusakan kandang dan peralatan), dan kesehatan ayam. Pengontrolan juga dilakukan untuk memastikan semua ayam memiliki pertumbuhan yang normal, dan melakukan pencatatan konsumsi pakan, bobot badan, serta mortalitas setiap harinya. Kontrol bobot badan dilakukan dengan menimbang sampel ayam yang diambil secara acak. Ayam dengan pertumbuhan yang tidak normal harus dipisahkan dengan ayam-ayam lainnya kemudian diberi perlakuan khusus.
26
Selain itu juga dilakukan seleksi untuk mengetahui kondisi kesehatan ayam. Setiap harinya dilakukan screening untuk mencari ayam yang pertumbuhannya lambat, cacat, kerdil, maupun sakit. Ayam yang sakit juga harus segera dipisahkan supaya tidak menularkan penyakit kepada ayam sehat. Biasanya saat ditemukan beberapa ayam sakit, peternak langsung melakukan tindakan pengobatan untuk seluruh ayam.
Pemanenan
Masa panen ayam dapat mulai dilakukan ketika ayam berbobot 0.80 – 0.90 kg atau disebut dengan panen kecil. Sedangkan apabila ayam dipanen saat telah berbobot 1.30 kg atau lebih maka disebuf dengan panen besar. Peternak responden umumnya melakukan panen besar. Pemanenan dilakukan saat pagi atau sore hari. Proses panen dilakukan dengan cara ayam digiring dan disekat terlebih dahulu untuk memudahkan penangkapan dan mengurangi tingkat stres pada ayam. Ayam yang ditangkap lalu diikat dengan menggunakan tali raffia. Setiap satu ikatan terdiri dari 5 ekor ayam lalu kemudian ayam ditimbang. Pada sekali penimbangan terdiri dari 4 ikatan atau 20 ekor ayam. Hasil penimbangan akan dicatat dan dijumlahkan pada akhir panen. Selanjutnya ayam-ayam yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam keranjang pembeli. Setelah itu keranjang ayam disusun ke dalam pick-up/ truk dan diangkut ke tempat tujuan. Pada peternak mitra, pihak pemanen adalah perusahaan inti dan pembayaran hasil ditujukan pada inti. Waktu panen peternak mitra ditentukan oleh inti. Peternak mitra harus mencatat hasil penimbangan pada surat daftar penimbangan dan harga yang diterima peternak mitra merupakan harga kontrak.