DAFTAR LAMPIRAN
4 GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN UDANG Sejarah Perudangan Indonesia
Secara garis besar sumberdaya ikan berupa sumberdaya ikan laut dan sumberdaya ikan di perairan umum. Indonesia memiliki lebih dari 83 jenis udang yang berperan penting menunjang ekspor diantaranya udang putih dan udang krosok. Daerah penangkapan udang yang cukup potensial di Indonesia dapat ditemukan di pantai barat Sumatera, pantai timur Sumatera, selat Malaka, pantai utara Jawa, perairan Kalimantan dan Laut Arafura. Hampir semua jenis udang Penaeid kecuali P. stylifera dan Solonocera indicus, memanfaatkan perairan payau sebagai bagian dari siklus hidupnya sebagai daerah budidaya udang (Suman 2010).
Produksi udang diperoleh dari perikanan tangkap dan budidaya. Udang budidaya merupakan pengembangan dari udang yang berada di laut. Dahulu tambak lebih banyak digunakan untuk memelihara ikan seperti bandeng, belanak, mujair dan kakap. Sedangkan udang ikut dipelihara karena saat air
pasang laut, benih udang ikut masuk ke dalam tambak. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, tambak udang berkembang menjadi tempat pembudidayaan yang komersial.
Pada tahun 1963-1964, ada beberapa petani tambak di Tamanroya, Jeneponto dan Bulukumba, Sulawesi Selatan yang dengan sengaja berupaya menangkap benih udang windu di sepanjang saluran air yang buntu. Benih dari berbagai ukuran kemudian dibudidaya di tambak dan dapat mencapai ukuran panjang sampai 25-30 cm dengan bobot 200-250 gram. Pada tahun 1964, berdasarkan hasil survei kementrian perikanan menyimpulkan bahwa udang besar khususnya udang windu cocok untuk dibudidayakan di tambak baik secara tebaran khusus maupun campuran dengan bandeng asal disertai perbaikan kontruksi tambak, pengairan dan manajemennya. Masalah yang dihadapi pada masa itu adalah kurangnya ketersediaan benur (benih).
Dalam rangka peningkatan produksi udang di tambak dikembangkan Proyek Udang Nasional (PUN) pada tahun 1983-1993 di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Selain itu, masih terdapat beberapa program lainnya yang dibiayai APBN maupun melalui kemitraan dengan swasta diantaranya adalah program Intensifikasi Tambak (Intam) maupun ekstensifikasi tambak. Hal-hal yang menghambat program-program tersebut adalah adanya serangan wabah penyakit udang yang banyak menyebabkan pengusaha tambak udang gulung tikar (Soweito 2000).
Sebagai suatu kepulauan yang besar dengan lebih dari 17 500 pulau dan garis pantai sepanjang lebih dari 90 000 km, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk budidaya udang air payau. Area yang tercatat berpotensi sebagai pertambakan air payau adalah seluas 1.2 juta ha dan jumlah tambak yang ada adalah sekitar 600 ribu ha (50%) (KKP 2011). Tambak yang dibangun sebelum tahun 1985 hanya dirancang untuk memelihara ikan bandeng (milkfish).
Pada awalnya, komoditi utama yang dibudidayakan di tambak adalah udang windu (Panaeus monodon), udang putih (Panaeus merguiensis), ikan bandeng
(Chanosc hanos Forsk) dan ikan nila (Tilapia sp).
Sejak tahun 1986, pemerintah mulai melakukan intensifikasi budidaya udang dimana pemerintah mendirikan proyek percontohan tambak udang terpadu di Karawang Jawa Barat dengan sistem pengelolaan inti plasma. Sejak saat itu, banyak petani bandeng yang beralih membudidayakan udang, dan mengkonversi tambak bandeng mereka menjadi tambak udang. Selanjutnya, banyak pula pihak swasta yang tertarik untuk ikut berinvestasi mendirikan tambak terintegrasi yang difasilitasi beberapa kemudahan oleh pemerintah guna mengembangkan tambak berskala besar yang dipadukan dengan proyek transmigrasi.
Perkembangan Produksi Udang Indonesia
Udang sebagai komoditas unggulan perikanan di dunia berkontribusi dalam peningkatan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Secara umum, distribusi udang dimulai dari petambak dan nelayan. Sebelum disalurkan ke pasar biasanya terdapat para pengumpul udang (middle man) yang kemudian melakukan transaksi penjualan ke perusahaan/unit pengolah udang. Produk yang dihasilkan
oleh perusahaan kemudian didistribusikan ke pasar dalam negeri maupun diekspor ke luar negeri. Adapun jalur distribusi udang dari hulu ke hilir ditunjukkan pada Gambar 13 berikut.
Sumber: KKP 2013
Gambar 13 Skema jalur distribusi udang dari hulu ke hilir
Produksi udang di Indonesia berasal dari hasil kegiatan budidaya tambak, penangkapan di laut dan penangkapan di perairan umum. Sebagian besar produksi berasal dari kegiatan budidaya dan tangkap. Perkembangan kuantitas produksi udang disajikan pada Gambar 14.
Sumber: Statistik Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap (berbagai edisi)
Gambar 14 Perkembangan produksi udang hasil budidaya tambak dan hasil tangkap, tahun 2005-2014
Berdasarkan Gambar 14, produksi udang hasil budidaya lebih tinggi dibandingkan perikanan tangkap dan mengalami peningkatan secara signifikan pada tahun 2014. Produksi udang hasil penangkapan relatif stabil dibandingkan
Penyimpanan
bahan baku Pengolahan
Penyimpanan
produk udang Transportasi
Retail dan Ekspor
Konsumsi Pengumpul
dengan udang yang berasal dari hasil budidaya. Apabila dilihat berdasarkan varietasnya, udang putih mendominasi perikanan tangkap. Sedangkan udang vanamei dan udang windu pada perikanan budidaya.
Udang hasil tangkapan lebih beragam dibandingkan dengan udang hasil budidaya dilihat dari ukuran/size udang yang diperoleh sehingga tidak semua jenis udang tangkap dianggap layak untuk diekspor. Udang tangkap sangat tergantung pada musim dimana memasuki bulan Maret/April hingga September/Oktober para nelayan mulai aktif melaut. Sedangkan udang hasil budidaya membutuhkan masa pemeliharaan 100-110 hari (DKP 2012).
Udang segar dan udang beku merupakan produk ekspor Indonesia yang berasal dari perikanan tangkap dan budidaya. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT 2007), untuk udang besar beku dikonversi sebanyak 60 persen dari berat basah, dan sisanya 40 persen udang tidak beku. Sedangkan udang kecil dan udang biasa sebanyak 42 persen beku dan 40 persen tidak beku. Hal ini didukung oleh studi Soepanto (1999) dalam Juarno (2012) mengungkapkan bahwa konversi udang beku adalah 60 persen dari udang segar. Ketersediaan udang beku sangat dipengaruhi oleh produksi udang segar yang digunakan sebagai bahan baku utama dalam industri udang beku.
Peluang Pasar Udang Indonesia
Sumber: Susenas dalam Ditjen P2HP 2013
Gambar 15 Konsumsi udang di tingkat rumah tangga
Pasar udang dalam negeri semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein ikan dan meningkatnya kemampuan serta gaya hidup masyarakat. Tahun 2012, konsumsi udang nasional mencapai 182 ribu ton meningkat dibandingkan dengan konsumsi tahun 2011. Seiring meningkatnya konsumsi ikan nasional, peluang pasar dalam negeri untuk komoditas udang sangat menjanjikan.
Sebagian besar konsumsi udang digunakan oleh rumah tangga dimana udang diperoleh dari pasar tradisional maupun supermarket. Konsumsi rumah tangga sebesar 87 persen dari total konsumsi nasional, sedangkan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan catering. Udang yang laku di pasaran dalam negeri adalah udang dengan size kecil-sedang ± 70-100 ekor per kg. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi udang menyebabkan peningkatan permintaan dalam negeri.
Sumber: Ditjen P2HP 2013
Gambar 16 Distribusi konsumsi udang di pasar domestik
Perubahan pola makan dari red meat ke white meat membuka peluang terhadap tingkat konsumsi produk perikanan pada masyarakat dunia, sementara di sisi lain berlaku kewajiban untuk menjamin pengawasan keamanan makanan dimulai dari saat produksi hingga dikonsumsi masyarakat. Peningkatan konsumsi produk perikanan juga menyebabkan tuntutan pasar terhadap jaminan kualitas dan keamanan yang selanjutnya mempengaruhi tingkat permintaan bahan baku (“raw material”) produk perikanan yang semakin hari semakin bertambah, hal ini menyebabkan persaingan pasar yang terus menerus sedangkan sisi lainnya Indonesia harus menyiapkan diri sebagai eksportir perikanan yang mampu berdaya saing. Seiring dengan perkembangan ekonomi global, perdagangan Indonesia menghadapi tantangan yang nyata terkait ketersediaan bahan baku, persyaratan ekspor yang semakin ketat serta persaingan dengan negara produsen lainnya.
Pada tahun 2013, hambatan ekspor udang ke Amerika Serikat berhasil dihilangkan. Pemerintah Indonesia menerima tuduhan dari US DOC terkait dengan pemberian subsidi untuk industri udang Indonesia dan akan mengenakan bea masuk tambahan untuk ekspor udang Indonesia ke Amerika Serikat. Permasalahan tersebut sangat serius mengingat pasar Amerika Serikat
Pasar Institusional Hotel (8 000 unit) Restoran (15 000 unit) Catering-Jasa Boga 12.6% Size udang 70-100 Bentuk segar
Pasar Non Institusional
Rumah tangga 87.4%
Sebagian besar berasal dari pasar tradisonal
merupakan pasar utama udang Indonesia. Berkat kerjasama yang baik antara seluruh stakeholder udang Indonesia, tuduhan tersebut tidak terbukti dan US DOC memutuskan bea masuk sebesar nol persen juga hasil keputusan ITC bahwa tidak ada injury terhadap udang di Amerika Serikat.
Selain hilangnya beberapa hambatan ekspor terdapat juga peluang pasar ekspor udang diantaranya yaitu konsumsi di China yang meningkat dan turunnya produksi udang di ASEAN karena terkena penyakit EMS (Early Mortalitas Syndrome). Supply udang di China, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Mexico terganggu virus EMS. Produksi di negara-negara tersebut turun 25% dan beberapa negara melarang impor udang segar/hidup dari negara itu sehingga terdapat pangsa pasar yang dapat diisi dari Indonesia.
Beberapa negara pesaing Indonesia menghadapi kondisi yang kurang baik dalam pengembangan bisnis udang. Vietnam menghadapi masalah perkreditan yang berdampak pada perusahaan dan petambak sehingga kesulitan modal kerja. Di Thailand, terjadi kelangkaan tenaga kerja pengolahan ikan/kapal ikan dan masalah tenaga kerja asing/anak serta kenaikan UMP menyebabkan biaya produksi meningkat drastis. Sedangkan di India, berkembangnya budidaya udang vannamei tidak didukung dengan perkembangan industri pengolahan udang. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pasar udangnya meskipun di dalam negeri juga terkendala kurangnya bahan baku untuk diekspor.
Selain pasar ekspor, permintaan udang juga semakin tinggi di pasar dalam negeri. Tahun 2013, tingkat konsumsi ikan nasional meningkat menjadi 35.62 kg/kapita dan permintaan udang menjadi sangat tinggi. Harga udang di pasar dalam negeri pada tahun 2013 tidak kalah dengan harga ekspor bahkan di beberapa wilayah harga udang mencapai Rp 100-130 ribu/kg (Ditjen P2HP 2013).
Perkembangan Ekspor Udang Indonesia
Udang yang dihasilkan Indonesia selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor ke luar negeri. Perkembangan kuantitas dan nilai ekspor udang segar dan udang beku masing-masing disajikan pada Gambar 17 dan Gambar 18. Negara tujuan ekspor utama untuk udang segar Indonesia adalah Malaysia sedangkan untuk udang beku semula didominasi oleh pasar Jepang dengan pangsa sebesar 58-60 persen mengalami perubahan dengan mayoritas ekspor beku ditujukan ke Amerika Serikat.
Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 17 Perkembangan volume ekspor udang segar dan udang beku Indonesia tahun 2005-2014
Berdasarkan Gambar 17, apabila dibandingkan dengan udang segar, ekspor udang beku cenderung lebih tinggi dan fluktuatif. Ekspor udang segar ke Malaysia terus mengalami penurunan. Tahun 2014, jumlah udang segar yang diekspor menurun sebesar 569 766 ton atau sekitar 32 persen dari tahun sebelumnya. Sebaliknya ekspor udang beku ke Amerika Serikat terus mengalami peningkatan hingga tahun 2014 sebesar 19 943 ton atau sekitar 24 persen dari tahun sebelumnya.
(a) (b) Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 18 Perkembangan nilai ekspor (a) udang segar dan (b) udang beku Indonesia, tahun 2005-2014
Berdasarkan Gambar 18, perkembangan nilai ekspor udang segar dan udang beku Indonesia cenderung berfluktuatif. Nilai ekspor udang segar dan beku mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2014. Udang segar yang diekspor ke Malaysia meningkat sebesar US$ 2.96 Juta atau sekitar 51 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan udang beku yang diekspor ke Amerika Serikat meningkat sebesar US$ 318.42 juta atau sekitar 32 persen dari tahun sebelumnya. Nilai ekspor udang beku lebih besar dibandingkan dengan udang segar disebabkan karena harga udang beku lebih tinggi dibandingkan dengan udang segar.
Perdagangan Udang Internasional
Ekspor merupakan salah satu kegiatan utama dalam pasar bebas. Segala kegiatan ekspor memiliki strategi untuk memperoleh maksimum profit, pelanggan, kualitas produk yang baik dan mampu untuk bersaing di pasar internasional. Perdagangan udang internasional diliputi persaingan antar negara- negara eksportir utama dan importir utama. Persaingan antar eksportir udang terus berlangsung terutama sesama negara di Asia yaitu Thailand, Vietnam, China, dan India yang diuntungkan dengan keunggulan geografis negaranya masing-masing. Oleh sebab itu, perlunya strategi pemasaran tertentu dalam menghadapi persaingan antar negara yang semakin ketat.
Thailand merupakan eksportir nomor satu sejak tahun 1993. Thailand menguasai lebih dari 20 persen dari perdagangan udang dunia. Strategi pasar melalui pengembangan produk inovatif yang bernilai tambah. Selain itu, eksportir Thailand memiliki komitmen terhadap waktu dan menjaga kualitas udang yang diekspor. Kekuatan industri udang sangat bergantung pada peran yang kuat dari pengusaha yang tergabung dalam beberapa asosiasi dan market intellegencia (Wati et al 2013). Industri udang Thailand mampu mengisi kekosongan pasar yang disebabkan oleh menurunnya ekspor udang Ekuador. Thailand menerapkan contract farming pada industri pengolahan. Keberlanjutan usaha dilakukan melalui pembentukan kluster dengan memperkuat kelembagaan koperasi sehingga pengelolaan budidaya makin efektif melalui sistem manajemen terpadu (Juarno 2012).
Tahun 1998, Vietnam memiliki 187 pabrik pengolahan seafood dengan kapasitas 200 000 ton per tahun. Produk perikanan Vietnam diekspor ke berbagai negara di dunia. Produk perikanan Vietnam merupakan produk ramah lingkungan yang diwujudkan melalui kebijakan budidaya udang organik pada tahun 1999. Ekspor Vietnam meningkat sangat signifikan hingga mencapai US$ 1.8 Miliar pada tahun 2001, atau sekitar 217 persen dari volume ekspor tahun 1998. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan berkontribusi sebesar 12 persen dari total nilai ekspor nasional. Udang beku merupakan salah satu produk utama perikanan Vietnam. Dibandingkan dengan produk perikanan Vietnam, udang beku memiliki nilai ekspor tertinggi dengan kontribusi sebesar 44 persen dari total nilai ekspor perikanan atau 23 persen dari total volume ekspor. Tahun 2001 pangsa ekspor perikanan Vietnam ke Amerika Serikat mencapai 28 persen di antara negara-negara Asia lainnya (Kiet dan Sumalde 2008).
China merupakan negara budidaya udang laut terbesar di dunia dengan produksi sebanyak 490 000 MT pada tahun 2003 atau sekitar 27 persen dari total produksi dunia. Meskipun produksi udang China utamanya digunakan untuk pasar domestik, tetapi hampir 170 000 MT udang diekspor tahun 2003. Hal ini membuat China menjadi eksportir udang terbesar ketiga di dunia (Leung dan Engle 2006). Mayoritas udang yang diusahakan adalah udang putih. Bentuk kerja sama yang dilakukan dalam perdagangan udang yaitu melalui contract processing dengan berfokus pada persaingan antar pengekspor udang Asia.
Budaya udang di India secara komersial dikembangkan selama beberapa tahun terakhir karena adanya liberalisasi ekonomi, profit yang tinggi dan pasar internasional yang baik. Produksi udang tahun 1996-1997 hanya sebanyak 70 686 MT dan meningkat hingga tahun 2005-2006 mencapai 143 170 MT. Pangsa ekspor udang di India sebesar 54 persen dari total ekspor produk perikanan tahun 2006-2007 (Geethalakshmi et al 2010).
Importir udang di Indonesia untuk udang segar yaitu Malaysia sedangkan udang beku yaitu Amerika Serikat. Selain sebagai importir, Malaysia juga berperan sebagai produsen penting dalam perdagangan produk-produk perikanan. Konsumsi seafood per kapita Malaysia mencapai lebih dari 50 kg per tahun dan merupakan konsumsi tertinggi di Asia Impor hasil perikanan menunjukkan peningkatan permintaan. Produk impor Malaysia dominan dalam bentuk segar yang diperoleh dari Indonesia dan Thailand (INFOFISH 2012).
Amerika Serikat merupakan importir dan pasar udang terbesar di dunia. Sebelumnya, Jepang merupakan pasar terbesar. Tetapi, karena masalah ekonomi
di Jepang tahun 1990, impor udang mengalami stagnasi bersamaan dengan beberapa impor produk lainnya. Amerika Serikat tahun 1998 mulai menggeser Jepang sebagai importir terbesar baik dalam volume dan nilai. Sejak saat itu, impor udang Amerika Serikat meningkat dan udang menjadi seafood yang populer dikonsumsi di Amerika Serikat menggantikan ikan tuna (Leung dan Engle 2006).
Udang menjadi seafood nomor satu di Amerika Serikat yang dikonsumsi lebih dari 4 pounds/tahun (Johnson 2004). Akan tetapi, Amerika Serikat hanya mampu memenuhi 12 persen udang untuk kebutuhan domestik dan sisanya 88 persen berasal dari impor. Pada tahun 2007, impor udang Amerika Serikat 67 persen berasal dari Asia, dan 33 persen berasal dari Amerika Latin, sedangkan pada tahun 2008 sebanyak 76.3 persen berasal dari Asia. Indonesia menjadi salah satu pemasok udang utama dalam bentuk beku ke Amerika Serikat.
Umumnya jenis udang yang diperdagangkan adalah kelompok nomor HS.0306 yang meliputi White Shrimp, Banana Shrimp dan Black Tiger Shrimp
(udang windu). Bentuk udang yang diekspor yaitu Fresh dan Frozen (Cooked
dan Peeled). Produk udang yang diekspor 90 persen dalam bentuk frozen dan 10 persen not frozen. Berikut akan dijelaskan perbedaan antara perdagangan udang tak beku (segar) dan udang beku.
Perdagangan Udang Segar
Udang segar dengan kode HS 030623 merupakan produk udang yang masih dapat diproses lebih lanjut. Udang segar memiliki harga lebih rendah dibandingkan dengan produk udang lainnya. Hal ini karena udang segar merupakan bahan mentah (input) yang digunakan untuk menghasilkan produk udang lainnya. Adapun ciri-ciri udang segar yang diekspor yaitu udang dalam keadaan hidup, didinginkan dengan es, direndam dalam air garam, atau dimasak dengan dikukus atau direbus dalam air. Ekspor udang segar di Indonesia jauh lebih sedikit dan rumit dibandingkan dengan produk udang lainnya. Mengingat produk tersebut merupakan produk yang perishabel sehingga untuk pengiriman ke luar negeri dilakukan menggunakan pesawat atau melalui pembiusan yang membutuhkan biaya yang cukup besar.
Malaysia merupakan negara tujuan utama untuk udang segar Indonesia. Pesaing utama Indonesia di pasar Malaysia adalah Thailand. Adapun perkembangan volume dan nilai ekspor udang segar ditunjukkan pada Gambar 19 dan 20.
Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 19 Perkembangan volume ekspor udang segar Indonesia dan negara pesaing ke Malaysia, tahun 2014
Berdasarkan Gambar 19, terlihat bahwa volume ekspor udang segar Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan Thailand. Ekspor udang segar tertinggi Indonesia ke Malaysia tahun 2014 mencapai 209 ton pada bulan Desember. Sedangkan ekspor udang segar Thailand hanya mencapai 89 ton pada bulan September. Hal ini disebabkan karena harga ekspor udang segar Thailand lebih tinggi dibandingkan dengan harga udang segar Indonesia.
Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 20 Perkembangan nilai ekspor udang segar Indonesia dan negara pesaing ke Malaysia, tahun 2014
Berdasarkan Gambar 20, nilai ekspor udang segar Thailand lebih rendah dibandingkan dengan udang segar Indonesia. Bulan Oktober nilai ekspor udang segar Thailand lebih tinggi dibandingkan Indonesia yaitu sebesar US$ 564 ribu sedangkan Indonesia hanya US$ 497 ribu. Pangsa pasar udang segar Indonesia relatif lebih besar dibandingkan dengan Thailand yaitu sebesar 24.6 persen sedangkan Thailand hanya 11 persen. Hal ini karena adanya penyakit EMS pada udang di Thailand yang mengurangi ekspor Thailand ke berbagai negara.
Perdagangan Udang Beku
Udang beku sangat mendominasi ekspor di Indonesia. Udang beku bernilai jual tinggi dibandingkan dengan udang segar karena telah melalui proses pengolahan. Udang jenis ini ditempatkan pada ruang penyimpanan beku dengan suhu rendah -25° hingga -40°C. Pembersihan udang sangat diperlukan untuk menjaga kualitas udang beku agar tidak terkontaminasi mikroba pembusuk.
Negara tujuan utama ekspor udang beku adalah Amerika Serikat. Pesaing utama Indonesia di pasar udang Amerika Serikat yaitu Thailand, Vietnam, China, dan India. Adapun perbedaan volume dan nilai ekspor udang beku Indonesia dengan negara pesaing disajikan pada Gambar 21 dan Gambar 22.
Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 21 Perkembangan volume ekspor udang beku Indonesia dan negara pesaing ke Amerika Serikat, tahun 2014
Berdasarkan Gambar 21, diantara negara-negara pengekpor udang beku ke Amerika Serikat, India memiliki volume ekspor lebih tinggi disusul Indonesia di tempat kedua. Volume ekspor udang beku tertinggi India pada bulan Juli hingga Agustus yaitu sekitar 14 000 ton. Sedangkan China memiliki volume ekspor paling rendah yaitu bahkan hanya 74 ton pada bulan Februari.
Sumber: ITC 2015 (diolah)
Gambar 22 Perkembangan nilai ekspor udang beku Indonesia dan negara pesaing ke Amerika Serikat, tahun 2014
Berdasarkan Gambar 22, terlihat bahwa perkembangan ekspor diikuti pula dengan perkembangan nilai ekspor udang beku. India memiliki nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan negara pesaing lainnya di pasar udang beku Amerika Serikat. Meskipun demikian, ternyata harga ekspor udang di India lebih rendah dibandingkan dengan harga udang beku Vietnam. Harga udang beku Vietnam mencapai US$ 14.69 per kilogram sedangkan India hanya US$ 13.72 per kilogram pada bulan Oktober.
Kontrak Perdagangan Udang Indonesia
Dalam proses perdagangan antar negara yang dipisahkan oleh wilayah yang berbeda biasanya terkendala oleh biaya transaksi yang tinggi. Biaya transaksi yang tinggi akan beresiko terhadap harga produk yang diperdagangkan. Besarnya biaya transaksi yang harus dikeluarkan negara eksportir menyebabkan harga produk ekspor menjadi lebih tinggi akibatnya akan terjadi penurunan permintaan negara importir terhadap produk yang diekspor. Untuk menghindari hal tersebut, maka beberapa pelaku usaha menjalin kontrak dagang terhadap produk ekspor. Kontrak juga ditemukan dalam perdagangan udang antara Indonesia dengan negara importir. Eksportir udang memberikan penawaran ke perusahaan importir. Apabila disepakati seluruh kondisi yang ditawarkan oleh eksportir, maka kontrak dagang akan dibuat dengan lamanya kerja sama sesuai dengan waktu yang tertera di dalam kontrak.
Umumnya kontrak yang terjalin antara eksportir dan importir dalam bentuk perjanjian tertulis dimana harga udang yang berlaku bersifat fleksibel artinya harga yang ditetapkan merupakan hasil kesepakatan antara eksportir dan
negara importir. Contohnya pada PT Lola Mina, penetapan harga didasarkan pada standar minimal di atas harga pokok per unit produk ditambah dengan keuntungan yang diharapkan di atas 20 persen. Apabila pihak pembeli melakukan penawaran di atas harga minimal tersebut, maka PT Lola Mina akan bersedia melakukan transaksi jual beli (Sapanli 2007). Sedangkan pada PT MIKASE Makassar, penetapan harga jual udang putih mengikuti perkembangan