DAFTAR LAMPIRAN
2 TINJAUAN PUSTAKA Kerangka Teoritis
Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional tercermin dari kegiatan ekspor dan impor suatu negara. Perdagangan bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi setiap negara. Krugman dan Obstfeld (2003) mengungkapkan terdapat dua alasan utama tiap negara berkontribusi dalam mencari keuntungan dari proses perdagangan. Pertama, negara-negara melakukan perdagangan disebabkan
karena tiap negara berbeda satu sama lain. Pada dasarnya tidak semua kebutuhan suatu negara dapat dipenuhi di dalam negeri disebabkan karena setiap negara memiliki faktor produksi yang berbeda. Kedua, negara-negara melakukan perdagangan untuk mencapai skala ekonomi dalam produksi. Tidak ada negara yang mampu menghasilkan segala produk di negaranya sendiri melainkan memilih untuk memproduksi sejumlah produk yang berbeda (differensiasi).
Perbedaan antar negara menyebabkan perbedaan dalam hal permintaan pasar terhadap komoditi tertentu karena perbedaan kondisi dan karakteristik sosial ekonomi masing-masing negara. Hal tersebut juga terjadi pada kurva penawaran komoditi, dan juga akan berbeda antar negara karena adanya perbedaan faktor bawaan (factor endowment) baik kuantitas, kualitas maupun komposisi sumber dayanya (Oktariza 2000). Perbedaan sumber daya bawaan
(resource endowments) antar negara atau wilayah menyebabkan tiap negara memperoleh manfaat dari memproduksi suatu produk tertentu. Negara-negara yang mampu memproduksi komoditi memperoleh keuntungan dan melakukan perdagangan untuk memperoleh barang lain dalam memenuhi konsumsi masyarakat di negaranya (Koo dan Kennedy 2005).
Selain itu, faktor harga merupakan sinyal yang menarik bagi pelaku usaha dalam melakukan perdagangan internasional. Kegiatan perdagangan ditunjukkan dari mengalirnya suatu produk negara yang menawarkan harga jual rendah ke negara dengan harga jual yang tinggi. Dalam hal ini, Indonesia akan mengekspor udang ke negara importir apabila harga domestik negara Indonesia (kondisi autarki) relatif lebih rendah dibandingkan dengan harga domestik negara importir udang. Struktur harga yang terjadi di Indonesia lebih rendah karena produksi udang domestik melebihi konsumsi udang domestiknya, sehingga Indonesia memiliki kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Sedangkan di negara importir terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestiknya (excess demand), sehingga harga yang terjadi di negara importir lebih tinggi. Negara importir akan membeli udang dari negara lain yang menawarkan harga relatif rendah. Jika terjadi komunikasi antara Indonesia dan negara importir udang maka akan terjadi perdagangan diantara kedua negara dengan harga yang diterima keduanya adalah sama sebesar harga dunia (Tomek dan Robinson 1990).
Dalam perdagangan udang segar dan udang beku dunia apabila ditinjau dari pangsa ekspornya, Indonesia diasumsikan sebagai negara kecil (small country). Pada perdagangan udang segar Indonesia selama periode 2005-2014, rata-rata pangsa nilai hanya sebesar 2.01 persen dengan ekspor sekitar 3.75 persen. Sedangkan perdagangan udang beku, rata-rata pangsa nilai ekspor hanya sebesar 12.47 persen dengan ekspor sekitar 10.48 persen. Karena pangsa yang relatif kecil, maka Indonesia tidak dapat mempengaruhi pasar dunia (lihat Gambar 7).
Sumber: Koo dan Kennedy 2005
Gambar 7 Pengaruh dunia terhadap pasar udang domestik
Berdasarkan Gambar 7, harga udang dunia diasumsikan eksogen. Indonesia sebagai negara eksportir udang tidak dapat mempengaruhi pasar dunia artinya Indonesia berperan sebagai price taker. Pada kondisi autarki (sebelum terjadinya perdagangan) terjadi keseimbangan antara permintaan domestik dan penawaran domestik dengan harga pasar sebesar PE. Pada saat terjadinya perdagangan internasional, keseimbangan harga dunia sebesar Pw mempengaruhi jumlah udang yang diperdagangkan negara eksportir. Pada kondisi tersebut, permintaan udang domestik adalah sebesar QD sedangkan penawaran domestik sebesar QS sehingga jumlah udang yang diekspor ke pasar dunia sebesar X (QS- QD).
Integrasi Pasar dan Transmisi Harga
Integrasi pasar berkaitan erat dengan perdagangan internasional. Berdasarkan perdagangan internasional, produk akan mengalir dari negara yang harga jual komoditasnya rendah ke negara yang harga jual komoditasnya tinggi sehingga harga di pasar acuan (referensi) akan mempengaruhi harga di pasar pengikutnya. Suatu pasar dikatakan terintegrasi dengan pasar lain apabila informasi pasar ditransmisikan dengan cepat ke pasar lain sehingga antara pasar acuan dan pasar pengikut memiliki informasi yang sama. Informasi pasar berupa harga, volume, dan kualitas sangat diperlukan untuk mencapai alokasi yang optimal dalam sistem pemasaran yang efisien (Hanafiah dan Saefuddin 2010). Akan tetapi kenyataanya, harga mungkin saja tidak ditransmisikan dengan baik, hal ini menunjukkan inefisiensi dalam proses pemasaran.
Teori harga berperan penting dalam ekonomi neo klasik. Harga mendorong alokasi sumber daya dan pengambilan keputusan oleh pelaku ekonomi. Para ekonom neo-klasik mengungkapkan bahwa harga merupakan indikator utama yang dapat mencerminkan tingkat efisiensi suatu pasar. Transmisi harga dan tingkat integrasi dapat dijadikan indikasi efisiensi yang
terbentuk antar dua pasar yang saling berinteraksi, baik secara vertikal maupun spasial (Meyer dan von Cramon-Taubadel 2004).
Integrasi vertikal menunjukkan keterkaitan antar lembaga pemasaran dari petani hingga tingkat konsumen (Arifin et.al 2006). Integrasi ini akan menurunkan pengeluaran (expenses) dari pemasaran produk sehingga barang- barang dapat dipasarkan dengan harga yang lebih rendah maka akan menguntungkan konsumen (Hanafiah dan Saefuddin 2010). Integrasi dilakukan untuk mengatur laju dari produk yang dipasarkan sehingga dapat mengurangi biaya pemasaran. Integrasi pasar vertikal telah mengubah kedudukan formasi harga dan mengurangi jumlah simpul dari rantai pemasaran dimana harga tersebut dibentuk (Tomek dan Robinson 1990).
Integrasi pasar spasial erat kaitannya dengan perdagangan antar wilayah dimana harga di wilayah importir sama dengan harga di wilayah eksportir ditambah dengan biaya transportasi dan biaya transfer lainnya. Barrett (2005) mengungkapkan bahwa kebijakan makroekonomi umumnya menjadi tidak efektif tanpa transmisi pasar yang kuat antar wilayah yang disalurkan melalui pemerintah pusat. Pasar yang berfungsi dengan baik akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam melihat hubungan harga spasial menggunakan pendekatan biaya terkecil (least-cost) dan ketergantungan lokasi. Pendekatan biaya terkecil (least- cost), menunjukkan trade off antara biaya dari mengumpulkan input dan mendistribusikan output. Yang menjadi perhatian utama adalah biaya relatif input tanpa transfer, biaya transportasi pemindahan input ke lokasi tertentu, dan biaya pengiriman produk ke pasar. Kondisi keseimbangan spasial diasumsikan bahwa daerah geografi terbagi ke dalam beberapa wilayah dimana semua biaya transfer antar wilayah adalah nol. Persaingan antar wilayah dan perdagangan digolongkan melalui model persaingan sempurna dan batas wilayah diasumsikan tetap.
Pendekatan kedua menekankan ketergantungan lokasi. Suatu pasar dimana penjual dan pembeli tersebar secara spasial, biaya transfer mempengaruhi net
harga yang diterima atau yang dibayar. Pada pasar produk pertanian, ketika banyak pembeli yang terletak di sepanjang area geografi, petani biasanya membandingkan harga di beberapa lokasi terdekat karena biaya transportasi antar wilayah. Dan ketika banyak penjual di suatu wilayah, maka yang dipertimbangkan hanya rival terdekat yang menjadi pesaing utama, sehingga persaingan oligopoli (oligopsoni) menunjukkan ritel pasar produk pertanian dimana respon harga yang diharapkan dari pesaing juga menentukan kebijakan harga (Faminow dan Benson 1990).
Secara spasial, komoditi yang sama pada pasar yang berbeda akan memiliki harga yang sama apabila tidak ada biaya transaksi, sehingga berlaku
the law of one price (hukum satu harga) (Vinuya 2007; Asche et al 2011). Perubahan yang terjadi di sisi permintaan dan penawaran di salah satu pasar akan mempengaruhi perdagangan dan harga jual di pasar yang lain (Rapsomanikis, et al. 2003; Goodwin 2006). Suatu barang yang diperdagangkan memiliki harga yang berbeda dimana perilaku konsumen akan membeli barang pada pasar yang menawarkan harga yang lebih murah dan produsen akan menjual barang pada pasar yang menawarkan harga yang lebih mahal. Seiring dengan kenaikan permintaan menyebabkan kenaikan harga pada pasar
yang menawarkan harga lebih murah, sebaliknya kenaikan penawaran menyebabkan penurunan harga sehingga pada akhirnya harga antar pasar menjadi sama (Nicholson 2000).
Faminow dan Benson (1990) mengungkapkan kegagalan berlakunya Law of One Price (LOP) antar dua pasar atau lebih disebabkan karena: 1) masing- masing kawasan memiliki pasar yang autarki 2) adanya hambatan perdagangan,
asymetri information atau risk aversion, 3) terjadinya persaingan tidak sempurna pada satu pasar atau lebih. Kondisi pasar persaingan sempurna dijadikan sebagai titik acuan dalam menilai proses transmisi harga dan tingkat integrasi antar dua pasar (Serra dan Goodwin 2002; Conforti 2004). Maka pasar yang tidak terintegrasi berarti tidak memenuhi kondisi pasar persaingan sempurna sehingga mengindikasikan terjadinya pasar monopoli, monopsoni, oligopoli atau oligopsoni.
Tomek and Robinson (1990) menerangkan konsep integrasi pasar spasial menggunakan model keseimbangan spasial (Spatial Equilibrium Model). Model ini menggunakan kelebihan penawaran (excess supply) di daerah surplus dan kelebihan permintaan (excess demand) di daerah defisit yang akan membentuk keseimbangan dengan kelebihan penawaran di daerah surplus akan sama dengan kelebihan permintaan di daerah defisit. Model ini juga memungkinkan untuk mengestimasi net harga yang berlaku di masing-masing daerah dan kuantitas komoditi yang diperdagangkan dengan asumsi tidak ada biaya transportasi atau biaya-biaya perdagangan lainnya (Gambar 8).
Gambar 8 menjelaskan hubungan harga akibat perdagangan yang terjadi antara dua pasar dengan mengembangkan kurva excess supply dan excess demand. Kurva excess supply dan excess demand berpotongan pada harga PE jika tidak ada biaya transfer antara dua pasar, total udang yang dapat dijual sebanyak QE2 dari pasar A ke pasar B. Perubahan biaya transfer dapat diilustrasikan dengan garis volume perdagangan yang digambarkan oleh garis xy. Garis vertikal antara 0 sampai Pt menunjukkan besaran biaya transfer, semakin tinggi biaya transfer semakin kecil volume perdagangan dan perdagangan tidak akan terjadi jika biaya transfer sama atau melebihi Pt. Sedangkan garis horizontal antara 0 sampai QE2 menunjukkan besaran perdagangan. Perdagangan akan maksimum pada QE2 ketika biaya transfer sama dengan nol. Apabila biaya transfer sebesar t, maka total output yang akan ditransfer sebesar QE1 unit. Apabila diasumsikan harga di setiap pasar dapat ditentukan dan slope kurva demand dan supply diperkirakan sama maka efek dari biaya transfer sebesar t akan menurunkan harga dari PB menjadi PB1 pada pasar B dan menaikkan harga dari PA menjadi PA1 pada pasar A. Maka dapat diketahui bahwa perubahan harga di suatu pasar akibat perubahan kekuatan pasar, akan menyebabkan perubahan harga di pasar lain yang terlibat perdagangan dengan pasar tersebut. Hal ini menunjukkan integrasi pasar antar kedua negara yang melakukan perdagangan.
Sumber: Tomek dan Robinson 1990
Gambar 8 Model keseimbangan integrasi spasial dua pasar
Struktur pasar untuk komoditas pertanian umumnya dalam persaingan tidak sempurna (Conforti 2004). Dalam jangka pendek harga komoditas pertanian di daerah konsumen umumnya memiliki pola yang sama dengan dinamika harga di daerah produsen karena permintaan yang dihadapi petani di daerah produsen merupakan turunan dari permintaan di daerah konsumen. Dalam jangka panjang harga komoditas cenderung naik akibat naiknya permintaan konsumen. Namun laju kenaikan harga di tingkat konsumen dapat berbeda dengan laju kenaikan harga di tingkat petani, dan tergantung kepada perilaku pedagang dalam melakukan transmisi harga dari konsumen kepada petani (Simatupang 2002).
Pasar yang terintegrasi ditunjukkan dengan adanya transmisi harga yang sempurna (simetri) mencerminkan efisiensi pada suatu pasar. Hal ini ditunjukkan dengan pergerakan harga yang mengalami penyesuaian dimana peningkatan harga yang terjadi pada suatu pasar dapat menyebabkan pasar lain yang menjual produk yang sama akan merespon perubahan harga tersebut dengan mengikuti harga yang terjadi di pasar acuan, dengan kata lain kenaikan harga di pasar acuan relatif sama besar dengan harga di pasar lainnya (Vinuya 2007). Sedangkan transmisi harga yang tidak sempurna (asimetri) terjadi karena lambatnya informasi pasar mengenai naik turunnya harga diteruskan kepada petani (Miller dan Hayenga 2001 dalam Sahara dan Wicaksana 2013). Hal ini menyebabkan fluktuasi harga di pasar konsumen lebih tinggi dibanding di pasar produsen dan perbedaan fluktuasi harga tersebut akan semakin besar apabila transmisi harga yang terjadi semakin tidak sempurna (Irawan 2007).
Dalam konteks transmisi harga, Meyer dan von-Cramon Taubadel (2004) mengklasifikasikan asimetri ke dalam tiga kriteria meliputi:
1. Transmisi harga asimetri menurut kecepatan dan besaran
Transmisi harga asimetri menurut kecepatan waktu penyesuaian terjadi apabila guncangan (shock) harga di suatu pasar tidak dengan segera ditransmisikan oleh pasar lainnya artinya respon pasar terhadap perubahan harga relatif lambat. Sedangkan dari sisi besaran menunjukkan bahwa transmisi harga asimetri terjadi ketika guncangan harga di suatu pasar tidak ditransmisikan secara penuh oleh pasar lainnya. Kondisi demikian ditunjukkan pada Gambar 9.
(a) (b)
(c)
Sumber: Meyer dan von Cramon-Taubadel 2004
Gambar 9 Transmisi harga asimetri menurut kecepatan dan besaran Pada Gambar 9 diasumsikan Pin merupakan sumber guncangan (shock) berupa kenaikan atau penurunan harga. Area gelap dan terang pada gambar menunjukkan dampak hilangnya kesejahteraan akibat adanya transmisi harga asimetri. Gambar 9(a) menunjukkan transmisi harga asimetri menurut kecepatan waktu penyesuaian terhadap harga. Pada saat t1, harga di Pin mengalami kenaikan. Di waktu yang sama, Pout dengan cepat melakukan penyesuaian dengan merespon kenaikan harga. Sebaliknya saat terjadi penurunan harga di Pin, Pout dengan lambat merespon penurunan harga tersebut sehingga dalam penyesuaian terdapat lag selama berarti adanya guncangan negatif yang terjadi di Pin baru akan ditransmisikan di Pout pada waktu t1+n. Meyer dan von Cramon- Taubadel (2004) mengungkapkan bahwa transmisi harga asimetri dari sisi kecepatan akan menghilangkan kesejahteraan yang sifatnya temporer (sementara). Ukuran kesejahteraan yang hilang sementara sangat bergantung pada panjangnya interval waktu transmisi antara t1 dan t1+n, besarnya respon perubahan, dan volume transaksi yang dilakukan.
Gambar 9(b) menunjukkan transmisi harga asimetri menurut besaran. Terdapat perbedaan dari sisi besaran penyesuaian harga di Pout saat kenaikan dan penurunan harga di Pin. Saat terjadi kenaikan harga di Pin, Pout akan
mentransmisikan kenaikan tersebut secara sempurna, dimana kenaikan harga yang terjadi di Pout sama dengan kenaikan yang terjadi di Pin. Tetapi, saat terjadi penurunan harga di Pin, penurunan harga yang terjadi di Pout tidak terjadi dengan sempurna melainkan hanya setengah dari penurunan harga di Pin yang ditransmisikan oleh Pout. Menurut Meyer dan von-Cramon Taubadel (2004), transmisi harga asimetri dari sisi besaran menyebabkan hilangnya kesejahteraan secara permanen dan ukurannya hanya tergantung pada besarnya respon perubahan harga dan volume transaksi yang dilakukan.
Dari Gambar 9(c) dapat dilihat transmisi harga asimetri menurut kecepatan dan besaran. Pada waktu t1, kenaikan harga yang terjadi di Pin tidak ditransmisikan secara sempurna melainkan hanya setengahnya. Pada waktu t2, kenaikan harga baru dapat ditransmisikan secara sempurna. Sebaliknya saat terjadi penurunan harga di Pin pada waktu t1, penyesuaian dilakukan dalam waktu yang lama dibandingkan saat terjadi kenaikan harga yaitu pada waktu t3. Dilihat dari sisi besarannya, penurunan harga yang terjadi di Pout tidak sebesar penurunan harga yang terjadi di Pin. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi transmisi asimetri dari sisi kecepatan waktu dan besaran penyesuaian pada Pout saat terjadi guncangan negatif di Pin. Meyer dan von-Cramon Taubadel (2004) mengungkapkan bahwa transmisi asimetri dari sisi kecepatan dan besaran akan menyebabkan perubahan kesejahteraan yang bersifat sementara sekaligus permanen. Hilangnya kesejahteraan yang sifatnya sementara dalam jumlah besar dapat memberikan dampak yang lebih buruk dibandingkan dengan hilangnya kesejahteraan permanen dalam jumlah kecil yang terjadi saat ini.
2. Transmisi harga asimetri positif dan negatif
Peltzman (2000) dalam Meyer dan von-Cramon Taubadel (2004) membagi transmisi harga asimetri menjadi dua jenis yaitu transimisi asimetri positif dan transmisi asimetri negatif. Gambar 10(a) menunjukkan transmisi asimetri positif terjadi apabila kenaikan harga direspon lebih cepat dan/atau lebih sempurna dibandingkan dengan penurunan harga. Sedangkan Gambar 10(b) menunjukkan transmisi asimetri negatif terjadi saat penurunan harga direspon lebih cepat dan/atau lebih sempurna dibandingkan kenaikan harga.
(a) (b) Sumber: Meyer dan von Cramon-Taubadel, 2004
Gambar 10 Transmisi harga asimetri positif dan negatif 3. Transmisi harga asimetri vertikal dan spasial
Transmisi harga asimetri secara vertikal terjadi bila kenaikan harga di level petani ditransmisikan lebih cepat dan lebih sempurna pada harga di level konsumen, dibandingkan saat terjadi penurunan harga di level petani. Sedangkan transmisi harga asimetri secara spasial ditunjukkan melalui perbedaan respon
harga domestik terhadap harga internasional yaitu saat kenaikan harga internasional lebih cepat dan lebih sempurna ditransmisikan oleh harga domestik dibandingkan saat terjadi penurunan harga internasional.
Penyebab Asimetri Harga Market Power
Salah satu penyebab terjadinya asimetri harga adalah karena adanya
market power diantara para pelaku pasar (Serra dan Goodwin 2002). Asimetri harga yang disebabkan oleh market power dapat terjadi secara negatif maupun positif. Asimetri harga negatif terjadi apabila pelaku usaha berada pada struktur pasar oligopoli misalnya antara manufaktur dan pedagang perantara beranggapan bahwa kenaikan harga justru beresiko terhadap penurunan marginnya (Serra dan Goodwin 2002).
Bailey dan Brorsen (1989) mengungkapkan bahwa asimetri harga akan berjalan secara positif atau negatif tergantung dari reaksi dari pesaing. Asimetri harga negatif terjadi apabila suatu perusahaan percaya bahwa tidak ada satu pun pesaingnya yang akan merespon perubahan kenaikan harga, sebaliknya saat terjadi penurunan harga seluruh pesainganya akan dengan cepat merespon. Sedangkan apabila perusahaan percaya bahwa pesainganya akan lebih bereaksi terhadap kenaikan harga dibandingkan penurunan harga maka transmisi harga asimetri yang terjadi adalah positif. Asimetri harga dapat terjadi secara positif maupun negatif tergantung pada struktur dan perilaku pasar. Pada pasar monopoli, asimetri harga lebih akan mengarah pada bentuk positif daripada negatif.
Adjustment Cost
Meyer dan von Cramon-Taubadel (2004) mengemukakan bahwa meskipun pasar berada pada pasar persaingan sempurna, asimetri harga dapat terjadi. Hal ini disebabkan karena adanya biaya transaksi (adjustment cost) yang tinggi. Asimetri harga dapat terjadi antar level dalam satu rantai pemasaran yang disebabkan karena adanya sejumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha untuk menyesuaikan harganya. Biaya ini disebut dengan adjustment cost
yang timbul akibat pelaku usaha merubah kuantitas dan/atau harga dari input dan/atau output. Biaya tersebut meliputi biaya yang digunakan untuk perubahan label dan katalog harga, biaya periklanan, biaya akibat penyimpanan serta biaya transportasi. Biaya ini juga dijumpai pada negara-negara yang terlibat kontrak dimana selama kontrak berlangsung, pihak yang bermitra akan memantau perkembangan harga yang terjadi di pasar internasional untuk tiap periode tertentu sehingga membutuhkan waktu dalam penyesuaian harga.
Dalam teori neoclassical economic, tidak ada biaya terkait transaksi dalam proses pemasaran. Teori ini mengasumsikan bahwa kedua pihak yang bertransaksi (produsen dan konsumen) memiliki informasi yang akurat dan kesepakatan terhadap implikasi dari informasi yang diperoleh. Akan tetapi asumsi tersebut dianggap tidak realistis karena kenyataannya terdapat biaya untuk mencari informasi. Adanya kontrak antara pembeli dan penjual tidak sepenuhnya menjamin informasi yang akurat antara kedua belah pihak. Pihak penjual lebih banyak memiliki informasi terhadap barang yang dipasarkan, sebaliknya pembeli harus mencari informasi tambahan mengenai barang yang
akan dibelinya. Hal ini menunjukkan adanya informasi yang bersifat asimetri dimana salah satu pelaku usaha bertindak sebagai leader dan yang lain sebagai
follower (Hudson 2007).
Asimetri harga akibat market power dan adjustment costs memiliki perbedaan mendasar dari segi waktu. Adjustment costs yang sangat tinggi hanya terjadi pada jangka pendek sehingga sifatnya menunda transmisi harga dan dalam jangka panjang proses penyesuaian harga terjadi secara sempurna (Karantininis, Katrakilidis, dan Persson 2011). Sedangkan asimetri harga disebabkan oleh market power bertahan dalam waktu yang lama (jangka panjang) karena tidak hanya berpengaruh dari segi time of adjustment tetapi juga dari segi magnitude (Meyer dan von Cramon-Taubadel 2004).
Beberapa faktor lain yang diduga menjadi penyebab asimetri harga antara lain: (1) masing-masing perusahaan akan menyikapi secara berbeda dalam penyesuaian biaya tergantung apakah harga sedang naik atau sedang turun; (2) pelaku pemasaran menahan barangnya pada saat harga naik karena takut kehabisan stok; (3) adanya intervensi pemerintah (Vavra dan Goodwin 2005). Metode Analisis Integrasi Pasar dan Transmisi Harga
Dalam analisa transmisi harga asimetris berkembang beberapa teknik analisis antara lain teknik variabel dummy,teknik pemisahan variabel, model Houck, teknik pre-kointegrasi, dan error correction model (ECM). Teknik variabel dummy pertama kali diperkenalkan oleh Tweeten dan Quance (1969). Teknik ini digunakan untuk mengestimasi fungsi penawaran yang tidak dapat diubah. Variabel dummy digunakan untuk memisahkan harga bahan baku menjadi dua yakni variabel yang terdiri dari kenaikan harga input dan variabel yang hanya terdiri dari penurunan harga input. Hipotesis transmisi harga simetri ditolak jika kedua koefisien tersebut berbeda secara signifikan (Meyer dan von Cramon-Taubadel 2004).
Teknik pemisahan variabel menggunakan data harga turunan (first difference) diperkenalkan oleh Wolffram (1971) kemudian dimodifikasi oleh Houck (1979) dengan mengeluarkan nilai observasi awal, karena level observasi yang pertama dinilai tidak memiliki kekuatan penjelasan bebas. Selanjutnya model Houck dikembangkan Ward (1982) dengan menambahkan lag pada variabel eksogen. Boyd dan Brorsen (1988) pertama kali menggunakan lag
untuk memisahkan transmisi berdasarkan waktu dan besaran penyesuaian. Metode tersebut kemudian diklsifikasikan sebagai teknik pre-kointegrasi, perubahan atas kenaikan harga (bertanda positif) sedang perubahan atas penurunan harga (bertanda negatif) (Meyer dan von Cramon-Taubadel 2004).
Konsep error correction model (ECM) digunakan untuk menganalisis transmisi harga asimetri diperkenalkan Von Cramon-Taubadel dan Fahlbusch (1994) dengan melihat signifikansi penyimpangan (error) dari model keseimbangan jangka panjangnya. Pada konsep kointegrasi, apabila terdapat pergerakan harga yang menyimpang, maka akan dimasukan sebagai bentuk
error correction (error correction term/ECT) (Vavra dan Goodwin 2005). Teknik prekointegrasi untuk analisa transmisi harga asimetri dapat menghasilkan regresi yang spurious karena menggunakan series data yang tidak stasioner.
Pada metode ECM, ECT dipisahkan antara bentuk positif dengan bentuk