BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.6 Penerapan HIRARC pada Pekerjaan Mass Concrete
3.6.2 Hasil Penilaian Risiko Bahaya Pekerjaan Mass Concrete
Setelah semua bahaya dapat identifikasi selanjutnya dari tiap bahaya itu ditentukan tingkat risikonya untuk menimbulkan suatu kecelakaan atau kerugian.
Penilaian risiko mempertimbangkan dua faktor yaitu peluang dan akibat. Penentuan nilai risiko ini dilakukan tim penyusun HIRARC proyek WIKA Tower dalam suatu rapat yang membahas hasil temuan di lapangan dan nilai risiko yang ditentukan harus mempertimbangkan tindakan pengendalian yang sudah ada sebelumnya.
Hasil penilaian risiko dievaluasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau standar dan norma yang berlaku untuk menentukan apakah risiko tersbut dapat diterima ataupun ditolak. Jika risiko dinilai tidak dapat diterima harus dikelola atau ditangani dengan baik.
Berdasarkan data yang didapatkan berupa observasi, wawancara dengan informan dan data dokumen didapatkan hasil penilaian risiko adalah hasil dari tabel akibat (R) dikalikan dengan tabel peluang (L)
77 Tabel Peluang
Peluang (L)
A = Hampir pasti akan terjadi / almost certain B = Cenderung untuk terjadi / likely
C = Mungkin dapat terjadi
D = Kecil kemungkinan terjadi / unlikely E = Jarang terjadi / rare
Tingkat Peluang adalah dimana suatu kegiatan dilakukan seberapa sering terpapar bahaya yang pada proses pekerjaan mass concrete. Tingkatan ini dimulai dari nilai E yang menyatakan bahaya dari suatu proses pekerjaan jarang terjadi/ rare hingga nilai A yang menyatakan bahaya hampir pasti akan terjadi / almost certain pada aktivitas tersebut.
Tabel Akibat Akibat
(R)
1 = Tidak ada cedera, kerugian materi kecil
2 = Cedera ringan / first aid, kerugian materi sedang 3 = Hilang hari kerja, kerugian cukup besar
4 = Cacat, kerugian materi besar
5 = Kematian, kerugian materi sangat besar
Tingkat Akibat adalah tingkatan yang menggambarkan kondisi seberapa parahnya risiko akibat pada suatu kegiatan proses pekerjaan mass concrete. Jika suatu pekerjaan yang berbhaya rendah tidak menimbulkan cidera dan kerugian materinya kecil maka score yang akan diberikan 1. Namun jika menimbulkan kerugian maka score yang diberikan akan meningkat hingga level tertinggi yakni 5.
78 Tabel 3.6 Risk Matriks
Peluang
Akibat
1 2 3 4 5
A H H E E E
B M H H E E
C L M H E E
D L L M H E
E L L M H H
Tingkat Risiko ( R x L ) E = Extreme Risk
H = High Risk M = Moderate Risk L = Low Risk
Untuk memberikan makna terhadap suatu bahaya perlu dilakukan penilaian risiko sehingga seseorang mengetahui besarnya risiko yang dapat terjadi. Untuk itu setelah risko atau bahaya diidentifikasi dilakukan penilai risiko untuk mengetahui seberapa besar risiko tersebut.
Dari tabel diatas, selanjutnya dikembangkan tabel risk matriks yang mengkombinasikan antara peluang dan akibatnya. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk membuat risk matriks dengan ketentuan nilai peluang mulai dari skor A-E dan nilai akibat mulai dari skor 1-5. Ditemukan satu sama lain sehingga mendapatkan angka yang menjadi prioritas risiko mulai dari low risk hingga Extreme risk. Ketentuan dari hasil risk matriks diatas, adalah sebagai berikut :
a. Risiko yang dapat ditoleransi adalah Low Risk (L) b. Tindakan mendesak adalah > Moderate Risk (M)
79
Penilaian risiko PT Wijaya Karya sudah sesuai dengan prosedur SHE Plan WIKA-PEM-PM-03.03 revisi 02 (Amd. 04), dan dalam penentuan skor dipertimbangkan dari tim penyusun HIRARC yang terdiri dari berbagai ahli.
Namun karena teridentifikasi 3 jenis proses pekerjnan, maka harus dianalisis dan ditambahkan lagi pada kolom penilaian risiko.
3.6.3 Tindakan Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko merupakan langkah penting dalam HIRARC
1. Apabila berdasarkan penilaian risiko yang didapat ternyata masih dapat diterima “acceptable risk”, maka hanya perlu dilakukan monitoring terhadap kondisi/tindakan pengendalian yang telah ada.
2. Bila suatu risiko tidak dapat diterima maka harus diputuskan tindakan pengendalian yang efektif. Usulan tindakan pegendalian ini dicantumkan dalam laporan QC & SHE dengan tembusan kepada
80 Pelaksana Utama/ Manajer Konstruksi/ Penanggung jawab fungsi terkait.
3. Bila Pelaksana Utama / Manajer Konstuksi / Kepala sesi terkait dapat melaksanakan tindakan tersebut maka usulan watu penyelesaiannya disampaikan kepeda penanggung jawab fungsi SHE
4. Bila usulan tindakan tersebut tidak dapat ditangani fungsi terkait penanggung jawab fungsi SHE kemudian menyampaikan laporan kepada Manajer Proyek untuk mendapatkan persetujuan. Bila disetujui maka akan ditentukan waktu dan Penanggung Jawab tindakan pengendalian tersebut. Bila karena suatu hal tindakan tersebut tidak dapat dilaksanakan maka pihak SHE akan mencari penyelesaian alternatif lainnya.
Fungsi yang menangani SHE bertanggung jawab dalam memantau tindakan perbaikan agar dilaksanakan sesuai jadwal yang ada. Apabila sampai batas waktu yang ditentukan tindakan belum dilakukan atau selesai maka akan ditentukan waktu penyelesaian yang baru. Setelah suatu tindakan perbaikan selesai dilakukan maka penanggung jawab fungsi SHE tetap melakukan monitoring untuk menilai apakah tindakan perbaikan pengendalian yang ada sudah efektif. Jika ternyata belum maka perlu ditentukan bentuk tindakan pengendalian baru.
81 Terdapat beberapa ketentuan dalam mengendalikan risiko yang dilakukan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, karena pada prinsipnya semua risiko harus dikendalikan; pengendalian risiko dapat dilakukan dengan menghilangkan, mengurangi, mengendalikan, atau memindahkan.
Berikut adalah pengendalian risiko yang dilakukan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk :
82 Tabel 3.7 HIRARC Pengendalian Risiko
83
84
Selain itu, Pengendalian risiko pada pekerjaan pemancangan juga menjadi temuan minor pada audit SMK3 dari Sucofindo pada tanggal 13 Februari 2015 dan belum ditindak lanjuti. Berdasarkan hasil wawancara dengan SHE senior di Proyek WIKA Towerdiketahui bahwa keikutsertaan pekerja dalam menerapkan pengendalian risiko masih kurang. Hal ini merupakan salah satu pemicu angka kecelakaan proyek yang terus meningkat
Sumber : Dokumen Hasil Audit SMK3 Sucofindo
Gambar 3.12 Hasil Audit HIRARC Pada kolom Pengendalian Risiko juga tidak adanya tanda bahwa usaha pengendalian risiko tersebut merupakan hirarki pengendalian yang mana, apakah eliminasi, substitusi, rekayasa engineering, pengendalian administrasi atau alat pelindung diri. Rekomendasi Kolom Pengendalian Risiko dengan menggunakan kode sesuai dengan hirarki pengendalian, yaitu :
85
Lembar Observasi Pengendalian Bahaya
No Jenis Pengendalian Bahaya Ada Tidak
1 Eliminasi √
2 Subtitusi √
3 Engineering Control √
4 Administrative control √
5 Alat Pelindung Diri √
Dalam pengendalian risiko terdapat 5 cara secara hirarki mulai dari eliminasi, subtitusi, engineering control, administrative control, dan alat pelindung diri (APD).
Namun dalam hasil observasi hanya tiga pengendalian yang dapat dipakai dalam pekerjaan mass concrete, yaitu engineering control, administrative control, dan APD.
86
Tabel 3.8 Rekomendasi Kolom Pengendalian Risiko
Pengendalian Risiko El: Eliminasi
Sb : Subtitusi
Re : Rekayasa Engineering Adm : Pengendalian Administrasi APD : Alat Pelindung Diri
Contoh pada aktivitas bekisting : El: tidak dapat dihilangkan Sb: tidak dapat digantikan
Re: Pengaitan besi kolom dengan pengait TC dengan benar, maintenance sling TC
Adm: Instruksi kerja, Koordinasi antar operator TC dan pekerja, Inspeksi harian, pelatihan operator TC
APD: safety helmet, safety shoes, rompi, safety harness, sarung tangan
3.7 Identifikasi Akar Masalah Penerapan Metode HIRARC
Pada penerapan metode HIRARC peneliti memakai salah satu dari root cause analysis tools yang paling populer di kalangan praktisi industri
untuk melakukan quality improvement pada usaha mengenali akar penyebab terjadinya variasi pada quality characteristics tertentu yang ingin dicapai, yaitu diagram tulang ikan/ fishbone diagram (Yuniarto dkk, 2012).
Fishbone diagram adalah suatu alat analisa yang digunakan untuk
mengidentifikasi potensi akar - akar masalah sehingga didapatkan suatu hubungan sebab akibat untuk mencari akar dari suatu pokok permasalahan ditinjau dari berbagai faktor yang ada. analisa ini dinamakan fishbone diagram/ diagram tulang ikan, karena bentuknya seperti tulang ikan.
87
Diagram ini merupakan sebuah diagram yang menggambarkan hubungan sebab-akibat, yang diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli pengendalian kualitas dari Jepang, karenanya diagram ini disebut juga diagram Ishikawa (Bose, 2012). Diagram tulang ikan ini melihat beberapa factor yang ada, yaitu :
1. Man power 2. Material 3. Machine
4. Methode 5. Management
Fishbone diagram yang digunakan untuk mendapatkan akar masalah dari penerapan metode HIRARC melihat dari segala sebab – sebab yang mungkin terjadi.
Dari hasil analisis situasi penerapan prosedur penilaian risiko didapatkan beberapa ketidaksesuaian seperti dokumen yang tidak lengkap, pekerja yang kurang informasi yang mengakibatkan dampak buruk lainnya. Berikut merupakan gambaran akar masalah dari ketidaksesuaian penerapan metode HIRARC di Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
88
Bagan 3.3 Fish bone diagram
Berdasarkan diagram tulang ikan diketahui analisis akar masalah dari ketidaksesuaian penerapan metode HIRARC dalam prosedur SHE Plan pada Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. antara lain:
a. Kurang kesadaran pekerja untuk terkait dalam kegiatan b. Komitmen mematuhi prosedur rendah
c. Komunikasi dalam organisasi yang kurang
d. Lalai dalam menindaklanjuti hasil temuan audit HIRARC
89
3.8 Rekomendasi Perbaikan Penerapan Metode HIRARC
Setelah melakukan analisis penyebab masalah terhadap masalah yang terjadi dengan menggunakan fishbone diagram, maka diketahui akar penyebab dari masalah. Sehingga dari akar tersebut dapat dibuat rekomendasi guna menyelesaikan masalah tersebut. Adapun rekomendasi yang dapat diberikan : a. Membuat alur proses kerja secara tertulis dengan jelas, sehingga pekerja
benar-benar memahami proses kerja penilaian risiko dengan metode HIRARC. Rekomendasi ini diberikan agar pekerja dapat melakukan penilaian risiko sesuai dengan prosedur HIRARC.
b. Melakukan perbaikan sistem komunikasi perusahaan. Sistem komunikasi disosialisasikan kepada seluruh pekerja dan dipantau pelaksanaannya sehingga penerapan penilaian risiko dengan metode HIRARC dapat berjalan dengan semestinya. Seperti dalam OHSAS 18001 : 2007 yang menyatakan setiap kebijakan K3 yang ditetapkan oleh manajemen harus dipahami dan dimengerti oleh seluruh anggota perusahaan dan pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan.Untuk itu, penerapan metode HIRARC dalam prosedur SHE Plan harus dikomunikasikan sehingga diketahui, dimengerti, dihayati dan dijalani oleh semua pihak terkait.
90
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan melalui telaah dokumen, observasi dan wawancara terkait penerapan prosedur penilaian risiko di Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. maka dapat diketahui bahwa:
1. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang memiliki bidang bisnis jasa konstruksi, EPC dan Realty dengan menerapkan program SHE.
2. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. memiliki prosedur penilaian risiko dengan menggunakan metode HIRARC dengan nomor dokumen WIKA-PEM-PM-03.03 revisi 02 (Amd. 04) Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. menyebutkan bahwa tujuan prosedur penilaian risiko adalah untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risiko serta melakukan upaya pengendalian risiko agar tidak membahayakan bagi pekerja, dan mengganggu jalannya proses produksi dan bisnis serta menetapkan sarana dan program terkait SHE
3. Ketidaksesuaian penerapan prosedur penilaian risiko disebabkan oleh beberapa akar masalah antara lain, kurang kesadaran pekerja untuk terkait dalam kegiatan, komitmen mematuhi prosedur rendah dan komunikasi dalam organisasi yang kurang dan lalai dalam menindaklanjuti hasil audit SMK3.
91
4.2 Saran
1. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebaiknya melakukan pemantauan terhadap komunikasi hasil penilaian risiko. Hasil penilaian risiko dikomunikasikan atau disosialisasikan kepada seluruh pekerja dan dipantau pelaksanaannya sehingga penerapan penilaian risiko pada Proyek WIKA Tower dapat berjalan dengan semestinya.
2. Biro QSHE sebaiknya menindaklanjuti audit HIRARC dan mereview kembali prosedur SHE Plan, terutama mengenai perundangan, peraturan atau standar yang berlaku sebagai landasan dalam menerapkan metode HIRARC dalam prosedur SHE Plan agar lebih baik lagi.
3. Pengawasan dari foreman dilakukan dengan rutin dan berskala karena ditemukan pekerja yang melanggar keselamatan kerja seperti membuang material dan menyimpan alat tidak pada tempatnya.
4. Meningkatkan safety performance dalam perusahaan untuk mengurangi unsafe behavior yang terjadi pada pekerja di rasa lebih baik di bandingkan dengan fokus terhadap angka kecelakaan. Karena kecelakaan merupakan hasil akhir dari rentetan unsafe behavior dan perusahaan hanya memperhatikan safety ketika kecelakaan meningkat, sebaliknya behavioral safety lebih proaktif yang cenderung mengidentifikasi setiap unsafe behavior yang muncul sehingga bisa langsung di tanggulangi.
5. Pemberian isi Undang-Undang keselamatan kerja dengan jelas agar pekerja mempunyai pilar hukum dengan kuat dan dapat mematuhi peraturan yang berlaku.
92
6. Untuk meminimalisir risiko pada masing-masing tahapan proses kerja perlu dilakukan upaya pengendalian lebih lanjut/ monitoring, yaitu dengan cara:
Penyediaan air minum agar terhindar dari dehidrasi karena suhu lingkungan kerja cukup tinggi dan adanya safety sign atau rambu-rambu peringatan yang dapat dipasangkan pada di area kerja
93
DAFTAR PUSTAKA
AS/NZS 4360 2004. Risk Management. Sidney: Council of Standards Australia and Council of Standards New Zealand.
Azevedo, R. C. d., Ensslin, L. & Jungles, A. E. 2014. A review of Risk Management in
Construction: Opportunities for Improvement. Modern Economy, 5, 367-383.
Banaitiene, N. & Banaitis, A. 2013. Risk Management in Construction Projects.
INTECH.
BPJS Ketenagakerjaan 2013. Laporan Tahunan Sustainability Annual Report 2013.
Brown, A. S. 2014. Chapter 6 - Risk Management. In: Taktak, A., Ganney, P., Long, D.
& White, P. (eds.) Clinical Engineering. Oxford: Academic Press.
HB, 2004. Handbook Risk Management Guidelines Companion to AS/NZS 4360:2004.
Standards Australia
International Organization for Standardization (ISO). 2009. “ISO 13000:2009—Risk Management: Principles and Guidelines.” Geneva. Diakses dari
http://www.iso.org/iso/home/standards/iso31000.htm
JAMSOSTEK. 2010. Kecelakaan Kerja terbanyak di Sektor Konstruksi diakses dari http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=828.
Kuswadi, E. M. 2004. Delapan Langkah dan tujuh alat Statistik untuk Peningkatan Mutu Berbasis Komputer, Jakarta, Elex Media komputindo.
Labombang, M. 2011. Manajemen Risiko Dalam Proyek Konstruksi. Jurnal SMARTek,9.
Lardner, M. F. a. R. 2010. Behaviour Modification Programmes Establishing Best Practice. In: 1BQ, N. N. (ed.) Offshore Technology Report.
OHSAS 18001 2007. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja – Persyaratan. British Standard Institution.
94
OSH Administration, 2002, Job Hazard Analysis OSHA 3071 US: Departement of Labor http://www.osha.gov/publications/osha3071 diakses tanggal 23 Februari 2008
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2014 Tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pinto, A., Nunes, I. L. & Ribeiro, R. A. 2011. Occupational risk assessment in construction industry – Overview and reflection. Safety Science, 49, 616-624 PT Wijaya Karya 2013. Laporan Tahunan 2012 Annual Report.
PT Wijaya Karya 2013. Laporan Tahunan 2014 Annual Report.
Ramli, S. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001,
Jakarta, Dian Rakyat.
Rijanto, B. 2012. Pencegahan Kecelakaan di Industri, Jakarta, Mitra Wacana Media.
Socrates, Muhammad Fil. 2013. Analisis Risiko Keelamatan Kerja dengan Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) pada Alat Suspension Preheater Bagian Produksi di Plant 6 dan 11 Field Citeureup PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tahun 2013
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Timmreck, T. C. 2004. Epidemiologi: suatu Pengantar, Jakarta, EGC.
Yuniarto, Hari Agung dkk. 2012. Perbaikan Pada Fishbone Diagram Sebagai Root Cause Analysis Tool. Jurnal Teknik Industri, ISSN: 1411-6340. hal. 217-224