BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.8 Rekomendasi Perbaikan Penerapan Metode HIRARC
Setelah melakukan analisis penyebab masalah terhadap masalah yang terjadi dengan menggunakan fishbone diagram, maka diketahui akar penyebab dari masalah. Sehingga dari akar tersebut dapat dibuat rekomendasi guna menyelesaikan masalah tersebut. Adapun rekomendasi yang dapat diberikan : a. Membuat alur proses kerja secara tertulis dengan jelas, sehingga pekerja
benar-benar memahami proses kerja penilaian risiko dengan metode HIRARC. Rekomendasi ini diberikan agar pekerja dapat melakukan penilaian risiko sesuai dengan prosedur HIRARC.
b. Melakukan perbaikan sistem komunikasi perusahaan. Sistem komunikasi disosialisasikan kepada seluruh pekerja dan dipantau pelaksanaannya sehingga penerapan penilaian risiko dengan metode HIRARC dapat berjalan dengan semestinya. Seperti dalam OHSAS 18001 : 2007 yang menyatakan setiap kebijakan K3 yang ditetapkan oleh manajemen harus dipahami dan dimengerti oleh seluruh anggota perusahaan dan pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan.Untuk itu, penerapan metode HIRARC dalam prosedur SHE Plan harus dikomunikasikan sehingga diketahui, dimengerti, dihayati dan dijalani oleh semua pihak terkait.
90
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan melalui telaah dokumen, observasi dan wawancara terkait penerapan prosedur penilaian risiko di Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. maka dapat diketahui bahwa:
1. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang memiliki bidang bisnis jasa konstruksi, EPC dan Realty dengan menerapkan program SHE.
2. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. memiliki prosedur penilaian risiko dengan menggunakan metode HIRARC dengan nomor dokumen WIKA-PEM-PM-03.03 revisi 02 (Amd. 04) Proyek WIKA Tower PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. menyebutkan bahwa tujuan prosedur penilaian risiko adalah untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risiko serta melakukan upaya pengendalian risiko agar tidak membahayakan bagi pekerja, dan mengganggu jalannya proses produksi dan bisnis serta menetapkan sarana dan program terkait SHE
3. Ketidaksesuaian penerapan prosedur penilaian risiko disebabkan oleh beberapa akar masalah antara lain, kurang kesadaran pekerja untuk terkait dalam kegiatan, komitmen mematuhi prosedur rendah dan komunikasi dalam organisasi yang kurang dan lalai dalam menindaklanjuti hasil audit SMK3.
91
4.2 Saran
1. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebaiknya melakukan pemantauan terhadap komunikasi hasil penilaian risiko. Hasil penilaian risiko dikomunikasikan atau disosialisasikan kepada seluruh pekerja dan dipantau pelaksanaannya sehingga penerapan penilaian risiko pada Proyek WIKA Tower dapat berjalan dengan semestinya.
2. Biro QSHE sebaiknya menindaklanjuti audit HIRARC dan mereview kembali prosedur SHE Plan, terutama mengenai perundangan, peraturan atau standar yang berlaku sebagai landasan dalam menerapkan metode HIRARC dalam prosedur SHE Plan agar lebih baik lagi.
3. Pengawasan dari foreman dilakukan dengan rutin dan berskala karena ditemukan pekerja yang melanggar keselamatan kerja seperti membuang material dan menyimpan alat tidak pada tempatnya.
4. Meningkatkan safety performance dalam perusahaan untuk mengurangi unsafe behavior yang terjadi pada pekerja di rasa lebih baik di bandingkan dengan fokus terhadap angka kecelakaan. Karena kecelakaan merupakan hasil akhir dari rentetan unsafe behavior dan perusahaan hanya memperhatikan safety ketika kecelakaan meningkat, sebaliknya behavioral safety lebih proaktif yang cenderung mengidentifikasi setiap unsafe behavior yang muncul sehingga bisa langsung di tanggulangi.
5. Pemberian isi Undang-Undang keselamatan kerja dengan jelas agar pekerja mempunyai pilar hukum dengan kuat dan dapat mematuhi peraturan yang berlaku.
92
6. Untuk meminimalisir risiko pada masing-masing tahapan proses kerja perlu dilakukan upaya pengendalian lebih lanjut/ monitoring, yaitu dengan cara:
Penyediaan air minum agar terhindar dari dehidrasi karena suhu lingkungan kerja cukup tinggi dan adanya safety sign atau rambu-rambu peringatan yang dapat dipasangkan pada di area kerja
93
DAFTAR PUSTAKA
AS/NZS 4360 2004. Risk Management. Sidney: Council of Standards Australia and Council of Standards New Zealand.
Azevedo, R. C. d., Ensslin, L. & Jungles, A. E. 2014. A review of Risk Management in
Construction: Opportunities for Improvement. Modern Economy, 5, 367-383.
Banaitiene, N. & Banaitis, A. 2013. Risk Management in Construction Projects.
INTECH.
BPJS Ketenagakerjaan 2013. Laporan Tahunan Sustainability Annual Report 2013.
Brown, A. S. 2014. Chapter 6 - Risk Management. In: Taktak, A., Ganney, P., Long, D.
& White, P. (eds.) Clinical Engineering. Oxford: Academic Press.
HB, 2004. Handbook Risk Management Guidelines Companion to AS/NZS 4360:2004.
Standards Australia
International Organization for Standardization (ISO). 2009. “ISO 13000:2009—Risk Management: Principles and Guidelines.” Geneva. Diakses dari
http://www.iso.org/iso/home/standards/iso31000.htm
JAMSOSTEK. 2010. Kecelakaan Kerja terbanyak di Sektor Konstruksi diakses dari http://www.jamsostek.co.id/content/news.php?id=828.
Kuswadi, E. M. 2004. Delapan Langkah dan tujuh alat Statistik untuk Peningkatan Mutu Berbasis Komputer, Jakarta, Elex Media komputindo.
Labombang, M. 2011. Manajemen Risiko Dalam Proyek Konstruksi. Jurnal SMARTek,9.
Lardner, M. F. a. R. 2010. Behaviour Modification Programmes Establishing Best Practice. In: 1BQ, N. N. (ed.) Offshore Technology Report.
OHSAS 18001 2007. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja – Persyaratan. British Standard Institution.
94
OSH Administration, 2002, Job Hazard Analysis OSHA 3071 US: Departement of Labor http://www.osha.gov/publications/osha3071 diakses tanggal 23 Februari 2008
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2014 Tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pinto, A., Nunes, I. L. & Ribeiro, R. A. 2011. Occupational risk assessment in construction industry – Overview and reflection. Safety Science, 49, 616-624 PT Wijaya Karya 2013. Laporan Tahunan 2012 Annual Report.
PT Wijaya Karya 2013. Laporan Tahunan 2014 Annual Report.
Ramli, S. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001,
Jakarta, Dian Rakyat.
Rijanto, B. 2012. Pencegahan Kecelakaan di Industri, Jakarta, Mitra Wacana Media.
Socrates, Muhammad Fil. 2013. Analisis Risiko Keelamatan Kerja dengan Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) pada Alat Suspension Preheater Bagian Produksi di Plant 6 dan 11 Field Citeureup PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tahun 2013
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Timmreck, T. C. 2004. Epidemiologi: suatu Pengantar, Jakarta, EGC.
Yuniarto, Hari Agung dkk. 2012. Perbaikan Pada Fishbone Diagram Sebagai Root Cause Analysis Tool. Jurnal Teknik Industri, ISSN: 1411-6340. hal. 217-224