Institut Pertanian Bogor
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan 1 Sejarah Perusahaan
Pada awalnya, bank ini bernama PT Bank CIC Internasional Tbk (Bank CIC) yang pertama kali didirikan pada Mei 1989 dan Mulai beroperasi sebagai Bank Umum pada tahun 1990, kemudian meningkatkan statusnya sebagai Bank Devisa pada tahun 1993. Bank secara resmi menjadi Bank Publik pada 25 Juni 1997 pada saat melakukan Penawaran Umum atau Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Dalam rangka memperkuat struktur permodalan, selanjutnya Bank telah melakukan Penawaran Umum Terbatas atau
Rights Issue I, II, III, IV dan V pada Maret 1999, Juli 2000, Maret 2003, Juni 2003 dan Juni 2007.
Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 22 Oktober 2004, Bank memperoleh persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan penggabungan usaha (merger), melalui peleburan PT Bank Danpac Tbk (Bank Danpac) dan PT Bank Pikko Tbk (Bank Pikko) untuk bergabung ke dalam Bank CIC, serta berubah nama menjadi PT Bank Century Tbk. Penggabungan usaha ini telah mendapat persetujuan Bank Indonesia melalui Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/87/KEP.GBI/2004 tanggal 6 Desember 2004, yang kemudian Akta Perubahan Anggaran Dasar Bank memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri No C-30117 HP.01.04. TH.2004 tanggal 14 Desember 2004. Selanjutnya Bank Indonesia juga telah memberikan persetujuan perubahan penggunaan izin usaha dari PT Bank CIC Internasional Tbk (Bank CIC) menjadi PT Bank Century Tbk (CenturyBank) melalui Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 6/92/KEP.GBI/2004 tanggal 28 Desember 2004.
Pada tanggal 21 November 2008, terjadi pengambilalihan perseroan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berdasarkan keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) No. 04/KSSK.03/2008, sebagai salah satu langkah penyelamatan kesehatan ekonomi nasional dan juga Bank Mutiara, Tbk oleh pemerintah, karena Bank Century pada saat itu ditetapkan sebagai bank berstatus gagal oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) .
Rebranding pada tanggal 3 Oktober 2009 dengan sebelumnya ditetapkan SK Gubernur BI melalui surat No. 11/47/KEP.GBI/2009 tertanggal 16 September 2009 merupakan awal manajemen dalam mengembangkan kembali Mutiara Bank. Pengembangan tersebut antara lain pencanangan filosofi SPIRIT, perubahan visi-misi, perubahan corporate culture, pencanangan business plan dan strategi baru Bank Mutiara. Filosofi SPIRIT adalah Service Excellent, professionalism, Integrity, Relationship, Innovative dan Trust, merupakan usaha Bank Mutiara dalam metamorfosa menjadikan SPIRIT sebagai corporate culture dengan tujuan fokus pada peningkatan layanan untuk nasabah.
Sepanjang tahun 2009, manajemen telah mengimplementasikan tiga (3) fase rencana bisnis yaitu fase survival, fase built the foundation
danfase focusing business melalui 5 (lima) transformasi, yaitu perubahan citra, peningkatan kondisi keuangan, pengembangan bisnis, penajaman Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko, serta penyempurnaan organisasi dan infrastruktur pendukung.
Pada 2010, kinerjaBank Mutiara kembali meraih beberapa pencapaian. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pada awal Januari 2010 sebesar Rp 5,95 triliun, mengalami pertumbuhan nyata, yakni pada posisi September 2010 menjadi Rp 7,750 triliun atau tumbuh 30,25%. Lebih dari itu, Bank Mutiara saat ini telah berhasil menjadi bank dengan “Peringkat Bagus” dalam Kategori Bank dengan kegiatan usaha terfokus pada segmen usaha tertentu dari InfoBank.
Pencapaian Bank Mutiara yang terkini adalah penempatan kantor karu Bank Mutiara di Gedung Barckley, Sudirman, kav 22-23 (Barckley’s House) Jakarta Selatan pada tanggal 22 November 2010. Selain itu, untuk terus memenuhi kebutuhan nasabah, Bank Mutiara juga meluncurkan Layanan Priority Banking. Layanan ini akan memberikan fasilitas khusus untuk para nasabah sebagai personal assistant.
4.1.2 Strategi Transformasi Bank Mutiara
Perubahan nama Bank Century menjadi Bank Mutiara merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi (perubahan menyeluruh) yang dilakukan setelah pengambilalihan oleh pemerintah. Lima (5) Strategi Transformasi Bank Mutiara adalah :
a. Pengembangan Bisnis
b. Perbaikan image Perusahaan c. Perbaikan Kondisi Keuangan
d. Penyempurnaan Organisasi dan infrastruktur Pendukung e. Penajaman GCG dan Manajemen Risiko
Berbagai strategi dan program telah disiapkan oleh manajemen baru yang profesional dan terpercaya untu menjadikan Bank Mutiara sebagai Bank Fokus Terbaik Pilihan Masyarakat dan menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia, aman dan terpercaya, memiliki layanan istimewa, menghasilkan produk-produk bermutu, investasi yang berharga dengan performa terpercaya, bersih dan kuat layaknya sebuah mutiara. Fokus bisnis yang dilakukan Bank mutiara adalah :
a. Consumer
1) Menjadi bank pilihan dalam layanan pembiayaan segmen konsumtif dengan penawaran produk menarik dan kompetitif. 2) Sebagai mitra utama pilihan pembiayaan kredit konsumtif oleh
perusahaan keuangan Indonesia b. Retail Funding
1) Menjadi bank pilihan dalam memenuhi layanan kebutuhan transaksi untuk “mass affluent”
2) Menjadi bank penyedia jasa layanan prima, khususnya pada kelompok nasabah utama bank.
c. Treasury & Corporate Funding
1) Menjadi bank penyedia kebutuhan produk treasury utama dan lengkap yang mendukung pengembangan bisnis nasabah utama bank.
2) Menjadi salah satu bank penyedia layanan transaksi bagi institusi pemerintah dan korporasi.
d. Small & Medium Enterprise (SME)
1) Menjadi bank utama di segmen SME dengan fokus pada wilayah di mana cabang berada dan pusat bisnis.
2) Menjadi transaction bank untuk nasabah segmen SME dengan menyediakan beragam produk dan layanan.
4.1.3 Visi dan Misi
Visi “Menjadi Bank Fokus Terbaik Pilihan Masyarakat” adalah sebuah tujuan untuk memperjelas arah pencapaian Bank Mutiara, yaitu fokus usaha pada segmen retail tanpa mengabaikan segmen lainnya dan mampu memberikan standar pelayanan bermutu. Dengan visi ini, Bank Mutiara berusaha menjadi bank yang dipilih oleh mayarakat, karena dapat menjadi tempat berinvestasi yang aman dan terpercaya bagi nasabah dan investor.
Visi Bank Mutiara :
a. Bank Fokus : Bank yang kegiatan usahanya fokus pada segmen retail tanpa mengabaikan segmen lainnya.
b. Terbaik : Bank yang mampu memberikan standar pelayanan bermutu. Bank juga mampu memberikan jasa perbankan yang menguntungkan.
c. Pilihan Masyarakat : Bank yang dipilih oleh masyarakat karena dapat menjadi tempat menyimpan dana yang aman dan terpercaya bagi nasabah. Menjadi pilihan tempat kerja terbaik.
rUntuk mewujudkan visi tersebut, Mutiara Bank menjalankan misi “Memberikan yang Terbaik dengan Mengutamakan Pelayanan,
Kenyamanan dan Kepuasan Nasabah untuk Hasil Maksimal”. Dengan berbagai langkah untuk memberikan layanan perbankan yang melebihi pesaing dikelasnya dan menyediakan jasa pelayanan perbankan berbasis teknologi. Semua misi ini diimplementasikan lewat senyuman ramah dan hangat tiap karyawan Mutiara Bank dalam memberikan pelayanan cepat dan akurat, sehingga memberikan kesan tersendiri bagi nasabah, memberikan perasaan aman dalam bertransaksi dan menguntungkan bagi semua pihak.
Misi Bank Mutiara :
a. Memberikan yang Terbaik : Mampu melampaui layanan perbankan yang melebihi pesaing di kelasnya. Mampu menyediakan jasa pelayanan perbankan berbasis teknologi.
b. Dengan Mengutamakan Pelayanan : Mampu memberikan pelayanan ramah, cepat dan akurat.
c. Kenyamanan : Mampu memberikan fasilitas pendukung yang mengesankan bagi nasabah. Mampu memberikan perasaan aman dalam bertransaksi.
d. Kepuasan Nasabah : Mampu memberikan pelayanan yang lebih dari yang diharapkan oleh nasabah.
e. Hasil Optimal : Memberikan keuntungan bagi semua pihak.
4.2. Perkembangan dan Proyeksi Trend CAR
Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio Kecukupan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) adalah salah satu rasio keuangan bank yang digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR dapat diketahui melalui perbandingan antara modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Sesuai dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/20/Kep/DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/2/BPPP masing-masing tanggal 29 Mei 2003, maka bank diwajibkan untuk menyediakan modal minimum CAR (8%). Berdasarkan pada matriks kriteria penetapan peringkat faktor permodalan
pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 diperoleh standar untuk KPMM seperti disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Penetapan peringkat KPMM
Peringkat I Rasio KPMM lebih tinggi sangat nyata dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan. Peringkat II Rasio KPMM lebih tinggi cukup nyata dibandingkan
dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan.
Peringkat III Rasio KPMM lebih tinggi secara marjinal dibandingkan dengan rasio KPMM yang ditetapkan dalam ketentuan (8% < KPMM < 9%).
Peringkat IV Rasio KPMM di bawah ketentuan berlaku
Peringkat V Rasio KPMM dibawah ketentuan berlaku dan Bank cenderung menjadi tidak solvable
Sumber : Bank Indonesia, 2004
Semakin tinggi rasio CAR, semakin baik permodalan yang dimiliki oleh bank, sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Berikut ini perkembangan dan proyeksi trend CAR Bank Mutiara, seperti dimuat pada Gambar 2.
Tahun C A R ( % ) 2011 2010 2009 2008 2007 2006 20 10 0 -10 -20 -30 -40 Accuracy Measures MAPE 38,419 MAD 6,006 MSD 131,561 Variable Forecasts Actual Fits Trend Analysis Plot for CAR ( % )
Linear Trend Model Yt = 10,9248 - 0,143370* t
Gambar 2. Grafik perkembangan dan proyeksi trend CAR
Berdasarkan grafik perkembangan CAR di atas, pada tahun 2006 sampai triwulan III tahun 2008, CAR Bank Mutiara berada di atas 8%. Namun, penurunan secara drastis terjadi pada triwulan IV tahun 2008 menjadi
-39,62%. Hal itu disebabkan oleh modal bank yang menyentuh angka negatif, yaitu -Rp1.450 milyar, sebagai akibat dari penarikan dana secara besar- besaran oleh para nasabah.
Sebagai bagian dari upaya penyelamatan dan restrukturisasi bank, pemerintah melalui LPS memberikan dana talangan (bailout) kepada Bank Mutiara. Perhitungan perkiraan biaya penanganan sebesar jumlah kekurangan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang ditetapkan oleh LPP dan dapat ditambah dengan junlah tertentu yang dipandang perlu oleh LPS. Sampai dengan 31 Des 2008, LPS telah melakukan penambahan modal Rp4.977 milyar. Hal tersebut berdampak pada CAR Bank Mutiara untuk periode selanjutnya. Pada triwulan I tahun 2009, CAR Bank Mutiara meningkat -8,13%. Namun, angka tersebut masih di bawah nilai minimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Modal Bank Mutiara pada saat itu minus Rp305,90 milyar.
Berangsur-angsur CAR Bank Mutiara mengalami perbaikan. Hal ini karena suntikan modal untuk ketiga kalinya dari LPS Rp1,55 triliyun. Sampai dengan triwulan III tahun 2011, CAR Bank Mutiara berada di atas 8%. Hal ini mengindikasikan bahwa Bank Mutiara mampu menutupi penurunan aktiva yang terjadi sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva berisiko. Proyeksi trend CAR Bank Mutiara untuk tiga (3) periode ke depan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Proyeksi trend CAR
Periode CAR (%)
2011 (triwulan IV) 7,48391
2012 (triwulan I) 7,34054
2012 (triwulan II) 7,19717
Kecenderungan pada proyeksi trend CAR pada tiga (3) periode ke depan adalah menurun, yaitu berada di bawah ketentuan yang berlaku (8%). Oleh karena itu, bank perlu menjaga modal dan mengawasi Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) agar nilai CAR tetap berada di atas 8%.
4.3. Perkembangan dan Proyeksi Trend NPL
NPL adalah rasio jumlah kredit pada tingkat kolektibilitas tiga (3) sampai dengan lima (5) terhadap total kredit yang diberikan oleh bank. Sesuai
dengan ketetapan yang dibuat oleh Bank Indonesia, kredit bermasalah (NPL) dihitung dengan menggunakan NPL Gross, atau NPL yang belum mempertimbangkan Perhitungan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP). Berdasarkan pada matriks kriteria penetapan peringkat faktor permodalan pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 diperoleh standar untuk NPL seperti disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Penetapan peringkat NPL
Peringkat I Perkembangan rasio sangat rendah. Peringkat II Perkembangan rasio rendah.
Peringkat III Perkembangan rasio moderat atau rasio berkisar antara 5% sampai dengan 8%.
Peringkat IV Perkembangan rasio cukup tinggi. Peringkat V Perkembangan rasio tinggi.
Sumber : Bank Indonesia, 2004
NPL merupakan indikator mutu aset suatu bank. Semakin tinggi rasionya akan menyebabkan semakin tinggi kredit macet yang dimiliki bank. Perkembangan dan proyeksi trend NPL Bank Mutiara dimuat pada Gambar 3.
Tahun N P L ( % ) 2011 2010 2009 2008 2007 2006 50 40 30 20 10 0 Accuracy Measures MAPE 150,353 MAD 9,838 MSD 124,938 Variable Forecasts Actual Fits Trend Analysis Plot for NPL ( % )
Quadratic Trend Model
Yt = -9,93280 + 4,43272* t - 0,135446* t* * 2
Gambar 3. Grafik perkembangan dan proyeksi trend NPL
Berdasarkan grafik perkembangan NPL, hanya sedikit nilai NPL yang berada di bawah 5%, yaitu triwulan III dan IV tahun 2007 dan triwulan I, II dan III tahun 2008. Sisanya nilai NPL berada di atas 5%. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa jumlah kredit bermasalah pada Bank Mutiara terbilang tinggi.
Nilai NPL terendah adalah 2,87% yang terjadi pada triwulan III tahun 2008. Namun, NPL langsung melonjak tinggi pada triwulan IV tahun 2008 menjadi 35,17%. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah kredit bermasalah dari 150 milyar menjadi Rp 1.674 milyar. Nilai NPL tertinggi adalah 42,96% yang terjadi pada triwulan II tahun 2009, dengan jumlah kredit bermasalah pada saat itu mencapai Rp 1.873 milyar dan jumlah kredit yang diberikan Rp 4.362 milyar.
Tingginya jumlah kredit bermasalah pada Bank Mutiara disebabkan oleh pihak bank yang cenderung menetapkan bunga pinjaman di atas bunga yang berlaku di pasar karena jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) dari deposito di Bank Mutiara lebih tinggi dibanding tabungan. Ini berarti suku bunga yang harus dibayar bank kepada nasabah menjadi tinggi. Hal itu membuat penetapan suku bunga kredit yang tinggi. Padahal, kreditor belum tentu sanggup untuk membayar pokok ditambah bunganya yang tinggi. Dengan demikian, jumlah default (gagal bayar) yang terjadi meningkat. Hal ini menjadikan NPL Bank Mutiara berada di atas level normal NPL perbankan pada umumnya. Proyeksi trend NPL Bank Mutiara untuk tiga (3) periode ke depan disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Proyeksi trend NPL
Periode NPL (%)
2011 (triwulan IV) 18,4358
2012 (triwulan I) 16,2317
2012 (triwulan II) 13,7567
Kecenderungan pada proyeksi trend NPL pada tiga (3) periode ke depan adalah menurun. Meskipun NPL memiliki kecenderungan menurun, nilai proyeksi trend NPL masih berada di atas 5%, maka bank tetap harus mengawasi aktivitas penyaluran kredit kepada kreditur untuk menurunkan nilai NPL.
4.4. Perkembangan dan Proyeksi Trend NIM
Rasio NIM digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga
bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Berdasarkan pada matriks kriteria penetapan peringkat faktor permodalan pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 diperoleh standar untuk NIM seperti disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Penetapan peringkat NIM
Peringkat I Marjin bunga bersih sangat tinggi. Peringkat II Marjin bunga bersih tinggi.
Peringkat III Marjin bunga bersih cukup tinggi atau rasio NIM berkisar antara 1,5% sampai dengan 2%.
Peringkat IV Marjin bunga bersih rendah mengarah negatif. Peringkat V Marjin bunga bersih sangat rendah atau negatif.
Sumber : Bank Indonesia, 2004
Semakin besar rasio NIM, maka akan meningkatkan pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank, sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Grafik perkembangan dan proyeksi
trend NIM Bank Mutiara yang dimuat pada Gambar 4.
Tahun N IM ( % ) 2011 2010 2009 2008 2007 2006 5 4 3 2 1 0 -1 Accuracy Measures MAPE 78,1163 MAD 0,8803 MSD 1,2820 Variable Forecasts Actual Fits Trend Analysis Plot for NI M ( % )
Linear Trend Model Yt = 3,45198 - 0,122846* t
Gambar 4. Grafik perkembangan dan proyeksi trend NIM
Nilai NIM Bank Mutiara pada tahun 2006 sampai triwulan III tahun 2008 berada di atas 1,5%. Artinya NIM Bank Mutiara pada periode tersebut, berada di atas standar cukup tinggi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Namun, memasuki triwulan IV tahun 2008, NIM mengalami penurunan
drastis dari 3,93% menjadi -0,85%. Hal ini disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih -134,24%, karena jumlah beban bunga lebih besar dari pendapatan bunga, sehingga pendapatan bunga bersih menjadi negatif, dan berdampak pada negatifnya NIM pada periode tersebut.
Pada periode selanjutnya, NIM Bank Mutiara fluktuatif dan belum menyentuh titik 1,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa Bank Mutiara belum mampu mengelola aktiva produktifnya dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dengan baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Proyeksi trend
NIM Bank Mutiara untuk tiga (3) periode ke depan disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Proyeksi trend NIM
Periode NIM (%)
2011 (triwulan IV) 0,503676
2012 (triwulan I) 0,380830
2012 (triwulan II) 0,257984
Kecenderungan pada proyeksi trend NIM pada tiga (3) periode ke depan adalah menurun. Pada 2011 (triwulan IV), NIM berada di atas standar minimal yang ditetapkan BI (0,5%). Namun, NIM menurun pada dua (2) periode selanjutnya menjadi di bawah 0,5%. Oleh karena itu, bank harus mengantisipasi penurunan tersebut dengan meningkatkan pendapatan bunga bersih dan mengawasi nilai rata-rata aktiva produktif.
4.5. Perkembangan dan Proyeksi Trend BOPO
Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), atau rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Berdasarkan pada matriks kriteria penetapan peringkat faktor permodalan pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 diperoleh standar untuk BOPO seperti disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Penetapan peringkat BOPO Peringkat I Tingkat efisiensi sangat baik. Peringkat II Tingkat efisiensi baik.
Peringkat III Tingkat efisiensi cukup baik atau rasio BOPO berkisar antara 94% sampai dengan 96%. Peringkat IV Tingkat efisiensi buruk.
Peringkat V Tingkat efisiensi sangat buruk.
Sumber : Bank Indonesia, 2004
Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan, sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Berikut ini perkembangan dan proyeksi trend BOPO Bank Mutiara yang dimuat pada Gambar 5.
Tahun B O P O ( % ) 2011 2010 2009 2008 2007 2006 1200 1000 800 600 400 200 0 Accuracy Measures MAPE 15,9 MAD 59,0 MSD 55388,6 Variable Forecasts Actual Fits Trend Analysis Plot for BOPO ( % )
Grow th Curve Model Yt = 105,446 * (0,994770* * t)
Gambar 5. Grafik perkembangan dan proyeksi trend BOPO
Berdasarkan grafik di atas nilai BOPO terlihat stabil. Namun, pada triwulan IV tahun 2008 nilai BOPO melonjak tajam dari 91,85% menjadi 1226,28%. Pada triwulan IV tahun 2008, pendapatan operasi menurun drastis dibanding triwulan sebelumnya -86,75%. Hal itu terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih hingga menyentuh angka negatif, ditambah dengan beban operasional meningkat tajam 1924,90%.
Setelah LPS menyuntikkan dana ke Bank Mutiara sebagai upaya penyelamatan, pendapatan operasi Bank Mutiara meningkat dan beban
operasi menurun drastis, sehingga BOPO Bank Mutiara mengalami perbaikan. BOPO pada triwulan I tahun 2009 menurun tajam menjadi 67,97%. Pada periode selanjutnya BOPO Bank Mutiara mulai stabil kembali, yaitu berada di bawah angka maksimum (96%), sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Proyeksi trend BOPO Bank Mutiara untuk tiga (3) periode ke depan disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Proyeksi trend BOPO
Periode BOPO (%)
2011 (triwulan IV) 92,9764
2012 (triwulan I) 92,4901
2012 (triwulan II) 92,0064
Kecenderungan pada proyeksi trend BOPO pada tiga (3) periode ke depan adalah menurun. Hal ini menunjukkan tingkat efisiensi semakin baik, karena BOPO berada di bawah standar maksimum BOPO (94%). Oleh karena itu, bank perlu melakukan pengawasan pada pengeluaran biaya operasional agar nilai BOPO berada di bawah standar maksimum sesuai ketetapan BI.
4.6. Perkembangan dan Proyeksi Trend ROA
ROA merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak yang berhasil diperoleh perusahaan terhadap total aset yang dimiliki. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atas aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dan juga untuk melihat bagaimana efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Berdasarkan pada matriks kriteria penetapan peringkat faktor permodalan pada Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 diperoleh standar untuk ROA seperti disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Penetapan peringkat ROA
Peringkat I Perolehan laba sangat tinggi. Peringkat II Perolehan laba tinggi.
Peringkat III Perolehan laba cukup tinggi, atau rasio ROA berkisar antara 0,5% sampai dengan 1,25%.
Peringkat IV Perolehan laba Bank rendah atau cenderung mengalami kerugian (ROA mengarah negatif).
Peringkat V Bank mengalami kerugian yang besar (ROA negatif).
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut. Berikut ini perkembangan dan proyeksi trend
ROA Bank Mutiara yang dimuat pada Gambar 6.
Tahun R O A ( % ) 2011 2010 2009 2008 2007 2006 0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 Curv e Parameters I ntercept 0,05979 Asy mptote 1,67838 Asy m. Rate 0,64231 Accuracy Measures MAPE 64,546 MAD 3,238 MSD 126,195 Variable Forecasts Actual Fits Trend Analysis Plot for ROA ( % )
S-Curve Trend Model
Yt = (10* * 2) / (59,5813 + 1612,97* (0,642308* * t))
Gambar 6. Grafik perkembangan dan proyeksi trend ROA
Berdasarkan grafik di atas, nilai ROA tahun 2006 sampai triwulan III 2008 relatif stabil. Namun, penurunan drastis terjadi pada triwulan IV 2008. Penurunan tersebut terutama sangat dipengaruhi oleh penarikan dana masyarakat dalam jumlah besar pada akhir 2008 sebagai ekses dari pemberitaan negatif permasalahan yang dialami oleh bank, termasuk penetapan Bank Century sebagai bank berstatus gagal.
Pada tahun selanjutnya, kinerja keuangan Bank Mutiara mengalami perbaikan. Hal itu merupakan akibat dari upaya pertolongan dari pemerintah berupa pengucuran dana dari LPS secara berangsur, maka ROA bank Mutiara mengalami peningkatan dari triwulan I sampai IV tahun 2009. Peningkatan ini menunjukkan perbaikan manajemen yang dilakukan oleh Bank Mutiara, sehingga Bank Mutiara dapat mengembalikan citra positif kepada masyarakat atas rebranding (pergantian nama) dari Bank Century menjadi Bank Mutiara pada 3 Oktober 2009, sehingga labanya menunjukkan peningkatan dibanding tahun 2008. Proyeksi trend ROA Bank Mutiara untuk tiga (3) periode ke depan disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Proyeksi trend ROA
Periode ROA (%)
2011 (triwulan IV) 1,67666
2012 (triwulan I) 1,67728
2012 (triwulan II) 1,67767
Kecenderungan pada proyeksi trend ROA pada tiga (3) periode ke depan adalah meningkat. ROA berada di atas standar yang ditetapkan BI (1,25%). Oleh karena itu, untuk meningkatkan laba sesuai dengan proyeksi
trend, peningkatan ROA tersebut harus tetap dijaga dengan mengawasi nilai pada rata-rata total aktiva yang diimbangi terhadap perolehan laba sebelum pajak Bank Mutiara.
4.7. Perkembangan dan Proyeksi Trend LDR
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. Rasio ini merupakan perbandingan antara kredit yang diberikan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK). Kredit yang diberikan tidak termasuk kredit kepada bank lain, sedangkan dana pihak ketiga meliputi giro, tabungan, simpanan berjangka dan sertifikat deposito. LDR digunakan untuk menilai kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Berdasarkan pada matriks