Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi komponen utama, maka terlihat bahwa nilai koefisien untuk masing-masing peubah yang memiliki pengaruh paling besar dan nyata terhadap ROA Bank Mutiara adalah CAR dengan nilai koefisien transformasi regresi 0,4756 dan NIM dengan nilai koefisien transformasi regresi 0,1484. Hal lainnya, terdapat peubah-peubah yang tidak memiliki pengaruh nyata terhadap ROA, namun peubah-peubah tersebut tetap harus diperhatikan oleh pihak Bank Mutiara. Peubah-peubah tersebut meliputi NPL dengan koefisien 0,4756, LDR dengan koefisien 0,0387 dan BOPO dengan koefisien -0,0262.
Hasil penelitian ini menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan, baik oleh pihak manajemen perusahaan (emiten) dalam pengelolaan perusahaan, dan oleh para investor dalam menentukan strategi investasinya agar usaha tersebut mendatangkan keuntungan. Implikasi manajerial dari hasil penelitian ini untuk masing-masing peubahnya adalah sebagai berikut :
1. CAR memiliki pengaruh paling nyata terhadap ROA. Besarnya koefisien rasio CAR adalah 0,4756. Nilai koefisien ini menujukkan bahwa CAR memiliki pengaruh besar bagi ROA. Hal ini berarti tingkat kecukupan modal suatu bank merupakan faktor penting yang harus
dipenuhi. Bagi pihak emiten, merujuk pada penelitian ini, diharapkan selalu menjaga tingkat kecukupan modalnya, sehingga pada akhirnya dengan tercukupinya tingkat kecukupan modal, maka kinerja keuangan bank akan meningkat dan berdampak pada profitabilitas yang meningkat. Salah satu caranya dengan meningkatkan modal perusahaan, yaitu meningkatkan penawaran saham ke publik dan mengundang investor strategik dan mitra strategik baru, baik lokal maupun asing untuk berinvestasi. Selain itu, emiten juga harus berhati- hati dalam melakukan pengelolaan bank, agar tidak terjebak dalam pengambilan risiko tinggi (high risk) yang dapat membahayakan keadaan bank, seperti investasi di sektor yang tidak dikuasai oleh bank, pembelian surat berharga yang mempunyai rating rendah dan menyalurkan kredit kepada pihak-pihak terkait, sehingga risiko batas maksimum pemberian kredit (legal lending limit) menjadi lebih tinggi dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kemudian, bagi investor, rasio CAR dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menetukan strategi investasinya. Karena semakin besar CAR suatu bank, maka semakin tinggi ROA, yang berarti semakin tinggi kinerja keuangan bank tersebut.
2. Peubah berikutnya yang memiliki pengaruh nyata terhadap ROA adalah NIM dengan koefisien 0,1484. Hal ini berarti NIM memiliki pengaruh positif terhadap ROA. Bagi pihak emiten, NIM menunjukkan berapa besar bunga bersih yang diperoleh bank tersebut, dimana bunga merupakan hasil dari kegiatan utama bank, yaitu sebagai pihak penyalur dana kepada pihak yang membutuhkan. Oleh karena itu, emiten harus memperhatikan penentuan suku bunga simpanan, baik giro, deposito dan tabungan yang mana bank harus selalu mengikuti dengan cermat, seperti tingkat inflasi, suku bunga luar negeri dan juga suku bunga bank pesaing, serta perkembangan ekonomi baik di dalam maupun luar negeri. Jika pihak emiten dapat menjaga agar rasio NIM berada pada posisi yang tinggi, laba yang diperoleh akan tinggi. Dengan tingginya laba yang diperoleh, maka kinerja keuangan Bank Mutiara akan
meningkat. Bagi pihak investor, rasio NIM dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk menentukan strategi investasi. Semakin tinggi rasio NIM, maka semakin tinggi pula kemampuan bank tersebut memperoleh pendapatan bunga bersih, sehingga banyak investor yang tertarik berinvestasi ke bank tersebut.
3. Terdapat juga peubah yang tidak memiliki pengaruh nyata terhadap ROA Bank Mutiara. Salah satunya NPL dengan koefisien 0,4756. Semakin tinggi NPL, maka semakin tinggi jumlah kredit bermasalah yang dialami oleh suatu bank. Bagi pihak emiten, perlu menjaga agar persentase NPL tidak membesar, atau maksimal sesuai ketentuan BI (5%). Jika lebih dari yang ditetapkan, akan meningkatkan biaya untuk menutupi jumlah kredit macet. Pihak emiten dapat melakukan usaha untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kredit macet dengan cara, emiten harus lebih giat dalam menghimpun dana tabungan masyarakat, karena kebanyakan beban bunga yang harus dibayar oleh emiten adalah bunga untuk deposito yang biayanya relatif tinggi. Hal itu membuat penetapan bunga kredit tinggi, sehingga berimplikasi pada banyaknya kredit macet. Selain itu, setiap pelepasan kredit/pinjaman, bank wajib memenuhi prosedur kredit yang telah ditetapkan, seperti pinjaman harus ditutupi dengan agunan yang memadai dan memenuhi syarat legalitas, serta marketable. Calon debitur harus dikenal oleh bank dan memiliki reputasi baik. Selain itu, sesuai penilaian bank, usaha yang dibiayai adalah usaha prospektif dan profitable, serta bank mengadakan
monitoring terhadap pinjaman yang diberikan, sehingga dapat dihindari
site streaming, atau penyalahgunaan kredit. Bank juga harus mempunyai sistem penyelamatan kredit yang memadai, sehingga apabila terjadi kredit bermasalah dapat segera diatasi. Bagi pihak investor, hendaknya melihat jejak rekaman NPL suatu bank. Jika, NPL bank tinggi, maka jumlah kredit macet pada bank tersebut juga tinggi. 4. Dari hasil penelitian menunjukkan LDR tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap ROA dan mempunyai koefisien 0,0387, namun pihak emiten tetap harus menjaga nilai dari LDR, karena LDR merupakan
salah satu indikator kesehatan bank yang ditetapkan oleh BI. Emiten harus memperhatikan penyaluran kredit dari dana pihak ketiga kepada kreditur. Artinya, jumlah kredit yang disalurkan harus disesuaikan dengan jumlah dana pihak ketiga sesuai dengan standar BI. Hal ini untuk menjaga tingkat likuiditas emiten jika sewaktu-waktu terdapat penarikan dana dari nasabah. Bagi pihak investor, LDR dapat dijadikan acuan untuk menentukan strategi investasinya. Semakin likuid suatu bank, maka dapat disimpulkan penyaluran kredit yang dilakukannya berjalan dengan baik, maka investor akan tertarik untuk berinvestasi di bank tersebut, karena yakin investasi yang ditanamkan akan selalu menghasilkan keuntungan bagi dirinya.
5. Peubah BOPO juga tidak memiliki pengaruh nyata terhadap ROA Bank Mutiara. Bagi pihak emiten, pergerakan BOPO haruslah menjadi perhatian agar perusahaannya selalu berada pada tingkat efisiensi baik, agar sesuai dengan peraturan BI. Emiten harus dapat memperkecil besarnya BOPO, sehingga biaya operasional yang dikeluarkan bank bersangkutan akan semakin efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan validasi atas setiap biaya yang akan dikeluarkan, apakah memang perlu dikeluarkan, atau tidak, seperti penentuan besarnya biaya promosi dan menghindari denda yang dikenakan oleh institusi pemerintah (BI/Pajak) sebagai akibat dari ketidakpatuhan terhadap pemenuhan ketentuan yang telah ditetapkan. Di sektor pendapatan operasi, bank wajib meningkatkan fee based income seoptimal mungkin, seperti pengenaan tarif atas biaya transaksi yang menggunakan jasa bank (fee transfer, provisi kredit, komisi Bank Garansi, fee transaksi valuta asing dan biaya bank lainnya). Sedangkan, Bagi investor, BOPO dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi investasinya.
Bank Mutiara harus senantiasa memperhatikan tingkat kesehatan bank dengan menjaga nilai rasio CAR, NPL, NIM, BOPO dan LDR berada di bawah standar yang ditetapkan BI (minimal peringkat III) untuk meningkatkan laba yang diwakili oleh ROA. Dengan laba yang tinggi, bank
akan mampu untuk melakukan ekspansi dan memberikan kepercayaan kepada investor yang akan menanamkan modalnya di bank.