Sejarah Terbentuknya Kabupaten Bangka
Selama lebih dari seratus tahun, Bangka dikepalai oleh residen secara administratif dan taktis operasional berada dibawah Pemerintahan Pusat di Batavia (Jakarta). Demikian juga dengan Belitung yang pada mulanya merupakan suatu asisten residen, berdiri sendiri langsung di bawah Pemerintah Pusat. Atas dasar ordonansi tanggal 2 Desember 1933 (Stbl.No.565), terhitung dari tanggal 11 Maret
1933 terbentuklah “Residentie Bangka en Ouderhoregheden” yang menetapkan
Biliton (Belitung) menjadi salah satu “onderafdeling” dikepalai oleh seorang “controleur” dengan pangkat asisten residen dari Karesidenan Bangka, berikut pulau-pulau lain sekitarnya. Pulau Bangka sendiri terbagi dalam lima
onderafdeling, yang masing-masing dikepalai oleh seorang controleur. Lima
onderafdeling kemudian menjadi Kawedanan Residen Bangka yang terakhir menjelang perang dunia kedua adalah P. Brouwer. Ketika kekuasaan kolonial Belanda atas kepulauan Indonesia direbut oleh Nippon pada tahun 1942, semasa berkobarnya perang Asia Timur Raya, Karesidenan Bangka-Belitung diperintah
oleh Pemerintah Militer yang dinamakan “Bangka Biliton Gunseibu”. Pemerintah
administratif menurut sistem pemerintahan Belanda diteruskan, dengan mengganti nama/istilah saja, yaitu dengan istilah-istilah Jepang dan atau Indonesia. Sehingga
Residence menjadi “chokan” dan controleurmenjadi “sidokan”. Namun disamping
petugas-petugas Jepang diangkat pembantu-pembantu bangsa Indonesia seperti
“gunco” dan “fuku gunco”. Pada waktu Dai Nippon sudah terdesak didalam peperangan melawan Sekutu, barulah di Bangka dibentuk semacam DPRD, yang dinamakan Bangka Syu Sangikai, yang diketuai oleh Masyarif Datuk Bendaharo Lelo.
Setelah Jepang ditaklukkan oleh sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 kemudian diikuti dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, atas inisiatif tokoh-tokoh Sumatera Selatan dibentuklah Pemerintahan Otonomi Sumatera Selatan dibawah pimpinan Gubernur Militer. Pulau Bangka termasuk didalamnya, dimana pimpinan pemerintahan dipegang oleh Masyarif Datuk Bendaharo Lelo, bekas ketua Bangka Syu Sangikai, dengan gelar Residen yang dibantu oleh seorang asisten residen dan seorang kontrolir yang diperbantukan. Letnan Gouveneur General Nederlandsch Indie mempergunakan kekuasaannya menjadi daerah otonom dengan membentuk Dewan Bangka Sementara (Voorlopige Bangka Raad) dengan surat keputusan tanggal 10 Desember 1946 nomor 8 (Stbl.1946.Nomor 38). Dewan Bangka Sementara ini merupakan Lembaga Pemerintah tertinggi dalam bidang otonomi, dibuka dengan resmi pada tanggal 10 Februari 1947, diangkat sebagai ketua yaitu Masyarif Datuk Bendaharo Lelo, sedangkan anggota-anggotanya terdiri dari 16 orang. Sepuluh
bulan kemudian “Dewan Bangka Sementara” ini ditetapkan menjadi “Dewan Bangka” yang tidak bersifat sementara lagi, dengan surat keputusan Lt. GG. Ned.
Indie tanggal 12 Juli 1947 Nomor 7 (Stbl. 1947 Nomor 123) yang dilantik pada tanggal 11 Nopember 1947, dengan ketua dan anggota-anggota Dewan Bangka Sementara itu juga.
28
Setelah Masyarif meninggal, diangkatlah Saleh Ahmad, Sekretaris dari Dewan tersebut sebagai ketua. Pada bulan Januari 1948 Dewan Bangka bergabung dengan Dewan Riau dan Dewan Belitung dalam suatu federasi Bangka Belitung Riau (BABERI), yang disahkan oleh Lt. GG. Ned. Indie dengan surat keputusan tanggal 23 Januari 1948 nomor 4 (Stbl. 1948 No. 123), yang kemudian disahkan menjadi salah satu Negara Bagian dalam pemerintahan federal Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal ini ternyata tidak berlangsung lama, dengan keputusan Presiden RIS No. 141 tahun 1950, Negara Bagian ini disatukan kembali dalam Negara RI, sehingga berlaku Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 dalam wilayah ini. Kemudian pada tanggal 21 April 1950 datanglah Perdana Menteri Dr. Halim beserta rombongannya ke Bangka yang terdiri dari 18 orang, diantaranya Dr. Mohd. Isa – Gubernur Sumatera Selatan, tanggal 22 April bertempat di Karesidenan diserahkanlah pemerintahan atas Bangka kepada Gubernur Sumatera Selatan. Dengan demikian bubarlah Dewan Bangka dan pemerintahan setempat dipimpin oleh R. Soemardjo yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Residen Bangka Belitung dengan kedudukan di Pangkalpinang. Bangka sendiri menjadi kabupaten, dengan 5 wilayah kewedanan, masing-masing Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, Mentok dan Toboali dan 13 wilayah kecamatan. Sebagai Bupati yang pertama ditunjuk R. Soekarta Martaatmadja.
Penetapan Bangka sebagai daerah otonom kabupaten didasarkan atas Undang-Undang Darurat Nomor 2, 5 dan 6 tahun 1956. Dalam rangka penyesuaian dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, maka ketiga undang-undang darurat ini diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 1959. Undang-undang inilah kemudian disebut sebagai dasar hukum pembentukan Daerah Tingkat II Bangka dan dijelaskan pemisahan Kabupaten Bangka dengan Kotapraja Pangkalpinang
Letak Geografis dan Administratif Wilayah
Kabupaten Bangka merupakan salah satu dari tujuh wilayah administratif yang menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki luas wilayah lebih kurang 2 950.68 km² atau 295.068 ha dengan titik koordinat terletak antara 1o29’-2o21’ Lintang Selatan dan 105o36’-106o11’ Bujur Timur.
Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat memiliki banyak pantai sebagai tujuan wisata, diantaranya: Pantai Matras, Parai, Tanjung Pesona, Romodong, Teluk Uber, Batu Bedaun, dan lain sebagainya. Adapun jarak dari Sungailiat ke ibukota kabupaten lain dan Kota Pangkalpinang seperti yang tertera pada Tabel 4.
Tabel 4 Jarak dari Sungailiat ke daerah lainnya
No. Dari Sungailiat ke daerah lainnya Jarak (km)
1 Kota Pangkalpinang 33
2 Muntok (Bangka Barat) 140
3 Koba (Bangka Tengah) 90
29 Wilayah Kabupaten Bangka berbatasan langsung dengan daratan wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah dan Kota Pangkalpinang. Ditinjau dari ketersediaan infrastruktur dan kehidupan social ekonomi masyarakatnya maka kecamatan di Kabupaten Bangka dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu kecamatan bertipikal kota dan desa. Pengambilan sampel untuk penelitian ini dan penyebaran kuesioner penelitian terletak di dua kecamatan dengan dua desa yang menjadi daerah sampel yaitu Desa Petaling Banjar, Kecamatan Mendo Barat mewakili kecamatan bertipikal kota dan Desa Pemali, Kecamatan Pemali mewakili kecamatan bertipikal desa. Lokasi pengambilan sampel sebagaimana terdapat pada Gambar 9.
Gambar 9 Lokasi kecamatan sampel
Berdasarkan letak geografis, dari delapan kecamatan di Kabupaten Bangka, terdapat dua kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Pangkalpinang yaitu Kecamatan Merawang dan Mendo Barat. Kondisi ini secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakatnya, terutama desa-desa yang terletak diperbatasan terluar dengan Kota Pangkalpinang. Bahkan terkadang menjadi suatu persoalan dilematis karena tidak sedikit warga yang berstatus penduduk Kota Pangkalpinang namun berdomisili di wilayah Kecamatan Merawang ataupun Mendo Barat. Selain itu, banyak warga dua kecamatan ini yang memiliki dokumen kependudukan ganda sehingga terkadang menimbulkan polemik tersendiri terutama pada saat akan berlangsungnya pemilihan kepala daerah.
Kecamatan sampel
30
Keadaan Alam Iklim, Tanah dan Hidrologi
Wilayah penelitian termasuk dalam Kabupaten Bangka yang berada pada zona tropis, berdasarkan klasifikasi iklim Scmidth-Ferguson wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A. Suhu udara rata-rata di Kabupaten Bangka menurut data Stasiun Meteorologi Pangkalpinang menunjukkan variasi antara 25.7˚C hingga
29˚C dengan suhu rata-rata 27˚C.
Tanah di Kabupaten Bangka mempunyai pH rata-rata dibawah 5, didalamnya mengandung mineral bijih timah dan bahan galian lainnya, seperti : pasir kwarsa, kaolin, batu gunung, dan lain-lain. Bentuk dan keadaan tanahnya adalah sebagai berikut :
- 4 persen berbukit seperti Gunung Maras lebih kurang 699 meter, Bukit Pelawan, Bukit Rebo, dan lain-lain. Jenis tanah perbukitan tersebut adalah podsolik coklat kekuning-kuningan dan litosol berasal dari batu plutonik Masam,
- 52 persen berombak dan bergelombang, tanahnya berjenis asosiasi podsolik coklat kekuning-kuningan dengan bahan induk komplek batu pasir kwarsit dan batuan plutonik masam,
- 20 persen lembah/datar sampai berombak, jenis tanahnya asosiasi podsolik berasal dari komplek batu pasir dan kwarsit,
- 25 persen rawa dan bencah/datar dengan jenis asosiasi alluvial hedromotif dan glei humus serta regosol kelabu muda berasal dari endapan pasir dan tanah liat. Pada umumnya sungai-sungai di daerah Kabupaten Bangka berhulu di daerah perbukitan yang berada di bagian tengah Pulau Bangka dan bermuara di laut. Sungai-sungai yang terdapat di wilayah Kabupaten Bangka, antara lain : Sungai Baturusa, Sungai Layang, Sungai Menduk, dan lain-lain. Kabupaten Bangka memiliki banyak kolong yang merupakan areal bekas penambangan bijih timah yang luas sehingga menjadikannya tampak seperti danau.
Fauna dan Flora
Di kawasan hutan terdapat binatang liar seperti : rusa, beruk, monyet, lutung, babi, trenggiling, napuh, musang, berbagai jenis burung, ayam hutan. Namun, hutan di Kabupaten Bangka tidak terdapat binatang buas seperti harimau, macan, dan sebagainya.
Tumbuhan hutan terdapat bermacam-macam jenis kayu, seperti : kayu ramin, meranti, kapuk, jelutung, pulai, gelam, bitanggor, meranti rawa, mahang, bakau, dan lain sebagainya.
Khusus untuk tanaman bakau, merupakan jenis tanaman yang menjadi andalan untuk ditanam di rawa-rawa daerah pantai sebagai habitat ikan dan binatang laut lainnya. Penanaman bakau ini menjadi sangat penting karena sebagian besar daerah pinggiran pantai sudah mengalami kerusakan sebagai akibat penambangan timah yang dilakukan baik secara legal maupun illegal di daerah laut. Penduduk
Penduduk sebagai salah satu sumber daya pembangunan memegang dua peranan penting dalam pembangunan yaitu sebagai subyek/pelaku sekaligus sebagai obyek dari pembangunan. Berdasarkan data Bangka Dalam Angka (2011),
31 jumlah penduduk di Kabupaten Bangka sampai dengan tahun 2010 adalah sebesar 260 935 jiwa, dengan luas wilayah 2 950.68 km² maka kepadatan penduduk di Kabupaten Bangka adalah 88 jiwa/km², sebagaimana tercantum pada Tabel 5. Tabel 5 Jumlah penduduk di Kabupaten Bangka tahun 2010
No Kecamatan Luas (km2) Jumlah penduduk (jiwa) Kepadatan (jiwa/km2) 1 Sungailiat 146.38 74 066 506 2 Belinyu 546.50 40 625 74 3 Merawang 164.40 24 962 151 4 Mendo Barat 570.46 43 052 75 5 Puding Besar 383.29 16 068 41 6 Pemali 127.87 23 786 186 7 Riau Silip 523.68 22 275 42 8 Bakam 488.10 15 561 32 Jumlah 2 950.68 260 935 88
Sumber : BPS Kabupaten Bangka (2011)
Berdasarkan Tabel 5, jumlah penduduk pada dua kecamatan penarikan sampel penelitian yaitu Kecamatan Pemali sebanyak 23 786 jiwa dan Kecamatan Mendo Barat sebanyak 43 052 jiwa.
Profil Sosial Budaya
Masyarakat Kabupaten Bangka, pada umumnya Pulau Bangka adalah masyarakat yang mempunyai akar budaya dasar, yakni budaya melayu yang kemudian diperkaya dengan budaya pendatang seperti: Cina, Minangkabau, Batak, Bugis, Jawa, dan lain sebagainya, dan menyatu dengan budaya masyarakat asli. Beberapa seni budaya yang asli masih terjaga sampai sekarang, bahkan beberapa ritual adat istiadat setempat dikembangkan menjadi bagian dari even pariwisata seperti: nujuh jerami di Desa Gunung Muda Kecamatan Belinyu, rebo kasan di Desa Air Anyir dan mandi belimau di Desa Jada Bahrin Kecamatan Merawang, peringatan 1 muharam di Desa Kenanga Kecamatan Sungailiat, maulud Nabi Muhammad SAW di Desa Kemuja dan Desa Zed Kecamatan Mendo Barat.
Adapun budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Bangka serta Pulau Bangka pada umumnya, yang merupakan gambaran kebersamaan dan semangat persatuan adalah adat sepintu sedulang atau lebih dikenal dengan sebutan
nganggung atau nganggong dimana pada setiap peringatan hari besar agama islam ataupun momen lainnya masyarakat tiap rumah akan membawakan makanan berupa nasi beserta lauknya ataupun kue-kue yang diletakkan dalam wadah dinamakan dulang kemudian dibawa ke masjid untuk dinikmati secara bersama- sama.
32
Gambar 10 Adat sepintu sedulang atau lebih dikenal dengan sebutan nganggung
atau nganggong di Pulau Bangka
Budaya nganggung atau nganggong masyarakat Bangka sebagaimana tampak pada Gambar 10 juga diadakan untuk menyambut sekaligus menjamu pejabat pemerintahan maupun non pemerintahan, tokoh masyarakat serta tokoh agama.
33