KONSEPSI GATRA DEMI GATRA
15. Gatra politik
a. Ketahanan di bidang politik. Tannas dibidang politik
Indonesia diartikan sebagai kondisi dinamik bangsa Indonesia berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, didalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
1) Politik dalam negeri. Politik dalam negeri adalah kehidupan politik dan kenegaraan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang disebut Demokrasi Pancasila. Kondisi-kondisi serta situasi kehidupan politik dan kenegaraan yang
memungkinkan terlaksananya proses pembaharuan kehidupan politik dengan sisitim politik yang benar-benar demokrartis, dinamis efektif dan efesien yang dapat memperkuat kehidupan konstitusional.
a) Sistem pemerintahan. Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum dan tidak
berdasarkan atas kekuasaan belaka.
Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (Hukum dasar), tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas). Kedaulatan rakyat dipegang oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia.
Majelis ini menetapkan Undang-Undang Dasar dan Garis-Garis Besar Haluan Negara, dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden. Majelis inilah yang memegang kekuasaan negara yang tertinggi, sedang Presiden menjalankan haluan negara menurut Garis-Garis Besar yang telah ditetapkan. Presiden tunduk dan bertanggung jawab kepada Majelis. Ia adalah “mandataris” dari
Majelis. Presiden ialah penyelenggara
pemerintahan negara yang tertinggi dibawah Majelis dengan kekuasaan dan tanggung jawab ditangannya. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden harus mendapat
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk membentuk Undang-Undang dan menetapkan anggaran pendapatan dan belanja negara.
Menteri negara diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; Menteri negara tidak bertanggung jawab pada Dewan Perwakilan Rakyat.
Meskipun Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat, ia bukan diktator, artinya kekuasaannya tidak terbatas. Ia harus memperhatikan sunguh-sungguh suara Dewan Perwakilan Rakyat. Kedudukan Dewan Perwakilan rakyat adalah kuat. Dewan ini tidak bisa dibubarkan oleh Presiden. Kecuali itu
Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat semuanya merangkap menjadi anggota Majelis Permusyawaratan rakyat. Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan Presiden dan jika Dewan
menganggap bahwa presiden sungguh melanggar haluan negara yang telah ditetapkan oleh
Undang-Undang Dasar atau oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat, maka Majelis itu dapat diundang untuk persidangan istimewa agar
supaya minta pertanggung jawaban kepada Presiden. (Tata cara permintaan pertanggung jawaban ini telah diatur TAP MPR NO.
III/MPR/1978, pasal 7).
Meskipun kedudukan Menteri Negara
bergantung Presiden, akan tetapi mereka bukan pegawai tinggi biasa oleh karena itu Menteri-Menterilah yang terutama menjalankan
kekuasaan pemerintah dalam praktek. Sebagai pemimpin Departemen, Menteri mengetahui seluk beluk lingkungan pekerjaannya. Untuk
menetapkan politik pemerintah dan koordinasi dalam pemerintahan negara, para Menteri bekerja bersama satu sama lain seerat-eratnya dibawah pimpinan Presiden.
2. Pola kehidupan politik. Untuk terwujudnya ketahanan
dibidang politik dalam negeri, perlu dipertahankan pola yang dipandang sesuai dengan kehidupan politik Bangsa
Indonesia. Walaupun landasan idiil konstitusionalnya tetap, yakni Pancasila dan UUD-45, penyimpangan-penyimpangan telah terjadi seakan-akan merupakan uji coba (trial and error) dari sistem pemerintahan yang disusun menurut kepentingan politik berbagai golongan.
Meskipun pada saat-saat tertentu masih terdapat sesuatu yang rawan dalam bidang politik dalam negeri RI, tetapi hal itu tidak terletak
kepada sistem/pemeritahan negaranya, melainkan hanya menyangkut sesuatu kebijaksanaan pada sesuatu saat. Dari pengalaman tersebut maka sistem
politik/pemeritahan negara dalam UUD-45
merupakan pola yang perlu dipertahankan, untuk tetap terwujudnya ketahanan politik Dalam
Negeri.
c) Cara pengambilan putusan. Didalam negara demokrasi, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang biasa. Namun demikian, perlu ada pengaturan dan penyelesaian, sehingga
perbedaan pendapat itu akan menemukan intisari dari permasalahan dengan sebaik-baiknya.
Didalam masyarakat pada dasarnya perlu
dikemukakan adanya alasan mufakat, sehingga segala sesuatu diperlukan adanya alasan obyektif yang dapat dimengerti dan dapat diterima oleh pihak lain.
Hanya dalam hal-hal tertentu yang sangat terpaksa dan telah diusahakan dengan segala usaha tidak memperoleh mufakat, dapat
dilakukan pemungutan suara. Dengan demikian dapat dicegah kediktatoran mayoritas yang hanya mengandalkan banyaknya suara, demikian pula dapat dicegah adanya kediktatoran minoritas yang mengandalkan pernyataan tidak menyetujui sesuatu masalah.
d) Penyesuaian. Suatu sistem politik tidak mungkin bersifat statis beku, melainkan
senantiasa berubah dan bergerak serta harus memiliki kemampuan mengadaptasi yang besar. Kemampuan mengadaptasi itu terletak pada seni kepemimpinan dari Kepala Negara dan pembantu-pembantunya, serta dinamika dari Bangsa
Indonesia yang diwakili oleh wakil-wakilnya dalam DPR/MPR. Didalam menghadapi aspirasi yang hidup didalam masyarakat itu harus tetap dalam ruang lingkup Pancasila dan UUD-45, sehingga berkembang tetap pada arahnya. Penyesuaian tersebut harus benar-benar dilakukan atas dasar musyawarah untuk mufakat secara jujur, dan tidak hanya didasarkan atas kacamata legalitas belaka.
e) Pencapaian tujuan. Tujuan Negara RI seperti tertera dalam alinea ke-4 UUD-45 merupakan sesuatu yang ditentukan dan disepakati oleh Bangsa Indonesia, termasuk cara yang ditempuh untuk mencapainya. Pencapaian tujuan tersebut harus dilandasi oleh Pancasila, landasan
konstitusional UUD-45 dan landasan operasional Garis-garis Besar Haluan Negara.
f) Integrasi. Sistem politik merupakan suatu sub sistem dari seluruh sistem sosial dan harus mampu mengintegrasikan sistem sosial itu sendiri. Ancaman, hambatan, tantangan dan gangguan terhadap sistem sosial dapat berupa rasa tidak puas, keresahan, ketegangan,
perpecahan, desintegrasi dan sebagainya. Dalam hal ini maka Pancasila harus berperan politik dalam negeri dapat diukur dengan kemampuan melaksanakan sistem politik serta struktur politik dari UUD-45, sebagai bagian integral dari
kehidupan kenegaraan.
2) Politik Luar Negeri. Politik Luar Negeri adalah salah satu sarana pencapaian kepentingan nasional dalam pergaulan antar bangsa. Politik Luar Negeri Indonesia
berlandaskan pada Pembukaan UUD-45 yakni
melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dan anti penjajahan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan.
a) Sebagai komponen strategi nasional. Politik luar negeri merupakan proyeksi kepentingan nasional dalam kehidupan antar bangsa. Dijiwai oleh falsafah negara Pancasila sebagai tuntutan etika dan moral, politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif diabdikan kepada kepentingan nasional terutama untuk pembangunan nasional. Dengan demikian politik luar negeri merupakan komponen strategi nasional. Ketahanan Nasional dibidang politik luar negeri Indonesia adalah
kondisi dinamik Bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional didalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang dari luar maupun dalam, yang
langsung maupun tidak langsung membahayakan politik luar negeri Indonesia.
b) Garis Politik Luar Negeri. Politik Luar Negeri yang bebas dan aktif berarti : Bebas : Dalam pengertian bahwa Indonesia tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Aktif : Dalam pengertian tidak pasif, peranan Indonesia dalam percaturan Internasional tidak reaktif dan tidak menjadi obyek percaturan Internasional, tetapi berperan serta atas dasar cita-cita bangsa yang tercermin dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
1. Kepemimpinan nasional harus diterima oleh semua
pihak. Sistem Pemilu sebaiknya menggunakan perpaduan antara sistem Proporsional & Sistem Distrik, namun lebih disempurnakan sehingga anggota DPR tidak tergantung dengan Parpol (tidak takut di Recall), namun nomor urut
pemilihan tergantung dari jumlah pilihan rakyat. Apabila menggunakan sistem Distrik (Dati II) akan banyak suara yang hilang dan merugikan partai gurem namun jumlah partai harus dibatasi.
2. Pelaksanaan Pemilu. Pemilu yang langsung, umum, bebas, jujur dan adil akan memuaskan semua pihak yang
melakukan pemilihan, dan berakibat meningkatkan Tannas. Sebaliknya apabila azas luber itu tidak terjamin maka
keresahan akan timbul dan keadaan Tannas dapat menurun. c) Imbangan suara dalam lembaga-lembaga
perwakilan rakyat. Bila imbangan suara di DPR/MPR dari fraksi-fraksi yang mendukung pemerintah hanya mempunyai perbedaan yang sangat kecil dengan fraksi-fraksi yang
menentangnya, maka pemerintah akan labil dan akan menurunkan Tahnas. Sebaliknya apabila perbedaan suara itu cukup banyak, maka keadaan pemerintah akan menjadi lebih stabil dan akan meningkatkan Tahnas. Perlu
diperhatikan bahwa apabila perbedaan suara itu terlalu banyak ialah lebih dari 2/3 suara dimiliki oleh satu golongan, akan melemahkan fungsi kontrol yang juga dapat menurunkan Tannas. d) Pemilihan pembantu-pembantu presiden. Pemilihan pembantu-pembantu presiden akan dapat berpengaruh bagi pelaksanaan tugas Presiden sebagai mandataris MPR. Seyogyanya diperhatikan agar semua kekuatan-kekuatan sosial politik dapat berparsitipasi dan merasa ikut bertanggung jawab, tidak hanya dalam bidang legislatif, tetapi juga bidang–bidang lain dalam penyelenggaran pemerintahan negara.
4. Keresahan masyarakat. Keresahan masyarakat, terutama keresahan dikalangan generasi muda, yang tidak dapat diatasi oleh pemerintah akan dapat menurunkan Tannas. Sebaliknya apabila keresahan itu dapat penyaluran secara tepat keara yang positif, akan menaikan Tannas,keresahan-keresahan yang mudah timbul dalam negara yang sedang membangun antara lain adalah :
(1) Perbedaan yang menyolok antara si kaya dan si miskin.
(2) Kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.
(3) Kesempatan mengikuti pendidikan yang seluas-luasnya.
(4) Kesempatan mengeluarkan pendapat secara bebas.
(5) Pergantian generasi dengan perencanaan yang kurang mantap.
f) Pengawasan Keuangan dan Penegakan Hukum. Apabila fungsi pengawasan keuangan telah dapat berjalan ketat, maka kepercayaan rakyat kepada pemerintah akan naik, sebaliknya kalau fungsi pengawasan keuangan masih lemah maka akibatnya kebocoran terjadi dimana-mana, dan kepercayaan rakyat kepada pemerintah akan menurun. Apabila fungsi penegakan hukum dapat berjalan baik, maka kepercayaan rakyat kepada alat-alat penegak hukum akan meningkat dan sebaliknya. Semuanya itu berpengaruh akan naik turunnya Tannas.
g) Pembauran Bangsa. Apabila warganegara Indonesia keturunan asing bersikap eksklusif dan mementingkan dirinya sendiri-sendiri, maka
pengelompokan etnis akan timbul, yang akhirnya dapat menjurus ke pertentangan antar kelompok
etnis, keadaan itu akan melemahkan Tannas. Sebaliknya kalau pembauran dapat diwujudkan maka kita terhindar dari adanya rasialisme dan Tannas kita akan naik.
h) Wadah penyalur pendapat masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam politik hanya dapat tumbuh apabila aspirasinya dapat disalurkan melalui kelembagaan Penyalur Pendapat
Masyarakat, baik pada tempat desa, media massa maupun kelembagaan lain.
j) Pemerataan hasil-hasil pembangunan. Usaha dari hasil pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bila asas pemerataan ini tidak tercapai, maka akan timbul ketimpangan sosial yang dapat menjurus kepada keresahan-keresahan yang dapat menurunkan Ketahanan Nasional.
2) Faktor yang mempengaruhi politik Luar Negeri : a) Faktor-faktor statis. Politik luar negeri pada hakekatnya merupakan sebagian dari
kebijaksanaan nasional dari sistem politik suatu bangsa.Faktor-faktor riil yang harus
diperhitungkan adalah :
(1) Letak geografi Indonesia. Posisi silang Indonesia dapat memberikan keuntungan bagi pertumbuhan bangsa dalam arti kontak-kontak yang luas dengan bangsa-bangsa lain dapat dipetik manfaatnya. Posisi yang demikian ini memberikan kedudukan dan peranan yang penting sekali kepada Indonesia dalam persoalan-persoalan dalam negeri dan luar negeri. Namun posisi yang semacam ini memiliki kerawanan karena “terbuka” kesegala penjuru dan dapat di “dekati” dari segenap penjuru pulau. Dilain pihak karena kepentingan nasional
bangsa-bangsa sangat heterogen maka perlu kemampuan yang tinggi dalam menyerap hal-hal yang menguntungkan dan menolak unsur-unsur yang merugikan. Disamping itu kewaspadaan perlu dipelihara karena
kepentingan-kepentingan itu beraneka ragam dan kadang-kadang bertentangan, dan yang akan selalu berusaha menarik Indonesia.
(2) Kemampuan Penduduk. Indonesia merupakan negara ke-5 terbesar dalam jumlah penduduk di dunia dan merupakan negara yang terbesar penduduknya
dibelahan bumi bagian selatan ini. Besarnya penduduk merupakan faktor yang positif dalam pengadaan tenaga kerja, namun kemampuan dan keterampilan merupakan faktor penentu pula dalam produktifvitas bangsa.
(3) Kekayaan alam. Kecuali letak geografis yang sangat strategis Indonesia memiliki kekayaan alam, yang amat diperlukan dalam abad teknologi dewasa ini. Kekayaan alam Indonesia secara potensial tidak dapat dipisahkan dari permasalahan energi yang dihadapi oleh dunia. Permasalahan energi akan terus merupakan faktor yang
berpengaruh dalam percaturan politik Internasional. Telah terbukti bahwa energi sewaktu-waktu dipakai sebagai senjata dengan tujuan politik tertentu.
b) Faktor-faktor Dinamik. Garis besar percaturan internasional dewasa ini adalah sebagai berikut :
(1) Perjuangan negara-negara berkembang untuk mempersempit perbedaan kemajuan dan kesejahteraan antara negara maju dengan negara berkembang dilakukan melalui forum internasional, seperti
UNCTAD. Dialog Utara-Selatan, Gerakan Non Aligned dan Konperensi Islam merupakan forum dimana Indonesia ikut aktif.
(2) Rendahnya tingkat kesehatan
masyarakat rakyat dan pendapatan nasional perkapita, kenaikan jumlah penduduk yang cukup tinggi sangat menentukan
keberhasilan pembangunan dan kemajuan ekonomi negara-negara berkembang.
(3) Kerawanan dan pertentangan regional yang bersumber lokal, yang
penyelesaiannya menjadi rumit karena kepentingan negara-negara besar terlihat didalamnya.
(4) Meningkatnya arti dan faktor-faktor non militer sebagai senjata politik. Misalnya dengan penggunaan energi dan pangan. Disamping itu kegiatan-kegiatan teror, pembajakan, penculikan dan lain-lain tetap akan merupakan kekuatan yang akan
digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik sesuatu negara.
5. Perkembangan ekonomi internasional masih ditandai oleh akibat berbagai krisis dimasa lalu. Resesi, pengangguran dan inflasi tetap mewarnai keadaan ekonomi negara-negara maju. Dilain pihak peningkatan masalah hutang dan
memburuknya nilai tukar perdagangan internasional juga tetap mewarnai keadaan perekonomian negara
berkembang.
(6) Disamping keadaan yang tidak menentu diatas, pada akhir-akhir ini nampak adanya gejala-gejala friksi diantara negara
berkembang sendiri yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan nyata, yang dapat meningkat menjadi pertentangan terbuka
yang sangat membahayakan solidaritas dan melemahkan posisi.
(7) Media komunikasi massa dunia saat ini masih dikuasai negara maju, sering
menyebarkan berita yang tidak obyektif dan karenanya tidak menguntungkan negara berkembang.
c. Kebijaksanaan dan Strategi
1) Politik Dalam Negeri.
a) Kebijaksanaan. Pemantapan kesadaran
kehidupan politik dan kenegaraan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 bagi setiap warga negara, sehingga dapat terjamin kelancaran usaha mencapai tujuan nasional. Pemantapan kondisi-kondisi serta situasi untuk memungkinkan terlaksanannya proses pembauran kehidupan politik dengan sistem politik yang demokratis, stabil, dinamis, efektif dan efisien agar mampu memperkuat kehidupan konstitusional.
b) Strategi.
(1) Pemantapan kehidupan konstitusional, demokrasi dan tegaknya hukum.
(2) Pendidikan politik rakyat sehingga
tumbuh kesadaran sebagai yang tercantum dalam sikap mental dan pola tingkah laku politik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (3) Penyelenggaraan Pemilihan Umum
dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia.
(4) Komunikasi sosial timbal balik antar masyarakat dengan lembaga perwakilan rakyat maupun dengan pemerintah.
(5) Peningkatan peranan organisasi profesi/ fungsional masyarakat.
(6) Penyempurnaan wadah penyalur pendapat masyarakat pedesaan. (7) Penyiapan kader-kader pimpinan nasional
2) Politik Luar Negeri. a) Kebijaksanaan.
(1) Wawasan Nusantara. Nusantara sebagai wilayah merupakan konsep nasional yang harus
diperjuangkan dan dipertahankan. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapat pengakuan terdapat konsep nusantara telah dilakukan dengan
jalan bilateral maupun multilateral.
Wawasan Nusantara merupakan inti dari kehidupan nasional baik politik dalam negeri maupun luar negeri.
2. Tata ekonomi baru dan gerakan non blok. Perlu digalang persatuan antara negara-negara berkembang dalam mempercepat terwujudnya tata ekonomi dunia baru. Meneruskan usaha-usaha yang telah dilancarkan oleh Indonesia baik secara vertikal maupun horisontal, di forum internasional maupun regional, gerakan non blok dan
kelompok G-7. Dialog Utara-Selatan hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang diharapkan.
(3) Kerjasama regional. Meningkatkan posisi ASEAN sebagai organisasi regional yang tangguh dan perlu diperhitungkan dalam percaturan internasional. Walaupun ASEAN adalah organisasi regional bidang ekonomi dan sosial budaya, namun unsur politik tidak dapat ditinggalkan oleh organisasi ini,
karena unsur ini, memperkuat rasa kohesi antara negara-negara anggota. Peningkatan saling pengertian dan kebersamaan
pandangan terhadap masalah Internasional dan penyerasian antara
kepentingan-kepentingan nasional negara-negara
anggota baik kedalam maupun keluar. Hal ini diperlukan, karena ASEAN bukan
organisasi supra nasional. b) Strategi
1. Pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif diabdikan kepada kepentingan nasional, terutama untuk kepentingan pembangunan disegala bidang.
(2) Meningkatkan kerjasama antar bangsa untuk menggalang perdamaian dan
ketertiban dunia demi kesejahteraan umat manusia berdasarkan kemerdekaan dan keadilan sosial.
(3) Meningkatkan peranan Indonesia di fora internasional dalam rangka membina dan meningkatkan persahabatan dan kerjasama antar bangsa-bangsa demi perdamaian dan ketertiban dunia.
(4) Memperkokoh kesetiakawanan,
persatuan dan kerjasama ekonomi diantara negara-negara yang sedang membangun lainnya untuk mempercepat terwujudnya Tata Ekonomi Dunia Baru.
5. Meneruskan usaha-usaha pemantapan stabilitas dan
kerjasama di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya khususnya dalam lingkungan
ASEAN dalam rangka mempertinggi tingkat Ketahanan Nasional untuk mencapai
Ketahanan Nasional.
(6) Untuk menampilkan citra negara
berkembang secara wajar dan obyektif perlu digalang persatuan dan kerjasama badan-badan media komunikasi massa di negara-negara berkembang terutama dalam
menyusun tata komunikasi dunia baru.