SEMANTIK & ETIMOLOGI I.SEMANTIK
5.1 Gaya Bahasa Penegasan .1 Inversi
Inversi adalah gaya bahasa yang diwujudkan dalam kalimat yang predikatnya terletak di depan subjek. Hal ini disengaja untuk memberikan ketegasan pada predikatnya.
Contoh: Besar sekali rumahnya.
Tertawa ia setelah dibelikan baju baru. 5.1.2 Retoris
Retoris adalah gaya bahasa yang diwujudkan dalam kalimat tanya tetapi sebenarnya tidak bertanya.
Contoh: Inikah yang dinamakan kerja?
Itukah bukti janji yang engkau ucapkan? 5.1.3 Koreksio (Pembetulan)
Koreksio adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi (menggantikan kata yang dianggap salah), baik di sengaja atau tidak.
Contoh: Dia baru saja makan, oh bukan, dia tidur.
Setelah acara ini selesai, silakan saudara-saudara pulang, eh maaf, silakan saudara-saudara mencicipi hidangan yang telah disediakan. 5.1.4 Repetisi
Repetisi adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang suatu kata berturut-turut dalam satu wacana.
Contoh: Sekali merdeka, tetap merdeka! 5.1.5 Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi.
Paralelisme dibagi dua:
a. Anafora, apabila kata yang diulang terdapat pada awal kalimat atau sanjak. Contoh:
sunyi itu duka sunyi itu kudus sunyi itu lupa sunyi itu lampus
b. Epifora, apabila kata yang diulang terdapat pada akhir kalimat atau di tengah kalimat.
Contoh: Oh ibu
yang kurindu adalah kasihmu yang kudamba adalah kasihmu
aku ingin selau bermanja dengan kasihmu 5.1.6 Enumerasio
Enumerasio adalah gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal yang saling berkaitan membentuk satu kesatuan, dan satu persatu dari tiap-tiap hal tersebut memperoleh tekanan sehingga tampak jelas.
Contoh: Apakah yang engkau harapkan dari saya ini, saya orang miskin, yang tidak disenangi orang kampung, yang tidak punya tempat tinggal.
5.1.7 Klimaks
Klimaks adalah gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin tinggi tingkatannya.
Contoh: Seratus? Jangankan seratus, seribu, sepuluh ribu, atau sejuta pun akan saya berikan jika saya punya.
Di dusun-dusun, di kota-kota, sampai ke ibu kota, hari proklamasi dirayakan dengan meriah.
5.1.8 Antiklimaks (Gaya menurun)
Antiklimaks adalah kebalikan dari klimaks, yaitu gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin rendah tingkatannya.
Contoh : Jangankan sejuta, seribu, seratus pun tak mau aku memberikan uang itu kepadamu.
5.1.9 Asindenton
Asindenton adalah gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh: Buku tulis, buku bacaan majalah, koran, alat-alat kantor semua dapat Anda beli di toko itu.
5.1.10Polisindenton
Polisindenton adalah kebalikan dari asindenton yaitu gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh: Piring dan gelas serta sendok yang kotor harus segera dicuci. 5.1.11Pleonasme
Pleonasme adalah gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu, karena makna kata tersebut telah terkandung dalam kata yang diterangkan.
Contoh: Ia tidak ingin turun ke bawah. 5.1.12Tautologi
Tautologi adalah gaya bahasa penegasan yang mempergunakan beberapa kata sinonim.
Contoh: Kehendak, cita-cita, dan harapanmu itu akan tercapai jika kamu mau berusaha keras.
5.1.13Elipsis
Elipsis adalah gaya bahasa yang diwujudkan dalam kalimat elips (kalimat tak lengkap), yakni kalimat yang predikat atau subjeknya dilesapkan karena dianggap sudah diketahui atau dimengerti oleh lawan bicaranya.
Contoh: “Ali!”
→ maksudnya supaya Ali berhenti membuat keributan. “Saya khawatir, jangan-jangan dia … “
5.1.14 Interupsi
Interupsi adalah gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang disisipkan di antara kalimat pokok dan diapit tanda koma ( , ), dengan maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh: Saya, kalau bukan karena terpaksa, tak bertemu dengan dia lagi.
Dia, orang yang selama ini tidak kusenangi, tiba-tiba saja berubah sikap, amat baik dan sopan.
5.1.15 Ekslamasio
Ekslamasio adalah gaya bahasa yang di dalamnya memakai kata seru. Kata seru seperti: wah, amboi, awas, aduh, astaga, oh.
Contoh: Aduh, mana tahan! Awas, ada anjing galak. 5.2 Gaya Bahasa Perbandingan
5.2.1 Tropen
Tropen dalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan pengertian yang dimaksudkan.
Contoh: Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi. Ia menjual suaranya untuk membiayai uang kuliah. Seharian ia berkubur di dalam kamarnya.
5.2.2 Simbolik
Simbolik adalah gaya bahasa kiasan yang membandingkan sesuatu dengan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang. Simbol itu bisa berupa (nama) benda, (nama) binatang atau (nama) tumbuh-tumbuhan dan arti simbol itu sudah diketahui oleh umum.
Contoh: Hati-hatilah, dia itu buaya darat.
Hasan Al Bana, merpati dari Mesir itu, telah meninggal dunia. 5.2.3 Antonomasia
Antonomasia adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama seseorang. Kata-kata itu diambil dari sifat-sifat atau ciri-ciri yang menonjol yang dimiliki oleh orang yang dimaksud; atau bisa juga gelar atau jabatan yang melekat pada orang tersebut.
Contoh: Yang Mulia tidak dapat hadir pada acara itu. 5.2.4 Alusio
Alusio adalah gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan ungkapan-ungkapan, peribahasa, atau sampiran pantun yang sudah lazim dipergunakan orang.
Contoh: Aku sudah tahu. Dan semuanya sudah jelas. Maka jangan lagi berlagak seperti kura-kura dalam perahu.
Yah, terpaksa, tidak ada rotan akar pun jadilah. 5.2.5 Eufemisme
Eufemisme adalah gaya bahasa perbandingan yang menggunakan kata-kata atau ungkapan yang diperhalus agar tidak menyinggung perasaan orang. Ungkapan halus ini untuk menggantikan kata atau ungkapan yang mungkin dirasakan menghina atau menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan, yang dipantangkan/ditabukan.
Karena banyak masalah yang dipikirkannya, akhirnya ia menderita sakit ingatan.
5.2.6 Litotes
Litotes adalah gaya bahasa perbandingan yang memperendah derajat sesuatu dari keadaan sebenarnya; atau yang menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dari arti yang dimaksud untuk merendahkan diri.
Contoh: Terimalah baju jelek ini sebagai kenang-kenangan. (baju bagus). Jika ke Cipanas, singgahlah ke pondok saya. (sebuah villa yang indah).
Saya bekerja mencari sesuap nasi. 5.2.7 Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal dari yang sesungguhnya. Contoh: Air matanya mengalir menganak sungai.
Hampir meledak dadaku menahan amarah. 5.2.8 Perifrasis (Prifrase)
Perifrasis sebenarnya mirip dengan pleonasme, yaitu menggunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. Perbedaannya, dalam perifrasis, kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja.
Contoh: Ia telah beristirahat dengan damai (meninggal)
Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak! (permintaan ditolak).
5.2.9 Personifikasi atau Penginsanan
Personifikasi adalah gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau (barang-barang yang tidak bernyawa) seolah-olah memiliki sifat-sifat manusia; dapat berlaku, bertindak, berpikir, merasa, dan berbicara seperti manusia.
Contoh: Angin malam membelai wajahnya yang ayu.
Bulan mengerling tanda setuju kepada dua insan yang tengah bahagia itu.
5.2.10Sinekdokhe
Sinedokhe adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.
Gaya bahasa sinekdokhe dibagi dua yaitu: a. Pars pro toto ialah sebagian untuk seluruh.
Contoh: Setiap kepala dikenakan sumbangan Rp. 5,000,00. b. Totem pro parte ialah seluruh untuk sebagian.
Contoh: Indonesia mengalahkan Maladewa dengan kedudukan 10:0 dalam pertandingan bulutangkis semalam.
5.2.11Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa penamaan terhadap suatu benda yang mempergunakan nama pabrik, merek dagang, nama penemu, nama jelas, dan lain-lain.
Contoh: Kami pulang pergi naik kijang
Ibu meminum “Nyonya Meneer” setiap pagi. 5.2.12Alegori
Alegori (perbandingan utuh) adalah sebuah gaya bahasa bercerita yang mengandung kiasan. Bentuk kiasan ini membandingkan manusia dengan gejala alam.
Contoh: Hidup ini lautan. Kadang pasang naik, kadang pasang surut. Belum lagi badai topan melanda tanpa berita. Berhati-hatilah mengarungi lautan ini. (Hidup yang dijalani manusia begitu luas dan dalam bagai laut. Kadang hidup itu, manusia seketika berada di atas kadang di bawah. Semua ini masih ditambah gejolak prahara dalam kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, manusia harus benar berhati-hati dalam menjalani hidup ini).
5.2.13Metafora
Metafora adalah gaya bahasa (sejenis analogi) yang membandingkan dua hal baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk yang singkat. Contoh: Buah hatinya telah pergi untuk selamanya.
Gelombang demonstrasi melanda Jakarta. 5.2.14Simile (Asosiasi)
Simile adalah gaya bahasa perbandingan eksplisit. Perbandingan eksplisit maksudnya langsung menyatakan sesuatu sama dengan yang lain. Biasanya, simile menggunakan kata pembanding seperti bak, seperti, laksana, bagaikan, dan seterusnya agar lebih jelas.
Contoh: Alisnya laksana semut beriring. 5.3 Gaya Bahasa Pertentangan
5.3.1 Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa pertentangan yang mengandung dua pernyataan yang membentuk satu kalimat, sehingga sepintas lalu tidak masuk akal.
Contoh: Dia selalu merasa sepi di kantor yang ramai ini. 5.3.2 Antitesis
Anititesis adalah gaya bahasa pertentangan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya bertentangan.
Contoh: Suka duka, susah gembira akan kita hadapi berdua dengan penuh pengertian.
5.3.3 Anakronisme
Anakronisme adalah gaya bahasa yang mengandung uraian atau pernyataan yang tidak sesuai dengan sejarah atau zaman tertentu.
Contoh: Candi Borobudur dirancang oleh nenek moyang kita dengan menggunakan komputer.
5.3.4 Kontradiksio in terminis
Kontradiksio in terminis adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan atau pengecualian. Apa yang telah dikatakan disangkal lagi oleh upacan yang diucapkan kemudian.
Contoh: Suasana sepi, hening sekali, tak ada seorang pun yang berbicara, hanya jam dinding yang terus kedengaran berdetak-detak.
5.3.5 Okupasi
Okupasi adalah gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan.
Contoh: Udin sebenarnya anak yang cerdas, namun karena kemalasannya, maka dia mendapat nilai paling rendah.
5.4 Gaya Bahasa Sindiran