• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gelombang 1. Tinggi gelombang

Dalam dokumen Laporan Resmi Meteorologi Laut Afif Rahman (Halaman 78-87)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6. Gelombang 1. Tinggi gelombang

Hasil yang diperoleh dari pengamatan praktikum Meteorologi laut materi Tinggi Gelombang dalam tabel berikut:

Tabel 15. Pengukuran cepat rambat Gelombang

No Waktu 1 2 3 X 1 08.00 7 11 10 9,3 2 09.00 3 3 8 4,6 3 10.00 5 2 6 4,3 4 11.00 3 3 5 3,6 5 12.00 2 3 5 3,3 6 13.00 7 6 9 4,6 7 14.00 5 10 7 7 8 15.00 7 9 15 10,3

9 16.00 7 9 12 9,3

10 17.00 4 7 13 8

Sumber : Praktikum Meteorologi Laut 2013

Berdasarkan tabel . pengukuran cepat rambat gelombang dapat dilihat pada Gambar 22:

Ga mbar . Grafik Hubungan antara Tinggi Gelombang terhadap Waktu

Berdasarkan hasil pengukuran tinggi gelombang di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan tinggi gelombang terhadap waktu terjadi fluktuasi, dimana titik terendah terdapat pada pukul 12.00 WIB, sedangkan titik tertinggi berada pada sore hari, yakni pukul 15.00 WIB dan 16.00 WIB. Kisaran rata-rata tinggi gelombang berada pada 4-11,7 cm. Semakin tinggi gelombang, maka akan semakin besar cepat rambatnya, dan semakin berbahaya pula untuk dilakukan pelayaran. Namun, tinggi gelombang yang diamati masih tergolong aman dan normal.

Menurut Kurniawan (2011), kajian tentang karakteristik gelombang yang memuat informasi variasi tinggi gelombang bulanan di perairan Indonesia sangat diperlukan sebagai suatu acuan bagi kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pelayaran, perdagangan, perikanan, serta penelitian di wilayah perairan Indonesia. Tinggi gelombang di perairan Indonesia mempunyai

variasi dari bulan ke bulan, pada bulan Desember-Januari-Februari (DJF) gelombang pada umumnya tinggi untuk perairan di sebelah utara yang meliputi perairan Natuna, Selat Karimata, Laut Sulawesi, Laut Maluku serta perairan sekitar utara Papua.

Menurut Kurniawan (2011), rata-rata tinggi gelombang pada bulan Desember ditunjukkan pada gambar 4, rata-rata tinggi gelombang di wilayah yang berbatasan dengan laut lepas baik Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan, mempunyai rata-rata tinggi gelombang yang relatif lebih tinggi dibanding dengan daerah lain. Wilayah ini meliputi perairan sebelah barat Sumatera sampai perairan sebelah selatan Jawa, Selat Karimata, Laut Sulawesi bagian utara, Laut Maluku, dan perairan sekitar Papua yang berbatasan dengan Samudera Pasifik bagian barat dimana pada daerah tersebut. mempunyai tinggi gelombang signifikan antara 1,5-2 meter. Untuk daerah Laut Jawa, Laut Timor, Banda, Arafuru, Seram dan wilayah perairan antar pulau lainnya mempunyai rata-rata tinggi gelombang signifikan antara 0,5-1,25 meter. Sedangkan untuk daerah antar pulau yang memiliki tinggi gelombang relatif besar yaitu perairan sekitar Bangka dan Belitung di perairan Selat Karimata dengan rata-rata tinggi gelombang signifikan antara 1-2 meter.

4.6.2. Panjang gelombang

Hasil pengamatan panjang gelombang pada praktikum Meteorologi Laut tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 16. Hasil Pengukuran Panjang Gelombang

No Waktu 1 2 3 X 1 08.00 31 48 51 42,3 2 09.00 57 69 98 73 3 10.00 57 58 62 59 4 11.00 28 103 51 60,6 5 12.00 45 57 46 49,3 6 13.00 37 30 47 38 7 14.00 30 79 97 68,6 8 15.00 120 73 109 100,6 9 16.00 29 46 31 35,3 10 17.00 66 50 82 66

Berdasarkan tabel . pengukuran cepat rambat gelombang dapat dilihat pada Gambar 23:

Gambar 21. Grafik Pengukuran Panjang Gelombang Terhadap Waktu

Berdasarkan grafik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan panjang gelombang dengan waktu terjadi fluktuasi, dimana pada siang hari, pukul 12.00 WIB adalah titik terendah, sedangkan pada sore hari pukul 16.00 WIB adalah gelombang terpanjang. Kisaran panjang gelombang antara 46,7-199,3 cm, sehingga dapat dikatakan bahwa panjang gelombang yang demikian masih tergolong normal dan aman untuk berlayar.

Menurut Kurniawan (2011), gelombang laut adalah pergerakan naik dan turunnya air laut dengan arah tegak lurus pemukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut timbul karena adanya gaya pembangkit yang bekerja pada laut. Gelombang yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya pembangkit tersebut terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi - bulan - matahari atau yang disebut dengan gelombang pasang surut dan gempa bumi.

4.6.3.Periode gelombang

Hasil pengamatan periode gelombang pada praktikum Meteorologi Laut tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 17. Hasil Pengukuran Periode Gelombang

No Waktu 1 2 3 X 1 08.00 5,5 4 3,5 4,33 2 09.00 3,4 5 4 4,13 3 10.00 4 2 3 3 4 11.00 1 1 0,75 0,91 5 12.00 4 0,21 1 1,73 6 13.00 2,27 1,6 1,47 1,78 7 14.00 1 1,68 1,59 1,42 8 15.00 1,1 2,52 1,5 1,70 9 16.00 2 2 3,7 2,56 10 17.00 2 1,5 10,1 4,53

Berdasarkan tabel . pengukuran cepat Periode Gelombang dapat dilihat pada Gambar 24:

Gambar . Grafik Pengukuran Periode Gelombang Terhadap Waktu

Berdasarkan grafik di atas, hubungan periode gelombang dengan waktu terjadi fluktuasi, dimana titik terendah pada pukul 17.00 WIB yakni 1,1 m/s, sedangkan titik tertinggi pada pukul 16.00 WIB yakni 5,3 m/s. Perbandingan antara periode gelombang dengan tinggi gelombang yang demikian, dapat dikatakan bahwa keadaan perairan hari itu tergolong aman untuk berlayar.

Menurut Kurniawan (2011), kuat lemahnya gelombang ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan angin, lamanya angin berhembus (duration), dan jarak dari tiupan angin pada perairan terbuka (fetch). Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetch-nya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar.

4.6.4. Cepat rambat gelombang

Pengukuran gelombang terdiri dari empat parameter pengukuran. Parameter tersebut antara lain tinggi gelombang, panjang gelombang, periode gelombang, dan cepat rambat gelombang. Berdasarkan pengukuran pada praktikum Meteorologi Laut didapatkan hasil pengamatan gelombang yang tersaji dalam tabel berikut:

Tabel 18. Hasil Pengukuran Cepat Rambat Gelombang.

No Waktu 1 2 3 1 08.00 37,5 67,2 142,6 2 09.00 87,5 133,3 146,4 3 10.00 46,1 103,3 76,4 4 11.00 39,4 50 597 5 12.00 24,1 48,9 33,6 6 13.00 64,1 86 60,7 7 14.00 129,3 110,6 125,6 8 15.00 130 136,8 121,7 9 16.00 130,8 117,8 100 10 17.00 491,4 117,6 140,6

Berdasarkan Tabel 17. hasil pengukuran cepat rambat gelombang dapat dilihat pada Gambar 25.

Gambar 23. Grafik Pengukuran Cepat Rambat Gelombang Terhadap Waktu Berdasarkan hasil pengamatan praktikum meteorologi laut parameter gelombang dapat dianalisis bahwa terjadi fluktuasi dari hasil yang didapat dari pengukuran, dimana pada pagi hari terjadi kenaikan kemudian pada siang hari terjadi penurunan, yang kemudian pada sore hari mengalami kenaikan. Menurut Umar (2011), Gelombang yang merambat dari laut dalam menuju pantai mengalami perubahan bentuk karena pengaruh perubahan kedalaman laut. Berkurangnya kedalaman laut menyebabkan semakin berkurangnya panjang gelombang dan bertambahnya tinggi gelombang. Pada saat kemiringan gelombang (perbandingan antara tinggi dan panjang gelombang) mencapai batas maksimum, gelombang akan pecah. Karakteristik gelombang setelah pecah berbeda dengan sebelum pecah. Gelombang yang telah pecah tersebut merambat terus ke arah pantai sampai akhirnya gelombang bergerak naik dan turun pada permukaan pantai.

Menurut Kurniawan (2011), gelombang laut merupakan fenomena alam yang sangat mempengaruhi efisiensi dan keselamatan bagi kegiatan kelautan, sehingga informasi terhadap variasi dan karakteristik gelombang laut tentu sangat diperlukan. Gelombang laut adalah pergerakan naik dan turunnya air laut dengan

arah tegak lurus pemukaanair laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.

Menurut Handayani (2010), batasan yang digunakan dalam basisdata ini adalah nilai parameter cuaca yang saat ini digunakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam menentukan ekstrim tidaknya suatu kejadian, yaitu curah hujan ³ 50 mm/ hari (yang disebut dengan heavy rain menurut definisi WMO, kecepatan angin > 25 knot (termasuk kategori strong breeze dan near gale dalam skala Beaufort, temperatur ³ 34° C, dan gelombang laut tinggi >2 m.

Dalam dokumen Laporan Resmi Meteorologi Laut Afif Rahman (Halaman 78-87)

Dokumen terkait