• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib merupakan ulama abad 20 masih kental akan tradisi menuntut ilmu seperti para ulama pada umumnya, yakni menempuh jarak untuk mencari guru dan berguru kepadanya agar mendapatkan ilmu yang banyak. Seperti yang dilakukan sebagian ulama yang rela menghabiskan siang dan malamnya untuk pergi mencari satu hadits, yaitu Jabir bin Abdullah yang rela menempuh perjalanan sebulan kepada Abdullah bin Unais hanya karena 1 hadits.42 Hal ini juga tercermin dalam pengembaraan Nabi Musa yang rela bepergian melawan rasa lelah hanya untuk menemui Nabi Khidir dan belajar 3 masalah.43 Sayyid Usman memulai belajar dari kakek dari pihak ibunya, Abdullah al-Misri, karena ayahnya kembali ke Mekkah tatkala Sayyid Usman berusia 3 tahun. Melalui kakeknya, Sayyid Usman mendapatkan pengajaran membaca al-Qur`an, akhlak, ilmu tauhid, fikih, tasawuf, nahwu-sharaf, tafsir-hadis dan ilmu falak. Saat berumur 18 tahun Sayyid Usman pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji dan menemui ayahnya hingga menetap disana dan berguru dengan para ulama disana, diantaranya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafi’i di Makkah, Syekh Ahmad Dimyathi dan Sayyid Muhammad bin Husein al-Habsyi.44 Selain di Mekkah, Sayyid Utsman melanjutkan kembali perjalanannya ke Hadramaut pada tahun 1264 (1848) dan mengambil pengetahuan kepada para ulama Hadramaut, diantaranya Sayyid Abdullah bin Husein bin Thahir, Sayyid Abdullah bin Umar bin Yahya, Sayyid Hasan bin Shalih al-Bahr, Sayyid Muhammad bin Husein bin Thahir dan Sayyid ‘Alwi bin Saqqaf al-Jufri. Selain itu disebutkan juga Sayyid Muhsin bin Alwi al-Saqaf, Sayyid Alwi bin Zein al-Habsyi, Sayyid Abdullah bin Husein bin Syihabuddin, Sayyid Ahmad Junaid.45 Kemudian Sayyid Usman pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad. Di sini Sayyid Utsman belajar kepada Syekh Muhammad al-‘Azab dan Sayyid Umar bin Abdullah al-Jufri. Dari Madinah, perjalanan Sayyid Utsman diteruskan ke Mesir. Selama delapan bulan, Sayyid Utsman sempat belajar kepada para ulama Mesir. Selain itu, ketika berada di Tunisia ia juga berkenalan dengan para ulama di sana, diantaranya Syekh Muhammad bin Abdul Jawad dan Syekh Ahmad bin Manshur. Ia juga diinformasikan telah bertemu

42 Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ŝafahât min Sabri Al-Ulamâ’, (Beirut-Libanon, Dar al-Basyair al-Islamiyyah, 1433-2012), h. 43

43 Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ŝafahât min Sabri Al-Ulamâ’, h. 38

44 Abdullah bin Utsman, Suluh Zaman, (Jakarta, Percetakan Sayyid Utsman, tt) h. 3.

45 Abdullah bin Utsman, Suluh Zaman, h. 4.

44

dengan mufti Pasya yang tinggal di distrik Qabis, kira-kira 5 mil perjalanan dari ibukota Tunisia. Mufti Pasya ini menjadi guru Sayyid Utsman selama 5 bulan keberadaannya di Qabis.

Setelah Tunisia, tujuan perjalanan Sayyid Utsman dalam rangka talabul-’ilmi ini diarahkan ke Aljazair. Tidak lama, ia selanjutnya bergerak ke Fes, salah satu kota besar di Maroko. Lalu di Istanbul, ia juga menjalin hubungan guru-murid dengan syaikh al-Islâm dan mengambil tabarruk selama tiga bulan keberadaannya di Istambul. Dari Istambul, perjalanan Sayyid Utsman mencari ilmu dan menjalin hubungan belajar mengarah ke kota Syria dan (termasuk di dalamnya) Palestina.

Niatnya adalah berziarah ke Bait al-Maqdis dan Masjid al-Aqsha. Tetapi setelah niat ini terlaksana, Sayyid Utsman juga sempat belajar kepada Syekh Abdul Qadir al-Jazairi. Nama terakhir ini adalah bekas raja dari Aljazair yang terusir akibat penjajahan Perancis. Perjalanan ini berakhir setelah ia kembali ke Hadramaut. Di tanah leluhurnya ini ia tinggal untuk beberapa tahun bersama keluarga dan anak-anaknya. Dari sinilah selanjutnya ia kembali ke Indonesia melalui Singapura pada tahun 1279/1862.46

Selain perjalanan panjang yang dilakukan Sayyid Usman dan guru-guru yang menjadi sumber ilmunya, Sayyid Usman juga berasal dari satu keluarga sayid, kelas bangsawan keagamaan yang asal-usulnya dapat ditelusuri hingga ke Nabi Muhammad. Dari jejak nasab ini Sayyid Usman banyak mendapatkan ilmu dari guru-gurunya yang juga dari kalangan sayid/habib sehingga terdapat beberapa fatwa dan karya tulisnya yang membahas tentang keutamaan ahli bait dan seputar kafaah antara syarifah dengan non sayid seperti mir at al-haq wa al-insaf fi huquq al-sadah al-asyraf dan qaul al-haq bi al-basirah. Begitu juga karya Sayyid Usman yang berjudul Silsilah Nabawiyyah fi asanid sadah ‘Alawiyyah ila jaddihim al-Mustafa Khayr al-bariyyah shalla allahu ‘alaihi wasallam. Selain karya-karya yang lebih naratif terkait genealogi, terdapat pula gambar yang berbentuk pohon keluarga para sayid yang berasal dari kantor percetakan Sayyid Usman.47 Gambar ini menunjukkan genealogi biologis Sayyid Usman yang memang ia benar-benar salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW. Selain genealogi biologis, Sayyid Usman juga menggambar genealogi intelektualnya berbentuk pohon-pohon yang hampir sama dengan genealogi biologisnya. Perbedaannya bagan pohon tersebut berisi nama daripada guru atau leluhur intelektual Sayyid Usman sampai kepada Nabi Muhammad. Di akhir bagan pohon tersebut, Sayyid Usman menyebut dirinya sendiri dengan sebutan turab aqdamihim (debu di kaki mereka) dan secara langsung terhubung dengan 4 guru yang dipandang sebagai mentor utamanya, yakni Ahmad Dimyati, Ahmad bin Zaini Dahlan yang keduanya adalah mufti Mekkah, dan al-Habib Abdullah bin Husayn bin Thahir dan al-al-Habib Abdullah bin ‘Umar bin Yahya yang merupakan guru-gurunya di Hadramaut.48

46 Abdullah bin Utsman, Suluh Zaman, h. 5-6.

47 Nico J. G. Kaptein, Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, h. 62.

48 Nico J. G. Kaptein, Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, h. 70.

45

Selain keempat gurunya tersebut, dalam bagan lain Sayyid Usman juga menghubungkan guru lain hingga sampai sepuluh guru. Semua guru Sayyid Usman yang kemudian menjadi sanad kelimuannya berturut-turut sampai Nabi Muhammad diisi oleh kebanyakan para ulama Syafi’iyyah. Sehingga menurut hemat penulis bahwa genelaogi intelektual Sayyid Usman dari segi madzhab adalah bermadzhab Syafi’i. Disamping karena guru-gurunya dari kalangan syafi’iyyah, juga dari pihak keluarga terutama ayah dan kakeknya juga bermadzhab syafi’i. Abdurrahman al-Misri yang merupakan kakek dari ibunya mendidik Sayyid Usman sejak kecil dengan berbagai macam keilmuan setelah ayahnya Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya pulang ke Mekkah saat Sayyid Usman berumur 3 tahun. Sayyid Usman belajar kepada kakeknya, Abdurrahman al-Misri berbagai macam keilmuan, seperti ilmu adab dan adat istiadat yang sopan, huruf-huruf arab, membaca Al Qur an, ilmu teologi, fikih, tasawuf, ilmu tata bahasa arab, tafsir, hadits, astronomi serta ilmu-ilmu keislaman lainnya.49

Sayyid Usman juga mengagumi guru-gurunya yang lain, seperti saat di Mekkah Sayyid Usman menyebut 3 gurunya dalam kitabnya yang berjudul I’anat al-Mursyidin didalam kata pengantarnya yang berisi teks dari empat surat pujiannya (taqrid) menyangkut karya-karya Sayyid Usman, yaitu Ahmad bin Zaini Dahlan yang merupakan mufti syafi’i dan pemimpin semua ulama di Mekkah. Tidak hanya menyebutkan nama gurunya dalam kitabnya, Sayyid Usman juga banya mendapatkan persetujuan resmi (tashih) dari gurunya tersebut. Selain Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayyid Usman juga berteman kepada Muhammad Sa’id Babasil saat berguru kepada Ahmad bin Zaini Dahlan dan dialah yang menggantikan gurunya sebagai mufti saat meninggal tahun 1886. Guru Sayyid Usman yang lain ssat di Mekkah yaitu Ahmad al-Dimyati. Dalam biografi Sayyid Usman yang disusun cucunya yang berjudul Qamar al-Zaman menyebutkan bahwa gurunya ini berasal dari Mesir, akan tetapi menurut Nico bahwa Ahmad al-Dimyati dari Mekkah karena pernah menjabat sebagai mufti di Mekkah.50 Guru selanjutnya adalah Muhammad bin Husayn al-Habsyi (1798-1865) yang berasal dari Hadramaut dan menetap di Mekkah menjadi mufti dan termasuk guru daripada Ahmad bin Zaini Dahlan.

Diantara 3 gurunya ini yang paling berpengaruh pada pada intelektual Sayyid Usman adalah Ahmad bin Zaini Dahlan. Sayyid Usman menetap di Mekkah selama 6 tahun (sampai umur 26 tahun) kemudian Sayyid Usman melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Hadramaut dan menetap disana selama 15 tahun.

Sebagaimana di Mekkah, Sayyid Usman banyak menimba ilmu kepada para guru disana, diantaranya al-Habib Abdullah bin Husayn bin Thahir (1777-1855), al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, al-Habib Muhsin bin ‘Alwi al-Saqqaf (1796-1873), dan lain-lain. Kurang lebih 9 ulama yang menjadi guru Sayyid Usman dan kesemuanya bergelar al-Habib. Guru-guru Sayyid Usman di Hadrami ini berada di barisan ulama terkemuka pada paruh pertama abab XIX. Diantara guru Sayyid Usman di Hadramaut yang kemunginan besar memainkan peranan terpenting dalam

49 Nico J. G. Kaptein, Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, h. 66

50 Nico J. G. Kaptein, Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda, h. 73

46

intelektual Sayyid Usman adalah ‘Abdullah bin Husayn bin Thahir51. Sekitar tahun 1892, Sayid Usman pernah menerbitkan kitab karya gurunya, al-Ahadits al-Jami’ah fi ‘ulum al-Nafi’ah yang diselesaikan oleh Ibnu Tahir pada 1844. Selain itu, menurut Kaptein Sayid Usman juga mencantumkan dalam kitabnya yang berjudul i’anah al-Mustarsyidin 3 baris doa yang dibuat Ibnu Thahir untuk Sayid Usman ketika ia memberinya ijazah. Menurut hemat penulis, 3 baris doa yang dimaksud oleh Kaptein adalah 3 bait nadzam awal daripada 19 bait yang dibuat oleh gurunya

‘Abdullah bin Husayn bin Thahir untuk Sayid Usman. Dalam kumpulan yang terdiri dari 23 risalah, diwan, nadzam dan wasiat terdapat 19 bait nadzam yang dibuat oleh

‘Abdullah bin Husayn bin Thahir untuk Sayid Usman pada bulan Rajab tahun 1266 H.52

Atas dasar doa yang dibuat oleh gurunya ini tampaknya merupakan sumber kebanggaan besar bagi Sayid Usman karena di ujung usianya ia akan kembali mengacu kesana. Selain itu, kemungkinan besar yang membawa kitab sullam al-Taufiq menjadi terkenal di Indonesia adalah Sayid Usman, dikarenakan kitab sullam Taufiq sekarang sudah terkenal dan bahkan disyarahi oleh Syekh Nawawi al-Bantani.

Ulama lain yang cukup terkenal diantara guru-guru Sayid Usman adalah

‘Abdullah bin ‘Umar bin Yahya. Lahir di Hadramaut, tepatnya malam jum’at tanggal 20 Jumada al-Ula 1209 H dan wafat di al-Masilah malam senin tanggal 20 Jumada al-Ula tahun 1265 H. Salah satu karya monumentalnya adalah kumpulan fatwa yang masih berbentuk manuskrip di Perpustakaan Universitas Leiden dan sudah dicetak oleh Penerbit al-Madani di Kairo tahun 1391 H/1971 M.53 Dari kumpulan fatwa ini, tampak jelas bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar bin Yahya sudah beraktifitas di Asia Tenggara, misalnya di Pulau Penang dimana ia tiba pada tahun 1832 dan di Batavia. Banyak dari isu belakangan yang akan dihadapi oleh Sayid Usman dalam karirnya ada aitannya dengan kumpulan fatwa ini, seperti kasus memperbanyak masjid untuk shalat Jum’at, pernikahan putri seorang sayid dengan nonsayid. Koleksi fatwa ‘Abdullah bin ‘Umar bin Yahya ini merupakan mercusuar bagi Sayid Usman dan di sepanjang karirnya ia mengutip dari sana.

Walaupun guru-guru Sayid Usman banyak saat di Hadramaut, akan tetapi 2 ulama inilah yang sangat berpengaruh dalam karir intelektual Sayid Usman.

Menurut Nico, Abdullah bin Husayn bin Thahir terkenal dalam gagasannya bahwa syari’at harus diikuti secara ketat dan budaya lokal (‘adah) harus ditolak dengan

51 Nama lengkapnya adalah al-Habib Abdullah bin Husain bin Tahir Ba’alawi, lahir di kota Tarim tahun 1191 H. Telah berguru kepada banyak ulama, diantaranya Sayyid Hamid bin Umar al-Munaffar, Umar bin al-Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad dan ‘Alawi bin Hasan al-Haddad. Beliau juga guru dari al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya yang juga merupakan guru dari Sayyid Usman. wafat pada malam kamis, 17 Rabiul Tsani tahun 1272 H. Diantara buah karyanya adalah Sullam al-Taufiq, Miftah al-I’rab, al-Wasiyyah al-Kubra, dan lain-lain. Lihat pendahuluan biografi dalam kitab Majmŭ’ al-Ĥabĭb ‘Abdullah bin Husayn bin Thahir Ba’alawi, (Damaskus, Dar al-Hawi, 2008), h. 5-7

52 Abdullah bin Husayn bin Thahir, Majmŭ’ al-Ĥabĭb ‘Abdullah bin Husayn bin Ťahir Ba’alawi, (Damaskus, Dar al-Hawi, 2008), h. 468

53 Abdullah bin Umar bin Abu Bakar bin Umar bin Yahya al-Alawi, Fatâwa Syar’iyyah, (Kairo, Matba’ah al-Madani, 1391 H/1971 M), h. 4-10

47

keras. Hal inilah yang menjadi rujukan Sayid Usman saat menghadapi praktek-praktek tarekat yang tidak sesuai dengan syariat. Akan tetapi berbeda dengan guru Sayid Usman yang lain, ‘Abdullah bin Umar yang menurut Nico terdapat pandangan liberal tentang masalah kaum muslim yang meniru enguasa kolonial misal dalam hal pakaian dan cara berbicara maka mereka tidak otomatis menjadi kafir, hal tersebut diperbolehkan sepanjang tidak ada komitmen agama yang dilibatkan. Ini juga menjadi rujukan saat Sayid Usman berinteraksi dengan kolonial Belanda saat itu.

Selain di Hadramaut, Sayid Usman juga menimba ilmu kembali ke Madinah dan berguru pada beberapa ulama disana, diantaranya Muhammad al-‘Azb. Penulis tidak menemukan banyak referensi terhadap guru Sayid Usman saat di Mekkah ini selain ia adalah pengarang daripada kitab maulid al-azb yang juga pernah diterbitkan oleh Sayid Usman. Besar kemungkinan Sayid Usman-lah yang menyebarkan kitab maulid ini.

Kota-kota yang dikunjungi Sayid Usman selain Mekkah, Madinah dan Hadramaut adalah Mesir, Tunisia (berguru kepada Syekh Muhammad bin Abdul Jawad dan Syekh Ahmad bin Manshur). Ia juga diinformasikan telah bertemu dengan mufti Pasya yang tinggal di distrik Qabis, kira-kira 5 mil perjalanan dari ibukota Tunisia. Setelah Tunisia, Aljazair. ke Fes, salah satu kota besar di Maroko.

di Istanbul, ia juga diberitakan menjalin hubungan guru-murid dengan syaikh al-Islâm dan mengambil tabarruk selama tiga bulan keberadaannya di Istambul. ke kota Syria dan (termasuk di dalamnya) Palestina. Niatnya adalah berziarah ke Bait al-Maqdis dan Masjid al-Aqsha. Sayyid Utsman juga sempat belajar kepada Syekh Abdul Qadir al-Jazairi.54

Syekh Ahmad Khatib juga melakukan apa yang dilakukan oleh para ulama salaf dalam hal menuntut ilmu. Sebagaimana Sayid Usman yang didik oleh kakeknya sejak kecil, Syekh Ahmad Khatib dididik oleh ayahnya, Syekh Abdul Latif Khatib dengan didikan yang keras. Dalam otobiografinya, Syekh Ahmad Khatib mengungkapkan: ”Semenjak kecil saya sudah mencintai ilmu dan ulama, pertama kali saya belajar membaca dengan ayah saya sewaktu beliau masih menjadi seorang guru di pemerintahan”. Beliau juga menceritakan didikan ayahnya dengan ungkapan

“Ayahku sangat keras dalam mendidikku sampai ketika aku salah dalam membaca atau menghafal beliau langsung mendorongku sampai jatuh ketanah kemudian menginjakku dan tidak ada yang boleh menolongku”.Kerasnya didikan Syekh Abdul Latȋf Khatȋb adalah karena beliau sangat berkeinginan agar anaknya bisa menghafal Al-Qur`an, tetapi apa daya saatitu hafalan Ahmad Khatȋb kecil sangat lemah, sehingga ketika menghafalbeberapa ayat dalam Al-Qur`an atau pelajaran yang lain seakan-akanseperti memindahkan gunung”.55

Melihat dari kisah masa kanak-kanak Syekh Ahmad Khatȋb di atas dapat diketahui bahwa beliau memperoleh pendidikan agama dari lingkungan keluarga sendiri. Kemudian pada masa selanjutnya beliau memperoleh pendidikan dasarnya berupa pendidikan agama di kota Bukittinggi lewat jalur pendidikan informal yang

54 Muhammad Noupal, Kontroversi Tentang Sayyid Usman bin Yahya (1822-1914) sebagai Penasehat Snouck Hurgronje, h. 1373

55 Ahmad Khatȋb bin Abdul Latȋf, Dari Minangkabau Untuk Dunia Islam

”Otobiografi Syeikh Ahmad Khatȋb al-Minangkabawi” (1860-1916 M), h. 38.

48

dikelola oleh ulamaulama setempat. Setelah itu beliau belajar di Sekolah Rendah (setingkat SD-SR), dilanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru).56

Pada saat berumur 11 tahun yaitu pada hari Kamis 10 Rabiul Awwal 1287 H/10 Juni 1870 M, ayahnya bersama dengan kakek dan pamannya yaitu Syekh Latȋf Khatȋb, Syekh Abdullah dan Syekh Abdul Ghani al-Minangkabawi beserta beberapa putranya berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Berangkatlah Ahmad Khatȋb beserta rombongannya meninggalkan kepulauan Sumatera menuju rute haji menaiki kapal. Rombongan baru sampai di tanah suci pada 15 Sya`ban dan menginap di kediaman Syaikhah Ummu Salihah istri dari Syekh Ahmad al-Khâlidȋ menantu Syekh Ismâil al-Khâlidȋ seorang mursyid Tariqah Naqsabandiyyah Khâlidiyyah.57

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Ahmad Khatȋb (kecil) bersama ayahnya dan tiga saudaranya tidak ikut pulang, tetapi menetap disana untuk memperdalam pendidikan keIslaman. Di Mekkah Ahmad Khatȋb mulai belajar di maktab (sekolah non formal) bersama Sulaiman putra Syekh Ahmad al-Khalidiyyah. Di maktab ini beliau mulai belajar Al- Qur`an kepada Syekh Abdul Hâdi58 dan istrinya Syaikhah Fâtimah, dari tangan dua orang inilah Ahmad Khatȋb (kecil) berhasil mengkhatamkan Al-Qur`an dengan ilmu tajwidnya meskipun bi al-nazar (dengan melihat), sedangkan Sulaiman berhasil menghafalnya karena kecerdasan otaknya dan hafalannya yang kuat.59

Kemudian setelah menamatkan pembelajaran Al-Qur`an Ahmad Khatȋb bersama Sulaiman diutus oleh Syaikhah Salehah ke Masjidil Haram untuk memperdalam ilmu agama kepada ulama-ulama besar disana. Di tempat yang penuh berkah ini Ahmad Khatȋb belajar di bawah bimbingan Sayyid Umar Syatâ, Sayyid Abu Bakar Syatâ,60 dan Sayyid Utsmân Syatâ,61 dan Syekh Zainȋ Dahlan. Di antara disiplin

56 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, (Jakarta; Kencana: 2012), h. 173.

57 Amirul Ulum, Syekh Ahmad Khatȋb al-Minangkabawi Cahaya Nusantara di Haramain, h. 62.

58 Syekh Abdul Hadi adalah orang yang sholeh yang diberkahi dan dermawan, beliau adalah seorang muallaf yang berasal dari Inggris, beliau masuk Islam ketika di Mesir, kemudian belajar dan mendalami Al-Qur`an sampai beliau menghafalnya, kemudian menikah dengan Syaikhah Fâtimah di Mesir istrinya adalah wanita tunanetra yang juga penghafal Al-Qur`an, beliau bersama sang istrikemudian hijrah ke Mekah dan menetap disana, beliau bersama sang istri menjadi pengajar Al-Qur`an yang masyhur di Mekah yang menjadi rujukan banyak orang dalam hal yang berkaitan dengan Al-Qur`an, lihat. Ahmad al-Khatib bin Abdul Latif, al-Qaul al-Taĥayyuf Fȋ Tarjamati Târikhi Hayâti al-Syekh Ahmad al-Khatib bin Abdul Latif, h. 22.

59 Ahmad al-Khatib bin Abdul Latif al-Qaul al-Taĥayyuf Fȋ Tarjamati Târikhi Hayâti al-Syekh Ahmad al-Khatib bin Abdul Latif, h. 22.

60 Beliau adalah guru besar di Masjidil Haram yang dikenal kealimannya terutama dalam madzhab Imam Syafi`I, beliau pengarang kitab I`anatu al-Tâlibîn Hasyiyah dari Fathul Mu`in karangan Syekh Ahmad bin Abdul Aziz al-Malaibarî al-Hindî, kitab ini sangat terkenal dan dipelajari hampir disemua pondok-pondok pesantren di Indonesia, terutama pondok salaf. Lihat Syekh Abdullâh Abdurrahmân al-Muallimy, `Alâmu al-Makkiyȋn, (Makah: Dâr Furqân Turâts Islamy, 2000), h. 560.

61 Keluarga Syata dikenal sebagai keluarga yang kental dengan nuansa keilmuwan dan nilai-nilai keagamaan, kaum jawi sangat akrab dan banyak pula yang berguru kepada

49

ilmu yang diajarkan di Masjidil Haram pada saat itu adalah ilmu Tauhȋd, Tafsȋr, Hadits, Fikih, Usȗl Fikih, Usȗl Hadȋts, Nahwu, Saraf, Balâghah, Mantiq, Tarȋkh, Siyar (kisah hidup Nabi Muhammad SAW), dan Ilmu Riyâdiyat (Matematika).62

Selain guru-guru di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib juga pernah berguru kepada ulama di daerah asalnya saat Syekh Ahmad Khatib pulang karena permintaan ibunya. Walaupun hati masih ingin menuntut ilmu di Mekkah tapi Syekh Ahmad Khatib tidak menyia-nyiakan dalam masa penantian kembali ke Mekkah dengan menuntut ilmu. Disela waktu penantian itu beliau mengisi waktunya dengan belajar kepada ulama di Koto Tuo bernama “Tuanku nan Mudo” yang dalam bahasa Arab disebut “al-Syekh al-Mufti” beliau belajar darinya matan kitab “al- Minhaj”63 dan Tafsîr Jalalain sampai lima juz.64

Saat salah satu gurunya yang bernama Sayyid Utsmân Syatâ berkunjung ke tanah Sumatera Barat,Syekh Ahmad Khatib ikut serta kembali ke Mekkah melanjutkan belajarnya walau banyak rintangan yang dihadapinya. Sesampainya Ahmad Khatȋb di tanah Haramain Ahmad Khatȋb menetap di kediaman Syaikhah Ummu Salihah.

Kedatangan beliau kedua kalinya di tanah Haramain disambut dengan semangat yang lebih kuat. Ahmad Khatȋb belajar berbagai fan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu umum seperti ilmu Tafsȋr, Hadȋts, Usȗl Tafsȋr, Fikih, Usȗl Fikih, Hisâb, Al-Jabâr, Handasah (arsitek), Haiatul Mîqât, bahasa Inggris dan disiplin ilmu lainnya.65

Di awal abad 20, Syekh Ahmad Khatȋb bukan hanya dikenal sebagai sebagai Khatȋb dari mazhab Syafi‟i, tetapi juga sebagai guru sekaligus imam di Masjidil Haram. Prestasi ini merupakan penghargaan dari Syarif ‘Ainur Rafȋq, penguasa mereka, banyak ulama Nusantara yang lahir dari didikan keluarga ini diantaranya Syekh Abdullah al- Tarmasy, Syekh Mahfudz al-Tarmasî, Kyai Asnawi Kudus, Syekh Umar bin Harun al-Saranî, Syekh Ma`sum al-Samaranî, Syekh Abdus Syakur al-Tubanî, KH. Hasyim Asy`arȋ, KH. Ahmad Dahlan, KH. Abdul Hamid al-Qudsy dan lai-lain. Lihat Amirul Ulum,

Di awal abad 20, Syekh Ahmad Khatȋb bukan hanya dikenal sebagai sebagai Khatȋb dari mazhab Syafi‟i, tetapi juga sebagai guru sekaligus imam di Masjidil Haram. Prestasi ini merupakan penghargaan dari Syarif ‘Ainur Rafȋq, penguasa mereka, banyak ulama Nusantara yang lahir dari didikan keluarga ini diantaranya Syekh Abdullah al- Tarmasy, Syekh Mahfudz al-Tarmasî, Kyai Asnawi Kudus, Syekh Umar bin Harun al-Saranî, Syekh Ma`sum al-Samaranî, Syekh Abdus Syakur al-Tubanî, KH. Hasyim Asy`arȋ, KH. Ahmad Dahlan, KH. Abdul Hamid al-Qudsy dan lai-lain. Lihat Amirul Ulum,